NIRMALA BONAT, TKW asal NTT yang dianiaya di Malaysia.
Sudah biasa tenaga kerja wanita (TKW) disiksa di Malaysia. Dan, untuk kesekian kalinya, orang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang jadi tumbal devisa. Modesta Rengga Kaka, 26 tahun, asal Sumba Barat, disiksa majikan bernama Choo Pelling, Malaysia. Kasus Modesta terungkap akhir Juni 2009.
Wanita NTT ini disiksa luar biasa. Sekujur badannya luka. Telinganya tuli alias rusak permanen. Dihukum berdiri di tengah hujan deras, tengah malam. "Beta dipukul pake kayu dan rotan na," cerita Modesta yang asli Wewera Utara, Sumba Barat. Dia sudah kerja di Choo Pelling selama sembilan bulan.
"Beta pu gaji sonde dibayar. Jadi, beta tahan sa meskipun disiksa. Beta tunggu sampe beta pu gaji su dibayar," kata Modesta dengan logat khas Sumba.
Sebelumnya, Mei 2004, tragedi TKW menimpa Nirmala Bonat, juga kita pu orang. Orang NTT. Kulit Nirmala lebam, penuh bekas luka. Badannya diseterika sama tauke. "Beta su mau mati sa, tapi Tuhan masih kasih beta hidup. Dorang siksa beta macam binatang sa. Padahal, binatang sa belum tentu ketong pukul," kata Nirmala.
Kasus Nirmala Bonat dan Modesta Rengga Kaka, dua perempuan NTT, menjadi berita besar di Indonesia. Terakhir, Juni 2009 pemerintah "terpaksa" menhentikan sementara pengiriman TKI (tenaga kerja Indonesia) ke Malaysia. Padahal, Malaysia butuh TKI dan kita (justru) lebih membutuhkan Malaysia untuk menampung orang-orang Indonesia yang mengangur.
Indonesia, maaf saja, hanya bisa besar mulut, tapi tidak mampu menciptakan lapangan kerja untuk rakyatnya. Malaysia, terlepas dari segelintir majikan yang gila dan kurang ajar, berhasil mencetak lapangan kerja yang luar biasa.
"Pekerjaan di Malaysia itu berlebih, sementara orang Malaysia sendiri sonde mau kerja di sektor informal. Nah, itu yang diisi oleh kita punya orang," kata teman saya, Daniel Rohi, orang NTT yang pernah menjadi dosen (pensyarah) di Universiti Putra Malaysia.
***
Mengapa TKW yang disika itu kebanyakan orang Flores, Sumba, Timor alias Flobamora alias NTT?
"Ceritanya panjang banget, Bung," jawab saya kepada teman orang Jawa di Surabaya. "Kalau saya tulis, bisa jadi buku tebal berjilid-jilid. Mau nulis pakai angle apa saja bisa."
Orang Flores [NTT umumnya] memang punya "hubungan khusus" dengan Malaysia. Gelombang perantauan itu, menurut cerita bapak-bapak di kampung saya, Lembata, Flores Timur, sudah berlangsung sebelum Malaysia merdeka pada 31 Agustus 1957. Maka, di kampung saya kakek-kakek sering menyebut Malaysia dengan PTM: Persekutuan Tanah Melayu.
"Melarat lau PTM pe mela-mela. Tite bisa tao doi. Tula lango. Nato tang lewo tai," begitu kata-kata sakti di kampung. Artinya: "Merantau di Malaysia itu sangat bagus. Kita bisa menabung. Buat rumah. Kirim uang ke kampung."
Ajaran para sesepuh, eks perantauan PTM ini, sangat berbekas di Flores. Diingat benar dari generasi ke generasi. Maka, merantau atau MELARAT [bahasa Flores Timur] ke Malaysia menjadi obsesi hampir semua pemuda di kampung. Orang yang merantau punya nilai lebih. Sebab, ada harapan dia bisa membuat rumah bagus, kirim barang-barang berharga, membantu biaya kuliah atau sekolah adik-adiknya.
Para perantau pun lebih mudah menemukan jodoh ketimbang pemuda yang hanya "jaga kampung".
"Leron kae koda kiring, kerian take, mo pao ham anakem mang aku?" [Tiap hari bicara ngalor-ngidul, tidak punya kerja, bagaimana engkau bisa memberi makan istri dan anak?]
Maka, orang yang tidak merantau ke Malaysia, padahal tidak melanjutkan sekolah atau kuliah, dianggap punya "kelainan". Dianggap hanya akan membebani keluarga yang memang sudah miskin papa. Kasihan sebenarnya, mereka yang tinggal di kampung itu sebenarnya berjasa membangun kampung. Tapi disindir, dicibir dengan kata-kata tajam... sehingga suatu ketika dia harus ke Malaysia.
Kalau pada era PTM, sebelum 1960, merantau hanyalah "kebiasaan" [habit] orang Flores Timur, sejak 1970-an sudah menjadi BUDAYA. Budaya merantau. Habit yang dilakukan puluhan tahun niscaya menjadi budaya. Bahkan, sudah semacam TRADISI. Tak usah heran, jika berkunjung ke Flores Timur, Anda tidak banyak menyaksikan pemuda-pemuda usia produktif. Hampir semuanya sudah "melarat" ke Malaysia.
Sekitar 90 persen teman saya saat sekolah dasar (SD) berada di Malaysia. Yang 10 persen melanjutkan sekolah, ada yang gila, kemudian meninggal, dan sebagainya. Sebelum 1980-an bahkan semua laki-laki tamatan SD langsung melayang ke Malaysia. Hanya wanita-wanita yang tinggal di desa. Karena itu, sejak dulu kita selalu kesulitan mencari orang yang mau jadi kepala desa, ketua RT/RW, dan sebagainya.
Saat masih anak-anak di kampung, saya lebih "mengenal" Malaysia daripada Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Papua, dan sebagainya. Meski tidak pernah ke Malaysia Timur, nama-nama kota di Malaysia bisa kita baca tiap hari di kaus-kaus yang dipakai orang kampung: Tawau, Sandakan, Sabah, Keningau, Lahaddato, Kinabalu, Kuching, Kuala Lumpur, Selangor....
Pada 1980-an biasanya dua kali setahun kapal-kapal pengangkut TKI tiba di Pelabuhan Lewoleba atau Larantuka. Ratusan, bahkan ribuan, orang Flores baru datang dari Malaysia. Bawa kopor-kopor besar, barang-barang sangat banyak, baju baru, wangi... singkatnya luar biasa. Lantas, carter oto [mobil] ke kampung. Sampai di kampung, TKI-TKI ini mulai "pamer" kesuksesan.
Tiang bambu tinggi dipasang di depan rumah. Loadspeaker khas desa, TOA, digantung. Lagu-lagu dangdut, pop, selera Malaysia diputar keras-keras. TKI-TKI Malaysia berjasa menyebarluaskan musik dangdut di Flores.
Musik di TOA ini semacam "pengumuman" bahwa si A, B, C, X... baru saja pulang dari Malaysia Timur. Dia pasti membawa uang banyak, baju-baju bagus, oleh-oleh, atau sekadar pamer perhiasan di jari atau leher atau... gigi.
Hehehe.... Zaman dulu perantau Malaysia suka pamer gigi emas simbol kesuksesan.
Setelah lepas kangen, karena 10 tahun tidak ketemu, si TKI [sebelum 1990-an hampir tidak ada wanita yang merantau] mulai belanja bahan-bahan bangunan. Membayar tukang untuk memperbaiki rumah. Lebih tepat: bikin rumah baru. Rumah lama, yang dari bambu atap alang-alang atau daun kelapa, diganti tembok. Atap seng atau asbes atau genteng.
Kalau ringgit tidak cukup, biasanya hanya setengah tembok. Tak lama kemudian stok uang dan sedikit kemewahan ala Malaysia ludes. Lantas? Ya, "melarat" lagi ke Malaysia. Kerja lagi. Kumpulkan uang. Lalu, kembali ke kampung, memperbaiki rumah yang sudah ditembok setengahnya.
Maka, rumah-rumah keluarga yang punya TKI di Flores pasti bagus-bagus. Sering jauh lebih bagus ketimbang rumah pejabat macam camat atau bupati. Yah, terlepas dari berbagai kelemahannya, harus diakui bahwa TKI-TKI inilah yang mengubah wajah kampung kami di Flores sejak era 1960-an. TKI-TKI itu ibarat mesin ekonomi yang luar biasa. Ketika musim paceklik tiba, dan kelaparan datang, uang tabungan dari TKI ini bisa dipakai untuk membeli bahan makanan.
Malaysia -- khususnya negara bagian Sabah dan Serawak di Malaysia Timur -- sudah lama menjadi kampung kedua orang-orang Flores. TKI-TKI itu seperti "memindahkan" tradisi dan budaya Lamaholot [Flores Timur] ke Malaysia. Di sana ada tua-tua adat, kepala suku, pengurus gereja, hingga sistem adat Lamaholot yang sangat dipelihara.
Adat GEMOHING atau gotong-royong ala Lamaholot justru makin kental setelah berada di Malaysia. Jadi, siapa pun yang ingin kerja di Malaysia Timur, silakan ke sana. Pasti dapat kerja asalkan mau kerja. Tidak pakai syarat-syarat macam ijazah, keterampilan, penguasaan bahasa, dan sebagainya.
"Sabah dan Sandakan itu macam kitorang punya kampung sendiri le," kata teman saya.
Begitulah. Hampir setiap hari anak-anak SD di Flores Timur [TK belum ada, hehehe...] menyimak dengan saksama kisah sukses para TKI. Berikut begitu banyak bumbu penyedap, hiburan, makanan enak, gadis cantik... yang hanya bisa dinikmati di Malaysia. Merantau dipercaya sebagai cara paling efektif dan cepat untuk mengubah nasib. Bukan melanjutkan sekolah, kuliah, dan sebagainya.
Maka, cita-cita anak SD di kampung kami sederhana saja: Jadi TKI! "Melarat" di Malaysia!