30 March 2009

Thomas Kwaelaga pencipta lagu Ina Maria



Di mana ada dua atau tiga orang Lamaholot berkumpul, kemudian berdoa rosario, maka hampir pasti mereka menyanyikan INA MARIA. Artinya, Bunda Maria. Sejak dulu orang Flores, khususnya Flores Timur, punya devosi kuat terhadap Bunda Maria.

Karena itu, lagu-lagu rohani bertema Bunda Maria sangat banyak dan populer di Flores Timur. Tapi bisa dipastikan tidak ada yang sepopuler INA MARIA. Melodinya sederhana, ngelangut, khas Lamaholot.

Siapakah gerangan penulis lagu INA MARIA? Saya sudah bertanya ke mana-mana, tapi tidak ketemu. Beberapa teman asal Adonara pun tak tahu. Sejak awal saya memang yakin pencipta INA MARIA orang Adonara. Gaya sastra Lamaholotnya sangat kuat, dan itu khas Adonara.

Bukan hanya saya. Banyak orang lain yang tidak tahu pencipta INA MARIA. Maka, di kaset/CD/VCD atau partitur paduan suara, INA MARIA selalu ditulis ciptaan NN. Tidak dikenal nama pencipta.

Ini aneh karena INA MARIA baru muncul pada akhir 1990-an. Masa sih lagu baru kok tidak ada yang tahu nama penciptanya? Begitulah, kita di Indonesia, khususnya Flores, kurang menghargai hak cipta.

Capek bikin lagu, dinyanyikan di mana-mana, tapi nama penciptanya dibuang begitu saja. Bahkan, orang tidak merasa perlu melacak siapa gerangan sang penulis lagu. Banyak sekali kasus lagu-lagu rakyat Lamaholot yang nasibnya macam ini. Penulis lagu, si pujangga, dilupakan orang. Bandingkan dengan di Barat sana!

Syukurlah, Edang Yosef, orang Maumere, membaca saya punya blog yang menulis rekaman lagu INA MARIA yang dibawakan Victor Hutabarat dan paster-pater Redemptoris. Edang terkejut, tepatnya marah, karena INA MARIA tertulis ciptaan NN.

Edang Yosef mula-mula mengetes saya: Siapa yang menciptakan INA MARIA? Saya tentu saja tidak bisa menjawab. "Go koi hala. Go dahang ana bai pi Jawa Timur, Adonara lewun, ro ra roi hala," saya jawab dalam bahasa Lamaholot versi Ile Ape.

Besoknya Edang Yosef mengirim e-mail balasan. "Nama pengarang lagu INA MARIA adalah Bapak THOMAS KWAELAGA. Saya sudah hubungi beliau perihal tidak dicantumkan namanya dalam beberapa album lagu INA MARIA. Sebagai pencipta lagu, beliau sangat prihatin dengan hal ini," tulis Edang Yosef.

Edang menjelaskan, Thomas Kwaelaga seorang guru sekolah dasar (SD) yang sangat sederhana di pedalaman Pulau Adonara. Tepatnya di Sandosi, Adonara Timur. Masih ada banyak lagu Bunda Maria yang bagus yang ditulis Thomas Kwaelaga.

"Karena cinta lagu ini, saya bersusah payah pergi mencari beliau di Adonara dan berhasil bertemu dengan beliau. Saya sempat semalam nginap di rumahnya sekadar bertanya tentang inspirasi apa yang membuat beliau menulis lagu ini. Ternyata, beliau mempunyai devosi yang kuat terhadap Bunda Maria," tulis Edang Yosef.

Menurut Edang, sejauh ini hanya ada satu album yang pernah menulis nama Thomas Kwaelaga sebagai pencipta INA MARIA. Yakni album ERLASARI yang dinyanyikan Erlin Lasar, penyanyi cilik asal Lembata yang tinggal di Maumere.

"Mungkin hal ini terjadi karena lagu INA MARIA sudah sangat bersahabat di hati umat, sampai orang lupa mencari tahu nama pengarangnya sekaligus meminta izin hak pencipta untuk menyanyikan lagu ini sekaligus memperdagangkannya," tulis Edang Yosef dalam e-mail khusus kepada saya.

Edan sendiri, meski bukan orang Flores Timur, mengaku sangat senang dengan lagu INA MARIA dalam bahasa Lamaholot. Terasa sangat menyentuh baik syair maupun aransemennya. "Kebetulan sekarang saya tinggal di Maumere. Di maumere, orang mengubah sayir lagu ini ke dalam bahasa Maumere dan menjadi lagu wajib dalam berbagai kegiatan doa rosario dan ibadat lainya."

Edang menambahkan:

"Lagu ini dinyanyikan atau diperdengarkan hampir di seluruh pelosok Flores dan Lembata dan mungkin di tempat lain juga. Namun, sayangnya, saya tidak pernah memnemukan nama pencipta lagu (Thomas Kwaelaga) ditulis dalam album-album tersebut."

Baiklah! Semoga penjelasan Edang Yosef bisa menjawab pertanyaan banyak orang yang selama ini penasaran dengan nama pencipta lagu INA MARIA. Terima kasih banyak, Bung Edang!



29 March 2009

Is dawal ana amalake

Wia, go arik Is SMS go. Na nato koda nang lohumen: "Go beng dawal anak amalake. Mo tolong nato doit uhe."

Hehehe... Is, ana tuho wutun nepi, leta doit terus. Na han Jois, Lewotolok alawen, kame lewo dahe. Is jaga lango teti Lewo, gewayan amak pe rae lewo tobo.

Go amak naranen Nikolaus Nuho Hurek, nolo guru teti Mawa, Ile Ape, Lembata. Pensiun, balika nang Bungamuda, lewo daheken. Go inak, Maria Yuliana Manuk, mataya kae 1998. Mama belara te onen, mai te ata molan, metero mang Rumah Sakit WZ Johanes Kupang, ro dokter bisa hala.

Kame metero balik lewo, mataya hulem-holem te Ohe, amak Guru Thomas Terong Hurek langun. Guru Thomas di mataya kae.

Go ana beruin, arik inawae telo: Yus (Vincentia Siri), Ernie (Ernestina Siba), Is (Kristofora Tuto).

Yus teika Kupang, guru te Kupang, nong han anaken. Ernie nong hang Hadakewa lewun. Is jaga lango teti lewo. Nolo Is nepi sekolah te SMAN 1 Kupang, kuliah esi, ro balika lewo nai.

"Go kai wayan Bapa teti lewo. Bapa mehaka hena, lango belen titen amuken," Is marin.

Terima kasih Is, jasa moen go lupang hala!

Is nepi anaken telo. Ana beruin, Maria Yuliana (Yuli), mataya. Matan belara, operasi pi Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya. Na, inan, aman, sempat tei nong go pi Surabaya. Rema, leron, kame jagaro te rumah sakit.

Belara naen memang aneh. Dokter maring meri retinoblastoma, mata kucing. Kusing matan. "Penyakit nepi satu di antara seribu," dokter marin.

Tuhan Allah e, puken aku ti mo pile Yuli, ana nuren nepi?

Balik teti lewo, wulan to, Yuli mataya. Mo maiko molo, ina! Resquescat in pace!

Tuhan Allah denga doa kamen. Na gate Yuli, Is nong anaken muri (berewae). Minggu waiken, 19 Maret 2009, anaken tou muri: amalake.
Terima kasih aya-aya.

28 March 2009

Gereja kena virus politik



Di sini politik, di sana politik. Ke mana-mana aku mendengar orang bicara politik. Partai. Caleg. Kampanye. Obral janji. Contreng. Coblos. Dapil. Iklan politik. BPP alias bilangan pembagi pemilih. Konstituen.

Teman karibku, bekas aktivis demonstrasi anti-Soeharto 1998, akhir-akhir ini begitu doyan bicara politik. Padahal, dulu dia paling malas bicara politik. Dulu dia senang membahas gadis cantik karena wajahnya memang ganteng, penampilan perlente, karir bagus.

"Lapo ngomong politik? Sontoloyo kabeh!" kata temanku. Itu dulu!

Sekarang dia berubah 180 derajat. Politik itu penting, katanya. Sangat penting. Sebab, urusannya dengan negara, pemerintah, penyusunan undang-undang, kebijakan ekonomi, dan macam-macam. "Golput itu haram, Bung!" tegas kawanku.

"Kita harus cerdas memilih caleg. Dari ribuan caleg, 38 partai, pasti tidak semuanya buruk. Ada yang baik to," katanya.

Contohnya siapa? "Banyaklah," kata temanku sambil menyebut beberapa nama.

Aku curiga karena dia mengungul-unggulkan nama seorang pengusaha besar di Surabaya/Sidoarjo yang Tionghoa. Aku cek sana-sini ternyata temanku ini tim suksesnya. Dibayar berapa ya? Hehehehe...

Jalan-jalan ke Katedral Surabaya, nongkrong di kafe. Aha, ketemu lagi teman-teman lama, aktivis, penulis, pelatih paduan suara, Flores-Jawa-Tionghoa-Batak. Bicara politik lagi. Bicara caleg A, B, C, Z, berikut kiat-kiat memenangkan caleg tertentu.

"Bung, saya maju dari dapil X. Tolong bantu ya! Saya punya komitmen pada rakyat," ujar kenalan baru saya, orang Flores Barat. Isi pidatonya khas politisi: penuh janji-janji manis.

Orang-orang gereja, yang dulu mengambil jarak, bahkan alergi politik, sekarang ini sudah lain. Aku dengar para aktivisnya rajin bikin sosialisasi ke paroki-paroki di Keuskupan Surabaya. Walaupun pemilu bersamaan dengan Kamis Putih, kata bapak ketua komisi politik, umat kristiani jangan sampai golput.

"Gunakan hak suara Anda secara bertanggung jawab. Kita, umat Kisten, harus ikut bertanggung jawab pada masa depan bangsa Indonesia. Kita bukan penonton. Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya," kata Pak Siswanto, bekas kepala sekolah SMA Katolik, yang juga politisi.

Adakah caleg-caleg yang bisa dipercaya?

"Ada. Masak, dari ribuan caleg nggak ada yang benar. Masak, semuanya maling? Semuanya koruptor," tegas Pak Yohanes, pengurus lingkungan di Sidoarjo.

Hehehe... ternyata Pak Yohanes yang asli Jawa ini tercatat sebagai tim sukses salah satu caleg Dapil I (Surabaya-Sidoarjo). Pantas saja bapak yang pandai menyanyikan Mazmur Tanggapan ini suka bicara politik di mana-mana.

Katanya, politik itu sangat dianjurkan oleh Alkitab. Pasal berapa, ayat berapa, kitab apa? "Hehehe.... Saya belum sempat buka Alkitab. Sekarang pencontrengan sudah dekat. Baca Alkitab nanti-nanti saja. Kita lagi sibuk kampanye," ujar Pak Yohanes.

Stevanus Roy, orang Flores, mantan aktivis PMKRI, bikin partai berbendera Katolik. Namanya Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI), peserta Pemilu 2009 nomor urut 32. Lambang PKDI kalung rosario dan pohon natal.

Apakah Bunda Maria, ratu rosario, akan menolong PKDI? Orang-orang Kristen mau contreng karena ada pohon cemara natal yang warna hijau itu? Yang jelas, pada pemilu sebelumnya PKDI--dulu bernama Partai Katolik Demokrat--tidak laku. Tidak lolos ambang batas pemilihan, sehingga ganti nama.

"Mo moi PKDI le take? (Kamu kenal PKDI atau tidak?)" tanya saya kepada Kopong, orang kampung di Flores Timur.

"Go denga wati. PKDI nepe aku? Kame teti lewo moi bao nong banteng. (Saya belum pernah dengar. Kami di kampung tahunya hanya Beringin dan Banteng)," jawab temanku di kampung.

Lha, orang-orang Flores yang Katolik saja tidak kenal PKDI. Bagaimana pula mengharapkan orang-orang Katolik di Jawa yang kulturnya sangat berbeda? Atau, orang Tionghoa?

Aku heran kok ada politisi yang bikin partai tanpa basis massa yang kuat. Hitung-hitungan politiknya bagaimana? Apalagi, sejak dulu, kecuali Pemilu 1955 dan Pemilu 1971, orang Katolik itu kurang suka partai politik berbasis agama, termasuk agama Katolik.

Salut untuk orang Bali yang tidak ikut-ikutan bikin partai berbendera agama Hindu. Orang Bali memang cerdas, pandai mengolah potensi alam dan budayanya menjadi komoditas pariwisata kelas dunia. Kita-kita, hehehe..., ternyata masih doyan politik yang berdasar pengalaman penuh dengan retorika kosong bin gombal.

"Mas Hurek, tolong dukung saya ya. Aku ikut nyaleg," bunyi SMS Mbak Isti. Temanku yang satu ini selama bertahun-tahun lebih banyak mengurus bakti sosial, paduan suara, dan kegiatan gerejawi.

Kok ikut nyaleg? Sejak kapan belajar politik?

"Gak usah belajar segala. Hidup kita ini kan politik. Anda tahu gak, Yesus itu dibunuh, dihukum mati, karena konspirasi politik tingkat tinggi antara elite-elite politik Romawi, agamawan, provokator, dan massa," kata Mbak Isti serius.

Aku tertegun. Rupanya, diam-diam Mbak Isti sudah banyak membaca buku-buku politik, anatomi gerakan, hegemoni Gramsci, teologi pembebasan Sobrino, hingga Madilog-nya Tan Malaka.

Maafkan aku, Mbak Isti yang jelita. Selama ini aku kira kamu hanya fasih menyanyikan Mazmur Tanggapan dan Misa Lauda Sion. "Dan damai di bumi kepada orang yang berkenan kepada-Nya!"

26 March 2009

Log Zhelebour 50 Tahun



Log Zhelebour, promotor musik rock legendaris, kemarin genap berusia 50 tahun. Arek Kranggan, Surabaya, ini tak akan berpaling dari musik cadas meski pamor rock sedang surut.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Selama ini Log Zhelebour mengaku hampir tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Kalaupun ada perayaan, biasanya teman-teman atau relasi yang sengaja bikin kejutan. Namun, di usia setengah abad ini, Log terlihat bisa menikmati perayaan yang juga dipersiapkan teman-temannya.

