09 December 2009

Ucok AKA dan Wanita



Ucok AKA Harahap dikenal sebagai pencinta wanita. Hingga akhir hidupnya, Kamis (3/12/2009), Ucok menikah sembilan kali dan dianugerahi delapan anak dan 14 cucu.

Oleh LAMBERTUS HUREK



SEBELUM jasad Ucok AKA Harahap dimasukkan ke liang lahat, kemarin, Sri Hartini angkat bicara sebagai wakil keluarga almarhum. Dengan suara terisak, Sri berterima kasih atas kesediaan ratusan pelayat mengantar Ucok ke tempat peristirahatan terakhir.

"Saya, istri almarhum Andalas, juga mohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan almarhum semasa hidupnya," kata Sri Hartini.

Notaris yang tinggal di kawasan Menanggal ini merupakan wanita kesembilan dalam hidup Ucok. Sri-lah yang setia menemani Ucok pada saat-saat kritis hingga meninggal dunia. Sri sendiri baru dinikahi pada 14 Mei 2009. Dus, usia pernikahan mereka belum sampai enam bulan.

Sebelum tinggal seatap dengan Sri Hartini, Ucok pernah menikah siri dengan Endang Titiek Rachmawati di kawasan Gunung Klotok, Kediri. Karena dianggap kumpul kebo, warga setempat pernah menggerebek pasangan Endang dan Ucok. "Waktu itu kami memang nikah siri. Secara agama sah, tapi belum diurus ke KUA," kata Endang.

Perempuan asli Kediri ini menambahkan, dia dan Ucok pernah berencana meresmikan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) pada 7 Juli 2007. Tanggal istimewa. Namun, ketika tinggal di Surabaya, Ucok 'dibelokan' ke pangkuan wanita lain. Makin lama makin lengket, sehingga Endang pun terlempar dari pusaran cinta Ucok. Beberapa saat kemudian Endang terkaget-kaget karena Ucok sudah menjadi milik Raden Ayu Sri Hartini.

"Saya ini manusia biasa yang punya perasaan. Kok semuanya bisa begini?" ujar Endang dengan nada tinggi. Meski punya ganjalan di hati, kemarin Endang tetap datang memberikan penghormatan terakhir kepada Ucok. "Bagaimanapun juga Bang Ucok pernah menjadi bagian dalam hidup saya," katanya.

Mengapa Ucok AKA begitu mudah jatuh dalam pelukan wanita meski sudah punya istri dan anak? Rupanya, kebiasaan ini bisa dilacak ketika popularitasnya sedang melambung pada era 1970-an dan 1980-an.

"Aku mulai dikerubungi wanita. Kaum perempuan dari berbagai usia itu selalu memburuku setiap kali usai tampil. Yang membuat aku ketar-ketir, para wanita yang mendatangiku tidak terbatas pada wanita single saja. Banyak yang masih berstatus istri orang, ibu rumah tangga, janda muda maupun perawan kasep," tutur Ucok.

Di antara ratusan wanita itu, salah satu penggemar berusia lebih dari 60 tahun. Wanita sepuh itu mengiba-iba minta dinikahi. "Gila nggak? Aku jadi tersenyum geli jika mengingat hal itu," kenangnya.

Apa yang dilakukan para wanita jika sudah bertemu dengannya?

Ucok pun bicara blak-blakan. "Mereka itu tidak saja mencium dan memelukku, tetapi lebih dari itu. Tidak sedikit wanita yang secara sukarela menyerahkan dirinya kepadaku. Wah, bulu kudukku sampai merinding," katanya.

Melihat Ucok selalu dirubung wanita-wanita cantik, tiga personel AKA yang lain (Arthur Kaunang, Soenata Tanjung, Sjech Abidin) hanya bisa geleng-gelegn kepala. "Rupanya, saya ini punya sensualitas dan jadi ikon laki-laki waktu itu," katanya.

