04 November 2009

Malaysia, Allah, Alkitab


Negara tetangga yang satu ini, Malaysia, memang selalu bikin berita. Tenaga-tenaga kerja Indonesia bolak-balik dianiaya, diperlakukan tak manusiawi. Akhir Oktober ini, TKI asal Jember bernama Muntik meninggal karena dianiaya majikannya di Malaysia.

Tanpa bermaksud menggeneralisasi, sistem perlindungan TKI di Malaysia--juga di beberapa negara lain--memang sangat payah. Meski selalu menganggap kita sebagai bangsa serumpun, orang-orang Indonesia yang bekerja di Malaysia sering dianggap budak, kuli, lebih rendah ketimbang manusia Malaysia.

Kamis, 29 Oktober 2009, sejumlah media internasional, kantor-kantor berita, menulis tentang tindakan pemerintah Malaysia yang menyita lebih dari 20.000 eksemplar kitab suci (Alkitab) milik umat Kristen Protestan dan Katolik. Alkitab itu diimpor dari Indonesia. Malaysia bersikeras bahwa Alkitab itu tidak boleh beredar karena mengandung kata ALLAH.

Sebutan nama Tuhan, yang sangat lazim kita pergunakan ini, dianggap eksklusif untuk umat Islam. "Memang muncul kepekaan yang berlebihan di Malaysia ini. Padahal, kata ALLAH sudah lama digunakan umat Kristen di Malaysia dan Indonesia," kata Pendeta Hermen Shastri, sekretaris jenderal dewan gereja Malaysia, dikutip CNN.

Masih terkait penggunaan kata ALLAH di Malaysia, The Herald, sebuah koran mingguan Katolik milik keuskupan di Kuala Lumpur terancam dibredel alias dicabut izin terbitnya. Hanya karena koran itu menggunakan kata ALLAH di edisi bahasa Melayu. Wah-wah-wah! Saat ini pihak gereja sedang menunggu putusan pengadilan tentang nasib media rohani tersebut.

Tak hanya pihak gereja, dunia internasional pun terus memantau perkembangan isu keagamaan yang makin aneh-aneh di negara tetangga yang sebenarnya multietnis itu. Sistem hukum di Malaysia sedang diuji: apakah menghargai hak asasi manusia yang universal atau terus memberi tempat bagi pandangan-pandangan sempit dan picik?

Mencermati kasus-kasus bernuansa SARA di Malaysia, kita bangsa Indonesia selayaknya bangga dan bersyukur. Sebab, bangsa berpenduduk 230 juta lebih ini bisa hidup bersama, bersatu, tanpa meributkan soal remeh-temeh seperti penggunaan kata ALLAH di kalangan non-Islam. Kita di Indonesia pun tidak perlu cemas aparat menyita kitab suci macam di Malaysia.

Persoalan kita khas: kitab suci banyak, tersebar di mana-mana, tapi minat membaca kitab suci masih sangat rendah. Saking jarang dibaca, Alkitab-Alkitab yang kita punyai selalu terlihat kinclong! Hehehe....

1 comment:

  1. Sebenarnya Al quran juga tdk boleh mengutip kisah2 dari Alkitab Qs 43 : 4. Buat saja al quran yg baru yg menceriterakan ttg kisah2 bgs Arab saja. Mengapa seluruh al quran mengutip dari Alkitab ???? Krn Qs 42 : 7 Hanya utk org Mekah dan sekitarnya tdk perlu berisi kisah2 Israeliat.

    ReplyDelete