"Gak nyangka aku ini sudah tua. Lima puluh tahun. Soalnya, selama ini saya gak pernah merasa tua," ujar pria kelahiran Surabaya 19 Maret 1959 ini.

Kemarin tidak ada perayaan khusus, karena dua hari sebelumnya sejumlah musisi rock, wartawan musik, dan relasinya sudah bikin pesta kecil-kecilan. "Tapi saya terima banyak SMS ucapan selamat. Ya, saya ucapkan terima kasih atas perhatian teman-teman semua."

Acara HUT ke-50 Log Zhelebour dihadiri begitu banyak musisi rock baik yang senior maupun yunior. Sebut saja Ian Antono, Eet Syahranie, Toto Tewel, Sylvia Sarrtje, Harry Sabar, Kresna Sucker Head, Yaya Moektio, Jelly Tobing, Sandy Pas, Beng Beng Pas, Trison Roxx. Kemudian wartawan musik senior macam Ipik Tanoyo, Bens Leo, Remy Soetanzah, Hans Miller Banureah, Theodore KS, Rosihan, Harris Sukandar, dan Fajar Budiman.

"Saya tidak mungkin eksis sampai sekarang kalau tidak didukung teman-teman musisi dan wartawan," ujar alumnus SMAK Sint Louis Surabaya ini.

Log yang bernama asli Ong Oen Log benar-benar memulai karirnya sebagai promotor rock dari nol. Lulus dari Sinlui tahun 1977, Log mencoba menjadi promotor disko di berbagai tempat hiburan Surabaya. Karirnya mulai menanjak setelah menggelar konser band-band lokal dengan bintang tamu SAS (Surabaya) dan Super Kid (Bandung).

"Saya namakan Rock Power," kenang promotor musik yang tidak bisa memainkan instrumen musik ini.

Setelah itu berlanjut dengan konser lady rocker Euis Darliah, Sylvia Saartje, Farid Harja, Bani Adam, hingga Giant Step. Log kemudian membidani festival musik rock se-Indonesia yang puncaknya digelar di Surabaya sejak 1984 hingga 2007.

Begitu banyak penyanyi dan band rock ditangani Log. Sebu saja Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, El Palmas, Kaisar, Power Metal, Gank Pegangsaan, Boomerang, Jamrud, Log Gun, hingga Kobe. Banyak yang populer, tapi tidak sedikit yang patah di tengah jalan.

Log pun berjasa menghidupkan God Bless yang vakum selama bertahun-tahun. Bukan itu saja. Sejumlah superband rock internasional didatangkan ke Indonesia. "Saya ingin penggemar rock bisa menikmati grup-grup idolanya. Bila perlu nonton gratis," kata penggemar Scorpion dan God Bless ini.

Apa rahasia sukses Anda?

"Trust. Harus bisa menjaga kepercayaan sponsor, musisi, dan semua pihak," tegas Log.

Dia mengenang, pada awal karirnya dia hanya punya modal sepeda motor butut dan mesin ketik manual yang juga butut. "Saya ketik proposal pakai mesin ketik itu. Kemudian saya bawa ke calon sponsor."

Keluguan Log ternyata bisa menjadi senjata ampuh untuk merebut kepercayaan sponsor. "Kita mula-mula dites dulu dengan bujet yang kecil. Kemudian pelan-pelan ditambah terus sampai besar. Jadi, nggak bisa langsung gede," bebernya.

Kini, pamor Log Zhelebour tidak seterang pada era 1980-an dan 1990-an. Ini tak lepas dari surutnya industri musik rock di tanah air. Setelah band-band senior surut, beberapa band baru yang diorbitkan Log seperti Log Gun atau Kobe tak seheboh band-band pop ala Peterpan, Ungu, atau Dewa 19. Namun, Log menyatakan tak akan berpaling dari musik rock yang telah membesarkan namanya.

"Rock sudah menjadi jiwa saya. Maka, saya nggak mungkin lari ke pop meskipun mungkin prospeknya lebih bagus," tegasnya.

Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-50, Log merilis album baru tiga grup yang bernaung di labelnya: Boomerang, Jamrud, dan Kobe. "Saya rasa orang sekarang sudah jenuh dengan musik yang seragam," terangnya. (*)


Dimuat di Radar Surabaya edisi 20 Maret 2009

25 March 2009

Aming Aminoedhin presiden penyair Jatim



Bagi Aming Aminoedhin (52), puisi ibarat makanan pokok. Sulit membayangkan Aming hidup tanpa puisi. Dia menciptakan puisi, mengajak anak-anak muda menulis puisi, membaca puisi, hingga menerbitkan buku kumpulan puisi dengan biaya sendiri.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Sekarang musim kampanye. Apakah Anda libur sejenak untuk menulis puisi?

Oh, tidak. Kampanye, ya, silakan kampanye. Itu urusan politisi. Penyair seperti saya, ya, urusannya puisi. Akan lebih bagus kalau para politisi itu senang puisi agar mereka punya perasaan yang lebih halus, bisa menangkap suara hati rakyat.
Saya pernah menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) berjudul Kursi Kuwi.

"Kursi kuwi bisa gawe laline pikir. Marang kanca lan sapadha-sapadha. Nanging kursi kuwi bisa uga lingsir. Ndadekake wong bisa kenthir." Maka, hati-hati dalam mengejar kursi legislatif dan eksekutif.

Kabarnya Anda mau merilis buku kumpulan puisi terbaru?

Ya, namanya Sajak Kunang-Kunang dan Kupu-Kupu. Ini kumpulan sajak anak-anak. (Aming memberikan satu eksemplar buku ini kepada Radar surabaya. Buku 34 halaman ini diterbitkan dengan susah-payah oleh Aming sendiri.)

Sejak 1990-an saya mulai aktif menulis puisi anak-anak, khususnya setelah saya punya anak. Anak-anak saya, keseharian mereka, pertanyaan-pertanyaan mereka, menjadi inspirasi bagi saya.

Saya juga sering menjadi juri lomba baca puisi anak-anak. Ternyata, puisi yang dilombakan itu puisi remaja, bahkan dewasa. Ini karena memang ada kesulitan mendapatkan puisi anak-anak untuk dipakai lomba. Dan memang para penyair kita di Indonesia jarang menulis puisi anak-anak. Saya hanya mencatat beberapa nama penyair seperti Sherly Malinton, Abdul Hadi WM. Selebihnya saya tidak tahu.

Ada kesulitan dalam menulis puisi anak-anak?

Harus diakui, awalnya ada kesulitan. Sebab, kita yang orang dewasa harus menulis dalam bahasa anak-anak. Masuk ke alam pikiran anak-anak. Saya memang menasihati, tapi tidak boleh terkesan menggurui. Saya tulis sedemikian rupa sehingga anak-anak itu sadar akan pentingnya membaca buku, pentingnya sarapan, hujan pertama bisa bikin sakit, jangan tinggalkan salat, tidak putus asa, dan sebagainya.

Di puisi berjudul Kata Bukuku, saya tulis: "Jangan selalu nonton televisi. Dengan melihat kartun tanpa henti, yang jadikan engkau lupa padaku, tergeletak di bangku seperti beku." Jadi, yang suruh anak-anak membaca buku, ya, buku itu sendiri. Bukan Aming Aminoedhin. Hehehe....

Apa tidak sebaiknya puisi anak-anak ditulis oleh anak-anak sendiri?

Itu bisa juga. Tapi anak-anak bagaimanapun juga masih kesulitan menemukan kata-kata yang pas lantaran kosa katanya terbatas. Puisi itu kan karya sastra yang terikat oleh irama, matra, rima, penyusunan larik dan bait. Karena itu, perlu ambil bagian dalam mengisi kekosongan puisi anak-anak.

Lantas, kenapa di kumpulan sajak Kunang-Kunang ini Anda banyak bicara tentang buku?

Budaya membaca buku, terus terang, masih sangat kurang di sini. Apalagi, sekarang ada gangguan yang sangat serius seperti televisi yang makin banyak, play station, handphone, serta aneka jenis permainan yang sangat menarik. Nah, kalau tidak ada dorongan dari luar, entah orang tua atau guru, anak-anak tidak akan membaca buku.

Saya ingin agar buku dijadikan kado ulang tahun anak-anak. Buku apa saja, termasuk buku-buku sastra entah novel, kumpulan puisi, cerpen. Selama ini yang membuat saya sedih, buku masih menjadi kebutuhan nomor ke-13. Buku kalah dengan lipstik, HP, pulsa isi ulang, dan sebagainya. Sementara guru-guru kita juga belum bisa memberikan contoh agar anak didiknya punya reading habit.

Anda rajin menerbitkan buku-buku puisi, sementara peminat buku jenis itu sangat sedikit. Bagaimana Anda membiayainya?

Yah, harus gerilya ke sana ke mari, mencari biaya sendiri agar bisa terbit. Kalau nggak punya semangat, nggak ada idealisme, nggak mungkin orang mau terlibat di dunia kesenian, khususnya sastra. Tapi, mau bagaimana lagi, puisi sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Dan saya harus membahagiakan kebahagiaan berpuisi kepada orang lain.

Bagi saya, menulis sastra, khususnya puisi, seperti halnya menuliskan wejangan atau pitutur bagi pembaca. Artinya, saya menulis puisi untuk menyalurkan pikiran-pikiran, ide-ide kreatif saya, tentang bagaimana seseorang tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca puisi itu. Tidak hanya wejangan dan pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik agar manusia tergelitik dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.

Menulis puisi, bagi saya, juga merupakan ibadah. Banyak puisi saya yang bicara soal kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Alquran maupun hukum atau norma sosial kemasyarakatan.

Kalau tidak salah, Anda pernah digelari 'presidennya penyair Jatim'. Itu bagaimana ceritanya?

Hehehe... Yang memberi julukan itu adalah Prof Dr Suripan Sadi Hutomo, almarhum. Beliau itu dokumentator sastra yang juga guru besar IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya, Red). Suatu ketika dalam sebuah pertemuan para sastrawan di Surabaya, Pak Suripan secara spontan menyebut Aming Aminoedhin sebagai 'presiden penyair'.

Saya merasa tersanjung, tapi juga ketawa-ketawa disebut presiden segala. Bagaimanapun juga apresiasi Pak Suripan membuat saya makin bersemangat dalam mengembangkan puisi dan geguritan di Jawa Timur. Terus terang, almarhum Pak Suripan menjadi inspirator dan motivator bagi saya.

Saya mengimpikan suatu saat ada semacam apresiasi khusus untuk beliau, misalnya Suripan Award bagi sastrawan di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Sebab, di Jatim ini selain Pak Suripan, nama besar lain yang perlu diapresiasi adalah Prof Dr Budi Darma. (*)

Ingin Surabaya Jadi Ikon Jazz

Sebagai seniman dan penggiat kebudayaan, Aming Aminoedhin sangat terbuka pada segala macam kesenian. Menurut dia, kolaborasi atau kerja sama di antara para seniman sangat diperlukan demi memajukan kesenian itu sendiri.

Ayah empat anak ini mengaku sangat gemar musik, khususnya jazz. Sebab, jenis musik asal Amerika Serikat ini memberi ruang seluas-luasnya kepada seniman untuk melakukan improvisasi, kreasi, tapi tetap dalam koridor kebersamaan. "Bermain musik jazz itu harus punya kemampuan improvisasi di atas pentas. Jadi, jazz itu sederhana, tapi juga tidak sesederhana yang dibayangkan," ujar Aming Aminoedhin.

Akhir tahun lalu, Aming mengaku terkesan saat menyaksikan Jazz Night di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Acara ini digagas Yason A Gunawan, Benny Kartono, dan Benny Chen. Meski masih ada kekurangan, Amin menilai acara-acara jazz perlu lebih sering diadakan di Surabaya.

"Masak, Jakarta ada festival jazz berkelas internasional, Java Jazz dan Jak Jazz, sementara kita di Surabaya jarang ada pergelaran jazz. Padahal, jazz lovers di Jawa Timur sangat banyak. Legenda hidup jazz, Bubi Chen, juga berasal dari Surabaya," kata pria 52 tahun ini.

Aming tak sekadar menonton, tapi juga menulis catatan atau semacam reportase yang dimuat di blog pribadinya. Ternyata, redaksi sebuah situs jazz terkemuka di Jakarta tertarik dengan repratase Aming. "Naskah dan foto-foto saya dimuat di situs jazz. Saya dikira pengamat musik jazz. Hehehe," katanya.

Aming berharap pentas Jazz Night yang sudah dirintis di Taman Budaya itu tak hanya sekali dua, tapi berkelanjutan. Menjadi agenda rutin di Surabaya, misal sebulan sekali. Bahkan jika mungkin digelar di halaman terbuka sehingga masyarakat luas bisa mengapresiasi jazz. Sebab, tanpa apresiasi, maka jazz akan sulit berkembang.

"Jazz lovers juga perlu diajak menghargai musik jazz itu sendiri, dengan membeli tiket. Awalnya, tiket memang tidak harus dijual mahal, tapi cukup terjangkau bagi kaum jazz lovers. Kita ingin Surabaya ini menjadi kota yang berbudaya, bukan saja kota buaya," tegasnya.



AMING AMINOEDHIN

Nama asli: Mohammad Amir Tohar
Lahir: Ngawi, 22 Desember 1957
Istri: Sulistyani Uran.
Anak : 3 lelaki, 1 perempuan. Ade Malsasa akbar, Tegar Kartika Akbar, Amri Perkasa Akbar, Mira Aulia Alamanda.
Alamat: Puri Mojobaru AZ-23 Canggu, Jetis, Mojokerto 61352.
Pendidikan:
Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta

ORGANISASI KESENIAN

Paguyuban Pengarang Sastra Jawa
Forum Apresiasi Sastra Mojokerto
Dewan Kesenian Mojokerto
Forum Sastra Bersama Surabaya
Malam Sastra Surabaya (Malsasa)

KUMPULAN PUISI

Jembatan Merah
Perang Teluk
Jejak
Burung-burung
Malsasa
Berjamaah di Plaza
Mataku Mata Ikan
Sajak Kunang-Kunang
Kupu-Kupu (sajak anak-anak)
Embong Malang
Tanpa Mripat (geguritan)
Kereta puisi
Sketsa Malam.