Salah satu wanita yang berhasil memikat hati Ucok adalah Nur Aini Latjeno alias Nani. Gadis berdarah Manado ini kebetulan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah keluarga Ucok. Melihat Ucok hebat bermain musik, keluarga Latjeno meminta Ucok menjadi guru les piano Nani.

Seringnya bertemu akhirnya lupa daratan. Ayah Ucok, Ismail Harahap, marah besar. Ucok diminta menikahi Nani secara resmi pada 1968. "Kalau tidak salah ingat, kami resmi menikah di rumah Nani di Lawang. Jangan ditanya apakah aku mencintai Nani atau tidak. Aku dan Nani akhirnya benar-benar menjadi suami-istri yang sah.

Saat menikahi Nani, ibunda Ucok tengah berada di Belanda ke tempat kakak kembarannya, sekaligus menengok tiga anak kandungnya. Kedua orang tua Ucok memang kerap mondar-mandir Surabaya-Belanda secara bergantian.

"Nah, ketika mendengar aku resmi menikahi Nani, Mami marah luar biasa hingga kepulangannya ke Indonesia dipercepat. Sesampai di Surabaya, Mami tidak langsung ke rumah, melainkan ke apotek. Saking emosinya, Mami sempat melempar kursi ke arah Papiku. Untungnya tidak kena. Aku jadi takut. Benar-benar takut."

Awalnya, Ucok tidak tahu mengapa mamanya tidak merestui pernikahan yang sudah terjadi. Namun, dari pertengkaran itu, akhirnya ketahuan kalau Nani ternyata keluarga dekat dari pihak ibunya.

"Mami kemudian mengurung diri di kamar tidur. Makan dikirim, begitu juga minum dan keperluan lain. Tampaknya Mami sangat kecewa dengan ulahku," kata Ucok suatu ketika.




KE-9 dan KE-8: Sri dan Endang, istri dan mantan istri Ucok, menambur bunga di pusara Ucok.

Semasa jaya, almarhum Ucok dikelilingi begitu banyak wanita cantik. Namun, hanya satu yang benar-benar menjadi belahan jiwanya. Dialah Farida Yasmin, anak jenderal yang pernah menjadi aktris top tahun 1970-an.


PERNIKAHAN pertama Ucok AKA Harahap dengan Nur Aini Latjeno alias Nani, tetangga yang juga masih tergolong kerabatnya, membuahkan empat anak. Tahun itu juga, 1968, lahir putra pertama Ucok yang dinamai Iskandar Muda Iswanda. Berikutnya, berturut-turut lahir tiga anak: Mohammad Mirza Iswar (1969), Sutan Mahayudin (1970), dan Amelia Sila Rosa (1971).

Di usia 30-an awal itu, Ucok makin gila main musik. Baik Nani maupun empat anak yang masih kecil-kecil praktis tidak diperhatikan. Hari-hari Ucok dihabiskan di studio. "Pagi, siang, malam, saya habiskan di studio musikku di Surabaya. Ke rumah Nani di Lawang hanya sebatas mengambil baju atau barang lainnya," cerita Andalus Datoe Oloan Harahap, nama asli Ucok AKA Harahap, suatu ketika.

Mudah ditebak, rumah tangga Ucok dan Nani pun goyang. Apalagi, menurut Ucok, keduanya punya perbedaan yang sangat prinsip. Sulit ketemu. Nani menginginkan suaminya punya pekerjaan tetap, orang kantoran, sementara Ucok adalah seniman yang sedang tergila-gila dengan musik.

"Yah, terpaksa aku tinggalkan empat anak dan istriku demi musik. Aku lebih memilih AKA daripada keluargaku," tegasnya.

