14 December 2009

Musik dan Nasionalisme

Oleh Musafir Isfanhari
Komposer, Pemerhati Musik, dosen Universitas Negeri Surabaya

Adakah hubungan antara seni (musik) dengan perasaan nasionalisme atau perasaan patriotisme? Untuk menjawabnya, mari kita simak peristiwa yang belum lama ini terjadi.

Perasaan kita sebagai bangsa terinjak-injak, tercabik-cabik, harga diri kita dilecehkan karena seni milik nenek moyang kita Reog Ponorogo diklaim dan dihaki oleh Malaysia sebagai budaya warisan nenek moyang mereka. Bahkan, cerita terjadinya reog itu pun dibikin dan disesuaikan dengan legenda yang ada di sana.

Belum lagi kesal kita terhapus, Malaysia bikin ulah lagi. Lagu Rasa Sayange, lagu yang sering kita nyanyikan ketika kita jadi Pramuka dulu, tiba-tiba diakui sebagai milik mereka. Sungguh sakit perasaan kebangsaan kita melihat itu semua. Gelombang demontrasi di Jakarta maupun di tempat tempat lain di Indonesia terjadi terus-menerus memprotes hal tersebut.

Padahal, kalau mau jujur, kita sendiri kurang merawat/memelihara (pinjam istilah Jawa: kurang nguri-uri) budaya kita yang adiluhung itu. Kita tak pernah serius menjaga kekayaan budaya kita. Kita sering sepelekan dan anggap enteng tanpa perhatian. Kita baru kaget, lalu terbengong-bengong, kemudian marah-marah ketika orang lain memanfatkannya.

Memang, kalau kita amati lebih dalam, ada benang merah yang menyambung antara seni dan nasionalisme. Berikut ini, cerita (walau hanya dalam film) adegan final pertandingan sepak bola. Karena final, maka di tribun kehormatan wali kota dan pejabat pemerintah datang menyaksikan. Di samping tribun kehormatan telah siap pula korps musik yang akan memainkan lagu-lagu mars penambah semangat pertandingan.

Namun, hawa final telah merusak sportivitas, sehingga di pertandingan itu sering terjadi pelanggaran yang pada akhir terjadilah tawur massal. Suporter turun ke lapangan. Pemain berhadapan dengan pemain. Suporter dengan suporter. Suasana kacau. Petugas keamanan tak mampu lagi mengatasi emosi yang meluap.

Dalam kondisi yang tak terkendali itu, wali kota lari ke arah korps musik sambil berteriak-teriak: “Lagu kebangsaan! Lagu kebangsaan!” Dan korps musik pun memainkan lagu kebangsaan.

Cerita selanjutnya, begitu lagu kebangsaan terdengar, semua orang tegak berdiri menghormat lagu kebangsaan tersebut. Emosi menurun, rasa persatuan dan kesatuan di antara sesama nation meluluhkan dan melunakkan emosi, sehingga keadaan bisa teratasi.

Kalau menyimak cerita bola di atas, rasanya memang benar ada benang merahnya. Cuma, bagaimana mengurai benang merah yang menyambung antara musik dan nasionalisme? Ini dia penjelasannya:

Musik adalah bahasa bunyi. Jadi, ketika seseorang bermain musik, artinya dia sedang menyampaikan perasaan lewat bunyi. Perasaan itu bisa bermacam-macam: bisa sedih karena patah hati, jatuh cinta, benci, rindu, memuja Tuhan, cinta tanah air, dan sebagainya.

Jadi, ketika pemusik memainkan lagunya, sementara penontonnya ribut sendiri, sama sekali tak merespons dan tak hirau pada bunyi yang dihadirkan, artinya pemusik itu gagal mengekspresikan perasaannya. Pertanyaannya kemudian adalah: kenapa dia gagal mengekspresikan? Karena pemusik tersebut tidak mengenal dengan baik karakter bunyi.

Ada empat karakter bunyi, yaitu pitch (tinggi rendah bunyi); durasi (panjang pendek bunyi); intensitas bunyi (tingkatan keras lemah suara), dan tone colour (pilihan warna bunyi yang berbeda beda).

Dengan memahami keempat karakter bunyi tersebut, sang pemusik akan dapat memilh pola ritme, pola melodi, dinamika keras lemah, dan warna bunyi yang pas dan tepat untuk mengekspresikan perasaannya. Pemusik “masa kini” (kontemporer) bahkan sudah tak merasa cukup dengan tone colour yang ada pada alat musik konvensional. Karenanya, mereka mencari warna warni bunyi yang baru untuk lebih bisa mengekspresikan gejolak perasaannya yang tak tertampung dialat musik konvensional tadi.

