04 November 2009

Selamat Jalan Ellya Khadam



Oleh SURYA AKA
Jurnalis JTV Surabaya, Wakil Ketua DPD PAMMI Jatim
Sumber: Radar Surabaya, 4 November 2009

Hatiku gembira
riang tak terkira
mendengar berita
kabar yang bahagia

Ayahku kan tiba
datang dari India
membawa boneka
yang indah jelita
Oh sayang…


Itulah bait pertama lirik ’Boneka dari India’ milik Ellya Khadam, yang sangat terkenal di tahun 1960-an. Kini Bunda Hajah Ellya yang bernama asli Siti Alya Khusna itu tiada. Dunia dangdut Indonesia kembali berduka, setelah dua pekan lalu Meggy 'Ayah' Zakaria dipanggil Allah SWT.

Ellya yang merupakan salah satu artis dangdut generasi pertama itu, meninggal Senin (2/11/2009) sekitar pukul 20.00 WIB. Innalillahi wainna ilahi rajiun.

Boleh dibilang Ellya Khadam termasuk salah satu perintis pertama dunia dangdut di Indonesia. Ellya yang kelahiran 1939, sudah menyanyi di era dangdut masih bernama Orkes Melayu, di tahun 1960 an, bersama Orkes Melayu Kelanaria.

Saat itu menyanyi bukanlah pekerjaan mudah. Karena situasi politik yang tidak menentu. Ditambah lagi, tiap pertunjukan orkes melayu hanya ditanggap orang nikahan kelas bawah. Itu pun pasti bukan orang kaya atau terpandang.

Meski demikian, Elya berhasil menelorkan beberapa album piringan hitam dengan lagu hitsnya, ''Boneka dari India.'' Kemudian ''Djanji'' yang dipopularkan Mansyur Syah dan terakhir oleh Siti Nurhaliza dengan bentuk pop melayu.

Lagu hits lainnya,''Pergi tanpa Kesan'' karya Mashabi, juga menjadi kenangan pada era 60-70an. Lagu itu Juga pernah dipopularkan adik kelasnya, Muchasin Alatas.

Bunda memang artis berbakat. Selain melayu, dia juga sempat menyanyi lagu pop, judulnya antara ''A Gogo''. Di era tujuh puluhan, ketika film merambah Indonesia, Ellya digaet pelawak berbakat Bing Slamet dan Benyamin Sueb untuk membintangi sejumlah film. Ellya sempat membintangi film yang laris di masanya, di antaranya seperti 'Bing Slamet Setan Djalanan' (1972), 'Benyamin Biang Kerok' (1972) atau 'Buaye Gile' (1974).

Di antara karyanya yang paling fenomenal tentu saja lagu 'Boneka dari India' itu. Melalui lagu itulah Ellya dikenal dengan ciri khasnya yang selalu mengenakan 'Sari', busana khas India. Aksesoris di sekitar wajah, jari dan gelangnya, menjadi ciri khas penampilannya.

Bunda Elya yang pernah aktif di Orkes Melayu Kelanaria. menjadi ikon orkes melayu pada era 1960-an, namanya sering mengudara di RRI bersama lengkingan empat pemuda asal Inggris yang tergabung dalam The Beatles dengan I Wanna Hold Your Hand. Juga bergantian tampil Waldjinah, Koes Bersaudara, atau petikan gitaris Tony Motolla.

Bahkan, ketika Rhoma masih remaja sempat berguru vokal kepada Ellya. Perteman dengan Rhoma berlanjut, ketika Oma Irama masih awal membentuk Soneta,1973, Ellya Khadam sering diajak tour keliling bersama Soneta. Tak heran bila duet Ellya dengan Oma Irama cukup banyak menghiasi khasanah lagu melayu khususnya sebelum Rhoma mendirikan Soneta di tahun 1973.

Oma yang lebih junior dari Elya banyak sharing dalam menyanyi. Mereka berdua bukan saja duet di panggung, tetapi juga di recording. Bisa disimak lagu-lagunya antara lain ’’Sebelum Nikah”, ’’Percayalah’’, ’’Di dalam Bemo’’, dan ’’Kawin Lari’’.

Lagu-lagu inilah yang sangat popular di RRI Jakarta pada akhir 1960 an, bersama penyiarnya Dahri Oskandar. Penulis yang saat itu masih berusia 9 tahunan, tidak memiliki radio, apalagi tape, sering harus pergi ke rumah tetangga untuk mendengarkan RRI yang menyiarkan pilihan pendengar dengan memperdengarkan piringan hitamnya. Nama-nama seperti Ellya Khadam, Elya M Haris, Munif Bahasuan, Bashabi, A Kadir, sangat akrab di telingan ''orang desa''.

Sayang, ketika itu, masih terbatas orang memiliki piringan hitam apalagi belum juga ditemukan teknologi pita kaset. Satu2nya mendengarkan radio, itupun hanya RRI..

Penampilan Ellya Khadam yang terakhir di depan publik tanah air, yaitu pada saat Rhoma memproklamirkan Sonet2 dalam sebuah acara ’Dangdut is Never Dies’ di akhir 2008 lalu. Pada saat itu, Rhoma yang berbicara dan disiarkan live di TPI, memperkenalkan salah satu personal Sonet2 bernama Bisri, penggebuk drum, yang tak lain adalah cucu dari Elya Khadam.

Eyangnya juga tampak di deretan kursi vip di studio TPI malam itu, bersama keluarga besar dangdut, keluarga Rhoma Irama terutama putra putrinya dari Veronika dan Marwah Ali nampak akrab. Juga dihadiri hampir semua generasi muda dangdut di KDI.

Kini Bunda Ellya telah tiada. Mari kita doakan semoga almarhumah diterima amalnya, dimaafkan salahnya. Semoga generani muda dangdut dapat meneladani kegigihan Bunda Ellya, yang tak mudah menyerah oleh keadaan. Selamat jalan Bunda Ellya. (*)

2 comments:

  1. Salam dari kota kecil bang Hurek,

    Turut berduka cita atas berpulangnya Bunda Ellya.

    Beberapa hari yang lalu saya iseng menonton film hitam putih (tua) India. Aktris nya mengingatkan saya pada Bunda Ellya lho, serius!

    Sudah tidak ada lagi seniman seperti beliau sekarang ya Bang. Kita semua kehilangan.

    ReplyDelete
  2. Saya turut mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya almarhumah.semoga diterima sesuai dengan pengamalanya di dunia.

    ReplyDelete