24 March 2009

Bandara Juanda yang ruwet


Oleh DAHLAN ISKAN

Apakah yang semua orang sudah tahu tidak masuk akal sehat, dan hal itu sudah berlangsung bertahun-tahun, tapi tidak juga dilakukan perubahan? Salah satunya adalah ini: antrean masuk Bandara Juanda (juga bandara lain di Indonesia) berikut antrean check-in-nya. Dan, untuk internasional, antrean paspornya.

Saya kira pimpinan Bandara Juanda pasti tahu hal itu. Juga pimpinan perusahaan penerbangan. Tapi harapan untuk melihat terjadinya perubahan sistem antre di Bandara Juanda seperti mengharapkan berbunganya sakura di taman Indonesia.

Di Tiongkok, sampai lima tahun lalu juga demikian. Bahkan lebih gawat lagi. Antre check-in atau antre masuk bandara hampir di semua kota di Tiongkok sangat berjubel, bising, desak-desakan dan sering tercampur bau parfum dan keringat jadi satu. Tapi Tiongkok kelihatannya segera menyadari bahwa hal itu tidak masuk akal sehat.

Maka perubahan pun diadakan. Mula-mula di Beijing, lalu Shanghai, dan kini sudah hampir merata di semua kota, termasuk kota kecil. Menjalarnya akal sehat sangat cepat di Tiongkok. Tapi mengapa akal sehat sulit berkembang dan sulit menular ke bandara di Indonesia? Lebih-lebih di Makasar, bukan main rusuhnya.

Dulu, saya pernah berharap mungkin semua akal sehat itu baru akan ditegakkan kalau bandaranya sudah baru. Menertibkan antrean di bandara lama, barangkali dianggap sia-sia karena tempatnya serba sempit. Tapi, ketika bandara baru sudah beroperasi, ternyata tabiatnya sama saja. Hanya bandaranya yang baru, tapi perilakunya tetap lama.

Sungguh tidak masuk akal sehat terjadinya antrean yang tidak tertib di sebuah bandara. Pertama, penumpang pesawat adalah orang-orang yang relatif berpendidikan. Kedua, sebagian juga sudah pernah ke luar negeri. Ketiga, mayoritas penumpangnya sudah membeli tiket sebelum berangkat ke bandara. Jadi, tidak mungkin ada perasaan bahwa penumpang tidak akan dapat tiket.

Keempat, jumlah tiket dan kursi pesawat umumnya sudah disesuaikan. Jadi, tidak mungkin ada perasaan tidak akan dapat tempat duduk. Paling ada yang ingin lebih awal check-in agar bisa dapat tempat duduk di depan. Kelima, tempat duduk di pesawat bernomor sehingga tidak akan ada orang yang menduduki nomor kursinya.

Tapi mengapa orang masih juga tidak menggunakan akal sehatnya? Seperti juga di sepakbola, di bandaralah tempat pembunuhan akal sehat secara besar-besaran. Apa sulitnya membuat sistem antre yang lebih masuk akal sehat?

Sering orang atau sebuah manajemen berdalih tidak bisa melakukan sesuatu dengan alasan tidak ada biaya. Tapi apakah untuk membuat sistem antrean di bandara perlu biaya? Sama sekali tidak.

Yang diperlukan adalah kemauan. Terutama kemauan pimpinan Bandara Juanda. Kalau pimpinan bandaranya masih demikian kunonya, inisiatif bisa diambil oleh pimpinan perusaahaan penerbangan. Padahal, kalau Juanda bisa memulai sistem antre yang baik, ia akan mencatat sejarah sebagai bandara pertama di Indonesia yang menerapkan sistem antre yang sehat.

Akal sehat yang tidak pernah digunakan lama-lama akan mati juga. Lalu lama-lama sesuatu yang tidak masuk akal sehat dikira sudah sehat. Lama-lama lagi orang yang berakal sehat menjadi kelihatan aneh sendirian. Saya sering kasihan melihat satu dua orang asing yang kelihatan canggung dan risi untuk ikut berjubel antre di pintu masuk bandara.

Saya juga sering berpikir, kalau di bandara saja sulit diterapkan sistem antre yang baik, bagaimana dengan di kereta api? Bagaimana di terminal bus? Bagaimana pula di terminal bemo? Lalu, bagaimana bisa tertib di stadion sepakbola?

Saya membayangkan alangkah ngamuknya suporter sepakbola Surabaya kalau kelak ada stadion baru yang tempat duduknya bernomor. Sudah berpuluh tahun suporter biasa dengan kursi stadion yang tidak bernomor. Bahkan stadionnya sendiri tidak berkursi. Sudah terbiasanya masuk stadion yang tidak berkursi dan tidak bernomor itu itu justru sudah menjadi kenikmatan tersendiri.

Bisa joget-joget semaunya, bisa pindah ke belakang gawang lawan untuk melempar sesuatu ke penjaga gawang lawan, dan kalau lagi marah bisa membongkar semen tempat duduknya untuk dilemparkan ke tengah lapangan.

Bayangkan kalau suatu saat tiba-tiba Surabaya punya stadion yang kursinya bernomor! Pasti ada yang ngomel: jancuk! Tempat duduk saja kok bernomor! Gak asyik!

Sudah saatnya bandara di mana pun memeliki sistem antre yang masuk akal. Dulu saya sering melihat banyak sistem antre yang baik. Namun, terakhir ini saya melihat perkembangan sistem antre yang sangat masuk akal sehat. Bahkan saya nilai paling masuk akal sehat. Yakni, yang dilakukan di bandara-bandara USA, Hongkong, dan kini dikembangkan di mana-mana di bandara Tiongkok.

Sumber: Buku Menegakkan Akal Sehat, JP Books, 2008.

19 March 2009

Bahasa Lamaholot pun terancam musnah




Ina ama kaka air ra dore misa minggu palma lali Hinga, Adonara Timur. Ra nepi koda lohumen [Lamaholot] mela-mela. Nato go wata kenaen uhe, Ina! Hehehe...

Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK
Putra asli Lamaholot, tinggal di Surabaya

Djoko Pitono, wartawan senior, pemerhati bahasa, menulis di RADAR SURABAYA (8 Maret 2009) tentang bahasa-bahasa daerah yang sudah musnah, sedang musnah, dan terancam musnah. Mengutip Prof Dr Kisyani-Laksono dari Universitas Negeri Surabaya, Djoko menilai bahasa Jawa sekarang ini cukup aman, tapi tetap terancam musnah.

Maklum, sejak 20-an tahun lalu ada kecenderungan para orang tua di Jawa, khususnya di kota, khususnya lagi di perumahan-perumahan, sengaja membiasakan anak-anaknya bicara dalam bahasa Indonesia. Bahkan, saat ini mulai dibiasakan berbahasa Inggris. Bahasa ibu, dalam hal ini bahasa Jawa, tidak dibiasakan.

Prof Kisyani juga mencatat contoh menarik. Bahasa Ibu di Desa Gamlamo dan Desa Gamici, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Maluku Utara, saat ini penuturnya tinggal delapan orang. Semuanya sudah lanjut usia. Yakni, lima orang di Desa Gamlamo (pada 2007 berusia 46, 60, 75, 80, 96) dan tiga orang yang berusia di atas 70 tahun di Desa Gamici.

"Bahasa Ibu termasuk bahasa yang sangat kritis. Anak cucu para penutur bahasa ini menggunakan bahasa Ternate. Ini berarti upaya pembinaan untuk mempertahankan bahasa daerah itu tidak berhasil," tulis Prof Kisyani-Laksono.

Bagaimana dengan bahasa Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur? Prof Kisyani tak sempat menyinggung sama sekali.

Tapi, menurut saya, yang berasal dari kebudayaan Lamaholot, bahasa mayoritas di Flores Timur pun sudah lama terancam keberadaannya. Jumlah penutur terus berkurang. Dan tren ini berjalan terus jika tidak segera disadari oleh pemerintah daerah setempat: Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Pemerintah Kabupaten Lembata.

Mengapa bahasa Lamaholot--juga sembilan bahasa ibu lain di Pulau Flores--terancam musnah?

1. TIDAK ADA BUDAYA TULIS.

Orang Lamaholot [Flores Timur dan Lembata] 100 persen hidup dalam budaya lisan. Nenek moyang kami tidak bisa menulis. Buta huruf. Tidak punya aksara. Maka, budaya ngomong, KODA KIRING, sangat terasa di Flores Timur. Orang suka menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, untuk KODA KIRING. Membahas belis perempuan, berapa banyak gading, ukuran gading, dan sebagainya menjelang pernikahan.

Di Jawa, meski bahasanya pun terancam, budaya tulis sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Aksara Jawa, HANACARAKA, ada. Siapa pun bisa mempelajari meski tidak gampang. Di Flores, sekali lagi, budaya tulis ini 0,00 persen.

2. GENGSI LAMAHOLOT RENDAH.

Bahasa Lamaholot justru sengaja DIHINDARI orang-orang Lamaholot sendiri karena dirasa sebagai bahasanya orang kampung. Makin sering engkau berbahasa Lamaholot, engkau dianggap orang yang tidak maju dari dusun. Bukan bahasa orang kota.

Karena itu, orang-orang yang satu kampung dengan saya di Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Lembata, biasanya tidak mau bercakap Lamaholot ketika sudah kerja dan tinggal di Lewoleba, Larantuka, Kupang, Denpasar, dan sebagainya. "Koda kang lohumen loka. Go luparo kae," kata teman saya sesama orang kampung.

Artinya: "Saya tidak bicara lagi dalam bahasa Lamaholot. Saya sudah lupa."

Lewoleba itu ibu kota Kabupaten Lembata yang berbatasan langsung dengan kecamatan saya, Ile Ape. Jarak dari desa saya hanya 25 kilometer. Tapi begitu teman-teman saya sekolah di Lewoleba, kemudian kerja, kemudian tinggal di Lewoleba, seketika itu juga dia stop berbahasa Lamaholot.

"Kita so lupa le. Engko jangan bicara bahasa daerah ka," kata teman saya yang sombongnya minta ampun. Malu, rendah diri, kurang keren kalau berbicara dalam bahasa daerah.

3. PEJABAT ENGGAN BERBAHASA LAMAHOLOT.

Kalau orang biasa sekelas sopir, tukang becak, penjaga toko, pegawai negeri, guru, nelayan, tukang kayu... saja "lupa" bahasa daerah [dalam hitungan bulan lho], bagaimana pula dengan pejabatnya? Sangat parah.

Pejabat-pejabat Flores Timur atau Lembata, juga pegawai-pegawainya tidak pernah berbahasa Lamaholot. Sehari-hari mereka berbahasa Nagi, sejenis bahasa Melayu khas Larantuka. Dengan berbahasa Nagi (apalagi bahasa Melayu Kupang), maka status sosialnya lebih tinggi. Bahasa Lamaholot, sekali lagi, dianggap kampungan.

Inilah bedanya dengan di Jawa. Pejabat-pejabat entah itu menteri, gubernur, bahkan presiden macam Pak Harto, Megawati, atau Susilo Bambang Yudhoyono selalu berbahasa Jawa ketika berkunjung ke desa-desa. Juga senang dihibur dengan musik atau kesenian Jawa.

Di Surabaya, belum lama ini pemerintah kota memerintahkan sekolah-sekolah mengadakan Hari Bahasa Jawa satu kali seminggu. Para siswa dan guru pada hari itu harus berbahasa Jawa, menggeluti kesenian dan budaya Jawa.

4. TIDAK ADA PELAJARAN BAHASA DAERAH.

Kalau pejabatnya saja malas berbahasa ibu, bagaimana mau memikirkan pelajaran bahasa daerah? Di Jawa pelajaran bahasa Jawa masih ada di sekolah dasar, bahkan hingga sekolah menengah pertama. Ada buku-buku pelajaran bahasa Jawa yang sangat banyak.

Ada fakultas atau jurusan bahasa Jawa. Ada sekolah menengah kejuruan bahasa Jawa. Banyak sekali sanggar, padepokan, dan kantong-kantong konservasi budaya Jawa di kota-kota Pulau Jawa. Jadi, kalaupun anak-anak muda sekarang kurang fasih berbahasa Jawa, masih ada konservatori bahasa dan budaya Jawa.

Berbeda dengan bahasa Jawa yang pakem dan langgamnya nyaris seragam, bahasa Lamaholot banyak variasinya. Nah, kalau mau diajarkan pakai versi mana? Adonara Timur? Adonara Barat? Lamahala? Solor Timur? Solor Barat? Flores Timur Daratan? Ile Ape? Lamalera? Lebala? Kalikasa? Puor? Boto? Waiteba?

Sampai sekarang belum ada linguis atau ahli bahasa yang mempelajarinya. Sebab, pemerintah daerah memang cenderung antibahasa daerah.

5. TIDAK ADA MEDIA BERBAHASA DAERAH.

Di Jawa, bahkan di Jakarta yang Betawi, banyak sekali radio swasta yang menyiarkan program bahasa Jawa. Musik Jawa, campursari, langgam, lawak, kidungan, kentrung, ketoprak, wayang kulit, serta ratusan kesenian Jawa lainnya. Di Flores tidak ada. Nol besar.

Media cetak tambah tidak ada. Sebab, itu tadi, orang Flores tidak punya budaya tulis. Hanya budaya lisan. Tanpa dokumentasi tertulis, pelestarian bahasa sulit dilakukan. Sejumlah peneliti seperti Gorys Keraf, Inyo Fernandes, Thres Kumanireng sudah pernah meneliti bahasa Lamaholot. Tapi belum ada pedoman atau katakanlah tata bahasa Lamaholot yang bisa dipelajari secara ilmiah.

6. TIDAK ADA PENULIS BAHASA DAERAH.

Ada kaitan dengan nomor 5. Di lingkungan Jawa, Sunda, Bali, misalnya, banyak sekali penulis yang menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa, Sunda, Bali. Pak Suparto Brata di Surabaya, begawan sastra Jawa, setiap hari menulis artikel, cerita, kolom... dalam bahasa Jawa. Bahkan, karya Pak Suparto bisa diakses dengan mudah di internet.

Di Flores Timur mana ada? Alih-alih menulis dalam bahasa Lamaholot, berbicara saja sungkan, LUPA, malu. Hehehe...

