30 September 2009

Metro TV, TVOne, Munas Golkar



Beginilah jadinya bila pengusaha, penguasa, sekaligus politisi menjadi pemilik stasiun televisi. Kepentingan bisnis, kepentingan politik, kepentingan sosial budaya, dan macam-macam tumpah tindih jadi satu. Centang perenang. Gak karu-karuan.

Hari-hari ini kita, rakyat Indonesia, dipaksa untuk menikmati propaganda Surya Paloh dan Aburizal Bakrie yang sama berambisi menjadi ketua umum Partai Golkar. Paloh bos Metro TV, Bakrie bos TVOne. Maka, politik redaksional kedua televisi, yang sama-sama fokus ke berita itu, pun menjadi bias tak karuan.

MetroTV habis-habisan berkampanye untuk Surya Paloh. TVOne bersama Karni Ilyas sebagai pemimpin redaksi pun mabuk-mabukan kampanye agar Aburizal Bakrie yang menguasai Golongan Karya. Ketika kepentingan ekonomi dan politik bersetubuh, maka tunggulah kerusakannya.

Dan sekarang MetroTV dan TVOne telah berhasil merusak habis nilai-nilai berita, bahkan yang paling mendasar. Akurasi, keberimbangan, kelengkapan, prasangka. Mana ada liputan Surya Paloh di TVOne? Dan mana ada pula liputan tentang Bakrie, yang baik-baik, di MetroTV?

Skandal pemberitaan menjelang musyawarah nasional Golkar di dua televisi berita ini membuat saya teringat pada ucapan seorang pengusaha media terkenal di Indonesia. Dia punya begitu banyak media baik media cetak maupun televisi. Namun, dia tidak pernah mau diwawancarai televisi-televisinya sendiri.

"Televisi itu beda dengan koran," katanya.

Televisi menggunakan frekuensi yang sangat terbatas, dan itu ranah publik. Bukan milik pengusaha bernama Fulan, Arkian, Surya Paloh, atau Aburizal Bakrie. Surya Paloh punya MetroTV, tapi frekuensi atau channel yang dipakai MetroTV milik rakyat.

Begitu pula dengan Aburizal Bakrie. Dia pemilik TVOne, tapi bukan pemilik frekuensi yang dipakai TVOne untuk menyebarluaskan siarannya ke mana-mana. Prinsip ini sangat mendasar. Semua pengusaha televisi tentu tahu filsafat komunikasi ini. Apalagi, para redaktur dan reporter televisi yang tentu saja sudah banyak membaca dan well-informed.

Taruhlah frekuensi televisi yang tersedia ada 50. Maka, 50 pemilik stasiun televisi itu hanya "dititipi" amanah untuk memanfaatkan channel dengan sebaik-baiknya, demi kemaslahan bersama. Akan sangat elok manakala pengusaha televisi menghindari publikasi dirinya di stasiun milik sendiri.

"Nggilani!" kata orang Surabaya. (Bikin mual).

Lha, kalau televisi dipakai pemilik yang punya kaitan dengan lumpur Lapindo di Sidoarjo untuk publik relation dirinya, bagaimana dengan kepentingan atau suara rakyat korban lumpur? Benarkah Aburizal Bakrie begitu dermawan, ikhlas, baik hati seperti disiarakan di TVOne pada 29 September 2009? Dan masih banyak pertanyaan lain.

Jika frekuensi atau channel itu milik publik, maka tentu publik atau rakyat berhak mencabut "amanah" yang sudah dititipkan kepada para pengusaha pengelola stasiun televisi jika channel disalahgunakan untuk kepentingan politiknya sendiri. Di sinilah peran Komisi Penyiaran atau pemerintah sebagai wasit atau pihak yang diberi kemwenangan untuk mengontrol penggunaan frekuensi.

Yang jelas, saya mual setiap kali menyaksikan propaganda Surya Paloh di Metro TV dan Aburizal Bakrie di TVOne. Bagaimana dengan Anda?

29 September 2009

A. Malik Bz. Komposer Musik Melayu



Insaflah, wahai manusia
Jika dirimu bernoda
Dunia hanya naungan
'tuk makhluk ciptaan Tuhan....



Nama Abdul Malik Buzaid, yang lebih populer dengan A Malik Bz, tak bisa lepas dari orkes dan musik melayu di tanah air. Ayah sembilan anak ini merupakan salah satu dari sedikit pemusik tempo doeloe yang terus berkarya sampai sekarang. Salah satu lagunya, Keagungan Tuhan, yang diciptakan pada 1964, masih diperdengarkan sampai hari ini dalam berbagai versi.

Setiap bulan Ramadan, lagu religi ini hampir selalu dirilis ulang oleh penyanyi atau grup band anak muda. Belum lama ini, Keagungan Tuhan dibawakan penyanyi remaja Vidi Aldiano dalam versi R&B. Sebelumnya, lagu yang awalnya dipopulerkan Ida Laila bersama Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala pada 1965 ini dibawakan GIGI dalam versi rock. Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan A Malik Bz seputar lagu abadi, Keagungan Tuhan, serta perkembangan musik melayu hingga dangdut.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Lagu Keagungan Tuhan ini sudah dibuat berapa versi, selain dibawakan OM Sinar Kemala sendiri?

Kalau tidak salah, sudah lebih dari 40 versi. Ada yang penyanyi solo, band, dan sebagainya. Mulai Ida Laila, Syam D'Lloyd, Titiek Sandhora, Hetty Koes Endang, Rita Effendy, GIGI, sampai Vidi Aldiano. Mereka membawakan lagu saya itu sesuai karakter mereka. Ada yang pop, melayu, dangdut, koplo, gambus, kasidah, shalawatan, rock, soul, R&B, sampai sound track sinetron dan film, kemudian jingle iklan. Hehehe.... Alhamdulillah, Keagungan Tuhan ini sudah menjadi lagu abadi, dibawakan orang dari masa ke masa.

Semua produser minta izin dulu dari Anda sebagai pencipta lagu?

Ada yang izin, ada yang tidak izin. Ada yang ketahuan dulu baru izin. Maklum, budaya kita di Indonesia kan masih seperti itu. Belum menghormati hak cipta dan hak seorang pencipta lagu. Di TVRI lagu Keagungan Tuhan dirilis orang lain dan ditulis penciptanya orang lain. Itu sampai bertahun-tahun sampai saya komplain. Begitulah nasib pencipta lagu di Indonesia.

Artinya, Anda terus menerima royalti dari lagu itu?

Alhamdulillah. Royalti itu termasuk barang baru di Indonesia. Kalau yang tidak izin, ya, saya tidak dapat apa-apa. Pencipta lagu tidak dihargai. Kalau yang izin, ya, adalah meskipun tidak besar. Royalti baru jalan setelah ada KCI (Yayasan Karyacipta Indonesia). Selama ini royalti dari GIGI yang paling tinggi. Sebab, penjualan album dan RBT-nya paling bagus.

Terakhir, lagu Keagungan Tuhan di-recycle oleh Vidi Aldiano.

Saya puas karena ternyata suaranya Vidi ini bagus. Improvisasinya bagus, penjiwaannya bagus. Saya nggak menyangka karena sebenarnya saya belum tahu ketika bapaknya Vidi, Pak Hari dan produser, minta izin memakai lagu Keagungan Tuhan. Saya oke-oke saja karena saya kenal baik neneknya Vidi yang bernama Darsih. Ibu Darsih itu seorang penyanyi keroncong yang bagus.

Bagi pencipta lagu seperti saya, nomor satu itu bukan bayaran, tapi kepuasan batin. Kalau asal dibayar, tapi lagu kita jadi rusak, buat apa? Lebih parah lagi, lagu kita dirusak, sementara kita juga tidak dapat bayaran.

Dari Vidi itu, kemudian dijadikan jingle iklan oleh sebuah perusahaan seluler?

Benar. Setelah membuat kaset dan CD, kemudian produser membuat RBT dengan mendaftar ke perusahaan seluler. Rupanya, XL tertarik karena lagunya bernuansa Ramadan dan anak muda. Saya dihubungi, dimintai izin, ya nggak apa-apa. Yang penting, mengikuti prosedur yang berlaku. Tadinya saya minta agar syair Keagungan Tuhan tidak diubah. Tapi, namanya juga iklan, ya liriknya dibuat sesuai kepentingan mereka.

Apa kekuatan lagu Keagungan Tuhan, sehingga bisa bertahan selama 40 tahun lebih?

Nomor saya, menurut saya, syair, kemudian baru melodinya. Saya yakin itu merupakan inspirasi dan pemberian dari Tuhan Yang Mahakuasa. Lagunya benar-benar murni, tidak ada unsur plagiat atau mencontoh lagu lain. Saya sendiri kaget kok bisa dikasih lagu seperti ini oleh Tuhan ya? Seperti suara gaib saja. Itu yang membuat Keagungan Tuhan bertahan, sampai dibuat film segala.

Bagaimana proses penciptaan lagu itu?

Ceritanya, tahun 1964, ketika masih muda, saya bersama teman-teman jalan-jalan ke kawasan lampu merah di Kremil, Surabaya. Saya duduk-duduk main gitar. Saya perhatikan suasana di sana. Ada orang mabuk, ngomong nggak karuan, ada yang kelonan, ngobrol... macam-macamlah. Kepala saya langsung pusing. Saya minta kertas dan potlot kepada seorang perempuan.

Saya kemudian menulis syair, notasi, bahkan intronya. Komplet. Cepat sekali prosesnya. Pulang ke rumahnya Pak Kadir, pimpinan OM Sinar Kemala, ada piano. Saya coba memainkan lagu itu. Kok enak rasanya. Pak Kadir juga senang. Sorenya saya benahi lagi, tambah bagus.

Dua hari kemudian Pak Urip Santoso datang ke rumah Pak Kadir untuk latihan bersama Sinar Kemala. Pak Urip ini pakar musik yang juga guru sekali di bidang aransemen. Dia bilang, lagumu itu bagus. Lalu, sejak itu kami mainkan bersama teman-teman OM Sinar Kemala. Penyanyinya Ida Laila, dengan nada dasar Bes.

Rekamannya di mana?

Kalau tidak salah di RRI Surabaya. Piringan hitamnya (PH) kemudian diproduksi di Lokananta, Solo, dan disebarkan ke radio-radio di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, lagu saya pun jadi populer. Keagungan Tuhan benar-benar dahsyat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan bisa seperti ini. Radio Australia, BBC London, Suara Amerika (VOA), mutar lagu Keagungan Tuhan pada acara Pilihan Pendengar.

Selain Keagungan Tuhan, Anda telah menciptakan ratusan lagu untuk OM Sinar Kemala dan penyanyi lain. Siapa yang mendorong Anda menjadi song writer?

Saya diprovokasi oleh kakak saya, Abdullah, mantan TNI. Dia bilang kalau orang lain bisa membuat lagu mestinya kamu juga bisa. Jangan menjiplak lagu-lagu India, mengubah syair, kemudian mengklaim sebagai ciptaan sendiri. Maka, saya belajar musik ke beberapa pemusik terkenal. Guru saya antara lain Pak Urip Santoso dan Pak Abubakar. Saya sampai mondok di rumahnya Pak Abubakar untuk belajar akordeon. Saya juga belajar biola sama pemusik-pemusik keroncong.

Setelah menguasai banyak instrumen, saya akhirnya bisa menulis lagu. Tapi semua itu, berdasarkan pengalaman saya, harus ada ilham dari Tuhan. Kalau nabi mendapat wahyu, seniman mendapat ilham. Tanpa ilham, sulit menghasilkan lagu yang baik. Saya dulu sering 'dipaksa' oleh produser untuk membuat lagu di studio. Ini yang saya tidak pernah bisa. Musik dangdut itu terpuruk antara lain karena suka menjiplak melodi lagu-lagu India. Kalau orientasinya hanya komersial, ya, nggak akan awet.

Ngomong-ngomong, apakah musik bisa menjadi sandaran hidup?

Di Indonesia sulit. Peneliti musik dangdut dari Amerika, Prof Andrew Weintraub, heran ketika masuk ke rumah saya ini. Kok rumah saya kecil, sederhana? Padahal, karya saya begitu banyak. Sejak dulu pun saya sudah dinasihatkan oleh senior saya bahwa kita sulit hidup dari musik. Harus ada usaha atau pekerjaan lain.

