24 December 2009

Gamelan Hampir Mati di Djawa


Tadi saja baru lihat di koran KOMPAS edisi Djawa Timur ada gambar orang Amerika Serikat lagi mendalang. Dia pakai pakaian adat Djawa lajaknya dalang2 wajang kulit biasa. Tidak ada tjerita lebih djauh di koran. Tapi saja bisa membajangkan Tuan Amerika itu bisa mendalang dengan baik. Standarlah!

Seperti biasa, saja lalu bandingkan dengan anak2 muda zaman sekarang di Surabaja, Sidoardjo, Gresik. Saja djuga perhatikan atjara2 di televisi. Mana ada jang suka wajang kulit? Mana ada program kesenian tradisional di televisi? Tak usah djadi dalang, karena itu sulit dan butuh latihan lamaaaa... dan bakat jang sangat besar. Tjukup djadi penikmat sadja deh!

Wow, sangat sedikit orang2 muda jang suka nonton wajang kulit dengan sinden2 jang aju dan kadang2 genit. "Orang Djawa sudah hilang kedjawaannja," berkata Pak Harjadji, pelukis senior jang masih suka kesenian tradisional.

"Orang Djawa tinggal tiga," kata Ibu Siti Rijati, pelukis tua djuga, jang saya adjak omong2 di rumahnya, Ngagel Djaja Selatan Surabaja. "Dulu orang2 Djawa banyak di kompleks perumahan ini, sekarang tinggal tiga. Dulu orang Djawa suka gamelan, wajang kulit... sekarang nggak gitu lagi."

Musik gamelan adalah musik jang indah. Begitu antara lain tulisan Djoko Pitono, wartawan senior, pengamat bahasa dan kebudajaan di Radar Surabaja edisi 15 November 2009. Begitu bagusnja musik gamelan--bagi jang suka tentu sadja--orang bisa menikmati musik ala Djawa ini ber-djam2 lamanja. Semalam suntuk duduk manis untuk mendengar musik plus melirik tante2 sinden berolah suara.

Bahkan, sedjak dulu orang2 Barat jang punja tradisi musik berbeda ikut senang dengan gamelan. Mereka bahkan beladjar, menekuni, dan akhirnya mahir main musik Djawa. Djoko Pitono menjebut nama George McTurnan Kahin (1918-2000), ahli politik dari Amerika Serikat. Tuan Kahin ini sangat piawai dalam studi Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Nah, beliau ini ikut mempopulerkan gamelan dan wajang kulit di kampusnya, Universitas Cornell di Amerika sana.

Bahwa sekarang sudah mulai muncul orang2 Amerika jang bisa main gamelan, djadi dalang, itu antara lain berkat djasa almarhum George Kahin. Barangkali di telinga orang2 Barat jang modern itu, gamelan ibarat musik dari surga, musiknja para dewa. Eksotis. Beda dengan musik klasik Barat, jazz, rock, pop, soul, hip-hop... jang disebarkan secara masif di seluruh dunia. Musik hiburan ala Barat jang sekarang bikin mabuk anak2 muda di seluruh dunia ini.

Jah, mau bilang apa lagi? Dunia memang sudah berubah luar biasa. Musik gamelan jang katanja indah dan eksotik itu sudah hampir musnah. Anak2 muda di Djawa sudah kurang berminat. Bahkan, tidak punja apresiasi sedikit pun pada kesenian adilihung warisan nenek mojangnja.

Djoko Pitono menulis:

"Banjak orang Djawa sendiri jang asing dengan gamelan. Bahkan, ada orang Djawa jang mengharamkannja. Tidak sedikit anak2 muda Djawa jang seolah antipati dengan musik gamelan. Telinga mereka tak mau menerima musik tradisional ini...."

1 comment:

  1. sayang ya..dulu wktu SMA ikut ekskul gamelan di skolah dan rasany fun bgt...padahal bukan org jawa..apa harus diambil sm negara lain br rasa nasionalismenya berkobar..hadeeehh

    ReplyDelete