09 November 2009

Korupsi dan Sumpah demi Tuhan




Nama Tuhan selalu disebut-sebut di Indonesia. Ketika terantuk, Tuhan disebut. Bersin sebut nama Tuhan. Ditimpa kesialan, sebut Tuhan. Bersyukur sebut Tuhan. Ungkapannya bisa pakai bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa daerah, atau ungkapan yang mengarah ke sana.

Perhatikan kalimat-kalimat orang Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Selalu terselip interjeksi atau kata seru yangmengandung Allah atau Tuhan: alhamdulillah, insyaallah, masyaallah, subahanallah, astagfirullah.....

Dalam kasus korupsi, suap-menyuap, yang terungkap di media massa pun jurus sakti yang sering dilakukan orang Indonesia adalah ini: membawa-bawa nama Tuhan. Bikin sumpah pakai kitab suci!

"Demi Allah, demi Allah... sekali lagi, demi Allah... saya tidak korupsi! Saya tidak terima uang! Saya tidak terima suap seperti yang dibilang si A, si B, si C."

Susno Duadji, pejabat tinggi Mabes Polri, pun pakai jurus ini ketika dia dituduh menerima uang suap miliaran rupiah. Tak hanya bersumpah, Susno Duadji menangis di depan anggota Komisi III DPR. Intinya, Susno mengaku -- dengan membawa-bawa nama Tuhan -- bahwa dirinya bersih. Tidak korupsi.

Di televisi, TVOne, saya juga melihat Muhammad Jasin, anggota KPK, mengangkat sumpah demi Allah dengan mengangkat Alquran. Intinya sama: Jasin ingin membuktikan bahwa dirinya bersih. Saya tidak tahu apakah Anggodo Widjojo juga menyebut-nyebut nama Tuhan untuk "membersihkan" dirinya dari tuduhan sebagai penyandang dana untuk skenario mafia hukum.

Sumpah-sumpahan atas nama Tuhan memang bukan barang baru di Republik Indonesia. Upacara pelantikan pejabat mana pun, dari paling atas sampai paling rendah, selalu ada sumpahnya. "Demi Allah". "Demi Tuhan". "Demi Sang Hyang Widhi". "Demi Thian Penguasa Langit". Rohaniwan selalu dilibatkan sebagai pendamping dan pembawa kitab suci.

Tapi apa yang terjadi? Adakah sumpah "demi Allah" itu lantas membuat Indonesia bebas korupsi? Bebas suap? Bebas pemerasan? Pejabatnya amanah? Polisi, jaksa, hakim tidak menyalahgunakan kekuasaan?

Hehehe....

Indonesia, menurut berbagai riset, selalu jadi juara korupsi di Asia. Sumpah demi Allah sudah lama kehilangan hakikatnya. Sumpah jabatan, sumpah apa pun, cenderung pemanis bibir belaka. Nama Tuhan selalu disalahgunakan untuk menutup-nutupi kebobrokan, kebusukan, korupsi. Dan pejabat-pejabat publik tetap saja cengengesan, berlagak bersih, sok suci...

Saya selalu membandingkan Tiongkok, negara berpenduduk 1,3 miliar yang komunis dan ateis. Sumpah demi Allah tidak dikenal di Tiongkok. Kitab-kitab suci tidak ada. Tuhan dan agama,karena itu, tidak pernah dibawa-bawa sebagai alat justifikasi.

Kok Tiongkok bisa memberantas korupsi dengan efektif? Kok Tiongkok bisa memberlakukan sanksi hukum yang tegas kepada koruptor, termasuk hukuman mati? Kita, bangsa Indonesia, layak malu. Masak, kita yang membawa-bawa nama Tuhan kalah bermoral dengan Zhungguo yang komunis dan ateis itu?

No comments:

Post a Comment