06 November 2009

Artikel Ganda di Koran

Artikel opini Bernard L. Tanya, dosen Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang, dimuat pada hari yang sama di dua koran besar sekaligus, Jawa Pos dan Kompas, pada hari yang sama. Kamis 5 November 2009.

Judulnya "Socrates dan Mafioso Hukum". Isinya tentu membahas kasus anggota KPK Bibit Samad Riyanto dan Candra M. Hamzah yang sedang berurusan dengan kepolisian.

Isi artikel Tanya sih biasa-biasa saja, normatif, cuma dibuat berbau filsafat sedikitlah. Bernard Tanya pun bukan intelektual terkenal. Tapi kok bisa dimuat koran besar sekaliber Kompas dan Jawa Pos pada hari yang sama. Apa gerangan di balik artikel ganda yang sejak dulu "sangat diharamkan" media massa itu?

Artikel ganda. Masalah ini sangat kronis. Sejak dulu sudah ada, pesat berkembang pada 1990-an, dan makin gila setelah reformasi. Ketika media massa melimpah ruah, internet meluas, copy-paste jadi gaya hidup, siapa yang bisa membendung artikel ganda? Kembali ke hati nurani dan kejujuran penulis. Itu jawaban para redaktur opini yang kecolongan oleh penulis-penulis nakal tak bermoral itu.

Ironis! Dalam kasus Bernard Tanya di Kompas dan Jawa Pos sudah jelas bahwa sejak awal si penulis mengirim artikel yang sama ke lebih dari satu media. Ini jelas salah besar. Semua artikel untuk media massa harus bersifat EKSKLUSIF. Hanya untuk satu media. Tidak diecer-ecer ke dua, tiga, atau banyak media.

Di mana moral filsafat Socrates yang digembor-gemborkan si Tanya itu kalau dia sendiri tidak melaksanakan kode etik penulis? Lebih celaka lagi kalau motifnya hanya untuk dapat honorarium. Lumayan, taruhlah satu artikel dibayar Rp 500.000, kalau dimuat di banyak koran, silakan digandakan sendirilah!

Motivasi cari uang harus diakui banyak penulis artikel opini di Indonesia. Selain artikel ganda yang benar-benar sama macam "Socrates dan Mafioso Hukum", banyak penulis yang bikin artikel "berbeda tapi sama". Susunan kata-katanya beda, lead sedikit beda, tapi inti tulisan sami mawon. Akal-akalan ini dibuat agar tulisan bisa dimuat di beberapa media massa. Lumayan, honor lebih banyak.

Saya mencermati kasus artikel ganda ini mulai meledak pada 1990-an. Banyak dosen muda, cendekiawan pemula, aktivis... yang gandrung banget kalau tulisannya dimuat koran dan dapat uang. Kalau dimuat di koran besar, honornya pun tinggi. Merasa enak, banyak orang yang kemudian menjadi "pabrik artikel".

Kerjanya menulis artikel setiap hari. Bisa empat, lima, enam, bahkan kalau perlu delapan artikel sehari. Bukankah menulis artikel pendek di koran itu relatif sederhana? Referensi tak perlu banyak, tak perlu wawancara, cukup buka buku sedikit, main silat kata, lantas mengetik. Kini ada Mr. Google yang siap membantu mencarikan beberapa kutipan agar artikel itu terkesan "ilmiah dan berbobot".

Saking produktifnya si "pabrik artikel", kadang-kadang mereka membuat strategi pinjam nama. Yang menulis sebenarnya si Badu, tapi penulisnya ditulis si Fulan, si Amir, dan sebagainya. Ini sering diketahui petugas yang mengirim honor ke rekening penulis. Kok nama di rekening si A, padahal penulisnya si B?

Banyak penulis nakal, yang doyan artikel ganda, berkilah dengan menyalahkan redaktur. "Sudah kirim ke koran A beberapa hari tak dimuat. Ya, aku kirim ke koran B, siapa tahu dimuat di koran B." Redaktur koran A tentu tidak membaca semua koran yang terbit di indonesia yang berjibun itu. Maka, lagi-lagi artikel ganda terjadi.

Sanksinya harus sangat tegas. Masukkan ke daftar hitam penulis nakal! Jangan pernah memuat tulisan penulis-penulis nakal itu lagi! Masih banyak kok penulis-penulis bermutu yang melaksanakan kode etik di Indonesia! Jangan khawatir karena biasanya penulis-penulis artikel ganda itu bermutu tanggung atau medioker. Penulis sekaliber Ignas Kleden atau Kuntowijoyo atau Budi Darma atau Daoed Joesoef tak akan pernah merusak reputasinya dengan artikel ganda.

Maraknya artikel ganda juga tak lepas dari sistem "pasar bebas" di Indonesia. Siapa saja boleh kirim artikel ke redaksi opini. Tak peduli orang itu analis beneran, intelektual sejati yang fokus di satu bidang bahasan, atau penganggur yang sedang cari uang lewat tulisan.

Ini berbeda dengan kebijakan redaksional di beberapa media internasional terkemuka yang sempat saya pantau. Artikel atau kolom di majalah seperti TIME atau NEWSWEEK, misalnya, tidak sembarang orang boleh menulis. Hanya analis-analis pilihan yang ditentukan redaksi dengan kriteria sangat ketat.

Begitu juga kolom-kolom di USA TODAY atau THE CHRISTIAN SCIENCE MONITOR. Mereka punya kolumnis-kolumnis kawakan yang artikelnya selalu dinanti pembaca. Apa boleh buat, sampai sekarang kita masih konsisten menjadi bangsa berkualitas medioker dalam segala hal.

1 comment:

  1. https://issuu.com/brondong/docs/061109/8

    juga di jambi express tgl 6 november 2009, alias hari jumat keesokan harinya....

    ReplyDelete