24 November 2009

Mengapa PNS Sangat Diminati?



Lowongan yang tersedia hanya 57 [lima puluh tujuh], tapi peserta ujian pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Surabaya mencapai 7.625. Dus, yang ditolak nanti 7.568. Perhatikan saudara-saudara: hanya 0,74 persen yang diterima menjadi PNS. Bukan main!

Para peserta tes yang ribuan itu sudah tahu bahwa peluang diterima sangat kecil. Tapi apa salahnya dicoba? Siapa tahu jadi PNS, birokrat, karir bagus, masa depan cerah, dan seterusnya. Tak hanya di Surabaya, di kota-kota lain di Jawa Timur pun tes PNS dibanjiri ribuan peserta. Padahal, sekali lagi, lowongan sangat-sangat-sangat kecil.

Begitulah. Sampai hari ini PNS masih jadi primadona bagi sebagian besar orang Indonesia. Berkali-kali koran di Surabaya mempropagandakan keirausahaan, entrepreneurship, ciptakan lapangan kerja, buka bisnis kecil-kecilan.... Tapi kampanye wirausaha ternyata tidak efektif.

Setiap kali wisuda, para rektor selalu kampanye "ciptakan lapangan kerja, jangan cari kerja". Tapi, apa mau dikata, ini semua tinggal retorika. Diulang-ulang terus bagaikan mantra yang tak berguna. Harus diakui, PNS memang punya pesona yang luar biasa.

Di kota sebesar Surabaya saja begitu, apalagi di kota kecil? Apalagi di luar Jawa yang infrastruktur bisnisnya sangat buruk? Apalagi di NTT yang minim pendapatan asli daerah? "Cita-cita saya memang PNS kayak bapak saya. Asyik banget deh hidup sebagai PNS. Aku gak mau kerja ngoyo kayak di swasta," kata Rasmi, mahasiswi semester akhir UPN Veteran Surabaya, kepada saya suatu ketika.

Apa sebetulnya keistimewaan PNS itu?

1. KERJA SANTAI

Datanglah ke kantor-kantor pemerintah. Suasana sangat santai. PNS sibuk baca koran, main catur, ngobrol, ngopi. Ada beberapa PNS yang memang bekerja, tapi tidak sengoyo di swasta.

2. KERJA ADMINISTRATIF

PNS itu sama dengan pegawai administrasi pemerintah. Kerjanya pun tak lepas dari urusan administrasi: buat surat, masukkan data, mengurus surat-surat untuk penduduk. Kerja administrasi yang sudah punya prosedur standar, juklak, juknis, tidak membutuhkan pemikiran yang berat-berat.

3. TANPA TARGET

Beda dengan di swasta, PNS bekerja nyaris tanpa target. Deadline tidak ada. Mengurus KTP, misalnya, bisa dua hari jadi, tapi bisa meleset sampai 10 hari, 20 hari, bisa dua bulan. Si PNS cenderung merasa tak punya beban untuk menggarap pekerjaannya secara cepat dan tepat.

4. TIDAK STRES

Karena tanpa target, tanpa tekanan, PNS tidak stres. Hidup tidak dikejar-kejar waktu. Ancaman pemecatan pun nyaris tidak ada. Tidak heran, usia rata-rata PNS jauh lebih panjang ketimbang karyawan swasta.

5. SULIT DIPECAT

Seburuk apa pun kinerja PNS, dia dilindungi undang-undang kepegawaian, peraturan pemerintah, peraturan menteri, peraturan bupati, dan sebagainya. Ini membuat PNS sulit dipecat meski jelas-jelas salah dan bodoh. Ada beberapa tahapan sanksi. PNS yang terlambat masuk setelah cuti Lebaran, misalnya, tidak pernah dipecat. Paling hanya digeser ke samping (mutasi).

6. GAJI DAN PANGKAT SELALU NAIK

Perusahaan swasta tidak selalu untung. Banyak yang bangkrut, tutup, karyawan di-PHK massal. Di PNS mana ada negara atau kabupaten bangkrut? Sejelek-jeleknya kinerja keuangan, gaji pokok PNS selalu naik setiap tahun. Belum tunjangan macam-macam.

Presiden, gubernur, bupati selalu menjadikan kenaikan gaji sebagai alat politik untuk mempertahankan kekuasaan. Wakil rakyat di DPR pusat maupun daerah pun selalu mendorong kenaikan gaji. Pangkat/golongan naik otomatis secara berkala kecuali si PNS melakukan pelanggaran berat.

