26 November 2009

Ucok AKA Digerogoti Kanker Paru-Paru



Rocker legendaris Ucok AKA Harahap (69) terbaring tak berdaya di RS Darmo Surabaya. Kemarin (25//2009), mantan superstar ini sempat anfal akibat gangguan paru-paru yang dideritanya.


Oleh LAMBERTUS HUREK

Sumber: Radar Surabaya 26-28 November 2009

Ucok AKA Harahap sebenarnya mulai opname di Rumah Sakit Darmo sejak Jumat (20/11) lalu. Ini merupakan opname ketiga di rumah sakit itu. Kemarin, pihak keluarga dan orang-orang dekat Ucok sempat deg-degan lantaran sang bintang sempat anfal cukup lama.
"Kami semua terus mendoakan, semoga kondisi kesehatan Bang Andalas pulih kembali. Dan sampai sekarang kami terus memantau keadaan Bang Andalas," ujar Sri Hartini, istri Ucok AKA, kepada Radar Surabaya.

Bang Andalas merupakan sebutan sayang Sri Hartini untuk suaminya. Ucok yang bernama asli Andalas Datoe Oloan Harahap merupakan putra Ismail Harahap, pemilik Apotik Kali Asin pada 1960-an. Nama apotek ini kemudian disingkat menjadi AKA, band yang didirikan Ucok pada 23 Mei 1967 bersama Peter Wass (bas, vokal), Sonata Tanjung (gitar, biola, vokal), dan Syech Abidin (drums, vokal).

Sri Hartini bersama sejumlah kerabat Ucok, termasuk Pardi Artin, pemusik yang sangat dekat dengan Ucok, baru plong setelah mantan vokalis AKA itu siuman kembali. Namun, beberapa saat kemudian Ucok mengaku sesak napas berat. "Makanya, Abang nggak bisa lepas dari respirator," ujar wanita berkaca mata ini.

Siang kemarin, ketika dibesuk Radar Surabaya dan sejumlah wartawan, kondisi ayah delapan anak ini sudah relatif membaik meski tetap harus menggunakan respirator alias alat bantu pernapasan. "Pak Ucok ini sakit paru-paru dan sesak napas. Istilahnya, dia sekarang sedang menjalani terapi paliatif," jelas dr Imam Soewono, direktur RS Darmo.

Dokter, yang juga teman Ucok AKA ini, enggan membeberkan penyakit apa yang diidap sang musisi. Alasannya, dia terikat kode etik profesi. Namun, Imam mengakui kondisi paru-paru Ucok mengalami gangguan serius. Pihak medis sudah berkali-kali menyedot cairan di dalam paru-paru. "Kalau anfal sih sudah sering. Jadi, bukan hal baru," terang dokter yang juga mantan penyanyi Casino Band pada era 1970-an.

Yang menarik, ketika Pardi Artin membisikkan bahwa sejumlah wartawan datang membesuknya, wajah Ucok kontan sumringah. Badannya menggeliat dan beberapa saat kemudian matanya terbuka. Siti Nasyah, wartawan senior sebuah majalah wanita, kemudian nyeletuk. "Bang Ucok pasti segera sehat. Sebentar lagi mau konser nih," kata Siti dengan suara tegas.

Ucok pun terbangun dan melepas respiratornya. Tak lupa dia melemparkan senyum kecil. Namun, tak sampai satu menit, Ucok mengaku tidak bisa bernapas. "Napasku sesak," ujarnya perlahan. Tono, tukang pijat refleksi, pun dipanggil untuk memasang kembali respirator dan memijat kaki sang rocker. Ucok pun tenang kembali.

"Kondisi Bang Andalas sudah cukup baik. Abang bisa istirahat sambil duduk. Tapi pernapasannya memang masih jadi masalah," sebut Sri Hartini yang dihubungi kembali tadi malam.

Meski pihak keluarga dan RS Darmo terkesan merahasiakan, kabar sakitnya Ucok AKA Harahap sudah tersebar luas di kalangan komunitas rock tanah air. Bahkan, majalah musik Rolling Stone Indonesia sudah merilis bahwa Ucok AKA Harahap sedang kritis akibat kanker paru-paru stadium empat. “Ucok baru tahu kalau dia terkena kanker paru-paru bulan September lalu,” jelas Syech Abidin, drummer AKA.

Data di RS Darmo menyebutkan, Ucok mulai diopname di RS Darmo pada 5 Agustus 2009. Sempat menempuh pengobatan alternatif, karena tidak punya biaya, Ucok kembali dilarikan ke rumah sakit pada 20 November karena kondisinya semakin kritis. Karena itu, sejumlah pihak mengadakan acara penggalangan dana untuk meringankan beban sang mantan bintang.



SUTRA CHARMELIA, putri Ucok, yang tidak bertemu ayahnya selama 28 tahun lebih.

Siang kemarin (26/11/2009), Ucok AKA Harahap yang tergolek lemah di Paviliun 3 RS Darmo tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seorang pria dan wanita 30-an tahun. Disambut Sri Haryati, istri Ucok sekarang, keduanya langsung mendekat dan menyalami Ucok. Wajah sang rocker, yang memakai respirator alias alat bantu pernapasan, tampak berbinar-binar.


Tak banyak kata yang terucap. Maklum, sejak dirawat di RS Darmo pada 20 November lalu, Ucok kehilangan kemampuan berbicara. Napasnya pun tersengal-sengal karena kanker paru-paru stadium empat. "Bang Ucok, ini Lia dan Ricci, anak Sampean," ujar Siti Nasyiah memperkenalkan dua tamu istimewa itu.

Ucok kemudian memegang tangan kedua anaknya erat-erat. Wajah Sutra Kharmelia (32), presenter Global TV, tampak memerah. Begitu juga Sutan Mahayuddin Harahap alias Ricci, kakaknya, yang lebih pendiam.

"Apa kabar, Papa? Lia dan Ricci datang untuk bertemu Papa. Semoga Papa tabah dan tetap semangat," ujar Lia, sapaan akrab Sutra Kharmelia.

Ucok yang semula tertidur mencoba memaksakan diri untuk duduk. Lia dan Ricci bersama Sri Haryati bersama-sama mengatur posisi agar pria kribo bernama lengkap Andalas Datoe Oloan Harahap itu bisa duduk. Dan berhasil. Lia kemudian membuka album dan memperlihatkan foto-foto tiga anaknya dan seorang anak Ricci. Usia mereka antara empat bulan hingga lima tahun. "Ini cucu-cucu Papa di Jakarta. Semuanya sehat dan lucu-lucu," kata Lia.

Kendati tak bisa bicara, Ucok tampak sumringah melihat foto cucu-cucunya. "Sudah 28 tahun lebih saya dan Ricci nggak bertemu Papa. Baru sekarang ini ketemu, tapi dalam kondisi kayak begini. Saya ini mixed feeling: akhirnya bertemu Papa, tapi sangat sedih karena kondisi beliau kayak gini," tutur Lia, putri pasangan Ucok AKA Harahap dan Farida.

Mantan reporter Lativi ini mengaku tak punya banyak kenangan dengan Ucok, sang ayah. Maklum, ketika ibunya, Farida, meninggalkan kota Lawang, Malang Raya, usianya masih di bawah lima tahun. Dia bersama Lia kemudian menjalani hidup besama sang mama di Jakarta. Jangankan bertatap muka, berkomunikasi lewat telepon atau internet, misalnya, tak pernah. "Tapi saya tahulah kalau Ucok AKA itu ayah saya," akunya.

Para penggemar musik rock era 1970-an dan 1980-an di tanah air niscaya tak asing lagi dengan kisah-kisah seputar petualangan cinta Ucok AKA. Sang pemusik serbabisa ini awalnya dikenal sebagai suami Nur Aini. Istri pertama ini memberinya empat orang anak. Pada saat itu Ucok bersama grupnya, AKA, sedang di atas angin.

Konser-konser AKA selalu dibanjiri puluhan ribuan penggemar. Termasuk fans dari kalangan gadis-gadis cantik. “Saya jatuh cinta dengan seorang penggemar saya dan kemudian lari bersama dia. Sialnya, dia anak pejabat," cerita Eyang Ucok suatu ketika.

Perempuan cantik yang jago karate dan anak perjabat ini bernama Farida. Pasangan yang sedang mabuk cinta ini kemudian menggelandang (dalam arti sebenarnya) di Jakarta. Hidup di gang sempit, tidur di kamar tumpangan bekas gudang Stasiun Gambir. Ucok pernah pula menyewa sebuah kamar hotel kelas kambing di daerah Senen.

Namun, justru ketika hidup bersama Farida inilah, nama Ucok AKA benar-benar melambung menjadi penyanyi papan atas. Ali Shahab, sutradara film yang cukup disegani, suatu ketika menemukan Ucok bersama istrinya yang sedang hamil tua duduk menggelandang di Stasiun Gambir. Perkenalan ini kemudian membuka jalan Ucok dan Farida ke dunia layar lebar. Ratno Timoer kemudian membidani film pertama yang dibintangi Ucok pada 1977 dengan judul Ciuman Beracun.

Pada 1982 ayah Ucok, Ismail Harahap, pemilik Apotek Kali Asin di Surabaya, sakit keras. Ucok pun mengajak Farida pulang ke Lawang. Rumah besar yang baru saja dibeli di bilangan Sawangan, Jakarta Pusat, ditinggalkan Ucok dan Farida beserta kedua anak mereka begitu saja demi bakti kepada orang tua.

Meski Ucok cinta mati pada Farida, pernikahan mereka sejatinya tidak direstui orang tua Farida. Prahara datang ketika seorang utusan dari keluarga orang tua Farida datang ke Lawang untuk menjemput pulang Farida dan kedua anaknya. Peristiwa ini, selain mengakhiri kisah romantis sang bintang, tapi kemudian mempengaruhi mental Ucok AKA dalam perjalanan kehidupannya ke depan.

Nah, kedatangan Lia dan Ricci di RS Darmo kemarin seakan membuka kembali kenangan indah Ucok bersama Farida sekitar 28 tahun silam. Entah apa yang dipikirkan Ucok ketika memegang erat tangan kedua anaknya dari Farida itu. Yang pasti, Farida kemudian menikah dengan pria lain.
Ucok, yang tergoncang jiwanya, kemudian 'menggelandang' ke Jawa Barat untuk mencari seorang penasihat spiritual. Dan petualangan cinta untuk menemukan Farida-Farida lain pun berlanjut.

Sementara itu, Lia dan Ricci tak bisa berlama-lama melepas kangen dengan sang ayah. Keduanya langsung kembali ke Jakarta untuk bekerja dan mengurus cucu-cucu Ucok yang masih balita. "Walaupun singkat, saya merasa bahagia," pungkas Lia.



LIESTY (mantan istri Ucok) dan Intan (anak Ucok).

Ketika popularitasnya berada di titik nadir, Ucok AKA Harahap (69) pernah melontarkan kekecewaan atas kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Begitu banyak perempuan yang singgah dalam hidupnya, tapi satu per satu pergi meninggalkannya.


ANAK-ANAKNYA pun praktis tak punya hubungan emosinal dengan Ucok AKA. Sang rocker yang pada 1970-an sangat 'sinting' di atas panggung pun sepi sendiri di masa senja.

“Kalau boleh memilih, saya ingin sukses dalam keluarga dibandingkan dalam musik rock. Cuma Tuhan punya rencana lain. Saya terus-terusan dibelokin. Jadinya, saya cukup sukses di musik, tapi bukan di keluarga," ujar pria kelahiran Surabaya 29 Mei 1940 ini.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Ucok Harahap ini gampang sekali jatuh cinta, menikah, tapi tak lama kemudian bubar jalan. Maka, ketika dirawat di RS Darmo gara-gara kanker paru-paru stadium empat, banyak pembesuk bingung berapa orang sebenarnya perempuan yang pernah 'dinikahi' Ucok. Total anaknya berapa?

"Kalau nggak salah istrinya Pak Ucok delapan orang. Tapi ada yang bilang sembilan," kata Abidah Harahap, kerabat dekat Ucok Harahap. "Kami yang sama-sama orang Tapanuli sampai nggak tahu berapa banyak istrinya Ucok. Sebab, dia nggak pernah melibatkan keluarga besar ketika menikah," tambahnya.

Baik para mantan istri, anak-anak Ucok, maupun keluarga dekat Ucok tak punya data pasti. Yang jelas, si Ucok ini sebetulnya bukan penganut paham poligami. Dia hanya menikahi seorang perempuan pada waktu tertentu. Begitu api asmara meredup, rasa cinta hilang, Ucok pergi menemukan cinta baru. Begitu seterusnya hingga usianya yang menjelang 70 tahun ini.

Ketika pendiri dan vokalis AKA Rock Band ini diopname sejak Jumat pekan lalu, Raden Ayu Sri Haryati tampak setia menemani di sisi ranjang. Wanita berkacamata itu nyaris tak pernah keluar dari Paviliun 3 RS Darmo. "Saya ini istri sah Bang Andalas. Jadi, memang sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani abang," ujar Sri Haryati yang selalu menyapa Ucok Harahap dengan sebutan mesra, Bang Andalas.

Informasi yang diperoleh Radar Surabaya, Sri Haryati baru dinikahi Ucok di kawasan Surabaya Barat pada 14 Mei 2009. Dus, baru berjalan sekitar enam bulan. "Sri Haryati itu istri kesembilan Ucok AKA," kata sumber itu.

Sebelum tinggal seatap dengan Sri di kawasan Pagesangan, Surabaya, Ucok pernah digerebek warga di kawasan Gunung Klotok, Kediri, karena dianggap kumpul kebo dengan Endang Titiek Rachmawati. Pasalnya, pasangan Ucok-Endang tak mampu menunjukkan akta nikah. "Waktu itu kami memang nikah siri. Secara agama sah, tapi belum diurus ke KUA," kata Endang yang dihubungi Radar Surabaya semalam.

Perempuan asal Kediri ini menambahkan, dia dan Ucok pernah berencana meresmikan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) pada 7 Juli 2007. Tapi, seperti dikatakan Ucok sendiri, suami sirinya ini kembali 'dibelokan' ke pangkuan wanita lain. Makin lama makin lengket, sehingga Endang hanya bisa gigit jari. Beberapa saat kemudian Ucok sudah menjadi milik Raden Ayu Sri Haryati.