Nasihat ini juga saya sampaikan kepada anak-anak saya. Mereka memang saya ajari musik, belajar not balok, not angka, alat-alat musik, tapi jangan sampai mengandalkan hidup dari musik. Lain sekali kondisinya dengan pemusik di negara maju yang bisa hidup makmur dari karya musiknya. (*)

Orkes Arek Kampung Arab


Popularitas lagu Keagungan Tuhan tak lepas dari jasa Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala. Orkes asal Kampung Ampel, Surabaya, yang dipimpin A. Kadir (almarhum) ini pada 1960-an dikenal sebagai salah satu OM terkenal di tanah air. OM Sinar Kemala bahkan kondang hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

"Kalau di Medan ada OM Bukit Siguntang, OM Sinar Medan, dan OM Kenangan, kita di Jawa Timur punya OM Sinar Kemala. Saking populernya, kami selalu menerima tanggapan dari berbagai daerah," jelas Abdul Malik Buzaid, pemain akordeon sekaligus pencipta lagu untuk OM Sinar Kemala.

Menurut A Malik Bz, sapaan akrab pria asal Kampung Ampel, Surabaya, ini, kehabatan OM Sinar Kemala tidak lepas dari peran Abdul Kadir sebagai pemimpin orkes. Selain santun dan berwibawa, pemusik keturunan Arab itu sangat menonjol secara musikal. Kadir mahir menguasai banyak instrumen musik, vokalnya bagus, dan punya jiwa kepemimpinan tinggi.

"Pak Kadir itu disiplin, keras, dan cenderung otoriter. Tapi justru itu yang membuat OM Sinar Kemala bisa eksis dan dikenal publik," kata Malik Bz.

Berbeda dengan OM-OM papan atas seperti Bukit Siguntang atau Kenangan, OM Sinar Kemala banyak merilis lagu-lagu bernuansa Arabia. Ini tak lepas dari latar belakang A. Kadir sebagai mantan pemusik gambus di Kampung Arab pada 1950-an.

"OM Sinar Kemala itu tadinya Orkes Gambus Alfan. Saya belum ikut. Nah, karena pemasaran musik gambus surut, sementara musik melayu naik daun, maka Kadir beralih ke OM Sinar Kemala," kenang Malik.

Kalau orkes dangdut sekarang hanya beranggotakan tujuh hingga 10 orang, menurut Malik, orkes melayu selalu diperkuat belasan, bahkan 20-an orang. Pemain biola Sinar Kemala saja 12 orang. Belum lagi pemain alat musik tiup yang juga banyak. "Jadi, kami harus membaca partitur kalau main musik. Nggak pakai hafalan thok," katanya.

Malik masih ingat nama-nama pemain OM Sinar Kemala seperti Ida Laila alias Murah Ati (vokal), Nur Kumala (vokal), Khadam (trombone), Ellya Khadam (vokal), S Achmady (vokal), A. Kadir (suling, tabla), Yohana Satar (penyanyi), A. Rafiq (vokal), Wakhid (gitar), Saleh (trumpet, klarinet), Abubakar (biola, arranger), Muhammad Degel (kendang), A. Karim (tamborin), Umar (penyanyi), Said Efendi (vokal), Fuad (marakas), Husein (akordeon).

"Banyak yang sudah almarhum. Pak Kadir sendiri meninggal pada tahun 1985 di Ampel Cempaka," papar Malik. "Pak Kadir sempat bilang sebelum dia meninggal, OM Sinar Kemala tidak akan mati."

Ketika film India booming pada 1960-an dan 1970-an, masyarakat Indonesia pun tergila-gila dengan musik Hindustan. Orkes-orkes di tanah air pun harus menyesuaikan diri seperti musik di film Awara. Maka, lagu-lagu bercorak Melayu menjadi andalan orkes-orkes.

"Pak Kadir sendiri kemudian mengubah penampilan ala India. Penyanyi Sinar Kemala seperti A Rafiq dan Ellya Khadam bergaya ala India. Dan itu sangat disukai masyarakat," katanya.

Ketika OM Sinar Kemala di puncak kejayaan, terjadi konflik antara Remaco (Jakarta) dan Golden Hand (Surabaya). Kedua perusahaan rekaman ini memperebutkan artis-artis OM Sinar Kemala. Maka, OM Sinar Kemala pun pecah.

Sejumlah personel kunci keluar dan bikin orkes baru. Orkes pecahan Sinar Kemala antara lain OM Sinar Mutiara (pimpinan Fouzi), OM Awara (S Achmady], OM Permata (Mono Sanjaya).

"A Rafiq cabut ke Jakarta dan mendirikan A Rafiq Group. Orang ini dulu suaranya cempreng, nggak punya power. Setelah digembleng di Sinar Kemala, A Rafiq maju pesat," tuturnya.

Malik Bz, penulis lagu plus pemain akordeon dan piano juga diajak bergabung dengan orkes lain. Bahkan, diminta membuat orkes baru untuk rekaman. "Tapi saya tidak mau. Saya tetap bertahan bersama OM Sinar Kemala," tegas Malik.

OM-OM pecahan Sinar Kemala ini dalam waktu singkat meraih popularitas. OM Awara dengan duet Ida Laila dan S Achmady mencetak puluhan album dan laku keras. A Rafiq, dengan celana dan goyangan yang khas, pun kian kondang setelah hijrah ke Jakarta. Malik sendiri tetap menulis lagu untuk dinyanyikan penyanyi-penyanyi rekaman sambil memberi les musik dari rumah ke rumah.

"Dunia rekaman kita nggak karuan karena dikuasai orang-orang yang mata duitan. Bikin lagu bukan untuk seni, tapi semata-mata uang. Seniman karbitan merajalela. Saya dipaksa ikut arus industri, tapi nggak mau," tegas Malik Bz. (rek)



ABDUL MALIK BUZAID

Nama populer: A. Malik Bz.
Lahir : Surabaya, 31 Desember 1944
Istri : Aisyah
Anak : 9 orang. Dua dari istri pertama, tujuh dari istri kedua.
Nama anak: Zed (alm), Rifki. Sofyan (alm), Yasir, Anas, Miqdah, Azhar, Mus'ab, Amru.

Alamat: Jalan Flamboyan II/21 Kureksari, Waru, Sidoarjo.

ORGANISASI
- Persatuan Artis Melayu Dangdut Indonesia (PAMMI) Jawa Timur
- Dewan Kesenian Sidoarjo


PENGHARGAAN
- Anugerah Bakti Musik Indonesia, 2005
- Gubernur Jatim Imam Utomo, 2004
- Menteri Kebudayaan Belia dan Sukan Brunei Darussalam, 1994

Sumber: Radar Surabaya edisi 27 September 2009.

25 September 2009

WIB, Singapura, dan Malaysia




Jika Anda sudah pernah ke Malaysia atau Singapura, apalagi tinggal di kedua negara itu, Anda akan heran dengan sistem waktu di sana. Waktunya berbeda satu jam dengan Jakarta atau Surabaya yang WIB (waktu Indonesia Barat). Padahal, bujur timurnya sama.


WIB berpedoman GMT + 7, sedangkan Malaysia dan Singapura GMT + 8.

Karena itu, suatu ketika, saya terkejut karena dibangunkan "terlalu pagi" di Kuala Lumpur. Masih gelap banget kok sudah sarapan? Jam berapa? Akhirnya, saya sadar bahwa jamnya Malaysia memang beda dengan Surabaya. Sama-sama pukul 05.00, Surabaya sudah terang, Kuala Lumpur masih agak gelap. Samalah dengan di Singapura.

Kenapa Malaysia dan Singapura tidak ikut buku teks? Dulu, ketika masih sekolah, ada pelajaran IPBA (Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa). Intinya, setiap 15 derajat bujur, ada selisih waku empat menit. Karena itu, selisih waktu Jakarta/Surabaya (WIB) dengan Greenwich (GMT) pasti tujuh jam. Makassar delapan Jam. Papua sembilan jam. Jadilah tiga zona waktu di Indonesia seperti kita kenal sekarang.

Mengapa Malaysia dan Singapura tidak ikut buku teks?

Setelah saya merenung-renung, dua negara ini jelas lebih fleksibel dan cerdas. Zona waktu tidak harus GMT + 7 meskipun menurut teori harus demikian. Dengan GMT + 8, penduduk Malaysia dan Singapura lebih diuntungkan. Masuk kantor pukul 09.00 masih segar, belum panas. Pulang kerja pukul 17.00 masih terang. Listrik bisa dihemat lebih banyak.

"Sekarang katanya jam 19.00 kok masih terang?" kata saya saat berada di sebuah kedai di Malaysia. Di Surabaya, jam 19.00 atau jam tujuh malam sudah gelap gulita. Banyak memang keuntungan dengan sistem waktu ala Malaysia dan Singapura ini.

Sudah lama saya menganggap jam kerja di Surabaya, 09.00 sampai 17.00, tidak lagi memadai. Masuk jam sembilan rasanya sudah "terlalu siang". Suasana pagi nyaris tak terasa. Berada di Bandara Juanda jam enam pagi pun rasanya seperti bukan pagi lagi. Bandingkan bila Anda berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada jam enam pagi. Suasana segar banget.

Apakah pemerintah mau menambah satu jam untuk Waktu Indonesia Barat?

Singapura dan Malaysia sudah lama melakukannya dan terbukti efektif. Manfaatnya banyak sekali. Dulu, Bali pun masuk WIB, kemudian dipindahkan ke Witeng (Waktu Indonesia Tengah) alias disamakan dengan Malaysia/Singapura: GMT + 8.

Jam di Singapura/Malaysia sama persis dengan Pulau Bali. Maka, wisatawan atau pebisnis yang mau terbang ke Denpasar akan sangat mudah mencocokkan waktunya.

Saya sadar bahwa pemerintah kita sulit mengubah zona waktu yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tapi sebenarnya pemerintah daerah bisa melakukan improvisasi. Seandainya saya wali kota Surabaya, jam kerja yang "9 to 5" akan saya ubah menjadi "8 to 4".

Hehehehe..... 

24 September 2009

Hakka alias Khek di Surabaya



Masyarakat Tionghoa di Surabaya sebetulnya tidak homogen. Baca artikel karangan Wens Gerdyman ini.   Sebagian besar leluhur mereka berasal dari Tiongkok Selatan.

Seperti dituturkan Shinta Devi dalam buku BOEN BIO, BENTENG TERAKHIR UMAT KHONGHUCU, 2005, pada 1930 setidaknya ada empat suku bangsa Tionghoa yang tercatat di Surabaya. Hokkian (Fujian), Hakka atau Khek, Teo-chiu, dan Kwongfu (Guangdong, Kwangtung).


"Selama berlangsungnya gelombang migran dari tahun 1850 hingga 1930, orang Hakka adalah yang paling miskin di antara para perantau Tionghoa," tulis Shinta Devi.

Masih menurut peneliti masalah Tionghoa dari Universitas Airlangga ini, orang Hakka yang di Tiongkok bukan golongan pedagang atau pebisnis. Maka, ketika sampai di Indonesia (dulu: Hindia Belanda) banyak orang Hakka bekerja sebagai kuli di daerah pertambangan di Riau dan Kalimantan.

Sekali lagi, gambaran mengenai orang Hakka alias Khek ini konteksnya zaman Hindia Belanda. Bagaimana dengan sekarang? Tentu saja, sudah banyak berubah. Tak sedikit warga Tionghoa dari golongan Hakka yang sukses, bahkan sangat sukses.

Di Singapura ada Lee Kuan Yew (mantan perdana menteri, menteri senior). Di Filipina ada mantan Presiden Filipina Corazon Aquino. Kemudian mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, yang sekarang lagi dikejar-kejar rezim militer itu.

"Jadi, jangan dikira orang Hakka itu kayak yang ditulis di buku-buku," ujar Tante Sin Lan, pengusaha dan aktivis gereja, yang juga keturunan Hakka, kepada saya. "Orang Hakka itu juga hebat-hebat lho. Hehehehe...."

Saat ini di Surabaya ada Perkumpulan Suku Hakka yang sering bikin kegiatan sosial dan kumpul-kumpul. Komunitas Hakka itu menggelar berbagai kegiatan agar silaturahim di antara mereka, yang sudah generasi kesekian, tidak putus. Jangan sekali-kali memutus tali silaturahim, bukan?

Kegiatan mereka antara lain seminar, pengobatan gratis, serta yang terbaru memperkenalkan kartu diskon. Kartu diskon ini berlaku untuk toko-toko tertentu. Lumayan, dapat diskon 10-15 persen. ''Kalau punya kartu diskon dan tergabung pada Perkumpulan Hakka pasti dapat diskon," tutur Wakil Ketua Perkumpulan Hakka Surabaya Dr. Joshie Halim.

Saat ini ada sekitar 1.200 orang yang tergabung dalam Perkumpulan Hakka. Kartu diskon ini sudah berjalan selama tiga tahun. Selain itu, perkumpulan memberikan bantuan untuk warga Hakka yang tidak mampu membeli kuburan sendiri. Sesama Hakka harus punya solidaritas sampai ajal menjemput.

Menurut Halim, perkumpulan telah menyediakan sebuah kompleks kuburan di kawasan Sukorejo, Pasuruan, yang dibangun pada 1980. Luasnya tujuh hektar. Karena sudah banyak terpakai, saat ini tinggal sedikit lahan yang tersisa. ''Kami sudah mulai mencari tempat baru untuk pemakaman," kata Halim.

Orang-orang Hakka juga sering mengadakan kelas memasak. Menunya sayur asin, daging bacem, dan siomay. Juga sering diadakan kelas bahasa daerah Hakka plus membuat syair yang indah. "Orang Hakka itu mirip orang Padang atau Melayu yang suka berpantun. Nah, orang Hakka ini juga sangat pandai membuat syair," tutur Halim.

Bahkan, menurut pentolan Hakka di Surabaya ini, kaum perempuan Hakka juga dikenal sangat unggul dalam berkesenian. Mereka pun sangat memperhatikan pendidikan generasi muda. Maka, banyak orang Hakka yang sukses. Tentu saja, citra lama sebagai perantau Tionghoa (huaqiau) paling miskin pun terpatahkan. "Lee Kuan Yew itu kurang apa," kata Halim.

Suku Hakka tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara macam Malaysia, Singapura, Thailand. Namun, yang paling banyak terdapat di Singkawang, Kalimantan Barat. Orang Hakka di Singkawang mencapai 90 persen.

Wuih! Ciamik soro, Rek!!!! 

23 September 2009

Eko Tralala alias Eko Srimulat


Oleh NOFILAWATI ANISA

nofilawatianisa[at]yahoo.co.id



Sudah sejak kecil Eko Untoro Kurniawan tergila-gila pada Srimulat. Ia sangat ingat, dulu, kalau ada pentas Srimulat, maka Eko kecil bakalan merengek pada bapaknya, Sugiyanto, untuk diantar melihat. “Saking cintanya, sampai latihan pun ya saya tungguin,” katanya.

Ternyata, rasa cinta itu berlanjut hingga ia dewasa. Tahun 1980-an, Eko pun memberanikan diri melamar menjadi anggota Srimulat. Saat itu Srimulat sudah mulai disebut-sebut sebagai grup lawak paling jos, namun masih terbatas pentas di Surabaya dan Jatim saja. Belum melebarkan sayapnya ke Solo, Semarang, maupun Jakarta.

Sayang, Teguh, istri Ny Srimulat (pendiri Srimulat), menolaknya dengan halus. Alasan penolakan, menurut Eko, sangat tidak masuk akal. “Karena saya dianggap terlalu ganteng. Karena pelawak Srimulat masa itu wajahnya jelek-jelek semua,” kata Eko dengan mimik muka serius.

Jika dibandingkan pelawak di zamannya, wajah Eko memang lumayan ganteng. Wajahnya lonjong, hidung bangir, rambut sedikit kemerahan, dan bola mata agak cokelat.

Meski asli arek Suroboyo, Eko memang punya darah Belanda. Ibunya, Andreana Helena Kohen, adalah nonik Belanda, putri seorang tentara kolonial yang bertugas di Surabaya. Saking cantiknya, Sugiyanto, yang juga seorang prajurit, kepincut menikahi Andreana. “Tapi kakek saya dari ibu nggak setuju anaknya kawin dengan orang pribumi. Akhirnya, ibu dibuang dan kakek sekeluarga balik ke Belanda,” jelasnya.

Eko melanjutkan ceritanya. Karena tak diterima ‘menejemen’ Srimulat, dia pun sakit hati. Betapa tidak. Untuk bisa gabung dengan grup lawak paling elit (saat itu), dia sudah mengantungi beragam ilmu melawak, main ludruk, nyanyi maupun seni peran lainnya.

Eko sudah pernah ikut main ludruk bersama Jalal (pelawak, almarhum, Red), juga dengan Cak Tohir membentuk Ludruk Gelora 10 November. “Kalau dipikir kurang apa saya ini. Ngelawak bisa, main ludruk apalagi. Kok masih tega-teganya ditolak,” tegasnya.

Tapi saking nafsunya gabung Srimulat, Eko tak kekurangan akal. Ia terus main ludruk dari satu pentas ke pentas lain. Secara pribadi kelucuannya juga sering ditanggap, mulai acara Agustusan di kampung-kampung hingga ke restoran mewah maupun hotel atas inisiatif pengusaha maupun pejabat.

Di situlah nama Eko mulai dikenal. Dia pun sedikit memberi embel-embel namanya dengan sebutan Eko Handai Taulan Hawai Five O John Aloha. “Julukan itu muncul begitu saja. Khusus yang Aloha, karena saya sering diminta pentas di Restoran Aloha,” kelakarnya.

Namun, lagi-lagi pria yang kini suka pakai udheng itu belum puas, meski sudah mulai dikenal. Ia tetap ingin gabung dengan Srimulat. Dia pun terus belajar dan mepet para anggota Srimulat, sampai pada akhirnya pada 1984 ia diterima.

“Wuih, rasanya bangga sekali. Di zaman itu, Srimulat adalah grup lawak paling jos se-Indonesia. Apalagi mulai ada nama-nama beken yang dilahirkan, seperti Asmuni, Tarzan, Tessy, Kadir, Mamiek, Polo dan lain-lain,” jelas ayah enam anak (satu meninggal) dan kakek empat cucu tersebut.

Begitu gabung, permintaan pentas pun terus mengalir bak air bah. Nyaris tak ada hari tanpa ada orang atau instansi yang nanggap. Karena mulai kebanjiran order, Srimulat pun menggagas ekspansi gedung ke Solo, Semarang, dan Jakarta. “Akhirnya, saya juga ikutan ke Jakarta. Siapa sih yang nggak pingin hidup di ibukota,” ungkap Eko.

Sebelum ekspansi mengisi acara di televisi swasta, sebelum 1989 Eko lebih banyak melawak lewat TVRI. Karena nama julukannya terlalu panjang, orang TVRI pun meberinya julukan baru: Eko Tralala. “Ya sampai sekarang, nama itulah (Eko Tralala) yang saya pakai,” pungkasnya. (*)


Sudah menjadi rahasia umum jika Srimulat Surabaya telah kehilangan kedigdayaannya. Sempat menggelar Srimulat Keliling bersama Jawa Pos selama lima bulan, sekarang para pelawak anggota Srimulat pun kembali nganggur. Satu-satunya yang masih dikerjakan adalah pentas rutin sekali sebulan di Gedung Srimulat Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR).

Koordinator pementasan Srimulat, Eko Untoro Kurniawan alias Eko Tralala, bercerita tentang sulitnya membangkitkan kembali ‘nyawa’ Srimulat yang Senin-Kamis.




Selamat, pentas Srimulat Agustus lalu sudah berjalan lancar!

Oh iya, terima kasih. Secara lakon, teman-teman memang sudah sukses memerankan perannya masing-masing. Tapi kalau dilihat sound system-nya, justru nggak sukses karena agak-agak nggak nyambung dengan ucapan-ucapan kita. Tapi, nggak apa-apa memang setiap pentas selalu ada kelebihan dan kekurangannya.

Yang penting, penonton puas, meskipun yang datang nggak terlalu banyak. Sedikit atau banyak nggak begitu penting, yang utama adalah bahwa kita masih bisa pentas bulan depan.

(Pada 28 Agustus, Srimulat menggelar pentas rutin di THR dengan judul Srikandi Perbatasan. Meskipun kapasitas gedung mencapai 1.000 kursi, jumlah penonton tak sampai 100 orang. Padahal, pentas itu gratis.)

Lho, memang Srimulat mau buyar ya?

Kita memang sudah menggagas ke arah itu (buyar). Bahkan, awalnya Srikandi Pementasan itu pentas terakhir kita. Makanya, kita garap dengan sangat baik. Teman-teman juga sudah kita kumpulkan semua. Ternyata ada keajaiban.

Keajaiban apa?

Dua minggu sebelum pentas saya menggagas untuk ketemu Pak Gubernur. Saya mau cerita bagaimana kondisi Srimulat yang sebenar-benarnya. Semua mau tak njlentrehkan ke Pakde Karwo (Gubernur Soekarwo, Red).

Mengapa harus ke gubernur?

Lho, Pakde Karwo itu kan orang nomor satu di Jawa Timur. Jadi, dia harus tahu kondisi seniman yang jadi rakyatnya, termasuk seniman-seniman Srimulat. Waktu Pakde Karwo masih macung (mencalonkan diri) jadi gubernur, dia bilang akan memperhatikan seniman. Karena misi visinya bagus, kita pun milih Pakde. Begitu juga ketika milih SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai presiden, kita lakukan karena visi misi berkesenian maupun budayanya juga bagus. Nah, kita harus dukung pemimpin-pemimpin yang seperti itu.

Sudah ketemu gubernur?

Belum sih. Karena ternyata sulitnya minta ampun. Saya sudah dua kali berusaha. Saya datangi kantornya, tapi juga belum dapat kesempatan untuk ketemu langsung. Tapi saya sudah ketemu ajudannya. Surat-surat juga sudah saya serahkan. Ada angin segar, karena saya dijanjikan bisa ketemu beliau.

Memangnya kalau ketemu ngapain?
Saya mau minta surat sakti.

Surat sakti apa?
Maksud saya, kalau Gubernur merasa tak rela jika Srimulat bubar, beliau harus bikin tindakan. Lha, tindakan itu bentuknya berupa surat. Garis besarnya, surat itu isinya mengimbau para calon donatur untuk mau menyumbangkan sebagian uangnya ke kas Srimulat. Nah, kalau surat itu benar-benar dibuat gubernur, maka kami akan membawanya ke para calon donatur. Bisa perorangan atau lembaga bahkan perusahaan.

Misalnya, kalau perusahaan A mau nyumbang, ya monggo silahkan. Nanti produk mereka bisa kita taruh di Gedung Srimulat. Lha, pas pentas, penonton kan akhirnya tahu produk A itu, lalu tertarik dan beli. Ya semacam itulah. Saya kurang bisa menjelaskan secara gamblang, karena saya ini bukan ahli yang begitu-begituan. Kalau suratnya itu yang bikin Pak Gubernur, pasti dudug oleh mereka to. Kalau cuma saya yang minta, yo gak direken. Bahkan, kalau nggak bisa ketemu di kantornya, saya berencana untuk nekat.

Nekat seperti apa?

Pakde Karwo mau saya tungguin di rumahnya. Pokoknya kalau perlu dari pagi sampai paginya lagi saya akan tunggu di rumahnya. Wong saya tahu kediamannya kok. Masak sih kalau sudah digituin tetap nggak mau nemuin kita. Karena kalau bukan Pak Gubernur lagi, siapa yang bisa digugu rakyat Jawa Timur.

Kenapa sih ngotot sekali agar Srimulat Surabaya tidak buyar?

Gimana sih Anda ini? Sebagai masyarakak Jawa Timur kita harus bangga pernah melahirkan Srimulat. Srimulat itu grup lawak yang sangat besar lho. Tahun 1980-an, siapa yang tak kenal Srimulat. Semua rakyat Jawa Timur pasti tahu itu. Dan saya juga yakin, nggak ada seorang pun warga Jawa Timur yang ingin Srimulat bubar.

Mereka justru ingin Srimulat bisa berjaya lagi. Tapi dalam kondisi persaingan industri entertainment seperti sekarang ini, yo abot (berat). Selain itu, secara pribadi saya ingin Srimulat bisa dikenal anak cucu maupun keturunan saya. Kalau dikenal, berarti Srimulatnya kan masih hidup. Lha, kalau dikenang saja, yo eman-eman karena berarti Srimulat sudah mati.

Kenapa berat?

Acara di televisi itu sangat beragam, televisi swasta juga sangat banyak, puluhan. Belum yang swasta lokal, juga tak kalah banyaknya. Nah, untuk bersaing dengan acara-acara itu kan butuh amunisi. Lha kita, amunisinya wis entek (sudah habis). Karena tak bisa berkompetisi itu, teman-teman sudah banyak yang kehilangan job.

Mereka yang cuma mengandalkan dapat uang pentas dari Srimulat, yo megap-megap kalau nggak ada tanggapan. Contohnya, ya Didik Mangkuprojo itu. Dia kan pernah menyandang nama besar saat Srimulat masih berjaya. Karena sekarang kita nggak seperti dulu lagi, ya Pak Didik kena imbasnya juga. Nasibnya Pak Didik itu kasihan sekali lho. Padahal, dulu dia itu pelawak top.

Bagaimana dengan nasib anggota Srimulat yang lain?

Kalau mereka punya pekerjaan tetap sih nggak masalah. Misalnya, Baslan Cukup atau Sokle. Dia kan masih dinas di Marinir Jl Opak, jadi ya lumayan gak megap-megap. Lha, kalau pekerjaan satu-satunya hanya di Srimulat seperti saya atau Pak Didik, jika nggak ada tanggapan yo wis wassalam.

Anda yakin gubernur mau mengabulkan permintaan itu?

Saya sangat yakin. Mungkin bentuk bantuannya beda, tidak seperti yang kita mau. Tapi terserah. Yang penting, Srimulat masih bisa hidup. Nyawanya tidak hanya Senin-Kamis, tapi dari Senin sampai Senin lagi.

Sudah menggagas untuk September atau Oktober?

O, belum. Kita masih mikir dulu bagaimana caranya dapat uang untuk biaya pentas, mbayari pemain dan sewa sound system. Kalau soal cerita, itu gampang. Wong teman-teman itu sudah terbiasa dengan dialog tiba-tiba kok.


Kalau pentas sebelumnya, siapa yang memmbiayai?

Setahun lalu kita disokong wali kota (Bambang Dwi Hartono). Selama setahun kita bisa membiayai operasional saban bulan pentas. Sebenarnya Pak Bambang cuma ngasih biaya operasional enam bulan saja. Tapi teman-teman sepakat untuk menggunakan uang itu selama satu tahun. Nah, setelah itu kan kita ada Srimulat Keliling dengan Jawa Pos. Wah, itu menolong sekali lho. Selama lima bulan, dari Maret hingga Juli kita bisa pentas seminggu sekali keliling Surabaya dan sekitarnya.

Soal cerita, siapa yang sekarang aktif bikin skenarionya?

Hahahaha.... Anda harus tahu bahwa sebenarnya Srimulat itu punya 3.000 cerita. Kalau cerita itu sudah dipentaskan 3.000 kali, maka cerita akan kembali ke awal. Begitu seterusnya. Lha, yang nonton kan nggak tahu kalau sebenarnya ceritanya berulang lagi. Kadang penonton malah lupa kalau lawakan yang ia lihat sudah pernah ditonton sebelumnya. Wong yang nonton beda-beda usia kok.

Yakin Srimulat masih bisa berjaya lagi?

Saya sulit menjawabnya. Kalau ada bantuan Pakde Karwo atau dari siapa pun, saya yakin Srimulat masih bisa eksis. Tapi kalau sudah nggak ada yang peduli lagi, apalagi kalau orang-orang Srimulat seperti Tarzan, Nunung, Didik Mangkuprojo, atau saya sendiri sudah mati, sepertinya Srimulat ya bakalan ikut mati.

Terlepas dari minimnya dana, bagaimana dengan regenerasi Srimulat?

Nggak ada sama sekali regenerasi Srimulat. Kita sudah cari. Tidak hanya sekali, tapi bolak-balik. Mulai dari cari-cari sendiri sampai pakai audisi seperti di tivi-tivi, tapi ya tetap saja nggak ada hasilnya sama sekali.

Anak-anak muda nggak minat gabung Srimulat ya?

Kalau minat sih pasti ada. Nggak mungkin tidak ada. Tapi yang harus Anda tahu, Srimulat sekarang ini dikuasai Bu Djujuk (istri Teguh Srimulat). Lha, dia itu SMS ke saya yang isinya, melarang penggunaan nama Srimulat tanpa seizin Bu Djujuk. Termasuk Srimulat Surabaya.

Lha, saya ini ingin tahu, apa benar Bu Djujuk bikin aturan seperti itu. Tapi sampai sekarang yang belum bisa ketemu tuh. Maksud saya, kalau memang aturan itu ada, ya harusnya Bu Djujuk ngopeni teman-teman Srimulat Surabaya. Jangan dibiarkan begitu saja dong. Lha, kalau memang nggak mau ngopeni teman-teman, ya biarkan saja ia menghidupi dirinya dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Siapa-siapa saja bintang lawak yang sudah dilahirkan Srimulat Surabaya?

Saya nggak hafal semuanya. Yang saya ingat ada Didik Mangkuprojo, Bambang Gentholet, Paimo, Abimanyu, Bandempo, Limbanpo, Edi Geol, Vera, Miarsih. (*)



EKO UNTORO KURNIAWAN



Nama Beken : Eko Tralala
Lahir : Surabaya, 24 Agustus 1957
Alamat : Jl Raya Medokan Asri Barat RL-VL No. 2, Rungkut,
Surabaya
Pekerjaan : Pelawak (Gabung di Srimulat sejak 1984)
Istri : Setiani

Putra-Putri :

1. Elok Febriani Setiawati (30)

2. Koko Mahardika Kurniawan (27)

3. Febri Andriana Kirantini (25)
4. Eva Rosdiana Dewi (meninggal usia 1,1 tahun)
5. Erika Ayu Puspitasari (19)
6. Herlina Puspitasari (16)

Ayah : Sugiyanto (Almarhum)

Ibu : Andreana Helena Kohen (Almarhum)
Pendidikan : SDN Kedurus
SMP Joyoboyo (Siang)
SMA Taman Siswa (kelas 1)
SMA Sejahtera (kelas II hingga lulus)

Pengalaman:

1. Gabung Gambus Nisri Dharma Wisata (1974-1975)
2. Karyawan Pabrik Rokok Banjarmati, Kalimantan (1977)
3. Gabung Ludruk Cendekia (1978-1979)
4. Masuk Srimulat 1984
5. Gabung Ludruk Gelora 10 November (dengan Cak Tohir)
6. Mendirikan lawak Gembrot Group bersama Purbowati
7. Gabung Sumirat Group bersama Mamiek, Ogon, Eko, dan Aming

12 September 2009

Puasa, Mudik, Hode Lima

Watanen puasa leron 30. Hulemen sampe lera lodo rekan renu hala. Hide malu mara, ake koda medohn. Sembeang terus, mengaji. Bauken, magrib, buka rame-rame: renu es tapo arin, kolak kemi-kemi, takjil, rekan renu masam-masam.


Kame te kantor watanen amuken, kiwanen ata telo. Wartawan kiwanen te kantor go mehak. Puasa pi Surabaya, Sidoarjo, Jawa Timur... ina-ama, mura-rame. Bauken, dahe magrib, kame mian makanan buka. Leron kae gate: ikan, ewang nawung, teluk.... 

Lile televisi Surabaya, naranen JTV, pas bang magrib rame-rame renu wai gula. Hmmm.... onena sare. "Alhamdu...lillah, puasa pi leron puluh rua kae. Minggu waiken tite balike lewo, mudik. Hahaha," go reuk maring nepa. 

Jawa lewun pe watanen amuken. Kiwanen tou rua hena. Mo bisa bayangkan, puasa raen mura rame: hulemen, rema, rema tukan, imsak... tite denga atadiken sembeang, mian galet. Koda kiring, basa kitab suci....

Tite, ata kiwanin, puasa le take? Tite puasa hala ro dore buka hehehe.... Tite tekan tenun biasa ro ake sembarang. Ake tenu rokok te bis, tempat umum. Tite hormat ata watanen puasa. 

Esi muri, minggu waiken, acara mudik rai lewo tana, mupul ina-ama, kaka-ari. Jawa alawen teina te kota, kerian te kota, tapi ra nepe lewo alawen. Leron pito, nem, lema... Lebaran, ra musti usaha balik rang lewona. Gere kereta api, bis, oto raena... Antre ribun ratu, tiket welin-welin, calo aya-aya, ra tetap rai lewo.

"Lebaran te kota nepe sare hala. Ina ama, kaka ari, famili kamen rae lewo pero? Tun tou moan tou kame mai lewo mupul mong ina ama, kaka ari, hode lima, maaf-maafan. Kalo tite mudik hala, beng hode heku liman," go reuk naranen Karim, teika Jakarta, maring nepa. 

Na mudik leron pulo. Pas Lebaran Karim nong han anaken (rua), hode lima, sungkeman, te ina ama. Lebaran pertama na te han langun, rumah mertua. Na di siap doit kutulen, Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, nang neng rehak beluren hode lima, renu wai, rekan kue. 

"Lebaran nepe go peten nolo, masa kecil, tetapi lewo. Pi go belek aya ake, go musti balas ana-anak beluren nepe," Mas Karim maring. 

Leron rua te han lewun, Karin nong han anaken rai te Karim lewun, lewo ahan. Acara hama hena: hode lima, sungkeman, renu wai, rekan renu welinen, labur wun. "Berarti mo siap doit aya-aya, Mas Karim?" go dahang.

"Hahaha... Doit goen esi. Go kang THR nong tabungan kang hope oleh-oleh," Mas Karim maring.

Bulet dagel balik lewotanah, nepe memang luar biasa pi Jawa! Minggu rua tite lile berita "mudik Lebaran" te televisi: H-7 sampe H+7. Leron pulo nong pat, 14 hari. Moga-moga aman, lancar, saing lango kerung keluarga, hode lima, sare-sare.

Mudik nepe juga kesempatan nuru ahena, noning ana baik rae lewo: kame nepe kerian mela-mela lau Surabaya, Jakarta, kota besar. Kame balik lewo mete etin lamak, doit, ayaken. Ale lolon mela-mela, klemuren, hope oto welinen. Rugi hala kame melarat, seba kerian, teti kota. Ana kamen di klemu-klemu, laen, roi koda inggrisen, koda lohumen roi hala. Hehehehe....

Nereng oto akoko hala, pokoknya bisa nuru ata lewo: go pi hope oto kae, welinen, muringen. Anggota DPRD, pegawai negeri, pejabat, rete oto dinas, plat merah, rang nuru teti lewo.... 

Hehehehe..... 

Peck Dijono, Wartawan Mesin Ketik

Makin banyak saja wartawan senior yang meninggalkan kita untuk selamanya. Kamis, 10 September 2009, Bapak Peck Dijono meninggal dalam usia 73 tahun. Mantan pemimpin redaksi SUARA INDONESIA (Malang, kemudian pindah ke Surabaya) ini dimakamkan di Sukolilo Surabaya. 

Kita, khususnya wartawan muda, kehilangan almarhum yang selalu ramah, ngemong, banyak memberikan nasihat di bidang jurnalisme. Meskipun sudah lama pensiun dari SI, Pak Peck tetap aktif sebagai wartawan sampai akhir hayatnya. 

Dia menulis dan terus menulis. "Orang kalau sudah terjun di pers itu, sulit meninggalkan dunia surat kabar. Jiwa saya itu wartawan," ujar Pak Peck keada saya dalam beberapa kesempatan.

Sebelum Pak Peck, kita di Surabaya juga kehilangan wartawan senior macam Bapak H. Agil Haji Ali (MEMORANDUM), Bapak Dharma Dewangga, dan beberapa nama lagi. Mereka-mereka mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk media massa. Tubuh mereka memang ringkih dimakan usia, dan penyakit, tapi semangat dalam mengembangkan jurnalisme tak usah diragukan lagi.

Kita, pekerja media sekarang, mungkin sulit membayangkan suasana kerja Pak Peck dan kawan-kawan yang dirintis sejak 1960-an dan 1970-an. Komputer belum ada. Produksi koran, sistem cetak, semuanya serba manual. Maka, saya sering menyebut Pak Peck dan kawan-kawan sebagai wartawan "generasi mesin ketik". 

Tak, tik, tuk, tak, tuk!!! 

Kantor redaksi koran tentu saja sangat ramai dengan suara mesin ketik. Mereka harus disiplin mengelola pikiran, menyusun kalimat, agar tidak banyak salah ketik. Sebab, sekali engkau salah mengetik, sulit untuk dikoreksi. Bandingkan dengan sistem komputer yang sangat mudah penyuntingannya.

