25 October 2009

Pamrih Terima Kasih



Hampir tiap hari ada ratusan orang yang nyasar ke blog ini. Mereka umumnya mencari informasi via Google, kemudian diantar ke Wong Kam Pung. Jadi, kesannya seakan-akan blog ini punya ratusan pembaca setia.

Dan tiap hari ada saja orang yang mengirim surat elektronik, minta alamat ini, nomor telepon si anu, data tentang si fulan, hingga partitur paduan suara atau lagu seriosa.

Kalau ada waktu luang, saya berusaha menjawab. Saya usahakan agar informasi tersebut padat, berisi, dan bisa dimanfaatkan. Tapi saya pun sangat selektif memberikan nomor telepon seluler (HP) seseorang.

HP itu barang pribadi. Tidak semua orang boleh mengakses. Apalagi orang-orang penting macam pejabat, artis, dan sebagainya. Bagaimana kalau nomor itu jatuh ke tangan penjahat atau orang-orang berbahaya?

Setelah memberikan informasi kepada teman pembaca, diam-diam, saya selalu berharap datang ucapan TERIMA KASIH. Mau bilang THANK YOU, THANKS, MATUR NUWUN, SUWUN, XIEXIE... atau ungkapan lain yang sejenis, silakan.

Yang jelas, saya sangat berharap ada TERIMA KASIH. Kerja keras saya mencari data, bongkar dokumen, rasanya terbayar dengan dua kata pendek dan klise itu: TERIMA KASIH.

Sayang sekali, berdasar pengalaman, selama ini tak sampai 10 persen orang yang mengirim ucapan TERIMA KASIH kepada saya. Setelah dikasih informasi, bahan-bahan yang dibutuhkan, selesai. Tak ada kabar berita. Nol besar.

Apa sih sulitnya menulis e-mail atau komentar singkat di blog dengan pesan singkat, TERIMA KASIH? Padahal, sebelumnya mereka-mereka ini begitu ngoyo meminta informasi ini itu. Bahkan, terkesan mendesak-desak.

Saya pun merenung sendirian. Begitu sulitkan orang-orang kita, Indonesia, bilang TERIMA KASIH? Jangan-jangan benar kata orang Belanda tempo doeloe bahwa orang Indonesia itu pada dasarnya "kurang tahu ber-TERIMA KASIH"?

Oh, ya, kalau yang minta informasi itu orang Barat (Eropa, Amerika), ucapan TERIMA KASIH pasti segera datang. Begitu juga orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri selalu bilang TERIMA KASIH. Tapi kalau orang-orang kita di Indonesia Raya yang gak maju-maju itu, wah... TERIMA KASIH ternyata sangat mahal. Padahal, TERIMA KASIH itu bukan uang, bukan barang berharga. Cukup diucapkan atau dituliskan saja.

Karena sering tidak dapat ucapan TERIMA KASIH, padahal diam-diam saya harapkan, saya pernah berpikir untuk tidak lagi melayani permintaan pembaca blog. Capek-capek menulis, gali data, bongkar dokumen, paling juga dianggap angin lalu. Saya ibarat orang goblog saja. Maka, cukup lama saya mendiamkan saja permintaan orang.

Sampai suatu ketika saya mendengar khotbah di gereja tentang 10 orang kusta. Sepuluh orang kusta ini dikucilkan masyarakat. Mereka kemudian disembuhkan oleh Yesus Kristus. Apa yang terjadi? Mereka sangat gembira. Bahagia. Meloncat kegirangan.

Sayang sekali, dari 10 orang ini hanya SATU yang datang kembali kepada Yesus untuk bilang TERIMA KASIH. Dan satu orang ini pun orang Samaria yang dianggap rendah martabatnya ketimbang Yahudi. Adapun sembilan bekas penderita kusta lupa ber-TERIMA KASIH. Tidak tahu TERIMA KASIH.

Orang-orang Yahudi memang brengsek sejak zaman dulu!

Marahkan Yesus hanya karena hanya satu orang yang ber-TERIMA KASIH? Tidak. Apakah gara-gara kasus ini Yesus berhenti berbuat baik kepada sesama? Tidak. "Sebab, Yesus menyembuhkan 10 orang kusta itu tanpa pamrih apa pun," kata sang pastor dalam khotbah di gereja yang saya ikuti.

Khotbah ini membuat pikiran saya melayang ke blog. Yang bilang TERIMA KASIH kepada saya, setelah saya bantu memberikan informasi, tak sampai 90 persen. Jauh lebih banyak yang tidak pernah bilang TERIMA KASIH. Jauh lebih banyak yang hanya bisa minta, minta, minta, minta... dan alpa ber-TERIMA KASIH.

Pekan lalu, saya memberikan hadiah 20 kilogram beras kepada seorang seniman senior yang hidup serbakurang di Sidoarjo. Dia kerap SMS saya, bagi pengalaman, minta koran, dan sebagainya.

Saya berharap, setelah menitipkan beras di rumahnya, karena keluarga seniman itu tidak berada di rumah, beliau mengirim SMS berisi ucapan TERIMA KASIH. Tapi sampai sekarang belum ada pesan pendek, tapi penting itu. Saya pun merenung lagi.

"Kalau berbuat baik, jangan minta PAMRIH apa pun," begitu kata-kata pastor yang sering saya dengar. Termasuk pamrih TERIMA KASIH.

Yesus Kristus dalam Injil Matius Matius 6:3 mengatakan:

"Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu."

Tuhan, jadikan aku orang yang suka bersyukur!
Jadikan aku orang yang pandai berterima kasih!

24 October 2009

Stephen Tong alias Tong Tjong Eng



Oleh SOLOMON TONG
Kakak Kandung Stephen Tong
Dirigen dan Pendiri Surabaya Symphony Orchestra



Tong Tjong Eng (Stephen) dan aku merupakan pasangan serasi. Kami bermain bersama, masuk sekolah duduk di kelas yang sama, tidur seranjang. Sejak usia anak-anak, ia sudah suka meniru pendeta berkhotbah.


Stephen adalah seorang pesolek. Saat berusia lima tahun, setiap harinya berdiri di atas meja, berpakaian rapi, bergaya bagaikan seorang pendeta sedang berkhotbah. Saudara-saudaranya diajak duduk di lantai untuk mendengarkan ia khotbah. Saat itu kami baru pulang mendengarkan khotbah penginjilan dari Pendeta Tjoa Sin Tek.

Stephen suka bertingkah, bahkan berdasi sapu tangan sewaktu khotbah. Rambutnya pun diberi pomade, disisir rapi mengkilat model pesawat terbang. Cita-citanya menjadi seorang pendeta akhirnya terwujud.

Stephen tergolong anak yang sangat nakal. Saat masih kecil di SD Ming Kwang dia pernah bermain papan jungkat-jungkit. Anak yang duduk di ujung sebelah sana diam diam lari pergi sehingga Stephen terpental. Papan ujung sebelah sini langsung menghantam tulang kakinya, sehingga menderita luka menganga besar yang sulit disembuhkan. Setelah sembuh, masih meninggalkan bekas yang dalam.

Saat masih usia balita, pada suatu hari ia dan aku bermain duduk di atas meja berkaki silang seperti kaki meja karambol. Di atas meja terletak sepanci bubur mendidih. Dengan tidak sengaja, Stephen beranjak pergi sehingga papan mejanya jomplang miring. Aku terjatuh dan tersiram bubur mendidih mulai dari pundak mengalir turun ke telapak tangan. Aku menangis menjerit kesakitan, tetapi tetap duduk di tanah.

Ibu datang menolong dan langsung menyuruh Peter membawa aku ke dokter. Seluruh tangan yang tersiram bubur mendidih itu dioles vaselin, terutama pada bagian yang kulitnya terkelupas. Berselang beberapa bulan, baru berangsur sembuh. Kini telapak tangan kiriku berbekas keriput yang tidak bisa pulih. Bersyukurlah, bubur itu tidak menyiram aku dari kepala. Jikalau ya, maka wajahku pasti rusak dan mengerikan.

Stephen adalah seorang anak genius. Sejak kecil ia suka pakai sumpit dengan menggunakan tangan kiri, menulis dengan tangan kiri (kidal) juga. Pengasuhnya terpaksa harus mengikat tangan kirinya di belakang tubuh, supaya ia menggunakan tangan kanan. Hal itu malah membuat Stephen serba bisa: semua hal bisa dilakukan atau dikerjakan dengan tangan kanan dan juga tangan kiri.

Bahkan, ia dapat melukis dengan kedua tangannya sekaligus. Ia gemar membaca. Apa pun yang dibacanya, meski hanya sepintas saja, sudah terekam dan diingat untuk seterusnya. Apa yang diajar guru di kelas, ia tidak membutuhkan konsentrasi untuk mendengar. Langsung sudah mengerti semuannya, dapat mengembangkan dan melengkapi, bahkan melebihi gurunya.

Stephen tidak pernah membuat PR (pekerjaan rumah). Kalau ada ulangan baru meminjam PR kawan sekelas, sekadar membaca, sudah langsung mengerti dan hasil ulangannya bisa mendapat nilai 9. Ini akhirnya menimbulkan kecemburuan kawan–kawan sekelas. Mereka sepakat tidak meminjamkan PR–nya kepada Stephen, tetapi Stephen tetap lulus dengan ranking atas.

Pada tahun 1957 Stephen sudah mengajar sebagai guru les di rumah murid. Gaji pertamanya cukup untuk membeli dua buah sepeda pancal bermerek Phillips, karena bertahun–tahun kami tidak pernah membayangkan bisa mempunyai sepeda. Dulu, bila ada orang membeli nasi di warung nasi ibu yang kami kenal, selalu kami pinjam sepedanya untuk belajar. Dan hasrat untuk membeli sepeda itu akhirnya terkabul.

Gaji bulan kedua, Stephen belikan dua buah jam tangan merek Olma. Satu dipakai sendiri, yang satunya diberikan kepada aku. Kemudian gajinya bulan ketiga dan seterusnya ia kumpulkan, sampai bisa membeli sebuah piano bekas dari dokter piano, Yap Yauw Tjong, di Jl. Kramat Gantung Surabaya.

Keinginan memiliki piano juga sudah terpendam bertahun–tahun. Sebelum belajar piano pada 1953, Stephen sudah bermimpi ingin punya piano. Ia diajar main piano oleh nyonta pendeta CFMU, Ibu The Nai Lian. Saat itu kami tidak memiliki piano. Maka, Stephen harus membuat keyboarad piano dengan bahan papan kayu untuk berlatih. Tangannya menabuh di atas papan kayu, bunyinya ting tang ting tong dari mulut.

Setelah membeli piano dari Yap Yauw Tjong tadi, ternyata pianonya sangat parah kondisinya. Maka, setelah dibuat main hanya tiga hari sudah macet dan rusak. Pianonya dikembalikan. Lalu, melalui informasi dari seorang teman bahwa di Lawang ada seorang yang mau menjual pianonya, Stephen dan aku langsung naik kereta api menuju Lawang di Jl. Pungku Argo.

Kami melihat piano yang mau dijual itu. Ternyata pianonya baik sekali, mereknya F. Dörner Stuttgart buatan Jerman. Lalu kami berpatungan uang, Stephen, aku, dan Ibu, jumlahnya Rp 30.000. Kami berhasil membeli piano tersebut. Dan itu adalah piano pertama yang kami miliki. Mimpi telah menjadi kenyataan. Puji Tuhan, yang telah mendengar doa anak-anak-Nya.

Pada 1957-1958 Stephen mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus. Di samping menjadi guru di SD Chung Kwok Nu Sue di Jl. Sidodadi, malamnya mengajar di sekolah malam Gie Hien sebagai pengganti Peter yang pergi ke USA. Ia juga mengajar les privat di rumah murid. Saat itu boleh dikatakan ia sudah mempunyai penghasilan yang cukup besar, tetapi uang yang didapatnya itu dengan rela diserahkan kepada ibu, Tan Tjien Nio, untuk biaya keluarga.

Pada tahun 1957, Stephen mempersembahkan diri menjadi Hamba Tuhan melalui Youth Comp MAAT di Malang. Sejak hari itu hingga saat ini (2009) sudah 52 tahun ia melayani Tuhan. Tahun 1960 Stephen studi teologi di MAAT Malang, lulus 1964, diutus ke Gereja THKTKH Jemaat Hok Tjiu Kwok Yu di Surabaya sebagai penginjil.

Sebelum lulus, Stephen sudah dikenal dengan penginjilannya bukan saja di Surabaya, tetapi juga di Malang, Kediri, Semarang, Makassar, Manado, dan kota kota yang lain. Semangat penginjilannya begitu berkobar-kobar, terkadang harus naik truk dari Surabaya ke Kediri. Aku pernah mendampingi dia bersama naik truk ke Kediri berpraktek di Gereja GKT Jl. Klenteng Kediri sambil berobat di rumah sakit Baptis di Kediri juga.

Stephen juga beberapa kali terhindar dari maut.


Kejadian yang pertama di Jakarta. Stephen mengalami kecelakaan naik kendaraan motor. Ia dibawa ke rumah sakit karena gegar otak. Tetapi pada saat itu ia harus khotbah di Gereja Kristus Ketapang. Ia buru–buru memaksakan diri keluar dari rumah sakit, menuju gereja, naik mimbar dengan kepalanya dibalut.

Kejadian kedua: ia mengalami kecelakaan motor di Surabaya. Dengan motor Yamaha bebek 50 cc, setelah khotbah, pulang dari gereja di Jl. Samudra sampai di perempatan Jl. Bongkaran. Dengan tidak sadar, ia menghatam becak. Ada kemungkinan tertidur saat mengendarai motornya oleh karena terlalu capai.

Orang mengirim Stephen ke rumah. Saat itu hari Minggu. Aku mengajar paduan suara di GKT Malang. Pulang ke rumah sudah di atas pukul 23.00. Aku melihat Stephen berbaring di ranjang, tidak dapat bangun dari tempat tidur, sekujur tubuhnya luka lecet. Melalui seorang pemuda gereja, namanya Ho Djie Wei, dipanggil seorang dokter spesialis urat saraf tetangganya di Jl. Sidoyoso, Dr. Lukas Tjeng.

Tjoe Liang mau datang di rumah pukul 24.00, lalu dibuat surat pengantar opname di Tionghwa Ie Wan (sekarang Rumah Sakit Adi Husada). Malam itu juga, sampai sembuh dua minggu kemudian.

Beberapa orang yang setiap harinya datang membesuk di rumah sakit, di samping aku dan Karlina istriku, masih ada majelis gereja Ibu Tan Tek Ham, Ibu Ho Ai Ik. Biaya pengobatan ditanggung bersama oleh gereja dan aku. Saat di rumah sakit, ada seseorang anak perempuan dari Manado datang ke Surabaya ingin bertemu dengan Stephen.

Aku memberitahu kepadanya bahwa Stephen sedang opname di rumah sakit. Ia paksa ingin menjenguk, namanya Rita. Ia sungguh membuat aku repot dengan macam–macam tindakan yang aneh. Orang ini cinta sepihak pada Stephen. Aku dibuat pusing tujuh keliling, sampai-sampai mengirim daging babi lewat tukang pos.

Aku menolak menerima kirimannya, namun dengan segala cara ia tetap mengirim ke rumahku. Bayangkan, daging babi yang sudah aku tolak tiga hari yang lalu, mengeluarkan bau yang sangat menusuk hidung. Ia pagi sore datamg ke rumah menunggu, akhirnya aku bilang aku mau melaporkan dia ke polisi, baru tidak datang lagi.

Setelah Stephen sembuh, aku berkata kepada Stephen: cepat–cepat nikah sajalah supaya aku tidak terusik terus-menerus oleh gadis-gadis yang jatuh cinta kepadanya. Memang banyak gadis yang menaruh perhatian, apalagi Stephen sering tidak di rumah. Yang menghadapi gadis–gadis tersebut adalah aku dan Karlina.

Stephen mau mempertimbangkan anjuranku tersebut. Dan melalui perencanaan, pembahasan, akhirnya aku dan Karlina mewakili ibuku yang sedang berada di luar negeri untuk melamar Alice, gadis pilihan Stephen. Putri bungsu dari Nyonya Janda Lin Tek Seng, mantan Ketua Majelis GKT Jemaat Hok Tjiu Kwok Yu.

Setelah melamar, Ny. Lin langsung menelepon Alice yang baru berangkat studi di USA, menyuruh dia segera pulang. Mula-mula Alice tidak percaya. Sampai Stephen telepon sendiri langsung untuk melamarnya, barulah ia percaya, dan langsung pulang ke Surabaya. Akhirnya, Stephen mempersunting Alice pada 1971. Saat acara pernikahan dilangsungkan, enam orang sudara Tong untuk pertama kalinya bertemu.

Setelah menikah, Stephen dan istrinya beserta mertuanya suatu saat tinggal bersama serumah dengan aku dan ibu. Stephen kemudian pindah ke Jakarta setelah mendirikan Lembaga Reform Injili bersama-sama dengan Caleb. Saat itu aku diminta bergabung, tetapi aku menyatakan tidak bersedia dengan alasan untuk menghidari tanggapan orang sebagai Lembaga Tong Brothers. Maka, diajaklah Pendeta Yakub Susabda untuk menjadi salah seorang pendiri Lembaga tersebut.

Stephen dikaruniai empat anak, yaitu Elizabeth, David, Unice, dan Rebecca. Di antara keempatnya, pada 2009 ini Rebecca saja yang belum menikah, yang lainnya sudah berkeluarga. Mereka menempuh pendidikan di Amerika. Semuanya melayani pekerjaan Tuhan.

Lembaga Reformed Injili berkembang dengan pesat. Selain telah membuka Sekolah Tinggi Reformed Injili, juga dilengkapi beberapa Sekolah Teologi di beberapa kota, membuka cabang-cabang gereja di kota-kota dalam maupun luar negeri. Di samping itu telah membangun sebuah Gereja Reformed yang terlengkap dan terbesar di Indonesia terletak di daerah Kemayoran Jakarta yang diresmikan pada November 2008.

