16 November 2009

Kemarau Berkepanjangan



Jakarta sudah mulai turun hujan. Bahkan, di beberapa kawasan Jakarta tergenang banjir. Lantas, kapan Surabaya dan sekitarnya hujan?

Terus terang, saya "cemburu" dengan Jakarta yang dianugerahi kucuran air hujan dalam jumlah besar. Bahwa di sana-sini banjir, air masuk rumah, penduduk harus menyelamatkan harta bendanya, lalu lintas macet... itu persoalan lain. Bukankah sudah biasa?

Yang tidak biasa adalah musim kemarau yang terlalu panjang. Anak-anak SD, sejak zaman dulu, punya hafalan resmi: musim hujan itu mulai Oktober sampai April, musim kemarau April sampai Oktober. Lha, sekarang ini sudah November, tapi belum pernah ada hujan sekalipun di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya.

Kapan hujan turun? Petugas BMG--sekarang BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)--di Juanda dan Tanjungperak rupanya ikut bingung. Mereka pun ternyata tak bisa membuat ramalan secara pas. Yah, tanyakan saja rumput yang sudah kering kerontang itu.

"Kita berdoa saja. Semua itu urusan Gusti Allah," kata Pak Bambang. Pelukis 70-an tahun, beragama Katolik, ini rajin berdoa, tapi tidak pernah ke gereja. "Ini akibat perubahan iklim. Pemanasan global. Iklim menjadi kacau-balau gak karuan. Yang salah, ya, manusia juga," tambah Pak Bambang yang juga aktivis lingkungan itu.

Di pelosok Flores Timur, kampung saya, kalau terjadi kemarau panjang sekali kayak ini, pasti ada upacara MINTA HUJAN. Ada kebaktian atau misa khusus. Semua orang berdoa sungguh-sungguh, rosarionya banyak, minta agar Tuhan Allah menurunkan hujan.

"Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa. Kristus, kasihanilah kami," begitu ungkapan khas orang Katolik di desa-desa di Flores. Ketika hujan tidak kunjung turun, panas menyengat, kemarau panjang, orang memang lebih religius. Yang malas ke gereja tiba-tiba ikut misa MINTA HUJAN.

Hasilnya? Ada kalanya hujan bakal turun beberapa hari ke depan. Tapi sering kali pula awan tak pernah gelap, mendung tak ada, hujan hanya mimpi. Nah, ketika misa alias perayaan ekaristi khusus tidak mempan, tua-tua adat pun berpaling ke cara primitif. Yakni, membuat upacara tradisional dipimpin oleh dukun-dukun kampung.

Caranya? Hehehe.... Lain kali saja ceritanya. Cukup menggelikan, tidak masuk akal, tapi dipercaya ramai-ramai. Sebab, jurus dukun kampung ini sering kali efektif. Hujan akhirnya turun dengan deras. Itu dulu, tahun 1980-an dan 1990-an. Saya tidak tahu apakah jurus minta hujan melalui cara animisme-dinamisme ini masih dilakukan di Flores Timur.

Kemarin, saya baru jalan-jalan ke Jolotundo, Trawas, Kabupaten Mojokerto. Daerah pegunungan, sejuk 400-an meter di atas permukaan laut. Sebuah tempat wisata yang kerap dikunjungi orang-orang Surabaya dan sekitarnya. Selain hawanya yang masih sejuk, kekeringan terlihat di mana-mana. Pohon-pohon meranggas, remputan mati, debu beterbangan.

"Nggak pernah hujan di sini," kata Mbok Tani, warga asli Tamiajeng, Trawas, yang membuka warung dekat Cagar Budaya Candi Jolotundo. "Kalau manusia-manusia tidak bertobat, tetap berdosa, suka maksiat, jadinya ya kayak gini. Nggak tahu kapan hujan," kata perempuan buta huruf ini.

Aha, di mana-mana ternyata sama. Perubahan lingkungan, iklim yang berubah, kemarau panjang selalu dikaitkan dengan perilaku manusia. Alam dan manusia memang tak bisa dipisahkan. Maka, seperti dikatakan Mbok Tani di Trawas, manusia harus cepat-cepat bertobat, tidak merusak alam, menjaga perilaku, mawas diri, tidak mentang-mentang.

"Biasanya, kalau kemarau panjang kayak gini, banjirnya juga akan besar lho. Sing ati-ati ae," begitu nasihat Mbok Tani.

1 comment:

  1. Bang Bernie,

    Saya lupa-lupa ingat, cara minta hujan ini dilakukan waktu saya masih kecil. Itupun saya tidak yakin...apa serius atau cuma supaya saya dan kakak-adik saya senang dan ada hiburan.

    Begini,
    Coba manfaatkan sapu lidi yang ada di rumah. Tusukan cabe merah dan bawang merah di ujung-ujungnya. Lalu tegakkan sapu lidi ke arah langit. Eh...siapa tahu hujan datang :D

    ReplyDelete