16 December 2009

Soenatha Tanjung: Rocker Jadi Pendeta



Tokoh terakhir yang ditunggu-tunggu pada pemakaman almarhum Ucok Harahap, pendiri dan vokalis AKA Group, di Kebraon Tegal, Karangpilang, Surabaya, Kamis (3/12/2009) lalu, adalah Soenata Tanjung. Keluarga besar Ucok belum bersedia memasukkan jasad Ucok ke liang lahat sebelum Soenata datang.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Maklum, Soenata Tanjung (64) merupakan salah satu sahabat dekat Ucok, selain Sjech Abidin dan Arthur Kaunang, yang memperkuat AKA Group. Empat sekawan ini boleh dikata merupakan peletak dasar atau pelopor musik rock di Indonesia dengan atraksi panggung yang garang dan teatrikal.

Namun, berbeda dengan Ucok yang tetap rocker hingga akhir hayatnya, Soenata Tanjung memilih meninggalkan sama sekali dunia yang pernah melambungkan namanya sebagai “dewa gitar” era 1970-an dan 1980-an itu. Soenata melakukan apa yang disebut metanoia atau perubahan yang sangat drastis dalam hidupnya.

“Sekarang kegiatan saya setiap hari, ya, pelayanan, pelayanan, dan pelayanan. Saya hanya ingin melayani Tuhan di usia saya yang sudah tidak muda lagi,” ujar Soenata Tanjung yang ditemui Radar Surabaya di kantor Gereja Bethany Indonesia, Jl Manyarrejo II Surabaya.

Yah. Soenata Tanjung kini bukan lagi rocker, melainkan pendeta. Pendeta Joshua Soenata Tanjung! Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan Soenata Tanjung.

Apakah teman-teman dan penggemar Anda tahu kalau Anda sudah jadi pendeta di Bethany?

Ada yang tahu, tapi banyak juga yang belum tahu. Mereka mengira saya masih main rock, menekuni musik sekuler, seperti dulu. Padahal, saya sudah lama meninggalkan dunia saya yang lama itu. Memang, sampai sekarang saya masih main musik, tapi musiknya untuk Tuhan. Pelayanan rohani melalui musiklah.

Sejak kapan Anda mulai berpikir untuk meninggalkan musik rock?

Ceritanya agak panjang. Dan itu saya percaya sebagai cara Tuhan dalam memproses saya sebagai hamba-Nya. Tahun 1987, ketika manggung bersama SAS (Soenata, Arthur Kaunang, Sjech Abidin, Red), saya kesetrum di atas panggung. Saya sudah main gitar elektrik sejak 1960-an, tapi tidak pernah mengalami hal seperti itu. Gitar saya tiba-tiba korslet dan membawa muatan listrik sangat tinggi.

Sejak itu tangan kiri saya lumpuh. Tidak bisa digerakkan sama sekali. Saya putus asa. Hopeless. Bayangkan, selama 20 tahun lebih saya main musik bersama Arista Birawa, AKA, kemudian SAS dari panggung ke panggung, punya ribuan bahkan jutaan penggemar, tiba-tiba tidak bisa main musik lagi. Saya mau kerja apa dengan tangan kiri yang lumpuh? Ini benar-benar sebuah pukulan bukan hanya buat saya, tapi juga SAS. Sebab, SAS yang sedang populer masih punya kontrak untuk membuat beberapa album lagi.

Lantas, apa yang Anda lakukan?

Ya, nggak bisa apa-apa. Saya hanya bisa diam dalam keadaan hopeless. Nah, di saat itulah datang rombongan jemaat dari gereja yang mendoakan saya. Mereka meyakinkan saya bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Meskipun dokter sudah angkat tangan, kalau kita percaya sama Tuhan, suatu saat akan sembuh. Mereka mendoakan saya dan memberi penghiburan untuk saya.

Berarti sejak dulu Anda sudah religius ya?