Dan beban penginjilan maupun pengajaran doktrin reformed-nya tidak pernah pudar. Kini Stephen setiap minggunya harus ke empat negara untuk menjalani misi tersebut. Di samping Indonesia, ia masih harus mengunjungi Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Taiwan.

Sumber: Memoar Solomon Tong, Penerbit Jaring Pena (Grup Jawa Pos), 2009, halaman 46-55.

23 October 2009

Lulut Sri Yuliani Batik Mangrove



Hari-hari ini Lulut Sri Yuliani (44) supersibuk. Usai menggelar pameran batik di Hotel Java Paragon Surabaya, 2-4 Oktober 2009, Lulut wira-wiri ke sejumlah instansi pemerintah dan swasta. Mulai dari mengurus hak paten, pelatihan batik, persiapan pameran, hingga melayani pesanan konsumen.

Kesibukan koordinator Paguyuban Seni Batik Warna Alami Mangrove (Batik Seru) ini tak lepas dari melejitnya batik sebagai world heritage yang diakui UNESCO pada 2 Oktober lalu. Nah, di sela-sela kesibukan itu, Lulut menerima Radar Surabaya untuk wawancara khusus di rumahnya, Wisma Kedungasem Indah J-28 Surabaya, Kamis (15/10/2009). Petikannya:


Oleh LAMBERTUS HUREK

Anda kelihatan sibuk sekali hari ini?

Benar. Saya harus ke kantor kecamatan (Rungkut), Deperindag, untuk mengurus hak paten. Paten ini sangat penting untuk melindungi produk batik yang sudah kita rintis dan kembangkan di sini. Jangan sampai setelah kita produksi banyak dan lama, eh tahu-tahu ada persoalan paten di kemudian hari. Kita mengantisipasi adanya klaim-mengklaim motif dan sebagainya. Kita nggak ingin itu terjadi dengan Batik Seru. Sebab, kita ingin Batik Seru ini menjadi salah satu aset Kota Surabaya.

Apa sudah ada yang mengklaim?

Itu dia. Setelah kita mulai proses pengurusan paten, ternyata ada pihak lain yang sudah mendaftar. Makanya, sekarang kita tangani biar clear. Kalau persoalan paten beres, kita bisa berkarya dengan lebih tenang.

Ada rencana pameran atau workshop dalam waktu dekat?

Ya. Aktivitas kami bulan ini memang sangat padat. Tanggal 2-4 Oktober pameran tunggal dan demo batik mangrove di Java Paragon. Kemudian 7-14 Oktober pameran di JCC Jakarta yang didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Tanggal 22 sampai 28 Oktober pameran di Balai Pemuda Surabaya bekerja sama dengan Dinas Tenaga kerja.

Saya dan anggota paguyuban harus kerja keras karena setiap pameran perlu menampilkan batik yang unik dan menarik. Jadi, dibuat khusus untuk ditampilkan di pameran tersebut. Meskipun capek, pontang-panting ke sana kemari, kegiatan-kegiatan yang padat ini sangat menyenangkan. Sebab, ini berarti seni batik, yang merupakan warisan budaya leluhur kita, makin tersosialisasi di mana-mana. Dan mudah-mudahan orang Indonesia makin menyukai batik.

Setelah pengakuan dari UNESCO itu, pesanan makin banyak?

Puji Tuhan, pesanan datang dari mana-mana, mulai kelas atas, menengah, sampai bawah. Ini juga menjadi tantangan bagi kami agar bisa melayani konsumen dengan sebaik-baiknya. Kalau banyak order, tapi barangnya nggak ada kan susah. Syukurlah, kami di sini punya 60 anggota tim yang secara sinergis bisa memproduksi batik secara on time.

Saya berperan sebagai koordinator dan desainer saja. Proses selanjutnya digarap oleh anggota tim yang 60 orang itu. Mereka terbagi dalam 11 kelompok. Jadi, koordinasinya lebih gampang. Saya di sini juga ikut menggarap karena itu memang pilihan profesi saya.

Tim Anda di Batik Seru ini cukup solid?

Yang 60 orang ini solid. Kita belajar dari pengalaman sebelumnya ketika baru merintis paguyuban batik mangrove di sini. Awalnya ada 120-an anggota, tapi kemudian mengkristal menjadi 60. Memang harus diakui bahwa mengurus UKM (usaha kecil dan menengah) itu tidak gampang. Dalam perjalanan selalu ada monster yang mengganggu keutuhan komunitas.

Saya sudah banyak mengalami jatuh bangun, dikecam, dilecehkan... macam-macamlah. Tapi kalau mau maju, ya, proses seperti itu harus dilalui. Usaha apa pun yang kita tekuni tidak akan pernah mulus. Yang penting, kita tetap semangat, optimistis, dan tidak boleh menyerah.

Apa keunggulan mangrove sebagai pewarna alami?

Warnanya unik dan lembut. Beda dengan pewarna alami lainnya, apalagi pewarna kimiawi. Anda bisa lihat warna ungu ini (Lulut memperlihatkan cairan berwarna ungu di botol kecil). Ungunya itu asyik banget. Dan itu kalau dipakai untuk batik, hasilnya beda. Kain batik pesanan Ibu Wawali, Tjahjani Retno Wilis, ini (didominasi warna ungu) kan kelihatan unik. Saya sendiri tidak bosan-bosannya menikmati keindahan warna alami dari mangrove.

Hampir semua bagian mangrove alias bakau itu juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami. Mulai daun, bunga, buah, kulit, bermanfaat. Karena itu, kami tidak akan kekurangan bahan pewarna alami selama hutan mangrove masih ada. Misi utama di balik kerajinan batik mangrove ini memang ke pelestarian hutan mangrove di Kota Surabaya. Tentu saja, kami sangat berkepentingan agar hutan mangrove itu tetap lestari.

Kabarnya, batik mangrove ini tidak bisa dicuci dengan sabun dertegen biasa dan tidak boleh terkena sinar marahari secara langsung?

Karena itu, kami sudah menyediakan sabun khusus untuk mencuci batik mangrove yang kami produksi. Sabunnya tidak keras sehingga lebih cocok untuk batik. Semua orang yang membeli atau mengoleksi batik pasti kami beri petunjuk cara mencuci dan merawat batik tersebut. Sabun juga diproduksi sendiri oleh Paguyuban Batik Seru.

Ada yang bilang harga batik tulis, termasuk mangrove ini, sulit dijangkau masyarakat kebanyakan?

Tidak juga. Kami menyediakan beberapa macam batik untuk melayani kelas atas, menengah, dan bawah. Harganya pasti berbeda. Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu-lah. Kain sutra kan mahal, belum lagi proses pembuatan yang cukup lama karena 100 persen manual atau menggunakan tangan. Beda sekali dengan batik printing yang pakai mesin. Yang namanya seni batik yang menjadi kebanggaan Indonesia itu, ya, batik tulis. Soal harga itu sangat relatiflah.

Apa lagi yang dikembangkan di sini selain Batik Seru?

Batik Sitania. Komunitas Batik Animasi Anak Warna Alami. Komunitas ini ditangani anak saya, Nadia Chrissanty Halim. Selama ini batik lebih dikenal sebagai pakaian orang dewasa. Belum ada corak batik khusus untuk anak-anak. Gambar yang pas dengan jiwa anak-anak itu kan seharusnya beda dengan orang dewasa. Maka, Batik Sitania ini menggunakan gambar-gambar animasi agar bisa diterima oleh anak-anak. Tapi bahan pewarnanya tetap menggunakan mangrove.

Anggota komunitasnya berapa orang?

Belum banyak, baru lima orang. Tapi saya yakin komunitas ini juga akan berkembang karena makin banyak anak-anak yang senang batik.

Ngomong-ngomong, apa prinsip hidup Anda?

Saya selalu ingin menjadi orang yang berguna untuk sesama. Seperti Ibu Teresa. Selama saya masih diberi hidup oleh Tuhan, saya wajib memberikan hidup saya untuk orang banyak. (*)


LULUT SRI YULIANI

Lahir : Surabaya, 24 Juli 1965
Suami : Ferdinand Yulianus Budiono Halim
Anak : Nadia Chrissanty Halim
Hobi : Mancing

Pendidikan
SMPN 12 Surabaya
SPG Pringadi Surabaya
IKIP Surabaya (S-1)
STIE Mahardika (S-2)

Penghargaan
Pejuang Lingkungan Kota Surabaya, 2006
Guru Musik Teladan Jatim (runner-up), 1994




Titik Balik setelah Lumpuh


Lulut Sri Yuliani tadinya seorang guru. Lulusan Sastra Jawa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya--sekarang Universitas Negeri Surabaya--ini sejak 1979 mengabdikan diri sebagai pengajar di sejumlah sekolah. Lulut bahkan pernah menjabat kepala sekolah di SMK Panglima Sudirman dan SMPK Prapanca 2 Surabaya.

Pada 1997, ketika krisis moneter menyerang Indonesia dan muncul gelombang reformasi politik, ibu satu anak ini pun dilanda krisis hidup yang luar biasa. Tubuhnya lumpuh. Dokter memvonis bahwa durasi hidup perempuan arek Surabaya ini tinggal satu tahun. Ini karena aliran darahnya tak normal. "Pembuluh darah saya pecah," kenang Lulut Sri Yuliani.

Tangan, kaki, dan bagian-bagian lain tubuhnya tak dapat digerakkan lagi. Dan, jika aliran darah tak lagi mengalir menuju otaknya, maka... wassalam. Di saat seperti ini rasanya sang maut sudah menjelang. Namun, keinginan untuk sembuh sangat cukup kuat. Ini membuat dirinya berencana melakukan segala jenis pengobatan. Namun, ketika sadar bahwa semuanya akan sia-sia, Lulut memilih pasrah.

”Saya hanya berharap pada keajaiban. Mukjizat! Kalau saya sembuh, saya akan mengabdikan hidup saya pada alam dan masyarakat,” ujar Lulut. Jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Rungkut ini pun semakin banyak berdoa, mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

"Saya percaya bahwa mukjizat Tuhan itu akan terjadi. Bagi Dia tidak ada yang mustahil," katanya. "Saya tidak bisa berharap pada obat-obatan karena tubuh saya sudah menolak semua jenis antibotika."

Singkat cerita, mukjizat itu memang benar-benar terjadi. Lulut dinyatakan sembuh. Sejak itulah dia bertekad membaktikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat banyak dan konservasi lingkungan. Sejak 2007, sebagai ketua Forum Peduli Lingkungan (FPL) Kecamatan Rungkut, dia total berdedikasi untuk lingkungan dan masyarakat. Dari sinilah dia berjumpa dengan mangrove sebagai tanaman unggulan di Rungkut.

"Waktu kecil saya dan teman-teman sudah tahu yang namanya bakau. Tapi baru intensif tahun 2007," paparnya. Saat itu dia bersama Wali Kota Surabaya, Camat Rungkut, dan Dinas Pertanian mengadakan kunjungan ke Wonorejo karena banyak terjadi pembalakan liar. ”Hutan mangrove itu ternyata sangat indah,” katanya.

Wali Kota Bambang DH kemudian memberinya sebuah buku tentang budidaya dan pemanfaatan mangrove. Mulai dari situlah dia mulai menekuni dunia mangrove. Selain batik mangrove, Lulut bersama UKM binaannya membuat aneka macam produk berbahan dasar mangrove.

Ada Sirvega (Sabun Cair Mangrove dan Toga) yang khusus untuk mencuci kain batik. Sabun cair bebahan dasar klerak sebagai sampo, sabun cuci piring, cuci mobil, dan cuci tangan. Ada juga Weruh Bekul, minuman penghangat dan pelancar peredaran darah dari bakau.

Selain itu, Lulut membuat berbagai produk lain. Di antaranya, olahan limbah padat tempe (olipate) menjadi pakan ikan dan olahan limbah cair tempe menjadi pakan ternak (tabacate). Perjuangan Lulut ternyata tidak sia-sia. UKM binaannya berkembang di seluruh Kecamatan Rungkut.

”Saya memang ingin membuat Rungkut menjadi kawasan yang mandiri dan mempunyai ciri khas,” katanya.

LULUT SRI YULIANI

Wisma Kedungasem Indah J-28, Rungkut, Surabaya
081 230 808 665
031 779 57465

20 October 2009

Taufiq Kiemas Belajar Membaca



Acara inagurasi atawa pengucapan sumpah presiden dan wakil presiden, Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono, berlangsung pada 20 Oktober 2009. Jutaan orang Indonesia, termasuk saya, menyaksikan dari layar televisi. Ada rasa haru dan bangga. Kita ternyata bisa menghasilkan pemimpin negara melalui pemilihan langsung.

Sayang, menurut saya, acara pelantikan ini terganggu oleh kinerja Taufiq Kiemas, ketua MPR, yang juga suami Megawati Soekarnoputri. Berkali-kali dia salah membaca, tidak menguasai bahan pidato atau ujarannya. Tergagap-gagap macam orang yang baru belajar membaca. Apa karena Pak Taufiq kurang jelas melihat naskah? Kacamata kurang tebal?

Setahu saya, di mana-mana, dalam acara besar, apalagi pelantikan presiden, semua pihak yang terlibat memperisapkan diri. Protokolernya bagaimana, kapan undangan masuk, posisi tempat, hingga isi pidato. Dan, sebagai ketua MPR, Taufiq Kiemas menjadi sorotan semua orang. Termasuk para tamu negara macam pemimpin Australia, Singapura, Malaysia, Brunei, Timor Leste, dan seterusnya.

Saya membayangkan selama dua atau tiga hari Pak Taufiq sudah belajar membaca naskah pidato. Bagian-bagian mana yang perlu ditekan, tempo dilambatkan, mana yang agak cepat, dan seterusnya. Ilmu retorika tentulah dikuasai politisi sekaliber Taufiq Kiemas. Apalagi, kita tahu, mertua Pak Taufiq adalah orator paling hebat yang pernah dimiliki negara ini: Bung Karno!

Apakah Pak Taufiq belum pernah mendengar pidato Bung Karno? Bagaimana menekankan dan membunyikan kata-kata hingga memukau hadirin. Kalau tak sampai memukau, cukuplah hadirin segera menangkap isi pidato. Lha, penampilan Taufiq Kiemas pada 20 Oktober 2009 di Gedung MPR RI ini benar-benar menyedihkan. Membaca pidato saja tidak karuan. Salah melulu. Membaca tidak lancar.

Situs detik.com menulis berita "TK Salah Sebut Nama Lengkap Presiden SBY Dua Kali". Isinya antara lain begini:

"Di awal sidang, TK benar menyebut nama lengkap SBY. Namun, seusai pembacaan sumpah dan pelantikan, TK salah menyebut nama lengkap SBY. Dia menyebut 'Haji Susilo Doktor Bambang Yudhoyono'. Terang saja, salah ucap ini membuat hadirin tertawa. Seharusnya, TK mengucap 'Haji Doktor Susilo Bambang Yudhoyono.'

Dan menjelang sidang ditutup, TK kembali salah mengucapkan nama lengkap SBY. TK kelupaan mengucapkan Bambang. Dia hanya menyebut 'Haji Doktor Susilo Yudhoyono'. Terhadap salah ucap ini, SBY tampak tersenyum dan manggut-manggut. Namun, seusai sidang, TK tampak santai. Dia mengaku salah ucap nama lengkap SBY, karena sering hanya mengucap SBY, bukan nama lengkap."

Waduh, waduh... Pak Taufiq Kiemas!

Mudah-mudahan setelah ini Anda mau belajar membaca untuk publik. Public speaking! Di Jakarta pasti banyak konsultan dan ahli yang akan membantu memperbaiki kualitas retorika Anda. Merdeka!!!!

Menteri PDT untuk Apa?



Di Indonesia ini ada satu pos menteri yang sebenarnya tidak perlu ada. Tapi tetap dipertahankan untuk menampung kader partai politik. Atau menampung tokoh asal Indonesia Timur agar kelihatan kalau kabinet itu merangkul berbagai elemen bangsa.

Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT)!

Meski fungsinya tak jelas, anggaran tidak punya, program begitu-begitu saja, anehnya, banyak orang partai senang duduk di situ. Yah, pokoknya bisa jadi menteri. Karena itu, kompetensi, pengalaman, rekam jejak di bidang daerah tertinggal, tidak diperlukan. Siapa saja bisa jadi menteri PDT.

Nama-nama mereka yang pernah jadi menteri PDT antara lain Lukman Edy, Syaifullah Yusuf (sekarang wakil gubernur Jawa Timur), Manuel Kaisiepo, Freddy Numberi. Selama mereka menjabat, nyaris tak banyak program yang dikerjakan. Lukman Edy berkali-kali mengeluh karena tidak punya anggaran. Kementerian ini bukan kemeterian basah.

Kalau tidak salah, kementerian PDT ini dulunya fokus ke Indonesia Timur yang memang sangat tertinggal dari kawasan Barat. Di atas kertas sih tujuannya bagus. Indonesia Timur bisa lebih cepat maju. Tapi, karena pos ini hanya "sekadar ada", "diada-adakan", maka menterinya duduk manis di Jakarta. Atau, suka berlibur di kampung halamannya di Jawa.

Saya belum pernah mendengar, menyaksikan di televisi, membaca di koran, menteri PDT keliling dari provinsi ke provinsi di Indonesia Timur. Mengunjungi Pulau Flores, Sumbawa, Rote, Saparua, Sulawesi, hingga ke Papua. Jangan-jangan menteri PDT Lukman Edy yang pensiun pada 20 Oktober 2009 belum pernah menginjakkan kaki di Kupang! Hehehe...

