Ina ama kaka air ra dore misa minggu palma lali Hinga, Adonara Timur. Ra nepi koda lohumen [Lamaholot] mela-mela. Nato go wata kenaen uhe, Ina! Hehehe...
Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK
Putra asli Lamaholot, tinggal di Surabaya
Djoko Pitono, wartawan senior, pemerhati bahasa, menulis di RADAR SURABAYA (8 Maret 2009) tentang bahasa-bahasa daerah yang sudah musnah, sedang musnah, dan terancam musnah. Mengutip Prof Dr Kisyani-Laksono dari Universitas Negeri Surabaya, Djoko menilai bahasa Jawa sekarang ini cukup aman, tapi tetap terancam musnah.
Maklum, sejak 20-an tahun lalu ada kecenderungan para orang tua di Jawa, khususnya di kota, khususnya lagi di perumahan-perumahan, sengaja membiasakan anak-anaknya bicara dalam bahasa Indonesia. Bahkan, saat ini mulai dibiasakan berbahasa Inggris. Bahasa ibu, dalam hal ini bahasa Jawa, tidak dibiasakan.
Prof Kisyani juga mencatat contoh menarik. Bahasa Ibu di Desa Gamlamo dan Desa Gamici, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Maluku Utara, saat ini penuturnya tinggal delapan orang. Semuanya sudah lanjut usia. Yakni, lima orang di Desa Gamlamo (pada 2007 berusia 46, 60, 75, 80, 96) dan tiga orang yang berusia di atas 70 tahun di Desa Gamici.
"Bahasa Ibu termasuk bahasa yang sangat kritis. Anak cucu para penutur bahasa ini menggunakan bahasa Ternate. Ini berarti upaya pembinaan untuk mempertahankan bahasa daerah itu tidak berhasil," tulis Prof Kisyani-Laksono.
Bagaimana dengan bahasa Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur? Prof Kisyani tak sempat menyinggung sama sekali.
Tapi, menurut saya, yang berasal dari kebudayaan Lamaholot, bahasa mayoritas di Flores Timur pun sudah lama terancam keberadaannya. Jumlah penutur terus berkurang. Dan tren ini berjalan terus jika tidak segera disadari oleh pemerintah daerah setempat: Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Pemerintah Kabupaten Lembata.
Mengapa bahasa Lamaholot--juga sembilan bahasa ibu lain di Pulau Flores--terancam musnah?
1. TIDAK ADA BUDAYA TULIS.
Orang Lamaholot [Flores Timur dan Lembata] 100 persen hidup dalam budaya lisan. Nenek moyang kami tidak bisa menulis. Buta huruf. Tidak punya aksara. Maka, budaya ngomong, KODA KIRING, sangat terasa di Flores Timur. Orang suka menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, untuk KODA KIRING. Membahas belis perempuan, berapa banyak gading, ukuran gading, dan sebagainya menjelang pernikahan.
Di Jawa, meski bahasanya pun terancam, budaya tulis sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Aksara Jawa, HANACARAKA, ada. Siapa pun bisa mempelajari meski tidak gampang. Di Flores, sekali lagi, budaya tulis ini 0,00 persen.
2. GENGSI LAMAHOLOT RENDAH.
Bahasa Lamaholot justru sengaja DIHINDARI orang-orang Lamaholot sendiri karena dirasa sebagai bahasanya orang kampung. Makin sering engkau berbahasa Lamaholot, engkau dianggap orang yang tidak maju dari dusun. Bukan bahasa orang kota.
Karena itu, orang-orang yang satu kampung dengan saya di Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Lembata, biasanya tidak mau bercakap Lamaholot ketika sudah kerja dan tinggal di Lewoleba, Larantuka, Kupang, Denpasar, dan sebagainya. "Koda kang lohumen loka. Go luparo kae," kata teman saya sesama orang kampung.
Artinya: "Saya tidak bicara lagi dalam bahasa Lamaholot. Saya sudah lupa."
Lewoleba itu ibu kota Kabupaten Lembata yang berbatasan langsung dengan kecamatan saya, Ile Ape. Jarak dari desa saya hanya 25 kilometer. Tapi begitu teman-teman saya sekolah di Lewoleba, kemudian kerja, kemudian tinggal di Lewoleba, seketika itu juga dia stop berbahasa Lamaholot.
"Kita so lupa le. Engko jangan bicara bahasa daerah ka," kata teman saya yang sombongnya minta ampun. Malu, rendah diri, kurang keren kalau berbicara dalam bahasa daerah.
3. PEJABAT ENGGAN BERBAHASA LAMAHOLOT.
Kalau orang biasa sekelas sopir, tukang becak, penjaga toko, pegawai negeri, guru, nelayan, tukang kayu... saja "lupa" bahasa daerah [dalam hitungan bulan lho], bagaimana pula dengan pejabatnya? Sangat parah.
