03 December 2009

Bonar Gultom alias Gorga

Namanya BONAR GULTOM, akrab disapa GORGA. Paman GORGA. Lahir di Tapanuli, Sumatera Utara, 75 tahun silam. Usia memang terbilang senja, tapi artikulasi Paman Gorga ini jelas dan tegas. Selalu bersemangat dan penuh optimisme.

Di kalangan aktivis paduan suara di tanah air, baik paduan suara gereja maupun paduan suara umum, nama ini tak asing lagi. Dia salah satu komposer paduan suara paling produktif yang dipunyai Indonesia.

Yah, harus diakui, orang Batak memang dikarunia talenta musik yang luar biasa dari Tuhan. Ketika orang-orang dari etnis lain belum mengerti ABC-nya musik, teknik vokal klasik, ilmu harmoni, kontrapung, suara diskan-baskan... saudara-saudara kita dari Tapanuli ini sudah tahu. Dan mereka menulis begitu banyak komposisi musik vokal yang indah.

Saya sendiri mulai tertarik dengan Paman Gorga ketika masih kuliah di Jember. Suatu ketika saya mendapat kiriman partitur paduan suara dari teman Shinta, pengurus Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia. Lalu, saya temukan beberapa komposisi yang diaransemen Gorga seperti SITOGOL dan KETABO. Dua lagu daerah Batak ini diolah secara apik dengan sentuhan gondang batak dan harmoni Barat yang modern.

Sampai sekarang saya tidak lupa partitur yang ditulis tangan, pakai huruf miring ke kanan, oleh Bonar Gultom alias Gorga itu. Dan ketika menyaksikan konser sejumlah paduan suara, khususnya di lingkungan gereja, sadarlah saya bahwa Gorga sangat menonjol. Lagu-lagunya yang menggunakan nada-nada etnis Batak sangat disukai.

"Gorga itu komposer yang berpengaruh di kalangan gereja. Komposisi-komposisinya selalu unik dan khas," ujar Aris Sudibyo, mantan dirigen dan pelatih Paduan Suara Universitas Kristen Petra Surabaya.

Aris yang masih muda ini, menurut saya, merupakan salah satu pelatih paduan suara terbaik di Indonesia. Dialah yang membuat PSM UK Petra Surabaya kerap menjuarai festival-festival paduan suara baik di tingkat nasional maupun internasional.

Nah, awal Desember 2009 ini, saya berkesempatan berbicara lewat telepon dengan Bapak Bonar Gultom alias Gorga. Meskipun tak pernah bertemu, tak pernah bertelepon sebelumnya, Pak Gorga sangat antusias. "Saya sedang mempelajari partitur yang Bapak tulis di buku ARBAB. Lagu nomor satu, ARBAB, sangat dinamis dan cerah. Sangat terasa gaya Tapanulinya," ujar saya di telepon.

Sebagai catatan, Pak Gorga baru saja merilis tiga buku aransemen paduan suara berjudul ARBAB (nama sejenis alat musik). Ada paduan suara campuran (sopran, alto, tenor, bas), paduan suara pria, dan paduan suara wanita. Ada ARBAB yang versi bahasa Indonesia dan bahasa Batak. Sebagian besar lagu-lagu itu sudah populer di kalangan gereja yang punya pembinaan paduan suara yang baik.

Sudah berapa banyak komposisi paduan suara yang Bapak tulis?

"Banyak sekali. Kurang lebih 150 lagu baik untuk paduan suara gereja maupun umum. Saya juga menggarap pesanan himne dan mars dari sejumlah instansi," ujar sarjana ekonomi lulusan Universitas Indonesia itu. Perhatikan: sarjana ekonomi, bukan sarjana musik.

Di sinilah menariknya seniman-seniman Batak dan komposer-komposer senior kita di Indonesia pada umumnya. Mereka menekuni musik paduan suara atau musik vokal klasik karena CINTA, bukan lantaran latar belakang pendidikan musik. "Om ini tidak sekolah musik. Om hanya otodidak," aku Pak Gorga yang aktif menulis komposisi paduan suara sejak 1960-an itu.

Lantas, belajar dari mana? Sebab, komposisi-komposisi Pak Gorga bukan sembarang komposisi. Semuanya digarap dengan detail mulai intro, sopran, alto, tenor, bas, variasi, interlude, hingga coda. Pak Gorga mengaku belajar dari buku-buku, ikut seminar, kursus, minta masukan dari musisi senior. Itu semua kemudian diolah menjadi komposisi paduan suara.

Selain kor empat suara, Pak Gorga membuat aransemen paduan suara untuk lagu-lagu yang sudah ada. Contohnya, ya, lagu-lagu daerah macam SITOGOL atau KETABO tadi. Imajinasinya sangat kuat. Ini membuat nada-nada yang dibayangkan Pak Gorga selalu "berbunyi" dalam pikirannya. Bunyi sopran, alto, tenor, bas, kemudian harmoni yang dibunyikan bersama-sama. Jadi, praktis komposisi paduan suara itu sudah selesai sebelum ditulis di atas kertas.

