22 December 2009

Jamas Keris Pusaka



Bulan Suro sangat penting bagi wong Jowo yang menghayati “kejawaannya”. Maklum, orang Jawa itu tidak semuanya suka budayanya sendiri. Terlalu banyak orang Jawa menilai budayanya sebagai "berbau klenik, takhayul, gaib, mistik, supranatural".

Maka, tahun baru Jawa, 1 Suro, di Surabaya dan Sidoarjo--yang "kejawaannya" kurang kental--kurang meriah. Beda dengan di Jogjakarta, Surakarta, atau daerah-daerah di Jawa Timur bagian barat alias kulonan. Salah satu ritual wajib suroan adalah jamas pusaka dan kirab pusaka.

"Itu tradisi turun-temurun yang harus dilestarikan," kata Syafii Prawirosedono, pelukis wayang asal Blitar, kepada saya.

Cak Syafii tergolong sibuk selama bulan Suro. Dia menjamas benda-benda pusakanya sendiri dan menjamas benda-benda pusaka, khususnya keris, milik orang lain. Keliling Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan kota-kota lain demi melestarikan budaya Jawa yang makin tergerus budaya Barat.

Cak Syafii bahkan pernah diundang ke Singapura oleh Haji Raja Sadam. Orang Melayu-Singapura ini punya koleksi lebih dari 2.000 keris. Pak Raja kerap memburu keris-keris terbaik di berbagai daerah di Jawa.

"Selama dua bulan saya mengidentifikasi keris-keris koleksi beliau. Pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan," ceritanya.

Selain Cak Syafii, Eyang Thalib Prasojo di Sidoarjo juga sibuk membersihkan [menjamas] benda-benda pusakanya setiap Suro. Kemarin, saat mampir ke Sanggar Akar Rumput di tepi Kali Pucang, Sidoarjo, seniman patung dan sketsa ini lagi sibuk membersihkan begitu banyak keris. Pusaka-pusaka itu kemudian dijejer di sanggar yang juga ruang pamer karya seninya.

Indah sekali. Kita bisa menikmati karya-karya wayang suket khas Eyang Thalib, kemudian keris-keris aneka rupa yang jarang dikeluarkan. "Ini memang tradisi yang selalu kami pelihara dari tahun ke tahun," kata si Eyang.

No comments:

Post a Comment