13 November 2009

Bu Hartono dan Batik Sidoarjo




Diberhentikan dari tempat kerjanya, gara-gara krisis moneter, tak membuat Faina Hartono (47) putus asa. Justru itu menjadi momentum untuk merintis karir sebagai pengusaha baik tulis. Kini, setelah satu dekade berlalu, Bu Hartono, sapaan akrab ibu empat anak ini, telah menjadi salah satu juragan batik paling sukses di Sidoarjo.

Bu Hartono juga berhasil mengembalikan kejayaan batik tulis alami khas Desa Kenanga, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, yang sempat surut pamornya. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Faina Hartono di Rumah Batik Sari Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, Jumat (30/10/2009).


Oleh LAMBERTUS HUREK


Setelah batik diakui UNESCO pada 2 Oktober lalu, kemudian 'gerakan berbatik' digalakkan pemerintah, bagaimana omzet batik Anda?

Alhamdulillah, ini benar-benar kabar gembira untuk usaha batik di Indonesia, bukan hanya di Sidoarjo. Permintaan jelas meningkat pesat dibandingkan dulu sebelum ada hari batik kemarin. Sekarang ini yang pesan batik di saya meningkat tiga kali lipat.
Alhamdulillah, usaha yang saya kembangkan dari nol pelan-pelan mulai berbuah dan menghasilkan. Nggak ada bayangan kalau usaha batik yang kami geluti itu bisa jadi seperti sekarang.

Mulai dari nol? Awalnya bagaimana sih Anda mengembangkan batik sari kenongo?

Krismon (krisis moneter, Red) tahun 1997 membuat tempat kerja saya di Jalan Kartini Sidoarjo goyang. Belum lagi pemilik usaha batik itu juga meninggal dunia. Sementara bisanya saya sejak dulu, ya, membatik. Saya nggak bisa kerja di tempat lain.

Waktu berhenti kerja di Jalan Kartini itu, saya sudah menekuni batik selama 25 tahun. Setiap hari urusan saya, ya, bikin batik. Makanya, saya tahu bagaimana proses kerja, membuat desain yang bagus, membedakan kualitas batik, dan sebagainya. Tapi, sebagai pekerja biasa, saya tentu tidak banyak memahami sisi bisnis, pemasaran, dan sebagainya.

Lantas, saya kembali ke sini (Desa Kenongo, Tulangan) untuk memulai usaha dari nol. Saya nggak punya modal sama sekali. Karena itu, saya terpaksa menjual sepeda motor yang saya miliki. Itu satu-satunya motor yang saya punya. Harganya saya masih ingat: Rp 7,2 juta. Dengan uang itu, saya mulai menggarap batik pesanan orang. Saya punya prinsip: kalau ada pesanan baru saya cari modal. Saya nggak mau spekulasi. Kalau uang habis, saya dan keluarga mau makan apa?

Daerah Tulangan sejak dulu terkenal dengan batik tulis yang khas.

Betul. Bahkan, sebagian besar kerajinan batik di Kabupaten Sidoarjo itu yang garap, ya, masyarakat dari Tulangan. Batik yang di Jetis itu juga sebenarnya pembatiknya ibu-ibu dari Tulangan juga. Tapi, kita tahu, gara-gara krismon itu hampir semua usaha mandek, termasuk batik. Saya dan banyak ibu-ibu lain terpaksa kehilangan pekerjaan.

Usaha Anda kemudian berkembang?

Jalannya, ya, nggak bisa cepat, tapi perlahan-lahan. Apalagi saya ini kan orang desa yang tidak mau berhubungan dengan bank. Modal yang saya punyai, ya, dari usaha saya sendiri. Alhamdulillah, semakin lama semakin berkembang dan dikenal oleh banyak orang baik di Sidoarjo, Surabaya, Jakarta, Makassar, maupun kota-kota lain di Indonesia. Bahkan, sekarang saya juga menggarap pesanan dari luar negeri.

Apa yang membuat usaha Anda maju pesat hanya dalam tempo 10 tahun?

