02 December 2009

Victor Nasution dan The Gembell's



Sejak dulu Surabaya kerap menghasilkan band-band atau penyanyi yang karya dikenang orang dari masa ke masa. Selain Gombloh dengan Lemon's Tree, ada juga Dara Puspita dan The Gembell's. Lagu-lagu Gembell's, kependekan dari Gemar Belajar, sarat dengan nuansa kepahlawanan serta potret kehidupan Kota Surabaya pada zamannya.

Belum lama ini Gembell's, yang dimotori Victor Nasution, didaulat untuk tampil kembali di depan penggemar lamanya di Balai Pemuda Surabaya. "Saya nggak nyangka kalau sampai sekarang penggemar kami masih ada. Sebab, Gembell's itu vakum selama bertahun-tahun," ujar Victor Nasution kepada saya.



Oleh LAMBERTUS HUREK


Anda tampaknya masih kuat dan menyanyikan begitu banyak lagu hit The Gembell's?

Waduh, faktor usia memang tidak bisa dibohongi. Di mana-mana orang sering bilang saya ini kelihatan segar, awet muda, kuat, dan sebagainya. Padahal, sekarang usia saya sudah 65 tahun. Jadi, organ-organ tubuh yang di bagian dalam ini jelas sudah tidak sekuat dulu.

Istri saya sempat khawatir ketika saya mau manggung di Surabaya ini. Apa saya masih kuat? Makanya, menjelang manggung, istri saya datang untuk melihat langsung kondisi saya. Syukurlah, saya masih bisa menyanyi dan main musik di depan publik Surabaya yang memang selama betahun-tahun mendukung saya dan Gembell's.

Nada dasar lagu masih sama atau diturunkan sedikit?

Saya minta diturunkan satulah. Kalau menyanyi dengan tone seperti di kaset-kaset zaman dulu, ya, sudah nggak kuat. Apalagi, sehari-hari saya tidak pernah menyanyi. Saya sering diminta orang menyanyi di acara-acara tertentu kayak di kafe atau pertemuan-pertemuan tertentu. Tapi saya tidak pernah mau. Menyanyi itu kan pekerjaan saya, dulu. Dan terlalu sering menyanyi itu bikin bosan. Maka, lebih baik yang nyanyi di karaoke, organ tunggal, sebaiknya mereka-mereka yang senang nyanyi, tapi bukan musisi.

Apa saja kegiatan Anda setelah Gembell's vakum?

Saya kembali ke Bogor sejak 1988. Orang tua saya itu, meskipun dari Tapanuli, Sumatera Utara, tapi sejak 1954 menetap di Bogor. Di sana saya menekuni pekerjaan-pekerjaan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan musik. Dulu, setelah Gembell's tidak rekaman dan manggung lagi, saya pernah membuat studio rekaman. Tapi bisnis itu tutup karena terjadi perubahan sistem rekaman digital yang sangat cepat.

Sistem industri musik sekarang berbeda jauh dengan era sebelum tahun 2000. Kita keteteran kalau harus mengikuti revolusi yang luar biasa itu. Sudah banyak sekali perusahaan rekaman yang tutup. Jadi, saya mencoba menjalani hidup di dunia yang lain, dunia yang bukan musik. Sejak dulu saya punya prinsip: selama kita berusaha, maka Tuhan pasti akan memberikan rezeki. Itu yang membuat saya bisa bertahan sampai sekarang.

Setelah tinggal selama 21 tahun di Bogor, bagaimana Anda menilai Kota Surabaya sekarang?

Kemajuan fisiknya luar biasa. Saya sendiri sampai pangling dengan kota yang pernah saya tinggali selama bertahun-tahun. Kalau kawasan lama seperti Bubutan, Jembatan Merah, Tanjung Perak, Gubeng, Darmo, Wonokromo, saya masih hafal dengan baik. Tapi kalau kawasan baru seperti di Surabaya Barat, saya benar-benar buta. Saya pasti kesasar kalau jalan sendirian.

Tapi Anda masih mengikuti informasi tentang Surabaya?

Pasti. Saya masih terus berkomunikasi dengan teman-teman sesama musisi, kerabat, maupun relasi di Surabaya. Saya juga selalu menyempatkan diri datang ke Surabaya karena ada keluarga saya di Panjangjiwo.