Ketika menulis aransemen paduan suara di atas kertas, pakai tulisan tangan miring, gaya orang lama, Pak Gorga sebenarnya hanya memindahkan komposisi yang sudah tuntas di alam pikirannya. Tak butuh waktu lama. Saya yakin saat ini sudah banyak lagi komposisi yang tinggal menunggu dituangkan di atas kertas.

Bagi Pak Gorga, komposisi paduan suara itu harus bisa dinyanyikan. Partitur bukanlah barang pajangan di dalam lemari. Maka, Pak Gorga mengaku menulis aransemen-aransemen paduan suara yang tidak terlalu sulit, ruwet, berbelit-belit. Tapi sebaliknya juga tidak remeh-temeh alias kacangan karena tidak punya tantangan.

"Lagu-lagu saya dinyanyikan di mana-mana: Jawa, luar Jawa, bahkan di Indonesia Timur, sangat populer. Itu berarti paduan suara mereka tidak sulit membawakan," tegas Pak Gorga menjawab pertanyaan saya.

Ini penting karena ada kecenderungan sejumlah paduan suara di Indonesia cenderung "sok klasik", menjajal komposisi-komposisi klasik Barat yang ruwet, dan mengabaikan komposisi berlatar belakang musik etnik Nusantara. Kor-kor tersebut, yang kini biasa disebut CHOIR [agar lebih keren dan kebarat-baratan], pun menjadi elitis. Tinggal di menara gading keangkuhan.

"Silakan yang klasik-klasik itu jalan. Tapi kita jangan lupa bahwa kita punya kekayaan musik yang luar biasa. Tinggal kita olah saja menjadi komposisi musik paduan suara," ujar Pak Gorga.

Pak Gorga merasa bersyukur karena lagu-lagunya telah banyak memberi berkat bagi banyak orang. Belum lama ini sebuah paduan suara di Nusatenggara Timur (NTT) melakukan aksi malam dana pembangunan gereja di Pulau Rote. Hasilnya sangat memuaskan. Dana pun terkumpul sehingga rumah ibadat itu pun dibangun. "Saya bersyukur sekali mendapat telepon dari pengurus paduan suara di NTT," katanya.

Sudah banyak memang apresiasi dari para aktivis paduan suara, bahkan musisi Indonesia, atas karya-karya Bonar Gultom alias Gorga. Berikut beberapa di antaranya:

UTHA LIKUMAHUA, penyanyi terkenal, musisi jazz:

"Figur Pak Bonar itu rendah hati. Lagu-lagu karyanya begitu bagus dan bisa dibawa masuk dalam situasi aransemen yang bagaimana pun: klasik, pop, atau apa pun. Loncatan-loncatan melodinya sangat khas, indah, dinamis, bahkan grande! Dan nunasa etnis Bataknya sangat kental dan tidak pernah hilang."

Dr. ALFRED SIMANJUNTAK, komponis, tokoh musik gerejawi, pencipta lagu BANGUN PEMUDI-PEMUDA:

"Bonar Gultom alias Gorga itu pencipta lagu yang hebat. Dalam ritmis dia bagus. Melodinya bagus. Wilayah nada-nadanya bagus. Loncatan-loncatan oktafnya bagus. Pokoknya, buat saya, Pak Bonar Gultom itu salah seorang komponis terbaik masa kini."

Akhirnya, saya menutup catatan pendek ini dengan mengutip kata-kata Pak Gorga dalam bahasa Batak:

"ENDEHONONKU MA JAHOWA SALELENG DI NGOLUNGKU. UMPALU PARHINALOAN MA AHU AMPUJI DEBATANGKU, SALELENG ADONG DOPE AHU".

BONAR GULTOM (GORGA)

Jalan Ayahanda 57
Pondok Kelapa, Jakarta Timur

12 comments:

  1. Horas Pak Gorga
    Semoga sehat selalu dan panjang umur

    GBUs

    ReplyDelete
  2. Horas Amang,
    Mau minta tolong dikirimkan Lagu-lagu Paduan Suara ke email saya : m4mby_adv_med@yahoo.co.id. Kalo boleh semuanya ya amang, ciptaan amang semuanya bagus-bagus. Dan kami di HKBP Tegal Rejo mau menyanyikannya, kalo rencana kami mau menyanyikannya satu persatu setiap minggu Gereja. Sekalian memperkenalkan Lagu-lagu ciptaan amang.
    Mauliate ma amang, dame ma dihita saluhutna. Amen.GBU

