01 November 2009

Yan Shi, pelestari syair Tionghoa




Para penyair Tionghoa, yang sempat 'tiarap' selama tiga dekade, kini mulai aktif berkarya. Selain mengisi kolom sastra di media berbahasa Tionghoa, mereka juga menerbitkan buku kumpulan puisi dwibahasa: Tionghoa dan Indonesia.


"Pusi saya sudah banyak sekali. Beberapa di antaranya dimuat di dua buku kumpulan puisi yang sudah saya terbitkan," ujar Yan Shi, salah satu penulis yang sangat produktif menulis puisi dalam bahasa Tionghoa, kepada saya pekan lalu.

Agar puisi-puisinya bisa dinikmati publik lebih luas, Yan Shi membuat puisi dalam dua bahasa: Tionghoa (Mandarin) dan Indonesia. "Syukurlah, sudah banyak orang yang menikmati puisi-puisi saya," ujar perempuan kelahiran Kediri 1 Mei 1938 itu.

Yan Shi mengangkat tema-tema sederhana dalam puisinya. Mulai dari persahabatan, nostalgia, cinta, alam, musik dan kehidupan, hingga peristiwa besar semacam ledakan bom di Bali pada 1 Oktober 2005. Di kuplet awal Yan Shi menulis:

"Mentari menghadap laut
Menyiram sinar pada kaca biru
Yang telah berabad-abad setia
Tiba-tiba menyaksikan dentuman bom bunuh diri."

Sebagai guru bahasa Tionghoa sejak 1958, Yan Shi memang tak asing lagi dengan syair-syair Tionghoa. Begitu datang inspirasi, mantan guru SMA Shin Hua Surabaya ini langsung bisa memilih ungkapan-ungkapan yang padat dan indah.

"Saya memang sudah biasa menulis, termasuk menulis puisi. Jadi, semuanya mengalir begitu saja," kata Yan Shi yang kini menjabat sekretaris Himpunan Penulis Sastra Tionghoa Indonesia Timur.

Han Chuan, pemerhati sastra Tionghoa asal Singapura, menilai Yan Shi sebagai sosok sastrawan yang luar biasa. Dia sangat teguh dalam menekuni sastra Tionghoa di Indonesia.

"Dan sajak-sajaknya selalu dipenuhi rasa nasionalisme yang mendalam. Yan Shi sangat mencintai Indonesia," ujar Han Chuan dalam kata pengantar Kumpulan Sajak Cinta Yan Shi. (*)

No comments:

Post a Comment