Oh, tidak! Saya ini istilahnya orang Kristen KTP. Saya nggak pernah berdoa, nggak pernah ke gereja karena macam-macam alasan. Sibuk, tidak ada waktu, bahkan saya nyaris tidak pernah melibatkan Tuhan dalam aktivitas hidup saya. Toh, tanpa berdoa dan ke gereja, saya bisa jadi pemain band yang populer?

Baru setelah mengalami kelumpuhan itu, saya disadarkan oleh Tuhan. Bahwa saya tidak boleh lagi mengandalkan kekuatan sendiri. Sejak itulah saya mulai ingat Tuhan. Saya mulai belajar berdoa. Saya bilang, Tuhan, kalau nanti saya sembuh dengan kuasa-Mu, saya berjanji untuk melayani Tuhan secara full time.

Anda kemudian ikut pelayanan di Gereja Bethany?

Kebetulan sejak 1980-an saya sudah kenal Pendeta Alex (Dr Abraham Alex Tanuseputra, pendiri dan pastor senior Gereja Bethany, Red) karena beliau itu juga punya latar belakang sebenarnya musisi. Pendeta Alex dulu punya band bernama Jesus People sebagai pemain trompet. Jadi, saya memang kenal beliau.

Dari situ saya mulai dilibatkan dalam pelayanan-pelayanan. Meskipun tangan kiri saya masih lumpuh, saya ikut pelayanan di sejumlah tempat. Saya hanya bisa duduk saja sambil mencoba-coba main musik rohani, tapi masih terasa sangat berat. Puji Tuhan, doa saya dan sahabat-sahabat saya terkabul. Saya mendapat mukjizat. Tangan kiri saya akhirnya bisa digerakkan.

Apa langsung sembuh seketika?

Secara tidak sadar, saya merasa kok tangan saya bisa digerakkan. Kembali normal. Saya coba main gitar, eh, masih bisa.

Anda kemudian menunaikan janji Anda sebagai pelayan rohani di gereja?

Yah. Saya akhirnya sadar bahwa saya telah diproses oleh Tuhan untuk melayani Dia secara total. Sebelum itu, karena masih ada kontrak dengan SAS, saya masih sempat terlibat dalam pembuatan album. Sementara itu, pelayanan di gereja jalan terus. Tahun 1993 saya full timer di Bethany. Saya tidak lagi terlibat dalam urusan musik sekuler.

Masih dengar lagu-lagu AKA/SAS atau band-band idola Anda?

Saya lepas semua. Itu semua masa lalu. Saya sudah lahir baru menjadi manusia yang baru. Bukan Soenata Tanjung yang lama. Saya hanya mendengar lagu-lagu rohani, ikut membimbing pemusik-pemusik di Bethany. Beda sekali dengan di band sekuler macam AKA atau SAS dulu.

Apa perbedaan mencolok yang Anda rasakan?

Dulu, saya tidak pernah melibatkan Tuhan. Saya merasa seakan-akan sudah hebat banget, main musik dan dielu-elukan di mana-mana. Padahal, semua kebanggaan yang pernah saya rasakan itu semu belaka. Sekarang, karena Tuhan ikut campur tangan, hidup menjadi lebih santai dan ringan. Selalu ada sukacita dan damai sejahtera.

Orang awam sering melihat pemain band atau artis terkenal punya uang banyak dan hidupnya sangat nyaman.

Betul. Kalau sedang di atas angin, uangnya si artis memang banyak banget. Bertumpuk-tumpuk. Tapi, seperti yang pernah saya alami dulu, uang yang banyak itu tidak menjadi berkat. Hehehe.... Kenapa? Uang itu dipakai untuk berfoya-foya, beli miras, obat-obatan terlarang (narkoba), dan hal-hal yang tidak baik.

Nah, karena uangnya tidak jadi berkat, maka hidupnya tidak bisa tenang. Tidak bisa bahagia. Ini berbeda dengan apa yang saya rasakan sekarang. Uangnya jauh dibandingkan ketika saya masih ngetop. Tapi saya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Selalu ada campur tangan Tuhan dalam hidup ini.

Wah, rupanya Anda sudah mantap menjadi pendeta?