"Saya ini perempuan biasa yang punya perasaan. Kok semuanya bisa begini?" ujar Endang dengan nada tinggi. Karena itulah, perempuan kedelapan dalam hidup Ucok AKA ini mengaku belum bisa menjenguk Ucok yang terkapar lemah di rumah sakit. "Saya tidak ingin ada pertengkaran di antara kami," akunya.

Selain Endang Titiek dan Sri Haryati yang menemani Ucok di masa senja, sebelumnya ada tujuh perempuan lain yang pernah menjadi istri Ucok. Mereka antara lain Lisa Damayanti (asal Jogjakarta), Sri Lea (Bandung), Imla Binti Zakaria (anak kiai di Jawa Barat yang hanya dinikahi tiga bulan), Farida (Jakarta), dan Nur Ani sang istri pertama. Ucok dikaruniai total delapan anak.

"Bagaimanapun juga Ucok AKA itu ayah saya. Jadi, apa pun kata orang, saya tetap bangga sama dia. Apalagi, sejak dulu beliau baik banget sama saya. Hanya satu kali saya dimarahi," kata Intan Mutiara (35), salah satu putri Ucok.


Intan sendiri waktu kecil tidak pernah tahu kalau ayah biologisnya adalah Ucok AKA Harahap. Maklum, dia dibesarkan ibunya dan tinggal di rumah sang kakek. "Tahunya saya, ya, Opa itu bapak saya," ujar perempuan yang menekuni usaha salon itu.

Baru ketika tamat sekolah dasar dan mendaftarkan diri di SMPN 2 Lawang, Malang, Intan mengaku kaget karena kakeknya menulis nama ayah sebenarnya: Andalas Datoe Oloan Harahap. Ini merupakan nama asli Ucok, putra sulung dari empat bersaudara pemilik Apotik Kali Asin Surabaya, Ismail Harahap.

Bagaimana perasaan Intan ketika itu? "Aku sih biasa-biasa aja. Soalnya, Pak Ucok selama ini ya selalu memperhatikan saya, kasih hadiah, dan macam-macamlah," akunya.

Bahkan, setelah identitas ayahnya, Ucok terungkap, Intan lebih senang lagi mengikuti konser Ucok bersama AKA Junior dari panggung ke panggung. Dari sinilah, Intan berteman akrab dengan Sirun alias O'on. Gitaris AKA Junior ini kemudian menjadi suami Intan.

"Jadi, saya tidak asing lagi dengan dunia musik yang ditekuni Pak Ucok," katanya.

Berbeda dengan Intan yang bisa bergaul akrab dengan Ucok, Sutra Kharmila dan Ricci (anak Ucok dari Farida) selama 28 tahun lebih tak pernah bertemu dengan sang ayah. Mereka baru bisa bertatap muka ketika Ucok sakit parah di RS Darmo.

"Jadi, aku nggak bisa menilai Papa seperti apa," kata Lia, sapaan akrab Sutra Kharmila, yang bekerja sbagai prsenter Global TV ini. (*)

CATATAN:
Ucok AKA, salah satu pelopor musik rock Indonesia, akhirnya meninggal dunia di RS Darmo Surabaya pada 3 November 2009 dan dimakamkan di Pemakaman Kebraon Tegal, Karangpilang Surabaya, hari yang sama. Selamat jalan Sang Pahlawan!


24 November 2009

Mengapa PNS Sangat Diminati?



Lowongan yang tersedia hanya 57 [lima puluh tujuh], tapi peserta ujian pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Surabaya mencapai 7.625. Dus, yang ditolak nanti 7.568. Perhatikan saudara-saudara: hanya 0,74 persen yang diterima menjadi PNS. Bukan main!

Para peserta tes yang ribuan itu sudah tahu bahwa peluang diterima sangat kecil. Tapi apa salahnya dicoba? Siapa tahu jadi PNS, birokrat, karir bagus, masa depan cerah, dan seterusnya. Tak hanya di Surabaya, di kota-kota lain di Jawa Timur pun tes PNS dibanjiri ribuan peserta. Padahal, sekali lagi, lowongan sangat-sangat-sangat kecil.

Begitulah. Sampai hari ini PNS masih jadi primadona bagi sebagian besar orang Indonesia. Berkali-kali koran di Surabaya mempropagandakan keirausahaan, entrepreneurship, ciptakan lapangan kerja, buka bisnis kecil-kecilan.... Tapi kampanye wirausaha ternyata tidak efektif.

Setiap kali wisuda, para rektor selalu kampanye "ciptakan lapangan kerja, jangan cari kerja". Tapi, apa mau dikata, ini semua tinggal retorika. Diulang-ulang terus bagaikan mantra yang tak berguna. Harus diakui, PNS memang punya pesona yang luar biasa.

Di kota sebesar Surabaya saja begitu, apalagi di kota kecil? Apalagi di luar Jawa yang infrastruktur bisnisnya sangat buruk? Apalagi di NTT yang minim pendapatan asli daerah? "Cita-cita saya memang PNS kayak bapak saya. Asyik banget deh hidup sebagai PNS. Aku gak mau kerja ngoyo kayak di swasta," kata Rasmi, mahasiswi semester akhir UPN Veteran Surabaya, kepada saya suatu ketika.

Apa sebetulnya keistimewaan PNS itu?

1. KERJA SANTAI

Datanglah ke kantor-kantor pemerintah. Suasana sangat santai. PNS sibuk baca koran, main catur, ngobrol, ngopi. Ada beberapa PNS yang memang bekerja, tapi tidak sengoyo di swasta.

2. KERJA ADMINISTRATIF

PNS itu sama dengan pegawai administrasi pemerintah. Kerjanya pun tak lepas dari urusan administrasi: buat surat, masukkan data, mengurus surat-surat untuk penduduk. Kerja administrasi yang sudah punya prosedur standar, juklak, juknis, tidak membutuhkan pemikiran yang berat-berat.

3. TANPA TARGET

Beda dengan di swasta, PNS bekerja nyaris tanpa target. Deadline tidak ada. Mengurus KTP, misalnya, bisa dua hari jadi, tapi bisa meleset sampai 10 hari, 20 hari, bisa dua bulan. Si PNS cenderung merasa tak punya beban untuk menggarap pekerjaannya secara cepat dan tepat.

4. TIDAK STRES

Karena tanpa target, tanpa tekanan, PNS tidak stres. Hidup tidak dikejar-kejar waktu. Ancaman pemecatan pun nyaris tidak ada. Tidak heran, usia rata-rata PNS jauh lebih panjang ketimbang karyawan swasta.

5. SULIT DIPECAT

Seburuk apa pun kinerja PNS, dia dilindungi undang-undang kepegawaian, peraturan pemerintah, peraturan menteri, peraturan bupati, dan sebagainya. Ini membuat PNS sulit dipecat meski jelas-jelas salah dan bodoh. Ada beberapa tahapan sanksi. PNS yang terlambat masuk setelah cuti Lebaran, misalnya, tidak pernah dipecat. Paling hanya digeser ke samping (mutasi).

6. GAJI DAN PANGKAT SELALU NAIK

Perusahaan swasta tidak selalu untung. Banyak yang bangkrut, tutup, karyawan di-PHK massal. Di PNS mana ada negara atau kabupaten bangkrut? Sejelek-jeleknya kinerja keuangan, gaji pokok PNS selalu naik setiap tahun. Belum tunjangan macam-macam.

Presiden, gubernur, bupati selalu menjadikan kenaikan gaji sebagai alat politik untuk mempertahankan kekuasaan. Wakil rakyat di DPR pusat maupun daerah pun selalu mendorong kenaikan gaji. Pangkat/golongan naik otomatis secara berkala kecuali si PNS melakukan pelanggaran berat.

7. KARIER DILINDUNGI PANGKAT

Birokrasi punya mekanisme luar biasa untuk melindungi jenjang karier PNS. Jabatan ini harus didudki eselon sekian. Kepala sekolah harus golongan ini, pangkat ini. Maka, karier PNS selalu naik, atau mandek, tapi tidak bisa melorot. Kalau kepala daerah melengserkan si PNS, ada mekanisme gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara.

Karena mekanisme ini, banyak PNS eselon atas terpaksa nonjob atau "menganggur" karena tidak cocok dengan bupati atau wali kota. Mau dilengserkan tidak bisa, eselonnya ketinggian. Mau dipakai susah karena kinerja jelek dan tidak bisa diajak kerja sama.

8. PENSIUN DAN JAMINAN HARI TUA

Ini yang paling disukai orang Indonesia dari PNS. Perusahaan swasta sewaktu-waktu bangkrut, PNS tak mungkin bangkrut. Sampai kapan pun negara tetap ada, bukan?

9. LIBUR DAN CUTI BANYAK

Kerja lima hari. Cuti bersama Lebaran PNS sangat panjang. Belum cuti perorangan. Tanggal-tanggal merah di kalender itu sebetulnya sengaja dibuat pemerintah untuk mengatur hari libur PNS. Tanggal merah bisa digeser hanya agar PNS bisa berlibur lama-lama. Toh, pekerjaannya tanpa target dan tenggat waktu.

PNS yang liburnya paling panjang adalah guru dan dosen. Ketika liburan sekolah yang dua minggu, satu bulan, si PNS pendidikan pun ikut libur. Kalau mau jujur, Jumat itu sebetulnya bukan lagi hari kerja efektif. PNS berolahraga bersama, ngopi, santai, lalu pulang. Senin masuk lagi dan seterusnya.

10. SIMBOL STATUS

PNS masih menjadi simbol status di masyarakat. PNS punya gengsi yang tinggi, khususnya di luar Jawa. Orang tua di kampung-kampung lebih suka punya mantu PNS ketimbang katakanlah wartawan, pelukis, atau buruh pabrik Maspion. Apalagi, si PNS itu punya eselon tinggi.

11. BISA NYEPER

Selama ini para PNS mengeluh penghasilan sedikit. Tapi, sudah jadi rahasia umum, PNS-PNS ini suka nyeper. Agar cepat mengurus KTP, bayar sekian sama Pak Anu. Mau bikin paspor sehari jadi, cukup hubungi Cak Korup. Supaya izin ini cepat dan mulus, datangi saja Mas Gombal. Dan seterusnya. Ini ceperan yang jelas-jelas bikin ekonomi biaya tinggi.

Tapi banyak pula PNS menekuni kerja sambilan yang halal. Karena beban kerjanya longgar, bisa pulang cepat, si PNS bisa membuka bisnis kecil-kecilan di rumah. Menjual air galonan, pracangan, agen obat alternatif, dan sebagainya.

Ingat jaksa Urip Tri Gunawan yang ditangkap KPK di Jakarta? Si Urip yang PNS ini mengaku berbinis permata dengan si Ayin yang menyuap Rp 6 miliar. Macam-macamlah usaha sampingan PNS ini, termasuk berjualan togel alias judi gelap. Hehehe....

12. FASILITAS RUMAH

Di mana-mana ada perumahan dinas untuk PNS departemen A, departemen B, dan seterusnya. Di luar Jawa, PNS disediakan rumah layak di kompleks khusus.

Guru-guru yang PNS di luar Jawa, khususnya NTT, disediakan rumah dan fasilitas lain. Kalaupun tidak dapat rumah dinas, ada fasilitas kredit pemilikan rumah yang mempermudah si PNS beroleh rumah pribadi. Ada juga koperasi PNS yang membantu menyediakan rumah, kendaraan bermotor, dan sebagainya. Wuenaaak tenan!

13. LEBIH RELIGIUS

Karena punya banyak waktu, hidup tidak ngoyo, tak ada tekanan kerja, kehidupan beragama si PNS [agama apa saja] lebih teratur. Sejak dulu saya perhatikan bahwa PNS-PNS itulah yang menjadi motor berbagai kegiatan di Gereja Katolik. Jadi ketua lingkungan, ketua stasi, ketua wilayah, panitia ziarah, aktif latihan paduan suara, pembaca kitab suci, pemazmur, dan seterusnya. Tentu saja, religiositas macam ini sangat baik.

Saya mati, secara garis besar, keluarga PNS pun punya hidup doa yang bagus. Anak-anaknya dibiasakan makan bersama, doa bersama sebelum dan sesudah makan, doa pagi, doa malam, doa rosario, doa novena dan sebagainya. Karena itu, jangan heran kalau sebagian pastor atau romo di Indonesia berasal dari keluarga PNS, khususnya PNS guru.

14. LONCATAN POLITIK

Ini untuk PNS yang eselonnya tinggi macam kepala-kepala dinas, kepala bagian, dan sebagainya. Sejak ada pemilihan bupati/wali kota secara langsung, para PNS papan atas ini banyak "dilamar" [atau "melamar?] partai politik agar maju pilkada. Mereka dianggap tahu seluk-beluk PNS berikut berbagai sisi positif negatifnya. Kalau tidak jadi bupati/wali kota, biasanya PNS eselon tinggi ini jadi orang kedua.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo itu PNS tulen. Soenarjo, mantan wakil gubernur Jatim, yang maju dalam pemilihan gubernur Jatim dan kalah, PNS tulen. Soenarjo jadi PNS sejak era Kotamadya Surabaya, ke Pemprov Jatim, kemudian meloncat jadi ketua Golkar Jatim. Win Hendrarso, bupati Sidoarjo, juga PNS tulen eselon atas yang meloncat ke politik dan sukses. Banyak lagi bupati dan wali kota Jatim yang berlatar belakang PNS.

15. SILAKAN TAMBAH SENDIRI

23 November 2009

Tuno Uwe Cilembu (Ubi Madu Cilembu)



Tite teti Lewotana biasa tekan uwe. Uwe kayo, uwe hura, uwe wohi, masam-masam. Memang tite mula tahan bisa hala, wai take, ro uwe aya-aya. Jawa alawen biasa rekan uwe hala, kecuali lau Wonosari, Jogjakarta.

Jawa nepe tahan lewun. Tun tou ra mula tahan moan telo. Wai nahan ayaken, irigasi raen mela-mela. Tite pakan uran... bisa hala. Hehehe...