7. TAK ADA REGENERASI PEMANGKU ADAT.

Bahasa lamaholot kelas tinggi lazimnya hanya dikuasai tua-tua adat. Sebagian besar sudah meninggal dunia. Generasi muda yang sekolah atau merantau di kota besar, khususnya Malaysia, praktis sudah jauh dari akar budayanya. Ini membuat kemampuan KODA KIRING, sastra Lamaholot tidak jalan.

Ditambah ketiadaan minat, ketiadaan dukungan pemerintah, komplet sudah. Bahasa Lamaholot jelas masuk daftar salah satu bahasa daerah yang terancam PUNAH.

Belum lama ini saya menerima e-mail dari seseorang yang mengaku berasal dari Ile Ape, satu kecamatan dengan saya. Dia kerja di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Tadinya saya mengira dia menulis dalam bahasa Lamaholot, bahasa Nagi, atau setidaknya bahasa Indonesia lah. Eh, ternyata BAHASA INGGRIS.

Saya geleng-geleng kepala. Hebaaat!

Bagaimana mungkin saya, yang tinggal di Jawa Timur, yang tiap hari berbahasa Jawa dan Indonesia, diminta melestarikan bahasa Lamaholot, sementara teman-teman di LEWOTANAH (tanah Lamaholot) tidak mau berbahasa Lamaholot?

Bahasa daerah terancam PUNAH




Oleh Djoko Pitono
dph_djoko@yahoo.com

Dalam acara pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Linguistik pada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya pada 26 Februari 2009, Prof Dr Kisyani-Laksono mengemukakan hal yang menarik. Dalam pidato berjudul ‘Bahasa Daerah di Indonesia: Meretas Jalan untuk Bertahan Hidup dan/atau Berkembang’, ia menyebut ancaman punahnya banyak bahasa di negeri ini.

Dari jumlah bahasa di seluruh dunia sebanyak 6.912 (tahun 2009), Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak (741 bahasa) setelah Papua Nugini (820). Jumlah 741 itu sebagian besar adalah bahasa daerah di Indonesia. Jumlah itu memang dikatakan bisa naik turun karena ada bahasa-bahasa yang punah, tetapi juga ada bahasa yang belum teridentifikasi.

Namun jelas, ada yang memang sangat kritis keadaannya, seperti bahasa Ibu di Desa Gamlamo dan Desa Gamici, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Penutur bahasa itu tinggal delapan orang yang semuanya sudah berusia lanjut : lima orang di Desa Gamlamo (pada tahun 2007 berusia 46, 60, 75, 80, 96) dan tiga orang yang berusia di atas 70 tahun di Desa Gamici.

’’Bahasa Ibu termasuk bahasa yang sangat kritis. Anak cucu para penutur bahasa ini menggunakan bahasa Ternate. Ini berarti upaya pembinaan untuk mempertahankan bahasa daerah itu tidak berhasil,’’ kata Prof Kisyani-Laksono.

Bagi orang-orang dari suku besar seperti Jawa, laporan seperti itu barangkali kurang menarik. Banyak di antaranya barangkali kurang sadar bahwa bahasa Jawa pun bukan tak mungkin punah, apalagi bahasa yang penuturnya kecil.

Sepele? Sama sekali tidak. Para pakar dan peminat bahasa mengingatkan, bahasa tak ada bedanya dengan alur kehidupan manusia. Sejak dulu kala, bahasa lahir, hidup dan lenyap dengan masyarakat pemakainya. Ini wajar-wajar saja. ’’Masalahnya, dewasa ini, lenyapnya bahasa-bahasa itu amat cepat,’’ Gerard Bibang, peminat bahasa yang tinggal Negeri Belanda..

Menurut penyiar Radio Nederland Seksi Indonesia (Ranesi) itu, gejala ini merupakan salah satu akibat dari apa yang disebut peperangan bahasa. Ribuan besar di seluruh dunia terancam punah dalam waktu yang tidak terlalu lama. ’’Keanekaan bahasa sebagai bagian dari warisan keanekaan kebudayaan umat manusia, juga terancam punah,’’ tulisnya.

Apa yang dipertanyakan memang penting direnungkan. Mungkinkah manusia tanpa kebudayaan, atau kebudayaan tanpa manusia? Mustahil! Kebudayaan adalah produk khas manusia. Ancaman terhadap bahasa adalah ancaman kebudayaan. Ancaman kebudayaan adalah ancaman terhadap manusia.

Apakah manusia akan hidup dalam kebudayaan monolingual? Idealkah bila hanya ada satu bahasa universal di dunia, dengan demikian, mengabaikan keanekaan bahasa yang telah menjadi citra budaya umat manusia manusia sepanjang zaman?

Para pakar bahasa jauh hari telah memperkirakan bahwa tidak satu pun bahasa mampu bertahan jika tidak didukung oleh 100 ribu orang pemakainya. Pada tahun 2002, di seluruh dunia setengah dari 6 000 bahasa atau bahkan lebih, digunakan oleh kurang dari 10 ribu orang pemakainya. Seperempatnya digunakan oleh ratusan juta pemakai. Ini memang bukan fenomena baru.

’’Sejak munculnya bermacam macam bahasa, paling kurang 30 000, bahkan lebih, hampir setengah juta darinya punah tanpa bekas,’’ tulis Bibang pula.

Bahasa umumnya bertahan dalam rentang waktu relatif singkat. Demikian juga tinggi tingkat kepunahannya. Hanya beberapa di antaranya, misalnya bahasa Basque, Mesir, Sansekerta, Tiongkok, Yunani, Ibrani, Latin, Persia, dan Tamil, mampu hidup lebih dari 2000 tahun.

Yang baru sebenarnya adalah gejala begitu cepatnya bahasa-bahasa itu punah. Hal ini dibenarkan oleh Ranka Bjeljac-Babic. Ahli psikologi bahasa pada Universitas Poitiers, Prancis ini, meneliti kepunahan bahasa dalam kaitan dengan kolonialisme.

Hasil penelitiannya tertuang dalam 6000 Languages: an Embattled Heritage, yang dimuat dalam Index April 2000. Pertanyaan yang dijawabnya dalam penelitian itu ialah mengapa bahasa-bahasa punah saat masyarakat penggunanya dijajah oleh suku atau bangsa yang lebih berkuasa dan berpengaruh.

‘’Kolonialisme melenyapkan sekurangnya 15 persen bahasa yang digunakan pada saat kolonialisme itu dilakukan. Lebih dari 300 tahun, Eropa kehilangan banyak sekali bahasa,’’ kata Bjeljac-Babic.

Di Australia pada 2002, yang tertinggal hanya 20 dari 250 bahasa di akhir abad ke-18. Di Brasilia, sekitar 540 bahasa, atau sekitar tiga perempat dari jumlah seluruhnya, punah sejak penjajahan Portugal tahun 1530.

Bibang pun mencatat, bahasa-bahasa semakin lenyap ketika banyak negara jajahan mulai merdeka. Mereka yang umumnya memiliki hubungan keeratan karena kebahasaan mulai memilih bahasa nasional mereka. Dalam proses itu terjadilah apa yang disebut pemilah-milahan bahasan.

Negara-negara baru itu menyingkirkan bahasa-bahasa lain. Dengan upaya besar-besaran menetapkan bahasa resmi dan bahasa pengantar, pemerintah di negara-negara yang baru merdeka itu, dengan sengaja menghapus bahasa-bahasa kecil yang tidak didukung oleh mayoritas pemakainya.

‘’Ketika negara-negara jajahan tadi mulai membangun, muncul faktor lainnya yang turut memusnahkan bahasa. Faktor itu adalah kebutuhan akan bahasa standar. Kebutuhan ini kemudian dipicu oleh kemajuan iptek dan industrialisasi,’’ katanya.

’’Kemajuan ini memaksa orang untuk berkomunikasi secara serba: serba cepat, serba langsung, serba praktis. Bahasa yang berliku-liku dan beragam dirasakan sebagai kendala dan bakal tergusur,’’ tambahnya pula.

Kembali ke bahasa Jawa, tampaknya bahasa ini aman. Tetapi menurut Prof Kisyani, tidak tertutup kemungkinan kategori ini akan berubah menjadi ‘stabil dan mantap, tetapi terancam punah’.

Hal ini dapat saja terjadi karena kecenderungan penggunaan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah/bahasa ibu kepada anak-anaknya. ‘’Bahkan di beberapa perumahan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat cenderung menggunakan bahasa Indonesia untuk pergaulan,’’ kata Prof Kisyani.

Andakah yang dimaksud profesor ini?

Eko Wahyuni penjaga Sanggar Agung



Oleh DIMAS ARIF HADIANTO

Namanya Eko Wahyuni, lahir di Blitar pada 1972. Ibu satu anak ini beragama Islam, tapi setiap hari mengurus Sanggar Agung, kelenteng terkenal di Pantai Ria Kenjeran, Surabaya.

Sudah sembilan tahun Yuni, sapaan akrab Eko Wahyuni, melayani orang-orang Tionghoa yang sembahyang di Sanggar Agung dan Vihara Buddha Empat Wajah. Meski berbeda agama, Yuni sangat menghayati pekerjaannya di kelenteng.

“Waktu itu, tahun 2000, saya baru saja berhenti kerja. Daripada ngganggur, ya, saya terima saja tawaran kerja di sini. Namanya juga kerja, mungkin rezeki saya ada di sini,” tutur Yuni.

Banyak suka duka dirasakannya selama bekerja di Sanggar Agung. Bisa ketemu teman-teman lama. Bertemu dengan begitu banyak jemaat yang praktis semuanya Tionghoa. "Dukanya ya, capek. Apalagi pas hari-hari besar Tionghoa."

Sanggar Agung merupakan bagian dari Pantai Ria Kenjeran. Ia dikelola PT Granting Jaya, milik pengusaha Soetiadji Yudho. Di sini tersedia aneka hiburan: sirkuit balap, lapangan bulutangkis, gedung serbaguna, kya-kya, hingga stan pedagang kaki lima yang menjual berbagai jenis makanan.

"Nah, Pak Soetiadji itu yang menggaji saya,” urai Yuni yang pernah bekerja di toko spare part sepeda motor selama satu tahun itu.

Menurut dia, tidak semua umat yang sembahyang di Sanggar Agung itu baik perilakunya. Ada saja yang nakal. Misal: suka ambil buah-buahan, lilin, atau yosua. Itu yang membuat Yuni sedih. "Sembahyang itu kan untuk mengurangi dosa, kok malah ada umat yang suka nambah dosanya sendiri,” bebernya.

Yuni mengaku punya pengalaman tak terlupakan di kelenteng yang berada di bibir pantai itu. Sekitar pukul 21:00 Yuni memeriksa pintu-pintu yang memang harus ditutup. Dari kejauhan, dia melihat pintu belakang masih terbuka.

Lalu, dia berjalan menuju lorong pintu belakang untuk menutup pintu. Biasanya, Yuni tak pernah menoleh ke arah laut. "Nggak tahu kenapa saya menoleh ke laut. Wah, ada sesosok orang, berbaju putih, tinggi besar, terlihat jelas dari kejauhan. Dia berdiri di atas air pantai," kenangnya.

Setelah berkonsultasi dengan orang-orang Tionghoa, mereka yakin itu adalah Dewi Kwan Im. Bos Pantai Ria, sekaligus pemilik Sanggar Agung, Soetiadji, akhirnya memutuskan untuk mendirikan patung Dewi Kwan Im berukuran besar di bibir pantai.

"Itulah sejarah dibangunnya patung Dewi Kwan Im,” kata Yuni yang tinggal di kawasan Lebakarum, Surabaya.

17 March 2009

Amak Kia Belara: RIP




Wia leron Linda [foto], amak Kia anaken te Jakarta, telepon go. Nato wata nengen, kue, le, aku? Linda nepi kebarek kelemuren, sare-sare. Na nepi nato go terus oleh-oleh.

"Eh, Kak Bernie, Papa lagi sakit berat nih. Diinfus, gak bisa bicara. Kondisinya kritis. Tolong didoain ya, Kak," Linda maring go.

Denga nepa, go koda bisa hala. Go dahang puken aku, Linda maring meri amak Kia ne belara lelaten kae. Umur naen aya-aya, komplikasi. Ra retero rai dokter kae ro keadaan naen di nepa kae.

"Oke deh, Linda, tolong telepon atau SMS aku ya. Biar aku tahu perkembangan amak Kia," go maring Linda.

Go langsung sembahyang kontas tou kang Amak Kia. Moga-moga bera sareka. Semoga lekas sembuh.

Amak Kia nepi Chanis Kia Hurek. Naranen kiwanen, heloka go, ro na nepi watanen. Na kawen nong Linda inan, Jakarta lewun. Mesikit alawen.

Linda kakan arin koda rang Betawi amuken. Koda lohumen roi hala ro mengerti esi.

Amak Kia nepi ata lewohn, Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Lembata, Flores Timur, lewo tou nong go. Kame di suku tou: Hurek Making. Na melarat lela-lela kae te Jakarta, tung 1970-an awal. Kerja jadi pegawe Bank Indonesia, nong langunen, kawen, nong anaken teti Jakarta.

Ata diken titen kalo rai Jakarta gampang. Cukup rala pe Amak Kia langun, ega pe tekan take pe amet, turu te langun. Linda inan, ama Kia han, di sare-sare. Koda aya-aya, ina wae pe hama hena: Jakarta, Flores, lewohn di hama-hama, koda aya-aya. Na hemedaw, baha ale lolon, urus lango. Noi kaka ari titen sare-sare.

Ama Kia, Linda inan, Linda, Heni, nong kakan arin rai lewo Mawa moan telo le lema dika. Lango ulun teti lewo ra tula muringen. Na nepa, kaka ari teti lewo roi keluarga ama Kia ketun-ketun.

Go paling suka ama Kia. Kalo go kai Jakarta, na hode go, ruakem geler, keliling Jakarta, gere bus kota. Na tutu macam-macam, go denga hena. "Kame nepi teikem Jakarta ro tetap peten lewo. Go lupang lewo hala," Amak Kia maring.