Puji Tuhan. Saya memang sudah bertekad melayani Dia selama saya masih mampu. Apalagi, sekarang saya diberi kepercayaan untuk memberikan pelayanan di gereja-gereja tidak hanya di Surabaya, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Kebetulan Bethany ini kan punya banyak cabang di berbagai kota.

Masih sering kontak-kontakan dengan eks teman-teman di AKA/SAS?

Masih, meskipun kami punya kesibukan masing-masing. Arthur juga sekarang aktif dalam pelayanan di Jakarta. Sjech Abidin punya kegiatan sendiri. Sementara Ucok, sebelum meninggal, kami juga masih berkomunikasi.

Sebelum Ucok meninggal dunia, saya, Arthur, dan Sjech membesuk Ucok di Menanggal. Kondisinya memang parah, harus pakai alat bantu pernapasan (respirator). Ini semacam reuni empat personel AKA setelah bertahun-tahun tidak ketemu. Tapi suasananya prihatin karena kondisi Ucok kayak gitu.

Melihat kedatangan kami bertiga, Ucok tiba-tiba mendapat semangat hidup. Dia sangat senang. Dia langsung jalan ke keyboard-nya dan memainkan lagu Badai Bulan Desember yang dia ciptakan. Kami akhirnya main musik dan menyanyi bersama. Sangat mengharukan. Sekitar tiga minggu kemudian Ucok meninggal duna. (Soenata memperlihatkan rekaman adegan tersebut kepada Radar Surabaya.)

Apa yang paling berkesan dari almarhum Ucok?

Dia itu tidak pernah susah dan baik sama teman. Kalau sedang bersama Ucok, kita merasa senang terus. (*)


'Ditemukan' Ucok di THR


MESKI ayahnya, Samuel Tanjung, seorang pemain biola, Soenatha Tanjung mengaku belajar musik secara otodidak. Dia sama sekali tidak ikut kursus atau sekolah musik seperti kebanyakan anak-anak keturunan Tionghoa saat ini.

"Saya waktu kecil dulu tinggal di Bondowoso. Mana ada kursus musik di sana?" ujar Soenatha Tanjung kepada Radar Surabaya. Namun, dasar-dasar musik yang diperoleh dari sang ayah ikut mempengaruhi minat Soenatha dalam bidang musik.

Ketika keluarga Samuel Tanjung hijrah ke Surabaya, Soentha kecil pun tentu saja ikut. Mereka kemudian tinggal di sebuah rumah sederhana di kawasan Blauran. Sejak itu minat Soenatha terhadap musik kian tebal. Soenatha mulai membeli buku-buku musik dan belajar sendiri.

"Jadi, saya ini sebetulnya otodidak. Guru saya, ya, buku-buku itu," aku ayah empat anak dan kakek satu cucu ini.

Soenatha beruntung karena pada saat itu dia memperoleh sejumlah buku musik bermutu terbitan luar negeri. Salah satunya dari Berkeley, Amerika Serikat. "Saya ikuti, saya pelajari pelan-pelan, dan akhirnya bisa main," kenangnya.

Soenatha baru benar-benar 'belajar main gitar' ketika bergabung dengan Arista Birawa, band terkenal di Surabaya pada 1960-an pimpinan seniman serbabisa Mus Muljadi.

Di grup yang biasa manggung di Taman Hiburan Rakyat (THR) ini, Soenatha dan kawan-kawan biasa mengiringi penyanyi kondang saat itu seperti Lilis Suryani, Tety Kadi, atau Mus Muljadi sendiri. Karena manggung hampir setiap hari, lama-kelamaan Soenatha tumbuh sebagai satah satu gitaris top di Kota Surabaya masa itu.

Permainan gitar Soenatha ternyata menarik perhatian Ucok Harahap, putra sulung Ismail Harahap, bos Apotek Kaliasin, salah satu dari tiga apotek di Surabaya pada 1960-an. Berbasa-basi sejenak, Ucok mengajak Soenatha bersama-sama membuat band baru. Band yang tidak sekadar bermain untuk mengiringi penyanyi-penyanyi lain, tapi menawarkan musik yang berbeda. Apalagi, rezim Orde Lama yang dulu melarang musik rock dan sejenisnya baru saja tumbang.