Wia leron go kala Jalan Raya Taman, Sidoarjo, hope uwe wohi. Naranen UBI MADU CILEMBU. Cilembu nepe lewo tou lali Jawa Barat, Kabupaten Sumedang. Wohi onen kuman, kemi-kemi heloka wane. "Uwe nepi pi Jawa Timur morip hala. Te Jawa Barat di Cilembu hena," amak pedagang maring go nepa.

"Oroka?"

"Pediken. Mo persaya hala, mo soba mula uwe nepi te Sidoarjo. Morip memang moripa ra uwe naen take."

Kilo tou ribu buto, ribu hiwa. "Go hope ribu pulo!" go maring.

Amak nepe mupul uwe be tunon. Nah, ra tuno uwe rang oven. Tuno rang kayo hala. Tite tao uwe te oven onen, pakan jam rua telo... tahaka. Hmm... wauken nang iluke tetil-tetil. Hehehe....

Go kong reuk pia kantor mekan UBI CILEMBU, go peten uwe teti lewo. Uwe titen di mela-mela, kemi, tang tula kolak, senelong di sare. Mungkin pemerentah bisa bantu ina ama rae lewo mula uwe varitas kelemuren, senaren, tang dum te kota.

Cilembu nepe lewo kutulen! Ra bisa, tite bisa hala?

Uran tun kae



Uran beng tun moan toa rua pi Surabaya. Puji Tuhan, kame bisa turu odo, istirahat mela-mela. Tun 2009 nepi Surabaya pelate ayaka. Kota ahan urana, Jakarta mae lodo, kame pi Surabaya mara-mara, pelate, sampe 40-an derajat Celcius.

Go lile televisi, Jakarta uran bleku-bleku. Wai saing lango, etin lamak dataka, susah tudak. Moga-moga kame Surabaya selamat, ake mae hala. Tite memang leta uran, ro jangan sampe mae belen maso lewotanah, gere lango kae.

Surabaya nepe watan lolon, dahe tahik. Mio denga Pelabuhan Tanjungperak? Nepe pelabuhan, tite rae lewo maring "jembatan", paling belek pi Indonesia Timur. Dahe tahik nepek di bahaya. Pas uran tun, bleku, wai gereka... wah, mau tidak mau mae betona.

Go hitung-hitung mae nepe mara jam telo pat. Nolo pernah mara hala sampe leron rua telo. Mio bisa bayangkan, honda oto pi laran belek pana lancar hala. Macet te Jalan Ahmad Yani, Gayungan, Wonokromo, Mayjen Sungkono, Diponegoro, Kedungdoro, Kutai, Musi, Padmosusastra....

Moga-moga tun nepi mae belen lodo hala. "Tite seba doi bisa hala," Carlos Amaral, ana Timor Leste pi Sidoarjo, maring go.

22 November 2009

Nindy Ellese Bunuh Diri Dua Kali



Sebagian artis lama tenggelam setelah sempat menikmati masa jaya selama beberapa tahun. Nindy Ellese (42 tahun), penyanyi dan pemain sinetron era '80-an, kini aktif dalam berbagai pelayanan rohani bersama Jakarta Praise Community Church.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Nindy Ellese bukan saja pandai bicara, menyampaikan kesaksian, tapi juga piawai menulis refleksi hidupnya. Suami Willem F. Laoh ini bahkan sudah menerbitkan buku berjudul Hidup Bukan Teka-Teki.

"Hidup adalah sesuatu yang tidak main-main," tegas Nindy dalam sebuah acara kebaktian kebangunan rohani di Surabaya belum lama ini.

Bergabung dengan JK Records, perusahaan rekaman milik Judhi Kristianto yang sangat populer pada 1980-an, Nindy Ellese sempat merilis beberapa album seperti Naluri Seorang Wanita, Selendang Biru, dan Surat Terakhir. Suaranya yang melengking tinggi, beda dengan penyanyi-penyanyi JK yang umumnya medayu-dayu, Nindy kerap membawakan lagu-lagu bernada tinggi dan ngerock.

Popularitasnya pun meroket dengan sangat cepat. Sempat membintangi beberapa sinetron, Nindy kian kondang bersama Trio Glamendys (Gladys Suwandi, Mega Selvia, dan Nindy) pada 1990-an. Setelah berumah tangga, Nindy memilih mengundurkan diri dari blantika musik dan sinetron. Dan diam-diam Nindy merambah dunia pelayanan rohani yang jauh dari sorotan media massa.

Ketika popularitasnya sedang membubung, ujar Nindy dalam kesaksiannya di Surabaya, dia justru mengaku mengalami kekosongan jiwa. Ibaratnya, hidup ini tak berarti. "Hati saya perih, tiada lagi harapan. Hancur berkeping-keping," ujar Nindy merujuk syair lagu kondang Layu Sebelum Berkembang.

Pengalaman pahit ini antara lain akibat perceraian orang tuanya ketika Nindy berusia 12 tahun. Nindy terpaksa dititipkan kepada pamannya. Gadis yang periang ini pun berubah menjadi penyendiri. Waktunya banyak dihabiskan di dalam kamar untuk membaca buku dan merenung.

Apalagi, setelah ibunya menikah lagi, tekanan di dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Nindy hanya keluar kamar kalau perlu makan atau mandi saja.
Pada suatu ketika Nindy ikut tes vokal yang diadakan oleh TVRI. Nindy berhasil dan langsung dikontrak oleh JK Records untuk lima album sekaligus.

Uang yang diperoleh dari kontrak rekaman itu dipakainya untuk mengontrak rumah dan memboyong ibu dan kedua adiknya ke rumah itu, termasuk ayah tirinya.

Ayah tirinya ternyata sangat kejam dan suka mabuk. Dia tak segan-segan memukuli ibunya bila sedang mabuk. Pada suatu kali, pria itu berjalan sempoyongan, karena mabuk, menghampiri ibunya. Mereka berdua berbincang serius, yang dilanjutkan dengan pertengkaran, kemudian pemukulan.

Mendengar keributan itu,Niny segera menegur ayah tirinya. Bukannya manut, pria itu menghantam kepala Nindy dengan kursi. Nindy mengalami luka serius, sehingga harus dibawa ke dokter. Sekalipun luka di kepalanya dapat diobati, luka hatinya sulit terobati karena begitu dalam menusuk.

Sejak saat itu Nindy sangat membenci ayah tirinya. Hari-harinya kemudian diisi dengan kebencian dan dendam. Segala kesibukannya sebagai penyanyi top ternyata tak dapat mengisi kekosongan jiwanya. Ke mana pun pergi, apa pun yang dilakukan, kekosongan itu terus mengejarnya.

Suatu ketika pukul 00.01 WIB, pada 1983, Nindy merasakan betapa hidupnya sia-sia. Ingin bunuh diri saja. Diambilnya sebotol minyak kayu putih yang penuh berisi. Hap! Nindy pun menenggak minyak kayu putih itu hingga tersisa sedikit.

"Beberapa saat kemudian perut saya terasa panas seperti dibakar, mual, mata basah. Seluruh permukaan wajah saya memerah. Lidah saya kelu. Oh, Tuhan, inikah akhir hidup saya," tulis Nindy Ellese.

Dalam situasi yang tak karuan itu, Nindy yang kala itu masih 16 tahun, merasa takut dan menyesal. Bukan apa-apa. Dia takut masuk neraka setelah meninggal sebentar lagi. Air mata penyesalan pun mengalir deras.

"Dan, tiba-tiba saya merasa seperti ada yang mendorong semua isi perut saya naik ke tenggorokan. Saya terduduk di sisi kamar mandi, dekat kloset. Badan saya penuh muntahan, lutut saya lemas. Saya menjerit, Tuhan, ampuni saya!"

Menurut pengakuan Nindy, ini kali kedua dia mencoba mengakhiri hidupnya. Beberapa bulan sebelumnya, ibunda Jeremmy Laoh ini menelan 12 butir pil sakit kepala untuk bunuh diri. "Yang pertama ini saya kurang serius, sehingga beberapa saat kemudian saya justru tertidur dan besoknya bangun lagi melihat hari yang baru," tuturnya.

Nindy Ellese hanya ingin mengingatkan bahwa di balik kehidupan yang gemerlap dan glamor, para selebriti punya sisi lain kehidupan yang luput dari perhatian orang. sebagai manusia biasa, mereka punya tantangan yang tidak ringan. Sebagai putri keluarga broken home, Nindy merasa kurang bahagia, kurang mengalami perhatian dan cinta.

"Waktu itu saya memang terkenal, dapat job di mana-mana, tapi hati saya kosong. Hidup saya seperti tidak punya makna," ujar Nindy.

Nindy Ellese baru mengalami pertobatan pada pertengahan 1990-a. Sejak itu penyanyi pop 1980-an ini bertekad untuk 'hidup baru'. Memberikan sebagian besar hidupnya untuk pelayanan rohani.

Suatu ketika Nindy Ellese diajak mengikuti kebaktian bersama komunitas Jakarta Praise Center di Wisma Antara Jakarta. Nindy pun mencoba ikut meskipun selama ini dia jauh dari kegiatan-kegiatan yang berbau rohani. Dia larut dalam aktivitas keartisan yang hura-hura dan gemerlap.

Sebelum itu, Nindy mengaku tidak pernah berdoa, apalagi membaca Alkitab. "Setiap kali mau berdoa, mata saya ini ngantuknya minta ampun. Baca Alktab? Wow, malasnya minta ampun. Ke gereja, dulu, adalah suatu hukuman berat untuk saya karena saya tidak mengerti apa yang dikatakan pendeta," paparnya.

Nah, kebaktian di Wisma Antara itu dipimpin Pendeta Jeffrey Rachmat. Pada akhir khotbah, Jeffrey mengundang jemaat untuk maju agar didoakan secara khusus. "Saya memilih untuk maju dan didoakan. Air mata mulai mengalir di pipi. Sebagai orang berdosa, saya menyadari perlu tangan Tuhan untuk menolong kehidupan saya," kenang Nindy.

Sejak itu, Nindy mengaku mulai fokus pada Tuhan. Mulai belajar untuk hidup lebih intim dengan Tuhan. "Saya juga mulai rajin membaca firman Tuhan (Alkitab, red)," tulis Nindy Ellese dalam bukunya berjudul Hidup Bukan Teka-Teki.

Bukan itu saja. Lagu-lagu duniawi yang selama ini dikonsumsi setiap hari, di mobil, di rumah, dibuang jauh-jauh. Tidak didengarkan lagi. Termasuk lagu-lagu pop yang melambungkan namanya di industri musik Indonesia bersama JK Records. Karena itu, jika Anda meminta Nindy Ellese membawakan lagu-lagu lamanya, dia hanya bisa tersenyum.

"Itu dunia lama saya. Sekarang saya hanya mau membawakan lagu-lagu pujian untuk Tuhan. Bukan lagi lagu-lagu pujian untuk lawan jenis atau kekasih," kenang artis kelahiran April 1967 yang sempat berkolaborasi dengan Gladys Swuandi dan Mega Selvia dalam Trio Glamendys itu.

Buku-buku bacaan Nindy, yang memang kutu buku sejak remaja, pun berubah. Kalau dulu rajin membaca novel, sekarang berganti ke literatur-literatur rohani. Kitab suci menjadi menu utama sehari-hari. "Saya mulai sedikit demi sedikit membangun hidup saya dengan firman Tuhan yang saya baca dan saya dengar," katanya.

Tentu saja, revolusi hidup semacam ini membuat pola pergaulan dan teman-temannya berubah. Nindy menemukan orang-orang baru yang fokus pada pelayanan rohani. Bukan lagi orang-orang entertainment yang akan mendukung karirnya sebagai artis. Namun, justru dari lingkungan baru inilah, Nindy akhirnya berkenalan dan akhirnya menemukan suaminya, Willem F Laoh.

"Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengubah hidup saya," tegasnya.

18 November 2009

Akhirnya, John Lie Pahlawan Nasional



Pada Hari Pahlawan lalu, 10 November 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan mendiang Laksamana Muda John Lie sebagai pahlawan nasional. Dengan demikian, John Lie menjadi warga negara Indonesia keturunan Tionghoa pertama yang tercatat sebagai pahlawan nasional. Siapakah John Lie itu?

Oleh LAMBERTUS HUREK

Di kalangan masyarakat umum, bahkan termasuk warga Tionghoa sendiri, nama John Lie kurang dikenal. Orang tentu lebih kenal Laksamana Cheng Hoo, panglima armada Tiongkok sekaligus penyebar agama Islam di berbagai belahan dunia. Namun, di kalangan pelaut, TNI Angkatan Laut, Laksamana John Lie tank asing lagi. Bahkan, sebelum ditetapkan sebagai pahlawan nasional pun, John Lie sudah dianggap sebagai salah satu role model bagi pelaut-pelaut muda tanah air.

Nama John Lie, yang juga dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma, mulai banyak dibicarakan setelah adanya iklim keterbukaan pada era 2000-an. Ketika tahun baru Imlek dijadikan hari libur nasional, agama Khonghucu diakui (kembali), maka sejumlah aktivis Tionghoa mengusulkan agar John Lie dijadikan pahlawan nasional. Seminar-seminar pun digelar, buku tentang John Lie diterbitkan, dan media-media Tionghoa banyak memuat profil John Lie.

"Adanya pahlawan nasional dari etnis Tionghoa justru sangat penting bagi masyarakat Indonesia keseluruhan yang bisa melihat bahwa etnis Tionghoa itu sama dengan etnis lain, yakni sama-sama berjuang untuk kemerdekaan bangsa," ujar Dr Asvi Warman Adam, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Aswi termasuk cendekiawan yang banyak bicara di seminar dan menulis artikel-artikel tentang sosok John Lie.

John Lie lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911, dan meninggal di Jakarta pada 27 Agustus 1998. Almarhum menerima Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995. Karena itu, John Lie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Kebijakan politik Orde Baru yang tidak kondusif bagi warga Tionghoa membuat nama John Lie tenggelam. Jangankan mengusulkan putra pasangan suami-istri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio itu sebagai pahlawan nasional. Membicarakan jasa-jasa John Lie dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia saja tidak banyak dilakukan.

