14 December 2009

Bahasa dan Nasionalisme

Plong rasanya membaca tulisan Joss Wibisono di rubrik BAHASA majalah TEMPO edisi 13 Desember 2009. Unek-unek saya selama ini langsung dijawab Pak Joss, penyiar Radio Nederland di Hilversum, Belanda, itu.

Sejak dulu saya gemar Ranesi [Radio Nederland Seksi Indonesia), sehingga saya bisa mengikuti jalan pikiran Joss Wibisono.

Pak Joss sudah puluhan tahun tinggal di Eropa. Bahasa Indonesianya bagus, beliau juga fasih beberapa bahasa di Eropa. Tapi, lewat tulisan di TEMPO, Joss Wibisono mengungkapkan kegundahannya melihat perkembangan bahasa Indonesia mutakhir. Bahasa yang makin dijejali istilah atau frase bahasa Inggris. Comot sana-sini asal gaya biar terkesan keren dan modern.

Joss Wibisono menulis:

“Dengan sengaja dan serakah orang Indonesia memasukkan bahasa Inggris ke dalam bahasanya. Bahkan, untuk menyebut tempat-tempat asing, kita harus tunduk pada bahasa itu [bahasa Inggris].”

Joss memberikan beberapa contoh. Kalau kita sudah punya sebutan WINA, ibukota Austria, kenapa harus VIENNA. JENEWA, kenapa harus GENEVA. Orang Wina sendiri menyebut nama kotanya dengan WIEN. Orang JENEWA sendiri menyebut kotanya dengan GENEVE [baca: ZHENEV].

Telepon genggam kita sebut HP, singkatan HANDPHONE, padahal orang Inggris dan Amerika Serikat menyebutnya MOBILE PHONE atau CELLULAR PHONE.

Teman-teman di gereja sekarang tidak lagi menyebut PADUAN SUARA atau KOR [dari KOOR, bahasa Belanda], tapi CHOIR. Gereja Santo Paulus disebut Saint Paul Church.

DIRIGEN disebut CONDUCTOR. Penyanyi disebut SINGER. Tema konser Natal bukan lagi KEMULIAAN KEPADA ALLAH DI SURGA, tapi sudah berubah menjadi GLORY TO GOD IN THE HIGHEST.

Wah, wah...

Lama-lama Alkitab berbahasa Indonesia yang sudah mengakar di tanah air sejak 1930-an harus ditarik dan diganti HOLY BIBLE dari American Bible Society.

Sejumlah pengumuman yang saya baca di Gereja Katolik, khususnya yang dibuat anak-anak muda, menggunakan bahasa gado-gado: Inggris, Indonesia, Jawa, Betawi. SINGAPURA disebut SINGAPORE. Di Surabaya ada perumahan yang menyebut dirinya THE SINGAPORE OF SURABAYA.

“Nggilani,” kata teman saya di kawasan Aloha.

Mengapa orang Indonesia makin “serakah” memasukkan bahasa Inggris mentah-mentah ke dalam bahasanya?

Joss Wibisono menyebutnya sebagai krisis nasionalisme. “Nasionalisme kita sekarang cuma tinggal soal wilayah, bukan keindonesiaan kita yang lain, terutama bahasa,” tulis Joss Wibisono.

Nah!

1 comment:

  1. Wah, saya baca juga artikel yang itu, bang Hurek. Kita orang Indonesia sudah semakin kehilangan ke-Indonesiaannya. Sama halnya dengan keadaan fisik. Perempuan yang dianggap cantik adalah perempuan yang bertampang Indo, rambut agak pirang dan berkulit seputih salju. Hilanglah sudah kecantikan khas Indonesia dengan kulit agak gelap dan rambut hitam legam.

    Sampai kapan krisis kepercayaan ini akan berlangsung ya?

    Oh ya, apa artinya Ata Kiwa itu bang Hurek?

    ReplyDelete