Amak Kia nepi koda nang lohumen (Lamaholot) mela-mela. Lohum-lohum. Pejabat-pejabat titen, ana muringen, mahasiswa titen... mihane koda lohumen.

"Bernie, mo nepe teiko te Jawa, tapi ake lupang lewo. Koda mang melayu, Jawa, Inggris.. ro ake lupang koda luhumen. Tite pe lowohn alawen," Amak Kia maing go.

Amak Kia, bera sareko!

CATATAN:
Bapak Chanis Kia Hurek akhirnya meninggal dunia dengan tenang di Rumah Sakit Cikini, Jakarta, Kamis 19 Maret 2009. Jenazah dimakamkan hari itu juga, pukul 15:00 di Taman Pemakaman Umum Karet, Jakarta Selatan. Semoga arwah almarhum diterima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan beroleh penghiburan, ketabahan, dan iman yang kuat.

16 March 2009

Martin Runi komposer musik liturgi





Lagu-lagu liturgi bernuansa Flores sampai sekarang masih sangat populer di lingkungan Gereja Katolik di Indonesia. Kalau anda rajin ikut misa, maka hampir pasti paduan suara (kor) membawakan lagu-lagu Flores. Entah itu Misa Dolo-Dolo, Misa Syukur, Misa Senja, atau lagu persembahan, komuni, syukur.

Jika pastor paroki atau pastor pembantu, plus aktivis kor kebetulan berasal dari Flores, wah, suasana Flores lebih terasa lagi. Saya sendiri, yang biasa misa di Surabaya, Sidoarjo, atau Malang, ibarat berada di kampung halaman sendiri: Flores Timur.

Kenapa kor-kor di Jawa senang lagu Flores? Bukan lagu klasik, gregorian, atau inkulturasi daerah daerah lain, termasuk Jawa? Jawabannya:

"Lagu-lagu Flores itu enak-enak. Gampang dinyanyikan, tidak perlu latihan lama-lama, tapi enak. Semua orang suka," ujar Fransisika, aktivis kor dari Malang, beberapa waktu lalu.

"Lagu-lagu dari Flores itu selalu jadi tops hits di gereja," komentar Karl-Edmund Prier SJ, direktur Pusat Musik Liturgi (PML) Jogjakarta. Romo Prier bersama PML-nya sejak 1970-an ikut memopulerkan lagu-lagu liturgi Flores, dan daeah lain, ke seluruh Indonesia.

Flores itu satu-satunya pulau di Indonesia yang mayoritas penduduknya Katolik. Sejak abad ke-16 agama Katolik masuk ke Flores. Kemudian "dituntaskan" oleh misionaris SVD (Societas Verbi Divina) pada abad ke-19 sampai sekarang. Karena itu, bisa dipahami bahwa tradisi musik liturgi bercorak Flores sudah cukup berakar di nusa bunga itu.

Meski eksperimentasi inkulturasi sudah lama dilakukan oleh pater-pater SVD, menurut catatan saya, musik liturgi ala Flores benar-benar marak mulai akhir 1960-an, dilanjutkan 1970-an dan 1980-an. Ini tak lepas dari hasil Konsili Vatikan II (1962-1965) yang memberi ruang luas kepada gereja-gereja lokal untuk menyapa umat dengan bahasa dan gaya setempat.

Buku-buku nyanyian yang sudah ada macam JUBILATE, kemudian SYUKUR KEPADA BAPA, dinilai terlalu berbau Eropa. Nyaris tidak ada sentuhan musik lokal di situ.

Peluang ini dimanfaatkan oleh guru-guru musik maupun pater-pater yang musikalitasnya tinggi. Sekolah-sekolah guru di Flores, baik itu SGA (Sekolah Guru A), SGB (Sekolah Guru B), SPG (Sekolah Pendidikan Guru), dijadikan arena untuk mencetak guru-guru plus.

Guru-guru kampung di Flores memang didesain untuk tak hanya sekadar bisa mengajar mata pelajaran umum, tapi merangkap sebagai guru agama Katolik, plus mengajar paduan suara. Seminari Tinggi Ledalero, Maumere, Flores, pun menjadi motor utama inkulturasi musik liturgi.

Dipimpin Pater Anton Sigoama Letor SVD, Ledalero secara serius mengumpulkan nyanyian-nyanyian liturgi yang membumi. Pater Anton, kini almarhum, juga menulis buku khusus bagaimana teknik menyusun komposisi musik liturgi berdasar bahan-bahan lokal.

"Kita di Flores punya tradisi musik yang luar biasa. Tinggal kita olah menjadi lagu-lagu atau musik liturgi," kata Pater Anton suatu ketika.

Nah, salah satu pemusik muda penuh bakat waktu itu bernama MARTIN RUNI MARRUN. Dia frater, calon pater, yang kuliah di Seminari Tinggi Santo Paulus, Ledalero, Maumere, Nusatenggara Timur. Awalnya, Martin mengolah lagu-lagu ordinarium misa bercorak Prancis. Paket misa ini (lagu pembukaan, kyrie, gloria, persembahan, kudus, agnus dei, komunio) dikenal dengan Misa Roh Kudus. Polanya resitatif, ala gregorian, khas lagu liturgi standar Katolik.

Kemudian, Martin Runi Marrun menggebrak dengan Misa Syukur. Karena belum dibukukan, dan juga belum ada fotokopi, lagu-lagu misa ini beredar di seluruh Flores lewat stensilan. Karena mesin stensil juga terbatas, maka di kampung-kampung partitur paduan suara ditulis tangan. Guru menulis teks di papan tulis, pakai kapur, sementara umat di kampung mencatat di buku tulis masing-masing.

Di kampung-kampung Flores memang kebiasaan papan tulis di sekolah dasar itu selalu dipakai untuk sosialisasi lagu baru. Papan yang depan untuk pelajaran anak-anak SD. Di baliknya, aha, teks lagu-lagu liturgi baru. Karena lagu-lagu Flores itu pendek, tidak bertele-tele, komposisi macam ini cepat sekali dikuasai penduduk.

Di mana-mana orang menyanyikan lagu misa baru yang dianggap enak. Mirip anak-anak muda di Jawa sekarang yang ke mana-mana menyanyikan lagu pop terkenal.

Dari sembilan lagu Misa Syukur, ada dua yang sangat-sangat populer. Yakni, "Tuhanku Gembalaku, Aku Dihantar Olehnya, di Padang Rumput Menghijau" dan "Pujilah Allah, Hai Umat Kudus-Nya". Lagu kedua ini di kalangan umat Katolik di Indonesia sekarang lebih dikenal dengan "Hai Makhuk Semua Pujilah Tuhan Kita".

Saya masih ingat suara Kak Fransiska, solis soprano di kampung Atawatung, pantai utara Pulau Lembata, yang suaranya sangat merdu. Saya sulit menemukan suara soprano bakat alam seindah Kak Siska. Padahal, namanya juga orang kampung, Kak Siska ini tidak pernah ikut kursus vokal atau musik klasik.

Oh, ya, pola lagu-lagu Flores lazimnya bergantian antara solis dan kor. Bukan gaya Flores jika sebuah komposisi tidak punya bagian solo (sopran). Para solis ini biasanya sangat terkenal di seluruh kecamatan. Saya, misalnya, tahu bahwa di desa A solisnya si X, desa B solisnya Y, dan seterusnya.



HAI MAKHLUK SEMUA aransemen SATB oleh Martin Runi, komposisi paduan suara yang menjadi debut Martin Runi dalam musik liturgi Katolik. Lagu ini mula-mula berjudul "Pujilah Allah Hai Umat Kudus-Nya".

Usai menggebrak dengan Misa Syukur, Martin Runi Marrun kembali mencetak hits besar dengan MISA SENJA. Ketika saya masih kelas tiga sekolah dasar di kampung, Flores Timur, ordinarium misa ini diperkenalkan pada saat perayaan Paskah di Paroki Ile Ape, Lembata. Melodinya yang indah membuat lagu-lagu Martin Runi tak perlu banyak waktu untuk diterima umat di kampung.

Saya masih ingat bagaimana orang-orang kampung jalan kaki sekitar 15 kilometer dari Waipukang ke Atawatung sambil mendengarkan rekaman Misa Senja dari tape recorder. Ini rekaman langsung paduan suara yang bertugas pada misa agung Paskah. Bisa dibayangkan mutunya. Hehehe....

Misa Senja ini juga punya kelebihan di melodi solis. Sangat merdu dan menghanyutkan: "Lihatlah Anak Domba Allah..." atau "Tuhan kasihanilah kami..."

Ada permainan kanon antara sopran, alto, tenor, bas yang enak.

Martin Runi ini mirip dengan Ferdi Levi di Ende. Sama-sama penulis lagu liturgi yang manis, juga sama-sama gagal jadi pastor. Bedanya, Martin Runi kalah produktif dengan Ferdi Levi atau Paul Widyawan di Jogjakarta. Ini ada bagusnya karena biasanya kuantitas yang overdosis hanya akan mengurangi kualitas. Dan itu saya lihat di banyak penulis lagu di lingkungan gereja.

Martin Runi itu sedang-sedang saja. Tidak obral lagu. Dia hanya mau merilis lagu benar-benar kuat melodinya. Yang bisa diterima umat, tak hanya di Flores, tapi seluruh Indonesia. Karena itu, komposisi lagu litugi karya Martin Runi, menurut saya, tetap enak sampai sekarang. Termasuk "Kupersembahkan, kepada Tuhan, seluruh hidupku...."

Lepas dari Flores, Martin Runi hijrah ke Jawa. Semangatnya dalam mengembangkan musik liturgi tetap tinggi. Bahkan, dari internet saya membaca bahwa Martin Runi ini juga mengajar paduan suara di berbagai tempat: sekolah, kampus, gereja, umum. Martin Runi pun kerap mendapat order menulis himne/mars sekolah atau kampus tertentu.

Saya berharap Martin Runi tetap sehat, diberkati Tuhan, dan terus berkarya. Banyak lho pembaca blog ini yang tinggal di luar negeri berkali-kali memesan lagu-lagu paduan suara karya Martin Runi. Sementara saya sendiri belum punya akses pada Martin Runi.

13 March 2009

Inter Milan Kalah Kelas dengan MU



Capek. Ngantuk. Kecewa.

Itulah harga yang harus saya bayar untuk menonton siaran langsung pertandingan sepakbola Liga Champion di televisi. Kamis dini hari, Manchester United (MU) bentrok dengan Inter Milan. MU jawara Inggris, Inter jawara Italia. Klop!

MU dilatih Alex Feruson, Italia dilatih Jose Mourinho. Keduanya pelatih terkenal, pintar sesumbar di media massa. Kita, penggemar bola, seakan dikondisikan bahwa partai MU vs Inter bakal seru. Sangat kompetitif. Berhari-hari koran dan tabloid menulis prediksi dan analisis pertandingan.

Tapi apa yang terjadi? Baru 10 menit permainan berjalan, saya langsung loyo. Semua prediksi dan komentar pengamat ternyata meleset. Partai ini sama sekali tidak seru. Berat sebelah. MU terlalu hebat, Inter Milan kalah dua kelas. Pasukan Jose Mourinho seperti sedang diajari cara main bola yang benar.

"Bagaimana mungkin juara Liga Italia main seburuk ini?" batin saya. "Kok Jose Mourinho tidak bisa melatih Inter agar setidaknya bisa mengimbangi MU?"

Inter Milan bukan hanya hancur, tapi hancur total. Organisasi permainan tidak jalan. Pola main tidak jelas. Umpan-umpan tidak akurat, bahkan ngawur. Zlatan Ibrahimovic, striker Inter, yang disebut Mourinho lebih baik daripada Ronaldo, tidak bisa apa-apa.

Ibrahimovic sendirian di depan. Tidak ada teman yang berada di dekatnya. Tidak ada pasokan bola. Ibrahimovic juga tidak tahu bagaimana cara melewati pemain belakang MU. Zanetti dan Stankovic juga tidak bisa apa-apa.

"Goblok! Goblok!" teriak seorang teman, Farid, peserta nonton bareng di Sidoarjo. Padahal, si Farid ini sama sekali tidak bisa main bola. Cara menendang bolanya saja tak karuan. Yah, namanya juga pengamat atau penonton, sering merasa lebih pintar ketimbang pemain kaliber dunia seperti Ibrahimovic.

Sebaliknya, permainan MU, Setan Merah, sangat bagus. Nyaris tidak melakukan kesalahan apa pun. Maka, seharusnya, kata teman saya, MU menang 7-0, bukan 2-0. Kalau begini cara mainnya, MU bakal jadi juara sejati. Mempertahankan trofi Liga Champion yang sudah dipegang tahun lalu.

Begitulah. Sebagai penggemar bola, apalagi Liga Eropa, mau tak mau, suka tak suka, kita harus menonton siaran langsung di televisi yang dimulai pukul 02.00 atau 03.00. Ini jelas merusak jam biologis, sekaligus kesehatan kita. Tapi, sayang, kita jarang menikmati pertandingan yang benar-benar bagus.

Sebelumnya, partai Liverpool vs Real Madrid pun mengecewakan. Real, klub hebat di Spanyol, itu kocar-kacir ibarat baru belajar main bola. Real Madrid kebobolan empat gol tanpa balas. "Pemain kayak gitu kok dibayar miliaran rupiah per minggu?" komentar teman saya lagi.

Yah, terus terang saja, selama 20 tahun terakhir saya hampir tidak pernah menyaksikan pertandingan bola yang benar-benar seru, imbang, kompetitif, memuaskan. Selama hidup hanya ada satu pertandingan yang memuaskan saya. Yakni, final Piala Eropa, Belanda vs Jerman pada 1980-an.

Waktu itu Belanda diperkuat pemain-pemain top macam Rijkaard, Marco van Basten, Ruud Gullit. Jerman didukung antara lain Rudi Voeller, Lothar Matthaeus, dan seangkatannya. Selama 90 menit kita, yang melihat TVRI hitam-putih, satu-satunya stasiun televisi, menikmati serangan silih berganti. Dua-duanya sama kuat, sama bagus, sama tajam.

Adegan gol indah, gol kemenangan, dari van Basten dari sebelah kanan gawang Jerman, sampai sekarang masih membekas dalam ingatan saya. Kapan pertandingan bola kelas tinggi kayak itu terulang lagi ya?

