13 December 2009

Natal Koes Plus 1973



Tak lengkap kalau menjelang Natal ini kita tak memutar lagu-lagu Natal. Apalagi, saya lihat sejumlah pusat belanja di Surabaya semarak, meriah dengan aneka hiasan khas Natal. Pohon terang, Santa Claus, cemara, palungan, bintang, salju, dan sebagainya.

Menjelang Desember juga selalu ada artis yang merilis album Natal. Album, penyanyi, aransemen musiknya sih baru, tapi lagu-lagunya itu-itu saja. Memang ada juga lagu-lagu baru, bahkan jenis campursari atau keroncong. Tapi bisa dipastikan akan kalah pasaran dibandingkan lagu-lagu tradisional Natal, yang dari Eropa-Amerika.

Kidung-kidung Natal yang disukai senantiasa berkisar pada White Christmas, Jingle Bells, Silent Night, Adeste Fideles (di Indonesia: Hari Mari Berhimpun), Joy to The World, Little Town, Sleigh Ride, Little Drummer Boy, The Christmas Song. Komposisi lagu-lagu Natal lama memang sederhana, pas, dan enak.

Tahun ini saya tidak lagi menambah koleksi album Natal. Buat apa? Koleksiku sudah terlalu banyak. Artis-artis top Barat punya, yang klasik ada, paduan suara ada, campursari ada, jazz pun ada. Musik Natal versi jazz termasuk yang saya suka.

“Ritual” memutar lagu-lagu Natal tetap kulsayakan. Kali ini, setelah membongkar-bongkar koleksi, saya menemukan “Natal Bersama Koes Plus 1973” [12 lagu] dan “Natal Bersama Broery 1973” [10 lagu]. Kebetulan dua hari lalu Yon Koeswoyo, vokalis Koes Plus, manggung di JTV Surabaya. Pas!

Koes Plus band besar, sangat populer di tanah air ada 1970-an dan awal 1980-an. Musiknya tidak ruwet, gaya nyanyinya pun sederhana saja. Bahkan, Yon Koeswoyo menyanyi ala pengamen-pengamen di Terminal Purabaya Surabaya. Suaranya banter, tapi cempreng. Toh, tetap enak dinikmati.

Yon membawakan delapan lagu: Kidung Saya, Bahagia Dunia, Telah Lahir di Bumi, Menuju ke Bethlehem, Juru Selamat Dunia, Penebus Tiba, Malam Suci.
Tony Koeswoyo (kini almarhum), pemimpin arranger utama Koes Plus, membawakan lagu Dengarlah Malaikat Menyanyi, Malam Kudus, Mari Berhimpun. Satu lagu lagi, judulnya Lagu Natal, dibawakan Yok Koeswoyo.

Kata orang-orang lama, album Natal Koes Plus pada awal 1970-an ini sukses di pasaran. Bahkan, saudara-saudara kita yang bukan Kristen pun mengoleksinya. Ini bisa dibaca di internet karena setahu saya, penggemar Koes Plus punya laman bagus di dunia maya. Pokoknya, semua yang berbau Koes Plus dinikmati.

Selain musik Natal versi Koes Plus enak dinikmati, bagi saya, yang menarik adalah suasana kebersamaan para pemusik [juga masyarakat] Indonesia pada 1970-an. Sangat terbuka, toleran, punya kebersamaan, rukun dan damai. Personel Koes Plus yang beragama Islam begitu ringannya membawakan lagu-lagu Natal. Begitu juga sejumlah penyanyi solo dan grup band lainnya.

Mirip dengan Trie Utami sekarang. Penyanyi berbadan mungil ini kerap tampil bersama seniman-seniman lain dalam konser Natal di berbagai kota. Trie bahkan membawakan lagu Malam Kudus dengan sangat baik.

Yah, seniman sejati memang selalu mampu menembus tembok-tembok teologis, doktrinal, dan dogma-dogma kaku yang sering membuat sesama manusia, sesama anak bangsa, saling menaruh curiga dan syak wasangka. Betapa indah jalinan kebersamaan dalam kesenian.

Meski membawakan lagu-lagu Natal dengan penuh penghayatan, semua personel Koes Plus toh tetap muslim yang taat. Trie Utami beristikamah sebagai muslimah yang baik. Nah, nuansa kebersamaan seperti dicontohkan Koes Plus pada era 1970-an itu rupanya pelan-pelan mulai surut.

Ironis!

1 comment:

  1. lagu bisa didapat dari mana ya??
    setyahartoko@yahoo.com

    terimakasih.

    ReplyDelete