Awalnya, John Lie bekerja sebagai mualim kapal niaga milik Belanda, kemudian bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), sebelum diterima di Angkatan Laut RI. Semula dia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten. Di pelabuhan ini John berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi Sekutu. Atas jasanya, John dinaikkan pangkatnya menjadi mayor.

Sejak itu John Lie memperlihatkan kemampuannya sebagai pelaut dan patriot sejati. Pada awal kemerdekaan, 1947, John ditugaskan mengamankan pelayaran kapal-kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri.

Di antaranya, mengawal kapal pengangkut karet 800 ton untuk diserahkan kepada Utoyo Ramelan, kepala perwakilan RI di Singapura. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata-senjata itu diserahkan kepada pejabat di Sumatera seperti bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.

Ingat, meski sudah merdeka pada 17 Agustus 1945, pasukan Belanda yang didukung Sekutu masih bercokol di Indonesia. Setelah Jepang kalah, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia.

Nah, perjuangan John Lie dan kawan-kawan di kapal tidak ringan mengingat kapal-kapal AL Belanda rajin patroli. Belum lagi harus menghadapi gelombang samudra yang besar untuk ukuran kapal mereka yang belum secanggih saat ini.

Dalam operasi ini, John Lie mengemudikan kapal kecil cepat bernama The Outlaw. Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit John Lie melakukan 15 kali operasi 'penyelundupan'. Ketika membawa 18 drum minyak kelapa sawit, John sempat ditangkap perwira Inggris.

Di pengadilan Singapura, John dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Saat membawa senjata semiotomatis dari Johor (Malaysia) ke Sumatera, kapal John dihadang pesawat patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas.

Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap, mengarahkan senjata ke The Outlaw. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan The Outlaw tanpa insiden.

Jiwa patriotisme, cinta tanah air, membela negara, tak hanya diperlihatkan Laksamana Muda John Lie lewat kata-kata, tapi perbuatan. Sejak bergabung dengan TNI Angkatan Laut pada awal kemerdekaan, sebagian besar hidup John Lie dibaktikan kepada negara dan bangsanya di lautan.

Karena itu, John Lie yang dilahirkan di Manado, 9 Maret 1911, ini tidak suka dengan istilah 'pribumi' dan 'nonpribumi' yang dinilai hanya menyudutkan orang Tionghoa di Indonesia. Istilah 'nonpribumi' ada era Orde Baru selalu merujuk pada orang Tionghoa. Dan konotasinya selalu jelek. Nah, John Lie ini punya pandangan sendiri tentang pribumi dan nonpribumi.

"Siapakah orang pribumi dan nonpribumi itu? Orang pribumi adalah orang-orang yang jelas-jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan nonpribumi adalah adalah mereka yang suka korupsi, suka pungli, suka memeras dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk kita dari belakang," kata John Lie seperti dikutip Mayor (P) Salim, komandan KRI Untung Suropati,dalam sebuah artikelnya.

Menurut John, orang yang tidak mementingkan atau membela nasib bangsa Indonesia--apa pun latar belakang suku, ras, etnis, agama--adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa. "Jadi, soal pribumi dan nonpribumi bukannya dilihat dari suku bangsa dan keturunan, melainkan dari sudut pandang kepentingan siapa yang mereka bela," tegasnya.

Laksamana Muda John Lie, menurut Mayor (P) Salim, terlibat aktif dalam sejumlah operasi penumpasan pemberontakan di dalam negeri seperti Republik Maluku Selatan (RMS), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan PRRI/Permesta. Aksi separatis ini sangat mengganggu keutuhan Republik Indonesia yang usianya masih sangat hijau.

Pada 1 Mei 1950 Menteri Panglima AL Raden Soebijakto memerintahkan kapal perang AL untuk melaksanakan blokade di perairan Ambon. John Lie menjadi komandan kapal–kapal korvet RI Rajawali. Kemudian KRI Pati Unus dikomandani Kapten S Gino, KRI Hang Tuah dipimpin Mayor Simanjuntak. Pendaratan di Pulau Buru dilaksanakan pada 13 Juli 1950.

TNI AL mengerahkan kekuatan eskader-eskader di bawah komando Mayor Pelaut John Lie, dilanjutkan dengan pendaratan di Pulau Seram dan Pulau Piru. Melalui tiga titik pendaratan ini, yang dibantu kekuatan gabungan TNI, pasukan RMS pun terdesak. Pada 15 November 1950, operasi pembersihan RMS di Ambon dan sekitarnya selesai.

Pemberontakan DI/TII kali pertama muncul di Jawa Barat pada 1949 di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Namun, pengaruh DI meluas hingga ke Aceh pada 1950 dipimpin oleh Teuku Daud Beureuh dan di Sulawesi Selatan pada 1953 di bawah pimpinan Abdul Qahhar Mudzakkar. Untuk menumpas pemberontakan tersebut, Presiden Soekarno memerintahkan operasi militer dan operasi pemulihan keamanan yang melibatkan seluruh elemen pertahanan, termasuk TNI AL.

Nah, kapal TNI AL menggelar operasi patroli pantai dipimpin oleh Mayor (P) John Lie.
Pada 1958 pemerintah juga menggelar operasi untuk menumpas Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera dan Perjuangan Semesta (Permesta) di Sulawesi. Operasi gabungan TNI ini dikomandani Kolonel Ahmad Yani, dengan wakil komandan Letkol (P) John Lie dan Letkol (U) Wiriadinata.

Dalam operasi ini TNI AL membentuk Amphibious Task Force-17 (ATF-17) yang dipimpin Letkol (P) John Lie, dan melibatkan KRI Gajah Mada, KRI Banteng, KRI Pati Unus, KRI Cepu, KRI Sawega, dan KRI Baumasepe, serta satu batalyon KKO (Marinir). Kapal-kapal melakukan bombardemen sekitar kota Padang dan kemudian mengadakan operasi pendaratan pasukan KKO.

Setelah operasi Permesta 1958-1959, John Lie dikirim ke India selama setahun untuk tugas belajar di Defence Service Staff College, Wellington. Pada 1960, John Lie diangkat menjadi anggota DPR Gotong Royong dari unsur TNI AL.

Kemudian, pada 1960–1966 John Lie menjabat kepala inspektur pengangkatan kerangka kapal di seluruh Indonesia. Sebelumnya, pada 5 Oktober 1961 Presiden Soekarno menganugerahkan tanda jasa kepahlawanan kepadanya.

16 November 2009

Kemarau Berkepanjangan



Jakarta sudah mulai turun hujan. Bahkan, di beberapa kawasan Jakarta tergenang banjir. Lantas, kapan Surabaya dan sekitarnya hujan?

Terus terang, saya "cemburu" dengan Jakarta yang dianugerahi kucuran air hujan dalam jumlah besar. Bahwa di sana-sini banjir, air masuk rumah, penduduk harus menyelamatkan harta bendanya, lalu lintas macet... itu persoalan lain. Bukankah sudah biasa?

Yang tidak biasa adalah musim kemarau yang terlalu panjang. Anak-anak SD, sejak zaman dulu, punya hafalan resmi: musim hujan itu mulai Oktober sampai April, musim kemarau April sampai Oktober. Lha, sekarang ini sudah November, tapi belum pernah ada hujan sekalipun di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya.

Kapan hujan turun? Petugas BMG--sekarang BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)--di Juanda dan Tanjungperak rupanya ikut bingung. Mereka pun ternyata tak bisa membuat ramalan secara pas. Yah, tanyakan saja rumput yang sudah kering kerontang itu.

"Kita berdoa saja. Semua itu urusan Gusti Allah," kata Pak Bambang. Pelukis 70-an tahun, beragama Katolik, ini rajin berdoa, tapi tidak pernah ke gereja. "Ini akibat perubahan iklim. Pemanasan global. Iklim menjadi kacau-balau gak karuan. Yang salah, ya, manusia juga," tambah Pak Bambang yang juga aktivis lingkungan itu.

Di pelosok Flores Timur, kampung saya, kalau terjadi kemarau panjang sekali kayak ini, pasti ada upacara MINTA HUJAN. Ada kebaktian atau misa khusus. Semua orang berdoa sungguh-sungguh, rosarionya banyak, minta agar Tuhan Allah menurunkan hujan.

"Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa. Kristus, kasihanilah kami," begitu ungkapan khas orang Katolik di desa-desa di Flores. Ketika hujan tidak kunjung turun, panas menyengat, kemarau panjang, orang memang lebih religius. Yang malas ke gereja tiba-tiba ikut misa MINTA HUJAN.

Hasilnya? Ada kalanya hujan bakal turun beberapa hari ke depan. Tapi sering kali pula awan tak pernah gelap, mendung tak ada, hujan hanya mimpi. Nah, ketika misa alias perayaan ekaristi khusus tidak mempan, tua-tua adat pun berpaling ke cara primitif. Yakni, membuat upacara tradisional dipimpin oleh dukun-dukun kampung.

Caranya? Hehehe.... Lain kali saja ceritanya. Cukup menggelikan, tidak masuk akal, tapi dipercaya ramai-ramai. Sebab, jurus dukun kampung ini sering kali efektif. Hujan akhirnya turun dengan deras. Itu dulu, tahun 1980-an dan 1990-an. Saya tidak tahu apakah jurus minta hujan melalui cara animisme-dinamisme ini masih dilakukan di Flores Timur.

Kemarin, saya baru jalan-jalan ke Jolotundo, Trawas, Kabupaten Mojokerto. Daerah pegunungan, sejuk 400-an meter di atas permukaan laut. Sebuah tempat wisata yang kerap dikunjungi orang-orang Surabaya dan sekitarnya. Selain hawanya yang masih sejuk, kekeringan terlihat di mana-mana. Pohon-pohon meranggas, remputan mati, debu beterbangan.

"Nggak pernah hujan di sini," kata Mbok Tani, warga asli Tamiajeng, Trawas, yang membuka warung dekat Cagar Budaya Candi Jolotundo. "Kalau manusia-manusia tidak bertobat, tetap berdosa, suka maksiat, jadinya ya kayak gini. Nggak tahu kapan hujan," kata perempuan buta huruf ini.

Aha, di mana-mana ternyata sama. Perubahan lingkungan, iklim yang berubah, kemarau panjang selalu dikaitkan dengan perilaku manusia. Alam dan manusia memang tak bisa dipisahkan. Maka, seperti dikatakan Mbok Tani di Trawas, manusia harus cepat-cepat bertobat, tidak merusak alam, menjaga perilaku, mawas diri, tidak mentang-mentang.

"Biasanya, kalau kemarau panjang kayak gini, banjirnya juga akan besar lho. Sing ati-ati ae," begitu nasihat Mbok Tani.

13 November 2009

Bu Hartono dan Batik Sidoarjo




Diberhentikan dari tempat kerjanya, gara-gara krisis moneter, tak membuat Faina Hartono (47) putus asa. Justru itu menjadi momentum untuk merintis karir sebagai pengusaha baik tulis. Kini, setelah satu dekade berlalu, Bu Hartono, sapaan akrab ibu empat anak ini, telah menjadi salah satu juragan batik paling sukses di Sidoarjo.

Bu Hartono juga berhasil mengembalikan kejayaan batik tulis alami khas Desa Kenanga, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, yang sempat surut pamornya. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Faina Hartono di Rumah Batik Sari Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, Jumat (30/10/2009).


Oleh LAMBERTUS HUREK


Setelah batik diakui UNESCO pada 2 Oktober lalu, kemudian 'gerakan berbatik' digalakkan pemerintah, bagaimana omzet batik Anda?

Alhamdulillah, ini benar-benar kabar gembira untuk usaha batik di Indonesia, bukan hanya di Sidoarjo. Permintaan jelas meningkat pesat dibandingkan dulu sebelum ada hari batik kemarin. Sekarang ini yang pesan batik di saya meningkat tiga kali lipat.
Alhamdulillah, usaha yang saya kembangkan dari nol pelan-pelan mulai berbuah dan menghasilkan. Nggak ada bayangan kalau usaha batik yang kami geluti itu bisa jadi seperti sekarang.

Mulai dari nol? Awalnya bagaimana sih Anda mengembangkan batik sari kenongo?

Krismon (krisis moneter, Red) tahun 1997 membuat tempat kerja saya di Jalan Kartini Sidoarjo goyang. Belum lagi pemilik usaha batik itu juga meninggal dunia. Sementara bisanya saya sejak dulu, ya, membatik. Saya nggak bisa kerja di tempat lain.

Waktu berhenti kerja di Jalan Kartini itu, saya sudah menekuni batik selama 25 tahun. Setiap hari urusan saya, ya, bikin batik. Makanya, saya tahu bagaimana proses kerja, membuat desain yang bagus, membedakan kualitas batik, dan sebagainya. Tapi, sebagai pekerja biasa, saya tentu tidak banyak memahami sisi bisnis, pemasaran, dan sebagainya.

Lantas, saya kembali ke sini (Desa Kenongo, Tulangan) untuk memulai usaha dari nol. Saya nggak punya modal sama sekali. Karena itu, saya terpaksa menjual sepeda motor yang saya miliki. Itu satu-satunya motor yang saya punya. Harganya saya masih ingat: Rp 7,2 juta. Dengan uang itu, saya mulai menggarap batik pesanan orang. Saya punya prinsip: kalau ada pesanan baru saya cari modal. Saya nggak mau spekulasi. Kalau uang habis, saya dan keluarga mau makan apa?

Daerah Tulangan sejak dulu terkenal dengan batik tulis yang khas.

Betul. Bahkan, sebagian besar kerajinan batik di Kabupaten Sidoarjo itu yang garap, ya, masyarakat dari Tulangan. Batik yang di Jetis itu juga sebenarnya pembatiknya ibu-ibu dari Tulangan juga. Tapi, kita tahu, gara-gara krismon itu hampir semua usaha mandek, termasuk batik. Saya dan banyak ibu-ibu lain terpaksa kehilangan pekerjaan.

Usaha Anda kemudian berkembang?

