11 November 2009

Halte untuk Apa?



Jalan Ahmad Yani Surabaya, tepatnya di arah Siwalankerto (UK Petra), kemarin, macet parah. Penyebabnya sederhana saja: beberapa angkot dan bus kota berhenti persis di zebra cross.

Arus kendaraan dari arah selatan (Waru) pun tersendat. Sementara penyeberang jalan dari arah timur tak peduli dengan lampu merah.

Ironis! Sekitar 30 meter dari zebra cross ada halte yang masih terlihat baru. Sejak dibuat, halte itu tidak pernah dimanfaatkan sebagai tempat menurunkan dan menaikkan penumpang angkot atau bus kota. Siang hari, halte itu bahkan dijadikan tempat tidur pasukan kuning yang kelelahan.

Ironis! Tak jauh dari situ ada kantor Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) yang antara lain bertugas menertibkan kendaraan umum di jalan raya. Pegawai pemkot, petugas Satpol PP, pun melintas di situ setiap hari. Tapi tak ada yang merasa janggal. Semuanya biasa-biasa saja.

Ironis! Surabaya, yang disebut-sebut sebagai metropolis, kota kedua di Indonesia, ternyata belum didukung warga yang berperilaku layaknya orang kota. Orang yang tahu memanfaatkan halte, zebra cross, traffic light, serta kesantunan publik yang layak dibanggakan.

Di Surabaya, ada 20-an halte yang tersebar dari Jalan Ahmad Yani hingga Tanjung Perak. Hampir semua halte yang sudah dibangun dengan uang rakyat itu tidak difungsikan. Bus kota dan angkot dibiarkan bebas mengambil dan menurunkan penumpang di mana saja. Jalan raya di Surabaya ibarat rimba raya tanpa aturan.

Anehnya, ketika orang Surabaya, yang tak pernah mau memanfaatkan halte ini, bisa tertib ketika berada di negara maju seperti Singapura. Bisa antre, tidak ngawur, sabar menunggu bus kota di halte.

4 comments:

  1. Apa kabar bang Hurek? Lama tidak "bersua" ya ^^
    Apa itu foto salah satu halte si Surabaya? Bagus sekali..
    Kalau di Medan, halte itu adalah media grafiti. Hampir di setiap halte ditemukan tulisan-tulisan senada: Si Anu pacar si Anu.. Biasanya pasti anak-anak remaja yang gatal tangan..

    Disini juga halte hampir tak ada fungsinya (selain untuk grafiti dan tempat menempelkan berbagai poster iklan). Orang-orang lebih memilih menunggu langsung di pinggir jalan, jadi bisa lebih cepat naik ke angkotnya..
    Mungkin belum saatnya masyarakat kita bisa seperti warga Singapura..

    Horas

    ReplyDelete
  2. Apa kabar Risma? Sibuk bahas Dante ya?
    Yah, ini salah satu halte di Surabaya, tepatnya di Jalan Ahmad Yani. 20-an halte yang ada bagus-bagus, tapi tidak dimanfaatkan. Pemkot Surabaya juga belum punya komitmen untuk bikin tertib rakyatnya.

    Surabaya, Medan, sama sajalah. Mungkin 100 tahun lagi baru bisa tertib dan disiplin kayak Singapura tahun 2009. Singapuranya sendiri sudah kayak apa ya? Salam.

    ReplyDelete
  3. Hahahaha...di jakarta lebih baik, halte busway masih digunakan kok.

    Begitulah...harus ada usaha dan komitmen bersama...cuma kok gak gampang melaksanakannya ya?

    Dulunya jaman tahun 65an Singapura juga sebuah kota ruwet dan kumuh. Tp pemerintahnya 'kencang' memperbaiki sistem administrasi dan yang utama...kualitas hidup penduduknya. Dan...rakyat bisa merasakan komitmen pemerintah...jadi rasa percaya itu ada. Ini yg penting ya?

    ReplyDelete
  4. bner juga,selama ini halte hanya cuma jadi tempat warung buat beli roko.hahha
    sama buat neduh klo ujan..sebernya halte uda gak berfungsi,lah bis nya aja bernti di tenga jalan..zzz

    ReplyDelete