Saya juga tidak pernah tahu menteri PDT bikin program besar dan nyata untuk menghalau kemiskinan dan keterbelakangan kawasan Indonesia Timur. Tapi itu tadi, para politisi sangat senang dikasih jabatan menteri PDT. Dan kali ini orang PKB kembali dikasih hadiah: menteri PDT!

Yang penting menteri, bukan?

Didiek SSS di Klab Jazz



Jazz tak dapat tempat di stasiun televisi kita. Yang disiarkan band-band pop industri, gosip artis, dan cerita remeh-temeh tentang selebritas. Televisi kita tak mau repot dengan apresiasi.

Urusannya cuma tiga: uang, uang, dan uang! Maka, Senin (19/10/2009) tengah malam saya senang menyaksikan KLAB JAZZ di TVRI. Acara yang sangka di televisi di negara yang namanya Indonesia.

Kali ini televisi negara itu menampilkan Didiek SSS dan kawan-kawan. Didiek SSS Project, begitu nama band-nya. Saya sudah cukup mengenal gaya permainan Didiek SSS, pemusik tiup yang adik kandung almarhum Embong Rahardjo ini. Dia beberapa kali diundang pihak gereja di Surabaya untuk membantu penggalangan dana. Hebatnya, dana yang terkumpul selalu banyak.

Malam itu Didiek SSS ditemani beberapa pemusik senior macam Uce Haryono dan Morgan Sigarlaki. Pada 1980-an dan 1990-an nama mereka sangat terkenal sebagai pemain band fussion. Didiek SSS sendiri bisa main musik apa saja. Termasuk memimpin orkes keroncong.

Di mana dia tampil, saya lihat Didiek ini sangat dominan. Dia fokus di saksofon dan flute. Berbeda dengan kakaknya Embong, Didiek ini suka bergaya. Aneh-aneh dan rada norak. Tidak bisa diam. Namanya juga aktor, Didiek SSS membuat dirinya menjadi perhatian penonton. Karena itu, meskipun tidak menyanyi, dan saya yakin suaranya tidak bagus, orang senang menikmati sajian musik Didiek SSS.

Seperti siaran KLAB JAZZ sebelumnya, pembawa acara sempat bertanya jawab dengan Didiek dan dua penyanyi muda. Intinya memberi sedikit gambaran tentang jazz. Mengapa jazz kurang populer? Jazz kok hanya digemari kalangan tertentu? Mengapa anak-anak muda kurang tertarik dengan jazz? Dan sebagainya.

"Anak-anak muda kita sebenarnya hebat-hebat. Pemain musik jazz sebenarnya banyak. Cuma tidak dikasih kesempatan," kata Didiek SSS.

Bukti kehebatan itu, menurut dia, bisa dilihat ketika pemusik Indonesia ber-jam session dengan pemusik mancanegara. Kita bisa mengimbangi mereka yang berlatar belakang Eropa atau Amerika, benua yang punya dasar dan tradisi jazz yang kuat. "Kita nggak kalah kok," kata Didiek SSS yang berpengalaman main di banyak negara.

Didiek SSS juga mengingatkan bahwa bermain musik apa pun, lebih-lebih jazz, harus dilakukan dengan HATI. Tidak sekadar membunyikan nada-nada atau sekadar bergaya. Kalau main pakai HATI, jiwanya dapat, maka musik yang dihasilkan bisa diterima orang banyak. Audiens niscaya dengan mudah bisa membedakan mana pemusik atau penyanyi yang bermain dengan hati dan bermain seadanya.

Saya terkejut juga ketika Didiek SSS mengaku bahwa saat ini dia punya ratusan siswa di Jakarta. Anak-anak muda ini tak hanya belajar satu dua macam alat musik seperti saksofon, flute, klarinet, melainkan banyak instrumen. "Saya memperkenalkan orkestra kepada anak-anak muda. Semua alat musik saya ajarkan," kata pria asal Jogjakarta ini.

Setelah menjawab pertanyaan pembawa acara di TVRI, Didiek SSS tampak sibuk meniup saksofon. Pelan, halus, dia membuat introduksi lagu Over The Rainbow. Dan dua anak muda itu pun bernyanyi:

Somewhere over the rainbow
Skies are blue....

17 October 2009

Hwie Tiauw Ka di Surabaya



Di kawasan Surabaya Utara terdapat sebuah rumah milik Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya. Meski usianya hampir 190 tahun, sampai kini masih berdiri kokoh.

Oleh LAININ NADZIROH
nin1512@yahoo.com

Melintas di kawasan Pecinan, tepatnya daerah Jl Slompretan yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian di Surabaya Utara, keberadaan gedung perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya memang langsung terlihat beda. Warna merah dan kuning keemasan yang mendominasi bangunan ini membuat banyak orang menyangka bahwa bangunan tersebut merupakan sebuah kelenteng.

''Memang banyak yang menyangka seperti itu. Tetapi sebenarnya ini merupakan Perkumpulan Suku Hakka," terang Ketua Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya Dr Suwondo.

Bangunan yang dibangun pada 1820 dan berada di sisi timur Jl Slompretan ini sudah mengalami pergantian hingga empat generasi. Namun, keberadaannya masih terus dilestarikan sebagai wadah untuk terus menjalin komunikasi Suku Hakka di Surabaya. Tak hanya kalangan senior, generasi muda pun dilibatkan untuk menjaga keberadaan gedung ini.

Dengan semangat merawat tradisi dan menghormati leluhur, maka perkumpulan ini akhirnya masih bisa bertahan hingga sekarang. Begitu masuk ke bangunan ini, di ruang tamu langsung disergap dengan kehadiran foto-foto pengurus dan anggota Hwie Tiauw Ka Surabaya.

Hanya, sebagian besar mereka adalah pengurus yang belum terlalu lama menjabat. Sebab, dokumentasi Hwie Tiauw Ka ini belum lengkap karena kegiatannya sebagian besar bersifat sosial. Apalagi, saat Orde Baru (1966-1998), banyak dokumentasi serta aktivitas Suku Hakka yang nyaris tak dilakukan.

''Selama Orde Baru itu, hanya aktivitas sembahyang untuk leluhur saja yang diperbolehkan. Kalau atraksi barongsai dan kegiatan lain tidak diizinkan," tambah mantan pengurus Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya, Amin K, yang mendampingi Dr Suwondo.

Yang tak kalah menarik adalah ketika kita memasuki ruang sembahyang untuk leluhur, di sisi kiri dan kanan, terlihat prasasti bertuliskan huruf Tionghoa tentang pendirian gedung ini. Dalam prasasti tersebut diceritakan, bahwa gedung ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat Suku Hakka yang tinggal di Surabaya. Mereka berasal dari berbagai daerah, lantas membuat wadah sosial untuk membantu anggota sukunya yang kekurangan.

Karena bersifat sosial, maka anggota suku Hakka urunan untuk membangun gedung ini. Ada yang iuran 1 gulden hingga 65 gulden. Jumlah dana yang bisa dikumpulkan pun tentu saja tak bisa langsung banyak. Karena itu, untuk bisa membangun gedung Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya ini membutuhkan waktu 43 tahun.

Kebersamaan nenek moyang suku Hakka di Surabaya selama empat generasi silam, ternyata sangat membekas bagi generasi berikutnya. Karena itu, mereka bertekad untuk melestarikan keberadaan budaya dan bangunan perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya. Apalagi, saat ini perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan suku tertua se-Asia Tenggara, yang masih bertahan hingga sekarang.

Asas menjunjung kehormatan untuk leluhur, merupakan sebuah kewajiban bagi perkumpulan Hwie Tiauw Ka. Dan sebagai pengingat, di depan pintu masuk gedung perkumpulan Hwie Tiauw Ka yang dibangun secara gotong-royong tersebut, ditulis pesan kepada anak cucu agar mengajarkan berbuat baik dalam huruf Tionghoa.

Sebab dengan cara seperti itu, maka nama orang yang berbuat baik tersebut, akan terus dikenang hingga anak cucu. ''Karena itulah, kita diajak untuk banyak beramal," kata Dr Suwondo. Gedung ini pertama kali dibangun atas prakarsa banyak orang.

Karena bersifat sosial, maka anggota suku Hakka akhirnya melakukan iuran untuk membangun gedung ini. Ada yang sebesar 1-65 gulden. Karena tak banyak, maka membangun gedung Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya ini, membutuhkan waktu 43 tahun.

Ini menunjukkan bahwa saat itu perekonomian masyarakat suku Hakka masih lemah. ''Dananya kan tidak bisa langsung terkumpul banyak. Makanya ya harus nunggu cukup lama untuk menyelesaikan bangunan ini," tutur Suwondo.

Ada seorang bernama Cu Kim Soen yang menyumbang 65 gulden. Arsitektur beraliran oriental Tiongkok, sangat menonjol. Selain joglo yang didominasi warna kuning dan merah, kayu yang dipakai untuk tiang utama terbuat dari kayu nanmuk, jenis kayu yang lebih bagus dari kayu jati.

Kayu ini, sejak pertama dipakai hingga sekarang belum diganti. Seandainya ada perubahan, hanya dalam pengecatan warna. Begitu pula dengan pintu yang dibuat berbeda dengan zaman sekarang yang ada engselnya. di gedung perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya ini, sebagai pengganti engsel pintu, diletakkan lubang di atas pintu untuk mengaitkan tiang penyangga pintu.

''Beda sekali dengan engsel zaman sekarang," kata Suwondo sambil menunjuk ke arah engsel pintu di depan joglo.

Begitu juga dengan suasana ruang pertemuan yang tak berbeda dengan saat pertama dibangun. Yang membedakan hanya penambahan keramik atau pengecatan tembok yang mulai usang dimakan waktu. Sedangkan untuk joglo, prasasti, tidak diutak-atik sama sekali.


Seiring dengan perkembangan waktu, keberadaan gedung Hwie Tiauw Ka Surabaya, kini terasa makin sesak. Karena itu kini dilakukan berbagai langkah untuk terus mewadahi berbagai aktivitas bdan melestarikan budaya dari nenek moyang.

Tak mengherankan memang keberadaan gedung Hwie Tiauw Ka Surabaya, di Jl Slompretan kini terasa sempit. Sebab, keberadaannya sendiri sudah melewati empat generasi. Bisa dibayangkan, jumlah anggotanya membengkak luar biasa jika dibandingkan saat pertama kali didirikan.

Saat ini jumlah anggota tercatat seribu orang. Jika ada acara bersamaan, maka gedung yang ada saat ini, jelas tak mampu memuat orang sebanyak itu. Karena itu, kini pihak perkumpulan membeli dua ruko baru untuk menampung berbagai kegiatan muda-mudi Hwie Tiauw Ka.

''Kalau kegiatannya di Jl Slompretan ini jelas sudah nggak bisa menampung. Makanya kita membeli tempat baru," terang Dr Suwondo.

Aktivitas muda-mudi Hwie Tiauw Ka Surabaya sangat beragam. Mulai dari kegiatan seni tari, karaoke, duet bersama, dan lain-lain. Sedangkan di Jl Slompretan, digunakan untuk acara sembahyang, rapat pengurus, dan lain-lain. Saat ini, jika siang hari, biasanya terlihat beberapa anggota Hwie Tiauw Ka hadir hanya sekadar untuk sharing atau pun bermain catur Tiongkok.

"Seperti saya ini, karena sudah tua ya main ke sini saja," kata Amin K, mantan pengurus Hwie Tiauw Ka Surabaya.

Tak hanya soal tempat saja yang kini terus dibenahi oleh perkumpulan Hwie Tiauw Ka. Untuk struktur pengurus pun, kini dibuat aturan baru. Misalnya, untuk jabatan ketua perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya, kini tidak boleh menjabat lebih dua periode.

Tiap periode, ketua menjabat selama tiga tahun. Ini diperlukan agar regenerasi bisa berjalan dengan baik. Jika tidak ada regenerasi, maka dikhawatirkan organisasi perkumpulan ini akan stagnan, atau lebih parah bisa tak ada penerusnya. ''Peraturan ketua tidak boleh lebih dari dua periode ini diberlakukan sejak ketuanya saya," terang Suwondo.

Sementara saat disinggung resep jitu agar perkumpulan ini bertahan hingga ratusan tahun, Suwondo menjelaskan bahwa harus ada kesadaran dari semua pihak. Artinya, jika memang saat berdiri tujuan perkumpulan ini untuk kegiatan sosial, maka bagi generasi penerusnya, juga harus melakukan hal yang sama.

Bantuan-bantuan juga harus diberikan kepada orang yang tepat. Dengan cara seperti itu, maka organisasi perkumpulan akan bisa bertahan. ''Pesan dari leluhur kita untuk terus menjaga kebersamaan serta berbuat kebajikan harus dilanjutkan. Jika itu dilakukan, hasilnya pasti akan baik," pungkas Suwondo. (*)

13 October 2009

90 Tahun Hong San Ko Tee



Perayaan 90 tahun Klenteng Hong San Ko Tee di Jl Cokroaminoto 12 Surabaya, Minggu (11/10/2009), berlangsung meriah.


Didahului sembahyang bersama jemaat Tri Dharma dari berbagai klenteng di Jawa Timur, perayaan dilanjutkan dengan Kim Sin atau arak-arakan dewa di jalan raya.

Start dari depan klenteng, rombongan melintasi Jl Raya Darmo, Pandegiling, Imam Bonjol, Kartini, KH Misbach, dan balik ke Cokroaminoto 12.

"Kita hanya ingin bersyukur kepada Tuhan karena klenteng ini bisa bertahan selama 90 tahun. Sekalian kita juga berdoa agar bangsa Indonesia diberi keselamatan, kedamaian, dan rezeki," ujar Juliani Pudjiastuti, pengurus Hong San Ko Tee.

Arak-arakan dewa-dewi ini terbilang peristiwa langka di Surabaya. Selama 32 tahun Orde Baru, warga Tionghoa memang dilarang menggelar upacara adat Tionghoa di tempat terbuka. Tak heran, perarakan di sejumlah ruas jalan protokol kemarin menjadi tontotan warga sekitar.

Apalagi, grup reog dari Bendul Merisi ikut berkolaborasi dengan Lang Liong Hong San Ko Tee. Ada tiga dewa yang mengikuti Kim Sin. Paling depan Kwan Kong (Dewa Perang), disusul Kwam Im (Dewi Kasih), dan Fu Tek Cen Sen (Dewa Bumi).

Rupanya, karena tidak pernah dikeluarkan selama bertahun-tahun, tiga dewa-dewi ini 'mengamuk' di sepanjang pejalanan. Para penandu yang terdiri dari 10-12 orang tampak terhuyung-huyung seperti menahan beban berat. Di depan Hotel Santika, Jl Pandegiling, rombongan penandu nyaris jatuh.

Tentu saja ratusan penonton terheran-heran melihat adegan yang tak lazim ini. "Kesurupan! Kesurupan!" teriak anak-anak.

Menurut Juliani, dewa-dewi yang mendiami klenteng memang memiliki kekuatan spiritual yang sangat besar. Karena itu, wajar saja bila jemaat yang mengusung tandu sering kewalahan.

"Jemaat yakin bakal mendapat rezeki kalau ikut memberikan penghormatan kepada para dewa," tutur Juliani yang memimpin Klenteng Cokro, nama populer Klenteng Hong San Ko Tee, sejak 2000.

Didirikan Jap Liang Sing pada 24 September 1919, Klenteng Hong San Ko Tee menjadi saksi sejarah keberadaan warga Tionghoa di Kota Surabaya. Perjalanan panjang selama 90 tahun, menurut Juliani, pun tidak mudah.

Pihak klenteng mengalami tantangan sejak zaman Belanda, Jepang, awal kemerdekaan, revolusi, Orde Lama, Orde Baru, dan akhirnya bernapas lega sejak reformasi. "Dulu kita nggak mungkin bikin arak-arakan seperti ini," kata Juliani. (lambertus hurek)

Radar Surabaya, 12 Oktober 2009

Heidy Diana dan Avent Christie




Sulit tidur itu ada gunanya juga. Selasa dini hari (13/10/2009), pukul 03.00 lebih, karena sulit tidur saya iseng-iseng menyetel televisi. Aha, SCTV memutar program SOLUSI, semacam mimbar agama Kristen Protestan yang berisi pengalaman-pengalaman rohani atau kesaksian-kesaksian jemaat.

Banyak hal yang kita temukan di SOLUSI. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain tentang cinta kasih, pengampunan, hidup doa, peduli sesama, mukjizat, kuasa Tuhan, dan sebagainya. Bahwa manusia, siapa pun dia, selalu punya sisi-sisi gelap. Bahasa kitab sucinya: "Roh memang penurut, tapi daging lemah."

Kita memproduksi dosa setiap hari meskipun rajin ke gereja, tak lupa berdoa, ikut kegiatan ini itu di gereja, lingkungan, kategorial, dan sebagainya. Nah, SOLUSI banyak mengungkapkan kisah-kisah keseharian macam ini. Siapa saja terkena, entah artis, bekas artis, pejabat, pengusaha kaya, orang biasa....

Saya terkejut melihat SOLUSI menampilkan Heidy Diana bersama suaminya, Avent Christy. Heidy penyanyi 1980-an, artis JK Records, pernah ngetop dengan lagu SYALALALALA MANA BINTANGKU dan ROMANTIKA BERCINTA karya Obbie Messakh. Avent bintang film laga terkenal pada 1980-an. Setelah menikah, keduanya tenggelam. Heidy Diana tak pernah menyanyi lagi. Riwayat Heidy-Avent pun hilang seiring bertambahnya usia.

Ternyata, seperti disampaikan Heidy Diana di SOLUSI, kehidupan keluarga baru ini tak seriang lagu-lagunya. Tak sampai satu tahun Heidy minta cerai karena "kelakuan Avent itu kayak binatang. Dia bukan manusia di mata saya". Lho! Menurut Heidy, meskipun sudah menikah di gereja, Avent suka gonta-ganti cewek.