Semakin menjauh dari Nani, karir musik Ucok memang melambung pesat. AKA Group yang sempat gonta-ganti personel akhirnya menemukan karakter setelah Arthur Kaunang bergabung. Arthur yang semula hanya piawai bermain piano dan keyboards dipaksa Ucok untuk berlatih gitar bas. "Jadi, saya yang ajar Arthur main gitar dan bas," katanya.

Grup AKA (singkatan dari Apotek Kaliasin, nama apotek milik Ismail Harahap, ayah Ucok) kian berkibar setelah meluncurkan album Reflections pada 1971, kemudian Crazy Joe (1972), Sky Rider (1973), Cruel Side of Suez War (1974), Shake (1975), Mr Bulldog (1976), Pucukku Mati (1977), BAdai Bulan Desember (1978), AKA Pop Melayu, AKA Pop Jawa, dan AKA Kasidah.

Album Crazy Joe dan Badai Bulan Desember mendapat respons paling hebat. Album ketiga dan album kesembilan itu meledak di pasaran. Angka penjualannya mencapai satu juta kaset. Angka penjualan semacam itu, apalagi jenis rock, dipastikan sulit diulangi grup musik zaman sekarang.

Selain dikerubuti perempuan-perempuan cantik, pada 1973 AKA ditanggap oleh seorang pejabat bea cukai berpangkat brigadir jenderal TNI, Pak Alex, di rumah dinasnya, Jalan Diponegoro Surabaya. Ucok sendiri sebetulnya tidak suka main di rumah loji.

Baginya, grup musik cadas dengan aksi teatrikal dan nyentrik macam AKA harus main di stadion atau lapangan terbuka. Namun, karena berkali-kali diminta Pak Jenderal, akhirnya Ucok bersama AKA-nya mau main juga.

Pejabat bea cukai itu punya enam anak. Empat perempuan dan dua lelaki. Mereka adalah si sulung Farida, Yoyong, Debby, Sandra, Ninis, dan Ipung. Anak-anak Pak Jenderal ternyata sangat gandrung musik cadas ala AKA, terutama gaya panggung Ucok yang nyeleneh. Mereka bahkan hafal lagu-lagu AKA.

Konser di rumah jenderal ini tak pernah dilupakan Ucok. Bahkan, beberapa bulan sebelum meninggalnya, dia masih ingat semua detil cerita. Maklum, di sinilah dia berkenalan dengan Yasmin Juniarti Farida alias Farida yang kemudian mewarnai perjalanan hidupnya. Farida, yang juga guru karate di Batalyon 513, ini didekati Ucok perlahan-lahan melalui berbagai trik. Akhirnya, putri Brigjen Alex yang masih polos itu jatuh dalam pelukan Ucok.

"Cinta membutakan mata kami berdua. Farida tak peduli lagi meskipun aku telah beranak dan beristri. Kami lantas seperti tak bisa dipisahkan lagi. Besarnya cinta inilah yang menjadikan aku lupa daratan," paparnya.

Gara-gara cinta setengah mati pada Farida, Ucok mulai menduakan AKA. Grup musik yang sudah besar, mapan, dan dikenal luas di tanah air. Berkali-kali Ucok mangkir dari rekaman yang sudah ditandatangani kontraknya. Ucok, sang vokalis dan pemain keyboard, tak mau tahu nasib AKA. "Yang ada di otakku waktu itu hanya Farida, Farida, dan Farida," paparnya.

Cinta back street Ucok dan Farida mendapat tentangan keras dari keluarga Alex. Sang jenderal tak ingin punya mantu seniman musik yang masa depannya tidak jelas. Farida pun dilarang keluar rumah loji di Jl Diponegoro. Setiap gerak-geriknya dibatasi. "Dia tidak boleh keluar rumah, apalagi sampai menemuiku."

Meski demikian, Ucok tetap nekat mengunjungi rumah Farida. Alasannya macam-macam. Bertemu adiknya, menyampaikan titipan, atau alasan-alasan lain yang direkayasa. Sampai akhirnya Ucok dilarang berkunjung ke rumah sang jenderal.

