22 December 2009

Rudi Isbandi Bikin Museum



Minggu (20/12/2009) merupakan hari yang sangat istimewa buat Rudi Isbandi (73), bahkan buat dunia seni rupa Jawa Timur. Museum Rudi Isbandi di Jalan Karangwismo I/10 Surabaya diresmikan. Museum seni rupa yang menempati dua lantai itu dibuka untuk masyarakat umum hingga 2 Januari 2010.

"Ini sekaligus merayakan 51 tahun pernikahan kami dan ulang tahun saya yang jatuh pada 2 Januari," ujar Rudi Isbandi kepada Radar Surabaya di kediamannya yang kini 'disulap' menjadi Museum Rudi Isbandi kemarin.

Didampingi sang istri tercinta, Sunarti Rudi, wawancara ini berlangsung gayeng sembari menikmati pisang goreng kesukaan sang seniman. Berikut petikan obrolan santai Radar Surabaya dengan Rudi Isbandi dan istrinya, Sunarti.


Oleh LAMBERTUS HUREK
Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu, 20 Desember 2009

Sejak kapan Anda punya ide membangun museum ini?

Rudi: Oh, sudah lama sekali. Sejak 50 tahun lalu saya sudah punya mimpi untuk mendirikan sebuah museum seni rupa. Tapi untuk mewujudkan mimpi itu memang tidak mudah. Saya harus melangkah pelan-pelan, bertahap, jatuh bangun, dan baru sekarang ini terwujud.

Sunarti: Waktu saya masih jadi guru SD, kemudian mengajar di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya, Red), kemudian saya pensiun, ide itu jalan terus.

Persiapan apa saja yang Anda lakukan?

Rudi: Nah, karena sejak dulu sudah punya mimpi, maka saya selalu berusaha menyimpan karya-karya yang menandai proses kreatif saya pada kurun waktu tertentu. Kepada teman-teman pelukis, saya juga sering mengajak agar menyisihkan minimal satu karya terbaiknya dalam setahun. Janganlah semua karya jatuh ke tangan orang lain (kolektor). Anda harus mengoleksi juga. Suatu saat nanti karya-karya itu bisa disimpan di museum pribadi agar bisa diapresiasi masyarakat banyak.

Rupanya, Museum Rudi Isbandi ini merupakan museum seni rupa pertama di Surabaya, bahkan Jawa Timur, yang digagas dan dikelola sendiri oleh pelukisnya?

Rudi: Bisa jadi. Setahu saya di Jogja ada Museum Affandi. Di Bandung ada museum Popo Iskandar. Tapi kalau di Jawa Timur kayaknya belum ada museum seni rupa.

Museum ini dibuka untuk umum atau terbatas untuk kalangan tertentu?

Rudi: Terbuka untuk masyarakat umum, khususnya untuk pendidikan dan kesenian. Selain apresiasi seni rupa karya-karya saya, di sini bisa diadakan acara-acara kesenian seperti baca puisi, teater, lomba lukis, dan sebagainya. Singkatnya, semua kegiatan yang ada hubungannya dengan pendidikan dan kesenian.

Siapa yang mendesain?

Rudi: Saya. Saya sendiri yang gambar, bikin semua detail-detailnya. Tapi, karena saya bukan arsitektur, saya harus minta bantuan arsitek untuk membantu mewujudkan impian lama saya.

Sunarti: Sempat nemu beberapa kontraktor, tapi biayanya terlalu mahal. Selangit. Dan, terus terang saja, ini sempat membuat kami putus asa. Apa mungkin kami bisa membangun museum? Akhirnya, rencana itu terpendam hingga bertahun-tahun.

Lantas, ketemu sponsor atau semacam penyandang dana?

Sunarti: Nah, kebetulan saya ini suka lagu-lagu nostalgia di Radio Merdeka FM. Para penggemar biasanya setiap hari saling mengirim salam atau menyapa di udara. Bu Rudi yang disebut-sebut di Radio Merdeka itu ya saya. Dari situ saya berkenalan dengan Bapak Ferry Wong yang juga sangat senang dengan tembang-tembang oldies. Pak Ferry ini punya toko bahan bangunan.

Suatu ketika, saya cerita kalau kami ingin mendirikan museum di Karangwismo. Nah, Nanda Ferry ini langsung memberikan respons positif. Ternyata, Nanda Ferry punya adik ipar, namanya Hendra Lou, seorang kontraktor. Orangnya ke sini dan dia merasa terharu. Dia bilang, "Saya akan menolong, tapi Ibu harus bersabar."

Singkat cerita, Museum Rudi Isbandi akhirnya terwujud.