7. KARIER DILINDUNGI PANGKAT

Birokrasi punya mekanisme luar biasa untuk melindungi jenjang karier PNS. Jabatan ini harus didudki eselon sekian. Kepala sekolah harus golongan ini, pangkat ini. Maka, karier PNS selalu naik, atau mandek, tapi tidak bisa melorot. Kalau kepala daerah melengserkan si PNS, ada mekanisme gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara.

Karena mekanisme ini, banyak PNS eselon atas terpaksa nonjob atau "menganggur" karena tidak cocok dengan bupati atau wali kota. Mau dilengserkan tidak bisa, eselonnya ketinggian. Mau dipakai susah karena kinerja jelek dan tidak bisa diajak kerja sama.

8. PENSIUN DAN JAMINAN HARI TUA

Ini yang paling disukai orang Indonesia dari PNS. Perusahaan swasta sewaktu-waktu bangkrut, PNS tak mungkin bangkrut. Sampai kapan pun negara tetap ada, bukan?

9. LIBUR DAN CUTI BANYAK

Kerja lima hari. Cuti bersama Lebaran PNS sangat panjang. Belum cuti perorangan. Tanggal-tanggal merah di kalender itu sebetulnya sengaja dibuat pemerintah untuk mengatur hari libur PNS. Tanggal merah bisa digeser hanya agar PNS bisa berlibur lama-lama. Toh, pekerjaannya tanpa target dan tenggat waktu.

PNS yang liburnya paling panjang adalah guru dan dosen. Ketika liburan sekolah yang dua minggu, satu bulan, si PNS pendidikan pun ikut libur. Kalau mau jujur, Jumat itu sebetulnya bukan lagi hari kerja efektif. PNS berolahraga bersama, ngopi, santai, lalu pulang. Senin masuk lagi dan seterusnya.

10. SIMBOL STATUS

PNS masih menjadi simbol status di masyarakat. PNS punya gengsi yang tinggi, khususnya di luar Jawa. Orang tua di kampung-kampung lebih suka punya mantu PNS ketimbang katakanlah wartawan, pelukis, atau buruh pabrik Maspion. Apalagi, si PNS itu punya eselon tinggi.

11. BISA NYEPER

Selama ini para PNS mengeluh penghasilan sedikit. Tapi, sudah jadi rahasia umum, PNS-PNS ini suka nyeper. Agar cepat mengurus KTP, bayar sekian sama Pak Anu. Mau bikin paspor sehari jadi, cukup hubungi Cak Korup. Supaya izin ini cepat dan mulus, datangi saja Mas Gombal. Dan seterusnya. Ini ceperan yang jelas-jelas bikin ekonomi biaya tinggi.

Tapi banyak pula PNS menekuni kerja sambilan yang halal. Karena beban kerjanya longgar, bisa pulang cepat, si PNS bisa membuka bisnis kecil-kecilan di rumah. Menjual air galonan, pracangan, agen obat alternatif, dan sebagainya.

Ingat jaksa Urip Tri Gunawan yang ditangkap KPK di Jakarta? Si Urip yang PNS ini mengaku berbinis permata dengan si Ayin yang menyuap Rp 6 miliar. Macam-macamlah usaha sampingan PNS ini, termasuk berjualan togel alias judi gelap. Hehehe....

12. FASILITAS RUMAH

Di mana-mana ada perumahan dinas untuk PNS departemen A, departemen B, dan seterusnya. Di luar Jawa, PNS disediakan rumah layak di kompleks khusus.

Guru-guru yang PNS di luar Jawa, khususnya NTT, disediakan rumah dan fasilitas lain. Kalaupun tidak dapat rumah dinas, ada fasilitas kredit pemilikan rumah yang mempermudah si PNS beroleh rumah pribadi. Ada juga koperasi PNS yang membantu menyediakan rumah, kendaraan bermotor, dan sebagainya. Wuenaaak tenan!

13. LEBIH RELIGIUS

Karena punya banyak waktu, hidup tidak ngoyo, tak ada tekanan kerja, kehidupan beragama si PNS [agama apa saja] lebih teratur. Sejak dulu saya perhatikan bahwa PNS-PNS itulah yang menjadi motor berbagai kegiatan di Gereja Katolik. Jadi ketua lingkungan, ketua stasi, ketua wilayah, panitia ziarah, aktif latihan paduan suara, pembaca kitab suci, pemazmur, dan seterusnya. Tentu saja, religiositas macam ini sangat baik.

Saya mati, secara garis besar, keluarga PNS pun punya hidup doa yang bagus. Anak-anaknya dibiasakan makan bersama, doa bersama sebelum dan sesudah makan, doa pagi, doa malam, doa rosario, doa novena dan sebagainya. Karena itu, jangan heran kalau sebagian pastor atau romo di Indonesia berasal dari keluarga PNS, khususnya PNS guru.