Jalannya, ya, nggak bisa cepat, tapi perlahan-lahan. Apalagi saya ini kan orang desa yang tidak mau berhubungan dengan bank. Modal yang saya punyai, ya, dari usaha saya sendiri. Alhamdulillah, semakin lama semakin berkembang dan dikenal oleh banyak orang baik di Sidoarjo, Surabaya, Jakarta, Makassar, maupun kota-kota lain di Indonesia. Bahkan, sekarang saya juga menggarap pesanan dari luar negeri.

Apa yang membuat usaha Anda maju pesat hanya dalam tempo 10 tahun?

Selain kerja keras, saya juga banyak mengikuti pameran batik di berbagai tempat. Pameran itu sangat bagus untuk memperkenalkan produk-produk saya ke masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga sangat membantu dan memfasilitasi saya untuk ikut pameran. Bu Win yang memimpin Dekranasda (Dr Emy Susanti Hendrarso, istri Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sidoarjo, Red) ikut mendorong dan membantu saya agar usaha batik sari kenongo bisa maju.

Nah, orang-orang yang sudah pernah membeli batik sari kenongo biasanya gethuk tular sama temannya. Dan itu terjadi terus-menerus. Saya sering kaget ketika didatangi banyak orang dari tempat yang jauh. Mereka ternyata dapat informasi dari teman-temannya.

Anda sekarang melayani pesanan dari instansi-instansi atau perorangan?

Ya, semuanya kami layani. Awalnya sih, pada tahun-tahun pertama, lebih banyak bikin batik untuk konsumen perorangan. Tapi lama-lama pesanan dari kantor-kantor pemerintah dan swasta makin banyak. Sekarang ini, misalnya, saya sedang melayani order 350 batik untuk kantor Dinas Peternakan di Jalan Ahmad Yani Surabaya itu. Yang ini pakai kain primis, sehingga kualitasnya sangat baik.

Berapa jumlah karyawan Anda sekarang?

Jangan dibilang karyawan lah. Hehehe.... Usaha batik itu sistemnya kerja sama. Saya yang menggambar desainnya, kemudian proses selanjutnya ditangani oleh ibu-ibu dari lima desa di Kecamatan Tulangan. Yakni, Desa Kenongo, Tulangan, Kepatihan, Ngemplak, dan Kedurus. Total ada 168 orang yang terlibat dalam pembuatan batik tulis sari kenongo.

Orang membatik itu kalau sudah mulai nggak bisa berhenti. Makanya, jumlah orang yang menggarap batik bersama saya itu selalu bertambah, nggak bisa berkurang. Suatu saat kalau Anda datang wawancara lagi ke sini, jumlah pembatik pasti sudah bukan 168 lagi. Jelas akan lebih banyak. Dan itu memang sudah tradisi turun-temurun di Tulangan sini.

Selain digarap di Tulangan, apakah ada juga yang digarap di tempat lain?

Ada. Di Solo 40 orang, di Pekalongan 25 orang. Saya kan sering ke Solo dan Pekalongan untuk mengambil kain dan sebagainya. Nah, saya langsung bikin motif batik sari kenongo untuk digarap ibu-ibu di sana. Jadi, biarpun digarap di Solo dan Pekalongan, motifnya tetap Tulangan. Beda dengan batik solo atau batik pekalongan.

Ibu-ibu yang 233 orang itu dikasih target?

Sebetulnya bukan target. Tapi rata-rata satu kain itu biasanya selesai dalam dua atau tiga hari. Kalau nggak selesai-selesai kan dia juga yang rugi karena uang yang didapat sedikit. Satu kain batik dia bisa dapat Rp 40.000 sampai Rp 60.000. Lumayan, daripada ibu-ibu itu hanya nganggur atau ngerumpi di rumah. Kalau ada pesanan khusus dari kantor-kantor pemerintah atau swasta, ya, hasilnya lebih banyak lagi.

Anda yang melukis semua desain batik sari kenongo?

Iya. Itu memang pekerjaan pokok saya. Rata-rata dalam satu jam saya membuat 10 gambar motif. Motif dan warna itu paling penting dalam seni membatik. Makanya, saya harus terlibat langsung agar kekhasan batik sari kenongo itu tetap terjaga. Kembang asam harus ada, begitu juga sunduk kutang dan cecek-ceceknya.

Selama 10 tahun Anda membuktikan bahwa modal bukan segala-galanya dalam menjalankan usaha batik?

Begini. Kita kerja memang perlu modal. Tapi, yang paling penting, harus ada pasarnya dulu. Buat apa bikin batik banyak, tapi nggak dibeli orang? Lama-lama juga modalnya habis.

Saya juga mengingatkan bahwa perajin batik itu lebih membutuhkan garapan ketimbang penghargaan. Piagam penghargaan itu kan hanya pajangan saja. Tapi kalau dikasih garapan, maka usahanya jalan. Dia bisa dapat uang untuk membiayai kebutuhkan keluarganya.




Sukses meski Tidak Tamat SD


KEBERHASILAN Faina Hartono mengembangkan batik tulis sari kenongo benar-benar mengejutkan. Maklum, ibu empat anak ini sama sekali bukan keturunan pengusaha batik atau orang kaya. Faina mengaku hanyalah anak seorang buruh tani yang sederhana di Tulangan.


"Bapak saya itu nggak punya apa-apa. Beliau hanya kerja di sawah milik orang lain," ujar Faina.

Karena penghasilan orangtuanya pas-pasan, bahkan kurang, Faina cilik tidak bisa mencicipi pendidikan seperti anak-anak sebayanya. Faina bahkan terpaksa drop-out dari SD Muhammadiyah di Tulangan. Dia harus bekerja di usia yang sangat muda untuk membantu orangtuanya. "Saya cuma sekolah sampai kelas lima SD. Habis, nggak ada uang untuk bayar sekolah," kenang Faina lantas tersenyum.

Pada tahun 1960-an situasi ekonomi memang sangat sulit. Inflasi membubung tinggi, usaha apa pun tak berkembang. Rakyat kecil sangat menderita. Karena itu, bocah-bocah di desa memang tidak bisa menikmati masa anak-anak yang indah. Mau tak mau, mereka harus bekerja membantu orangtua. Nah, karena Tulangan memang terkenal dengan tradisi batik tulis, Faina pun sudah menekuni seni membatik pada usia bocah.

"Saya mulai ikut membatik tahun 1968. Jadi, umur saya waktu itu masih tujuh tahun," tutur istri Hartono ini.

Kain diambil di Jetis, Sidoarjo, kemudian digarap di Tulangan. Aktivitas ini berjalan terus hingga Faina bekerja di sebuah rumah batik di Jl Kartini Sidoarjo selama 25 tahun. Setelah krisis moneter menghantam Indonesia pada 1997, tempat kerja Faina pun oleng. Pemutusan hubungan kerja (PHK) pun tak terelakkan.

"Saya kembali ke sini (Desa Kenongo, Tulangan, Red) untuk memulai usaha batik sampai sekarang," kata Faina.

Yang menarik, meski usahanya sudah berkembang pesat, Faina tetap enggan berhubungan dengan bank. Alasannya sederhana saja: "Saya tidak mau punya utang pada siapa pun. Orang yang punya utang itu beban hidupnya sangat berat. Ya, kalau bisa bayar, kalau nggak bisa bayar bagaimana? Wong, kita hidup di dunia itu nggak lama."

Sampai sekarang orang-orang bank seakan berlomba datang ke rumahnya untuk menawarkan kredit. Faina berkali-kali diyakinkan bahwa jika mengambil kredit dari bank, maka usaha batiknya akan jauh lebih maju daripada sekarang. "Saya sih hanya ketawa-ketawa saja. Wong pembukuan saja saya nggak punya. Hehehe," pungkasnya.


FAINA HARTONO

Nama populer: Bu Hartono
Lahir : Sidoarjo, 11 Desember 1961
Anak : 4 orang (Heny Purwanto, Tis, Haimin, Lintang)
Cucu : 5 orang
Pendidikan :SD Muhammadiyah Tulangan
Profesi : Desainer, pengusaha batik sari kenongo

Pameran:
Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, Makassar, Malaysia, Brunei Darussalam, dll.

Penghargaan :
Kartini Award (P3A Sidoarjo)
Wanita Berprestasi (Rotary Club)


Elizabeth Karen Pesinden USA



"Wong sing becik iku wong sing nrima lan gelem aweh pangapura."

Elizabeth Karen Sekar Arum, pesinden kesuwur asal Amerika Serikat sing saiki manggon ing Padepokan Mangun Darmo, Desa Tulusbesar, Tumpang, Kabupaten Malang, pranyata duwe gegondhelan sing padha karo adat istiadat Jawa. Dheweke ngegungake anane sedulur papat lima pancer.

Buktine,saban dina kelairane mesthi gawe jenang abang putih disandhingi jajan pasar. Anggone sesaji nganggo cara meditasi, semedi cara yoga. Bubar iku jenang abang putih lan jajan pasar didum marang tangga kiwa-tengen.

Kandhane Elizabeth Karen Sekar Arum:

"Aku percaya marang sedulur papat lima pancer. Awit manungsa yen gelem nguri-uri dhiri pribadi lan sanubarine bakal slamet. Akeh wong sing beragama ning ora berketuhanan. Ana sing berketuhanan ning isih mentala gawe rugine liyan.

"Becike nguri-uri perilaku sing utama lan bener. Manungsa iku dununge slamet ana ing awake dhewe, ora manggon ana wong liya."

Wong sing gawe becik bakal ngundhuh karma sing becik. Suwalike wong sing seneng gawe kapitunan, tembene bakal nampa piwales arupa karma sing elek. Ana sing kacilakan nganti tumekane tiwas. Ana sing nandhang roga nganti selawase urip. Uga ora sethithik sing kangelan golek upa saemplokan. Luwih bakal urip kesrakat maneh sing gelem apus karma marang sepapadha, contone rentenir sing pegawayane nganakake dhuwit.

Senajan Elizabeth Karen iki wong Amerika, ning pribadine madhani wong Jawa. Perilaku becik kudu diutamakake. Marang tangga teparo kudu njunjung adat ketimuran, rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Yen dina riyaya kudu sambang-sinambang. Silaturahim genti genten. Ing omahe uga ana pasedhiyan jajan salumrahe wong Jawa yen dhong Lebaran.

"Saben ketemu sanak sedulur aku uga njaluk sepura, lan uga nyepura marang kanca rewang sing teka ing omahku," tambahe Elizabeth sing saiki dadi randhane Ki Sholeh Adi Pramono.

Kandhane maneh, manungsa iku sing digoleki sakjane mono tenange jiwa lan pikir. Dudu bandha donya. Ning akeh-akehe manungsa mung mburu drajat, pangkat, lan semat. Ewa samono jiwane ora tenang. Saben-saben tansah goreh. Mula tansah ngleluri budi pakerti sing becik, sanubari kang suci, pribadi kang apik, manungsa bakal manoni suwarga loka.

Nalika ditakoni agamane apa, percaya marang Gusti Allah apa ora, baba anane akherat, neraka lan suwarga, Elizabeth Karen sing kagungan putri loro, Sonya Candra Lukito lan Kiyan Andaru Kartiningsih ini mung ngguyu nggleges. Kandhane:

"Aja takon bab iku, aku ora bisa nyauri. Sing baku laku utama iku kanggoku nomer siji. Aku ngupaya ora nglarani wong liya senajan aku dhewe asring krasa lara dening tingkah lakune wong liya. Wong sing becik iku wong sing nrima lan gelem aweh pangapura. Aja duwe rasa serik lan aja gawe fitnah. Iku sing bakal nylametake dhiri pribadi."

11 November 2009

Halte untuk Apa?



Jalan Ahmad Yani Surabaya, tepatnya di arah Siwalankerto (UK Petra), kemarin, macet parah. Penyebabnya sederhana saja: beberapa angkot dan bus kota berhenti persis di zebra cross.

Arus kendaraan dari arah selatan (Waru) pun tersendat. Sementara penyeberang jalan dari arah timur tak peduli dengan lampu merah.

Ironis! Sekitar 30 meter dari zebra cross ada halte yang masih terlihat baru. Sejak dibuat, halte itu tidak pernah dimanfaatkan sebagai tempat menurunkan dan menaikkan penumpang angkot atau bus kota. Siang hari, halte itu bahkan dijadikan tempat tidur pasukan kuning yang kelelahan.

Ironis! Tak jauh dari situ ada kantor Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) yang antara lain bertugas menertibkan kendaraan umum di jalan raya. Pegawai pemkot, petugas Satpol PP, pun melintas di situ setiap hari. Tapi tak ada yang merasa janggal. Semuanya biasa-biasa saja.

Ironis! Surabaya, yang disebut-sebut sebagai metropolis, kota kedua di Indonesia, ternyata belum didukung warga yang berperilaku layaknya orang kota. Orang yang tahu memanfaatkan halte, zebra cross, traffic light, serta kesantunan publik yang layak dibanggakan.

Di Surabaya, ada 20-an halte yang tersebar dari Jalan Ahmad Yani hingga Tanjung Perak. Hampir semua halte yang sudah dibangun dengan uang rakyat itu tidak difungsikan. Bus kota dan angkot dibiarkan bebas mengambil dan menurunkan penumpang di mana saja. Jalan raya di Surabaya ibarat rimba raya tanpa aturan.

Anehnya, ketika orang Surabaya, yang tak pernah mau memanfaatkan halte ini, bisa tertib ketika berada di negara maju seperti Singapura. Bisa antre, tidak ngawur, sabar menunggu bus kota di halte.

09 November 2009

Korupsi dan Sumpah demi Tuhan




Nama Tuhan selalu disebut-sebut di Indonesia. Ketika terantuk, Tuhan disebut. Bersin sebut nama Tuhan. Ditimpa kesialan, sebut Tuhan. Bersyukur sebut Tuhan. Ungkapannya bisa pakai bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa daerah, atau ungkapan yang mengarah ke sana.

Perhatikan kalimat-kalimat orang Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Selalu terselip interjeksi atau kata seru yangmengandung Allah atau Tuhan: alhamdulillah, insyaallah, masyaallah, subahanallah, astagfirullah.....

Dalam kasus korupsi, suap-menyuap, yang terungkap di media massa pun jurus sakti yang sering dilakukan orang Indonesia adalah ini: membawa-bawa nama Tuhan. Bikin sumpah pakai kitab suci!