"Saya memang lemah kalau ada cewek yang manja sama saya," aku Avent di acara yang sama, SOLUSI. Perempuan yang dikencani Avent setelah menikah sulit dihitung saking banyaknya. Belum lagi kegemaran Avent mengonsumsi narkoba. Keluarga tidak diurus. Heidy mengaku menjadi korban kekerasan, bahkan nyaris dibunuh. "Saya bilang silakan bunuh saya. Lebih baik mati daripada hidup bersama kamu," ujar artis lawas yang dikenal murah senyum ini.

Gilanya lagi, Avent terang-terangan membawa wanita selingkuhannya ke rumah dan tidur bersama selama beberapa hari. Sakit hati? Sudah pasti. "Saya itu sudah kayak orang gila. Jalan sendiri ke mal, nggak tahu ngapain di sana. Banyak orang yang tegur saya, saya ketus saja. Saya bukan Heidy Diana! Anda salah," kenang Heidy Diana.

Suatu ketika, di tengah rencana perceraian yang membuncah, Heidy Diana bertemu dengan seorang rohaniwan. Konsultasi. Bicara panjang lebar tentang konflik rumah tangga yang tak karuan. Si pendeta kemudian bicara tentang kuasa pengampunan. Tuhan punya kuasa memulihkan rumah tangga Heidy Diana asalkan ada pengampunan. Dan itu tentu saja tidak mudah.

"Saya disuruh mengampuni suami saya yang kayak gitu?" protes Heidy.

Wanita cantik ini juga diminta lebih banyak berdoa, mendekatkan diri pada Tuhan. Percayalah, bagi Tuhan, tak ada yang mustahil. Dari situ pelan-pelan, makan waktu berbulan-bulan, Heidy mendoakan sang suami agar mau kembali ke jalan yang benar. Heidy minta diberi kekuatan agar bisa mengampuni sang suami.

Nah, suatu ketika Avent mengajak Heidy ikut sebuah kebaktian. Heidy pun seakan tak percaya. "Hah, kok dia mau kebaktian?" tukasnya. Saat kebaktian pasangan suami-istri maju untuk didoakan secara khusus. "Saya mendapat kekuatan dari Tuhan untuk memulihkan rumah tangga saya yang nyaris hancur. Saya janji pada Heidy Diana bahwa saya mau berubah. Saya ingin menata kembali rumah tangga yang selama ini tidak terurus."

Singkat cerita, menurut Heidy Diana, suasana perang di dalam rumah tak ada lagi. Avent tak lagi menekuni "hobinya" mengoleksi perempuan atau narkoba. Dia mulai memperhatikan anak-anaknya. "Saya bersyukur karena keluarga saya dipulihkan oleh Tuhan. Ini berkat yang luar biasa yang selalu saya syukuri," demikian kesaksian Heidy Diana.

Saya melihat wajah Heidy Diana tidak secantik semasa jaya pada 1980-an. Namun, semangat hidup, cintanya akan Tuhan, semangat berdoanya tampak meluap-luap. Haleluya!!!!

God Bless 2009 Asyik

Belum lama ini saya membeli CD plus kaset God Bless bertajuk GODBLESS 36 TH. Album ini sekaligus merayakan 36 tahun keberadaan God Bless di blantika musik Indonesia. Mengapa saya membeli CD dan kaset sekaligus? Padahal, sebelumnya saya sudah mendapat bonus CD God Bless dari majalah ROLLING STONE INDONESIA?

Saya memang penggemar berat God Bless. Saya tak ingin "menyesal kemudian" karena alpa mengoleksi album God Bless. Sampai sekarang saya menyesal tidak membeli CERMIN, album God Bless yang disebut-sebut terbaik, padahal kaset itu pernah ada di depan saya. Sekarang kaset CERMIN sudah menjadi barang langka di Indonesia.

CERMIN yang ada lagu bagus macam MUSISI, BALADA SEJUTA WAJAH, itu tidak diproduksi lagi. Kalau album God Bless yang direkam di Logiss Record sih mudah dijumpai di toko-toko kaset/CD di Kota Surabaya. "Saya usahakan cari CERMIN. Engko tak kontak sampean," ujar pedagang kaset bekas langganan saya di samping Plaza Surabaya. Sampai sekarang belum ada kabar beritanya.

Formasi God Bless 2009 ini: Achmad Albar (vokal), Donnya Fattah (bas), Ian Antono (gitar), Abadi Soesman (kibod), Yaya Moektio (drum). Formasi yang tentu saja tak asing lagi di mata penggemar musik rock Indonesia. God Bless memang berkali-kali berganti formasi. Namun, selama masih ada 'tiga serangkai' -- Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah -- maka God Bless masih tetap ada.

Dulu, 1990-an, ketika God Bless pecah dan Ian Antono bikin projek GONG 2000, 'tiga serangkai' ini masih bergabung. Bahkan, ditambah Yaya Moektio. Maka, penggemar God Bless macam saya tetap menganggap GONG 2000 sebagai 'God Bless' juga. Musiknya pun enak-enak karena sang penulis lagu kelas wahid asal Malang, Ian Antono, berada di situ. Juga Donny Fattah yang tak kalah dahsyat kalau menulis lagu rock ala Nusantara.

Nah, formasi GONG 2000 minus Harry Anggoman [diganti Abadi Soesman, personel lawas] yang memperkuat God Bless 2009. Abadi Soesman pemain kibod yang hebat. Arek Malang ini memperlihatkan kepiawaiannya di album CERMIN yang legendaris dan sedang diburu kolektor musik itu. Nama-nama anggota God Bless boleh dikata sudah jaminan mutu. Yah, begitu itulah warna musik God Bless dari masa ke masa meskipun selalu ada penyesuaian di sana-sini.

DAFTAR LAGU GODBLESS 2009

1. NATO [Ian Antono/Cahya Sadar]
2. Prahara Timur Tengah [Ian Antono/Ali Akbar]
3. Karna Kuingin Kau Bahagia [Abadi Soesman/Cahya Sadar]
4. Biarkan Hijau [Donny Fattah/Diah P.]
5. Pudar [Ian Antono/Cahya Sadar]

6. Jalan Pulang [Ian Antono/Hans Miller Banureah]
7. Sahabat [Donny Fattah/Diah P.]
8. Syair untuk Sahabat [Ian Antono/Yudhi E. Oktaviadhi]
9. Dunia Gila [Ian Antono/Ali Akbar]
10. Rock'n Roll Hidupku [Abadi Soesman/Ali Akbar]


Musik God Bless itu dari dulu memang khas dan kuat. Sekeras apa pun, ia sangat melodius. Enak didengar. Syair-syairnya kuat karena Ian Antono, Donny Fattah, Abadi Soesman selalu mencari penulis syair yang bagus. Ceritanya bukan remaja yang baru kenal cinta, pacaran, selingkuh, tapi bicara sahabat, kemanusiaan, pertobatan, lingkungan, perang di Timur Tengah, hingga rock' roll yang memang digeluti Abadi Soesman selama puluhan tahun.

Ini membuat kita tak akan bosan-bosannya mendengar musik God Bless, bahkan ketika grup ini tak ada lagi. Coba putar kembali album SEMUT HITAM? Saya jamin tetap enak. Album RAKSASA, APA KABAR, atau album perdana bergambar Achmad Albar yang berambut keriting tebal itu juga asyik banget. Silakan bandingkan dengan band-band sekarang yang bicara pacaran melulu dan lagu-lagunya langsung amblas kurang dari enam bulan.

Sayang sekali, album bagus grup legendaris ini nyaris tak ada promosi. Saya tidak pernah melihat klip video God Bless di televisi nasional. God Bless pun tak pernah diajak manggung di televisi, media promosi musik paling ampuh di Indonesia sekarang. God Bless hanya diulas panjang lebar di majalah ROLLING STONE INDONESIA, kemudian tampil di KICK ANDY Metro TV.

Karena nyaris tanpa promosi, bisa dipastikan anak-anak muda kelahiran 1980-an dan 1990-an tak mengenal album God Bless. Dan itu tidak mendukung pengembangan "musik industri" berkualitas di Indonesia.

10 October 2009

Fungsi dan Sikap Bahasa



MASIH TANGGUNG: Mengapa SURABAYA BARAT tidak diganti dengan WEST SURABAYA? Jangan tanggung-tanggung dong!!!!

"Ketika berjalan-jalan di Samarinda, penulis terkejut karena mengira Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa resmi di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Betapa tidak? Di jalan-jalan kota itu terpampang tanda-tanda bertulisan KEEP YOUR CITY CLEAN."

Ini kalimat pembuka artikel karangan Harimurti Kridalaksana, pakar Bahasa Indonesia, bertanggal 11 Oktober 1973. Waktu itu Harimurti masih doktorandus, belum profesor doktor. Pak Harimurti lulusan University of Pittsburgh, Amerika Serikat, pernah mengajar di University of Michigan, juga Amerika Serikat, pernah mengajar di Johann Wolfgang Goethe Universitat di Frankfurt, Jerman.

Sudah pasti kemampuan berbahasa Inggris Prof. Harimurti tak diragukan lagi. Beliau juga ahli Bahasa Jawa, termasuk Jawa Kuna yang sudah nyaris tidak dipakai lagi saat ini.

"Kalau kita sampai di lapangan terbang Pangkalpinang, Bangka, akan tampak papan bertulisan besar-besar WELCOME, seolah-olah kita tiba di negeri Inggris atau Amerika saja."

Bukan hanya itu. "Di Stasiun Gambir Jakarta tampak pada kita huruf besar-besar STASIUN KERETA API dan di bawahnya tertulis RAILWAY STATION, juga terdapat tanda-tanda lain dengan dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Seakan-akan negara Republik Indonesia adalah negara yang dwibahasa (bilingual)."

Saya baru saja "menemukan" buku FUNGSI BAHASA DAN SIKAP BAHASA karya Harimurti Kridalaksana, Penerbit Nusa Indah, Ende Flores, 1974, 161 halaman, di kios buku bekas, Jalan Semarang Surabaya, Oktober 2009. Saya membaca dengan penuh minat 21 artikel yang ditulis Harimurti Kridalaksana, lahir di Ungaran pada 1939.

Beliau salah satu pakar bahasa yang saya panuti sejak saya masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP) di Larantuka, Flores Timur. Dulu, saya membeli buku karyanya, KAMUS SINONIM BAHASA INDONESIA, untuk keperluan mengisi teka-teki silang di koran dan majalah. Hasilnya memang bagus. Kamus sinonim itu kemudian terbukti memperkaya kosa kata saya yang dulu memang sangat terbatas.

Tak terasa kegundahan Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana ini sudah berlangsung 36 tahun. Tiga puluh enam tahun! Tapi rasanya masih aktual, relevan, sampai hari ini di tahun 2009. Ketika melintas di jalan layang Wonokromo, Surabaya, kita akan menemukan tulisan besar-besar KEEP YOUR CITY CLEAN. Sama persis dengan yang dilihat Pak Harimurti pada 1973 di Samarinda. Yang di Surabaya ini tidak ada terjemahan Bahasa Indonesia.

Kondisi kebahasaan di Surabaya -- dan Indonesia umumnya -- memang makin "maju dan Inggris". Simak tulisan di pusat-pusat belanja. Wow, penuh dengan kata-kata Inggris. Nama-nama perumahan juga begitu. Nama-nama acara di stasiun Metro TV juga beringgris ria meskipun isinya berbahasa Indonesia. Spanduk-spanduk di jalan raya, reklame, iklan-iklan... tak lengkap kalau tidak mencomot kata, frase, atau kalimat Inggris.

Bahkan, beberapa warung sederhana di Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, dekat tempat tinggal saya pun jor-joran Inggris. Sayang, ejaannya kurang tepat karena si tukang warung rupanya tidak sempat membuka kamus. Tulisan di warung itu: SEDIA CHAINESE FOOD! Wong Jowo sing kemelondo, tapi kebacut! Juancuuuk! Hehehehe.....

Bahasa Inggris, harus diakui, memang makin digdaya, makin mendunia. Menjadi bahasa pergaulan internasional. Tapi haruskah kita menghancurkan bahasa kita sendiri dengan sikap "kemelondo" macam begini?

"Ini terjadi karena PROSES KOMUNIKASI SOSIAL TIDAK DIPAHAMI dan karena NILAI-NILAI KEBUDAYAAN BANGSA SENDIRI TIDAK DIHARGAI," tulis Prof. Harimurti Kridalaksana.

"Jangan salah, Bung! Turis asing, ekspatriat, makin banyak yang datang ke negara kita. Wajarlah kalau kita menggunakan Bahasa Inggris yang dipahami mereka? Bukankah kita sudah jadi warga dunia?" sergah seorang teman di Surabaya yang kalimat-kalimat lisannya selalu bercampur Inggris.

Jangan salah! Turis-turis atau orang asing itu juga pasti sedikit-sedikit sudah (dan sedang) belajar Bahasa Indonesia karena dia berada di Indonesia. Bumi dipijak langit dijunjung, bukan? Mengapa bukan si turis itu yang belajar bahasa kita? Mengapa kita yang terlalu "mengalah" dengan mendahulukan "bahasa turis" yang belum tentu sehari-hari berbahasa Inggris?

Ingat, turis yang ke sini itu banyak juga yang dari Tiongkok, Taiwan, Korea, Spanyol, Portugis, Amerika Latin, Timur Tengah, yang tidak berbahasa Inggris. Mengapa tidak sekalian menulis juga pesan-pesan dalam bahasa asing selain Inggris?

"Kalau di Swiss, semua pesan di ruang publik ditulis dalam tiga bahasa: Prancis, Jerman, Italia. Sebab, masyarakat Swiss memang menggunakan tiga bahasa itu," ujar teman saya, Nasrullah, yang bermukim di Jenewa, Swiss.

Orang Swiss, meski negaranya menjadi pusat sejumlah lembaga internasional, ternyata tidak sok Inggris seperti orang Indonesia. Nasrullah "dipaksa" berbahasa Prancis meskipun kemampuan berbahasa Inggris orang Swiss rata-rata lebih bagus daripada orang Indonesia. Di Taiwan atau Hongkong, para pekerja asal Indonesia pun "dipaksa" berbahasa Putonghua (Mandarin). Hasilnya: kurang dari enam bulan pekerja-pekerja Indonesia alias TKI itu bisa berkomunikasi dalam bahasa Mandarin.

"Awalnya terasa sulit sekali karena ucapan Mandarin itu membedakan arti. Tapi, alhamdulillah, dalam waktu singkat aku bisa memahami. Wong tiap hari majikan aku bicara Mandarin," ujar Siti Mualimah, bekas TKI di Taiwan, yang pernah mengajar saya Bahasa Mandarin.

Kembali ke Prof. Harimurti Kridalaksana. Tokoh yang ikut menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang menguasai banyak bahasa asing ini, menilai penggunaan Bahasa Inggris untuk papan-papan nama, reklame, dan lain-lain ini tidak menolong orang asing untuk belajar Bahasa Indonesia.

"Sekarang ini tidak sedikit orang di luar negeri yang berusaha belajar Bahasa Indonesia dengan harapan supaya bahasa itu dapat dipergunakan bila mereka datang di Indonesia. Usaha itu pasti dirasakan sia-sia karena ternyata mereka tidak usah mempergunakan Bahasa Indonesia di Indonesia," tulis Prof. Harimurti Kridalaksana.

09 October 2009

Solomon Tong terbitkan memoar



Pada 20 Oktober mendatang, Solomon Tong genap berusia 70 tahun. Momen istimewa ini ditandai pemimpin Surabaya Symphony Orchestra (SSO) itu dengan penerbitan memoar.

Solomon menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku dari Tiongkok, hijrah ke Surabaya, masa kecil, hingga pahit getirnya hidup bersama mama tercinta, mendiang Tan Tjien Nio.

"Saya lahir pada tanggal 29 bulan ke-10 kalender tani (Imlek) tahun 1939. Namun, sewaktu mendarat di Surabaya dari Tiongkok pada Juli 1949, di kantor Imigrasi tertera tanggal 20 Oktober 1939. Maka, sejak itulah tanggal kelahiranku menjadi 20 Oktober 1939," ujar Solomon Tong.

Menurut rencana, memoar Solomon Tong itu akan diterbitkan JP Books, penerbit buku milik Grup Jawa Pos. Setelah melalui proses penyuntingan, naskah karya Solomon Tong ini sedang dalam proses pencetakan. "Insyaallah, dalam waktu dekat sudah terbit, sebagai hadiah ulang tahun untuk Bapak Solomon Tong," kata Djoko Pitono, editor JP Books, Sabtu (10/10/2009).

Tong Tjong An, nama asli Solomon Tong, dilahirkan di di Gu Lang Yu, Xiamen, Provinsi Fujian, Republik Rakyat Tiongkok. Saat itu awal Perang Dunia II di mana Tiongkok memobilisasi dan merekrut para pemuda untuk ikut berperang menghadapi tentara Jepang. Ayah Solomon, Tong Pai Hu, akhirnya pindah ke Pulau Gu Lang Yu.

"Nah, pada saat pengungsian itulah, aku lahir di sebuah rumah bersalin swasta yang kecil. Setelah keadaan memungkinkan, baru saya dibawa kembali ke Xiamen," kenang Solomon Tong.

Sebetulnya, enam tahun lalu Solomon sudah berencana menulis buku memoar atau otobiografi. Namun, karena bahannya belum siap, ditambah kesibukan Tong mengurus SSO, rencana itu tertunda. Di sela kesibukannya, Tong melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk menelusuri sejarah marga Tong. Dia sempat mendapatkan sejarah marga Tong dalam tulisan Mandarin kuno.

"Banyak karakternya yang sudah kabur dan sulit dimengerti. Saya berusaha menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin biasa. Usaha ini tidak maksimal, sampai Januari 2009 yang lalu, saya menghadiri pemakaman kakakku tertua di Hongkong. Nah, saya berhasil mendapatkan cetakan yang jelas. Itu yang saya pakai sebagai pelengkap memoar saya," paparnya.