Namanya juga anak muda, larangan ini tak membuat Ucok-Farida kehilangan akal. Farida kerap lari dari rumah hanya sekadar bertemu dengan arjunanya. Bahkan, menurut Ucok, Farida pernah nekat lompat dari jendela kamarnya hanya agar bisa menemui Ucok di sebuah tempat.



FARIDA SEGALANYA: Lia, putri Farida-Ucok, mengunjungi Ucok saat dirawat di RS Darmo Surabaya.

Dari sekian banyak wanita yang pernah mendampinginya, bagi Ucok AKA Harahap (almarhum), Yasmin Juniarti Farida adalah segalanya. Putri mantan jenderal Orde Baru ini mendampingi Ucok dalam suka dan duka hingga mencapai puncak popularitas.

HUBUNGAN asmara antara Ucok AKA Harahap dan Yasmin Juniarti Farida ditolak keras keluarga Brigjen Alex, kepala bea cukai di Surabaya, pada era 70-an. Maklum, Farida masih gadis 20 tahun, sementara Ucok yang berusia 31 tahun masih terikat pernikahan dengan Nur Aini Latjeno alias Nani di Lawang.

Orangtua Ucok, yang sebelumnya kecewa dengan ulah nekat Ucok menikahi Nani, kerabat mereka sendiri, tak ingin dibuat kecewa kembali. Maka, diam-diam, kedua sejoli ini sepakat kabur dari rumah di Surabaya. Ucok yakin nama besar sebagai vokalis dan leader AKA Group bisa membuatnya survive di Jakarta.

"Cinta itu tak pernah kenal logika. Dengan mobil Suzuki Frontee keluaran 1974, aku dan Farida berkelana dari kota ke kota. Selama tiga hari tiga malam, kami menikmati hidup berdua kayak cerita sinetron remaja sekarang," tutur Ucok beberapa waktu lalu.

Lama-kelamaan uang mereka habis. Apa boleh buat, mobil milik ayahnya, Ismail Harahap, itu dijual untuk membayar sewa losmen di Jakarta. Harganya Rp 20 juta. Hanya bertahan 14 bulan, uang hasil penjualan mobil itu pun ludes. Maka, mulailah Ucok dan Farida hidup menggelandang selama tujuh bulan di Stasiun Gambir, gerbong kosong, hingga gudang mangkrak.

Sementara koran-koran ramai memberitakan kasus "Ucok AKA melarikan anak jenderal". "Aku benar-benar merasakan besarnya cinta Farida. Saking besar cintanya, hingga Farida rela hidup sengsara. Terpisah dari orang tua. Terpisah dari keluarga dan terpisah dari kenikmatan yang seharusnya dinikmati sebagai anak pejabat Orde Baru. Farida juga tidak menuntut macam-macam. Kami hanya menikah modin alias siri," tutur Ucok.

Pada pengujung 1974, Ucok bertemu dengan rombongan artis yang baru saja turun dari kereta api Bandung-Jakarta di Gambir. Salah satunya Ali Shahab, sutradara terkenal saat itu.

"Ucok AKA? Apa kabar kau? Ngapain di stasiun?" sapa Ali sambil menjabat erat tangan Ucok. "Aku lagi nunggu kereta ke Jawa, Bang," jawabnya berpura-pura.

Ali Shahab kaget melihat Farida, istri Ucok, yang berparas ayu. Tipe perempuan berwajah Indo yang ramai mengisi film nasional era 70-an. Singkat cerita, Ali kemudian mengajak Farida main film.
Sejak itulah Farida, anak jenderal dan guru karate di Surabaya itu, mulai memasuki dunia film. Bermula dari film Ciuman Beracun, nama Farida Yasmin melambung sebagai bintang film yang diperhitungkan. Setelah itu Farida tampil di film-film berjudul bombastis seperti Lonceng Maut dan Ranjang Siang Ranjang Malam.

Sementara itu, Ucok yang kribo dan berwajah sangar ditawari peran antagonis oleh Ali Shahab. Jika Farida sebagai pemain utamanya diberi honor pertama Rp 500 ribu, Ucok yang hanya kebagian peran pembantu dibayar Rp 700 ribu. Jumlah yang sangat besar pada era 70-an. Sejak itulah Ucok dan Farida bisa mengontrak rumah di Kebayoran Baru. Biaya kontrak 'hanya' Rp 150 ribu per tahun.

Di rumah itu, Sutan Kharisma Harahap, buah cinta Ucok-Farida, lahir pada 22 Juli 1976. Anak ini dipanggil Richie karena Ucok sedang tergila-gila dengan Richie Blacmore, vokalis Deep Purple. Belum genap tujuh bulan dari kelahiran Richie, perut Farida kembali berisi.

Anak kedua Farida pun lahir dengan selamat. Ucok memberi nama Sutra Kharmelia Harahap. "Lia ini sangat cantik. Melihat wajah cantiknya, aku ingat akan mamaku di Surabaya."

Ketika masih menikmati kebahagiaan dengan lahirnya Richie dan Lia, dan sukses di film, tiba-tiba datang berita duka dari Lawang. Ibunda Ucok, Fransina Frederika Mahieu, meninggal dunia.
Tragisnya, wanita berdarah Prancis itu meninggal dunia dalam posisi duduk di kursi goyang. "Mami membaca koran terbitan 1978. Isinya, buronan Ucok AKA sembunyi di Stasiun Gambir. Mungkin beliau kaget putra yang dibanggakan ternyata seorang buronan," kenang Ucok.

Ketika Ucok AKA Harahap tengah menikmati kebahagiaan bersama Farida Yasmin dan dua anak mereka (Richie dan Lia) di Lawang, tiba-tiba datang keluarga Farida. Mereka meminta agar Farida dibawa ke rumah Brigjen Alex Ciptadi, ayah Farida, di Jakarta.

FIRASAT buruk Ucok akhirnya terbukti. Farida Yasmin, istri sirinya, yang diorbitkan menjadi bintang film sukses era 1970-an, tak pernah kembali. Hilang bak ditelan bumi. Ucok makin terpukul karena ayah kandungnya, Ismail Harahap, pemilik Apotek Kaliasin di Surabaya itu, pun meninggal dunia.

Berbagai usaha dilakukan untuk menemukan Farida, tapi hasilnya nol besar. "Aku benar-benar hancur. Tak ada lagi semangat hidup. Tak ada gairah untuk menatap hari esok. Yang ada hanya kedukaan, nestapa, dan entah apa lagi. Hidupku sudah tidak ada artinya apa-apa lagi," aku Ucok AKA seperti dikutip Siti Nasyiah dalam buku biografi Ucok yang akan segera terbit.

Suatu ketika aktor dan sutradara Ratno Timoer memberinya alamat dukun tua di pedalaman Kalimantan. Pemeran utama Si Buta dari Goa Hantu itu menyuruh Ucok menemui dukun tersebut. "Dia itu spesialis mencari orang-orang hilang," ucap Ratno.

Kemudian ada teman lain, namanya Hendra Cipta, menyarankan Ucok pergi ke daerah Banten. Di sana konon ada kiai yang bisa dimintai tolong berbagai macam keperluan. Ucok akhirnya memilih ke Banten dibanding Kalimantan.

Oleh kiai di Banten, Ucok diminta melakukan ritual jalan kaki dari Banten hingga Banyuwangi. Ini agar bisa bertemu dengan Farida serta dua anaknya. Bayangkan, betapa jauh jarak yang harus ditempuh dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa itu. "Aku juga tidak diperbolehkan naik kendaraan apa pun," kenangnya.

Sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Grogol, Ucok semakin hancur begitu mendengar kabar Yasmin Yuniarti Farida, istrinya, kawin lagi dengan pengusaha kaya. Karena jalan normal sudah tak efektif, dia menjalankan tirakat menyendiri di makam Sunan Gunung Jati. Di situ dia mengaku didatangi wanita cantik yang mirip Farida.

Si gadis belia itu memperkenalkan diri sebagai Imlah. "Aku pikir ini hanya mimpi atau khayalan. Eh, nggak tahunya aku benar-benar bertemu dengan gadis itu," ujar Ucok suatu ketika. Perkenalan dengan Imlah berlangsung pada 3 Februari 1984. Gadis itu ternyata anak Kiai Zakaria Satria dari Cirebon.

Tidak lama setelah perkenalan ajaib itu, Ucok melamar dan menikahi Imlah di depan orang tuanya secara resmi. Waktu itu Ucok berusia 44 tahun, sedangkan Imlah 29 tahun. Kiai Zakaria meminta Ucok bersama istrinya Imlah kembali ke pondok pesantren milik sang kiai. "Aku yang biasa hidup mengembara, jadi terarah di pesantren. Hidupku berada di tengah ratusan santri."

Sayang, masalah baru timbul ketika keduanya tinggal seatap. Pandangan dan gaya hidup mereka bertolak belakang. Imlah tidak suka dengan berbagai atribut rocker yang biasa dikenakan Ucok atau poster-poster musisi rock yang dipajang di kamar. Nah, semua atribut rocker itu diturunkan dan dibuang Imlah yang santri itu.

"Akhirnya, aku sadar kalau kami memang tidak bisa bersatu. Aku pamit baik-baik dan berpisah. Rumah tanggaku dengan Imlah hanya berjalan enam bulan saja," ujar Ucok.

Lepas dari lingkungan keluarga Kiai Zakaria, Ucok kembali menjadi rocker yang nyentrik. Hanya bedanya, Ucok yang sekarang telah dibekali ilmu agama dan terbiasa tirakatan. Tawaran show kembali datang meskipun AKA sudah bubar. Tiga rekannya di AKA--Sjech Abidin, Soenata Tanjung, dan Arthur Kaunang--sudah membentuk SAS Group yang ternyata sukses besar.

Maka, kali ini Ucok bekerja sama dengan promotor musik asal Bandung, Joe Jauhari. Ucok diperkenalkan dengan Sri Lea, gadis manis yang tak lain adik Joe Jauhari. Kebetulan Sri Lea ini juga pemain gitar. Ucok kemudian membentuk band baru bernama Passport. "Kami mendapat kontrak main di Malaysia," katanya.

Orang tua Sri Lea kelabakan lantaran anak gadisnya dibawa ke sejumlah kota di Malaysia untuk konser rock. Maka, Ucok yang berstatus 'duda' diminta segera menikahi Sri Lea di Bandung. "Yah, aku kemudian menikah resmi dengan Sri Lea tahun 1986," sambungnya.

Lagi-lagi, Ucok gagal membina rumah tangga. Pasangan suami-istri sesama musisi rock ini bertahan dua tahun. Mereka bercerai pada 1988. "Aku dan Sri Lea tidak ada kecocokan lagi," ucapnya enteng.



TURUN RANJANG: Liezty (kiri), mantan adik ipar Ucok, yang dinikahi Ucok selama 10 tahun. Intan Mutiara (kanan), anak Ucok.

Usai bercerai dengan Sri Lea di Bandung pada 1988, Ucok AKA Harahap melanjutkan petualangannya ke Jogjakarta. Dia mendapat job show di Rumah Makan Yashinoki selama tiga bulan bersama Sweet Opinion Group.

BIASANYA, setelah tampil rumah makan Jepang itu, Ucok Harahap (kini almarhum, Red) bersama teman-temannya bersantai di Malioboro. Ketika asyik menikmati nasi gudeg dan kopi tubruk, suatu ketika, seorang wanita cantik menggelayut manja di pundaknya. Rupanya, perempuan itu digoda oleh beberapa laki-laki iseng.