"Demi Allah, demi Allah... sekali lagi, demi Allah... saya tidak korupsi! Saya tidak terima uang! Saya tidak terima suap seperti yang dibilang si A, si B, si C."

Susno Duadji, pejabat tinggi Mabes Polri, pun pakai jurus ini ketika dia dituduh menerima uang suap miliaran rupiah. Tak hanya bersumpah, Susno Duadji menangis di depan anggota Komisi III DPR. Intinya, Susno mengaku -- dengan membawa-bawa nama Tuhan -- bahwa dirinya bersih. Tidak korupsi.

Di televisi, TVOne, saya juga melihat Muhammad Jasin, anggota KPK, mengangkat sumpah demi Allah dengan mengangkat Alquran. Intinya sama: Jasin ingin membuktikan bahwa dirinya bersih. Saya tidak tahu apakah Anggodo Widjojo juga menyebut-nyebut nama Tuhan untuk "membersihkan" dirinya dari tuduhan sebagai penyandang dana untuk skenario mafia hukum.

Sumpah-sumpahan atas nama Tuhan memang bukan barang baru di Republik Indonesia. Upacara pelantikan pejabat mana pun, dari paling atas sampai paling rendah, selalu ada sumpahnya. "Demi Allah". "Demi Tuhan". "Demi Sang Hyang Widhi". "Demi Thian Penguasa Langit". Rohaniwan selalu dilibatkan sebagai pendamping dan pembawa kitab suci.

Tapi apa yang terjadi? Adakah sumpah "demi Allah" itu lantas membuat Indonesia bebas korupsi? Bebas suap? Bebas pemerasan? Pejabatnya amanah? Polisi, jaksa, hakim tidak menyalahgunakan kekuasaan?

Hehehe....

Indonesia, menurut berbagai riset, selalu jadi juara korupsi di Asia. Sumpah demi Allah sudah lama kehilangan hakikatnya. Sumpah jabatan, sumpah apa pun, cenderung pemanis bibir belaka. Nama Tuhan selalu disalahgunakan untuk menutup-nutupi kebobrokan, kebusukan, korupsi. Dan pejabat-pejabat publik tetap saja cengengesan, berlagak bersih, sok suci...

Saya selalu membandingkan Tiongkok, negara berpenduduk 1,3 miliar yang komunis dan ateis. Sumpah demi Allah tidak dikenal di Tiongkok. Kitab-kitab suci tidak ada. Tuhan dan agama,karena itu, tidak pernah dibawa-bawa sebagai alat justifikasi.

Kok Tiongkok bisa memberantas korupsi dengan efektif? Kok Tiongkok bisa memberlakukan sanksi hukum yang tegas kepada koruptor, termasuk hukuman mati? Kita, bangsa Indonesia, layak malu. Masak, kita yang membawa-bawa nama Tuhan kalah bermoral dengan Zhungguo yang komunis dan ateis itu?

06 November 2009

Anggodo dan Mafia Hukum



Yang paling penting dalam rekaman percakapan antara Anggodo Widjojo dan beberapa pejabat Polri, Kejaksaan Agung, penyidik polisi/jaksa, makelar kasus, pengacara, adalah pembuktian adanya mafia peradilan. Arek Surabaya di Jalan Karet 12 Surabaya itu, si Anggodo, membuktikan diri sebagai kepala mafia.

Anggodo, dengan uangnya yang nyaris tak terbatas, bisa dengan enaknya mendikte siapa saja. Termasuk mendikte orang-orang penting di jajaran penegak hukum negeri ini. Dan memang begitulah kerja mafia. Sejak dulu ada, bahkan dipraktikkan setiap hari, tapi sulit dibuktikan. Baru kali ini rakyat Indonesia mendengar langsung ulah mafia itu.

Anggodo itu ibarat dewa sakti bertangan seribu. Dia paham betul yang namanya BAP, berita acara pemeriksaan. Bagaimana cara menjebloskan orang KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto, ke dalam penjara. "Kalau sudah di dalam, dibunuh saja," kata si Anggodo dengan bahasa Jawa logat Surabaya ragam Kembang Jepun yang khas.

Apa lagi yang kita harapkan dari lembaga penegak hukum macam Polri, Kejaksaan Agung, pemerintah? Sudah jelas, sebagai sesama mafia yang saling membutuhkan, kepolisian tak mungkin mau menangkap Anggodo. Polisi pasti mati-matian membela Susno Duaji. Abdul Hakim Ritonga, wakil jaksa agung, pun pasti dibela dengan berbagai cara.

Sebaliknya, Bibit dan Chandra pasti akan diperlakukan tidak adil. Dibuat skenario macam-macam, jalan cerita yang seakan-akan meyakinkan, agar dua orang KPK ini bersalah. Dan dimasukkan ke penjara seperti keinginan Anggodo Widjojo.

Sikap Kapolri Jenderal Bambang Hendrarso Danuri sudah normatif dan standar. Argumentasinya di Komisi III DPR RI pada Kamis malam sangat normatif dan klise. Ibarat kaset lama yang diputar berulang-ulang sehingga mbulet dan tidak enak didengar.

Kapolri ini membela siapa? Membela koruptor dan anak buahnya yang bermain-main dengan mafia atau serius memberantas korupsi?

Penjelasan-penjelasan Kapolri sudah gamblang memperlihatkan lembaga ini berdiri di posisi mana. Anggodo yang jelas-jelas mempermainkan aparat hukum, main suap sana-sini, tidak diapa-apakan. Dibiarkan lenggang kangkung meskipun perannya sebagai sutradara mafia peradilan sudah terang-benderang.

Ingat, KPK itu dibuat karena kepolsian dan kejaksaan sejak Indonesia merdeka tak mampu memberantas korupsi. Jangankan memberantas korupsi, kepolisian dan kejaksaan [lebih tepatnya: OKNUM] justru menjadi bagian dari mafia korupsi. Mana ada sesama koruptor saling tangkap, bukan?

Indonesia makin menangis ketika anggota DPR RI di Senayan jelas-jelas ikut memainkan gendang yang diinginkan mafia pengadian. Rakyat tak bisa lagi berharap kepada lembaga-lembaga resmi: kepolsian, kejaksaan, departemen hukum, hingga parlemen.

Presiden Susilo, bagaimana ini? Mau dibawa ke mana bangsa ini?

Artikel Ganda di Koran

Artikel opini Bernard L. Tanya, dosen Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang, dimuat pada hari yang sama di dua koran besar sekaligus, Jawa Pos dan Kompas, pada hari yang sama. Kamis 5 November 2009.

Judulnya "Socrates dan Mafioso Hukum". Isinya tentu membahas kasus anggota KPK Bibit Samad Riyanto dan Candra M. Hamzah yang sedang berurusan dengan kepolisian.

Isi artikel Tanya sih biasa-biasa saja, normatif, cuma dibuat berbau filsafat sedikitlah. Bernard Tanya pun bukan intelektual terkenal. Tapi kok bisa dimuat koran besar sekaliber Kompas dan Jawa Pos pada hari yang sama. Apa gerangan di balik artikel ganda yang sejak dulu "sangat diharamkan" media massa itu?

Artikel ganda. Masalah ini sangat kronis. Sejak dulu sudah ada, pesat berkembang pada 1990-an, dan makin gila setelah reformasi. Ketika media massa melimpah ruah, internet meluas, copy-paste jadi gaya hidup, siapa yang bisa membendung artikel ganda? Kembali ke hati nurani dan kejujuran penulis. Itu jawaban para redaktur opini yang kecolongan oleh penulis-penulis nakal tak bermoral itu.

Ironis! Dalam kasus Bernard Tanya di Kompas dan Jawa Pos sudah jelas bahwa sejak awal si penulis mengirim artikel yang sama ke lebih dari satu media. Ini jelas salah besar. Semua artikel untuk media massa harus bersifat EKSKLUSIF. Hanya untuk satu media. Tidak diecer-ecer ke dua, tiga, atau banyak media.

Di mana moral filsafat Socrates yang digembor-gemborkan si Tanya itu kalau dia sendiri tidak melaksanakan kode etik penulis? Lebih celaka lagi kalau motifnya hanya untuk dapat honorarium. Lumayan, taruhlah satu artikel dibayar Rp 500.000, kalau dimuat di banyak koran, silakan digandakan sendirilah!

Motivasi cari uang harus diakui banyak penulis artikel opini di Indonesia. Selain artikel ganda yang benar-benar sama macam "Socrates dan Mafioso Hukum", banyak penulis yang bikin artikel "berbeda tapi sama". Susunan kata-katanya beda, lead sedikit beda, tapi inti tulisan sami mawon. Akal-akalan ini dibuat agar tulisan bisa dimuat di beberapa media massa. Lumayan, honor lebih banyak.

Saya mencermati kasus artikel ganda ini mulai meledak pada 1990-an. Banyak dosen muda, cendekiawan pemula, aktivis... yang gandrung banget kalau tulisannya dimuat koran dan dapat uang. Kalau dimuat di koran besar, honornya pun tinggi. Merasa enak, banyak orang yang kemudian menjadi "pabrik artikel".

Kerjanya menulis artikel setiap hari. Bisa empat, lima, enam, bahkan kalau perlu delapan artikel sehari. Bukankah menulis artikel pendek di koran itu relatif sederhana? Referensi tak perlu banyak, tak perlu wawancara, cukup buka buku sedikit, main silat kata, lantas mengetik. Kini ada Mr. Google yang siap membantu mencarikan beberapa kutipan agar artikel itu terkesan "ilmiah dan berbobot".

Saking produktifnya si "pabrik artikel", kadang-kadang mereka membuat strategi pinjam nama. Yang menulis sebenarnya si Badu, tapi penulisnya ditulis si Fulan, si Amir, dan sebagainya. Ini sering diketahui petugas yang mengirim honor ke rekening penulis. Kok nama di rekening si A, padahal penulisnya si B?

Banyak penulis nakal, yang doyan artikel ganda, berkilah dengan menyalahkan redaktur. "Sudah kirim ke koran A beberapa hari tak dimuat. Ya, aku kirim ke koran B, siapa tahu dimuat di koran B." Redaktur koran A tentu tidak membaca semua koran yang terbit di indonesia yang berjibun itu. Maka, lagi-lagi artikel ganda terjadi.

Sanksinya harus sangat tegas. Masukkan ke daftar hitam penulis nakal! Jangan pernah memuat tulisan penulis-penulis nakal itu lagi! Masih banyak kok penulis-penulis bermutu yang melaksanakan kode etik di Indonesia! Jangan khawatir karena biasanya penulis-penulis artikel ganda itu bermutu tanggung atau medioker. Penulis sekaliber Ignas Kleden atau Kuntowijoyo atau Budi Darma atau Daoed Joesoef tak akan pernah merusak reputasinya dengan artikel ganda.

Maraknya artikel ganda juga tak lepas dari sistem "pasar bebas" di Indonesia. Siapa saja boleh kirim artikel ke redaksi opini. Tak peduli orang itu analis beneran, intelektual sejati yang fokus di satu bidang bahasan, atau penganggur yang sedang cari uang lewat tulisan.

Ini berbeda dengan kebijakan redaksional di beberapa media internasional terkemuka yang sempat saya pantau. Artikel atau kolom di majalah seperti TIME atau NEWSWEEK, misalnya, tidak sembarang orang boleh menulis. Hanya analis-analis pilihan yang ditentukan redaksi dengan kriteria sangat ketat.

Begitu juga kolom-kolom di USA TODAY atau THE CHRISTIAN SCIENCE MONITOR. Mereka punya kolumnis-kolumnis kawakan yang artikelnya selalu dinanti pembaca. Apa boleh buat, sampai sekarang kita masih konsisten menjadi bangsa berkualitas medioker dalam segala hal.

04 November 2009

Selamat Jalan Ellya Khadam



Oleh SURYA AKA
Jurnalis JTV Surabaya, Wakil Ketua DPD PAMMI Jatim
Sumber: Radar Surabaya, 4 November 2009

Hatiku gembira
riang tak terkira
mendengar berita
kabar yang bahagia

Ayahku kan tiba
datang dari India
membawa boneka
yang indah jelita
Oh sayang…


Itulah bait pertama lirik ’Boneka dari India’ milik Ellya Khadam, yang sangat terkenal di tahun 1960-an. Kini Bunda Hajah Ellya yang bernama asli Siti Alya Khusna itu tiada. Dunia dangdut Indonesia kembali berduka, setelah dua pekan lalu Meggy 'Ayah' Zakaria dipanggil Allah SWT.

Ellya yang merupakan salah satu artis dangdut generasi pertama itu, meninggal Senin (2/11/2009) sekitar pukul 20.00 WIB. Innalillahi wainna ilahi rajiun.

Boleh dibilang Ellya Khadam termasuk salah satu perintis pertama dunia dangdut di Indonesia. Ellya yang kelahiran 1939, sudah menyanyi di era dangdut masih bernama Orkes Melayu, di tahun 1960 an, bersama Orkes Melayu Kelanaria.

Saat itu menyanyi bukanlah pekerjaan mudah. Karena situasi politik yang tidak menentu. Ditambah lagi, tiap pertunjukan orkes melayu hanya ditanggap orang nikahan kelas bawah. Itu pun pasti bukan orang kaya atau terpandang.

Meski demikian, Elya berhasil menelorkan beberapa album piringan hitam dengan lagu hitsnya, ''Boneka dari India.'' Kemudian ''Djanji'' yang dipopularkan Mansyur Syah dan terakhir oleh Siti Nurhaliza dengan bentuk pop melayu.

Lagu hits lainnya,''Pergi tanpa Kesan'' karya Mashabi, juga menjadi kenangan pada era 60-70an. Lagu itu Juga pernah dipopularkan adik kelasnya, Muchasin Alatas.

Bunda memang artis berbakat. Selain melayu, dia juga sempat menyanyi lagu pop, judulnya antara ''A Gogo''. Di era tujuh puluhan, ketika film merambah Indonesia, Ellya digaet pelawak berbakat Bing Slamet dan Benyamin Sueb untuk membintangi sejumlah film. Ellya sempat membintangi film yang laris di masanya, di antaranya seperti 'Bing Slamet Setan Djalanan' (1972), 'Benyamin Biang Kerok' (1972) atau 'Buaye Gile' (1974).

