04 November 2009

Romo Tondo 75 Tahun



Di kalangan umat Katolik di Keuskupan Surabaya, Prof Dr John Tondowidjojo Tondodiningrat CM dikenal sebagai pastor serbabisa. Setiap tahun dia merayakan ulang tahunnya dengan cara yang unik. Termasuk perayaan ulang tahun ke-75 belum lama ini.

Romo John Tondowidjojo Tondodiningrat CM, yang juga guru besar ilmu komunikasi di sejumlah universitas, tidak suka merayakan ulang tahun dengan potong kue tar, pesta hura-hura, dengan hadiah yang mahal-mahal. Romo Tondo, sapaan akrabnya, mengisi peristiwa tahunan itu dengan menggelar acara kesenian dan kebudayaan.

"Saya ingin mengajak semua orang Indonesia, khususnya anak-anak muda, untuk cinta seni budayanya. Jangan jadi konsumen seni budaya impor," ujar Romo Tondo kepada saya dalam beberapa kesempatan.

Satu lomba yang wajib dilaksanakan menjelang HUT-nya adalah paduan suara dan tarian tradisional. Lagu-lagu yang dilombakan harus nyanyian tradisional dari berbagai daerah di tanah air. Romo Tondo, yang pernah mendalami ilmu vokal di Italia, juga menciptakan sebuah komposisi paduan suara sebagai lagu wajib.

Rohaniwan yang masih kerabat dekat Raden Ajeng Kartini ini kemudian mengajak sekolah-sekolah Katolik di Surabaya dan sekitarnya untuk ikut lomba. Biasanya, sekolah dasar (SD). Kenapa tidak diperluas ke sekolah-sekolah negeri dan non-Katolik?

"Waduh, saya ini cuma romo, bukan pemerintah. Saya bisa dicurigai macam-macam kalau saya bertindak terlalu jauh. Jadi, lebih aman dengan sekolah-sekolah Katolik dululah," jawabnya lalu tersenyum.

Setelah melalui babak penyisihan, para finalis ditampilkan pada perayaan ulang tahun Romo Tondo. Namanya juga romo, umat yang punya restoran menawarkan restorannya sebagai tempat lomba sekaligus pesta HUT sang gembala. Dengan sistem ini, Romo Tondo mengaku tidak membutuhkan biaya besar untuk menggelar lomba paduan suara, gebyar budaya, serta pesta ulang tahun. Termasuk biaya pembuatan trofi dan hadiah uang tunai bagi para pemenang.

"Syukurlah, selama ini saya banyak mendapat dukungan berbagai pihak. Mereka juga ingin agar seni budaya Indonesia tidak sampai tenggelam gara-gara serbuan dari luar," kata imam Lazaris ini.

Setelah semua peserta paduan suara dan tari-tarian daerah tampil, sembari menunggu pengumuman dewan juri, Romo Tondo mulai menampilkan bakat musikalnya. Semua peserta lomba dari berbagai sekolah diajak ke panggung untuk membawakan komposisi khusus ciptaan Prof Dr KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM alias Romo Tondo. Romo Tondo berperan sebagai dirigen.

Gaya direksi atau teknik membirama paduan suara ala Romo Tondo sangat atraktif. Tidak kaku seperti kebanyakan dirigen paduan suara umumnya. "Jadi dirigen paduan suara itu perlu teknik khusus. Tidak bisa sembarangan," ujar penulis ratusan buku, termasuk buku teknik vokal dan dirigen, itu.

Atraksi masih berlanjut. Setelah anak-anak paduan suara turun, Romo Tondo memperlihatkan kepiawaiannya bermain piano. Komposisi Beethoven, Mozart, Chopin? Sudah jelas tidak. Komposisi kesukaan Romo Tondo selalu lagu daerah macam Cublak-Cublak Suweng, Ampar-Ampar Pisang, Kambanglah Bungo, Janger, Ayo Mama, Yamko Rambe Yamko, Bubuy Bulan. Komposisi Nusantara ini dibawakan secara medley.

"Kalau kita tidak membawakan lagu-lagu daerah, lantas siapa yang melestarikannya?" tegas mantan ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya ini.

Gebyar Tresna Budaya untuk merayakan HUT ke-75 Romo Tondo yang melibatkan 10 finalis. SDK Katarina keluar sebagai juara pertama, disusul SDK Carolus dan SDK Yusup. Yang menarik, kali ini tamu undangan tak hanya dari kalangan gereja, tapi juga tokoh masyarakat seperti Basofi Sudirman.

Mantan gubernur Jatim ini menilai gebyar seni budaya yang digelar setiap tahun oleh Romo Tondo sangat brilian dan patut diapresiasi. "Saya berharap acara seperti ini dapat diselenggarakan secara rutin agar semakin banyak orang Indonesia yang mencintai budaya bangsanya sendiri," kata Basofi. (

Sebagai rohaniwan pribumi generasi awal, Romo KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM mendapat banyak kesempatan untuk belajar di Eropa. Romo yang baru merayakan ulang tahun ke-75 ini bahkan ditahbiskan sebagai imam Kongregasi Misi (CM) di Italia.

