24 December 2009

Joss Wibisono Mengulas Edjaan Suwandi



Bung Lambertus Hurek jang budiman,

Salam dari Amsterdam jang serba putih, karena ditutupi saldju berat. Ini untuk pertama kalinja sedjak 1995 pada pertengahan bulan Desember sudah turun saldju. Selama ini, mungkin akibat bumi jang memanas, saldju biasanja baru turun bulan Maret, mendjelang achir musim dingin. Mungkin untuk menghormati KTT Iklim di Kopenhagen, saldju sekarang sudah turun.

Untunglah Anda bukan warga XXX. Seandainja Anda mampu, saja akan tetap mendesak supaja Anda tidak beli rumah di sana. Itu akan sangat memuakkan. Kentara sekali, warga XXX itu tidak bisa membedakan antara ekslusivitas dengan hal2 jang memuakkan itu.

Djelas dalam soal bahasa kita punja keprihatinan jang sama. Dalam kesempatan ini saja ingin menulis mengapa saja lebih senang dengan Edjaan Suwandi. Sudah saja katakan bahwa edjaan itu lebih nasionalis.

Pertama, sebagai koreksi terhadap edjaan Van Ophuijsen, edjaan Suwandi ingin mendjauh dari hal-hal jang ke-belanda2an. Tetapi edjaan ini djuga tahu tidak bisa sepenuhnja lepas dari pengaruh asing, karena itu jang ditempuh adalah mentjari keseimbangan antara jang asing dan jang Indonesia. Djadi tidak sepenuhnja anti asing dan tidak sepenuhnja fanatik pada jang Indonesia.

Inilah nasionalisme jang menarik bagi saja. Bukan nasionalisme jang pitjik, karena anti asing dan meng-unggul2kan jang Indonesia, tetapi nasionalisme jang djuga menghargai pentingnja pengaruh asing.

EYD menurut saja tidak begitu. Pertama, EYD, sedjalan dengan Malaysia sebagai mitranja, memihak bahasa Inggris. Ini berbahaja, karena dengan begitu Indonesia akan melupakan asal-usul edjaan bahasanja jang adalah edjaan Belanda. Pasti tidak banjak orang Indonesia jang tahu kenapa di Malaysia mereka punja Parti Keadilan dan kita punja Partai Demokrat.

Dan begitu EYD diberlakukan, kawula muda tidak tertarik lagi pada batjaan2 zaman dulu, batjaan2 jang bernilai sedjarah. Di sinilah makna EYD jang sebenarnja: menutup gerbang sedjarah dari pemilik sedjarah itu sendiri, apalagi kawula mudanja. Dan itu menurut saja sengadja dilakukan oleh orde baru harto.

Sebagai penguasa mutlak dan se-wenang2 harto merasa harus menguasai pikiran orang. Dan tidak ada tjara lain dalam menguasai pikiran itu ketjuali menguasai bahasa. Kenapa? Karena orang berpikir dalam bahasa. Begitu bahasa dikuasai maka pikiran orangpun djuga akan terkuasai.

Menguasai bahasa bukan hanja mengeluarkan kosa kata jang diharuskan oleh penguasa (zaman harto Pembangunan, Pantjasila, UUD 45 dan taik kutjing lainnja), tetapi djuga melalui edjaan jang diwadjibkannja.

EYD itu bisa sadja akan diberlakukan tanpa perduli harto pegang kuwasa atow tidak. Maklum wektu itu sudah ada kerdjasama di bidang bahasa antara Indonesia dan Malaysia. Tetapi, djustru dengan keluarnja EYD inilah jang dimanfaatkan oleh harto orde baru. EYD itu laksana buah jang turun dari sorgaloka untuk dipakai melanggengkan kekuasaan mereka.

Dalam surat elektronik ini saja sertakan versi pertama tulisan saja tentang hal ini. Saja tidak pernah mengirimkannja ke mana2, karena tahu pasti tidak akan dimuat. Ini djuga tjuma upaja pertama saja menuliskan keprihatinan itu.