Selain kerja keras, saya juga banyak mengikuti pameran batik di berbagai tempat. Pameran itu sangat bagus untuk memperkenalkan produk-produk saya ke masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga sangat membantu dan memfasilitasi saya untuk ikut pameran. Bu Win yang memimpin Dekranasda (Dr Emy Susanti Hendrarso, istri Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sidoarjo, Red) ikut mendorong dan membantu saya agar usaha batik sari kenongo bisa maju.

Nah, orang-orang yang sudah pernah membeli batik sari kenongo biasanya gethuk tular sama temannya. Dan itu terjadi terus-menerus. Saya sering kaget ketika didatangi banyak orang dari tempat yang jauh. Mereka ternyata dapat informasi dari teman-temannya.

Anda sekarang melayani pesanan dari instansi-instansi atau perorangan?

Ya, semuanya kami layani. Awalnya sih, pada tahun-tahun pertama, lebih banyak bikin batik untuk konsumen perorangan. Tapi lama-lama pesanan dari kantor-kantor pemerintah dan swasta makin banyak. Sekarang ini, misalnya, saya sedang melayani order 350 batik untuk kantor Dinas Peternakan di Jalan Ahmad Yani Surabaya itu. Yang ini pakai kain primis, sehingga kualitasnya sangat baik.

Berapa jumlah karyawan Anda sekarang?

Jangan dibilang karyawan lah. Hehehe.... Usaha batik itu sistemnya kerja sama. Saya yang menggambar desainnya, kemudian proses selanjutnya ditangani oleh ibu-ibu dari lima desa di Kecamatan Tulangan. Yakni, Desa Kenongo, Tulangan, Kepatihan, Ngemplak, dan Kedurus. Total ada 168 orang yang terlibat dalam pembuatan batik tulis sari kenongo.

Orang membatik itu kalau sudah mulai nggak bisa berhenti. Makanya, jumlah orang yang menggarap batik bersama saya itu selalu bertambah, nggak bisa berkurang. Suatu saat kalau Anda datang wawancara lagi ke sini, jumlah pembatik pasti sudah bukan 168 lagi. Jelas akan lebih banyak. Dan itu memang sudah tradisi turun-temurun di Tulangan sini.

Selain digarap di Tulangan, apakah ada juga yang digarap di tempat lain?

Ada. Di Solo 40 orang, di Pekalongan 25 orang. Saya kan sering ke Solo dan Pekalongan untuk mengambil kain dan sebagainya. Nah, saya langsung bikin motif batik sari kenongo untuk digarap ibu-ibu di sana. Jadi, biarpun digarap di Solo dan Pekalongan, motifnya tetap Tulangan. Beda dengan batik solo atau batik pekalongan.

Ibu-ibu yang 233 orang itu dikasih target?

Sebetulnya bukan target. Tapi rata-rata satu kain itu biasanya selesai dalam dua atau tiga hari. Kalau nggak selesai-selesai kan dia juga yang rugi karena uang yang didapat sedikit. Satu kain batik dia bisa dapat Rp 40.000 sampai Rp 60.000. Lumayan, daripada ibu-ibu itu hanya nganggur atau ngerumpi di rumah. Kalau ada pesanan khusus dari kantor-kantor pemerintah atau swasta, ya, hasilnya lebih banyak lagi.

Anda yang melukis semua desain batik sari kenongo?

Iya. Itu memang pekerjaan pokok saya. Rata-rata dalam satu jam saya membuat 10 gambar motif. Motif dan warna itu paling penting dalam seni membatik. Makanya, saya harus terlibat langsung agar kekhasan batik sari kenongo itu tetap terjaga. Kembang asam harus ada, begitu juga sunduk kutang dan cecek-ceceknya.

Selama 10 tahun Anda membuktikan bahwa modal bukan segala-galanya dalam menjalankan usaha batik?

Begini. Kita kerja memang perlu modal. Tapi, yang paling penting, harus ada pasarnya dulu. Buat apa bikin batik banyak, tapi nggak dibeli orang? Lama-lama juga modalnya habis.