Di antara karyanya yang paling fenomenal tentu saja lagu 'Boneka dari India' itu. Melalui lagu itulah Ellya dikenal dengan ciri khasnya yang selalu mengenakan 'Sari', busana khas India. Aksesoris di sekitar wajah, jari dan gelangnya, menjadi ciri khas penampilannya.

Bunda Elya yang pernah aktif di Orkes Melayu Kelanaria. menjadi ikon orkes melayu pada era 1960-an, namanya sering mengudara di RRI bersama lengkingan empat pemuda asal Inggris yang tergabung dalam The Beatles dengan I Wanna Hold Your Hand. Juga bergantian tampil Waldjinah, Koes Bersaudara, atau petikan gitaris Tony Motolla.

Bahkan, ketika Rhoma masih remaja sempat berguru vokal kepada Ellya. Perteman dengan Rhoma berlanjut, ketika Oma Irama masih awal membentuk Soneta,1973, Ellya Khadam sering diajak tour keliling bersama Soneta. Tak heran bila duet Ellya dengan Oma Irama cukup banyak menghiasi khasanah lagu melayu khususnya sebelum Rhoma mendirikan Soneta di tahun 1973.

Oma yang lebih junior dari Elya banyak sharing dalam menyanyi. Mereka berdua bukan saja duet di panggung, tetapi juga di recording. Bisa disimak lagu-lagunya antara lain ’’Sebelum Nikah”, ’’Percayalah’’, ’’Di dalam Bemo’’, dan ’’Kawin Lari’’.

Lagu-lagu inilah yang sangat popular di RRI Jakarta pada akhir 1960 an, bersama penyiarnya Dahri Oskandar. Penulis yang saat itu masih berusia 9 tahunan, tidak memiliki radio, apalagi tape, sering harus pergi ke rumah tetangga untuk mendengarkan RRI yang menyiarkan pilihan pendengar dengan memperdengarkan piringan hitamnya. Nama-nama seperti Ellya Khadam, Elya M Haris, Munif Bahasuan, Bashabi, A Kadir, sangat akrab di telingan ''orang desa''.

Sayang, ketika itu, masih terbatas orang memiliki piringan hitam apalagi belum juga ditemukan teknologi pita kaset. Satu2nya mendengarkan radio, itupun hanya RRI..

Penampilan Ellya Khadam yang terakhir di depan publik tanah air, yaitu pada saat Rhoma memproklamirkan Sonet2 dalam sebuah acara ’Dangdut is Never Dies’ di akhir 2008 lalu. Pada saat itu, Rhoma yang berbicara dan disiarkan live di TPI, memperkenalkan salah satu personal Sonet2 bernama Bisri, penggebuk drum, yang tak lain adalah cucu dari Elya Khadam.

Eyangnya juga tampak di deretan kursi vip di studio TPI malam itu, bersama keluarga besar dangdut, keluarga Rhoma Irama terutama putra putrinya dari Veronika dan Marwah Ali nampak akrab. Juga dihadiri hampir semua generasi muda dangdut di KDI.

Kini Bunda Ellya telah tiada. Mari kita doakan semoga almarhumah diterima amalnya, dimaafkan salahnya. Semoga generani muda dangdut dapat meneladani kegigihan Bunda Ellya, yang tak mudah menyerah oleh keadaan. Selamat jalan Bunda Ellya. (*)

Malaysia, Allah, Alkitab


Negara tetangga yang satu ini, Malaysia, memang selalu bikin berita. Tenaga-tenaga kerja Indonesia bolak-balik dianiaya, diperlakukan tak manusiawi. Akhir Oktober ini, TKI asal Jember bernama Muntik meninggal karena dianiaya majikannya di Malaysia.

Tanpa bermaksud menggeneralisasi, sistem perlindungan TKI di Malaysia--juga di beberapa negara lain--memang sangat payah. Meski selalu menganggap kita sebagai bangsa serumpun, orang-orang Indonesia yang bekerja di Malaysia sering dianggap budak, kuli, lebih rendah ketimbang manusia Malaysia.

Kamis, 29 Oktober 2009, sejumlah media internasional, kantor-kantor berita, menulis tentang tindakan pemerintah Malaysia yang menyita lebih dari 20.000 eksemplar kitab suci (Alkitab) milik umat Kristen Protestan dan Katolik. Alkitab itu diimpor dari Indonesia. Malaysia bersikeras bahwa Alkitab itu tidak boleh beredar karena mengandung kata ALLAH.

Sebutan nama Tuhan, yang sangat lazim kita pergunakan ini, dianggap eksklusif untuk umat Islam. "Memang muncul kepekaan yang berlebihan di Malaysia ini. Padahal, kata ALLAH sudah lama digunakan umat Kristen di Malaysia dan Indonesia," kata Pendeta Hermen Shastri, sekretaris jenderal dewan gereja Malaysia, dikutip CNN.

Masih terkait penggunaan kata ALLAH di Malaysia, The Herald, sebuah koran mingguan Katolik milik keuskupan di Kuala Lumpur terancam dibredel alias dicabut izin terbitnya. Hanya karena koran itu menggunakan kata ALLAH di edisi bahasa Melayu. Wah-wah-wah! Saat ini pihak gereja sedang menunggu putusan pengadilan tentang nasib media rohani tersebut.

Tak hanya pihak gereja, dunia internasional pun terus memantau perkembangan isu keagamaan yang makin aneh-aneh di negara tetangga yang sebenarnya multietnis itu. Sistem hukum di Malaysia sedang diuji: apakah menghargai hak asasi manusia yang universal atau terus memberi tempat bagi pandangan-pandangan sempit dan picik?

Mencermati kasus-kasus bernuansa SARA di Malaysia, kita bangsa Indonesia selayaknya bangga dan bersyukur. Sebab, bangsa berpenduduk 230 juta lebih ini bisa hidup bersama, bersatu, tanpa meributkan soal remeh-temeh seperti penggunaan kata ALLAH di kalangan non-Islam. Kita di Indonesia pun tidak perlu cemas aparat menyita kitab suci macam di Malaysia.

Persoalan kita khas: kitab suci banyak, tersebar di mana-mana, tapi minat membaca kitab suci masih sangat rendah. Saking jarang dibaca, Alkitab-Alkitab yang kita punyai selalu terlihat kinclong! Hehehe....

Romo Tondo 75 Tahun



Di kalangan umat Katolik di Keuskupan Surabaya, Prof Dr John Tondowidjojo Tondodiningrat CM dikenal sebagai pastor serbabisa. Setiap tahun dia merayakan ulang tahunnya dengan cara yang unik. Termasuk perayaan ulang tahun ke-75 belum lama ini.

Romo John Tondowidjojo Tondodiningrat CM, yang juga guru besar ilmu komunikasi di sejumlah universitas, tidak suka merayakan ulang tahun dengan potong kue tar, pesta hura-hura, dengan hadiah yang mahal-mahal. Romo Tondo, sapaan akrabnya, mengisi peristiwa tahunan itu dengan menggelar acara kesenian dan kebudayaan.

"Saya ingin mengajak semua orang Indonesia, khususnya anak-anak muda, untuk cinta seni budayanya. Jangan jadi konsumen seni budaya impor," ujar Romo Tondo kepada saya dalam beberapa kesempatan.

Satu lomba yang wajib dilaksanakan menjelang HUT-nya adalah paduan suara dan tarian tradisional. Lagu-lagu yang dilombakan harus nyanyian tradisional dari berbagai daerah di tanah air. Romo Tondo, yang pernah mendalami ilmu vokal di Italia, juga menciptakan sebuah komposisi paduan suara sebagai lagu wajib.

Rohaniwan yang masih kerabat dekat Raden Ajeng Kartini ini kemudian mengajak sekolah-sekolah Katolik di Surabaya dan sekitarnya untuk ikut lomba. Biasanya, sekolah dasar (SD). Kenapa tidak diperluas ke sekolah-sekolah negeri dan non-Katolik?

"Waduh, saya ini cuma romo, bukan pemerintah. Saya bisa dicurigai macam-macam kalau saya bertindak terlalu jauh. Jadi, lebih aman dengan sekolah-sekolah Katolik dululah," jawabnya lalu tersenyum.

Setelah melalui babak penyisihan, para finalis ditampilkan pada perayaan ulang tahun Romo Tondo. Namanya juga romo, umat yang punya restoran menawarkan restorannya sebagai tempat lomba sekaligus pesta HUT sang gembala. Dengan sistem ini, Romo Tondo mengaku tidak membutuhkan biaya besar untuk menggelar lomba paduan suara, gebyar budaya, serta pesta ulang tahun. Termasuk biaya pembuatan trofi dan hadiah uang tunai bagi para pemenang.

"Syukurlah, selama ini saya banyak mendapat dukungan berbagai pihak. Mereka juga ingin agar seni budaya Indonesia tidak sampai tenggelam gara-gara serbuan dari luar," kata imam Lazaris ini.

Setelah semua peserta paduan suara dan tari-tarian daerah tampil, sembari menunggu pengumuman dewan juri, Romo Tondo mulai menampilkan bakat musikalnya. Semua peserta lomba dari berbagai sekolah diajak ke panggung untuk membawakan komposisi khusus ciptaan Prof Dr KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM alias Romo Tondo. Romo Tondo berperan sebagai dirigen.

Gaya direksi atau teknik membirama paduan suara ala Romo Tondo sangat atraktif. Tidak kaku seperti kebanyakan dirigen paduan suara umumnya. "Jadi dirigen paduan suara itu perlu teknik khusus. Tidak bisa sembarangan," ujar penulis ratusan buku, termasuk buku teknik vokal dan dirigen, itu.

Atraksi masih berlanjut. Setelah anak-anak paduan suara turun, Romo Tondo memperlihatkan kepiawaiannya bermain piano. Komposisi Beethoven, Mozart, Chopin? Sudah jelas tidak. Komposisi kesukaan Romo Tondo selalu lagu daerah macam Cublak-Cublak Suweng, Ampar-Ampar Pisang, Kambanglah Bungo, Janger, Ayo Mama, Yamko Rambe Yamko, Bubuy Bulan. Komposisi Nusantara ini dibawakan secara medley.

"Kalau kita tidak membawakan lagu-lagu daerah, lantas siapa yang melestarikannya?" tegas mantan ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya ini.

Gebyar Tresna Budaya untuk merayakan HUT ke-75 Romo Tondo yang melibatkan 10 finalis. SDK Katarina keluar sebagai juara pertama, disusul SDK Carolus dan SDK Yusup. Yang menarik, kali ini tamu undangan tak hanya dari kalangan gereja, tapi juga tokoh masyarakat seperti Basofi Sudirman.

Mantan gubernur Jatim ini menilai gebyar seni budaya yang digelar setiap tahun oleh Romo Tondo sangat brilian dan patut diapresiasi. "Saya berharap acara seperti ini dapat diselenggarakan secara rutin agar semakin banyak orang Indonesia yang mencintai budaya bangsanya sendiri," kata Basofi. (

Sebagai rohaniwan pribumi generasi awal, Romo KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM mendapat banyak kesempatan untuk belajar di Eropa. Romo yang baru merayakan ulang tahun ke-75 ini bahkan ditahbiskan sebagai imam Kongregasi Misi (CM) di Italia.

ROMO Tondowidjojo juga menikmati pendidikan lanjutan dan berkarya beberapa negara Eropa seperti Italia, Jerman, Prancis, Belanda, Spanyol.

"Sampai sekarang saya masih pegang kartu wartawan internasional lho. Dan saya masih punya hak untuk mengikuti kongres pers internasional," kata Romo Tondo, sapaan akrab romo yang juga profesor ilmu komunikasi di STKIP Widya Mandala Madiun, Universitas Bhayangkara Surabaya, dan Universitas Atmajaya Jogjakarta ini.

Karena sangat lama tinggal di Eropa, dan masih sering ke Eropa, Romo Tondo sangat memahami perilaku orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Dia prihatin karena ternyata banyak orang Indonesia kurang menguasai seni budayanya sendiri. "Diminta menyanyi lagu-lagu daerah atau menari tarian daerah susah. Lha, bagaimana kita mau mempromosikan kebudayaan Indonesia kalau kita sendiri tidak menguasai," tukasnya.

Itu sebabnya, Romo Tondo sangat getol mempromosikan kesenian daerah dari seluruh Indonesia di kalangan pelajar dan mahasiswa. Lomba paduan suara lagu-lagu daerah dan tarian daerah menjadi 'menu wajib' setiap menjelang ulang tahunnya. Dia pun tak segan-segan memberikan penataran kepada guru-guru sekolah Katolik di wilayah Keuskupan Surabaya.

 "Kalau ada kesulitan, tolong hubungi saya. Saya akan langsung turun ke sekolah-sekolah," kata romo yang hobi menulis buku ini.

Kepada pelajar dan mahasiswa yang hendak belajar di luar negeri, Romo Tondo selalu punya pesan yang sudah baku. Yakni, menghafal di luar kepala paling sedikit lima lagu daerah dan dua tarian daerah. Mau lagu-lagu Jawa, Madura, Dayak, Sunda, Batak, Flores, Papua, terserah. Kursus tarian daerah pun sangat perlu dilakukan orang Indonesia yang akan menetap cukup lama di luar negeri.

Mengapa begitu?

"Lha, di luar negeri mereka akan menjadi duta budaya bangsa. Kalau ada malam kesenian atau acara-acara apa saja, mereka berkewajiban memperkenalkan seni budaya Indonesia di depan orang asing," tegas dosen sejumlah perguruan tinggi swasta ini.

Romo Tondo mengaku senang dengan minat anak-anak muda di Surabaya yang belajar musik klasik Barat sejak usia dini. Ini tentu saja bagus. Namun, tanpa dibarengi dengan mempelajari seni budaya negeri sendiri, maka kemampuan memainkan musik klasik Barat itu tidak akan memberi nilai tambah. Hanya kebanggaan semu.

"Musik Mozart, Beethoven, Haydn, Chopan, itu sudah sangat biasa di Eropa. Wong itu kesenian mereka. Kalau orang Indonesia mau pamer kemampuan bermain musik klasik Barat di Eropa, seniman-seniman Eropa lebih hebat lagi. Lain kalau kita memainkan seni budaya Indonesia," ujarnya.

