22 November 2009

Nindy Ellese Bunuh Diri Dua Kali



Sebagian artis lama tenggelam setelah sempat menikmati masa jaya selama beberapa tahun. Nindy Ellese (42 tahun), penyanyi dan pemain sinetron era '80-an, kini aktif dalam berbagai pelayanan rohani bersama Jakarta Praise Community Church.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Nindy Ellese bukan saja pandai bicara, menyampaikan kesaksian, tapi juga piawai menulis refleksi hidupnya. Suami Willem F. Laoh ini bahkan sudah menerbitkan buku berjudul Hidup Bukan Teka-Teki.

"Hidup adalah sesuatu yang tidak main-main," tegas Nindy dalam sebuah acara kebaktian kebangunan rohani di Surabaya belum lama ini.

Bergabung dengan JK Records, perusahaan rekaman milik Judhi Kristianto yang sangat populer pada 1980-an, Nindy Ellese sempat merilis beberapa album seperti Naluri Seorang Wanita, Selendang Biru, dan Surat Terakhir. Suaranya yang melengking tinggi, beda dengan penyanyi-penyanyi JK yang umumnya medayu-dayu, Nindy kerap membawakan lagu-lagu bernada tinggi dan ngerock.

Popularitasnya pun meroket dengan sangat cepat. Sempat membintangi beberapa sinetron, Nindy kian kondang bersama Trio Glamendys (Gladys Suwandi, Mega Selvia, dan Nindy) pada 1990-an. Setelah berumah tangga, Nindy memilih mengundurkan diri dari blantika musik dan sinetron. Dan diam-diam Nindy merambah dunia pelayanan rohani yang jauh dari sorotan media massa.

Ketika popularitasnya sedang membubung, ujar Nindy dalam kesaksiannya di Surabaya, dia justru mengaku mengalami kekosongan jiwa. Ibaratnya, hidup ini tak berarti. "Hati saya perih, tiada lagi harapan. Hancur berkeping-keping," ujar Nindy merujuk syair lagu kondang Layu Sebelum Berkembang.

Pengalaman pahit ini antara lain akibat perceraian orang tuanya ketika Nindy berusia 12 tahun. Nindy terpaksa dititipkan kepada pamannya. Gadis yang periang ini pun berubah menjadi penyendiri. Waktunya banyak dihabiskan di dalam kamar untuk membaca buku dan merenung.

Apalagi, setelah ibunya menikah lagi, tekanan di dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Nindy hanya keluar kamar kalau perlu makan atau mandi saja.
Pada suatu ketika Nindy ikut tes vokal yang diadakan oleh TVRI. Nindy berhasil dan langsung dikontrak oleh JK Records untuk lima album sekaligus.

Uang yang diperoleh dari kontrak rekaman itu dipakainya untuk mengontrak rumah dan memboyong ibu dan kedua adiknya ke rumah itu, termasuk ayah tirinya.

Ayah tirinya ternyata sangat kejam dan suka mabuk. Dia tak segan-segan memukuli ibunya bila sedang mabuk. Pada suatu kali, pria itu berjalan sempoyongan, karena mabuk, menghampiri ibunya. Mereka berdua berbincang serius, yang dilanjutkan dengan pertengkaran, kemudian pemukulan.

Mendengar keributan itu,Niny segera menegur ayah tirinya. Bukannya manut, pria itu menghantam kepala Nindy dengan kursi. Nindy mengalami luka serius, sehingga harus dibawa ke dokter. Sekalipun luka di kepalanya dapat diobati, luka hatinya sulit terobati karena begitu dalam menusuk.

Sejak saat itu Nindy sangat membenci ayah tirinya. Hari-harinya kemudian diisi dengan kebencian dan dendam. Segala kesibukannya sebagai penyanyi top ternyata tak dapat mengisi kekosongan jiwanya. Ke mana pun pergi, apa pun yang dilakukan, kekosongan itu terus mengejarnya.

Suatu ketika pukul 00.01 WIB, pada 1983, Nindy merasakan betapa hidupnya sia-sia. Ingin bunuh diri saja. Diambilnya sebotol minyak kayu putih yang penuh berisi. Hap! Nindy pun menenggak minyak kayu putih itu hingga tersisa sedikit.

"Beberapa saat kemudian perut saya terasa panas seperti dibakar, mual, mata basah. Seluruh permukaan wajah saya memerah. Lidah saya kelu. Oh, Tuhan, inikah akhir hidup saya," tulis Nindy Ellese.

Dalam situasi yang tak karuan itu, Nindy yang kala itu masih 16 tahun, merasa takut dan menyesal. Bukan apa-apa. Dia takut masuk neraka setelah meninggal sebentar lagi. Air mata penyesalan pun mengalir deras.

"Dan, tiba-tiba saya merasa seperti ada yang mendorong semua isi perut saya naik ke tenggorokan. Saya terduduk di sisi kamar mandi, dekat kloset. Badan saya penuh muntahan, lutut saya lemas. Saya menjerit, Tuhan, ampuni saya!"

Menurut pengakuan Nindy, ini kali kedua dia mencoba mengakhiri hidupnya. Beberapa bulan sebelumnya, ibunda Jeremmy Laoh ini menelan 12 butir pil sakit kepala untuk bunuh diri. "Yang pertama ini saya kurang serius, sehingga beberapa saat kemudian saya justru tertidur dan besoknya bangun lagi melihat hari yang baru," tuturnya.

Nindy Ellese hanya ingin mengingatkan bahwa di balik kehidupan yang gemerlap dan glamor, para selebriti punya sisi lain kehidupan yang luput dari perhatian orang. sebagai manusia biasa, mereka punya tantangan yang tidak ringan. Sebagai putri keluarga broken home, Nindy merasa kurang bahagia, kurang mengalami perhatian dan cinta.

"Waktu itu saya memang terkenal, dapat job di mana-mana, tapi hati saya kosong. Hidup saya seperti tidak punya makna," ujar Nindy.

Nindy Ellese baru mengalami pertobatan pada pertengahan 1990-a. Sejak itu penyanyi pop 1980-an ini bertekad untuk 'hidup baru'. Memberikan sebagian besar hidupnya untuk pelayanan rohani.

Suatu ketika Nindy Ellese diajak mengikuti kebaktian bersama komunitas Jakarta Praise Center di Wisma Antara Jakarta. Nindy pun mencoba ikut meskipun selama ini dia jauh dari kegiatan-kegiatan yang berbau rohani. Dia larut dalam aktivitas keartisan yang hura-hura dan gemerlap.

Sebelum itu, Nindy mengaku tidak pernah berdoa, apalagi membaca Alkitab. "Setiap kali mau berdoa, mata saya ini ngantuknya minta ampun. Baca Alktab? Wow, malasnya minta ampun. Ke gereja, dulu, adalah suatu hukuman berat untuk saya karena saya tidak mengerti apa yang dikatakan pendeta," paparnya.

Nah, kebaktian di Wisma Antara itu dipimpin Pendeta Jeffrey Rachmat. Pada akhir khotbah, Jeffrey mengundang jemaat untuk maju agar didoakan secara khusus. "Saya memilih untuk maju dan didoakan. Air mata mulai mengalir di pipi. Sebagai orang berdosa, saya menyadari perlu tangan Tuhan untuk menolong kehidupan saya," kenang Nindy.

Sejak itu, Nindy mengaku mulai fokus pada Tuhan. Mulai belajar untuk hidup lebih intim dengan Tuhan. "Saya juga mulai rajin membaca firman Tuhan (Alkitab, red)," tulis Nindy Ellese dalam bukunya berjudul Hidup Bukan Teka-Teki.

Bukan itu saja. Lagu-lagu duniawi yang selama ini dikonsumsi setiap hari, di mobil, di rumah, dibuang jauh-jauh. Tidak didengarkan lagi. Termasuk lagu-lagu pop yang melambungkan namanya di industri musik Indonesia bersama JK Records. Karena itu, jika Anda meminta Nindy Ellese membawakan lagu-lagu lamanya, dia hanya bisa tersenyum.

"Itu dunia lama saya. Sekarang saya hanya mau membawakan lagu-lagu pujian untuk Tuhan. Bukan lagi lagu-lagu pujian untuk lawan jenis atau kekasih," kenang artis kelahiran April 1967 yang sempat berkolaborasi dengan Gladys Swuandi dan Mega Selvia dalam Trio Glamendys itu.

Buku-buku bacaan Nindy, yang memang kutu buku sejak remaja, pun berubah. Kalau dulu rajin membaca novel, sekarang berganti ke literatur-literatur rohani. Kitab suci menjadi menu utama sehari-hari. "Saya mulai sedikit demi sedikit membangun hidup saya dengan firman Tuhan yang saya baca dan saya dengar," katanya.

Tentu saja, revolusi hidup semacam ini membuat pola pergaulan dan teman-temannya berubah. Nindy menemukan orang-orang baru yang fokus pada pelayanan rohani. Bukan lagi orang-orang entertainment yang akan mendukung karirnya sebagai artis. Namun, justru dari lingkungan baru inilah, Nindy akhirnya berkenalan dan akhirnya menemukan suaminya, Willem F Laoh.

"Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengubah hidup saya," tegasnya.

No comments:

Post a Comment