FOTO: www.thesun.co.uk

11 March 2009

SSO Jelang Konser Paskah '09



Krisis ekonomi membuat semua perusahaan melakukan efisiensi. Pos-pos yang dianggap kurang penting dipangkas. Termasuk menjadi sponsor konser musik, khususnya klasik. Musik klasik dianggap bukan tempat promosi yang menguntungkan di Indonesia. Hanya buang-buang duit!

"Kita orang ini kan jualan rokok. Lha, konser musik klasik orang gak boleh ramai, gak boleh merokok. Bagaimana kita orang punya perusahaan bisa maju?" kata bekas bos sebuah pabrik rokok terkenal di Indonesia.

Pabrik rokok ini saban tahu rela keluar uang miliaran rupiah untuk mensponsori konser-konser musik pop dan rock di Indonesia. Iklannya di jalan-jalan pun paling banyak. "Pokoke, ekonomi sekarang sulit. Kita gak mau keluar uang kalau gak penting banget," ujar pengusaha top Surabaya lainnya.

Kondisi ini juga dirasakan Surabaya Symphony Orchestra (SSO). Satu-satunya orkestra simfoni di Surabaya itu sedang bersiap menggelar konser Paskah, Selasa 14 April 2009, di Hotel Shangri-La Surabaya. Tidak mudah bagi Solomon Tong, dirigen dan pendiri SSO, membiayai konser ke-58 ini. Tapi the show must go on. Konser harus jalan terus.

"Orang Tionghoa bilang saya ini ibarat duduk di atas punggung harimau. Kalau sudah duduk nggak bisa turun karena akan diterkam oleh si harimau," ujar Solomon Tong kepada saya, Selasa 10 Maret 2009.

Prinsip ini dipegang teguh Pak Tong. Karena itu, meskipun ekonomi sulit, tak mudah dapat sponsor, konser bertajuk SPRING CONCERT 2009 harus jalan. Apa pun cara dan kiatnya. Standar konser pun jalan sampai turun. "Sebab, sekali kita turunkan standarnya, maka SSO tidak bisa diangkat lagi," tegas dedengkot musik klasik Surabaya itu.

Selama ini SSO selalu konser di ballroom Hotel JW Marriott [dulu namanya Hotel Westin] di Jalan Embong Malang. Konser-konser klasik, apa boleh buat, digelar di hotel berbintang karena gedung konser yang memadai belum ada di Surabaya. Karena satu dan lain hal, kerja sama SSO dengan JW Marriott terputus. Solomon Tong pun beralih ke Hotel Shangri-La yang dianggap selevel, bahkan lebih.

Biaya tentu lebih banyak. Apalagi, lokasi Shangri-La di Jalan Mayjen Sungkono 120 tidak sestrategis JW Mariott. Banyak orang mengusulkan agar konser SSO digelar di hotel atau tempat lain yang lebih "efisien". "Saya tidak mau. Itu sama saja dengan menurunkan level SSO. Sekali kita turun, maka naiknya susah," tegas Solomon Tong.

Lantas, bagaimana Solomon Tong dan manajemen SSO mencari biaya konser yang rata-rata di atas Rp 200 juta itu? Hebatnya, sejak SSO berdiri pada 1996, orkestra ini, tepatnya Solomon Tong, selalu bisa keluar dari kemelut biaya. "Tuhan itu kaya. Dia selalu membantu. Sehingga, nanti menjelang konser biaya-biaya itu bisa ditutupi," tegas pemusik yang juga tokoh gereja Tionghoa di Jawa Timur ini.

Tak ada yang mustahil bagi orang percaya. Dan, Solomon Tong sudah berkali-kali membuktikannya. Apa pun kondisi ekonomi SSO bisa tetap bisa menyajikan konser di Surabaya. Termasuk ketika krisis moneter paling parah pada 1997. [lambertus hurek]

SPRING CONCERT 2009

Orkestra: Surabaya Symphony Orchestra
Dirigen Utama: Solomon Tong
Dirigen Pendamping: Christian Xenophanes

Hari/Tanggal: 14 April 2009
Tempat: Hotel Shangri-La, Jalan Mayjen Sungkono 120 Surabaya.

Solis: Pauline Poegoeh (soprano), Dewi Endrawati (soprano), Sam Tong (bariton), Ndaru Darsono (tenor), Tan Siek Miauw (tenor), Russy Sutanto (soprano).

Pianis tamu: Glenn Riddle (Australia), piano concerto nomor 1 dalam C mayor, opus 15 Beethoven.

Komposer: Bach, Handel, Haydn, Mozart, Beethoven, Schumann, Mendelssohn, Gounod, Puccini, etc.


INFORMASI
SSO, Jalan Gentengkali 15 Surabaya.
Telepon (031) 531 3297, 534 2440
www.surabayasymphonyorchestra.com

08 March 2009

Ferry Fadly, si Brama Kumbara



Oleh Sugeng Sulaksono


Pencinta sandiwara radio era 1980-1990-an awal pasti akrab dengan suara Ferry Fadly. Dialah pemeran Brama Kumbara, Arya Kamandanu, dan tokoh bijak lain dalam puluhan serial sandiwara radio. Apa yang dia lakukan sekarang?

Ditemui di rumahnya kawasan elite Jalan Syamsu Rizal, Menteng, Jakarta Pusat, Ferry tampak bersemangat. Dandanannya masih khas, mengenakan sepatu kulit model bot, celana jins, dan ikat kepala ala pendekar zaman dulu.

Suaranya sama sekali berbeda dengan Brama Kumbara dalam serial sandiwara radio Saur Sepuh maupun Arya Kamandanu dalam Tutur Tinular. Kecuali ketika tiba-tiba dia mengucapkan salah satu penggalan dialog dalam perannya sebagai Brama Kumbara, raja Madangkara. ''Wahai rakyatku Kerajaan Madangkara. Di sini aku Brama Kumbara, mengucapkan sampurasun.''

Masa jaya Ferry sebagai pemain drama radio sekitar 1985 hingga awal 1990. Sebelumnya dia juga mengisi suara untuk beberapa kisah drama, namun tidak sepopuler dua kisah legendaris itu.

Begitu legendarisnya sehingga Ferry oleh sebagian masyarakat benar-benar dianggap sebagai Brama Kumbara. Itu terbukti dari reaksi banyak orang, baik saat jumpa fans maupun ketika rumah tinggalnya diketahui khalayak.

Ferry bercerita, pernah suatu hari ada orang meminta berkat kepadanya. Contohnya, ibu hamil yang minta perutnya dielus-elus berharap agar anaknya terlahir seperti Brama Kumbara. ''Karena dia raja Madangkara, istilahnya setengah dewa. Begitu arif, bijaksana, tokoh panutanlah,'' kata pria kelahiran 1 April 1956 itu.

Mendapat reaksi seperti itu, Ferry merinding. Dia sadar, faktanya jauh berbeda dengan Brama Kumbara atau yang seperti diharapkan para penggemar. ''Sampai ada yang sakit minta disembuhkan. Saya hanya bisa jawab, selain berusaha, ya berdoa. Begitu saja,'' kisahnya.

Meski begitu, Ferry berusaha memaklumi. Kerinduan masyarakat terhadap tokoh pemimpin seperti Brama Kumbara dianggap sebagai penyebabnya. Bayangkan saja, kata dia, Brama Kumbara, sang raja, jika sedang menengok rakyatnya datang sendiri dengan pakaian biasa, tanpa pengawalan, dan membantu dengan tangan sendiri.

Tentu saja, lanjut dia, berbeda dengan pejabat zaman sekarang yang menurut Ferry seperti melakukan sebuah rekayasa. ''Brama Kumbara tanpa rekayasa. Apa adanya. Tapi, kalau pemimpin sekarang, untuk ke masyarakat saja bajunya luar biasa, kamera di mana-mana, dan kalau ada masyarakat yang ingin bertanya terkadang sudah diarahkan. Pertanyaannya hasil pesanan,'' sindirnya.

Bertahun-tahun memerankan Brama Kumbara dan Kamandanu, Ferry belajar banyak hal tentang bagaimana bersikap bijak. Meski begitu, dia merasa masih jauh dari harapan. "Tapi, apa salahnya mencoba,'' ujarnya.

Secara fisik, Ferry juga merasa jauh dari fantasi pendengar radio terhadap tokoh Brama Kumbara itu sendiri. Dia merasa tidak tinggi besar, tidak sakti mandraguna, dan tidak bisa searif pemilik ajian lampah lumpuh itu.

Beruntung, kata Ferry, hingga kini tidak ada yang meluapkan kekecewaan terhadap dirinya. Dia menganggap, kalaupun ada kekecewaan, masih dalam taraf wajar. "Justru itulah nikmatnya. Berarti saya sukses memerankan tokoh itu sehingga pendengar memiliki imajinasi sendiri,'' ungkapnya.

Sebaliknya, lebih banyak masyarakat yang akhirnya menggemari dirinya. Ferry menerima banyak surat dari penggemar. Pada awal jaya, setiap surat yang datang dia balas. ''Awalnya rajin. Lama-lama capek juga,'' imbuhnya.

Semakin lama, kata Ferry, surat penggemar yang datang menggunung. Jumlahnya berkarung-karung. Dan, hingga sekarang surat-surat itu masih dibiarkan begitu saja, disimpan di gudang rumahnya. ''Tidak sempat saya jawab. Boleh tuh kalau mau dicek di gudang ada. Ada rasa bersalah juga saya belum sempat menjawab itu semua,'' tuturnya.

Ketika industri televisi semakin berkembang, pendengar radio menurun. Tren mendengarkan cerita drama di radio pun semakin hilang. ''Bagi saya, era atau masa itu tidak bisa dilawan. Kayak sekarang musim sinetron remaja, musim grup band, itu kan era. Nanti berputar,'' yakinnya.

Tapi, Ferry tetap konsisten dengan bisnis audio. Sudah empat tahun ini dia mendirikan perusahaan studio audio untuk iklan televisi dan radio, JF Production. ''Saya berpikir bahwa iklan tidak pernah berhenti. Semua produk saya pikir akan mengeluarkan iklan dan audionya dikerjakan tersendiri,'' jelasnya.

Proyek yang dikerjakan beragam, mulai iklan produk hingga iklan partai politik dan calon anggota legislatif. Kini suara Ferry bukan lagi untuk Brama Kumbara, tapi calon pemimpin yang diharapkan merakyat layaknya Brama Kumbara.

SUMBER: Jawa Pos, Minggu, 08 Maret 2009

05 March 2009

Matinya Gudang Buku Nusa Indah



Kantor Nusa Indah di Ende. Foto: Andreas Harsono.

Rabu, 4 Maret 2009. Saya mampir ke Gudang Buku Nusa Indah di Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Ini pewakilan resmi Penerbit Nusa Indah, yang berpusat di Ende, Flores, di Pulau Jawa. Kita bisa dengan mudah mendapatkan semua buku Nusa Indah di sini.

Orang-orang Flores, dan penggemar buku umumnya, biasa datang ke Gudang Buku Nusa Indah baik sekadar belanja mata, lihat-lihat buku baru, atau ngobrol dengan petugas. Hubungan antara pelanggan dan staf Nusa Indah ibarat keluarga sendiri. Pater-pater SVD dari Flores pun kerap saya temui di sini.

Kita bisa bicara panjang lebar tentang apa saja. Kadang-kadang ada kiriman jagung titi atau makanan khas Flores yang bisa dinimati besama. Hmm... ada juga teman-teman yang menikmati bir bintang di sini. Cakapnya pun menjadi ramai, gayeng, khas anak Flores perantauan.

Oh, ya, media massa terbitan Flores, keluarga Nusa Indah juga, bisa ditemukan dengan mudah di sini. Harian Flores Pos, Mingguan Dian, Majalah Kunang-Kunang [anak-anak] tersedia meskipun sudah kedaluwarsa. Saya termasuk pelanggan yang sangat menikmati Gudang Buku Nusa Indah di Surabaya.

Tapi apa yang terjadi? Saya tersentak ketika masuk ke ruangan ini, Rabu siang. Rak-rak kosong. Ratusan, bahkan ribuan judul buku, tak terlihat lagi. Lima kardus berisi buku-buku lama Nusa Indah. Suasana kacau-balau.

"Masa pengabdian kami di Surabaya sudah selesai. Tidak ada lagi Gudang Buku Nusa Indah di Surabaya," ujar Mbak Yohana kepada saya.

Karyawan yang telah mengabdi selama 27 tahun ini tersenyum kecut. Tentu berat melihat tempat kerjanya, yang memberinya kehidupan selama puluhan tahun, harus tutup. Mbak Yohana bilang acara bersih-bersih, ringkas-ringkas, sudah dilakukan sejak minggu lalu. "Rak-rak, lemari, dan sebagainya akan dijual," kata Mbak Yohana.

Lantas, ke mana ribuan buku itu?

Dikirim semua ke Flores. Ke kantor pusat Nusa Indah, Jalan El Tari Ende, Flores 86318. Telepon (0381) 23974. Proses pengiriman sudah mulai dilakukan. Pekan depan, bisa dipastikan semua buku yang pernah menghuni Gudang Buku selama bertahun-tahun pulang kampung. Selamat jalan, kawan!

Kalau mau jujur, bisnis buku Nusa Indah memang melesu dalam beberapa tahun terakhir. Manajemen PT Nusa Indah, yang dipegang para pastor SVD (Societas Verbi Divini) rupanya gagal membaca tanda-tanda zaman. Bisnis yang seharusnya bisa berkembang--lihat saja geliat toko-toko buku di Surabaya atau Jakarta--di Nusa Indah justru merosot.

Kalau kita bongkar buku-buku di Gudang Nusa Indah, Surabaya, sebagian besar adalah buku-buku lama. Bahkan, buku terbitan tahun 1970-an, misalnya karangan Pater Alex Beding SVD atau buku tentang Paus Yohanes Paulus I pun masih dijajakan di ruang pamer. Mirip lapak pedagang buku-buku bekas di Jalan Semarang atau Jalan Blauran.