Pejabat-pejabat Flores Timur atau Lembata, juga pegawai-pegawainya tidak pernah berbahasa Lamaholot. Sehari-hari mereka berbahasa Nagi, sejenis bahasa Melayu khas Larantuka. Dengan berbahasa Nagi (apalagi bahasa Melayu Kupang), maka status sosialnya lebih tinggi. Bahasa Lamaholot, sekali lagi, dianggap kampungan.
Inilah bedanya dengan di Jawa. Pejabat-pejabat entah itu menteri, gubernur, bahkan presiden macam Pak Harto, Megawati, atau Susilo Bambang Yudhoyono selalu berbahasa Jawa ketika berkunjung ke desa-desa. Juga senang dihibur dengan musik atau kesenian Jawa.
Di Surabaya, belum lama ini pemerintah kota memerintahkan sekolah-sekolah mengadakan Hari Bahasa Jawa satu kali seminggu. Para siswa dan guru pada hari itu harus berbahasa Jawa, menggeluti kesenian dan budaya Jawa.
4. TIDAK ADA PELAJARAN BAHASA DAERAH.
Kalau pejabatnya saja malas berbahasa ibu, bagaimana mau memikirkan pelajaran bahasa daerah? Di Jawa pelajaran bahasa Jawa masih ada di sekolah dasar, bahkan hingga sekolah menengah pertama. Ada buku-buku pelajaran bahasa Jawa yang sangat banyak.
Ada fakultas atau jurusan bahasa Jawa. Ada sekolah menengah kejuruan bahasa Jawa. Banyak sekali sanggar, padepokan, dan kantong-kantong konservasi budaya Jawa di kota-kota Pulau Jawa. Jadi, kalaupun anak-anak muda sekarang kurang fasih berbahasa Jawa, masih ada konservatori bahasa dan budaya Jawa.
Berbeda dengan bahasa Jawa yang pakem dan langgamnya nyaris seragam, bahasa Lamaholot banyak variasinya. Nah, kalau mau diajarkan pakai versi mana? Adonara Timur? Adonara Barat? Lamahala? Solor Timur? Solor Barat? Flores Timur Daratan? Ile Ape? Lamalera? Lebala? Kalikasa? Puor? Boto? Waiteba?
Sampai sekarang belum ada linguis atau ahli bahasa yang mempelajarinya. Sebab, pemerintah daerah memang cenderung antibahasa daerah.
5. TIDAK ADA MEDIA BERBAHASA DAERAH.
Di Jawa, bahkan di Jakarta yang Betawi, banyak sekali radio swasta yang menyiarkan program bahasa Jawa. Musik Jawa, campursari, langgam, lawak, kidungan, kentrung, ketoprak, wayang kulit, serta ratusan kesenian Jawa lainnya. Di Flores tidak ada. Nol besar.
Media cetak tambah tidak ada. Sebab, itu tadi, orang Flores tidak punya budaya tulis. Hanya budaya lisan. Tanpa dokumentasi tertulis, pelestarian bahasa sulit dilakukan. Sejumlah peneliti seperti Gorys Keraf, Inyo Fernandes, Thres Kumanireng sudah pernah meneliti bahasa Lamaholot. Tapi belum ada pedoman atau katakanlah tata bahasa Lamaholot yang bisa dipelajari secara ilmiah.
6. TIDAK ADA PENULIS BAHASA DAERAH.
Ada kaitan dengan nomor 5. Di lingkungan Jawa, Sunda, Bali, misalnya, banyak sekali penulis yang menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa, Sunda, Bali. Pak Suparto Brata di Surabaya, begawan sastra Jawa, setiap hari menulis artikel, cerita, kolom... dalam bahasa Jawa. Bahkan, karya Pak Suparto bisa diakses dengan mudah di internet.
Di Flores Timur mana ada? Alih-alih menulis dalam bahasa Lamaholot, berbicara saja sungkan, LUPA, malu. Hehehe...
7. TAK ADA REGENERASI PEMANGKU ADAT.
Bahasa lamaholot kelas tinggi lazimnya hanya dikuasai tua-tua adat. Sebagian besar sudah meninggal dunia. Generasi muda yang sekolah atau merantau di kota besar, khususnya Malaysia, praktis sudah jauh dari akar budayanya. Ini membuat kemampuan KODA KIRING, sastra Lamaholot tidak jalan.
Ditambah ketiadaan minat, ketiadaan dukungan pemerintah, komplet sudah. Bahasa Lamaholot jelas masuk daftar salah satu bahasa daerah yang terancam PUNAH.
Belum lama ini saya menerima e-mail dari seseorang yang mengaku berasal dari Ile Ape, satu kecamatan dengan saya. Dia kerja di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Tadinya saya mengira dia menulis dalam bahasa Lamaholot, bahasa Nagi, atau setidaknya bahasa Indonesia lah. Eh, ternyata BAHASA INGGRIS.
Saya geleng-geleng kepala. Hebaaat!
Bagaimana mungkin saya, yang tinggal di Jawa Timur, yang tiap hari berbahasa Jawa dan Indonesia, diminta melestarikan bahasa Lamaholot, sementara teman-teman di LEWOTANAH (tanah Lamaholot) tidak mau berbahasa Lamaholot?