ROMO Tondowidjojo juga menikmati pendidikan lanjutan dan berkarya beberapa negara Eropa seperti Italia, Jerman, Prancis, Belanda, Spanyol.

"Sampai sekarang saya masih pegang kartu wartawan internasional lho. Dan saya masih punya hak untuk mengikuti kongres pers internasional," kata Romo Tondo, sapaan akrab romo yang juga profesor ilmu komunikasi di STKIP Widya Mandala Madiun, Universitas Bhayangkara Surabaya, dan Universitas Atmajaya Jogjakarta ini.

Karena sangat lama tinggal di Eropa, dan masih sering ke Eropa, Romo Tondo sangat memahami perilaku orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Dia prihatin karena ternyata banyak orang Indonesia kurang menguasai seni budayanya sendiri. "Diminta menyanyi lagu-lagu daerah atau menari tarian daerah susah. Lha, bagaimana kita mau mempromosikan kebudayaan Indonesia kalau kita sendiri tidak menguasai," tukasnya.

Itu sebabnya, Romo Tondo sangat getol mempromosikan kesenian daerah dari seluruh Indonesia di kalangan pelajar dan mahasiswa. Lomba paduan suara lagu-lagu daerah dan tarian daerah menjadi 'menu wajib' setiap menjelang ulang tahunnya. Dia pun tak segan-segan memberikan penataran kepada guru-guru sekolah Katolik di wilayah Keuskupan Surabaya.

 "Kalau ada kesulitan, tolong hubungi saya. Saya akan langsung turun ke sekolah-sekolah," kata romo yang hobi menulis buku ini.

Kepada pelajar dan mahasiswa yang hendak belajar di luar negeri, Romo Tondo selalu punya pesan yang sudah baku. Yakni, menghafal di luar kepala paling sedikit lima lagu daerah dan dua tarian daerah. Mau lagu-lagu Jawa, Madura, Dayak, Sunda, Batak, Flores, Papua, terserah. Kursus tarian daerah pun sangat perlu dilakukan orang Indonesia yang akan menetap cukup lama di luar negeri.

Mengapa begitu?

"Lha, di luar negeri mereka akan menjadi duta budaya bangsa. Kalau ada malam kesenian atau acara-acara apa saja, mereka berkewajiban memperkenalkan seni budaya Indonesia di depan orang asing," tegas dosen sejumlah perguruan tinggi swasta ini.

Romo Tondo mengaku senang dengan minat anak-anak muda di Surabaya yang belajar musik klasik Barat sejak usia dini. Ini tentu saja bagus. Namun, tanpa dibarengi dengan mempelajari seni budaya negeri sendiri, maka kemampuan memainkan musik klasik Barat itu tidak akan memberi nilai tambah. Hanya kebanggaan semu.

"Musik Mozart, Beethoven, Haydn, Chopan, itu sudah sangat biasa di Eropa. Wong itu kesenian mereka. Kalau orang Indonesia mau pamer kemampuan bermain musik klasik Barat di Eropa, seniman-seniman Eropa lebih hebat lagi. Lain kalau kita memainkan seni budaya Indonesia," ujarnya.

Pastor (dari bahasa Latin) berarti gembala. Dan seorang gembala harus mengenal gembala-gembalanya dengan baik. Prinsip ini selalu dipegang teguh oleh Romo KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat CM.

Karena itu, meskipun berstatus guru besar komunikasi dan sering diundang sebagai pembicara di berbagai kota, bahkan luar negeri, Romo Tondo tak pernah melupakan 'domba-dombanya'. Termasuk umat yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang tinggal di kamar sempit di dalam gang.

Sejak dulu Romo Tondo punya kebiasaan melakukan semacam 'sidak' alias inspeksi mendadak ke rumah-rumah umat. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja rohaniwan Kongregasi Misi (CM) ini muncul di rumah. "Saya selalu ingin tahu langsung dan apa adanya kondisi umat. Dan sebetulnya umat itu senang kalau didatangi romonya," ujar Romo Tondo suatu ketika.

Setelah berbasa-basi dengan umat, Romo Tondo kemudian mencatat dengan teliti sejumlah data yang diperlukan. Mulai nama anak-anak, cucu (kalau ada), berapa anak yang sudah menikah, berapa orang yang tinggal di situ, hingga aktivitas rohani. Apakah keluarga itu punya kebiasaan doa bersama? Aktif atau tidak di lingkungan atau wilayah? Ikut paduan suara atau organisasi gerejawi lainnya?

"Saya juga ingin tahu apakah mereka aktif di RT/RW, ikut kerja bakti, poskamling, dan sebagainya. Umat Katolik jangan hanya rajin ke gereja, tapi tidak pernah kerja bakti di RT," tutur romo yang masih termasuk kerabat dekat Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia, ini.