Sejak usia 13 tahun Solomon menekuni musik klasik. Awalnya, dia ikut paduan suara gereja, paduan suara sekolah, ikut konser, hingga mendirikan berbagai paduan suara dan SSO. Artinya, selama 56 tahun Solomon konsisten memilih musik sebagai ladang pengabdiannya.

"Namun, saya tidak merasa lelah atau patah semangat. Sebab, Tuhan yang mahapengasih telah menghidupkan aku dan keluargaku melalui anugerah dan mujizat-Nya sampai hari ini," tegasnya. (rek)

08 October 2009

Herman Hartanto bos Tanto Line




Oleh Dahlan Iskan
Sumber:  Jawa Pos 8 Oktober 2009

Salah satu perusahaan yang di masa sulit pun masih bisa terus berkembang adalah yang satu ini: Tanto Line. Yakni, sebuah perusahaan milik Herman Hartanto, warga kebanggaan Surabaya, yang bergerak di bidang pelayaran/perkapalan.

Sebagai orang Hokkian yang bermarga Tan, maka di bagian belakang nama Indonesianya tertulis Hartanto. Bahkan, nama perusahaannya itu pun tidak lepas dari nama marganya dan nama belakang Indonesianya.

Di Surabaya memang ada tiga perusahaan pelayaran yang sangat besar. Yakni Spil, Meratus, dan Tanto. Sulit menilai siapa di antara tiga itu yang terbesar. Tiga-tiganya saya kenal dengan baik. Setiap saya tanya siapa di antara mereka yang terbesar tidak pernah ada yang menepuk dada. Yang satu selalu menyebut yang lain sebagai yang lebih besar. "Kami ini kecil, Pak," ujar Herman Hartanto saat kebetulan bersama-sama terbang ke Hongkong Rabu kemarin (7/10).

Demikian juga Soegeng Hendarto (Huang Dji Tju), si pemilik Spil, mengatakan dirinya masih kecil. Ketua marga Huang Indonesia itu bukan main rendah hatinya. Sikap yang sama juga ditunjukkan pemilik Meratus, Menaro, sampai ke anaknya yang memegang kendali perusahaan sekarang, Charles Menaro. Bahkan, orang seperti mendiang Menaro bukan saja mengaku kecil, melainkan seumur hidupnya tidak pernah naik pesawat di kelas bisnis.

Yang jelas, tiga-tiganya kini masih terus berkembang. Armada kapal mereka masih terus bertambah. Tanto sendiri dalam perjalanannya ke Hongkong kali ini harus mengajak banyak anak buah. Mengapa? Tanto baru saja membeli kapal tambahan. Anak buahnya itulah yang akan membawa kapal tersebut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Itu adalah kapalnya yang ke-39. Dalam enam bulan terakhir ini saja, Tanto sudah menambah 12 kapal di jajaran armadanya.

"Ini perusahaan jasa. Kami harus terus-menerus meningkatkan servis. Antara lain dengan harus terus menambah kapal," ujar Tanto, merendah. Kapal-kapal yang lama, di samping sudah mulai tua, juga tidak bisa mencukupi keinginan pelanggan yang terus meningkat. Pelanggan menginginkan Tanto Line punya kian banyak tujuan. Itu berarti diperlukan kian banyak kapal.

Herman Hartanto membangun Tanto Line atas usahanya sendiri. Sejak remaja, dia sudah memisahkan diri dari orang tuanya di Medan. "Umur 16 tahun kami bersama empat teman sebaya pergi ke Jakarta," kisah Herman, mengenang masa kecilnya. Waktu itu dia tidak tahu Jakarta itu seperti apa. Tapi, sebagai remaja yang senang sepak bola, dia ingin melihat Asian Games di Jakarta. Itu berarti tahun 1962. Dia naik kapal Ambolombo yang kebetulan singgah di Medan dalam perjalanannya dari Jeddah ke Jakarta mengangkut jamaah haji.

"Tiba di Jakarta, kami kaget. Kok Jakarta ini hebat sekali. Besar sekali. Kami bingung mau ke mana dulu," ujarnya, mengenang. Tapi, sebagai remaja 16 tahun, mereka senang-senang saja. Mereka keliling Jakarta. Bahkan, kemudian mereka hanya bisa nonton Asian Games di televisi hitam putih karena karcis masuk stadion tergolong mahal bagi para remaja itu. Di Jakarta (juga Indonesia) saat Asian Games itulah pertama ada siaran televisi dan masih hitam putih.

Beberapa hari di Jakarta, masing-masing baru ingat bahwa kepergian mereka ke Jakarta itu belum diberitahukan kepada orang tuanya. Mereka pun segera ke kantor pos untuk kirim telegram. "Kami di Jakarta. Ingin nonton Asian Games." Begitu bunyi telegramnya. "Kami saat anak-anak memang sudah biasa tidak pulang. Tidur di rumah teman. Kalau tidak pulang 2-3 hari saja tidak akan dicari orang tua," kata Tanto.

Ternyata, itulah kepergiannya keluar dari Medan yang pertama dan tidak pernah kembali lagi. Dia hijrah dalam pengertian yang sebenarnya. Sekolahnya di kelas 1 SMA tidak dia teruskan. Di Jakarta, karena sudah tidak punya uang lagi, Herman lantas ikut famili temannya. Lalu pindah ikut orang lain. Akhirnya mulai ikut-ikutan bekerja di toko ban. Lalu kirim-kirim onderdil mobil. Pernah juga ikut kapal bea cukai ke Karimun. "Saat berada di Karimun, saya pergi naik perahu ke Singapura. Itulah pertama kalinya saya lihat Singapura," ujarnya. "Kesan saya ketika itu Jakarta jauh lebih hebat daripada Singapura. Jakarta sudah punya Jalan Thamrin yang hebat. Singapura masih seperti kota nelayan," katanya. Dia tidak mengira dalam sekian tahun kemudian, Singapura bisa seperti sekarang.

Setelah malang-melintang di usia pemudanya itu, akhirnya Tanto tahu bagaimana harus mulai usaha sendiri. Yakni usaha jasa pengiriman: ekspedisi. Karena sering kirim barang ke Surabaya, akhirnya dia pun memutuskan untuk menetap di Surabaya.

Lima tahun bekerja di perusahaan ekspedisi, Herman mulai berpikir kalau saja punya kapal sendiri akan bisa lebih untung. Tapi, membeli kapal belumlah waktunya. Dia cari akal bagaimana tidak punya uang, tapi bisa menguasai kapal. Maka, dia sewa kapal milik orang lain. Kebetulan, ada kapal milik Pemda Kalimantan Selatan (Kalsel) yang rusak. Kapal itu sudah tiga tahun tidak beroperasi. Mesinnya sudah hancur.

Herman berusaha memperbaiki kapal itu. Dari sini pula, Herman belajar mesin kapal. Juga belajar bagaimana mengelola kapal -yang kelak menjadi sangat berarti ketika sudah memiliki kapal sendiri. Meski dia bukan insinyur (tamat SMA pun tidak), dia punya kemauan keras untuk belajar. Dia banyak bertanya di bengkel-bengkel mesin. Bahkan, dia ikut menunggui ketika bengkel memperbaiki mesin. Lama-lama Herman mengerti mesin kapal. "Pengusaha kapal yang tidak mengerti mesin kapal sangat bahaya. Bisa dibohongi terus-menerus," katanya.

Usaha apa pun, kalau mau sukses, haruslah kerja keras, ulet, tidak mudah putus asa, dan memegang kepercayaan. Itulah juga prinsip kerja Herman. Bahkan, dia menilai bisnis di bidang perkapalan jauh lebih sulit daripada yang lain. "Kalau bisnis pabrik, begitu pabriknya dibuka, bisa jalan, tidak terlalu stres. Kerja kapal ini siang-malam harus deg-degan. Apalagi kalau ada telepon berdering. Langsung saja punya pikiran ada apa ini? Kapal tenggelam? Kandas? Bocor di tengah laut? Dan seterusnya," kisahnya. "Apalagi kalau dering teleponnya tengah malam di saat tidur nyenyak. Pasti deg-degan," ungkapnya.

Kini, di usianya yang 65 tahun, Tanto masih kelihatan antusias. Badannya yang langsing dan sehat membuat dirinya kelihatan lebih muda daripada umurnya. Sampai tahun 2009 ini, berarti sudah 38 tahun dia menggeluti bisnis perkapalannya itu. "Saya tidak pernah menyesali mengapa saya terjun ke bisnis kapal ini," ujarnya. "Memang banyak sekali kesulitan, tapi harus dihadapi. Kian sulit persoalan yang dihadapi kian menantang untuk diselesaikan," katanya.

Bagaimana soal latar belakang pendidikannya yang tidak tamat SMA? Dengan bergurau, Tanto mengatakan bahwa yang penting dirinya bisa melakukan tiga hal saja: bisa marah, bisa memerintah, dan bisa tanda tangan... ha ha ha.

Tiga perusahaan kapal (Spil, Meratus, dan Tanto) itu tentu menjadi kebanggaan Surabaya. Sebab, tiga perusahaan itu saja, di tambah banyak lagi perusahaan Surabaya lainnya, kalau disatukan sudah lebih besar daripada perusahaan serupa di Jakarta. Maka, kalau sampai sekarang Surabaya masih layak disebut sebagai Kota Maritim, antara lain, itu berkat jasa tiga perusahaan tersebut. Tanpa mereka, gelar Surabaya itu harus dicabut. (*)

06 October 2009

Gebu Minang Jawa Timur



Hidup jauh dari kampung halaman tak membuat masyarakat Minangkabau di Jawa Timur terpecah-belah. Sejak 1987 mereka mempunyai perkumpulan bernama Gebu Minang.

Gebu Minang sendiri merupakan gerakan ekonomi dan budaya masyarakat Sumatera Barat. Pada awal pendiriannya Gebu Minang memiliki arti Gerakan Seribu Minang. “Dulu memang Gebu Minang, ngumpulin uang untuk daerah tertinggal di Sumatera Barat,” ujar Erzalius selaku sekretaris ekskutif Gebu Minang Jawa Timur.

Komunitas ini memiliki kantor pusat di alan Kebonsari 64 Surabaya. Di situ ada rumah gadang yang khas. Saat ini, Oktober 2009, Gebu Minang memiliki 6.000 anggota yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

“Tiap bulan kami ngumpul di rumah gadang sini, tapi ya tidak semuanya,” papar Erzalius.

Hebatnya lagi, Gebu Minang di Jatim ini satu-satunya yang memiliki rumah gadang.

Sejak 1992, Gebu Minang tidak lagi mengirim bantuan lagi ke Ranah Minang. “Di sana pembangunan sudah bagus. Jadi, kami fokus dengan masyarakat Minang yang disini,” lanjutnya.

Meski berada di perantauan, masyarakat Minangkabau di Jatim tidak lupa pada saudaranya di Sumatera Barat. Rasa persaudaraan yang tinggi mendorong mereka untuk membantu korban gempa berkekuatan 7,6 SR yang mengguncang Suamtera Barat pada 30 September 2009.

Mereka membuka posko tanggap bencana di depan kantor pusat mereka. “Untuk yang di Posko Rumah Gadang ini, kita dapat Rp 30 juta,” ujar Erzalius. Itu semua belum yang sumbangan dari rekening yang dibuka.

Untuk memudahkan pengiriman, mereka bekerja sama dengan salah satu Ekspedisi di Tanjung Perak. "Kita dapat ekspedisi gratis, milik orang Padang juga.”

Tak hanya uang, mereka juga mengirim bantuan barang kepada korban gempa. Untuk itu, mereka mengirim beberapa anggotanya kesana, agar mudah berkoordinasi.


Gempa yang menerjang Padang dan sejumlah kota di Sumatera Barat memang benar-benar dahsyat. Ribuan bangunan hancur, korban tewas mendekati seribu orang. Kota Padang dan sekitarnya pun luluh lantak.

Begitu mendengar kabar gempa bumi di Sumatera Barat, keluarga besar Minangkabau di Surabaya langsung bergerak. "Bagaimanapun juga kami berasal dari Sumatera Barat sehingga punya ikatakan emosional dengan kampung halaman," jelas Prof Dr Taslim Irsyam, koordinator keluarga besar Minangkabau di Surabaya.

Prof Taslim dan kawan-kawan sepakat untuk berbuat sesuatu bagi Ranah Minang yang sedang dilanda bencana alam. Maka, dibentuklah posko bencana alam untuk menyalurkan sumbangan dari para donatur ke daerah bencana. "Ada tiga posko yang kita sediakan," ujar dosen ITS Surabaya ini.

Selain berkoordinasi dengan pemerintah daerah di Sumatera Barat, menurut Taslim, keluarga Minang juga bekerja sama dengan Pemkot Surabaya. Kebetulan Surabaya dan Padang punya hubungan sebagai sister city, sehingga memudahkan koordinasi.

"Pak Firdaus juga sudah berangkat ke Padang untuk melihat langsung kondisi lapangan, sekaligus berkoordinasi dengan Satkorlak di sana," ujar Taslim.

CONTACT PERSON

Prof. Dr. Taslim Irsyam 081 3307 31952, 031 5931078
Nomor lain: 081 832 8323, 081 837 7150

05 October 2009

Murphy Sembiring aktivis LSM peduli AIDS



Di sela kesibukannya sebagai dosen beberapa perguruan tinggi swasta di Surabaya, Murphy Josua Sembiring bergelut intensif dengan HIV/AIDS. Pria 47 tahun ini tercatat sebagai direktur Yayasan Program Sosial Pencegahan AIDS dan Narkoba (Prospana). Aktivitas di lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini bahkan sudah ditekuninya selama 16 tahun.

"Banyak orang tidak tahu kalau saya ini dosen. Di mana-mana saya dikenal sebagai orang LSM yang mengurus HIV/AIDS," ujar Murphy Sembiring yang ditemui Radar Surabaya di ruang kerjanya di kawasan Jl Arief Rachman Hakim 103 Surabaya, Jumat (2/10). Berikut petikan wawancara dengan peraih penghargaan Satria Bhakti Husada dari Menteri Kesehatan RI itu.


Oleh LAMBERTUS L HUREK
Sumber: Radar Surabaya, Minggu 4 Oktober 2009


Sejak kapan Anda berkecimpung di LSM peduli HIV/AIDS?

Sudah lama sekali, sejak 1993. Waktu itu isu HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome) masih relatif baru, sehingga masyarakat umumnya belum tahu banyak tentang HIV/AIDS. Saya bersama teman-teman turun langsung ke lapangan untuk menemui kalangan yang berisiko tinggi.

Waktu itu kabarnya banyak orang bikin LSM karena ada kucuran dana dari luar?

Memang, ada orang yang melihat LSM sebagai peluang untuk mencari nafkah atau sekadar coba-coba. Lama-kelamaan terjadi seleksi alam. Mereka yang benar-benar komit dengan persoalan HIV/AIDS, serius, yang bisa bertahan. Apalagi, lembaga-lembaga donor di luar negeri sangat ketat dalam mengaudit bantuan keuangan. Kalau dianggap tidak accountable, ya, selesai. Akuntabilitas itu nomor satu.

Donor asing itu sangat selektif dalam memberikan bantuan. Awalnya, dia ngasih sedikiiiit... semacam uji coba. Kalau dianggap bagus, ya, bantuan akan ditambah. Prospana dulu juga begitu. Saya mulai dari nol besar. Tapi, syukurlah, sampai sekarang masih bertahan meskipun pola operasional dan pendekatannya sudah berbeda. Situasinya sudah lain.

Sekarang berapa LSM yang bertahan di bidang HIV/AIDS di Surabaya?

Saya tidak punya data pasti. Tapi, yang jelas, kurang dari 20. Selain karena seleksi alam, sekarang ini sudah mulai banyak instansi yang secara konkret menyediakan layanan untuk ODHA (orang dalam HIV/AIDS, Red). RSU dr Soetomo Surabaya, misalnya, punya bagian khusus yang menangani ODHA. Situasinya sudah jauh lebih bagus ketimbang tahun 1980-an dan 1990-an. Waktu itu isu HIV/AIDS sepertinya hanya disuarakan oleh kalangan LSM. Dulu, masyarakat juga belum begitu yakin kalau HIV/AIDS itu ada di Indonesia.

Sekarang HIV/AIDS sudah benar-benar nyata di sekitar kita?

Memang. HIV/AIDS sudah menjadi hal yang biasa karena penderitanya memang semakin bertambah. Ada yang dari kalangan berisiko tinggi seperti PSK, pemakai narkoba, tapi juga masyarakat umum. Bahkan, anak-anak dan bayip pun bisa terkena. Penggunaan jarum suntik narkoba itu justru sangat rawan HIV/AIDS. Dari waktu ke waktu kita juga membaca berita tentang orang yang meninggal dunia karena HIV/AIDS.

Masyarakat kita sudah bisa menerima ODHA?

Nah, belum lama ini ada dua kejadian sekaligus di Rungkut, Surabaya. Warga setempat geger begitu mengetahui ada perempuan terkena HIV/AIDS. Mereka ramai-ramai mengusir perempuan itu karena takut ketularan. Di sinilah belum adanya pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS.

Kebetulan saya kenal dengan ketua RW. Saya diberi kesempatan untuk ceramah di depan warga. Saya sampaikan bahwa penularan HIV/AIDS itu tidak sama dengan penyakit biasa. Saya perlihatkan gambar dan foto ketika saya bersalaman dengan pasien HIV/AIDS. Baru setelah itu mereka bisa paham bagaimana seharusnya memperlakukan ODHA.