Kalau saya jalan di tempat umum atau di lobi hotel macam ini, sudah jarang orang yang mengenal saya sebagai musisi dari Gembell's. Itu membuat saya lebih mudah mengamati perilaku masyarakat dan perkembangan Surabaya. Beda sekali dengan sebelum tahun 1980-an, ke mana-mana kami dikerubuti penggemar. Sekarang saya merasa lebih punya privasi dan bebas ke mana-mana.

Lagu 'Peristiwa Kaki Lima' yang Anda tulis itu faktual?

Faktual memang. Itu peristiwa nyata yang terjadi di kawasan Jalan Raya Gubeng tahun 1978. Pedagang kaki lima (PKL) ditertibkan oleh aparat keamanan, semacam Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang sekarang. Karena operasi penertibannya berlebihan, terjadi ekses yang tidak baik. Saya hanya mengangkat realitas yang terjadi di masyarakat menjadi syair lagu.

Pemda KMS (Kotamadya Surabaya) waktu itu merasa tersinggung dan kemudian meminta radio-radio agar tidak memutar lagu itu. Ingat, zaman itu pemerintah memang sangat kuat dan bisa melakukan apa saja. Termasuk melarang lagu-lagu di radio. Ini sangat memukul para musisi karena dulu radio merupakan tempat promosi lagu-lagu baru.

Nah, saya dengar-dengar bahwa apa yang dialami PKL tahun 1978 masih terjadi juga pada zaman sekarang? Kok nggak mau belajar dari peristiwa-peristiwa lalu. Itulah pentingnya kita belajar dari sejarah. Kalau kebetulan konser di depan pejabat, saya sering menyinggung kasus PKL itu. Hehehe.....

Mengapa band-band sekarang jarang membuat lagu tentang kritik sosial?

Industri musik sekarang sudah jauh berbeda. Orientasi label-label rekaman yang ada lebih ke komersial. Bagaimana membuat album yang cepat laku di pasar dan ngetop dalam waktu singkat. Akibatnya, ya, kita sulit menemukan lagu-lagu yang bisa bertahan lama dan selalu dikenang oleh masyarakat.

Tapi itu juga sekaligus tantangan bagi para musisi muda di tanah air untuk menghasilkan karya-karya yang berbobot. Saya tahu persis skill bermusik anak-anak muda luar biasa. Bahkan, saya sering mengajak anak-anak muda untuk membantu saya membuat rekaman. Jadi, sebenarnya potensi untuk membuat karya-karya musik yang bermutu tidak perlu diragukan.

Apakah ada anak Anda yang terjun ke dunia musik?

Tidak ada. Anak saya yang tiga orang itu tidak satu pun jadi pemusik. Namun, mereka bisa menjadi pemain musik yang baik. Yang jelas, hidup sebagai pemusik pada era saya itu sangat berat. Belum bisa dijadikan andalan untuk menghidupi keluarga secara langgeng. Lain dengan band-band dan penyanyi-penyanyi sekarang. Kehidupan mereka jauh lebih baik, bahkan sangat mewah. Yah, zaman memang selalu berubah dan mempunyai tantangan tersendiri.




Kritik Dokter, Diinterogasi Pengurus IDI

Sebagai pemimpin The Gembell's, Victor Nasution berperan sebagai motor sekaligus penulis sebagian besar lagu grup musik legendaris asal Surabaya ini. Pada awal 1970-an, seperti juga sekarang, band-band terkenal seperti Koes Plus, Panber's, De Lloyd, atau The Mercy's merilis lagu-lagu cinta.


Namanya juga band baru, Gembell's ingin menawarkan sesuatu yang segar. "Kita ingin membuat sesuatu yang lain. Mengangkat hal-hal konkret di lingkungan tempat tinggal kita di Surabaya," cerita Victor Nasution.

Maka, lahirlah lagu-lagu seperti Pahlawan yang Dilupakan, Balada Kalimas, Surapati Wiranegara, atau Singosari. Tak dinyana, album kedua yang berisi nomor Balada Kalimas meledak alias laku keras. Sejak itulah nama Gembell's mulai diperhitungkan di blantika musik nasional sebagai band pertama yang mengangkat tema kepahlawanan.