Saya juga mengingatkan bahwa perajin batik itu lebih membutuhkan garapan ketimbang penghargaan. Piagam penghargaan itu kan hanya pajangan saja. Tapi kalau dikasih garapan, maka usahanya jalan. Dia bisa dapat uang untuk membiayai kebutuhkan keluarganya.




Sukses meski Tidak Tamat SD


KEBERHASILAN Faina Hartono mengembangkan batik tulis sari kenongo benar-benar mengejutkan. Maklum, ibu empat anak ini sama sekali bukan keturunan pengusaha batik atau orang kaya. Faina mengaku hanyalah anak seorang buruh tani yang sederhana di Tulangan.


"Bapak saya itu nggak punya apa-apa. Beliau hanya kerja di sawah milik orang lain," ujar Faina.

Karena penghasilan orangtuanya pas-pasan, bahkan kurang, Faina cilik tidak bisa mencicipi pendidikan seperti anak-anak sebayanya. Faina bahkan terpaksa drop-out dari SD Muhammadiyah di Tulangan. Dia harus bekerja di usia yang sangat muda untuk membantu orangtuanya. "Saya cuma sekolah sampai kelas lima SD. Habis, nggak ada uang untuk bayar sekolah," kenang Faina lantas tersenyum.

Pada tahun 1960-an situasi ekonomi memang sangat sulit. Inflasi membubung tinggi, usaha apa pun tak berkembang. Rakyat kecil sangat menderita. Karena itu, bocah-bocah di desa memang tidak bisa menikmati masa anak-anak yang indah. Mau tak mau, mereka harus bekerja membantu orangtua. Nah, karena Tulangan memang terkenal dengan tradisi batik tulis, Faina pun sudah menekuni seni membatik pada usia bocah.

"Saya mulai ikut membatik tahun 1968. Jadi, umur saya waktu itu masih tujuh tahun," tutur istri Hartono ini.

Kain diambil di Jetis, Sidoarjo, kemudian digarap di Tulangan. Aktivitas ini berjalan terus hingga Faina bekerja di sebuah rumah batik di Jl Kartini Sidoarjo selama 25 tahun. Setelah krisis moneter menghantam Indonesia pada 1997, tempat kerja Faina pun oleng. Pemutusan hubungan kerja (PHK) pun tak terelakkan.

"Saya kembali ke sini (Desa Kenongo, Tulangan, Red) untuk memulai usaha batik sampai sekarang," kata Faina.

Yang menarik, meski usahanya sudah berkembang pesat, Faina tetap enggan berhubungan dengan bank. Alasannya sederhana saja: "Saya tidak mau punya utang pada siapa pun. Orang yang punya utang itu beban hidupnya sangat berat. Ya, kalau bisa bayar, kalau nggak bisa bayar bagaimana? Wong, kita hidup di dunia itu nggak lama."

Sampai sekarang orang-orang bank seakan berlomba datang ke rumahnya untuk menawarkan kredit. Faina berkali-kali diyakinkan bahwa jika mengambil kredit dari bank, maka usaha batiknya akan jauh lebih maju daripada sekarang. "Saya sih hanya ketawa-ketawa saja. Wong pembukuan saja saya nggak punya. Hehehe," pungkasnya.


FAINA HARTONO

Nama populer: Bu Hartono
Lahir : Sidoarjo, 11 Desember 1961
Anak : 4 orang (Heny Purwanto, Tis, Haimin, Lintang)
Cucu : 5 orang
Pendidikan :SD Muhammadiyah Tulangan
Profesi : Desainer, pengusaha batik sari kenongo

Pameran:
Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, Makassar, Malaysia, Brunei Darussalam, dll.

Penghargaan :
Kartini Award (P3A Sidoarjo)
Wanita Berprestasi (Rotary Club)


1 comment:

  1. Saya cek dg Om Gugel...ternyata batik Sidoarjo cantik sekali :)
    Khas batik pesisiran.

    Tanggal 2 oktober lalu teman2 dan masyarakat Indonesia di sini pun turut mengenakan batik kebanggaan kita ini. Hidup batik! :)

    ReplyDelete