Belum lagi ruangan yang terasa kurang terawat. Buku-buku berdebu. Tidak kinclong. Tak usahlah dibandingkan dengan Toko Buku Gramedia yang sangat canggih itu. Dengan toko-toko buku paroki saja, Nusa Indah kalah telak. Bagaimana orang ramai-ramai ke sini untuk belanja buku? Daya tariknya nyaris tidak ada.

Maka, bisa dipahami, Kongregasi SVD Regio Jawa merasa tidak perlu lagi mempertahankan Gudang Buku Nusa Indah. Memang sama-sama SVD-nya, sama-sama Flores-nya, mengingat pastor-pastor SVD sejak dulu didominasi orang Flores, tapi beda kepentingan. SVD Jawa ingin memperluas Soverdi, biara untuk komunitas pater-pater SVD yang lansia. Sebab, ruangan yang ada sekarang dinilai sudah tidak memadai.

Apa boleh buat. Gudang Buku Nusa Indah, yang sudah berumur 30-an tahun itu, harus dihentikan. Mempertahankan bisnis yang jelas-jelas rugi sama dengan bunuh diri bagi PT Nusa Indah, bahkan SVD umumnya. "Saya sendiri kebetulan pensiun, ya, sudah. Saya kembalikan semuanya ke kantor pusat di Flores," ujar Mbak Yohana.

Bagaimana masa depan Nusa Indah selanjutnya?

Kita tunggu saja. Saya dengar saat ini manajemen Nusa Indah sedang berpikir keras untuk mengembalikan kejayaan penerbit dan toko buku pelopor di Nusa Tenggara Timur itu. Jangan sampai Nusa Indah tenggelam!

04 March 2009

Andaikan Obama Tetap di Indonesia



Barack Obama pidato pelantikan. Sumber foto: bbc.co.uk


Andaikan Barrack Obama tetap tinggal di Menteng, Jakarta, Indonesia. Mungkinkah dia bisa sehebat sekarang? Punya kapasitas menjadi presiden Republik Indonesia? Jawabannya sudah jelas: TIDAK MUNGKIN.

Mustahillah seorang Obama jadi kepala negara Indonesia. Mengapa?

1. Obama bukan Islam.

Agama mutlak penting di Indonesia. Sehebat apa pun Anda, kalau bukan Islam, agama mayoritas, jangan pernah mimpi jadi presiden. Di Amerika Serikat sekalipun sama saja.

Andaikan Barrack Obama bukan Kristen, mustahillah dia jadi presiden USA. Maka, kita bisa paham mengapa media massa USA selama berbulan-bulan meriset apa sih agama Obama sebenarnya.

"Boro-boro jadi calon presiden, umat Katolik minta agar jadwal pencoblosan pemilu 9 April 2009, yang bersamaan dengan hari Kamis Putih, diubah sedikit saja ditolak sama KPU dan pemerintah. Aspirasi orang Katolik di NTT dianggap angin lalu," kata teman Flores, yang protolan seminari di kampung.

Yah, jangankan presiden, jabatan-jabatan publik lainnya macam gubernur, bupati, wali kota, camat, kepala desa, bahkan ketua RT pun pakai ukuran agama. Bahkan, akhir-akhir ini ada tren menarik di sejumlah daerah. Islam saja tidak cukup. Si kandidat harus menjalani fit and proper test mengaji Alquran. Ngaji harus lancar, fasih.

2. Obama bukan Jawa.

Ayah tirinya saja yang Jawa, Pak Sutoro. Faktor JAWA selama bertahun-tahun menjadi kriteria presiden Indonesia. Jika engkau orang Papua, Maluku, Flores, Dayak, Timor, Bali, Tionghoa... jangan mimpilah jadi presiden. Jadi blogger sajalah!

Jusuf Kalla yang orang Bugis-Makassar rupanya ingin menghapus mitos bahwa presiden Indonesia harus Jawa. Alasannya, masyarakat Indonesia sudah makin rasional, makin berubah, makin modern. Orang Jawa pun, harus diakui, jauh lebih maju dan cerdas dibandingkan suku-suku lain di tanah air.

Saya membayangkan, jika Barrack Obama mencalonkan diri [atau dicalonkan partai-partai] sebagai presiden, setelah sebelumnya "menyesuaikan agama" alias jadi mualaf, bakal muncul gugatan-gugatan yang bikin pening kepala. "Lha, wong Jowo kok ireng, rambute kriwul-kriwul? Gak ono potongan Jowo blas. Wong ireng kok nekat dadi presiden?" Dan seterusnya.

3. Obama tak punya dinasti politik.

Yang ini pernyataan Muhammad Fadjroel Rachman di The Jakarta Pos edisi Minggu 1 Maret 2009. Begini petikannya:

"If Barrack Obama were in Indonesia, he would not be able to run for the presidency because there is no convention here. To run for the presidency, he must change his nama to Obama Soekarnoputra. Or his name must be Obama Yudhoyono if he were from Yudhoyono's Democratic Party or Obama Wahid if he were from the National Awakening Party (PKB).

"It would be impossible for political regenartion to occur in Indonesia because many political parties here are occupied and controlled by dynasties. Political parties are based on bloodlines."


4. Obama terlalu muda, 47 tahun.

Di Indonesia, calon presiden rupanya menjadi kursi empuk buat para manula (manusia usia lanjut), pensiunan, purnawirawan tentara, kakek nenek. Susilo Bambang Yudhoyono, pensiunan tentara, yang selalu tampak kelelahan, senang jadi presiden. Megawati yang nenek-nenek, sudah seharusnya ngemong cucu, punya ambisi besar membalas kekalahan dari Susilo.

Sutiyoso, calon presiden yang bekas gubernur Jakarta, ya kakek-kakek. Jusuf Kalla ya kakek sepuh. Sri Sultan Hamengkubuwono X pun jelas lansia. Prabowo juga tidak bisa dibilang muda dan segar. Aneh, presiden yang tugasnya sangat berat, kerja hampir 24 jam, justru diisi oleh manusia-manusia Indonesia yang sudah lewat usia produktif.

Sebetulnya kita, orang Indonesia, tidak bodoh-bodoh amatlah. Pada awal kemerdekaan Bung Karno diangkat sebagai persiden. Usia Bung Karno 44 tahun. Sangat ideal. Tapi, kita tahu, Bung Karno kebablasan, berkuasa terus, tidak mau turun. Bahkan, dijadikan presiden seumur hidup segala. Sudah bisa ditebak apa yang terjadi ketika si manula jadi presiden di republik yang sangat luas dan rumit ini.

Pak Harto juga sama. Dia jadi presiden ketika masih usia produktif, 45 tahun. Betapa segar dan tampannya Presiden Soeharto pada periode pertama. Kita bisa melihat foto-foto lama Pak Harto di awal Orde Baru.

Muda, segar, punya visi jangka panjang dengan pembangunan lima tahun, pembangunan 25 tahun, akselerasi modernisasi, dan macam-macam lagi.

Tapi apa yang terjadi? Pak Harto kebabalasan. Tujuh periode menjadi presiden sampai TOPP: tua, ompong, peot, pikun. Istilah TOPP ini diperkenalkan Pak Harto sendiri. Jadinya, ya, beliau tidak pernah bisa menikmati masa tuanya. Meninggal dalam kondisi mengenaskan. Andai saja Pak Harto mundur pada periode kedua, katakanlah 1977? Ciamik soro!

Orang muda Indonesia kurang percaya diri. Konfidensi tak ada. Yang namanya orang muda itu, ya, mereka-mereka yang berusia di bawah 30 tahun dan belum menikah. Kalau usia 23 tahun, tapi sudah menikah, ya, bukan pemuda. Definisi ini, saya kira, banyak yang sepakat. Tapi apa yang terjadi di Indonesia?

Hampir semua organisasi pemuda di Indonesia, sejak 1980-an, selalu dipimpin orang berusia 40 tahun ke atas. Bahkan, ada juga yang 50 tahun, mendekati 60. Silakan cek pengurus atau aktivis Komite Nasional Pemuda Indonesia, Pemuda Pancasila, Pemuda Katolik, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia, Pemuda Anshor... dan seterusnya.

Para ketua organisasi yang pakai nama "pemuda" ini rata-rata usianya jauh di atas Barrack Obama, tapi tidak mau turun. Tetap merasa pemuda. "Kalau saya mau jadi ketua terus, Anda mau apa? Itu kan urusan organisasi saya," tegas seorang ketua organisasi pemuda kepada saya. Usianya sudah lewat 50.

5. Obama berkulit hitam, rambut keriting.

Diakui atau tidak, suku-suku keriting dan hitam di Indonesia macam Papua, Maluku, Flores, dan kawasan Indonesia Timur selalu dianggap inferior. IQ jongkok. Orang hitam biasanya diidentikkan dengan kuli pelabuhan, tukang pikul, tukang pukul, debt collector, petinju, satpam, dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya.

Mana ada orang hitam di Indonesia yang bintang film?

"Banyak, Bung! Tapi biasanya jadi tokoh-tokoh jahat seperti tukang pukul, preman, pemerkosa, orang bodoh, dan sejenisnya. Hehehe," kata teman saya yang Maluku.

"Aduhai, Wong Ireng, nasibmu hitam sehitam kulitmu!" kata teman saya yang Jawa.

Juampuuut!

03 March 2009

Khotbah Panjang, Khotbah Pendek


Kapela Tuan Anna di Larantuka, Flores Timur. FOTO: Renata Tours Surabaya [matur nuwun].

Khotbah dibahas panjang lebar di HIDUP edisi terbaru. Topik lama sebenarnya. Sejak saya sekolah dasar, majalah ini sering menurunkan liputan panjang tentang khotbah di gereja. Ada apa dengan khotbah?

Khotbah macam apa yang disukai umat. Khotbah yang bikin ngantuk. Khotbah ngelantur. Khotbah berapi-api. Dan seterusnya. Pada 1990-an, ketika masih mahasiswa, saya pun beberapa kali menanggapi artikel di HIDUP seputar khotbah pastor.

Ah, rupanya khotbah ini tetap aktual sepanjang masa. Jemaat gereja, juga tempat ibadah lain, ternyata tetap suka khotbah. Misa atau kebaktian tanpa khotbah hambar rasanya.

Khotbah masih penting?

Yah, banyak orang bilang begitu. Bahkan, di gereja-gereja Protestan, khususnya aliran pentakosta dan karismatik, khotbah luar biasa penting. Pendeta, evangelis, atau apa pun namanya jadi terkenal, ya, karena khotbah. Perhatikan iklan di surat kabar: nama-nama pendeta yang dipromosikan pasti yang dianggap hebat berkhotbah.

"Kalau KKR (kebaktian kebangunan rohani) diisi Bapak Pendeta A, wah, pasti ramai. Jemaat semangat mendengar. Khotbah 90 menit gak terasa sama sekali," ujar Freddy, teman yang Kristen karismatik.

"Dengar khotbah kok bisa semangat. Apanya yang menarik?"

"Banyak. Gaya bicara, kesaksian-kesaksian.... pokoknya relevan dengan kehidupan jemaat. Gak mengawang-awang."

"Banyak teriak dan tepuk tangan?"

"Hehehe... Itu kan hanya sekadar variasi saja. Yang jelas, pendeta itu tahu benar apa yang dibicarakan. Enak deh!"

Saya ingat masa kecil di Flores Timur, tepatnya Larantuka. Ada pastor bule bernama Pater Michael Kriszik SVD. Suka jalan bergegas, semangat, tahu obat (mirip dokter), doyan membaca, tapi paling malas bicara. Kalau bicara hanya sekadar saja, cukup yang penting-penting. Tidak pernah bercanda, apalagi ketawa-ketawa macam Pater Paulus Due SVD.

Pater Kriszik itu bendahara Keuskupan Larantuka zaman dulu. Yah, kata orang, bendahara atau pengurus bagian keuangan memang sebaiknya dipegang orang-orang pelit bicara, tak suka bergaul, tertutup macam Pater Kriszik ini. Siapa pun pasti berpikir 77 kali sebelum meminta uang dari sang pastor asal Polandia.

Meskipun begitu, anak-anak asrama SMP San Pankratio di San Dominggo, Larantuka, yang jaraknya hanya 10 meter dari markas keuskupan, paling suka Pater Kriszik memimpin misa harian. Kenapa?

Khotbahnya paling pendek. Kalau khotbah di gereja besar, hari Minggu, paling lama TUJUH menit. Khotbah di gereja kecil alias kapel tidak sampai TIGA menit. Di San Pankratio itu Pater Kriszik hampir tidak pernah kasih khotbah.

"Misa hari ini tidak ada khotbah. Silakan kalian membaca sendiri Injil Lukas Bab 14 Ayat 15-24. Renungkan baik-baik dan berdoa kepada Tuhan. Misa kita lanjutkan. Aku Percaya akan Allah....," ujar Pater Kriszik.

Hehehe....

Orang Larantuka umumnya sudah tahu karakter romo yang satu ini. Maka, begitu masuk gereja dan tahu bahwa misa dipimpin oleh Pater Kriszik, wah, senangnya bukan main. Yang senang ini tentu orang-orang yang tidak suka dengar khotbah, ingin perayaan ekaristi tidak panjang lebar. Sebaliknya, banyak orang pusing kalau Pater Paulus Due yang pimpin misa. Bisa dua jam lebih tuh!

Selain tidak suka berkhotbah, Pater Kriszik ini paling jago membaca cepat. Lancar seperti air sungai di musim hujan. Karena itu, bacaan-bacaan misa, khususnya doa syukur agung, cepat tuntas.

Ada satu lagi kelebihan beliau: Tidak suka nyanyi. Bagian-bagian misa yang biasanya (atau seharusnya) dinyanyikan, oleh Pater Kriszik dibaca saja. Bapa Kami dibaca, Aku Percaya dibaca, Kudus dibaca, Anak Dmba Allah dibaca....

Maka, bisa dipastikan misa yang dipimpin Pater Kriszik berlangsung sangat singkat: tak sampai 30 menit. Itu sudah termasuk antre komuni yang sedikit makan waktu. Sekarang ini, menurut pengalaman saya, misa di gereja-gereja Surabaya rata-rata 60-80 menit.

Misa malam Natal di Jawa rata-rata 90-100 menit. Misa inkulturasi Jawa di Gereja Ganjuran, Jogjakarta, rata-rata 2,5 jam. Misa tahbisan Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono pada 29 Juni 2007 berlangsung dua jam lebih sedikit.