"Almarhum Gombloh itu belakangan. Dia malah mengikuti jejak Gembell's dengan lagu-lagu kepahlawanan serta kritik sosial," ujar pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, 4 Okober 1944, ini.

Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga, yang dekat dengan para aktivis organisasi kemahasiswaan, Victor pun terlatih dalam memotret berbagai kejadian di masyarakat. Termasuk berbagai hal yang dianggapnya menyimpang dan berlawanan dengan akal sehat. Semua itu dijadikan bahan untuk menulis lagu.

Salah satu lagu yang paling berkesan sepanjang hayat Victor adalah Hey Dokter. Lagu ini bertutur tentang (oknum) dokter yang tidak serius menangani pasiennya. Pasien bukannya dirawat dengan hati, tapi dijadikan objek untuk mencari uang. Simak saja syairnya:

"Sosok tubuh pucat terkapar di terasmu
Kau menampakkan dirimu, namun acuh berlalu
Kau melanggar sumpahmu di hari sarjanamu."

Beberapa saat setelah album itu beredar di pasaran, Victor Nasution dipanggil pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Victor diinterogasi layaknya di kantor polisi. "Saya tenang-tenang saja. Saya jelaskan bahwa apa yang saya tulis di lagu itu sering dikeluhkan masyarakat. Saya tidak menggeneralisasi bahwa semua dokter seperti itu," katanya.

Dokter maupun pengurus IDI, pada 1970-an, boleh marah. Tapi, yang jelas, masyarakat semakin menggemari lagu-lagu The Gembell's. Namun, dalam perkembangannya, grup ini mengalami beberapa kali pergantian personel karena berbagai alasan.

Di sisi lain Rhoma Irama, yang muncul dengan Sonata Group, membuat band-band pop mengalami stagnasi. "Banyak band yang ikut-ikutan bikin musik melayu, tapi tidak bermutu," katanya.

Gembell's sendiri tidak pernah bubar meski tak pernah lagi merilis album maupun tampil di depan publik. Victor malah sedang berusaha merekam lagu-lagu band yang pernah membesarkan namanya dan nama Surabaya ke pentas nasional itu.

"CD-nya sekarang sedang produksi. Sebab, ternyata masih banyak penggemar Gembell's yang mencari album-album lama kami, tapi tidak ketemu," pungkasnya. (*)




VICTOR NASUTION

Nama lengkap : Dohar Victor Maruli Nasution Gelar Mangaraja Sri Daulat
Lahir : Tarutung, Sumatera Utara, 4 Oktober 1944
Istri : Dede Rosediana Suryacandra
Anak : 3 orang, cucu 1 orang
Profesi : Pemusik, vokalis Gembell's
Hobi : mengoleksi batu hias, berkebun
Alamat : Jalan Ahmad Yani 68 Bogor 16161

Pendidikan:
SD Budi Mulia Bogor
SMP Budi Mulia Bogor
SMA St Louis Surabaya
Universitas Airlangga (Fakultas Hukum)

Moto : Selama kita berusaha, rezeki pasti ada.
Penghargaan: Wali Kota Surabaya



DISKOGRAFI THE GEMBELL'S

- Pahlawan yang Dilupakan, 1972
- Balada Kalimas
- Hey Dokter
- Surapati Wiranegara
- Singosari
- Pemuda Sesat
- Peristiwa Kaki Lima
- Janger Bali
- Kobarkan Semangatmu

3 comments:

  1. ANGKAT 10 JARI UNTUK The Gembell’s ,YANG REALITA MENGANGKAT TEMA LAGU TENTANG PAHLAWAN DAN KRITIK SOSIALNYA.SEMOGA PARA PEMUDA SEKARANG ADA YANG MENIRU MUSISI SENIOR YG MENGANGKAT TEMA "HERO"

    ReplyDelete
  2. semoga tetep sehat cak ...salam buat semuanya..

    ReplyDelete
  3. Sekitar tahun 1975-1980 banyak anak-anak muda di Medan yang hapal dan menyanyikan lagu-lagu the Gembell's, terutama Balada Kalimas dan Pahlawan yang dilupakan. Lagu ini sungguh indah merdu dan syarat pesan kesejarahan, dan enak dinyanyikan dengan petikan gitar.

    ReplyDelete