Kembali ke soal generasi muda jang oleh EYD makin dibuat buta sedjarah, di sini saja akan berpaling kepada nama jang sempat anda sebut pada email Anda, itulah Benedict Anderson. Saja kaget sekaligus kagum Anda mengutip nama guru dan sahabat saja jang satu ini. Dalam naskah tulisannja tentang Suharto (diterbitkan oleh New Left Review http://www.newleftreview.org/?view=2714) Anderson memakai satu istilah jang sangat menarik: historical lobotomy.

Saja tidak tahu apa bahasa Indonesianja jang tepat. Tetapi ini kurang lebih berarti kehampaan, djadi maksudnja generasi muda Indonesia (produk orde baru) menderita apa jang disebut kehampaan sedjarah. Itu antara lain disebabkan oleh bahasa dan edjaan tadi. Sajang ketika tulisan itu terbit di New Left Review, istilah historical lobotomy tidak digunakan lagi.

Sebagai orang jang sedikit banjak mengikuti pikiran Benedict Anderson, saja tidak setudju dengan pernjataan Anda bahwa "Benedict Anderson yang di USA itu malah kampanye kembali ke ejaan Belanda ala Tuan Van Ophuijsen berikut bahasa Melayu tempo doeloe yang lazim dipakai di Indonesia Timur itu".

Tidak, bukan begitu. Anderson sepenuhnja sadar betapa Van Ophuijsen djuga memperkosa bahasa Melajoe supaja bisa menenangkan orang2 di Hindia Belanda dalam kekuasaan kolonial. Satu tjontoh sadja, sebuah pantun dari zaman dulu:

Kaloek toewan djalan dahoeloe
Tjaharikan saja daoen kambodja
Kaloek toewan mati dahoeloe
Nantikan saja di pintoe soewarga


Apa makna kata toewan di atas?

Tidak lain adalah "Anda" untuk zaman sekarang. Tetapi, toewan sekarang sudah setara dengan kata meneer dalam bahasa Belanda atau mister dalam bahasa Inggris. Padahal dulu tidak. Maka bukan sadja Van Ophuijsen sudah merubah makna kata toewan, ia djuga sudah memberikan djenis kelamin kepada kata itu.

Djadi ada aspek gendernja. Padahal dulu tidak. Dulu toewan bisa dipakai untuk menjebut seorang pria maupun seorang wanita. Sekarang sudah tidak mungkin lagi.

Itulah salah satu ulah djahat jang dibikin oleh Van Ophuijsen, dan saja tahu pasti, Ben Anderson sadar akan hal ini. Makanja tidak mungkin dia mengusulkan dipakai kembali edjaan Belanda kurang adjar itu. Jang diusulkannja adalah edjaan Suwandi.

Anda djuga bisa bertanja kepada salah satu muridnja Ben Anderson. Dia tinggal di Surabaja, itulah Dédé Oetomo. Silahkan tanja pada dia soal apakah Ben Anderson memang pro edjaan Van Ophuijsen.

Demikian dulu tjorat-tjoret saja. Moga2 anda tidak enggan membatjanja, apalagi karena di bagian achir rasanja saja sudah berchotbah. Terima kasih atas perhatian anda. Senang bisa berkorespondensi dengan Anda.


Salam,

Joss Wibisono
Radio Nederland Seksi Indonesia

5 comments:

  1. Bang bernie

    saya mau mengucapkan Selamat Merayakan Natal. Semoga natal ini dipenuhi kebahagiaan dan kegembiraan dan kedamaian.

    Salam dari pulau kecil :)

    ReplyDelete
  2. hi.. just dropping by here... have a nice day! http://kantahanan.blogspot.com/

    ReplyDelete
  3. aku kira EYD udah bagus. gak usah kembali ke jadul gitu. kacau!!!!

    ReplyDelete
  4. Abang Hurek...

    Kame sekeluarga pia Samarinda mengucapkan Selamat Hari Natal 25 des 2009 dan Tahun Baru 1 januari 2010.Semoga tite wahan kae si ata lewuka dan rae lewo tanah..onet mela-mela untuk membawa damai.
    Damai si onet,damai toon ata wahan kae...dan Damai Di bumi.

    Salam,
    sosinus & Keluarga
    Samarinda

    ReplyDelete
  5. Menarik sekali ulasan bung Joss Wibisono perihal ejaan Suwandi dan teori2 di balik pemberlakuan EYD oleh rezim Pak Harto.

    ReplyDelete