Soenatha pun setuju dengan tawaran Andalas Datoe Oloan Harahap, nama lengkap Ucok. Selain mendapatkan Soenata, Ucok juga berhasil merekrut Sjech Abidin (gitaris) dan Arthur Kaunang. Arthur yang awalnya hanya berbekal pengalaman sbagai pemain piano dan keyboard 'dipaksa' Ucok untuk belajar main gitar bas. Sebab, band baru ini memang belum punya pemain bassist. Dasar anak berbakat, dalam waktu singkat Arthur mampu bermain bas dengan tangan kiri.

Singkat cerita, Ucok Harahap akhirnya secara resmi mengumumkan berdirinya band baru di Surabaya. Namanya AKA, singkatan dari Apotek Kaliasin. Selain menghasilkan sekitar 15 album rekaman, AKA menjadi band paling fenomenal gara-gara aksi panggung Ucok yang nyentrik dan gila-gilaan. Misalnya, bergelantung di tali, kepala di bawah kaki di atas, masuk peti mati, serta atraksi-atraksi mendebarkan lainnya.

Meroketnya popularitas AKA membuat nama para personelnya pun ikut melambung. Soenatha Tanjung yang tadinya hanya dikenal sebagai gitars top Surabaya, atau Jawa Timur, kini disebut-sebut sebagai salah satu dewa gitar tanah air. Sayang, Ucok Harahap meninggalkan band yang dibentuknya dari nol itu. AKA bubar.

Sempat vakum selama setahun, tiga personel yang ditinggal Ucok membentuk band baru. "Manajernya, ya, Ismail Harahap, bapaknya Ucok. Bahkan, beliau yang memberi nama SAS, sesuai singkatan nama kami bertiga. Sonatha, Arthur, Sjech Abidin. Jadi, hubungan kami dengan Ucok dan keluarganya itu sangat baik. Seperti keluarga sendiri," katanya.

Berbeda dengan AKA, SAS Group merujuk pada ELP (Emerson, Lake & Palmer) dan Rush, trio rock asal Kanada. Juga terpengaruh Led Zeppelin dan Deep Purple yang sangat mendunia saat itu. "Di SAS ini kami bertiga bisa menyanyi dan kerja samanya jadi lebih gampang. Dan itu membuat kami bisa produktif di panggung maupun rekaman," tuturnya.

Soenatha perlahan-lahan meninggalkan musik rock, yang disebutnya 'musik sekuler', setelah kesetrum listrik di atas panggung pada 1987. Tangan kirinya lumpuh total. Sejak itu dia mendapat pelayanan rohani dari rombongan gereja. "Saya berekad untuk melayani Tuhan," katanya.

Namun, karena kotrak sudah ditandatangani, setelah sembuh, Soenatha masih sempat memperkuat SAS dan merilis album Metal Baja. Setelah itu, Soenatha meninggalkan musik sekuler secara total. "Saya lebih mantap berada di jalan Tuhan," tegasnya. (rek)

SOENATHA TANJUNG

Nama lengkap : Joshua Soenatha Tanjung
Lahir : Bondowoso, 16 Desember 1945
Istri : Elsye S Yansen
Anak : Maria Silvana Tanjung, Elizabeth Tanjung, Steven Tanjung, Victor Tanjung
Pendidikan : SMAK St Louis Surabaya, Sekolah Teologia Bethany
Pekerjaan: Pendeta di Gereja Bethany Surabaya
Alamat : Jalan Manyarrejo II Surabaya
Hobi : gitar


KARIR MUSIK
- Arista Birawa bersama Mus Muljadi cs, sejak 1964
- AKA bersama Ucok Harahap, Arthur Kaunang, dan Sjech Abidin, sejak 1967
- SAS bersama Arthur Kaunang dan Sjech Abidin, sejak 1975
- Music director Gereja Bethany, sejak 1993

1 comment:

  1. Keren
    Bagus
    blog ini bagu sekali
    berkunjung ke blog saya ya.........

    ReplyDelete