Yang kedua masih di Rungkut, perempuan juga, pun kasusnya sama. Begitu ketahuan menderita HIV/AIDS, warga bereaksi keras. Beberapa saat kemudian keduanya meninggal dunia. Nggak ada yang memandikan, nggak dikasih kain kafan, dan sebagainya. Ini semua karena masyarakat belum mendapat informasi yang benar tentang HIV/AIDS.

Artinya, peran LSM masih dibutuhkan?

Menurut saya, perlu. Kalau semua mau diserahkan kepada pemerintah, instansi lintas sektoral, tidak akan bisa jalan. Sebab, kasus HIV/AIDS ini perlu pendekatan dari hati ke hati. Langsung menyentuh ODHA. Dan itu biasanya lebih mudah dilakukan relawan-relawan LSM yang memang sudah biasa turun ke lapangan. Kalau sudah biasa pendekatan, maka ada trust, kepercayaan. Ingat, HIV/AIDS ini bukan penyakit biasa. Ada privasi yang harus dijaga. Ada rahasia-rahasia yang jangan sampai bocor ke mana-mana.

Saya pernah diminta sebuah lembaga asing bikin woro-woro di radio tentang tes HIV/AIDS gratis. Siapa yang merasa berisiko, silakan datang ke tempat tertentu. Kita kasih alamat lengkap, nomor telepon, petugas, dokter. Ternyata, tidak ada yang mau memeriksakan diri. Kenapa? Warga ragu-ragu apakah privasinya dilindungi. Nah, kalau LSM yang bergerak, hasilnya akan lain. Karena sudah saling mengenal, trust antara LSM dan ODHA itu lebih mudah terbangun.

Anda sudah pernah studi banding ke Thailand. Bagaimana penanganan HIV/AIDS di sana?

Wah, kalau Thailand memang jauh lebih bagus. Bahkan, selama ini dijadikan rujukan hampir semua negara di dunia. Thailand termasuk negara yang kasus HIV/AIDS-nya sangat banyak, sehingga menjadi concern utama pemerintah. Mereka kerja habis-habisan untuk menekan penyebaran HIV/AIDS. Dan itu dilakukan lintas sektoral. Pemerintah, masyarakat, tokoh agama, rumah sakit... semuanya bahu-membahu.

Bagaimana dengan LSM di Thailand?

Sangat profesional. Mereka yang mengelola dan aktif di LSM itu bukan orang-orang yang kurang kerjaan, penganggur, tapi punya pengetahuan dan skill luar biasa. Mereka belajar banyak, termasuk sekolah di luar negeri.

Saya terkesan dengan seorang tokoh LSM di Thailand. Ternyata, dia itu doktor, S-3, lulusan Inggris. Karena itu, omongannya selalu didengarkan oleh pemerintah dan masyarakat. Dia bisa bicara dengan enak di depan gubernur, bupati, pejabat tentang berbagai hal seputar HIV/AIDS. Tidak hanya bicara, tapi juga menunjukkan bukti konkret program-program yang sudah dilakukan LSM-nya.

Ke depan, saya kira, program penanggulangan HIV/AIDS ini akan lebih sukses jika ditangani oleh para ODHA sendiri. Mereka-mereka ini tentu lebih mudah melakukan pendekatan dengan komunitasnya. Thailand sekarang sudah begitu. Program-program di bidang HIV/AIDS sangat efektif karena ODHA-ODHA itu menjadi ujung tombak di lapangan. (*)


MURPHY JOSUA SEMBIRING

Lahir : Binjai, Sumatera Utara, 4 Februari 1962
Istri : Reni Rahayu
Anak : Geovani Carolina Sembiring, Gita Malinda Sembiring, Gareth Pindota Sembiring
Hobi :Tenis dan catur

PENDIDIKAN
SD Pancurbatu, Medan
SMP Kabanjahe, Sumatera Utara
SMAN Bandung
FE Universitas Cenderawasih, Papua
Pascasarjana Universitas Airlangga
Doktoral Universitas Airlangga (sedang berlangsung)

KARIR/ORGANISASI
- Dosen FE Unitomo Surabaya
- Direktur LSM Prospana Surabaya
- Koordinator Dosen Kopertis VII
- Staf Koalisi Jatim Sehat
- Majelis GKI Manyar Surabaya

Penghargaan :
Satria Bhakti Husada dari Menteri Kesehatan RI

Diprotes Narapidana

SELAIN kalangan pekerja seks, tukang pijat, dan pengguna narkoba, sejak 1990-an Yayasan Prospana aktif melakukan penyuluhan mengenai bahaya HIV/AIDS di penjara maupun rumah tahanan (rutan). Penjara-penjara besar seperti Rutan Medaeng atau LP Delta Sidoarjo pun didatangi Murphy Josua Sembiring bersama tim Prospana.

Menurut Murphy, direktur Yayasan Prospana, di dunia internasional para penghuni penjara (narapidana dan tahanan) dianggap sebagai kalangan berisiko tinggi terkena HIV/AIDS. Ini bisa dimaklumi karena para napi itu umumnya berlatar belakang 'gelap' alias orang-orang bermasalah.

Nah, di dalam penjara mereka bertemu dengan napi (eks) pengguna atau pengedar narkoba. Perilaku seks napi pun dianggap rawan HIV/AIDS. "Sudah menjadi rahasia umum kalau napi-napi itu suka bikin tato di tubuh dengan peralatan yang tidak steril. Tukang tato, ya, temannya sendiri juga,'' kata Murphy Sembiring, yang juga dosen Unitomo Surabaya itu.

''Tato sendiri sih sebenarnya nggak apa-apa asalkan cara pembuatannya steril. Kalau alatnya tidak steril, dipakai untuk orang banyak, sangat rawan,'' dia menambahkan.

Ketika memberikan penyuluhan di LP Delta Sidoarjo, ada napi yang protes. Alasannya, di dalam penjara mereka tidak mungkin berhubungan seks dengan pekerja seks. Bagaimana mungkin terkena HIV/AIDS? Murphy Sembiring merespons, yang namanya HIV/AIDS itu tidak hanya akibat hubungan seks antara pria dan wanita (heteroseksual), tapi juga sesama jenis.

Malah, belakangan ini pengidap HIV/AIDS itu banyak dari kalangan homoseksual. ''Kalau Anda melakukan sodomi, ya, risiko kena HIV/AIDS juga tinggi,'' Murphy menegaskan.

Berdasar data yang dihimpun LSM internasional, menurut ayah tiga anak ini, kasus HIV/AIDS dalam tahun-tahun terakhir kebanyakan berasal dari pengguna narkoba melalui injeksi alias jarum suntik. Karena itu, dia menekankan agar para napi tidak memakai silet, pisau cukur, sikat gigi, apalagi jarum suntik, secara gotong-royong. Barang-barang pribadi seharusnya tidak dipakai orang lain.

Akhir-akhir ini Murphy mengaku kecewa berat membaca berita tentang keberadaan narkoba di penjara atau rutan. Dia tak habis pikir mengapa sistem pengamanan yang berlapis-lapis di pejara bisa ditembus oleh mafia narkoba.

"Kalau faktanya seperti itu, kita mau bilang apa lagi? Pemerintah dan pihak-pihak terkait harus sangat serius memerangi narkoba. Sebab, narkoba dan HIV/AIDS punya kaitan sangat erat," katanya. (*)

Campursari itu musik apa?




Oleh MUSAFIR ISFANHARI
Dosen Musik Universitas Negeri Surabaya


Istilah campursari dikenal awal 1970-an, ketika RRI Stasiun Surabaya memperkenalkan acara baru, yaitu lagu-lagu yang diiringi musik paduan alat musik berskala nada pentatonis (tradisional Indonesia) dan berskala nada diatonis (Barat).

Tapi sesungguhnya, paduan antara musik tradisional Indonesia dengan musik Barat bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum campursari ada, banyak musisi kelas dunia yang sudah melakukannya, antara lain Claude Achille Debussy (komposer Perancis, 1862–1918), Bella Bartok komponis Hunggaria, 1881– 1945).

Lalu Colin Mc Phee (komponis Amerika 1930-an) membuat komposisi diberi judul “Tabuh-tabuhan”. Kemudian Wheeler Backet, pada 1960-an membuat satu komposisi paduan antara musik Indonesia dan Barat yang dipentaskan di Amerika Serikat. Wheeler menampilkan seperangkat gamelan diiringi orkestra. Judul komposisinya “The Dedication to Indonesia”.

Dari Indonesia ada F.A. Warsono (1960-an). Pada 1975, Guruh Soekarno Putra bersama grup Guruh Gipsy memerkenalkan paduan musik Bali dan musik Barat. Lagu-lagunya antara lain, Indonesia Mahardika, Barong Gundah, dan lain lain.
Tentu saja, campursari yang kita dengar sekarang berbeda dengan campursari 1970-an. Apalagi dengan campursarinya Debussy, Bartok, atau Mc Phee.

Campursari memang sedang mencari bentuk baku. Sejatinya, campursari adalah musik hybrida hasil perkawinan silang antara musik Barat dan musik tradisional Indonesia.

Ada baiknya kita memerhatikan Rumusan Ki Hajar Dewantara tentang Kebudayaan:

(1) lahir, tumbuh, berkembang, berbuah, sakit, tua, mundur dan akhirnya mati;

(2) Kawin dan berketurunan, kumpul tak bersatu, berasimilasi, manunggal melahirkan bentuk baru;

(3) Mengalami seleksi, yang kuat akan hidup, yang lemah akan mati; (4) Menyesuaikan dengan alam (kodrat) dan zaman (masyarakat).
Mengacu hal tersebut, Campursari masuk ketegori nomor 2 (dua) kawin dan berketurunan, manunggal melahirkan bentuk baru.

Sekarang, kita amati lebih jauh bezzeting (perlengkapan/peralatan) musik campursari. Peralatan campursari terdiri antara 12 sampai 15 instrumen, terbagi atas 5 sampai 6 instrumen diatonis (kibor I dan II, bass gitar, cuk/ukulele, cak/banyo dan drum set). Sisanya alat musik berskala nada pentonis, antara lain gender, kendang set, saron, peking, dan lain-lain.

Persoalannya kemudian, bagaimana memadu dua sistem tangga nada pentatonis jawa dengan diatonis barat yang berbeda sistem tangga nadanya itu?

TANGGA NADA PENTATONIS

Mari kita urai perbedaan kedua sistem tangganada tadi. Dalam musik tradisional Karawitan Jawa (pentatonis) yang terdiri dua tangganada/laras : pelog dan slendro (kira kira sama dengan mayor dan minor) satuan jaraknya disebut cent, jarak antara satu nada dengan nada yang lain disebut sruti (interval).

Dalam satu gembyang (sama dengan musik diatonis: satu oktaf) terdapat 1.200 cent, hal ini sama dengan satu oktaf juga berjarak 1.200 cent juga. Perbedaannya terletak pada pembagian sruti antara satu nada dengan nada yang lain.

Dalam sisttm tangga nada karawitan Jawa, baik pelog maupun slendro hanya berisi lima nada Yaitu 1 (ji) – 2 (ro) – 3 (lu) – 5 (mo)– 6 (nem) 1 (ji). Perbedaannya terletak pada srutinya. Untuk slendro mempunyai sruti yang sama besar, yaitu masing masing 240 cent. Sedang untuk pelog ada perbedaan jarak, besar dan kecil.

TANGGANADA DIATONIS

Sementara itu di tangga nada yang berskala nada diatonis mempunyai 1.200 cent juga, namun terdapat 12 nada (papan putih dan hitam) mempunyai interval/sruti yang sama, yaitu masing masing 100 cent. Perbedaan interval/sruti antara dua sistem tangga nada (pentatonis dan diatonis) ini berakibat Ketinggian nada ( pitch) juga berbeda, sehingga ketika dua nada dari dua sistim yang berbeda ini dipadukan/disatukan akan terdengar paduan bunyi yang disonan (paduan bunyi yang memberi kesan tidak tenang dan gelisah).

Hal inilah yang banyak dipersoal an kalangan musisi campursari.

PERBANDINGAN SKALA NADA


1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 5 (mo) 6 (nem)
Do Re Mi Fa Sol La Si

Dalam diagram di atas tampak jelas perbedaan ketinggian nada (pitch) antara satu sistem tangga nada. Inilah, (seperti yang sudah ditulis di atas) menjadi paduan bunyi yang disonan. Walau seorang teman saya pemusik kontemporer mengatakan, “Dalam musik kontemporer masalah disonan kan bukan sesuatu hal yang tabu”.

Lalu, bagaimana penyelesaiannya? Jalan keluar yang banyak dilakukan musisi campursari adalah melaras ulang instrumen karawitan menjadi berskala nada diatonis. Dengan demikian, bunyi instrumen karawitan akan menyatu dengan instrumen diatonis.

Tapi persoalannya tidak berhenti sampai di situ saja. Karena, hakikat musik sesungguhnya ada pada sistem tangga nadanya. Banyak kalangan musisi tradisi keberatan dengan pelarasan ulang alat musik karawitan yang berskala nada pentatonis menjadi diatonis. Karena ciri dari alat musik karawitan adalah sistem tangga nadanya.

Memang tone colour tetap berasa karawitan, tapi sudah tidak punya ‘jiwa’ dan ‘ruh’ karawitan. Ibarat gadis Eropa diberi pakaian tradisional Jawa, pakai jarit, pakai suweng, berselendang, rambut disanggul, namun ketika berjalan tak tampak gandes luwes-nya putri Jawa. Tak tampak juga (seperti yang ada disyair salah satu lagu langgam jawa : “Mlakune koyo macan luwe”).

Ini tentu PR bagi musisi campursari, bagaimana menyandingkan instrumen musik Barat dengan instrumen karawitan dengan tetap berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Masyarakat menunggu kreativitas musisi campursari. Karena ada kesan yang tidak bisa dihindari, ada sistem tangga nada yang dikalahkan dan ada sistem tangga nada yang dimenangkan.

02 October 2009

Tiongkok, Tionghoa, China, Cina




Oleh Prof. KONG YUANZHI
Guru Besar Sejarah di Universitas Beijing, Tiongkok

Presiden Soeharto yang telah berkuasa 32 tahun lebih akhirnya turun panggung pada tahun 1998 Mei 21. Seiring dengan makin mendalamnya gerakan demokrasi dan reformasi, politik diskriminasi terhadap orang Tionghoa di Indonesia juga mendapatkan perubahan. Berbagai partai politik, organisasi dan organ-media orang Tionghoa, berbondong-bondong mengajukan penggantian kembali sebutan CINA menjadi TIONGKOK dan TIONGHOA. Dan masalah tersebut telah menjadi perdebatan hangat didalam masyarakat.

Sebenarnya yang mana lebih tepat: TIONGKOK atau CINA?

Sebutan Zhong Hua Ren Min Gong He Guo menjadi Republik Rakyat Tiongkok atau Republik Rakyat Cina? Lalu, sebutan Keturunan Tionghoa atau Keturunan Cina bagi Hua Yi di Indonesia? Di mana makna Cina yang mengandung penghinaan itu sesungguhnya?

Yang pasti, sebutan yang tepat terhadap satu negara, Tiongkok atau Cina adalah masalah kehormatan, begitu juga sebutan terhadap orang Hua di Indonesia menjadi orang Tionghoa atau orang Cina adalah masalah kehormatan bagi mereka. Tiongkok dan berbagai lapisan rakyat di Indonesia sangat memperhatikan masalah-masalah sensitif ini, masalah wajar yang terjadi dalam hubungan perasaan sesama manusia.


Izinkanlah saya mengajukan pendapat-pendapat pribadi saya mengenai masalah ini.

1. Asal-usul sebutan TIONGKOK dan CINA.

Kalau kita usut sebutan Tiongkok dari Dinasti Shang, di mana ketika itu daratan Tiongkok terpecah jadi banyak negara-negara atau kerajaan kecil, sebentar tunduk, sebentar mengkhianati Kerajaan Shang. Ketika Dinasti Shang menguasai wilayah di tengah-tengah kerajaan yang berada di sebelah Timur, Barat, Utara dan Selatan, maka negara kerajaan ini disebut Tiongkok (Zhong Guo dalam lafal bahasa daerah Hokian, yang juga berarti Negara-Tengah).

Sebenarnya, kalau diteliti lebih jauh, istilah Tiongkok sudah muncul di dalam Kumpulan Sajak Kuno zaman kerajaan Zhou. Kerajaan Zhou Barat menyatakan daratan dan kerajaan di tengah sebagai Tiongkok, yang merupakan daerah sentral dan pusat kebudayaan. Begitulah kemudian setelah makin bersatunya bangsa Tionghoa menggunakan sebutan Tiongkok sampai saat kini.

Sedangkan istilah China yang biasa disebutkan orang asing pada Tiongkok sebenarnya adalah netral saja. Sebagaimana penulis pernah menyatakan, jauh pada pertengahan abad ketujuh, seorang Biksu Zheng (Pendeta Budha) ternama Tiongkok ke India Melawat ke Barat, menyatakan orang India menyebut Tiongkok sebagai Moko China.

Di dalam Riwayat Biksu Chi Shi juga tercatat dengan menjelaskan China sebagai Kebudayaan China. Didalam Kumpulan Istilah Terjemahan dari Song She Fa Wen, disebut China sebagai satu negara budaya.

Yang memuji negera tersebut sebagai tempat mendapatkan baju-pakaian. Hingga kini, Biksu Sumansu berpendapat, "Istilah China bukan berasal dari bunyi dinasti ˉQinˇ, karena dalam sajak kuno India ˉMokoborotoˇ sudah menyebutkan panggilan hina itu. Berdasarkan buku dari India dimasa dinasti Boroto, yaitu dimasa dinasti Shang di Tiongkok pada tahun 1400 Sebelum Masehi, sudah digunakan istilah China. Dengan demikian jelas, bahwa China tidak ada hubungan dengan Qin, juga tidak mungkin lebih dahulu adanya zaman porselen, baru muncul sebutan China sebagai Tiongkok. Sementara orang beranggapan China muncul dari istilah Jing, yaitu Negara Chu.

Pada saat Jenderal Zhuang meresmikan dirinya sebagai raja negara Chu di abad 4 Sebelum Masehi. Ketika itu di dalam tulisan-tulisan di India, Persia dan Eropah sudah muncul sebeutan China untuk Tiongkok. Sedangkan berdasarkan Encyclopedia terbitan terbaru, menyatakan China berasal dari bunyi Qin dinasti. Dan Encyclopedia ini secara sepintas menyatakan ucapan Biksu Zheng Yi Jing dari dinasti Tang bahwa orang barat menyebutkan negara Tang sebagai China. Sementara pelajar di luar negeri juga tidak setuju menyatakan bahwa China berasal dari bunyi Qin dinasti.

Pada saat ini sebutan dunia barat pada Tiongkok, sebagaimana seorang Profesor bahasa Latin menyatakan: ¨istilah ˉZhong Guoˇ didalam bahasa Inggris menjadi ˉChinaˇ, bahasa Perancis menjadi ˉChineˇ, bahasa Jerman menjadi ˉChinaˇ adalah perubahan dari bahasa Latin ˉCinaˇ.

Di Jepang, istilah China baru muncul sekitar pertengahan jaman Dinasti Ming. ¨Ditahun 1895, Jepang dari Persetujuan ˉMaKwanˇ mendapatkan 200 juta gr Emas dan Pulau Taiwan. Ketika itu orang Jepang berteriak girang: Jepang menang! China kalah!

Dengan demikian, sejak saat itu mulailah dari menghormati Tiongkok menjadi memandang rendah dan menghina. Dari peperangan itulah, Jepang menyebut Tiongkok yang semula Morokoshi Kara menjadi China. Tiongkok sebagai negara kalah perang didalam perang Tiongkok-Jepang (1894 – 1895). Dan sebagai penyelidik jalan menuju negara perkasa, serombongan pemuda Tionghoa belajar ke Jepang. ¨Di antara orang Tionghoa ketika itu, tidak sedikit yang merasa istilah ˉnegara Qingˇ mengandung arti negara asing menguasai Tiongkok, maka sangat “membencinya". Misalnya, Liang Qi Chau dan Huang Xing adalah yang berpendapat demikian.

2. Tiongkok, Tionghoa, dan Cina dalam sejarah Indonesia.

Perkembangan Bahasa Indonesia berasal dan berdasarkan bahasa Melayu. Didalam karya sastra klasik bahasa Melayu, seperti ¨Riwayat Hang Tuah dan ¨Peringatan Melayu di abad 17 sudah menyebut Tiongkok sebagai Cina. Dan disini tidak ada pengertian menghina, begitulah di Malaya dari dahulu sampai sekarang menyebut Tiongkok dengan Cina. Sebelum abad 20, di Indonesia juga menyebut Cina pada Tiongkok.

Seiring dengan perkembangan gerakan nasional Indonesia, ditahun 1900 orang Tionghoa di Indonesia mendirikan ¨Tionghoa Hui Kwan. Dan ditahun itu juga membangun sekolah-sekolah Tionghoa. Pengenalan Hoakiao terhadap tanah leluhurnya makin dalam dan hubungannya juga makin rapat, ¨dari sebelumnya menyebut Cina sebagai Zhong Guo, dan orang Cina sebagai orang Tiongkok, kemudian dirubah menjadi Tiongkok untuk negara dan Tionghoa untuk sebutan orang.

Pada tahun 1897, perantau Jepang di Indonesia mendapatkan hak yang sama dengan orang Eropah, ini tentunya sehubungan dengan kuatnya negara Jepang. Hal ini telah membangkitkan kesadaran nasioanal Huakiao. Tahun 1910 pemerintah kolonial Belanda menentukan 3 tingkat warga dalam undang-undang kewarganegaraan: Warga klas-1 adalah orang Eropah (Termasuk orang Jepang); Warga klas-2 adalah orang asing Timur (Terutama orang Tionghoa) dan warga klas-3 adalah orang Indonesia, yang disebut pribumi. Inilah manifestasi politik ¨Perpecahan yang dilakukan kolonial Belanda. Penguasa kolonial Belanda menggunakan istilah Cina untuk menghina para Huakiao, oleh karenanya membuat mayoritas Huakiao sangat jengkel dengan sebutan tersebut.

Sun Yat Sen pada tahun 1905 di Tokio mendirikan Perserikatan Tiongkok, yang menentukan program ¨Pengguntingan kuncir, pemulihan Tionghoa, mendirikan nasion yang mempunyai hak sederajat. Dan di tahun 1911 dibawah pimpinan Sun Yat Sen, revolusi Sing-hai menggulingkan dinasti feodal Qing, mendirikan Republik Tiongkok, dan setelah itu Huakiao di Indonesia menyebut dirinya sebagai orang Tiongkok, menggantikan istilah Cina dengan Tiongkok untuk sebutan negara dan ¨Tionghoa untuk sebutan orang, sebagai satu sikap memperlakukan ¨hasil kemenangan revolusi Rakyat Tiongkok. Dengan demikian memastikan bahwa istilah Cina adalah bermakna penghinaan yang tidak seharusnya digunakan lagi.

Anggaran dasar Tionghoa Hui Kwan pada tahun 1928 juga secara resmi merubah Cina jadi ¨Tionghoa. Dan pada tahun itu juga, Gubernur Belanda juga secara resmi menggunakan istilah Tiongkok dan ¨Tionghoa.

Sejak saat itu, tokoh-tokoh perjuangan nasionalis melawan penjajah Belanda seperti Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, Tjokroaminoto, Sutomo dan Sukarno dll. Semua juga sudah menggunakan sebutan Tiongkok dan ¨Tionghoa. Tidak lagi menggunakan istilah Cina.

Sejak Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan ditahun 1945 sampai sebelum peristiwa G30S 1965, pemerintah Indonesia tegas dalam pendirian ini. Termasuk press-media seluruhnya menggunakan Republik Rakyat Tiongkok, tidak satu pun yang menggunakan Republik Rakyat Cina dan tidak menyatakan orang Tiongkok sebagai orang Cina.

Perlu ditekankan di sini, pada saat pembukaan hubungan diplomatik Tiongkok-Indonesia di tahun 1950, di dalam dokomen resmi yang ditandatangi kedua belah pihak juga menggunakan Republik Rakyat Tiongkok untuk sebutan Zhong Hua Ren Min Gong He Guo, dan selanjutnya pihak pemerintah Indonesia dalam hubungan surat resmi juga menggunakan istilah Tiongkok untuk Zhong Guo dan Tionghoa untuk Zhong Hua, sebagai sebutan pada Zhong Guo untuk negara dan orang Tionghoa untuk orang Hua (Hua Ren).

Jadi jelas, setelah memasuki abad 20 ini, istilah Cina yang mengandung makna menghina itu sudah tidak digunakan lagi dan yang jelas sangat menyakiti hati para Huakiao itu bisa dimengerti secara baik oleh suku-suku lainnya.

Perlu juga diingat, selama Puluhan tahun itu, Pemerintah Indonesia tetap saja selalu menyatakan mentaati Undang-Undang Dasar 1945. Sedang ayat-pertama Pasal 10 ¨Warganegara, jelas menyatakan orang Tionghoa yang lahir di Indonesia sebagai peranakan Tionghoa, dan tidak menggunakan istilah Cina.

3. Pemerintah Soeharto mengganti Tiongkok dan ¨Tionghoa jadi Cina.

Tak lama setelah meletus peristiwa ¨G30S, di Indonesia terjadi arus anti Tiongkok dan anti Tionghoa. Tidak hanya di suratkabar, bahkan di tembok kedutaan Tiongkok di Jakarta juga dicoret ¨Ganyang Cina dll semboyan anti Tiongkok dan anti Tionghoa.

Seminar Angkatan Darat ke-2 yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1966 Agustus 25--31, wakil panglima AD Panggabean dalam laporan kesimpulan Seminar pada Suharto — pimpinan Kabinet menyatakan:

"Demi memulihkan dan keseragaman penggunaan istilah dan bahasa yang dipakai secara umum diluar dan dalam negeri terhadap sebutan negara dan warganya, dan terutama menghilangkan rasa rendah-diri rakyat negeri kita, sekaligus juga untuk menghilangkan segolongan warga negeri kita yang superior, kami melaporkan pada yang mulia, keputusan Seminar untuk memulihkan penggunaan istilah ¨Republik Rakyat Tjina (ZhiNa Ren Min Gong He Guo) dan ¨warganegara Tjina (ZhiNa Gong Min), sebagai ganti sebutan ¨Republik Rakyat Tiongkok dan warganya.

Dari segi pandang sejarah dan masyarakat, keputusan tersebut adalah tepat. (Setelah penggunaan ejaan baru, Tjina berubah jadi Cina) Bersamaan dengan itu, salah seorang peserta Seminar Letjen Soemitro, didepan pertemuan dengan wartawan mengumumkan Republik Rakyat Tiongkok sebagai Neokolonialisme  salahsatu negara imperialis, yaitu Tjinkolim (Tjina Kolonialisme-imperialisme).

25 Juli 1967, Presidium Kabinet mensahkan keputusan Seminar Angkatan Darat untuk menggunakan istilah Cina sebagai ganti istilah Tiongkok dan ¨Tionghoa. ¨Presidum Kabinet setelah mempertimbangkan sejarah penggunaan istilah ˉCinaˇ dan sebagai istilah yang disenangi rakyat Indonesia, menyatakan keputusan yang dianjurkan Seminar Angkatan Darat adalah tepat. Kemudian juga dinyatakan, ¨Pernyataan tersebut adalah untuk menyatukan bahasa dan peningkatan efisiensi, menghindari adanya dualisme dalam penggunaan bahasa didalam aparat negara. Dengan demikian, secara resmi pemerintah Indonesia menggunakan istilah Cina untuk menggantikan Tiongkok dan ¨Tionghoa.

4. Reaksi dengan digunakannya istilah Cina

* Reaksi Pemerintah Tiongkok

Sejak akhir Agustus 1966, setelah wakil panglima AD melaporkan keputusan pada Soeharto untuk mengganti nama Republik Rakyat Tiongkok, pengumuman resmi pemerintah, siaran Radio-TV dan suratkabar berturut-turut merubah sebutan Republik Rakyat Tiongkok menjadi ¨Republik Rakyat Tjina dan menyebut warga Tionghoa menjadi ¨warga Tjina.

Pembicaraan Pejabat Menteri Luar Negeri Diah, didepan konfrensi-press 20 September dan Pernyataan Menteri Luar Negeri 23 September mengenai pengiriman kapal dari Tiongkok untuk mengangkut Huakiao yang dipersekusi, telah mulai menggunakan istilah Cina tersebut. Untuk itu, pihak Tiongkok melalui ¨Harian Rakyat pada 27 Oktober menyiarkan editorial:

¨Perubahan sepihak pemerintah Indonesia atas sebutan nama negara Tiongkok, adalah penghinaan besar terhadap Rakyat Tiongkok, dan Rakyat Tiongkok menyatakan ¨sangat marah atas sikap pemerintah Indonesia yang tidak bersahabat tersebut.

Editorial lebih lanjut menyatakan: ¨Umum sudah mengetahui bahwa ˉCinaˇ ketika Indonesia pada masa dikuasai oleh kaum imperialis dan kolonialis, adalah istilah yang digunakan untuk menghina rakyat Tiongkok.

Dan oleh karenanya, pemerintah Tiongkok telah mengajukan protes berulang kali atas penggantian istilah nama negara secara sepihak oleh pemerintah Indonesia. 28 Pebruari 1967 Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, mengundang Duta Besar Tiongkok untuk menghadiri pembukaan ¨Sidang Istimewa MPRS, secara gegabah merubah Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Tiongkok.

Setelah diprotes dengan keras, pihak pimpinan MPRS pada tanggal 3 Maret sekali lagi melempar undangan dengan merubah nama Republik Rakyat Tiongkok menjadi ¨Republik Rakyat Tjina. Untuk itu, sekali lagi pihak Duta Besar kami secara tegas dan keras protes terhadap sikap pemerintah Indonesia tersebut.

14 Mei tahun yang sama, pihak kementerian luar negeri Indonesia mengirim surat resmi pada Duta Besar kami, sekali lagi merubah nama negara Republik Rakyat Tiongkok menjadi ¨Repblik Rakyat Tjina, dan Duta Besar kami untuk kesekian kalinya mengajukan protes sekeras-kerasnya. Menyatakan tindakan pemerintah Indonesia demikian itu adalah satu penghinaan dan provokasi yang serius terhadap Republik Rakyat Tiongkok.

Pada tanggal 4 Desember 1989, delegasi Tiongkok yang dipimpin oleh wakil Menlu Shu Guo Xin tiba di Jakarta, untuk memperbincangkan masalah teknis normalisasi hubungan diplomatik kedua negara. Berdasarkan yang disiarkan ssurat kabar di Indonesia, dalam perbincangan kedua negara, pihak Tiongkok tegas mempertahankan sebutan Republik Rakyat Tiongkok dan bukan Republik Rakyat Cina, karena istilah Cina mengandung pengertian menghina. Tapi pihak pemerintah Indonesia bertahan dan berpendapat masalah istilah ini diluar agenda yang diperbincangkan.

Secara tegas dan keras mempertahankan penyatuan dan keseragaman istilah yang digunakan internasional adalah satu pendirian ilmiah yang tepat.

Pada tahun 1994, ketika Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, J. Juwana mengunjungi Universitas BeiJing mengungkap peristiwa yang terjadi: Pada saat beliau menyerahkan Surat Kuasa Negara pada Presiden Tiongkok, surat kuasa semula menggunakan sebutan Cina. Kontan saja Pemerintah Tiongkok menolak dan mengembalikan surat kuasa itu. Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok terpaksa mengirim kembali Suarat Kuasa itu ke Jakarta, untuk merubahnya dengan ejaan bahasa Inggris China dalam sebutan Tiongkok, barulah surat kuasa itu diterima.

Majalah ¨Indonesia dan Asian (No-111, Juli 2000) dalam reportase wawancara dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Chen Shi Qiu mengenai masalah Cina, Duta Chen secara tegas menandaskan: Kebencian rakyat Tiongkok terhadap sebutan Cina ada sebab sejarahnya. Rakyat Tiongkok mendengar sebutan Cina menjadi terkenang pengalaman pahit yang terhina dan tersiksa yang dialaminya selama penjajahan imperialis-Jepang. Sebutan Cina sangat melukai perasaan rakyat Tiongkok.

Sebelum tahun 1967, di Indonesia selalu menggunakan sebutan Tiongkok, begitu juga bahasa yang digunakan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Tapi, setelah dikeluarkannya Ketetapan Presiden dan Presidium Kabinet ditahun 1967, merubah sebutan Tiongkok jadi Cina. Sudah tentu ini adalah tindakan yang sangat tidak bersahabat terhadap Tiongkok.

Pada saat normalisasi hubungan diplomatik kedua negara ditahun 1990, kedua belah pihak juga sudah mencapai kesepakatan resmi, semua dokumen pemerintahan Indonesia menggunakan sebutan China untuk Tiongkok, dan tidak lagi menggunakan Cina. Tetap sangat disesalkan, sampai saat kini masih saja sementara aparat pemerintah dan suratkabar tertentu tetap saja menggunakan sebutan Cina. Kami sangat mengaharapkan mereka bisa bertolak atas dasar menghormati perasaan Rakyat Tiongkok, memperbaiki sebutan yang salah itu, dan dengan demikian bisa memainkan peranan secara aktif meningkatkan persahabatan rakyat kedua negara.

* Reaksi orang Tionghoa di rantau.

Orang-orang Tionghoa kelahiran Indonesia sebelum tahun 60 abad 20, umumnya mengerti adanya perbedaan makna dari dua sebutan Tiongkok dan Cina itu, bahkan mereka merasakan sendiri kepahitan sejarah ketika itu.

Seorang pelajar Leo Suryadinata (Liao Jian Yi) di Singapore menyatakan: Sebutan Cina bagi orang Tionghoa kelahiran Indonesia adalah mengandung arti penghinaan. Juga pelajar Indonesia, Li Tik Tjing menyatakan:

"Di Asia Tenggara, terutama bagi peranakan Tionghoa dan Hakiao di Indonesia, setelah mereka berhubungan dengan bangsa Melayu, merasa terhina kalau mereka menyebutkan ˉCinaˇ untuk Tiongkok dan Tionghoa. Li Tik Tjing pada tahun 1988 di majalah Vista No27, ketika menjawab pertanyaan wartawan, juga tetap mempertahankan pendapatnya sampai saat kini didalam bahasa Indonesia ˉCinaˇ bermakna penghinaan. Kami berpendapat, yang dimaksud orang Tionghoa kelahiran Indonesia (baik peranakan Tionghoa maupun Huakiao) oleh Leo Suryadinata dan Li Tik Tjing, pada pokoknya adalah orang-orang Tionghoa Indonesia yang lahir sebelum tahun 60.

Siauw Giok Tjhan dalam bukunya Lima Jaman juga secara jelas menunjukkan Pemerintah Suharto sengaja merubah Tiongkok jadi Cina untuk menghina Tiongkok. Wartawan Oei Liong Thai, peranakan Tionghoa yang pada tahun 70-an menetap di Belanda juga berkali-kali menunjukkan: Yang tepat adalah ¨Tionghoa dan seharusnya mencampakan Cina.

Beberapa tahun terakhir ini, kami berkesempatan mengunjungi Indonesia, Eropa dan juga di Beijing sendiri ketika bertemu dan bercakap-cakap dengan orang-orang tua dan setengah baya Tionghoa, pada umumnya mereka tidak menggunakan Cina dalam menyebut Tiongkok, sudah barang tentu pada masa kekuasaan Soeharto didepan umum dan dalam tulisan resmi, mereka terpaksa harus menggunakan juga istilah Cina itu. Bisa dimengerti, demi keselamatan mereka sendiri. Kami juga tidak menyangkal diantara orang tua Tionghoa ada juga yang mengambil sikap tidak apa-apa dengan sebutan “cina,tetapi mayoritas orang Tionghoa tidak bisa menerimanya.