14. LONCATAN POLITIK

Ini untuk PNS yang eselonnya tinggi macam kepala-kepala dinas, kepala bagian, dan sebagainya. Sejak ada pemilihan bupati/wali kota secara langsung, para PNS papan atas ini banyak "dilamar" [atau "melamar?] partai politik agar maju pilkada. Mereka dianggap tahu seluk-beluk PNS berikut berbagai sisi positif negatifnya. Kalau tidak jadi bupati/wali kota, biasanya PNS eselon tinggi ini jadi orang kedua.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo itu PNS tulen. Soenarjo, mantan wakil gubernur Jatim, yang maju dalam pemilihan gubernur Jatim dan kalah, PNS tulen. Soenarjo jadi PNS sejak era Kotamadya Surabaya, ke Pemprov Jatim, kemudian meloncat jadi ketua Golkar Jatim. Win Hendrarso, bupati Sidoarjo, juga PNS tulen eselon atas yang meloncat ke politik dan sukses. Banyak lagi bupati dan wali kota Jatim yang berlatar belakang PNS.

15. SILAKAN TAMBAH SENDIRI

9 comments:

  1. Benar sekali, bang Hurek.. Jadi PNS itu banyak enaknya, untuk yang merasa cukup dengan gaji segitu dan tahan dengan pertempuran melawan KKN di dalamnya. Toh masih banyak juga yang menolak jadi PNS biarpun ada kesempatan. Nggak berkembang, katanya. Tapi, kalau melihat betapa santai dan banyaknya fasilitas yang didapat, pekerjaan ini sepertinya cocok buat ibu-ibu seperti aku ini. Karena waktu untuk anak nggak bakal kurang. Toh bisa pulang kantor kapan saja. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Yah begitulah kenyataan hidup di Indonesia, pinternya kayak apa kalo idealis juga sulit berkembang, dibilang aneh, dbilang sok, pokoknya gak enak. Belum lagi di tempat kerja, sipenjilat merajalela, di swasta juga ada walau prosentase lebih kecil.Intinya kalau mau hidup gak stress di Indonesia pinter-pinter membawa diri walau bertentangan dengan hati nurani....gitu aja Om.

    ReplyDelete
  3. btul2 ,kyak kartu As, tak ada matinya.hha.. sya bru tes pertma kali thn ini,, mdah2n luls lngsng. AAAMIIN

    ReplyDelete
  4. jadi pns sih boleh2 aja,cuma jangan sampai kita terpengaruh sama temen2 kantor kita yg kurang baik,misalnya aja ajakan untuk melakukan perbuatan curang atau melanggar hukum,ingat semua perbuatan kita kelak ada pertanggung jawabannya di akhirat :D

    ReplyDelete
  5. PNS KELUARAHAN GAK JELAS!!!!!, MASA BIKIN KTP 6 BULAN, MATI AJA LOE PEGAWAI KELUARAHANNNN!!!!!!

    ReplyDelete
  6. setuju pak.. kebetulan saya sahabat yang bekerja di kantor bupati di lembata, NTT. Yang dia ceritakan persis sama dengan yang anda tulis disini.

    Thanks.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih Risma dan kawan-kawan yang telah merespons artikel ini. Sama sekali kita tidak mendiskreditkan PNS. Cuma mengangkat imej yang berkembang di masyarakat selama ini.

    Salam damai untuk semua.

    ReplyDelete
  8. BAng Bernie....saya sudah tulis komentar panjang...gaktaunya entah nyasar ke mana dia! Tulis lagi ya bang :D

    Walau tepat...tapi prihatin juga dengan penggambaran citra PNS yg bang Bernie tulis di atas. Saya percaya, tidak semua seperti itu...seperti istilah ilmu statistik, pasti ada pencilannya! hehe. Tapi namanya pencilan...pasti gak banyak ya?

    DI sini lain lagi ceritanya. Pemerintah menggaji PNS sesuai standar pasar komersil. Contohnya, untuk eselon atas, gaji mereka disejajarkan dengan para manajer atau pimpinan di berbagai bidang industri dari mulai institusi keuangan, properti, teknik, manufakturing. Tujuannya...supaya para orang pandai ini tidak tergiur 'go swasta' hehe. Jadi begitu orang memilih menjadi PNS, kerja mereka utamanya adalah mengabdi untuk keperluan masyarakat luas.

    Kapan bisa begini juga di tanah air kita bang?

    ReplyDelete
  9. Ikuti kata hati nurani mas

    ReplyDelete