Proses cetak pun tak kalah ruwet. Huruf-huruf harus ditata satu per satu. Dan harus dibaca terbalik. "Kalian, wartawan-wartawan sekarang, memang sulit membayangkan," ujar Pak Peck, yang secara legal-formal pernah menjadi pemimpin redaksi saya di SUARA INDONESIA alias SI. Koran SI kemudian berganti nama menjadi RADAR SURABAYA.

"Apa tidak repot harus mengetik pakai mesin ketik biasa, nyetor naskah ke redaktur, diedit secara manusal, nyetor ke percetakan, kemudian distribusi menggunakan armada yang terbatas? Internet juga belum ada? Faksimili tidak ada? Jaringan telepon masih minim?" tanya saya suatu ketika.

Pak Peck tersenyum. "Kalau dilihat dari kacamata sekarang memang kayaknya repot. Tapi kami sih jalan seperti biasa. Dan, buktinya koran bisa terbit setiap hari," ujar bapak yang selalu bersedia berdialog dengan wartawan "generasi internet dan blog" ini. 

Setiap zaman punya tantangan yang berbeda. Selain teknologi yang sederhana, kerja jadi sangat lama, berjam-jam kerja di ruang redaksi (newsroom), Pak Peck dan wartawan senior tempo doeloe harus berhadapan dengan rezim otoriter Orde Baru. Semua media harus punya SIUPP: surat izin usaha penerbitan pers. Pers tidak bebas. Banyak sekali rambu-rambu yang menjebak pers.

Tapi Pak Peck dkk bisa melalui semua jebakan itu. Wartawan-wartawan lama -- yang tidak kenal komputer, internet, telepon genggam, laptop -- bisa bekerja dengan baik. Bahkan, sangat baik. Idealisme tinggi. [Kalau tidak idealis, mana ada yang mau jadi wartawan atau pemimpin redaksi macam Pak Peck, bukan?] 

Mereka-mereka sering menghasilkan liputan-liputan investigatif, bermutu, dan eksklusif. Gaya tulisan mereka pun sangat "mempribadi". Begitu kita baca sebuah berita atau ficer tanpa nama atau inisial wartawan pun, kita sudah tahu penulisnya. Oh, itu tulisan Pak Peck Dijono! Oh, itu tulisan Pak Agil! Oh, itu tulisan Pak Basuki! Oh, itu tulisan Pak Rosihan! Oh, itu Muchtar Lubis. 

Karena belum ada komputer, belum ada internet, tidak ada e-mail, tidak ada wartawan yang main CP: copy-paste. Atau mencuri berita dari internet. Reporter masa lalu harus turun ke lapangan, mandi keringat, agar bisa mendapat berita dan foto. Tempaan itulah yang membuat mereka tetap tegar sebagai "kuli tinta" sejati.

"Tapi kami asyik saja berada di lapangan selama berhari-hari. Sangat nikmat," kata Pak Wahid, juga mantan wartawan senior SI, anak buah almarhum Pak Peck Dijono.  

Pak Peck selalu berpesan agar wartawan muda menulis secara akurat, berimbang, dan bijak. Tetap kritis, tapi santun dalam memilih kata-kata. "Yang menulis berita ANU itu siapa ya? Sudah bagus, tapi kurang ini. Harus dikembangkan lagi dari sudut (angle) ini," kata Pak Peck suatu ketika.

Pak Peck, wartawan senior, yang tetap berusaha mendorong anak-anak muda yang sudah telanjur terjun ke pers. Kata-katanya selalu halus, santun, tidak memaksa. Dia tidak ingin wartawan tidak bisa mengontrol emosi sehingga mengobral kata-kata kasar dalam beritanya. 

Kini, Peck Dijono, ayah empat anak itu, telah dipanggil pulang ke haribaan Gusti Allah. Satu lagi wartawan "generasi mesin ketik" mengakhiri tugasnya. Selamat jalan Bapak Peck Dijono!  

08 September 2009

Hmm... Ramuan dan Sate Kobra


Ular kobra?


Mendengar namanya saja, banyak orang bergidik. Maklum, kobra merupakan jenis ular berbisa. Racunnya sangat mematikan kalau tidak segera ditangani. Namun, di Surabaya ada kafe khusus yang menyediakan menu ular kobra. Café Jungle di atas jembatan Jalan Sumatra. Tak jauh dari Hotel Sahid.

"Rasanya enak, hangat, gurih, gak anyir," kata Hendro, konsumen kobra asal Blitar, usai minum ramuan kobra. Penikmat kobra lainnya pun rata-rata sangat menikmati ramuan binatang melata itu.

Adalah Agus Brewok, pecinta ular, yang membuka Cafe Jungle ini. Ular-ular berbisa yang diambil dari Gresik, Lamongan, Mojokerto, Kediri, sampai Bojonegoro itu disimpan di karung beras, kemudian dikeluarkan saat azan magrib. Para pelanggan pun mulai berdatangan. Ular sepanjang 90-an sentimeter itu diambil darah, empedu, dan sumsumnya.

Bumbu-bumbu: madu, akar gingseng, rempah-rempah, arak, tangkur buaya, tangkur kobra, embrio rusa, dan ular weling. Ramuan favorit ini dijual Rp 50 ribu per gelas.

"Manfaatnya untuk menetralkan toksin, melancarkan aliran darah, menyembuhkan diabetes, asam urat, dan rematik," begitu klaim Pak Brewok yang lahir pada 1966 ini. "Banyak langganan saya dari kalangan pejabat, artis, sampai orang biasa."

Sate kobra juga banyak dipesan. Bumbunya tidak berbeda dengan sate biasa. Sate kobra dilumuri kecap sebelum dibakar. Setelah agak kering dan bumbu kecap meresap, baru diberi bumbu kacang dengan irisan bawang merah sebagai penyedap. Asap yang mengepul membuat warga penasaran ingin menjajal sate aneh itu.

Harga satu tusuk Rp 2.500. "Rasanya enak dan unik," kata seorang karyawan perusahaan swasta di Jalan pemuda.

"Sate kobra memang paling banyak dipesan. Dalam sehari bisa habis 10 kobra berukuran besar dengan panjang satu sampai 1,5 meter," ujar Riko Fery Anggriawan, penjaga warung. Selain menjual menu kobra, kafe ini juga menjajakan menu makanan eksotik dari tokek dan biawak.

Agus Brewok mendapat hasil bersih hingga Rp 3 juta per bulan. Bukan itu saja. Kulit kobra dapat diolah lagi menjadi ikat pinggang, dompet, tas, atau sepatu. Sedangkan kepala kobra bisa dibuat gantungan kunci. "Dompet dan ikat pinggang saya dibuat dari kulit kobra," uja Brewok yang tinggal di Surabaya sejak 1983.

Karl Edmund Prier SJ dan Musik Liturgi



Oleh DWIKORI SITARESMI

Karl Edmund Prier SJ, pastor kelahiran Weinheim, Jerman, 72 tahun lalu, dikenal karena kiprahnya dalam musik liturgi gereja (Katolik). Kemampuannya mengolah dan mencipta lagu serta memainkan organ tidak diragukan lagi.
Romo Prier berkenalan dengan musik klasik saat berusia delapan tahun. Perkenalan itu menjadi awal ketertarikannya menekuni musik. Prier muda belajar main organ dan piano. Saat berlatih memainkan alat musik itu, mau tidak mau dirinya harus memahami teori musik, ilmu harmoni, analisa lagu, dan komposisi.

Pendidikan musiknya terus berlanjut ketika ia terpanggil menjadi imam dan menjadi anggota Societas Jesu (SJ), Serikat Yesus. Ketekunan itu membuahkan hasil.Karl Edmund Prier dipercaya menjadi guru musik di salah satu kolose di Austria.

Minatnya mempelajari musik berkembang ketika pimpinan Serikat Yesus mengutusnya dirinya menjadi misionaris di Indonesia. Prier jatuh cinta pada lagu-lagu tradisional. Itu berawal saat Prier tinggal di daerah Wonosari, Jogjakarta. Waktu itu ia masih frater. Ia tinggal di situ untuk mempelajari bahasa Jawa sebelum kuliah teologi di Sekolah Tinggi dan Filsafat Teologi Kentungan, Jogjakarta.

Pada 1960-an itu keadaan Wonosari memprihatinkan. Listrik tidak ada. Kemiskinan di mana-mana. Nasi tidak ada. Gaplek menjadi makanan sehari-hari penduduk setempat. Ketika Natal dirayakan dengan sederhana di Gereja Wonosari, Prier merasa sedih. Matanya menerawang merindukan kampung halamannya.

"Ah, seandainya saya berada di Jerman. Natal pasti terasa lain. Nyanyian Natal terdengar di mana-mana. Suasana sangat meriah."

Lama-kelamaan ia merasakan sesuatu yang lain yang menyentuh hatinya. Seusai misa, Karl Edmund Prier melihat beberapa jemaat yang datang dari tempat yang jauh enggan pulang dan memilih tetap menginap di gereja. Mereka berkumpul dan merayakan Natal dengan makanan seadanya. Hal ini dilakukan karena takut dengan orang-orang komunis yang berada di sekitar gereja.

Di malam hari, tempat itu dipakai untuk berlatih gamelan. Keramahan orang-orang di sekitar yang selalu menyapanya, bahkan menyuruhnya ikut main gamelan, sungguh membuat Karl Edmund Prier makin dekat dengan budaya dan bahasa Jawa.

Saat melanjutkan pendidikan teologi di STFT Kentungan, berbagai gagasan berkembang dalam benaknya. Ia mendapatkan ide-ide ketika membaca hasil Konsili Vatikan II yang salah satu poinnya berbunyi: "Hendaknya musik gereja berpangkal dari budaya setempat."

Karl Edmund Prier berpikir, "Kalau begitu lagu-lagu inkulturasi harus diciptakan agar liturgi gereja bertambah semarak." Untuk itu, menurut Prier, sebuah pusat musik liturgi harus segera dibentuk. Tepat setelah ditahbiskan, Romo Karl Edmund Prier mengusulkan hal itu kepada pimpinan Serikat Yesus. Ternyata, idenya diterima dengan baik.

Jogjakarta dipilihnya sebagai tempat untuk mengembangkan lembaga itu. Karl Edmund Prier berlasan, Jogja masih sangat menjunjung budaya Jawa dibanding kota-kota lainnya. Karena itu, Pusat Musik Liturgi (PML) didrikan di Jogja pada 1971. "Kota ini akan menjadi tempat untuk mengolah lagu-lagu inkulturasi dari daerah lain," harap Karl Edmund Prier.

Selain menciptakan musik inkulturasi, Karl Edmund Prier juga menciptakan pendidikan musik bagi umat Katolik di Jogjakarta. Ia memberi perhatian khusus terhadap pembinaan organis yang andal. Menurut dia, pendidikan musik harus diterapkan dengan serius dan berkesinambungan. Maka, dia membuat program pendidikan organis selama tiga tahun.

Mereka yang ingin mempelajari alat musik organ diberi pengetahuan tentang teori musik, teori dan praktik dirigen, liturgi, ilmu harmoni, membuat iringan, berlatih paduan suara, dan praktik organ dengan ujian. Juga ada pentas tiga kali setahun.

Ada satu lagu rohani yang selalu menjadi semboyan Karl Edmund Prier. Lagu itu berjudul NYANYIKAN LAGU BARU BAGI TUHAN. Kata demi kata yang menjadi syair kidung itu memberinya dorongan untuk terus berkarya,mencipta lagu, membuat komposisi musik.

"Menyanyikan lagu baru bagi Tuhan berarti menciptakan lagu baru. Lagu Indonesia yang inkulturatif sesuai dengan cita-cita Konsili Vatikan II," tuturnya.


Karl Edmund Prier sangat menghargai kerja tim. Hal itu dibuktikan saat mengadakan lokakarya komposisi musik gereja. Acara itu selalu menghasilkan lagu-lagu liturgi yang baru. Ia menghendaki setiap lagu yang diciptakan tidak ada nama penciptanya. Maka, tiap karya seni yang dihasilkan lewat acara itu hanya mencantumkan nama "hasil lokakarya komposisi musik gereja".

"Lagu-lagu itu adalah hasil kerja tim PML Jogjakarta. Bukan hasil karya perorangan," ungkapnya.