Bagi orang Tionghoa yang lahir setelah tahun 1960, karena tidak mengerti latar belakang sejarah kedua istilah itu, ditambah sebagai satu ketentuan resmi pemerintah Soeharto mencekokinya melalui Radio, TV dan media pers dengan menggunakan istilah Cina dalam menyebutkan Tiongkok, dan mayoritas mereka dalam menyebut Cina juga tidak bermaksud menghina, maka akhir-akhir ini pemuda-pemuda Tionghoa dari Indonesia yang melancong ke Tiongkok juga menjadi sedikit yang menggunakan istilah Tiongkok.

Perlu ditekankan di sini, sekalipun di Malaysia dan Singapore dalam bahasa Melayu mereka menyebut Tiongkok dengan China, orang Tionghoa setempat dan peranakan Tionghoa sebagai Keturunan Cina, menyebutkan suku Tionghoa sebagai Kaum Cina, tetapi tidak sedikit pun mengandung pengertian menghina. Ini disebabkan karena di Singapore dan Malaysia tidak pernah terjadi peristiwa politik yang sengaja merubah sebutan Tiongkok dan Tionghoa menjadi Cina untuk menghina Tiongkok dalam rangka politik anti-Tiongkok dan anti-Tionghoa, seperti yang terjadi di Indonesia pada tahun 1967.

Ketika kami mengunjungi Singapore dan Malaysia, mendapatkan pengertian bahwa istilah Cina tidak bermakna penghinaan bagi orang Tionghoa dan Huakiao di Singapore dan Malaysia. Jadi, sungguh berbeda dengan latar belakang khusus dan sejarah khusus yang terjadi di Indonesia, yang tidak bisa diragukan lagi, bahwa sementara orang Indonesia justru sengaja menggunakan istilah Cina ini untuk menghina Tiongkok dan orang Tionghoa.

* Reaksi dari Pribumi Indonesia

Harian ¨Kompas 28 April 1967 memuat surat Mochtar Lubis, seorang wartawan dan penulis ternama, didalam surat itu menandaskan bahwa penggunaan istilah Cina setidaknya telah melukai perasaan peranakan Tionghoa di Indonesia.

Surat kabar ¨Sinar Harapan tertanggal 3 Mei 1967 juga telah memuat surat seorang pembaca, Alexsander yang menyatakan: ¨Kami bangsa Indonesia yang berjiwa besar, tidak seharusnya melukai perasaan suku bangsa lain, jadi sudah seharusnya menghentikan penggunaan istilah ˉCinaˇ.

Bahkan di dalam intern Angkatan Darat juga ada orang yang menentang digunakannya istilah Cina. Mereka mengatakan:

¨Seandainya tindakan demikian itu mengakibatkan kehilangan simpatik orang Tionghoa di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara, maka akan mengancam kestabilan rencana ekonomi dari kabinet. Seandainya tujuan kita adalah menghina Republik Rakyat Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok, perubahan penggunaan istilah Cina itu tidak akan mencapai tujuan, karena yang lebih dahulu terkena, merasa terhina dan terlukai perasaannya adalah orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Harian ¨Angkatan Bersenjata tanggal 8 Agustus 1967, memuat tulisan Jauhari Achmad, yang mencoba memberikan penjelasan dan pembelaan atas penggunaan istilah Cina. Dia menyatakan digunakannya kembali istilah Cina bisa secara cepat mendapatkan sambutan secara luas, membuktikan bahwa istilah itu sesuai dengan kehendak rakyat Indonesia. Penulis menyangkal bahwa istilah Cina mengandung arti penghinaan. Dikatakan selanjutnya, seandainya bermakna penghinaaan, itu juga dibuat oleh masyarakat orang Tionghoa sendiri. ¨Kesensitifan orang Tionghoa dalam masalah ini berhubungan erat dengan sikap dan tindakan mereka di bidang perdagangan. Sikap dan tindakan mereka itu justru yang melukai perasaan pribumi Indonesia.

Dibawah tekanan keras dari pemerintah Soeharto setelah tahun 1967, sebagian besar pers-suratkabar menyebutkan Tiongkok dengan Cina, hanya sebagian kecil saja, seperti Harian ¨Merdeka pernah bertahan menggunakan istilah Tiongkok dalam jangka waktu cukup lama. ¨Kamus Besar Indonesia terbitan Departemen Pendidikan cetakan tahun 1988, tidak lagi bisa ditemukan istilah Tiongkok dan ¨Tionghoa. Yang ada hanyalah Cina yang berarti 1. satu negara besar di Asia; 2. Suku bangsa yang tinggal dinegara itu. Dan dalam penjelasan lebih lanjut dinyatakan ¨Republik Rakyat Cina. Kecuali itu, ada juga sementara politikus dalam pembicaraan dan tulisannya sekaligus menggunakan Cina dan Tiongkok.

Sampai pada tahun 1997, dikeluarkannya ¨Kamus Umum Mandarin – Indonesia terbitan Universitas Indonesia, juga tidak terdapat istilah Tiongkok, yang ada hanya kata ¨Zhong Hua diterjemahkan jadi Tionghoa. Sedang dalam penjelasan tambahan ke-13 kata ¨Zhong Guo diterjemahkan jadi Cina dan ¨Zhong Hua Ren Min Gong He Guo diterjemahkan jadi ¨Republik Rakyat Cina. Inilah akibat politik anti Tiongkok dan anti Tionghoa yang telah merasuk dan meluas dijaman pemerintahan Soeharto.

Sungguh sangat menggembirakan kita, perkembangan reformasi dan demokrasi di Indonesia akhir-akhir ini telah membawakan suasana baru. Pada saat Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia diakhir tahun 1999, pejabat-pejabat resmi pemerintahan mulai menggunakan lagi istilah Tiongkok dan ¨Tionghoa menggantikan Cina.

Presiden Wahid sendiri memelopori dalam kata sambutannya menggunakan istilah Tiongkok dan ¨Tionghoa. Penulis ketika mengunjungi Indonesia pada Agustus 2000, sahabat-sahabat lama menjelaskan pada penulis, bahwa Presiden Wahid didalam laporan kerja pemerintah bulan Agustus itu, sudah secara tegas menggunakan sebutan ¨Republik Rakyat Tiongkok dan tidak lagi menyebut ¨Republik Rakyat Cina. Tentu ini adalah satu berita yang sangat menggemberikan.

Dalam laporan lain, yang pada saat kini menjabat wakil Presiden, Megawati bahkan merasakan dirinya bangga bisa menggunakan istilah Tiongkok dan ¨Tionghoa lagi. Pada tahun 1998 di depan rapat massa di Jawa Timur, Megawati bahkan pernah mengatakan: ¨Sejak dahulu sampai sekarang, saya tetap menggunakan sebutan Tiongkok dan Tionghoa, keyakinan saya ini tidak berubah untuk selama-lamanya.

September 1999, Konsulat Indonesia di Hong Kong ketika mengucapkan Selamat 50 Tahun Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok dan pada bulan Juni 2000 dalam rangka memperingati 50 tahun Hubungan Diplomatik RI-RRT, beliau juga sudah menggunakan istilah Tiongkok dan ¨Tionghoa, tidak lagi Cina.

Agustus 2000, ketika Wakil Presiden Tiongkok Hu Jin Tao mengunjungi Indonesia, Duta Besar Indonesia di Tiongkok, Kuntara yang menyertai delegasi, dalam setiap siaran pers dan pembicaraan di depan umum, beliau menggunakan istilah Republik Rakyat China.

Mayoritas yang dinamakan pribumi Indonesia bisa mengerti, demi menghormati dan tidak melukai perasaan rakyat Tiongkok dan peranakan Tionghoa yang hidup di Indonesia, mereka bisa tidak menggunakan sebutan Cina lagi, tapi kembali menggunakan sebutan Tiongkok dan ¨Tionghoa. Tetapi, karena penggunaan istilah Cina yang dipaksakan itu sudah berlangsung dan terbiasa selama puluhan tahun, tidaklah aneh kalau akhirnya sudah menjadi sebutan sehari-hari.

Dan dengan demikian kita pun tidak perlu terlalu kecewa dan pesimis. Sayapun yakin, mayoritas mutlak mereka tentunya tidak ada maksud untuk menghina dan melukai perasaan rakyat Tiongkok, dan bisa bersahabat bagaiakan sesaudara dengan peranakan Tionghoa yang sudah hidup turun temurun di Indonesia. Kita harus bisa sabar melancarkan propaganda dan menanti kesediaan mereka merubah sebutan yang tidak tepat itu.

5. Beberapa alternatif penyelesaian

Sementara ini paling sedikit ada 3 cara penyelesaian. Pertama terus menggunakan istilah Cina dalam menyebut Tiongkok; Kedua, merubahnya kembali dengan sebutan Tiongkok; dan Ketiga, menggunakan ejaan bahasa Inggris China.

Kecuali itu, ada juga sementara orang mengajukan untuk menggunakan istilah Zhongguo (seperti yang diajukan wartawan Oei Liong Thai, Tionghoa asal Indonesia yang telah menentap di Belanda) atau Caina, dll. Tetapi, pendapat penulis sebutan yang lebih tepat dan ilmiah seharusnya adalah Republik Rakyat Tionghoa.

Yang pasti kami tidak bisa menerima sebutan Tiongkok sebagai Cina. Sebagaimana pada tahun 1967 pemerintah Soeharto memaksakan perubahan Tiongkok menjadi Cina dengan alasan:

1. Untuk menghilangkan rasa rendah diri yang ada pada kaum pribumi dan menghapus rasa superior dari orang Tionghoa dan Hakiao di Indonesia;

2. Pemulihan istilah yang umum digunakan di dalam dan di luar Indonesia dengan berbagai bahasa dalam sebutan Tiongkok dan rakyat Tiongkok;

3. Keseragaman bahasa yang digunakan dalam sebutan terhadap Tiongkok.

Kami mengambil sikap menentang dan mengkritik alasan yang diajukan pemerintah indonesia itu. Seperti yang telah dijelaskan terdahulu, masalah sebutan terhadap negara kami adalah masalah prinsip yang menghargai Tiongkok sebagai negara. Jadi, seharusnya diatas dasar pengertian inilah kita melanjutkan mendalami pengertian dan berdiskusi.

Sebenarnya istilah Cina adalah istilah yang netral. Tetapi, dalam sejarah Indonesia, imperialisme penjajah-Belanda justru menggunakan istilah Cina itu untuk menghina Tiongkok. Pada awal abad 20 gerakan pembebasan nasional rakyat Asia makin memuncak, orang Tionghoa Indonesia yang revolusioner mendirikan Tionghoa Hui Kwan, yang tegas menentang kaum penjajah menggunakan istilah Cina yang bermakna menghina itu dan menggunakan sebutan Tiongkok.

Terutama setelah Revolusi Xing-hai yang dipimpin Dr. Sun Yat Sen tahun 1911 berhasil menggulingkan Dinasti ¨Qing, dan dibentuknya Republik Tiongkok, orang Tionghoa di Indonesia secara resmi menggunakan istilah Tiongkok dan Tionghoa, sebagai satu pernyataan penghargaan dan perasaan menghormati hasil kemenangan rakyat Tiongkok, sekaligus juga perasaan bangga sebagai turunan berkulit-kuning. Jadi, sekali-kali bukan sesuatu perasaan superior terhadap pribumi Indonesia yang dituduhkan sementara orang.

Sedikit pun tidak beralasan kalau dinyatakan bahwa penggunaan istilah Tiongkok membuat rasa rendah-diri pada pribumi Indonesia. Ambillah Proklamator Kemerdekaan RI, Soekarno sebagai pejuang besar melawan imperialisme dan kolonilaisme sebagai contoh ( bahkan yang oleh pemerintah Soeharto sendiri, Soekarno pada 8 Nopember 1986 dinobatkan sebagai Pahlawan Bangsa), baik jauh sebelum maupun setelah kemerdekaan, beliau selalu menggunakan istilah Tiongkok dalam menyebutkan negara kami, tidak sekali juga beliau menggunakan istilah Cina atau Tjina.

Ini adalah sikap agung Soekarno, yang bisa menghargai dan menghormati Sun Yat Sen dan rakyat Tiongkok dan menjadikannya teladan berevolusi bagi dirinya sendiri. Adalah juga Soekarno yang telah menempatkan Republik Rakyat Tiongkok sebagai kawan seperjuangan rakyat Indonesia dalam melawan imperialisme dan kolonialisme.

Dengan sebutan Tiongkok pada Zhongguo itu, apakah bisa dikatakan Soekarno telah menempatkan nasion Indonesia rendah diri? Tentu saja tidak!

Apa yang dikatakan ¨Pemulihan istilah yang umum digunakan di dalam dan di luar Indonesia dengan berbagai bahasa dalam sebutan Tiongkok dan rakyat Tiongkok. Umum mengetahui, bahwa bahasa yang digunakan didunia internasional, dalam bahasa Inggris menyebut Tiongkok dengan China, dan jelas istilah Cina dalam ejaan Indonesia mempunyai latar belakang senjarah yang berlainan.

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa Inggris, dan dalam jangka waktu panjang bahasa Indonesia juga sudah menggunakan istilah Tiongkok dalam menyebutkan Zhonggou dalam lafak Hokkian. Jadi, adalah juga tidak beralasan perubahan penggunaan istilah Cina dalam sebutan Tiongkok untuk keseragaman bahasa yang dipakai internasional.

Keseragaman sebutan istilah untuk Zhongguo, juga tidak masuk akal. Belasan tahun sebelum tahun 1965, di Indonesia dari atas sampai kebawah semua menyebut Tiongkok untuk Zhongguo, dan bukan Cina (Tjina). Baru setelah tahun 1967, dilancarkan gelombang anti-Tiongkok dan anti-Tionghoa oleh pemerintah Suharto, digunakanlah istilah Cina untuk mengganti istilah Tiongkok dan Tionghoa. Yang jelas adalah bermuatan politik dan bukan untuk keseragaman bahasa dan istilah!

Bagi Indonesia, penggunaan istilah bahasa Inggris China untuk menggantikan sebutan Tiongkok masih lebih baik ketimbang sebutan Cina. Karena China bersifat netral sedang Cina bermakna menghina. Tetapi, dalam ejaan baru bahasa Indonesia tidak ada bunyi ejaan dengan Ch, jadi kurang selaras seandainya memaksakan istilah bahasa Inggris China kedalam bahasa Indonesia. Ini kalau sekadar kita tinjau dari segi bahasa. Tapi, kalau kita mau meng-Indonesiakan nama Zhongguo dari bahasa Inggris, mengapa tidak meng-Indonesiakan nama-nama negara Amerika, Inggris, Prancis, Belanda, dll negara juga dari bahasa Inggris? Sebagai satu langkah keseragamanan bahasa dan istilah?

Sejak Soeharto naik tahta di tahun 1967 merubah penggunaan istilah Tiongkok menjadi Cina, dan setelah Soeharto lengser ditahun 1998 berarti istilah Cina telah berlangsung lebih dari dari 30 tahun didalam masyarakat Indonesia. Bahkan, di kalangan generasi muda masyarakat Tionghoa juga sudah menjadi biasa dengan penggunaan istilah Cina itu. Tentu adalah sesuatu yang tidak realis, seandainya sekarang juga setelah dipulihkannya hubungan diplomatik kedua negara RI-RRT, istilah Cina dihilangkan secara keseluruhan.

Di akhir tahun 1960-an, dimulainya kekuasaan Soeharto, penerbitan di Indonesia dan macam-macam peta-atlas sampai pada sebutan Laut Tiongkok Selatan, untuk mengubah jadi Laut Cina Selatan juga memerlukan proses. Sedang dilihat dari hukum, karena perubahan penggunaan sebutan Tiongkok jadi Cina adalah keputusan Presidium Kabinet tahun 1967, maka sudah seharusnya kita juga harus menunggu pencabutan penggunaan sebutan Cina dari Presidium Kabinet yang akan datang.

Pelurusan masalah yang terjadi di dalam masyarakat atas kesalahan sebutan terhadap nama negara kami, Zhongguo, bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan bagaikan hilangnya embun di pagi hari. Tetapi, dari pandangan sejarah dan titik tolak persahabatan rakyat kedua negara yang harus saling menghargai dan menghormati, kami berhak menuntut pihak Pemerintah Indonesia untuk segera kembali menggunakan sebutan Tiongkok dan untuk sebautan lengkap menjadi Republik Rakyat Tiongkok. Sebagaimana tertulis di atas penandatanganan perjanjian pembukaan hubungan diplomatik kedua negera Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Indonesia di tahun 1950.

Sejarah telah mencampakan kekuasaan Soeharto yang bersikap tidak bersahabat pada rakyat Tiongkok, gerakan demokrasi dan reformasi terus bergulir meningkatkan nasionalis dan persahabatan yang harmonis antar suku. Masyarakat Tionghoa di Indonesia juga telah meningkat kesadarannya, secara inisiatif mengajukan agar pemerintah memperhatikan setiap masa sejarah sebutan terhadap kelompok suku Tionghoa di Indonesia.

Mayoritas pranakan Tionghoa di Indonesia yang lebih suka dipulihkannya kembali sebutan Tionghoa, mereka tegas menentang sebutan Cina, karena sebutan Cina yang mengandung penghinaan itu sangat melukai perasaan mereka. Tuntutan demikian ini adalah satu tuntutan yang wajar, dan tentunya sangat bermanfaat untuk memperkokoh kerukunan dan persatuan nasional, sangat menguntungkan bagi usaha mendorong maju ketentraman dan kemakmuran masyarakat Indonesia.