Nasionalisme adalah paham kebangsaan. Khusus nasionalisme Indonesia, jiwanya ada pada penghormatan kepada perbedaan. Bangsa Indonesia sadar betul akan multietnik, multikultur, multiagama, multilingual yang ada di Indonesia. Sehingga penghargaan kepada kebhinekaan tanpa membedakan latar belakang suku, agama, warna kulit, asal usul, dan lain-lain menjadi prinsip hidup bangsa Indonesia.

Bung Karno punya rumusan yang lebih mencakup: Kita mendirikan dan membangun negara “semua buat semua”.

Menghubungkan dan mencari benang merah antara MUSIK dengan NASIONALISME/PATRIOTISME, menurut saya, adalah bagaimana meningkatkan semangat nasionalisme/patriotisme melalui ciptaan ciptaan musik. Atau, bagaimana sebuah ciptaan musik dapat mengobarkan semangat nasionalisme/patriotisme.

Sebagai perumpamaan adalah lagu HALO-HALO BANDUNG. Setelah Bandung dibumihanguskan oleh pejuang, api berkobar di mana mana. Jadilah Bandung lautan api. Suasana ini yang mengilhami Ismail Marzuki menulis lagu tersebut. Pola ritme yang menghentak dan melodi yang sedikit demi sedikit merambat naik menuju klimaks inilah membakar semangat patriotik para pejuang.

Cerita selanjutnya bisa kita baca di buku-buku sejarah perjuangan bagaimana pejuang bangkit untuk merebut kembali kota Bandung dari tangan penjajah.

Contoh yang lain: lagu INDONESIA RAYA. Banyak yang mengkritik Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan yang terlalu panjang. Yang lain menyebutkan lagu dengan ambitus (wilayah suara) yang terlalu luas.

Yang paling menyentuh adalah bahwa lagu Indonesia Raya hampir 100 persen sama dengan lagu Pinda-Pinda Lekka-Lekka di Negeri Belanda dan Boola-Boola di Amerika Serikat (Amir Pasaribu: Analisis Musik Indonesia, halaman 55, penerbit PT Panca Simpati Jakarta 1986).

Tetapi, terlepas dari “kekurangannya”, Indonesia Raya terbukti mampu membakar semangat nasionalisme/patriotisme rakyat Indonesia sejak lagu itu dikumandangkan. Indonesia Raya juga telah dapat mempersatukan seluruh bangsa Indonesia.

Masih tentang Indonesia Raya. Tahun 1953 Koesbini (komponis) membawa persoalan Indonesia Raya yang mirip dengan Lekka-Lekka kehadapan Presiden Soekarno. Bung Karno meradang. Koesbini disemprot: “Hey Koes! Kamu seniman yang tidak punya kesadaran politik. Apa yang sudah diterima secara politis, jangan dipersoalkan secara estetis!”

Bung Karno sadar betul, Indonesia Raya telah mampu menimbulkan semangat nasionalisme dan patriotisme pada bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jadi, tidak perlu dipersoalkan lagi. Dilematis memang. Sebagai seniman, Koesbini tentu ingin dan berhak mengkritisi sebuah karya seni, namun tuntutan politik nasional membuat Koesbini terpaksa meredam semangat kritisnya. Apa boleh buat....

Tapi peristiwa ini makin menyadarkan kita bahwa memang ada kaitan musik dengan asionalisme. Di tahun 1960-an Bung Karno mengirim Koes Bersaudara (grup musik paling top saat itu) ke dalam bui karena lagu-lagunya dianggap tidak mencerminkan semangat nasionalisme.

Namun, ketika Koes Bersaudara berganti menjadi Koes Plus justru lagu-lagunya sangat nasionalistis.Tengok saja lagu Kolam Susu atau Nusantara I, Nusantara II, Nusantara III, Nusantara IV. Selain lagunya bagus, pesan syairnya bagus.

Terakhir pengalaman pribadi saya. Tahun 1995 saya tergabung dalam tim Paduan Suara Jawa Timur ke International Youth Chorus Festival di Jepang. Rombongan berangkat tanggal 16 Agustus, sampai di Osaka tanggal 17 Agustus. Baru disadari bahwa hari itu adalah hari Kemerdekaan RI. Keputusan segera diambil, kami akan adakan upacara sendiri.

Jadilah sebuah upacara kenegaraan HUT kemerdekaan RI diselenggarakan di lobi Hotel Grand Osaka dengan sangat sederhana. Tiang benderanya menggunakan tripod, benderanya kecil saja, karena cuma itu yang kami punya. Namun, terasa paling khidmat sepanjang sejarah hidup saya.

Yang paling mengharukan adalah ketika kami harus menyanyikan Indonesia Raya. Semua menangis. Perasaan kebangsaan kami (sekitar 20 orang) menebal. Sesuatu yang barangkali tak pernah terjadi sebelumnya.

Jadi, memang ada sambungan antara musik dan nasionalisme. (*)

No comments:

Post a Comment