
Selama satu dasawarsa Yuliati Umrah (34) mendampingi anak-anak jalanan di Suabaya bersama Yayasan Alit. Ini tak lepas dari latar belakangnya sebagai aktivis yang berani menantang risiko. Termasuk berhadapan dengan aparat rezim Orde Baru yang terkenal represif dan tanpa kompromi.
Bagaimana kiat Yuliati Umrah mempertahankan keberadaan Alit (Arek Lintang) ketika begitu banyak LSM sejenis bubar? Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan Yuliati Umrah di kantor Yayasan Alit, Jl Achmad Jais 68 Surabaya, Kamis (14/5/2009) siang.
Oleh LAMBERTUS L. HUREK
Anda sudah 10 tahun mendampingi anak-anak jalanan. Nggak capek?
Aku sih penginnya jadi orang kaya supaya lebih banyak anak-anak muda yang jadi aktivis di Alit. Kalau aku kaya kan aku bisa menggaji mereka. Hehehe... Cita-citaku kayak gitu. Kalau aku kaya, semua aktivis muda yang kerja di sini saya bayari. Kalau perlu saya kreditkan rumah. Kita-kita yang senior supaya fokus pada bisnis, golek duuit sing akeh....
Nah, keuntungan bisnis kita saving untuk membayar relawan. Ini penting supaya kita jangan disetir oleh donor-donor yang punya agenda macam-macam, yang justru malah melemahkan gerakan aktivis untuk penegakan hukum. Aktivis itu gayanya banyak, naik pesawat ke mana-mana, rapat di hotel bintang lima, meeting-meeting... tapi bagaimana dengan penegakan hukum? Ini yang memprihatinkan.
Relawan Anda berapa orang?
Kalau yang bekerja penuh waktu ada 19 orang. Mereka ini setiap bulan cari duit. Yang part time di Mojokerto ada empat, di Nusa Tenggara Timur (NTT) ada lima, Ambon empat, Jogjakarta tiga. Yang full time ini kadang nengok ke Ambon, NTT, Mojokerto. Yang part time itu aktivis lokal semua. Jadi, kita hanya memonitor, mengkapasitasi sana, misalnya cara masukin data, bagaimana cara konsolidasi dengan masyarakat, penegak hukum, rumah sakit. Yang full time ini yang keliling Indonesia.
Sementara Anda yang cari duit?
Kalau saya pribadi sih cari duit memang. Hehehe.... Kalau nggak gitu, siapa yang mau jadi pekerja penuh di Alit? Mau kayak LSM lain yang cari proyek ke mana-mana? Kalau nggak ada proyek, apa mau jadi aktivis? Saya lebih respek pada pedagang bakso. Dia lebih langgeng. LSM kita itu kalau ada proyek, semua jadi aktivis. Kalau nggak ada proyek, bret....
Anda galau melihat kiprah LSM yang seperti itu?
Kalau dibilang marah, ya, saya marah secara pribadi. Karena saya mengalami betul masa sulit ditekan Orde Baru. Apa mereka-mereka itu sudah jadi aktivis pada saat itu? Kalau mau ditelisik, ya, berapa LSM di Surabaya yang proyeknya gede-gede? Kenapa LSM-LSM itu lahir? Apa betul karena kemanusiaan atau hanya mau cari proyek? Orang Eropa juga tahu kok LSM kita tumbuh kayak jamur kalau ada proyek.
Setelah 10 tahun, apa lagi obsesi Anda?
Harapanku, yang senior-senior sudah bisa mengibarkan bendera perusahaan. Yang profesional. Mereka yang usia 18 tahun ke atas bisa bekerja di perusahaan tersebut. Ini yang sekarang kita lagi push ke sana. Sisa-sisa duit yang receh-receh kita kumpulin supaya perusahaan kami segera berdiri.
Adapun teman-teman yang spesialis pelayanan kayak dokter, konselor, psikolog, dipertahankan sebagai full timer job. Jangan sampai mereka keluar. Yang nonprofessional worker ke bisnis. Sekarang ini di Royal Plaza, Alit sudah buka dua konter. Yang satu toko keterampilan, yang kedua toko furnitur bambu. Yang mengelola semuanya mantan anak jalanan. Kasir, customer service... semua mantan anak jalanan.
Alhamdulillah, satu bulan bisa masuk uang Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Yang bikin mereka sendiri, yang jual juga mereka sendiri. Nah, keuntungan dari bisnis ini kemudian dipotong 35 persen untuk kas yayasan. Ini untuk memastikan obat tetap ada, perban bisa dibeli, TK (Taman Kanak-Kanak) tetap jalan.
Oh, ya, Alit sudah punya sekolah?
Memang kita punya TK di Peneleh. Setiap Sabtu kita sediakan makanan sehat. TK ini kan nggak mungkin dibisniskan. Setiap bulan kita membutuhkan Rp 5 juta sampai Rp 7 juta untuk operasional TK. Itu kan harus dipikirkan. Dan duit itu tidak boleh jagano proyek. Maka, saya dan para senior lagi fokus di bisnis agar yayasan terus jalan. Bulan depan, kita rencana buka cabang di Jember. Yang mengelola juga anak-anak di sana yang mantan pemulung.
Kalau tidak salah, Anda sering bekerja sama dengan pihak asing?
Begini. Saya dan beberapa staf senior sudah 10 tahun ini memang menjadi konsultan freelanche. Secara pribadi saya dibayar oleh beberapa lembaga asing seperti PBB, Unicef, UNDP, ILO, Save the Children, Plan International. Proyeknya tidak di Surabaya, tapi rata-rata di Indonesia Timur, daerah konflik, dan daerah bencana. Nah, dana yang kami peroleh sebagai "pegawai internasional" itu, kita masukkan ke kas yayasan. Itu modal kami.
Saya dan teman-teman senior di Alit punya kewajiban menyerahkan 35 persen honor, setelah dipotong pajak, untuk yayasan. Ini yang bisa membuat kami bertahan 10 tahun. Kami kerja. Kami nggak mengemis.
Artinya, donor asing toh tetap dibutuhkan Alit?
Kalaupun ada donor, itu lebih pada pengembangan skala besar. Misalnya, kita butuh mesin besar untuk produksi level lebih gede. Kita bikin proposal bahwa dengan level itu, ada sekian anak anak yang kerja. Tapi, untuk kerja-kerja advokasi, misalnya, mendampingi anak yang ditangkap polisi, segala macam, nothing.
Itu bukan proyek. Itu kerja sesungguhnya seorang aktivis. Tantangannya di situ. Ada anak sakit ditolak rumah sakit. Lari ke sana, lari ke sini, sampai anak itu bisa dirawat di kamar yang baik di rumah sakit. Itu kerja aktivis. Di belakang itu kita cari duit. Nek nggak, terus mangan opo?
Karena itu, Anda mengembangkan industri kerajinan di Alit?
Caft ini awalnya memang hobi saya. Kemudian nulari anak-anak itu. Mereka tadinya jual koran, ngamen, ada yang nyopet, dan sebagainya. Mereka melihat saya bikin craft kok enak, duduk saja, nggak kepanasan, bisa dapat uang. Nah, saya kemudian mengajari mereka.
Saya bilang, "Kalo kon gelem meluk aku, ayo gawe bareng-bareng. Gak perlu ngemis, nyopet-nyopet maneh." Awalnya dulu seperti itu. Alit gedenya juga dari gitu-gitu. Saya nggak pernah terima proyek-proyek apalah.
Sudah jalan berapa lama?
Kalau yang level produksi, sekarang masuk tahun kedua. Tapi kalau order yang kecil-kecilan, sudah lima tahunan. Alhamdulillah, banyak yang order ke sini. Paling banyak, ya, dari rumah tangga-rumah tangga. English First juga pesan lilin yang ada tulisannya Merry Chiristmas, Happy New Year. Idul Fitri ya kita bikin yang cocok dengan suasana itu. Hasilnya kita pakai untuk bayar listrik, air, dan sebagainya.
Anda bangga menjadi aktivis LSM?
Aku ini sebenarnya malu lho pakai nama LSM (lembaga swadaya masyarakat, Red). Aku lebih bangga di kartu namaku tertulis "Yuliati Umrah, direktur depot bakso". Itu jauh lebih mulia daripada direktur LSM yang kerjanya cari proyek. Lha, itu duitnya siapa?
Kalau toh kita dikasih duit, itu kalau ada persoalan besar, dan kita tidak mampu menyelesaikannya. Dan teman-teman saya pasti mau bantu. Misalnya, ketika aku butuh uang untuk membayar tiket NTT-Surabaya mengantarkan korban trafficking. Tapi, kalau kita bisa jalankan tanpa duit, hanya keringatan saja, ya, kita jalan sendiri.
Belajar dari Paolo Freire
TIDAK banyak anak muda, apalagi perempuan, yang terjun sebagai aktivis pada era Orde Baru (1966-1998). Maklum, rezim pimpinan Jenderal Besar HM Soeharto ini dikenal sangat represif. Apa saja yang dianggap "menghambat pembangunan" senantiasa dihadapi dengan represif.
"Polisi main gebrak saja, selesai," kenang Yuliati Umrah kepada Radar Surabaya.
Namun, perempuan kelahiran Pamekasan, Pulau Madura, ini tak gentar. Dia terjun ke masyarakat sebagai aktivis, melakukan advokasi untuk rakyat kecil yang kerap menjadi korban kebijakan penguasa.
Kedekatan Yuliati Umrah dengan anak jalanan dimulai ketika dia meneliti kehidupan anak jalanan di Surabaya pada 1995. Setelah penelitian, Yuli tetap akrab dengan mereka. Yuli pun kerap menjadi teman 'curhat' anak-anak miskin kota tersebut. "Saya mendapat banyak sekali pengetahuan dari mereka," tuturnya.
Di masa Orde Baru, yang rupanya masih berlanjut sampai sekarang, pemenuhan kebutuhan anak-anak belum sepenuhnya terjamin. Hampir setiap hari mereka menjadi korban kekerasan yang nota bene dilakukan oleh aparat negara. Padahal, menurut konstitusi, negara seharusnya melindungi segenap bangsa Indonesia.
"Ada anak jalanan yang dipukuli satpam saat sedang berjualan. Tapi juga dipukuli orangtuanya sendiri karena setorannya kurang," katanya.
Hati perempuan aktivis ini pun tergugah untuk membuat perubahan. Namun, ketika rezim Orde Baru sedang galak-galaknya, Yuli belum berpikir untuk mendirikan Yayasan Alit (Arek Lintang). Dia hanya ingin menjadi teman curhat anak jalanan dan memperjuangkan hak mereka di kepolisian. Aktivis ini berjalan hingga akhirnya Alit berdiri pada 23 April 1998.
"Kami fokus pada pemulihan fisik dan mental anak-anak korban kekerasan. Kami sediakan pengacara, konselor, pendamping untuk membela anak-anak yang terlibat kasus kekerasan," ungkap Yuli.
Siapa tokoh idola alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ini?
"Nomor satu, tentu saja, Nabi Muhammad SAW dong!" tegas Yuliati. Namun, sebagai aktivis, dia mengaku terinspirasi oleh pemikiran Paolo Freire.
Alasannya, tokoh pendidikan asal Brazil ini menekankan kemandirian bagi warga yang didampingi. Warga harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, bukan orang lain. "Saya memang sangat terobsesi dengan Paulo Freire. Dia mendewasakan orang dengan tangan mereka sendiri, bukan tangan aktivis-aktivis," tegasnya.
Karena itu, di Yayasan Alit, Yuli mengondisikan agar anak-anak jalanan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Adapun relawan atau pendamping dari Alit tak lebih sebagai fasilitator belaka. "Maka, kalau anak-anak Alit sudah punya uang, ya, dia bisa nyumbang untuk adik-adiknya. That's the way gitu lho! Bukan Alit yang nyariin duit, bukan saya yang minta proyek ke sana ke mari," tandasnya. (rek) .JPG)
YULIATI UMRAH
Lahir: Pamekasan, 16 Juli 1975
Suami : Gunardi Aswantoro
Anak : Muhamad Ranau Alejandro dan Muhamad Ranah Nivananda
Alamat : Jalan Achmad Jais 68 Surabaya
Jabatan : Direktur Eksekutif Yayasan Alit
Pendidikan :
SD Aisyah Surabaya, lulus 1987
SMPN 23 Surabaya (1990)
SMAN 4 Surabaya (1993)
Fisip Unair (1997)
Organisasi:
- Front Aksi Mahasiswa Indonesia (1993)
- Tim penelitian Kelompok Studi Kemangi
- International Againts Child Abuse, Jenewa Swis (2005)
- International Againts Child Traffic, Singapore (2004)
- International Againts Child Program Thailand (2001)
- Ford ECPAT untuk Indonesia (2001)
Sumber: Radar Surabaya, Minggu, 17 Mei 2009