Rudi: Ya, begitulah, dia (Sunarti) memang dikirim Tuhan untuk mewujudkan mimpi saya sebagai seniman yang besar. Sebaliknya, saya juga selalu mendorong dia agar berhasil dalam karirnya sebagai pendidik. Mula-mula dia hanya seorang guru SD, kemudian studi di PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), hingga menjadi dosen di IKIP Surabaya. Kemudian studi lagi sampai magister (S-2) dan pensiun.

Karya-karya Anda kan sangat banyak. Nah, yang disimpan di museum ini yang seperti apa?

Rudi: Karya-karya yang menandai perjalanan saya sebagai seorang seniman. Karya tahun 1952, ketika saya masih berusia 15 tahun, ada empat biji. Tahun 1954 dua biji. Tahun 1956 dua biji. Tahun 1958 satu biji. Kemudian karya-karya tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an, hingga 2009. Total ada sekitar 150 karya seni rupa yang bisa dinikmati di museum.

Jadi, di museum ini masyarakat bisa mengetahui perjalanan seorang Rudi Isbandi sejak remaja belasan tahun hingga sekarang. Dari pelukis yang tadinya tidak punya nama, sama sekali tidak dikenal, hingga menjadi pelukis yang dikenal luas di komunitas seni rupa.

Wah, ternyata Anda bisa menyimpan lukisan-lukisan era 1950-an.

Rudi: Banyak juga yang disimpan oleh keluarga. Saya kemudian menukar lukisan-lukisan lama itu dengan lukisan yang baru. Eh, mereka malah senang dengan lukisan-lukisan saya yang baru. Hehehe....

Dari koleksi-koleksi di museum ini terlihat sekali kalau gaya atau aliran yang Anda tekuni selama lima dekade ini berubah-ubah.

Rudi: Ya. Perubahan dalam hidup memang tidak pernah saya tolak. Saya tidak pernah ngecat rambut supaya kelihatan muda. Saya biarkan begitu saja, apa adanya. Dan justru saya lebih senang dengan tampang saya yang sekarang ketimbang ketimbang tampang saya yang dulu.

Begitu juga dengan karya-karya saya. Mulai yang naturalis, realis, ekspresif, kubisme, instalasi, dan sebagainya. Saya ini orang yang sangat keras. Orang lain tidak bisa mengubah prinsip saya.

Sunarti: Pernah ada kolektor yang datang ke sini untuk minta dibuatkan lukisan. Berapa pun harganya akan dibayar. Uang banyak sudah di depan mata. Tapi Bapak nggak mau buat. Padahal, dalam waktu lima menit saja lukisan itu sudah jadi.

Rudi: Saya memang tidak suka orang yang suka menipu. Saya punya feeling kalau orang itu nggak beres. Maka, saya tidak boleh memberikan lukisan pada orang itu. Sebab, konsep saya bukan jualan lukisan. Saya ingin idealis. Mengutamakan kualitas daripada komersial.

Rata-rata berapa lama Anda menekuni gaya tertentu?

Rudi: Itu gak tentu. Ada yang dua tahun. Selama 37 tahun saya menekuni abstrak nonfiguratif mulai tahun 1967 sampai 2000. Maka, orang Indonesia selama ini mengenal Rudi Isbandi dengan gaya itu. Padahal, sejak tahun 2000 saya berubah lagi ke mixed media. Saya manfaatkan apa saja yang ada di sekitar kita. Mur, baut, cermin, onderdil sepeda, jerohan radio-tape, kaleng bekas, guntingan koran, dan sebagainya. Saya tidak bisa menolak perubahan.

Setelah punya museum, apakah Anda masih terus berkarya?

Rudi: Saya bahkan sudah punya konsep untuk 10 tahun ke depan, 2010 sampai 2020. Saya tidak akan membuat lagi karya seni yang segiempat, tapi yang digantung. (Rudi Isbandi kemudian menunjuk sangkar burung di depan pintu museumnya.)

Kurungan itu ibarat sebuah penjara. Banyak orang yang punya keluarga, punya rumah tangga, tapi merasa terpenjara. Mereka tidak punya kebebasan dan kebahagiaan. (*)




Tetap Berpacaran hingga Usia Senja


BERBEDA dengan kebanyakan seniman yang senang berkelana, berlama-lama meninggalkan rumah, bahkan sering 'lupa rumah', Rudi Isbandi sebagai 'pria rumahan'. Dia tak selalu kembali ke rumah kecuali berada jauh di luar kota.

Dia akan resah jika tidak berada di rumahnya di Karangwismo I/10 Surabaya.
"Sebab, saya ini tidak bisa jauh dari Sunarti, istri saya. Dan dia juga tidak mungkin bisa jauh dari saya. Kami berdua memang saling membutuhkan," ujar Rudi Isbandi sembari memeluk mesra sang istri.