Si nona sengaja mendekati Ucok untuk mencari perlindungan. "Yang bikin aku kaget, dia memanggil aku dengan Papa. Habis ini kita ke mana, Pa?’’ kenang Ucok Harahap. "Ya, aku bilang, terserah Mama saja deh."

Diplomasi halus ala pendiri AKA Group ini memang efektif. Keduanya kemudian berkenalan di hotel. Wanita cantik itu kemudian diketahui bernama Lisa Widiarti, asal Semarang. Sebagai model alias peragawati, prestasi si rambut panjang ini seabrek. Di ataranya, Ratu Kebaya Semarang dan Ratu Kebaya Jogja.

Singkat cerita, Lisa pun dinikahi secara resmi. Sempat diperkenalkan pada ayahnya, Ismail Harahap, di Lawang, pasutri ini kemudian hidup bersama selama dua tahun. Kembali ke Jogja, Lisa aktif lagi di berbagai acara fashion show. Ucok sibuk bermusik, Lisa sibuk di atas catwalk.

Lama-kelamaan Ucok mendapat informasi miring bahwa istri barunya itu punya PIL, pria idaman lain. Menjadi simpanan pejabat mapan. Tak percaya begitu saja, diam-diam Ucok membuntuti si Ratu Kebaya itu.
"Astagfirullah, ternyata istriku lagi check-in di sebuah hotel dengan seorang pejabat dari Jakarta," tutur Ucok.

Sakit hati, Ucok akhirnya memutus hubungan pernikahan dengan Lisa dan balik ke Lawang untuk menemani ayahnya yang sakit keras. Sebelumnya, adik kandung Ucok bernama Abdurahman Harahap alias Maneke meninggal dunia. Liezty, istri Maneke, yang selama ini merawat ayahnya di usia senja pun menjadi janda.

Hubungan Listy dengan mertuanya, Ismail Harahap, ayah kandung Ucok dan Maneke (alm), sudah ibarat anak kandung saja. Karena itu, meski ditinggal mati suaminya, ayah Ucok meminta Liezty agar tidak pulang ke rumah orang tuanya di Jember. Boleh pulang sebentar, tapi setelah itu kembali lagi ke Lawang.

Melihat Ucok dan Liezty sama-sama sendiri, Ismail bolak-balik 'menitipkan' Liezty kepada Ucok. Awalnya, Ucok mengaku tidak paham maksud ayahnya. Nah, sebelum menghembuskan napas terakhir, 1994, Ismail meminta agar semua anaknya berkumpul di Lawang. Saat itulah Ismail Harahap secara resmi menikahkan Liezty dan Ucok.

‘’Ucok, wanita-wanitamu sangat banyak. Tapi, tolong, yang satu ini jaga dan rawat dia dengan baik karena dia wanita luar biasa,’’ ujar ayah Ucok, pemilik Apotek Kaliasin Surabaya yang terkenal pada era 1960-an dan 1970-an itu. Sejak itu, Liezty resmi menjadi istri Ucok AKA. Istilahnya, turun ranjang.

Ucok mengaku hubungannya dengan Liezty, yang juga mantan adik iparnya itu, ibarat kakak dan adik. Tak ada setrum cinta yang menggebu-gebu ala Yasmin Yuniarti Farida dulu. Meski begitu, bertepatan dengan perayaan Indonesia Emas, 1995, Liezty melahirkan anak Ucok. Namanya Emas Indonesia Putra.
Saat pemakaman almarhum Ucok AKA di Kebraon, Karangpilang, Surabaya, 3 November lalu, Liezty datang membawa serta Emas yang baru berusia 14 tahun.

