29 December 2009

Suster Linda ke Tiongkok



Sesuai dengan keinginannya, Suster Anastasia Birgitta Lindawati akhirnya diutus melakukan misi pelayanan di Tiongkok. Biarawati Katolik kelahiran Jombang ini bergabung dengan Kongregasi Suster-Suster Maryknol di New York, Amerika Serikat.

Sr Dolores, juru bicara Maryknoll, menjelaskan, upacara pelepasan Linda—sapaan akrab Sr Anastasia Lindawati--bersama dua suster lain sudah dilakukan pada pertengahan Desember silam di New York. “Mereka menerima tugas ini dengan senang hati,” tulis Dolores dalam surat elektroniknya.

Lulusan S-2 Universitas Narotama Surabaya ini meninggalkan bisnisnya di Jakarta dan Surabaya untuk menjadi biarawati. Tak tanggung-ranggung, Linda memilih Kongregasi Maryknoll yang berbasis di Amerika Serikat.

"Saya pertama kali mengenal Maryknoll dari Romo Agustinus Surianto di Bogor. Saya juga sempat bertemu Romo Ridwan Amo, yang pernah diajar Sr. Dorothy McGowan, MM di Bandung. Romo Ridwan inilah yang merekomendasikan Maryknoll kepada saya," tutur

Linda yang menyelesaikan studi S-1 di Institut Pertanian Bogor pada 1993 ini.
Dia kemudian mengorek informasi tentang BiarawatiMaryknoll melalui situs www.maryknollsisters.org dan mempelajari karya-karya pelayanan mereka di berbagai negara. "Saya tertarik karena merasa cocok. Ini semua merupakan panggilan Tuhan yang sangat istimewa untuk saya," katanya.

Karir Linda terbilang cepat. Setelah mengucapkan kaul pertama di New York pada 9 Agustus 2009, Linda bersama dua suster yang lain mengikuti program formasi di Chicago dan kuliah lanjutan di Catholic Theological Union. Di sela kesibukan, mereka mengadakan pelayanan sosial di rumah sakit serta komunitas Tionghoa-Amerika.

Ketika diminta memilih medan pelayanan, Linda tanpa ragu-ragu menunjuk Tiongkok. Sebagai perempuan keturunan Tionghoa, dia merasa tak asing lagi dengan bahasa dan budaya masyarakat negara berpenduduk 1,3 miliar itu.

Selamat bertugas Linda!

3 comments:

  1. Bang Bernie...
    Ternyata...sibuk berlibur toh waktu itu. Pantas blognya tidak ada byk kegiatan.

    Wah...menyenangkan dan memuaskan batin sekali pastinya bisa beribadah sambil mengenal masyarakat dan budaya lain.

    Sampai beberapa tahun lalu, masyarakat etnis Cina di sini masih banyak yang tidak memeluk salah satu kepercayaan apapun, terutama kaum mudanya. Saya ingat betapa terkaget-kagetnya saya mengetahui teman Singapura saya tidak beragama! Haha...

    Ohya...pada masa2 itu, sekolah temapt saya bekerja banyak menerima pendeta dari KorSel untuk tugas pelayanan juga. Tntunya mereka belajar berbahasa Inggris dulu di sekolah saya, tapi mereka punya kelebihan...yaitu kebanyakan mereka sudah bisa berbahasa Mandarin.

    Sekarang ini...mulai umum bagi masyarakat luas untuk memeluk salah satu agama yang ada, apakah Buddha atau Kristen, sudah tidak heran lagi. Sekarang di mana2 sudah banyak anak muda yang sering memberi selebaran cuma-cuma berisi informasi keagaaman dan kegiatan gereja mereka. 15tahun yll? Waaaah...rasanya tidak mungkin bisa menemukan mereka di jalan2! Kemajuan ya? :D

    ReplyDelete
  2. Bang Bernie

    Selamat Tahun Baru juga!
    Semoga apa yang ditargetkan dan diinginkan tercapai aemua tahun 2010 ya!

    Salam dari negara kota pulau

    ReplyDelete
  3. Terima kasih banyak Pak Lambert untuk penulisan tentang penempatan saya di regio Cina di blog Anda. Ada beberapa klarifikasi:
    1. Saya mengundurkan diri dari pekerjaan di Surabaya di tahun 2006
    2. Saya menjalani masa orientasi di Chicago termasuk kuliah di Catholic Theological Union dan pelayanan sosial di rumah sakit serta komunitas Tionghoa-Amerika. Setelah itu kaul pertama di New York dan mendapat penempatan di regio Cina.
    Bila ingin membaca lebih lanjut tentang pengalaman saya bisa dibaca di http://anastasialindawatimm.blogspot.com.
    Salam dari Hong Kong,

    Sr. Anastasia, MM

    ReplyDelete