Pastor (dari bahasa Latin) berarti gembala. Dan seorang gembala harus mengenal gembala-gembalanya dengan baik. Prinsip ini selalu dipegang teguh oleh Romo KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM.

Karena itu, meskipun berstatus guru besar komunikasi dan sering diundang sebagai pembicara di berbagai kota, bahkan luar negeri, Romo Tondo tak pernah melupakan 'domba-dombanya'. Termasuk umat yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang tinggal di kamar sempit di dalam gang.

Sejak dulu Romo Tondo punya kebiasaan melakukan semacam 'sidak' alias inspeksi mendadak ke rumah-rumah umat. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja rohaniwan Kongregasi Misi (CM) ini muncul di rumah. "Saya selalu ingin tahu langsung dan apa adanya kondisi umat. Dan sebetulnya umat itu senang kalau didatangi romonya," ujar Romo Tondo suatu ketika.

Setelah berbasa-basi dengan umat, Romo Tondo kemudian mencatat dengan teliti sejumlah data yang diperlukan. Mulai nama anak-anak, cucu (kalau ada), berapa anak yang sudah menikah, berapa orang yang tinggal di situ, hingga aktivitas rohani. Apakah keluarga itu punya kebiasaan doa bersama? Aktif atau tidak di lingkungan atau wilayah? Ikut paduan suara atau organisasi gerejawi lainnya?

"Saya juga ingin tahu apakah mereka aktif di RT/RW, ikut kerja bakti, poskamling, dan sebagainya. Umat Katolik jangan hanya rajin ke gereja, tapi tidak pernah kerja bakti di RT," tutur romo yang masih termasuk kerabat dekat Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia, ini.

Di paroki pun dia bertugas, Romo Tondo selalu membiasakan kunjungan pastoral secara pribadi. Di samping, tentu saja, kunjungan-kunjungan formal seperti menghadiri doa lingkungan, pendalaman iman, pendalamankitab suci, dan sebagainya. Tak heran, Romo Tondo memiliki gambaran yang lebih utuh tentang kondisi umat sebenarnya.

Ada keluarga yang dari luar terlihat rukun, mesra, bahagia, ternyata punya masalah rumah tangga yang serius. Dan itu baru diketahui setelah diajak bicara dari hati ke hati. "Kalau masalah-masalah umat sudah dipetakan, kita akan lebih mudah mencari solusi. Kita harus membiasakan diri berbicara dengan data dan fakta," tegasnya.

Sikap Romo Tondo yang suka menggali data dan melakukan wawancara langsung dengan umat memang tak lepas dari pengalaman panjangnya sebagai wartawan. Sampai saat ini Romo Tondo masih rajin menulis untuk sejumlah media rohani (dan umum) baik di dalam maupun luar negeri. Tulisan-tulisan Romo Tondo selalu panjang, penuh data, dan selalu dilengkapi konteks sejarah.

01 November 2009

Nasrullah melukis di Jenewa




Nasib baik mempertemukan Nasrullah (48), pelukis asal Tanggulangin, Sidoarjo, dengan Christine Rod, perempuan asal Swiss. Dari sekadar diskusi kecil tentang seni rupa di Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto, keduanya lalu falling in love. Pacaran jarak jauh ini pun dilanjutkan dengan akad nikah di Sidoarjo. Beberapa saat kemudian Nasrullah-Christine meresmikan pernikahan mereka di kantor catatan sipil Jenewa, Swiss, tiga tahun lalu.

Sejak itulah Nasrullah 'diboyong' ke Swiss. "Alhamdulillah, sebagai suami Christine, saya mendapat hak-hak yang hampir sama dengan warga negara Swiss. Saya mendapat banyak kemudahan," kata Nasrullah kepada Radar Surabaya di sela liburannya di Sidoarjo, Jumat (23/10/2009). Berikut petikan wawancara khusus dengan Nasrullah:

Oleh LAMBERTUS HUREK


Apa kegiatan terakhir Anda di Eropa?

Sebelum datang ke Indonesia untuk mengurus beberapa dokumen keimigrasian, saya menghadiri Festival Davignon di Prancis selatan. Ini festival tahunan yang digelar selama satu bulan penuh. Ada kira-kira 500 performer dari berbagai negara yang mengisi festival ini. Sebagian besar di antaranya seni teater baik yang kontemporer, teater rakyat, dan sebagainya.

Saya salut melihat bagaimana orang Eropa mengelola teater, sehingga bisa dinikmati seluruh masyarakat. Kesenian memang sudah menjadi kebutuhan masyarakat di negara maju seperti Eropa. Dan itu bisa kita lihat dari partisipasi masyarakat yang luar biasa. Orang-orang dari Swiss, seperti kami, pun merasa perlu ke Davignon untuk menikmati kesenian-kesenian yang ditampilkan di sini.

Kabarnya Anda sempat menggelar pameran tunggal di Swiss?

Ya, saya pameran tunggal selama 2,5 bulan di Le Nyamuk. Ini kafe sekaligus galeri yang terkenal di Jenewa, Swiss. Pemilik galeri kebetulan suka dengan kebudayaan Indonesia dan Malaysia, sehingga galerinya diberi nama Le Nyamuk. Galeri ini selalu menampilkan karya-karya pelukis dari berbagai negara. Jenewa sendiri memang dikenal sebagai kota internasional.

Nah, awalnya saya diberi kesempatan untuk pameran selama satu bulan. Tapi belakangan si pemilik minta diperpanjang karena pelukis lain, yang sudah dijadwalkan, ternyata belum siap. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa pameran selama dua setengah bulan. Ini semacam rezeki buat saya karena karya-karya saya bisa diapresiasi oleh orang banyak dari berbagai negara. Saya kan baru tiga tahunan tinggal di Jenewa, sehingga perlu kerja keras dan waktu lama agar bisa dikenal publik pencinta seni rupa.

Ada berapa karya yang Anda pamerkan di Le Nyamuk?

Ada 16 lukisan. Semuanya bercerita tentang berbagai persoalan yang saya ketahui selama tinggal di Jenewa. Maka, pameran ini saya beri judul Bienvenue a Geneve atau selamat datang di Jenewa. Saya tidak mengangkat tema-tema khas Indonesia seperti pemandangan di sawah, figur orang Indonesia, dan sebagainya. Sejak berada di Swiss saya memang tertantang untuk menampilkan karya-karya yang baru dan aktual.

Anda melakukan eksplorasi mengenai kehidupan masyarakat Swiss?

Betul. Di Jenewa itu ada kebiasaan masyarakat yang suka jalan kaki dan naik sepeda (onthel) ke mana-mana meskipun mereka itu rata-rata sangat makmur, punya mobil bagus. Orang kaya, pejabat-pejabat, naik sepeda ke tempat kerja itu sangat umum di Swiss. Nggak kayak di Indonesia. Mana ada orang kaya kita yang jalan kaki atau naik kendaraan umum di Surabaya atau Jakarta? Hehehe....

Nah, saya sendiri pun akhirnya terbiasa jalan kaki dua hari sekali sejauh 10 kilometer. Udaranya memang bagus sekali, trotoar sangat lebar, taman yang sangat indah, dan itu cocok untuk jalan kaki. Karena sering jalan kaki dan masuk ke mana-mana, saya akhirnya tahu banyak kondisi masyarakat di sana. Bahwa di balik kemakmurannya, kota Jenewa ternyata punya masalah sosial yang besar.

Contohnya?

Pencopet banyak. Saya sendiri pernah dua kali dicopet. Mertua saya dicopet 1.000 Frank, jumlah yang sangat besar. Di berbagai tempat kita melihat orang mabuk, stres, teriak-teriak histeris, makai narkoba, dan sebagainya. Orang-orang ini kebanyakan dari eks negara komunis di Eropa Timur yang mencari suaka politik. Juga orang-orang dari Afrika. Mereka-mereka ini membuat situasi kota-kota di Swiss, khususnya Jenewa, jadi tidak bagus.

Masyarakat Swiss juga sangat individualistis, sibuk sendiri-sendiri dengan pekerjaan mereka. Hampir tidak ada waktu untuk cangkrukan, santai, atau sekadar ngomong ngalor-ngidul. Orang-orang Indonesia yang tinggal di Swiss pun irama kehidupannya pun sama dengan orang Swiss. Jangan dikira kita gampang bertemu sesama orang Indonesia. Harus bikin janji dulu. Dan itu pun sering tidak bisa karena sibuk dengan pekerjaan dan sebagainya.

Suasana itulah yang Anda lukis?

Saya kontraskan bangunan-bangunan Eropa yang indah, punya seni arsitektur tinggi, gaya hidup modern, dengan masalah-masalah sosial. Yah, semacam sisi lain dari Jenewa. Waktu Euro 2008, di mana Swiss jadi tuan rumah, masyarakat mengkritik habis-habisan aksesoris bola di atas taman air pancur setinggi 104 meter. Sebab, biaya operasional saja mencapai 600 ribu Frank sebulan. Mereka anggap ini sebagai pemborosan yang luar biasa. Saya lukis itu dan ternyata ada yang tertarik mengoleksi.

Bagaimana kehidupan seniman, khususnya pelukis, di Swiss? Apa bisa hidup hanya dengan melukis?

Di mana-mana yang namanya seniman itu sama saja. Di Swiss sekalipun seniman itu nelangsa. Nggak bisa 100 persen mengandalkan hidup dari kesenian. Sebab, semua orang kan harus bayar pajak, asuransi, dan kebutuhan hidup lainnya. Eddy Hara, pelukis Indonesia terkenal yang juga tinggal di Swiss, pun sama saja. Dia bekerja sambil tetap berkesenian.

Anda sendiri bagaimana?

Ya, bekerja juga. Awalnya saya kerja di restoran sebagai tukang cuci piring. Di dapur itu nggak ada kursi, kerja harus cepat, istirahat nggak ada kecuali pada jam tertentu. Harus mengangkat tumpukan piring yang berat. Bayarannya besar memang, tapi punggung saya tidak kuat. Hehehe....

Saya kemudian pindah kerja sebagai pelukis potret dan merestorasi lukisan. Sekarang ini saya kerja di sebuah tempat penitipan anak-anak dua hari seminggu. Pekerjaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya di Indonesia. Saya jadi pengawas anak-anak kecil, ikut bermain-main sama anak-anak yang lucu-lucu itu.

Enaknya di Swiss, pekerjaan apa pun, entah tukang kebun, tukang pel lantai, tukang cuci piring, sangat dihargai. Tidak dipandang rendah. Semua orang itu egaliter. Jadi, kita tidak akan sungkan atau minder hanya karena jadi tukang cuci piring. Lha, kalau nggak ada yang cuci piring, bagaimana bisnis restoran itu bisa jalan?

Karena itu, pelukis-pelukis yang tinggal di Eropa harus punya energi ekstra kalau ingin tetap eksis di kesenian. Dia harus pandai-pandai membagi waktu antara bekerja di luar kesenian dan tetap menggeluti seni lukis. Dan itu tidak mudah. (*)


NASRULLAH

Nama populer: N Roel
Lahir : Sidoarjo, 26 April 1961
Istri : Christine Rod
Hobi : Mancing, jala kaki.

PENDIDIKAN
SDN Tanggulangin/SDN Rambipuji, Jember
SMPN Rambipuji, Jember
SMAN I Sidoarjo
FH Universitas Jember

AKTIVITAS KESENIAN
Pameran tunggal dan pameran bersama di Surabaya, Sidoarjo, dan kota lain di Jawa Timur.
Pameran tunggal di Swiss.
Ikut lomba melukis di Swiss.
Menghadiri Festival Davignon di Provenence, Prancis.



Kompetisi Sangat Ketat



Lain Indonesia, lain pula Eropa. Di benua biru itu iklim kehidupan kesenian, khususnya fine art, jauh lebih bagus ketimbang di negara-negara berkembang macam Indonesia. Festival, pameran lukisan, konser, digelar terus-menerus. Senimannya pun punya reputasi internasional. Itu yang dirasakan Nasrullah di Jenewa, Swiss.

"Hampir semua negara punya orang di Swiss, khususnya Jenewa. Mau seniman macam apa saja ada. Dan itu membuat kompetisi antarseniman sangat tinggi," cerita Nasrullah kepada Radar Surabaya di rumahnya, Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Karena itu, pelukis Eddy Hara yang sangat terkenal di Indonesia menjadi 'orang biasa' di negara penghasil keju dan arloji itu. Begitu juga seniman terkemuka dari negara-negara Asia lainnya. "Saya sendiri, ya, tambah nggak dikenal orang. Wong seniman di Jenewa itu banyak banget," ujar jebolan Fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Jenewa dan kota-kota lain di Eropa, papar Nasrullah, juga dipenuhi banyak galeri. Di Jenewa saja ada sedikitnya 500 galeri seni rupa. Ini belum termasuk galeri-galeri di kampus-kampus atau lembaga pendidikan lainnya.

"Padahal, Jenewa itu kotanya nggak seberapa luas. Hampir sama dengan Sidoarjo, cuma kotanya dibuat dengan perencanaan yang sangat matang," katanya.

Karena seniman begitu banyak, sementara jumlah pelukis jauh lebih banyak lagi, kesempatan mengadakan pameran pun sangat terbatas. Apalagi, orang Swiss tidak dikenal mengenal istilah 'pameran bersama' seperti di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia. Yang namanya pameran pasti pameran tunggal.

"Ada pameran bersama, tapi sendiri-sendiri. Belum lama ini, misalnya, saya ikut pameran bersama yang melibatkan banyak galeri. Kita sih kebagian galeri sendiri-sendiri. Jadi, bukan beberapa pelukis pameran di satu galeri," tukasnya.

Kini, selain terus melukis dan bekerja paruh waktu di sebuah tempat penitipan anak, Nasrullah mengaku akan mengambil studi seni rupa di Jenewa. Dia merasa pemahaman kesenian secara akademis bakal menjadi lebih menunjang karirnya sebagai seniman di negeri orang.

"Proses administrasi sudah beres. Saya tinggal kuliah saja," katanya. (rek)