    ReplyDelete
  3. Maaf beribu maaf kepada semua yg menulis ttg saya atau mengkontak saya di "blog" ini (blog namanya ya?), soalnya saya baru buka dan baca hari ini Selasa 19 Fepruari 2013!!! Percaya atau tidak, itupun secara kebetulan karena lagi iseng utak-atik internet. Saya gak pernah tahu bahwa ada "blog" ini makanya membacanyapun gak pernah. Termakasih kepada Sdr. Hurek. Aku sendiri sudah lupa (maklum sekarang sudah 79 tahun)kapan kita pernah bicara. Pada sdr. Mamby dll yg membutuhkan lagu2 saya, semua sudah tertulis dalam 11 buku terbitan Yayasan Musik Gereja (YAMUGER: tel. 021-4897623) atau bisa didadapat di semua Toko2 Buku Kristen di Indonesia. Kalau saya sendiri yg harus mengirimkan kepada sdr. agak susah bukan karena tak mau, tetapi karena sudah lansia. Ayam sore yaaa..... !!!

    ReplyDelete
  4. Horas Ompung Bonar!!! saya baru sadar kalau Ompung Bonar pernah nulis komen di blog yg hebat ini... hutangiangkon asa sehat jala dipasu-pasu Tuhan ma hamu dohot ompung boru dohot pomparanmu sude (saya doakan semoga anda dan keluarga sehat dan selalu dirahmati oleh Tuhan)...

    om hurek, ompung Bonar ini saya ingat betul pada tahun 2002 (atau 2003 yah??? aku agak lupa), beliau menghadari Pesparawi di gereja kami (GKI Agus Salim, Bekasi)... waktu itu orang tua saya dan kawan2 paduan suara sewilayah berlomba bersama wilayah lainnya dalam menampilkan yg terbaik dalam memuji Tuhan... dan lagu wajibnya ya lagunya ompung Bonar: "Pujilah Allah di Tempat Kudus-Nya" (diambil dari Mazmur 15)... lagu pilihannya ada 2 walaupun dua-duanya bukan lagunya ompung Bonar, yaitu "Maukah Kau Jaya Atas Seteru" (dari buku NKB) dan "Betapa Kita Tidak Bersyukur" (karya mendiang Subronto Kusumo Atmojo, juga ada di buku Puji Syukur Katolik)...

    dan di akhir acara, paduan suara dari 7 wilayah tampil di depan bersama-sama menyanyikan "Pujilah Allah di Tempat Kudus-Nya" dan dirigennya adalah ompung Bonar... indah sekali...

    dan tidak salah jika om hurek menyebut lagu "Arbab" dalam postingan ini... "Arbab" adalah lagu yg hebat juga, dgn aransemen ala Batak yg khas... dengar2 kawan2 Katolik juga suka pake lagu ini ketika komuni atau lagu penutup, terutama pada misa inkulturasi...

    ibu saya punya buku kumpulan aransemen paduan suara ompung Bonar... kalo om hurek berminat, biar tak copy, hehehe...

    lagu favorit saya adalah "Ahu do dalan i" (ada juga versi Indonesia, judulnya "Aku Inilah Jalan")... merinding denger lagu itu, hehehe...

    sekian ya om...

    ReplyDelete
  5. RIP Amang Bonar Gultom

    ReplyDelete
  6. RIP Amang Bonar Gultom (Gorga)
    Maestro Komposer Batak, tadi malam 28 Maret 2016, jam 20.56 WIB

    ReplyDelete
  7. Selamat jalan om Gorga.. semoga bahagia bersama sang Maha Pencipta. Terima kasih atas pengabdian anda selama puluhan tahun untuk mengembangkan musik gerejawi di Indonesia. RIP

    ReplyDelete
  8. Luar biasa karya-karya amang Bonar Gultom , sangat fenomenal dan kita selalu kagum pada ciptaan amang Gorga ini. Ketika amang di dunia ini, mencipta lagu untuk kemuliaan Tuhan, berartti di sorga pun suara dan karya2mu didengar oleh Bapa di sorga. Tenanglah disisi Tuhan. Saya yakin dan percaya Bapa disorga akan mengirim dan melahirkan Bonar Gultom kecil kelak bagi umatNya, bagi orang Batak, bagi orang yang selalu rindu memuji Tuhan.

    ReplyDelete
  9. Selamat jalan ke pangkuan Bapa di sorga

    ReplyDelete
  10. Rest in peace dear Tulang Gorga, God have called you back to His Glory. I give thanks to The Lord for time He allowed you with us, to create a beautiful songs to gloryfy His name. Glory to God, Jesus Christ, I believed God also has a beautiful plan for us who left here until we meet again in heaven above

    ReplyDelete
  11. Rest in peace dear Tulang Gorga, God have called you back to His Glory. I give thanks to The Lord for time He allowed you with us, to create a beautiful songs to gloryfy His name. Glory to God, Jesus Christ, I believed God also has a beautiful plan for us who left here until we meet again in heaven above

    ReplyDelete