Karl Edmund Prier selalu memperjuangkan kelestarian lagu-lagu inkulturasi dalam gereja. Ketika pencipta-pencipta lagu rohani yang baru bermunculan, ia tidak merasa tersaingi, bahkan gembira. Namun, ia menyayangkan bila lagu-lagu baru dibuat asal-asalan, tidak liturgis, dan tidak sungguh-sungguh memperhatikan syair. Karya semacam itu hanya bertahan sebentar dan menjadi sampah.

Menurut Karl Edmund Prier, lagu gereja harus dibuat sungguh-sungguh sehingga dapat digunakan untuk membantu umat berdoa. Ia prihatin melihat perkembangan lagu-lagu baru.
"Kini, banyak pencipta lagu rohani yang terpengaruh dengan budaya lagu-lagu pop di televisi sehingga mereka membuat lagu gereja yang ngepop. Mereka merasa bahwa lagu-lagu tersebut sesuai dengan selera anak-anak muda," ujarnya.


Karl Edmund Prier berpendapat, pencipta lagu harus menyadari bahwa umat pergi ke gereja untuk mencari jawaban dari Tuhan atas segala permasalahan hidupnya. Kondisi itu sangat berbeda saat seseorang duduk di depan televisi dengan motivasi mencari hiburan. Maka, lagu gereja yang baik harus mempertimbangkan lirik dan nada yang dapat membantu umat berdoa.

Sejenak Karl Edmund Prier mengingat saat-saat ketika ia masih berada di Jerman. Waktu itu gereja-gereja berusaha menarik kaum muda mengikuti perayaan ekaristi. Mereka boleh menggunakan band dan lagu-lagu pop rohani yang sama sekali tidak liturgis. "Tapi lambat laun anak-anak muda itu tidak menemukan makna liturgi yang sesungguhnya dalam setiap musik yang mereka mainkan," kenangnya.

Karena itu, Karl Edmund Prier terus bersemangat dalam memperkenalkan pemahaman tentang lagu liturgi yang benar kepada masyarakat. Dia juga menginginkan paduan suara berkualitas untuk membawakan semua lagu yang diciptakannya bersama tim PML. Keinginan itu didengar oleh Paul Widyawan. Lahirlah Paduan Suara Vocalista Sonora di Jogjakarta.

Di usia 72 tahun, Karl Edmund Prier terus berkarya. Baginya, tiada hari tanpa musik.

Sumber: Majalah HIDUP, Jakarta
BACA JUGA
Karl Edmund Prier dan Paduan Suara

06 September 2009

Terang Bulan, Negaraku... Sesama Maling




Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului

Oleh REMY SYLADO


Kompas ikut membikin ramai klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia, mencantumkan judul lagu ”Terang Bulan” sebagai ciptaan orang Indonesia.

Sebelumnya beberapa brodkas TV stel yakin mencocokkan lagu kebangsaan Malaysia ”Negaraku” dengan lagu ”Terang Bulan”. Malahan seseorang yang mengaku anak Sjaiful Bachri, pemusik Indonesia yang pernah ”lari” ke Malaysia, sebagai pencipta ”Terang Bulan”.

Salah satu, jika bukan satu-satunya media pers Indonesia pada 1957 yang memuat berita tentang ”Terang Bulan” menjadi lagu kebangsaan Malaysia adalah majalah Musika No 1 Th I September 1957. Majalah yang dipimpin Wienaktoe itu menurunkan berita berjudul ”Negaraku” sebagai berikut:

”Melodi lagu ’Terang Bulan’ jang kesohor itu achirnja dengan resmi diterima sebagai lagu kebangsaan Malaya pada hari kemerdekaan tanggal 31 Agustus 1957 j.l. dengan diberi nama dan tekst baru ’Negaraku’. Pihak RRI dan Pemerintah Indonesia untuk menjatakan penghargaannja, telah melarang diputar dan dimainkan atau diperdengarkan melodi tsb pada setiap kedjadian biasa”.

Kalau kita membaca Het Nationale Volkslied oleh Margreet Fogteloo & Bert Wikie (AW Bruna Uitgevers BV Utrecht), jelas diuraikan bahwa ”Negaraku” yang dulu di Indonesia dikenal sebagai ”Terang Bulan” adalah ciptaan orang Perancis bernama Pierre Jean de Béranger (1780- 1857).

Siapa sebenarnya orang ini?

Ensiklopedia pertama yang terbit setelah Indonesia merdeka, Ensiklopedia Indonesia, 1954, oleh TS Mulia dan KAH Hidding mencatat nama Pierre Jean de Béranger sebagai pencipta sejumlah lagu rakyat (Pr chanson populaire, Ing. folk song, Bld, volkslied). Di antara ciptaannya yang terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Perancis di sini, Februari-Agustus 1811, sampai digegaskannya Bandung sebagai Parijs van Java, 1925, adalah Chansons morales et autres, Chansons nouvelles, Chansons inédites.

Selama itu, pengaruh kebudayaan Perancis di Indonesia, jadi bukan di Malaysia, memang besar. Di Manado, yang sekarang disebut katrili, dan merupakan kesenian tradisional, berasal dari kata bahasa Perancis quadrille. Lalu, di Bandung, teater tradisional longser merupakan serapan kata bahasa Perancis, aba-aba seorang sutradara mengucapkan kata longer untuk bergerak lalu. Dan, jangan lupa kereta sado di Batavia berasal dari bahasa Perancis dos à dos, artinya duduk saling memunggung.

Tetapi, di antara tokoh-tokoh seni Perancis yang pernah lama mukim di Indonesia, bukan Malaysia, adalah penyair terkemuka perkusor Simbolisme abad ke-19, Arthur Rimbaud. Pada 1876 penyair ini tinggal di Salatiga sebagai serdadu batalion I infanteri. Tentang dirinya di Salatiga bisa dibaca dalam Het Koninklijk Negerrlands-Indisch Leger 1830- 1950 oleh Zwitzer & Heshusius (Staatsuitvegerij ’s-Gravenhage).

Salah seorang sahabat Rimbaud, René du Bois, bahkan menetap di lereng gunung Ungaran sampai tua, dan termasuk yang dikunjungi Mata Hari (Margareha Geertruide Zelle) sang ’polyglot harlot’ yang dieksekusi mati oleh otoritas Perancis pada Perang Dunia I sebagai mata-mata.

Maunya, dengan sekelumit gambaran ini, jangan sampai gairah klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia lantas melupakan peribahasa ”semut di seberang laut tampak gajah di depan mata tak tampak”. Sebab, kita juga punya kebiasaan nyolong.

Sebagai pembuka ingatan, perhatikan dua lagu yang dianggap memiliki pathos kebangsaan, yaitu lirik ”Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau”, dan ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”. Yang pertama mengingatkan lagu Perancis ciptaan Rouget de Lisle. Memang hanya bagian depan, bagian yang sama dimanfaatkan Beatles juga.

Tetapi yang kedua, ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”, adalah 100% pencurian atas lagu gereja ”What a Friend We Have in Jesus”. Tidak tahu apa ilusi grup musik perempuan asal Surabaya, Dara Puspita, pada 1960-an menyanyikannya menjadi ”Ibu Pertiwi sedang bersusah”. Lagu himne ini aslinya diciptakan oleh Horatius Bonar pada lirik dan Charles Crozat Converse pada musik, dan dicatat hak ciptanya pada 1876 lewat Biglow & Main.

Harapannya, dalam klaim- klaiman yang sedang panas sekarang ini, jangan pula melahirkan pemeo baru ”Sesama pencuri jangan saling mendahului”. Sebab, ujungnya kalau urusan marah-marah ini dibeberkan dengan kasus-kasus plagiat yang ternyata tidak sepi di Indonesia, malunya harus ditanggung bersama.

Sekadar contoh lain untuk mengingatkan itu, pada 1971 Markas Besar Angkatan Darat, ditandatangani oleh Brigjen Soerjadi, telah membuat malu memberi piagam kepada Ismail Marzuki sebagai komponis yang disebut mencipta lagu ”Auld Lang Syne”. Periksa Lagu-Lagu Pilihan Ismail Marzuki, oleh WS Suwito, Titik Terang, Jakarta. Tentu saja ini ngawur yang menyedihkan. Lagu ”Auld Lang Syne” itu nyanyian tradisional Skot yang digubah oleh Robert Burn dan dicatat penciptaannya melalui Preston & Son, London, 1799.

Sebelum itu, Ismail Marzuki disebut juga sebagai pencipta lagu ”Als die orchideeën bleien” dan ”Panon Hideung”. Padahal, lagu yang pertama, yang kemudian berlirik bahasa Indonesia ”Bunga anggrek mulai timbul”, adalah ciptaan Belloni, pemimpin orkes Concordia Respavae Crescunt, yang dinyanyikan oleh Miss Lie pada 1922.

Yang kedua, ”Panon Hideung” adalah lagu tradisional Rusia, diaransemen di Amerika oleh Harry Horlick & Gregory Stone dan masuk hak cipta pada 1926 di bawah Carl Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonesia, melalui Bandung pada tahun yang sama oleh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev.

Termasuk Presiden RI Soekarno, pada 1961 membuat kesalahan memberikan Piagam Widjajakusuma kepada Ismail Marzuki, yang menyebut dalam piagam itu bahwa lagu ”Hallo- hallo Bandung” adalah ciptaan Ismail Marzuki. Padahal, lagu itu aslinya ciptaan seorang prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing yang dinyanyikan bersama peleton Bataknya dari long march Yogya-Bandung di zaman revolusi. Tentang kematiannya bisa dilihat lukisannya di Museum Siliwangi, Jl Lembong, Bandung.

Lagu ”Hallo-hallo Bandung” ciptaan Lumban Tobing ini hanya sama judul, tapi beda melodi dan lirik dengan lagu Belanda nyanyian Willy Derby pada 1929 ketika radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij) beroperasi di Bandung versi baru rekaman ini dinyanyikan lagi oleh Wieteke van Dort di TV Belanda dalam De Stratemakeropzeeshow, 1972, dan dicetak teksnya pada 1992 dalam De Wduwe van Indië.

Nah, ”Terang Bulan” juga tersua dalam De Wduwe van Indië dalam dua teks, yaitu bahasa Indonesia gaya KNIL dan bahasa Belanda. Kita baca teks yang pertama saja:

Terang boelan
terang boelan di kali
Boewaja timboel
katanja lah mati
Djangan pertjaja
orang lelaki
Brani soempa
dia takoet mati.

Asal saja teks lama di atas tidak jadi ejekan kepada kita, Indon, sebagai ”brani soempa, dia takoet mati”. Kalau ada tuduhan begitu, rasanya elok diingat teriakan Bung Karno dulu, ”Ganyang Malaysia!”

Sumber: Kompas Minggu, 6 September 2009

05 September 2009

Tanda Tangan Orang Indonesia


ARTIS 80-AN: Corak tanda tangan Lydia Natalia sederhana, jelas terbaca namanya. Tidak ruwet. 

Sejak SD di kampung, pelosok Flores Timur, yang tidak punya jaringan listrik PLN itu, saya selalu memperhatikan tanda tangan orang-orang tua. Saya perhatikan betul corak tanda tangan lima guru SD di kampung saya. Kemudian saya berusaha meniru tanda tangan mereka. 


Dulu, 1980-an, di kampung itu ada dua macam tanda tangan. Satu, paraf alias tanda tangan sederhana untuk mengisi daftar hadir atau bukti penerimaan uang atau barang. Kedua, tanda tangan utuh (lengkap) untuk dokumen resmi. Kepala sekolah yang menandatangani ijazah harus pakai tanda tangan lengkap, bukan paraf. Sampai sekarang pun saya masih ingat dan bisa meniru tanda tangan lima guru SD itu.

Di SMP, SMA, universitas... pun saya masih memperhatikan tanda tangan guru, dosen, kepala dinas, pejabat. Saya hafal betul tanda tangan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Daoed Joesoef, Menteri P dan K Fuad Hasan, Menteri P dan K Nugroho Notosusanto... dan banyak lagi. 

Saat sekolah di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, karena berteman akrab dengan anak Tionghoa, bos toko kaset, saya lebih memperhatikan tanda tangan artis penyanyi. Kebetulan saat itu artis-artis JK Records sangat populer di Flores. Saya pun hafal tanda tangan Meriam Bellina, Ria Angelina, Lydia Natalia, Obbie Messakh, Deddy Dores... hingga Dian Piesesha. Maklum, di sampul artis-artis ini selalu ada tanda tangannya.

Sampai sekarang pun kalau ada kesempatan bertemu artis, saya selalu minta tanda tangan. Lebih senang lagi kalau ada kaset/CD yang ditandatangani si artis. Maka, saya pernah punya tanda tangan Yana Julio, Wayan Balawan, Achmad Albar, Ian Antono, Ermy Kullit, dan beberapa lagi. Saya juga minta tanda tangan penulis buku atau cendekiawan macam Romo Mangunwijaya atau Romo Frans-Magnis Suseno SJ. 

Baru-baru ini ketika ada acara bersama Andrea Hirata di Surabaya, saya membawa buku LASKAR PELANGI. Saya kagum dengan karya-karya Andrea Hirata. Sebetulnya saya ingin Andrea menandatangani buku LASKAR PELANGI, SANG PEMIMPI, EDENSOR, MARYAMAH KARPOV yang saya simpan di tas. Tapi saya malu dan tak jadi minta tanda tangan. 

Kenapa? Empat buku Andrea yang saya beli di Jalan Semarang, pusat buku bekas Surabaya, itu ternyata bajakan. Bisa ketahuan belangku sebagai penadah buku bajakan. Hehehehe..... 

Hari ini, saya masih memperhatikan tanda tangan artis yang dimuat di koran KOMPAS (5/9/2009) halaman 29. Iklan Klinik Mata Nusantara dengan bintang Lola Amaria. Tanda tangan Lola Amaria khas orang Barat, khususnya Amerika Serikat (USA): terbaca dengan jelas namanya, Lola Amaria. 

Berdasarkan pengamatan saya selama 20 tahunan, ternyata sebagian besar tanda tangan orang Indonesia tidak seperti Lola Amaria atau Lydia Natalia yang jelas dan nyaman dibaca. Rata-rata tanda tangan rakyat Indonesia ruwet kayak cakar ayam. "Semakin ruwet semakin baik karena sulit ditiru," begitu "ajaran" sering saya dengar di mana-mana.

Karena "ajaran" yang tak jelas asal-usulnya itulah, tanda tangan lima guru SD saya di kampung ruwet bukan main. Coret kanan, kiri, atas bawah, dan bikin pusing. Tak ada satu pun yang teridentifikasi namanya. 

Di Sidoarjo, dari 45 anggota DPRD periode kemarin (2004-2009), hanya sekitar lima anggota dewan yang tanda tangannya "bisa dibaca". Yang lain serba ruwet dan hancur-hancuran. Mereka ternyata menganut "ajaran" lama yang dulu saya dengan di Flores: "Buatlah tanda tangan sesulit mungkin agar tidak mudah ditiru orang lain!"

Menurut Dr Rhenald Kasali, pakar marketing dan konsultan bisnis dari Universitas Indonesia, tanda tangan yang ruwet ala Indonesia ini memang tak lepas dari karakter masyarakat Indonesia yang tidak mudah percaya pada orang lain. Kita, orang Indonesia, cenderung mencurigai sesama, bahkan tetangga dekat. "Kita itu low trust society," kata Pak Rhenald.

Kita curiga orang lain meniru tanda tangan, kemudian menyalahgunakannya. Memalsukan tanda tangan untuk urusan-urusan tertentu. Jadi, sejak kecil anak-anak Indonesia sudah "dikondisikan" untuk tidak percaya orang lain. 

"Tanda tanganmu kurang sulit. Ganti! Bikin yang sulit, yang sulit ditiru," begitu nasihat kakak kelas saya di SMP ketika melihat tanda tangan saya yang hanya menulis nama. Bukan dengan corat-coret ruwet ala guru-guru saya di kampung.

Ternyata, menurut Pak Rhenald, sejumlah orang Indonesia bermasalah dengan perbankan atau lembaga keuangan di USA hanya karena tanda tangan yang ruwet. "Lha, kok nama dengan tanda tangan Anda berbeda jauh? Bagaimana kami bisa percaya bahwa Anda pemegang kartu kredit ini kalau tanda tangan Anda macam ini?" kata Pak Rhenald mengutip omongan orang USA. 

Memang, kalau kita perhatikan, tanda tangan orang USA selalu jelas, bahkan sangat jelas. Pasti ada kaitan erat dengan namanya. Tanpa menulis nama pun orang langsung tahu bahwa ini tanda tangannya Bill Clinton, itu tanda tangan George Bush, tanda tangan Barack Obama, dan seterusnya. Mengapa begitu? Berdasar kategori sosiolog kondang Francis Yokohama, USA tergolong high trust society. 

Masyarakat USA (Barat umumnya) punya tingkat kepercayaan kepada sesamanya sangat tinggi. Orang USA tidak khawatir tanda tangan bakal ditiru atau dipalsu orang lain. Supremasi hukum terjamin sehingga setiap ada pelanggaran hukum, misal pemalsuan dokumen, bisa dilacak dengan mudah. 

Poin yang saya tangkap dari Dr Rhenald Kasali sederhana saja: 

"Buatlah tanda tangan yang sederhana! Namamu harus terbaca dari tanda tanganmu! Jangan lagi bikin tanda tangan yang ruwet, cakar ayam!"

Bukankah Bung Karno, sang proklamator, sudah memberikan teladan yang bagus? Tanda tangan Presiden Soekarno sangat jelas terbaca: nama SOEKARNO dengan tulisan tali miring. Semua orang Indonesia, saya yakin, sangat hafal tanda tangan Bung Karno yang khas itu. Mengapa kita membuat tanda tangan yang ruwet, yang hanya menyulitkan urusan kita di luar negara?

Syukurlah, akhir-akhir ini saya menemukan gejala yang menggembirakan. Corak tanda tangan artis-artis kita seperti Lola Amaria atau Sandra Dewi sudah terang benderang. Bisa dilacak namanya dengan jelas. Semoga ini pertanda bahwa Indonesia pelan-pelan mulai meninggalkan era low trust society

Pemkot Surabaya Blokir Facebook

Mulai Jumat (5/9/2009) Pemerintah Kota Surabaya memblokir Facebook dan Yahoo Messenger. Semua pegawai pemkot tidak boleh lagi ber-Facebook ria selama jam kerja. Tentu saja, blokir ini hanya efektif untuk jaringan internet milik pemkot. 

"Selama ini koneksi internet di pemkot lamban karena ternyata banyak pegawai main Facebook atau chatting," ujar Chalid Buchori, kepala dinas informatika Kota Surabaya. Karena lamban alias lelet alias lemot, situas lelang milik pemkot sulit diakses oleh para pengusaha. 

"Selain mengganggu kinerja, Facebook juga sudah masuk ke wilayah rumah tangga. Ada PNS (di lingkungan pemkot) yang ketahuan selingkuh akibat Facebook," kata Mbak Yayuk, kepala badan keegawaian. Hehehe....

Bagaimana kalau si PNS bermain Facebook atau YM menggunakan laptop atau HP-nya sendiri? Tentu saja, masih bisa. Tapi paling tidak, para pegawai di Taman Surya sana tidak bisa seenaknya lagi memanfaatkan internet untuk kepentingan pribadi, ngobrol sama teman-temannya di berbagai penjuru dunia, atau mencari teman curhat plus selingkuh. 

Pegawai diharapkan fokus pada pekerjaan sebagai "abdi negara" mengingat dia digaji dengan uang rakyat. Sudah menjadi rahasia umum, para PNS di mana pun cenderung bekerja santai, tanpa target. Masuk kantor, isi buku absen, ngopi, lantas baca koran yang disediakan kantor. Intensitas kerja sangat kurang. 

Nah, mesin ketik manual diganti komputer, internet masuk kantor, akses ke laman apa saja sangat mudah, PNS pun menemukan mainan baru yang asyik. Ritual ngopi masih jalan plus berselancar di dunia maya. Facebook pun ibarat menjadi obat penyakit "lesu darah" yang selama bertahun-tahun diidap para PNS. Berkat Facebook, pegawai lebih betah di kantor. Duduk manis di meja kerjanya, tapi yang "dikerjakan" adalah menyapa teman sebanyak-banyaknya di dunia maya.

Bagaimana dengan kualitas kerja setelah sistem online diterapkan di Surabaya? Belum ada penelitian untuk itu. Tapi, berdasarkan penjelasan Pak Chalid dan Mbak Yayuk, kinerja PNS di Surabaya justru merosot gara-gara Facebook dan YM itu tadi. Para PNS rupanya tak bisa mengendalikan diri sehingga, apa boleh buat, pemkot perlu memblokade situs-situs pertemanan.

Apakah kebijakan memblokir Facebook dan YM yang dilakukan Pemkot Surabaya ini berlebihan? Rasanya tidak juga. Pekan lalu, pemerintah kota di Portsmouth, Inggris, juga menerapkan kebijakan serupa. Alasannya bukan selingkuh, tapi produktivitas kerja yang sangat menurun. 

Para pegawai dewan kota itu korupsi waktu. Waktu untuk kerja terbagi untuk berceloteh dengan mitra Facebook di seberang sana. Konsentrasi terpecah antara menggarap tugas rutin dengan menikmati keasyikan bersama teman kencan di dunia maya. 

Jauh sebelum Pemkot Surabaya, beberapa kantor pemerintah dan swasta di Surabaya sudah lebih dulu memblokir situs Facebook, YM, Friendster, dan sejenisnya. Juga akses ke situs-situs porno. Tapi, namanya juga sudah kecanduan, para penggemar Facebook selalu menemukan celah agar bisa tetap 'keep in touch' di Facebook. 

"Saya lebih baik tidak makan, tidak merokok, ketimbang gak fesbukan," kata seorang kenalan saya, 30-an tahun, di Sidoarjo. "Facebook membuat hidup saya lebih berwarna, lebih semangat. Saya menemukan teman-teman lama, nostalgia indah, pokoknya enak banget deh," tambahnya.

Persoalannya, si kenalan ini menggunakan fasilitas internet di kantor yang "gratisan" (dibayar kantor) pada jam kerja. Mana ada pegawai masuk kantor di luar jam kerja, bukan? "Setiap kali menyalakan komputer, yang pertama saya lakukan adalah membuka Facebook. Saya kan perlu merespons teman-teman," katanya.

Lain lagi dengan Wanto [nama samaran] di Pondok Mutiara Sidoarjo. Ketika saya temui pekan lalu, dia mengaku sudah menutup akun Facebook-nya. "Aku sudah keluar dari Facebook. Saiki gak ono fesbuk-fesbukan maneh," katanya.

Lha, Anda dulu kan paling semangat cerita Facebook? 

"Sudahlah, sekarang sudah lain. Aku ingat istri sama anakku yang masih SD. Keluarga bisa berantakan kalau permainan ini tidak saya stop. Facebook itu pada dasarnya bagus, tapi kalau kebablasan, ya, celaka. Itu yang saya alami," akunya terus terang.

Berkat Facebook, Wanto berkenalan dengan rondo teles (janda kaya), punya mobil, usaha bagus, tapi jiwa merana. Hampir tiap hari mereka berceloteh di Facebook layaknya remaja berpacaran. Adegan selanjutnya, bisa ditebak, mereka sering makan bareng, jalan bareng, dan... tidur bareng. 

"Sekarang aku taubat. Itu masa lalu yang gak perlu dibahas lagi," katanya. 

Hahaha.... Facebook, I love you full!

03 September 2009

Tangisan Menjelang Hari Raya

Demikian  judul lakon yang dimainkan Ludruk Irama Budaya di kawasan Pulowonokromo (Joyoboyo), Surabaya, malam Minggu kemarin (5/9/2009). Para pemain ludruk, yang sebagian besar waria itu, menertawakan nasibnya yang getir menjelang Lebaran. Tanggapan sepi. 


Uang sekadar untuk membeli kue-kue dan baju baru untuk hari raya tidak ada. "Susah, Mas, nasib seniman tradisional sekarang. Kami berusaha bertahan, selalu main di Surabaya, tapi apresiasi pemerintah dan masyarakat sangat kurang. Lha, kalau uang dari tiket gak ada, kami mau makan apa," kata Zakiah, ketua Ludruk Irama Budaya, kepada saya.

Zakiah ini waria sejati, nama aslinya Sunaryo. Dia bersama teman-temannya kerja keras melestarikan ludruk di Kota Surabaya. Saat ini di Surabaya hanya tersisa satu-satunya grup ludruk yang eksis, ya Irama Budaya inilah. Padahal, orang Surabaya selalu "mengklaim" ludruk sebagai kesenian asli daerahnya.