Awalnya, teman-teman dekat maupun para wartawan musik mengira Liezty merupakan wanita spesial terakhir dalam hidup Ucok. Maklum, usia Ucok sudah mendekati 70 tahun dan hubungannya dengan Liezty sangat dekat. Mereka bahkan bisa hidup bersama selama 10 tahun lebih. Bandingkan dengan istri-istri sebelumnya yang hanya bertahan beberapa bulan.

Namun, Ucok tetaplah rocker sejati yang senang mengembara ke mana-mana. Ditinggalkannya kota Lawang yang sejuk dan pindah ke kaki Gunung Klotok di Kediri. Di sana dia mendirikan kafe dan menjadi guru musik untuk anak-anak muda.

"Sebelum kafe berdiri, aku ternyata bertemu Endang Titik Rachmawati Agustina. Dia bersedia mengurus aku di masa tua ini," kenangnya. Maka, wanita paruh baya dari keluarga CB Band Kediri itu dinikahi secara siri pada 27 April 2007.

Lagi-lagi, Endang ternyata bukan wanita terakhir. Setelah kafe itu bubar, karena sering dipersoalkan warga dan lawan bisnis, Ucok bersama Endang pindah lagi ke Surabaya. Mereka tinggal di rumah kakak Agus, teman setia Ucok selama di Gunung Klotok, di kawasan Pagesangan. Ucok pun membuka sekolah musik di situ.

Dari sinilah Ucok mengenal Sri Hartini, ibu kos, yang tak lain kakak kandung Agus. Ketika Ucok sakit, Sri mengantar pentolan AKA itu ke rumah sakit. Nah, di dalam mobil Sri, Ucok yang berusia 69 tahun melamar Sri Hartini menjadi istrinya. Mereka menikah secara resmi pada 14 Mei 2009. Endang Titik yang dari Kediri itu pun tersingkir.

Di saat-saat terakhir hidupnya, praktis Sri Hartinilah yang merawat Ucok dengan setia. Ketika diopname di RS Darmo sejak 20 November 2009 karena kanker paru-paru stadium lanjut, Endang berada di samping Ucok.

"Saya menikah dengan Bang Andalas (nama asli Ucok) sebagai bagian dari ibadah saya. Saya ikhlas tanpa pamrih. Sebagai istri yang sah, saya harus melayani Bang Andalas sampai akhir," kata Sri. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 4-8 Desember 2009

5 comments:

  1. Astaganaga... Begitu hebatnya kharisma si Ucok ini ya.. Sampai punya 9 istri?? Astaga....
    Dia lebih cocok diangkat jadi ketua Klub Poligami.
    Tapi, setelah tua dan jatuh sakit, semua kharisma itu pun menghilang. Siklus hidup manusia yang akhirnya menunjukkan kekuasaannya ya..

    ReplyDelete
  2. My highest Respect Kepada Opung Ucok, orang yang telah hidup sepenuh-penuhnya di jalan yang telah dia pilih. You have lived out loud in this world Opung. Terlepas dari semua kelemahan2 dan kesalahan2 yang telah dia perbuat, Orang total semacam ini sangat langka, dan akan selalu menjadi inspirasi buat saya. I love you Opung. " If you dare to try, go all the way..." Rest in Peace Opung.

    Ps: Never judge a man if You couldnt wear his shoes

    ReplyDelete
  3. My highest Respect Kepada Opung Ucok, orang yang telah hidup sepenuh-penuhnya di jalan yang telah dia pilih. You have lived out loud in this world Opung. Terlepas dari semua kelemahan2 dan kesalahan2 yang telah dia perbuat, Orang total semacam ini sangat langka, dan akan selalu menjadi inspirasi buat saya. I love you Opung. " If you dare to try, go all the way..." Rest in Peace Opung.

    Ps: Never judge a man if You couldnt wear his shoes

    ReplyDelete
  4. oh....a very different history of life......really want to know about him in this story....GBU.

    ReplyDelete