Ada teman saya merindukan "misa kereta api ekspres" ala Pater Kriszik di Larantuka, dulu.

Mengapa? "Kasihan umatnya kalau khotbah sangat panjang, misa terlalu lama. Dari dulu, ya, isi khotbah kita semua sudah tahu. Gak ada yang baru," ujar si Lodo.

"Apa ada jaminan khotbah yang panjang bisa membuat kehidupan umat lebih baik? Moderat sajalah," tambahnya.

Kembali ke Larantuka. Ada ekstrem kiri, ada ekstrem kanan. Ada khotbah ekstrem pendek, ada ekstrem panjang. Kebalikan Pater Kriszik ini, seperti disinggun di muka, adalah Pater Paulus Due. Orang Bajawa ini suka bicara, bercanda, ngeledek, dan menyanyi -- meskipun suaranya tak seberapa bagus. Siap-siap mental kalau misa dipimpin Pater Paulus.

Karena keranjingan nyanyi, bagian-bagian misa yang sebenarnya cukup dibaca saja, dilagukan sang romo. Ordinarium sudah jelas nyanyian, bahkan sering diulang. Aku Percaya nyanyi. Doa syukur agung nyanyi. Prefasi nyanyi. Doa umat nyanyi. Bahkan, bacaan ketiga alias Injil pun dinyanyikan. Makan waktu berapa menit? Silakan diperkirakan sendirilah.

Pater Paulus memang dikenal orang Larantuka--dulu dia Pastor Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka--sebagai pastor spesialis khotbah panjang. Terbalik 180 derajat dengan Pater Krisik. Bicaranya spontan, ceplas-ceplos. Bicara di mimbar sangat lancar, spontan, muncul begitu saja. Saking fasihnya, kalimat-kalimat Pater Paulus seperti keluar dengan sendirinya. Tidak perlu persiapan, apalagi naskah, seperti yang banyak dilakukan rohaniwan lain.

Mengapa khotbah Pater Paulus sangat panjang? Dia suka cerita atau masukkan ilustrasi. Pengalaman kecil ke kampung-kampung, bertemu kambing atau katak, diungkapkan, kemudian dikaitkan dengan bacaan kitab suci barusan. Tak hanya cerita, dia memasukkan guyonan ala kampung-kampung di Flores Timur. Begitu dirasa kena, umat tersenyum atau tertawa, sang pater makin semangat menyusupkan guyonan baru.

Sadar bahwa bumbu-bumbu sudah terlalu banyak, Pater Paulus--mengutip istilah Tukul Arwana--kembali ke laptop. Kembali ke tema awal. Tapi, ya, beliau sebentar lagi sudah tergoda untuk melontarkan bumbu-bumbu humornya. Banyak orang suka, tapi tidak sedikit yang jenuh dengan khotbah panjang ini. Buntutnya, ya, misa menjadi molor tidak karuan.

Di Jawa Timur, alhamdulillah, puji Tuhan, saya belum pernah menemukan pastor macam Pater Kriszik dan Pater Paulus. Bagaimanapun juga yang ekstrem-ekstrem itu tidak baik. Yang sedang-sedang sajalah!

Oei Hiem Hwie, tangan kanan Pramoedya



Para pecinta buku, khususnya karya Pramoedya Ananta Tour, dan peminat sejarah di Surabaya beruntung punya tokoh sekaliber OEI HIEM HWIE. Pria 73 tahun ini merupakan orang kepercayaan novelis terkemuka Pramoedya Ananta Tour (almarhum).

Oei mengoleksi semua buku karyawan Pramoedya, termasuk tulisan tangan Pram semasa pembuangan di Pulau Buru. Berikut petikan percakapan LAMBERTUS L. HUREK dari RADAR SURABAYA dengan Oei Hiem Hwie di Perpustakaan Medayu Agung Jalan Medayu Selatan IV/42-44 Surabaya, Sabtu (28/2/2009).


ANDA BARU SAJA DIOPNAME DI RKZ. SEBENARNYA ANDA SAKIT APA SIH?

Vertigo. Enam hari saya harus tinggal di rumah sakit. Mungkin karena saya terlalu banyak membaca, membaca, membaca, ya, jadinya seperti ini.

MEMBACA ITU KAN BAGUS! APAKAH ANDA AKAN MENGURANGI MEMBACA?

Bagus, tapi harus diimbangi dengan olahraga dan pola makan yang baik. Jadi, pengalaman diopname kemarin ada hikmahnya. Saya tidak kapok membaca karena itu merupakan satu-satunya hobi saya sejak kecil.

Karena hobi membaca itulah, saya mendapat banyak informasi, bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh penting, termasuk Pak Pram (Pramoedya Ananta Tour). Saya beruntung sekali karena dipercaya Pak Pram untuk menyimpan naskah-naskah karyanya.

SELAMA DI PULAU BURU RUPANYA ANDA SANGAT DEKAT DENGAN PAK PRAM?

Betul. Sejak dulu nama Pak Pram sudah sangat terkenal di Indonesia, bahkan di luar negeri. Karena itu, saya beruntung bisa sangat dekat dengan beliau meskipun tempatnya di Pulau Buru. Dulu, Buru itu masih hutan, kami harus babat alas, buka sawah, bercocok tanam.

Kami yang tidak biasa bertani di Jawa, apa boleh, dipaksa menjadi petani supaya bisa hidup. Itu pengalaman hidup yang luar biasa. Nah, selama di Buru Pak Pram masih tetap suka menulis. Saya ikut membantu mencari referensi untuk Pak Pram.

APAKAH ADA KERTAS DAN MESIN KETIK DI PULAU BURU?

Nggak ada. Kertasnya pakai sak semen. Sak semen itu kan berlapis-lapis kertasnya. Nah, saya gunting menjadi lembaran kecil-kecil agar bisa dipakai menulis. Mesin ketik belum ada, sehingga Pak Pram pakai tulisan tangan. Coba Anda lihat tulisan tangan Pak Pram di situ. (Oei memperlihatkan manuskrip novel Bumi Manusia di dekat pintu masuk perpustakaan. Ada juga tulisan-tulisan Pram yang lain.)

SETELAH DIBEBASKAN DARI BURU, PAK PRAM TIDAK MEMINTA TULISANNYA ITU?

Saya yang justru mengembalikan kepada Pak Pram, tapi Pak Pram bilang saya saja yang nyimpan. Khawatir hilang kalau dia yang simpan sendiri. Maka, sejak tahun 1978 itu saya menyimpan tulisan-tulisan Pak Pram di rumah (Malang).

APAKAH TIDAK DICARI-CARI INTEL MENGINGAT WAKTU ITU KARYA-KARYA PRAM SANGAT DIMUSUHI REZIM ORDE BARU?

Silakan cari, saya bilang nggak ada. Padahal, naskah-naskah itu saya simpan di plafon. Hehehe.... Baru setelah reformasi, informasi ini saya buka kepada masyarakat. Ini perlu agar masyarakat mengetahui dengan benar sejarah bangsa ini. Misi saya meluruskan sejarah.

ADA RENCANA UNTUK MENERBITKAN TULISAN-TULISAN PAK PRAM YANG ANDA SIMPAN INI?

Oh, kalau itu haknya keluarga Pak Pram. Tapi mereka pun tidak meminta naskah asli. Yang diminta hanya fotokopinya saja. Saya bersyukur karena sekarang buku-buku Pak Pram sudah tersebar luas di mana-mana.

LANTAS, APAKAH PERPUSTAKAAN MEDAYU AGUNG INI DIMAKSUDKAN UNTUK MENYIMPAN KARYA-KARYA PAK PRAM?

Salah satunya itu. Saya sejak kecil itu kan suka membaca dan mengoleksi buku. Saya punya ribuan buku, termasuk karya Pak Pram. Ini perlu perpustakaan yang memadai. Dan itu impian saya sejak dulu. Akhirnya, pada tahun 2001 perpusatakaan ini berdiri. Sekarang koleksi saya sudah mencapai sekitar 250 judul buku.

Syukurlah, koleksi buku-buku saya sudah banyak dimanfaatkan oleh para mahasiswa kayak dua mahasiswa ini (MENUNJUK DUA MAHASISWA UNIVERSITAS AIRLANGGA YANG MELAKUKAN PENELITIAN), peneliti, wartawan, hingga masyarakat umum. Buku-buku di sini tidak bisa dipinjam atau dibawa pulang. Kalau mau memanfaatkan data, ya, baca langsung atau mencatat di sini.


ANDA PUNYA ENAM KARYAWAN DENGAN KOLEKSI RIBUAN BUKU. BAGAIMANA BIAYA OPERASIONAL DAN PERAWATAN?

Ya, saya usahakan sendiri. Ada juga bantuan dari donatur yang peduli, tapi sporadis saja. Tidak rutin. Dan, supaya diketahui, saya ini dari dulu gak suka minta-minta. Mau kasih bantuan, silakan, tapi saya tidak akan minta-minta. Jadi, lebih baik saya tangani sendiri saja.

BAGAIMANA DENGAN KEDUA ANAK ANDA? APAKAH MENGIKUTI JEJAK BAPAKNYA?

Mereka punya dunia sendiri karena pengalaman sejaah yang mereka rasakan berbeda dengan saya. Dan saya memang tidak pernah mengarahkan mereka harus begini begitu. Anak saya yang satu kuliah di ITS, satunya lagi sudah bekerja.

MASIH SOAL BUKU. APA USULAN ANDA AGAR MASYARAKAT, KHUSUSNYA GENERASI MUDA, SENANG MEMBACA BUKU?

Ada banyak faktor, saya kira. Nomor satu, harga buku makin mahal, tidak terjangkau pelajar dan mahasiswa. Penerbit sebaiknya membuat buku-buku edisi murah di samping yang mahal karena kualitas kertasnya tinggi. Kalau harga mahal, orang tentu mendahulukan kebutuhan yang lain.

Kedua, tampilan buku harus dibuat semenarik mungkin. Cover harus menarik. Kemudian ada gambar, foto, ilustrasi, dan sebagainya. Kenapa? Masyarakat kita masih suka melihat gambar. Walaupun isinya bagus, kalau tampilannya jelek, ya, gak disukai orang.

Ketiga, penerbit harus mau keluar biaya untuk promosi. Kalau launching buku itu, ya, jangan sekadar lesehan, tapi digarap dengan baik. Memang, biaya jadi besar, tapi pasti akan kembali.





RISIKO JADI WARTAWAN PRO-SOEKARNO

SEJAK anak-anak sampai sekarang Oei Hiem Hwie mengaku hanya punya satu hobi, yakni membaca. Apa saja dibaca, entah itu surat kabar, majalah, atau buku. Hobi membaca ini membawa Oei remaja mengikuti kursus jurnalistik tertulis dari Jogjakarta dan Bandung.

"Sebab, saya waktu itu memang sangat tertarik dengan jurnalistik. Wartawan itu kan bisa dapat banyak informasi, bisa bertemu banyak tokoh penting, bisa ke mana-mana," ujar Pak Oei kepada saya.

Tak banyak orang Tionghoa yang menekuni dunia jurnalistik. Selain pertimbangan ekonomi, wartawan sulit hidup makmur, risiko profesi ini pun berat. Apakah keluarga tidak melarang menjadi wartawan?

"Sama sekali tidak ada larangan apa pun. Saya diberi kebebasan untuk menekuni pekerjaan apa saja asalkan baik. Wartawan itu kan pekerjaan yang baik," kata Pak Oei sambil tersenyum.

Berbekal kursus jarak jauh itu, Oei Hiem Hwie mulai memasuki dunia jurnalistik. Dia diterima sebagai wartawan TEROMPET MASJARAKAT, koran terkemuka di Surabaya yang bermarkas di Jalan Pahlawan (Gedung Brantas).

"Koran ini independen, memberi ruang kepada pembaca untuk berpikir kritis. Alirannya nasionalis, antikolonialisme. Itu yang membuat saya makin semangat," katanya.

Perubahan politik besar-besaran terjadi di tanah air menyusul peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI). TEROMPET MASJARAKAT yang pro-Soekarno diberedel. Pemiliknya, Goie Poo An, ditangkap, kemudian dibunuh. Oei Hiem
Hwie pun merasakan pahitnya risiko menjadi wartawan pejuang.

"Saya ditangkap karena dianggap pro-Soekarno. Pokoknya, apa saja yang dianggap berbau Soekarno dihabiskan. Buku-buku saya pun dirampas mereka," kenang Oei Hiem Hwie. Itu terjadi pada 19 November 1965.

Syukurlah, sebagian buku koleksinya--sebagian besar tentang sejarah--masih bisa diselamatkan oleh saudara-saudaranya di Malang. Sejak itulah Oei yang masih sangat mudah harus mendekam dari penjara ke penjara.

Mula-mula di Kamp Batu, pindah ke Lowokwaru, kemudian ke Rumah Tahanan Militer Koblen (Surabaya), lantas Kalisosok. Pada 1970, tujuh hari setelah Bung Karno meninggal, Oei dibawa ke Nusakambangan. Beberapa bulan kemudian dipindahkan lagi ke Pulau Buru, Maluku, hingga bebas pada 19 November 1978.

Tidak menyesal jadi wartawan? "Oh, tidak. Hidup memang harus seperti itu. Selalu ada pengalaman pahit dan manis," tandas ayah dua anak ini.



OEI HIEM HWIE

Lahir: Klojen Kidul, Kota Malang, 24 November 1935
Istri: Sri Widiati
Anak: Adi Sandika dan Yudi Sandika
Hobi: Membaca

Alamat: Jalan Medayu Selatan IV/42-44 Surabaya
Pekerjaan: Direktur Perpustakaan Medayu Agung
Idola: Pramoedya Ananta Tour (sastrawan), Djawoto (wartawan, diplomat)

PENDIDIKAN
SD-SMA Taman Harapan Malang
Universitas Res Publica Surabaya

PENGALAMAN PENJARA
Kamp Batu, Malang
LP Lowokwaru, Malang
RTM Koblen, Surabaya
LP Kalisosok, Surabaya.
LP Nusakambangan
Pulau Buru.


PENGHARGAAN
Wali Kota Surabaya Bambang DH (2004)