Ibarat tikus mati di lumbung padi. Demikianlah ludruk mati, lebih tepat sekarat, di kota asalnya. Malam itu, penonton Irama Budaya tak sampai 20 orang. Mungkin karena bulan puasa, orang sibuk dengan kegiatan ibadah. Mungkin juga karena pada saat yang sama ada acara di THR yang menampilkan para pelawak pentolan Srimulat.

Bagaimana dengan hari biasa di luar Ramadan? "Sama saja, Mas. Kadang yang nonton hanya tujuh orang, 10 orang. Nelangsa banget," kata Sunaryo yang doyan merokok ini.

Sekarang orang Indonesia sedang marah karena beberapa kesenian dan kebudayaan tradisionalnya diklaim Malaysia: reog ponorogo, tari pendet, batik tulis, barongan.... Kita marah karena kita merasa memiliki. Kita punya barang kok dicolong orang? Diambil tanpa unggah-ungguh? Jelas marah dong. 

Tapi benarkah selama ini kita, orang Indonesia, sudah merawat dan menghidupi kesenian tradisional kita? "Ha... ha... ha.... I love you full," kata almarhum Mbah Surip. 

Contoh konkret, ya, kesenian ludruk di Surabaya ini. Yang nonton hanya 20 orang, padahal penduduk Surabaya sekitar enam juta orang. Ini yang namanya merawat kebudayaan? Wayang orang sudah lama mati di Surabaya. Ketoprak tidak ada. 

Seniman-seniman tradisional sangat merana. Banyak yang menjadi pengamen jalanan, itu pun sering diusir pula. Kalau perayaan ulang tahun Kota Surabaya, Wali Kota Bambang DH dan Wakil Wali Kota Arif Afandi bukannya menanggap wayang atau kesenian tradisional, tapi... band-band populer di Jakarta. Lha, pemerintahnya saja sudah tidak jelas visi kebudayaannya. 

Ada televisi swasta menyiarkan program kesenian dan kebudayaan Indonesia? Setahu saya, televisi lebih asyik dengan kebudayaan Barat, band-band populer, gosip artis kawin-cerai, dan acara-acara yang jauh dari visi kebudayaan. Saya tidak pernah melihat tari pendet, reog, tari likurai, musik gondang batak di RCTI, SCTV, TPI (yang katanya televisi pendidikan), atau Trans TV.

Maka, sebetulnya aneh juga kalau kita marah-marah ketika Malaysia mengklaim dan berusaha menghidupkan kesenian kita yang nyata-nyata sekarat dan telantar. Pemerintah macam Menteri Jero Wacik juga ikutan marah seakan-akan selama ini sudah kerja keras untuk membina kesenian dan kebudayaan nasional. Masih lumayan belum lama ini, 7 Agustus 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nanggap wayang kulit di Istana o Asmoro, lakon Sesaji Raja Suya. 

Kalau mau jujur, sebetulnya bukan hanya Malaysia yang mengalami krisis budaya. Kita juga tak kalah parahnya. Bedanya, Malaysia berusaha mengatasi serangan globalisasi kebudayaan Barat dengan "memulung" kebudayaan Nusantara, kita di Indonesia belum melakukan apa-apa.

Kita hanya bisa reaktif, marah-marah, ramai sebentar, setelah itu kembali menjadi konsumen kebudayaan Barat dan menelantarkan kebudayaan sendiri.

02 September 2009

Malaysia Bukan Bangsa Serumpun




Police officers inspect damage at the All Saints Church in Taiping of Perak state, Malaysia, Sunday, Jan. 10, 2010. Firebombs were thrown at two more churches in Malaysia early Sunday, the latest in a series of assaults on Christian houses of worship following a court decision that allows non-Muslims to use 'Allah' to refer to God. (AP Photo)


Bangsa serumpun!  

Ungkapan ini selalu disebut oleh orang Malaysia baik pejabat maupun rakyat biasa. Di acara hiburan TVRI tempo dulu, TITIAN MUHIBAH SENADA SEIRAMA, "bangsa serumpun", "saudara serumpun" selalu didengung-dengungkan oleh pihak Malaysia. Kita, karena itu, sering terlena oleh rayuan manis orang-orang Melayu di Semenanjung Malaysia itu.

"Tak usah marah lah, kite kan bangsa serumpun," begitu kira-kira rayuan encik-encik di Malaysia ketika orang Indonesia protes klaim seni budaya atau pulau-pulau kecil di perbatasan. Atau tenaga kerja Indonesia (TKI) yang disiksa di luar batas perikemanusiaan.

"Tak apalah TKI didera, toh kita saudara serumpun?" Gila!!!

Saya sudah lama, sejak mahasiswa, menolak klaim BANGSA SERUMPUN ini. Apanya yang serumpun? Orang Malaysia rupanya banyak yang tidak tahu bahwa bangsa Indonesia yang 220 juta lebih ini terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya, dan kekhasan lain. Indonesia begitu luas.

Benar, bahasa Indonesia diadopsi dari bahasa Melayu, tapi orang Indonesia bukan hanya Melayu. Melayu hanyalah salah satu etnis dari sekian ribu etnis yang hidup di Indonesia. Orang Jawa memang mayoritas dan punya peran paling menonjol di Indonesia. Tapi salah kalau dikatakan bangsa Indonesia itu = Jawa. 

Orang Jawa berbeda dengan orang Melayu, Sunda, Madura, Dayak, Bali, Timor, Flores, Papua, Makassar, Maluku, dan sebagainya. Kalau dibilang orang Melayu Malaysia itu serumpun dengan suku Melayu di Sumatera, Indonesia, 100 persen benar. Tapi, kalau bangsa Indonesia bangsa serumpun dengan Malaysia, jelas keliru. Sekali lagi, Malaysia dan Indonesia bukan bangsa serumpun!

Jauh sebelum merdeka, 17 Agustus 1945, Indonesia sudah menjalani proses pembentukan bangsa, nation building. Dan proses ini terus berlangsung sampai kapan pun. Para pendiri negara sepakat bahwa Indonesia itu bhinneka tunggal ika, berbeda-beda etnis, ras, agama, bahasa, budaya, dan sebagainya, tetapi satu. Presiden Soekarno dan para bapak bangsa berjasa besar dalam proses pembentukan bangsa ini.

Malaysia tentu saja punya sejarah yang berbeda. Dan itu kita hargai. Politik Malaysia menempatkan etnis Melayu sebagai penguasa. Punya supremasi politik atas etnis India dan Tionghoa. Padahal, setahu saya etnis Melayu tak sampai 70 persen. Melayu di atas segalanya di Malaysia. India dan Tionghoa jadi warga negara kelas dua atau kelas delapan? Hmmm... begitulah konsekuensi politik ketika politik perkauman menjadi platform negara tetangga itu.

Apakah etnis India dan Tionghoa (China) di Malaysia juga dianggap "bangsa serumpun"? Kan sama-sama rakyat Malaysia? Naga-naganya, saudara-saudara kita yang Melayu merasa punya "jarak" yang politik dan budaya yang jauh dengan Tionghoa dan India. Belum lagi perbedaan agama. Maka, encik-encik Melayu ini berpaling ke Indonesia untuk mencari teman. 

"Bangsa Indonesia saudara serumpun," kata orang Malaysia yang Melayu berbusa-busa. Kita sering terlena oleh pernyataan "bangsa serumpun" yang salah kaprah itu. 

Dalam sebuah dialog di televisi, ANTV, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Yusron Ihza Mahendra, yang mengaku keturunan Johor, Malaysia, mengingatkan bahwa konsep supremasi Melayu di Malaysia sejatinya satu paket dengan agama Islam. MELAYU dan ISLAM! Keduanya tak bisa dipisahkan dari perpolitikan di negara tetangga itu.

Jikapun Anda beragama Islam, tapi bukan Melayu, silakan minggir. Muslim Tionghoa atau orang India yang muslim, meskipun warga negara Malaysia, sudah turun-temurun tinggal di Malaysia, ya, no way! Karena itu, sangat lucu ketika orang Malaysia mengklaim tari pendet asal Bali, Indonesia, yang terkait erat dengan agama Hindu.

"Logikanya di mana? Saya tidak paham," kata Yusron.

Yah, memang tidak logis. Logikanya tidak jalan. Sama dengan ketika Malaysia mengklaim reog ponorogo yang sangat kental dengan budaya Jawa pra-Islam di Jawa Timur. Logika "bangsa serumpun" sehingga seni budayanya tumpah tindih menjadi sangat absurd. Jadi bahan tertawaan orang.

Logika "bangsa serumpun" akan jalan manakala Malaysia mengklaim kebudayaan Melayu di Riau, Sumatera Barat, atau Aceh. Kok tidak mengklaim budaya Asmat di Papua? Hahaha....

Kita perlu berhati-hati dengan klaim "bangsa serumpun" dan klaim-klaim lain yang niscaya akan terus dilakukan Malaysia yang sedang dilanda krisis kebudayaan yang luar biasa. Itu bisa dibaca sebagai siasat Melayu Malaysia untuk memecah bangsa Indonesia yang berbineka tunggal ika. 

01 September 2009

Yang Yijuan, soprano asal Chongqing


Yang Yijuan bersama Suwaji Wijaya (pengusaha, pendiri SSO), dan Konsul Tiongkok di Surabaya Wang Huagen (kanan). Qianjin! Qianjin! Qianjin! Jin!

Gadis Tiongkok itu, Yang Yijuan, memberi warna tersendiri pada konser ke-60 Surabaya Symphony Orchestra (SSO) di ballroom Hotel Shangrila, Selasa malam (18/8/2009). Yijuan merupakan seniman muda berprestasi di Tiongkok.



Suasana konser yang tadinya 'steril', serius, kaku, berubah dinamis ketika Yang Yijuan tampil. Sekitar 800 penonton kembali bergairah setelah menikmati konserto piano karya WA Mozart selama hampir 40 menit. Yijuan yang muda, 23 tahun, dan ciamik, memberi kesegaran baru buat audiens.

Meski baru kali pertama berkonser di Surabaya, Yijuan sama sekali tidak canggung. Berbeda dengan beberapa vokalis sebelumnya, yang tampil tenang, Yijuan sangat akspresif. Nada-nada lagu tradisional Tiongkok berjudul Paimi Er Wo Tejia Xiangduo Momei dibidik dengan pas. Irama oriental sangat terasa. 

Orkestrasi yang disusun Solomon Tong, konduktor SSO, cukup bervariasi. Ada bagian-bagian yang tenang, halus, tapi ada juga yang menuntut power vokal prima dari sang penyanyi. Dan, malam itu, Yijuan lolos dari 'jebakan' orkestra. "Terima kasih. Ternyata, penonton bisa menikmati lagu dari Tiongkok," ujar Yijuan kepada saya selepas konser.

Gadis kelahiran Chongqing, 25 Desember 2006, itu kemudian bersalaman dan foto dengan bersama Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen. Yijuan mengaku bangga karena ternyata penampilannya disaksikan pula oleh diplomat sekelas wang Huagen dan sejumlah konsul negara sahabat di Surabaya.

Musik memang bukan dunia yang asing buat Yijuan. Sejak kanak-kanak cewek yang hanya bisa berbahasa Mandarin ini sudah diperkenalkan orang tuanya dengan kesenian klasik negaranya. Pada usia tujuh tahun Yijuan belajar seni tari. Usia sembilan tahun belajar guzheng, alat musik tradisional semacam sitar. 

Pada usia 16 tahun, Yijuan kuliah di Universitas Chongqing jurusan musik. Di sini pengetahuan dan skill-nya di bidang musik klasik Barat makin diasah. Sebab, Yijuan mengambil mayor bidang vokal dan minornya di piano. Lulus pada 2007, dengan predikat luar biasa (distinction), Yijuan masih melanjutkan lagi studi vokal profesional di Chongqiang.

"Saya sempat mengikuti beberapa pertunjukan, konser di televisi, dan festival folksong mahasiswa yang diadakan Departemen Pendidikan Tiongkok," paparnya.

Selain penyanyi dan pemusik, Yijuan dikenal sebagai guru (laoshi). Dia mulai mengajar musik vokal dan guzheng di Chongqing setelah tamat dari universitas di kota kelahirannya. Tak disangka-sangka, gadis manis ini beroleh tawaran untuk menjadi pengajar vokal dan guzheng di SD Xiao Taiyang alias Little Sun School Surabaya. 

"Lalu, saya diajak konser bersama SSO," ujar Yijuan sambil tersenyum. (rek)