Kemesraan antara Rudi Isbandi dan Sunarti memang selalu terlihat di berbagai tempat. Dua sejoli ini ibaratnya terus 'berpacaran' hingga lansia. Bahkan, kini, setelah Sunarti pensiun sebagai dosen Universitas Negeri Surabaya (dulu IKIP Surabaya), kehidupan Rudi Isbandi jauh lebih berwarna. Maklum, setiap hari dia ditemani istri tercinta sembari menikmati lagu-lagu nostalgia.

"Kebetulan kami berdua ini sama-sama suka lagu-lagu nostalgia. Jadi, hidup ini rasanya senang dan indah terus," ujar Bu Rudi, sapaan akrab Sunarti Rudi di kalangan penggemar tembang lawas, khususnya lagu-lagu Barat, di Radio Merdeka FM. "Pak Rudi itu senang banget sama Dean Martin. Hehehe...."

Apa resep pasutri Rudi-Sunarti yang bukan saja mempertahankan rumah tangga, tapi juga merawat kemesraan hingga usia kepala tujuh?

Rudi kontan menuding telunjuknya ke atas. Dia hanya ingin mengatakan, kebahagiaan berkeluarga ini semata-mata karena anugerah Tuhan Yang Mahakuasa. "Saya berkali-kali bilang, dia (Sunarti) itu memang sengaja dikirim Tuhan untuk mendampingi saya," ujar Rudi disambut senyum sang istri.

Selain itu, ketika masih berpacaran, Rudi dan Sunarti mengaku sudah membicarakan secara panjang lebar konsep hidup rumah tangga yang akan dibangun. "Jadi, nggak sekadar pacaran, bermesraan thok. Kami sejak awal sudah punya konsep sebelum resmi menjadi suami-istri," kata ayah dua anak dan kakek dua cucu ini.

Waktu itu Rudi seniman pemula, sementara Sunarti yang lulusan SGB menjadi guru sekolah dasar. Sudah tentu mereka harus hidup sangat sederhana. Nah, konsep yang disepakati Rudi dan Sunarti kira-kira begini. Hidup berumah tangga itu ibarat dua orang yang pergi memancing di sungai.

"Kita tidak akan membicarakan ikan yang didapat itu dari pancing yang mana. Yang penting, ikan itu kita nikmati bersama-sama. Kalau nggak dapat ikan, ya, kita pindah ke sungai yang lain," kata Rudi.

"Kalau dapatnya banyak, ya, disimpan, ditabung. Sewaktu-waktu bisa digunakan," timpal Sunarti.

Konsep 'memancing ikan di sungai' ini ternyata diterapkan betul oleh Rudi dan Sunarti. Sebagai guru, mulai guru SD hingga dosen Unesa, pancing milik Sunarti praktis selalu 'kena' karena ada gaji tetap setiap bulan. Adapun pancing seorang pelukis sering kali sulit ditebak. Kadang mendapat ikan besar, tapi kadang pula tidak mendapat apa-apa dalam waktu lama.

"Pernah selama lima tahun penuh pancingnya Pak Rudi nggak dapat apa-apa," ujar Sunarti sambil tersenyum. "Makanya, saya bersyukur punya istri seperti dia. Saya masih bisa makan sambil tetap berkarya sebagai seniman. Dan itu yang membuat idealisme dan konsistensi saya di bidang kesenian tetap terjaga sampai sekarang," tegas Rudi.

Rupanya, diam-diam, kemesraan dan kebahagiaan Rudi-Sunarti dipantau oleh aparat pemerintah. Melalui seleksi yang ketat, pasutri Rudi-Sunarti mendapat penghargaan sebagai keluarga harmonis teladan oleh Gubernur Jawa Timur Wahono.

Bukan itu saja. Ketika konsep keluarga berencana (KB) dengan dua anak masih belum populer di tanah air, Rudi dan istri sudah berkomitmen untuk hanya punya dua anak. Kembali keduanya dianugerahi penghargaan KB Lestari Tingkat Nasional. (rek)


BIOGRAFI


Nama : Rudi Isbandi
Lahir : Jogjakarta, 2 Januari 1937
Istri : Sunarti Rudi
Anak : Totok Rudi Ananto (alm) dan Titik Ratih
Pekerjaan : Pelukis, direktur Museum Rudi Isbandi
Alamat : Jalan Karangwismo I/10 Surabaya

Pendidikan :
SMA Institut Indonesia, Jogjakarta
Sanggar Affandi, Jogjakarta, 1954.

Karya : sekitar 2.000 karya seni rupa dalam berbagai gaya dan isme.
Penghargaan :

Presiden RI Soeharto
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Gubernur Jatim
Menteri Luar Negeri RI
Pemerintah Mesir
Keluarga Harmonis (Menko Kesra), 1980
KB Lestari Teladan Tingkat Nasional, 1987
Peniti Emas dari Presiden Soeharto
Satya Lencana Kemanusiaan dari Presiden Megawati

Moto : Selalu belajar dari orang-orang sukses dan orang-orang yang gagal.

1 comment: