01 November 2009

Nasrullah melukis di Jenewa




Nasib baik mempertemukan Nasrullah (48), pelukis asal Tanggulangin, Sidoarjo, dengan Christine Rod, perempuan asal Swiss. Dari sekadar diskusi kecil tentang seni rupa di Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto, keduanya lalu falling in love. Pacaran jarak jauh ini pun dilanjutkan dengan akad nikah di Sidoarjo. Beberapa saat kemudian Nasrullah-Christine meresmikan pernikahan mereka di kantor catatan sipil Jenewa, Swiss, tiga tahun lalu.

Sejak itulah Nasrullah 'diboyong' ke Swiss. "Alhamdulillah, sebagai suami Christine, saya mendapat hak-hak yang hampir sama dengan warga negara Swiss. Saya mendapat banyak kemudahan," kata Nasrullah kepada Radar Surabaya di sela liburannya di Sidoarjo, Jumat (23/10/2009). Berikut petikan wawancara khusus dengan Nasrullah:

Oleh LAMBERTUS HUREK


Apa kegiatan terakhir Anda di Eropa?

Sebelum datang ke Indonesia untuk mengurus beberapa dokumen keimigrasian, saya menghadiri Festival Davignon di Prancis selatan. Ini festival tahunan yang digelar selama satu bulan penuh. Ada kira-kira 500 performer dari berbagai negara yang mengisi festival ini. Sebagian besar di antaranya seni teater baik yang kontemporer, teater rakyat, dan sebagainya.

Saya salut melihat bagaimana orang Eropa mengelola teater, sehingga bisa dinikmati seluruh masyarakat. Kesenian memang sudah menjadi kebutuhan masyarakat di negara maju seperti Eropa. Dan itu bisa kita lihat dari partisipasi masyarakat yang luar biasa. Orang-orang dari Swiss, seperti kami, pun merasa perlu ke Davignon untuk menikmati kesenian-kesenian yang ditampilkan di sini.

Kabarnya Anda sempat menggelar pameran tunggal di Swiss?

Ya, saya pameran tunggal selama 2,5 bulan di Le Nyamuk. Ini kafe sekaligus galeri yang terkenal di Jenewa, Swiss. Pemilik galeri kebetulan suka dengan kebudayaan Indonesia dan Malaysia, sehingga galerinya diberi nama Le Nyamuk. Galeri ini selalu menampilkan karya-karya pelukis dari berbagai negara. Jenewa sendiri memang dikenal sebagai kota internasional.

Nah, awalnya saya diberi kesempatan untuk pameran selama satu bulan. Tapi belakangan si pemilik minta diperpanjang karena pelukis lain, yang sudah dijadwalkan, ternyata belum siap. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa pameran selama dua setengah bulan. Ini semacam rezeki buat saya karena karya-karya saya bisa diapresiasi oleh orang banyak dari berbagai negara. Saya kan baru tiga tahunan tinggal di Jenewa, sehingga perlu kerja keras dan waktu lama agar bisa dikenal publik pencinta seni rupa.

Ada berapa karya yang Anda pamerkan di Le Nyamuk?

Ada 16 lukisan. Semuanya bercerita tentang berbagai persoalan yang saya ketahui selama tinggal di Jenewa. Maka, pameran ini saya beri judul Bienvenue a Geneve atau selamat datang di Jenewa. Saya tidak mengangkat tema-tema khas Indonesia seperti pemandangan di sawah, figur orang Indonesia, dan sebagainya. Sejak berada di Swiss saya memang tertantang untuk menampilkan karya-karya yang baru dan aktual.

Anda melakukan eksplorasi mengenai kehidupan masyarakat Swiss?

Betul. Di Jenewa itu ada kebiasaan masyarakat yang suka jalan kaki dan naik sepeda (onthel) ke mana-mana meskipun mereka itu rata-rata sangat makmur, punya mobil bagus. Orang kaya, pejabat-pejabat, naik sepeda ke tempat kerja itu sangat umum di Swiss. Nggak kayak di Indonesia. Mana ada orang kaya kita yang jalan kaki atau naik kendaraan umum di Surabaya atau Jakarta? Hehehe....

Nah, saya sendiri pun akhirnya terbiasa jalan kaki dua hari sekali sejauh 10 kilometer. Udaranya memang bagus sekali, trotoar sangat lebar, taman yang sangat indah, dan itu cocok untuk jalan kaki. Karena sering jalan kaki dan masuk ke mana-mana, saya akhirnya tahu banyak kondisi masyarakat di sana. Bahwa di balik kemakmurannya, kota Jenewa ternyata punya masalah sosial yang besar.

Contohnya?

Pencopet banyak. Saya sendiri pernah dua kali dicopet. Mertua saya dicopet 1.000 Frank, jumlah yang sangat besar. Di berbagai tempat kita melihat orang mabuk, stres, teriak-teriak histeris, makai narkoba, dan sebagainya. Orang-orang ini kebanyakan dari eks negara komunis di Eropa Timur yang mencari suaka politik. Juga orang-orang dari Afrika. Mereka-mereka ini membuat situasi kota-kota di Swiss, khususnya Jenewa, jadi tidak bagus.

Masyarakat Swiss juga sangat individualistis, sibuk sendiri-sendiri dengan pekerjaan mereka. Hampir tidak ada waktu untuk cangkrukan, santai, atau sekadar ngomong ngalor-ngidul. Orang-orang Indonesia yang tinggal di Swiss pun irama kehidupannya pun sama dengan orang Swiss. Jangan dikira kita gampang bertemu sesama orang Indonesia. Harus bikin janji dulu. Dan itu pun sering tidak bisa karena sibuk dengan pekerjaan dan sebagainya.

Suasana itulah yang Anda lukis?

Saya kontraskan bangunan-bangunan Eropa yang indah, punya seni arsitektur tinggi, gaya hidup modern, dengan masalah-masalah sosial. Yah, semacam sisi lain dari Jenewa. Waktu Euro 2008, di mana Swiss jadi tuan rumah, masyarakat mengkritik habis-habisan aksesoris bola di atas taman air pancur setinggi 104 meter. Sebab, biaya operasional saja mencapai 600 ribu Frank sebulan. Mereka anggap ini sebagai pemborosan yang luar biasa. Saya lukis itu dan ternyata ada yang tertarik mengoleksi.

Bagaimana kehidupan seniman, khususnya pelukis, di Swiss? Apa bisa hidup hanya dengan melukis?

Di mana-mana yang namanya seniman itu sama saja. Di Swiss sekalipun seniman itu nelangsa. Nggak bisa 100 persen mengandalkan hidup dari kesenian. Sebab, semua orang kan harus bayar pajak, asuransi, dan kebutuhan hidup lainnya. Eddy Hara, pelukis Indonesia terkenal yang juga tinggal di Swiss, pun sama saja. Dia bekerja sambil tetap berkesenian.

Anda sendiri bagaimana?

Ya, bekerja juga. Awalnya saya kerja di restoran sebagai tukang cuci piring. Di dapur itu nggak ada kursi, kerja harus cepat, istirahat nggak ada kecuali pada jam tertentu. Harus mengangkat tumpukan piring yang berat. Bayarannya besar memang, tapi punggung saya tidak kuat. Hehehe....

Saya kemudian pindah kerja sebagai pelukis potret dan merestorasi lukisan. Sekarang ini saya kerja di sebuah tempat penitipan anak-anak dua hari seminggu. Pekerjaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya di Indonesia. Saya jadi pengawas anak-anak kecil, ikut bermain-main sama anak-anak yang lucu-lucu itu.

Enaknya di Swiss, pekerjaan apa pun, entah tukang kebun, tukang pel lantai, tukang cuci piring, sangat dihargai. Tidak dipandang rendah. Semua orang itu egaliter. Jadi, kita tidak akan sungkan atau minder hanya karena jadi tukang cuci piring. Lha, kalau nggak ada yang cuci piring, bagaimana bisnis restoran itu bisa jalan?

Karena itu, pelukis-pelukis yang tinggal di Eropa harus punya energi ekstra kalau ingin tetap eksis di kesenian. Dia harus pandai-pandai membagi waktu antara bekerja di luar kesenian dan tetap menggeluti seni lukis. Dan itu tidak mudah. (*)


NASRULLAH

Nama populer: N Roel
Lahir : Sidoarjo, 26 April 1961
Istri : Christine Rod
Hobi : Mancing, jala kaki.

PENDIDIKAN
SDN Tanggulangin/SDN Rambipuji, Jember
SMPN Rambipuji, Jember
SMAN I Sidoarjo
FH Universitas Jember

AKTIVITAS KESENIAN
Pameran tunggal dan pameran bersama di Surabaya, Sidoarjo, dan kota lain di Jawa Timur.
Pameran tunggal di Swiss.
Ikut lomba melukis di Swiss.
Menghadiri Festival Davignon di Provenence, Prancis.



Kompetisi Sangat Ketat



Lain Indonesia, lain pula Eropa. Di benua biru itu iklim kehidupan kesenian, khususnya fine art, jauh lebih bagus ketimbang di negara-negara berkembang macam Indonesia. Festival, pameran lukisan, konser, digelar terus-menerus. Senimannya pun punya reputasi internasional. Itu yang dirasakan Nasrullah di Jenewa, Swiss.

"Hampir semua negara punya orang di Swiss, khususnya Jenewa. Mau seniman macam apa saja ada. Dan itu membuat kompetisi antarseniman sangat tinggi," cerita Nasrullah kepada Radar Surabaya di rumahnya, Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Karena itu, pelukis Eddy Hara yang sangat terkenal di Indonesia menjadi 'orang biasa' di negara penghasil keju dan arloji itu. Begitu juga seniman terkemuka dari negara-negara Asia lainnya. "Saya sendiri, ya, tambah nggak dikenal orang. Wong seniman di Jenewa itu banyak banget," ujar jebolan Fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Jenewa dan kota-kota lain di Eropa, papar Nasrullah, juga dipenuhi banyak galeri. Di Jenewa saja ada sedikitnya 500 galeri seni rupa. Ini belum termasuk galeri-galeri di kampus-kampus atau lembaga pendidikan lainnya.

"Padahal, Jenewa itu kotanya nggak seberapa luas. Hampir sama dengan Sidoarjo, cuma kotanya dibuat dengan perencanaan yang sangat matang," katanya.

Karena seniman begitu banyak, sementara jumlah pelukis jauh lebih banyak lagi, kesempatan mengadakan pameran pun sangat terbatas. Apalagi, orang Swiss tidak dikenal mengenal istilah 'pameran bersama' seperti di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia. Yang namanya pameran pasti pameran tunggal.

"Ada pameran bersama, tapi sendiri-sendiri. Belum lama ini, misalnya, saya ikut pameran bersama yang melibatkan banyak galeri. Kita sih kebagian galeri sendiri-sendiri. Jadi, bukan beberapa pelukis pameran di satu galeri," tukasnya.

Kini, selain terus melukis dan bekerja paruh waktu di sebuah tempat penitipan anak, Nasrullah mengaku akan mengambil studi seni rupa di Jenewa. Dia merasa pemahaman kesenian secara akademis bakal menjadi lebih menunjang karirnya sebagai seniman di negeri orang.

"Proses administrasi sudah beres. Saya tinggal kuliah saja," katanya. (rek)

1 comment:

  1. Festival seni yang disebutkan itu di kota Avignon (namanya Festival d'Avignon), di daerah yang namanya Provence (bukan Provenence) di Prancis selatan, yang terkenal keindahannya karena berbatasan dengan Laut Tengah (Mediterrania), peninggalan2 kekaisaran Roma, kehidupan seninya (pelukis Van Gogh pernah tinggal di kota Arles), kain batiknya yang bercorak terang benderang, makanan lautnya, dan lain lain.

    ReplyDelete