Di paroki pun dia bertugas, Romo Tondo selalu membiasakan kunjungan pastoral secara pribadi. Di samping, tentu saja, kunjungan-kunjungan formal seperti menghadiri doa lingkungan, pendalaman iman, pendalamankitab suci, dan sebagainya. Tak heran, Romo Tondo memiliki gambaran yang lebih utuh tentang kondisi umat sebenarnya.

Ada keluarga yang dari luar terlihat rukun, mesra, bahagia, ternyata punya masalah rumah tangga yang serius. Dan itu baru diketahui setelah diajak bicara dari hati ke hati. "Kalau masalah-masalah umat sudah dipetakan, kita akan lebih mudah mencari solusi. Kita harus membiasakan diri berbicara dengan data dan fakta," tegasnya.

Sikap Romo Tondo yang suka menggali data dan melakukan wawancara langsung dengan umat memang tak lepas dari pengalaman panjangnya sebagai wartawan. Sampai saat ini Romo Tondo masih rajin menulis untuk sejumlah media rohani (dan umum) baik di dalam maupun luar negeri. Tulisan-tulisan Romo Tondo selalu panjang, penuh data, dan selalu dilengkapi konteks sejarah.

5 comments:

  1. romo itu nama atau gelar? kalo stausaya dalam bahasa jawa Bapak betul? kadang bingung tolong jelasakan

    ReplyDelete
  2. ROMO itu sebutan khas untuk pastor di lingkungan Gereja Katolik. Ini berlaku di seluruh dunia, tentu disesuaikan dengan bahasa setempat. Di Amerika atau Inggris, ya, disebut FATHER. Misalnya, Father John Brown SJ.

    Di Indonesia, selain pakai ROMO, khususnya di Jawa, juga digunakan istilah PATER (dari bahasa Latin), biasanya di Flores, Nusa Tenggara Timur. ROMO memang dari bahasa Jawa yang artinya sama dengan "bapak". Tapi lebih halus rasanya alias krama.

    Mungkin, karena pertimbangan itulah kata ROMO yang dipakai sebagai terjemahan PATER dalam bahasa Latin. Sekaligus membedakan BAPAK dalam konteks biasa. Seorang ROMO harus lebih dulu ditahbiskan oleh USKUP alias menerima Sakramen Imamat. Sebelumnya, dia harus menjalani pendidikan di seminari menengah, seminari ringgi, studi filsafat dan teologi, masa orientasi pastoral, dan sebagainya.

    Karena itu, ROMO terbilang sangat langka dan dipercaya sebagai "panggilan Tuhan" sendiri. Begitu kira-kira sedikit penjelasan saya. Mudah-mudahan makin bingung. Selamat pagi!

    ReplyDelete
  3. Bagi kami Se Keluarga Romo Tondo, bukan hanya sebagai Romo Paroki, tapi juga sebagai Penasehat, sahabat dan Romo atau Bapak, eyang untuk keluarga kami. Selamat Ulang Tahun Romo Panjang Umur dan selalu di beri kesehatan

    ReplyDelete
  4. salam,. senang bisa membaca blog njenengan mas Hurek,asik. saya juga pernah tinggal di dukuh pakis surabaya. Nah, kalo boleh, bagaimana saya bisa menghubungi Romo Tondo ini? saya 2 bulan lalu menulis mengenai sosok Sosrokartono, dan Romo Tondo pun juga barusan menyelesaikan buku mengenai Sosrokartono pula, kata pengantarnya oleh Julius Pour.

    Nah, saat ini saya sedang mencoba menulis mengenai sejarah Madah Bakti atau Kidung Adi,. mungkin Romo Tondo dapat berkenan berbagi ilmu atau bahkan Anda sendiri berkenan menjadi tempat saya bertanya... terima kasih.

    Teriring salam,.

    Arik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat gampang menulis sejarah Madah Bakti dan Kidung Adi karena pabriknya ada di Jogjakarta. Cukup temui Romo Karl Edmund Prier SJ, bos Pusat Musik Liturgi. Juga Paul Widyawan, tangan kanan Romo Prier.

      Saya kira Romo Tondo tidak terlibat dalam proyek Madah Bakti yang sukses besar tahun 1980an dan 1990an itu. Kebetulan sampean tinggal di wilayah Keuskupan Agung Semarang, jadi sangat pas. Di Jawa Timur baik Keuskupan Malang maupun Keuskupan Surabaya tidak punya penerbitan buku2 liturgi yang fenomenal macam Jakarta, Jogja, atau Ende (Flores). Setahu saya di Indonesia hanya tiga kota itu yang punya penerbitan yang sangat mempengaruhi perkembangan liturgi di Indonesia.

      Kalau nanya soal RA Kartini, Sosrokartono, ilmu komunikasi, kongregasi misi (CM), sejarah Keuskupan surabaya, Prof Tondo memang jagonya.

      Saya umat biasa, bekas dirigen paduan suara gereja dan paduan suara mahasiswa yang tidak tahu banyak tentang Madah Bakti. Saya hanya pemakai buku itu. Oh ya, Kidung Adi tak banyak beredar di Jawa Timur, cuma di Jateng dan Jogja.

      Sekian dan berkah dalem.

      Delete