02 October 2009

Tiongkok 60 Tahun


Oleh DAHLAN ISKAN

CUACA pun harus diubah kalau Beijing sedang punya hajat besar, seperti yang terjadi pada 1 Oktober pagi ini. Di Beijing perayaan 60 tahun kemerdekaan Tiongkok diperingati secara khusus bukan hanya karena angka 60 itu. Angka 60 tahun memang istimewa dalam kehidupan orang Tionghoa. Sebab, dalam sistem kalender Tiongkok 60 tahun adalah waktu yang sempurna untuk mencapai tepat satu putaran kalender. Keistimewaan yang lain adalah: tahun ini bertepatan dengan peringatan 30 tahun modernisasi.

Sebenarnya sudah lima hari ini Beijing sangat berkabut. Matahari praktis tidak pernah kelihatan. Inilah ciri khas kalau Beijing memasuki musim gugur yang udaranya amat sejuk dan nyaman. Tapi, hari ini, udara Beijing yang berkabut itu akan "dipaksa" cerah. Langit akan direkayasa agar perayaan yang amat penting hari ini bisa berlangsung dalam suasana yang sangat ceria. Teknologi rekayasa cuaca sudah disiapkan matang. Sebanyak 28 pesawat angkut diubah untuk bersama-sama 48 pesawat pengubah kabut bertugas mengurus cuaca hari ini.

"Waktu Olimpiade tahun lalu sudah bisa dibuktikan bahwa kami mampu merekayasa cuaca. Besok kami lakukan lagi," tulis harian China Daily kemarin.

Tentu tidak hanya cuaca Beijing yang harus tunduk pada pemerintah. Bandara internasional yang begitu sibuk pun harus ditutup selama tiga jam. Padahal, letak bandara itu berada satu jam perjalanan mobil di arah timur laut kota. Padahal, bandara tersibuk di Tiongkok ini terdiri atas lima terminal. Padahal, setiap menit harus ada pesawat yang turun dan naik. Padahal, ada 1.000 penerbangan setiap hari di bandara baru itu. Dari pengalaman saat penutupan bandara selama pembukaan Olimpiade tahun lalu, terdapat 300 pesawat yang harus tertunda. Tapi, yah harus terjadi. Kun fayakun.

Penduduk Kota Beijing sendiri dianjurkan untuk tidak perlu keluar rumah pagi ini. Cukup menonton siaran langsung dari televisi. Sebab, jalan-jalan utama di pusat kota akan ditutup total. Penutupan itu begitu luasnya sehingga praktis dalam radius ring road 3 lalu lintas akan terpengaruh. Di Kota Beijing sudah dibangun ring road sampai 6 lingkar sehingga bisa diartikan separo Kota Beijing harus bebas dari hambatan apa pun.

Saya sendiri yang mendapat undangan untuk menghadiri perayaan itu, sudah diminta bangun pukul 03.30 untuk berkumpul di lobi hotel pukul 04.00. Lalu harus berkumpul dulu di Press Centre untuk bersama-sama dengan tamu dari negara lain berangkat ke Tian An Men, pusat perayaan dan parade pagi ini. Padahal, acaranya baru dimulai pukul 10.00.

Kali ini Tiongkok memang mengundang dua pimpinan media dari setiap negara. Dari Indonesia Jawa Pos dan Antara. Saya lihat delegasi ini dari lebih 100 negara. Terutama negara-negara Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Barat, Afrika, dan Amerika Latin. Tiongkok seperti ingin memberikan contoh kepada negara-negara berkembang itu bahwa negara miskin dan terbelakang pun bisa mengalahkan negara Barat kalau bekerja dengan sungguh-sungguh. 30 tahun lalu, Tiongkok lebih miskin dari umumnya negara yang diundang ini. Tapi, hanya dalam tiga dekade semuanya lewat. Bahkan, kini Tiongkoklah yang bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin baru dunia menggantikan Amerika -atau setidaknya tidak lagi hanya Amerika.

Kapan peran sebagai pemimpin baru dunia itu tiba? Para pejabat tinggi Tiongkok yang bertemu dengan delegasi media ini selalu merendah. Khas timur. "Kami masih jauh untuk bisa disebut menjadi negara maju. Kami masih harus bekerja sangat keras. Kami masih punya banyak persoalan. Misalnya, ketimpangan antara kota-desa dan pantai-pedalaman. Tapi, kami yakin saat itu akan tiba," ujar deputi menteri penerangan menjawab pertanyaan media dari Nepal.

Negara seperti Nepal yang baru merdeka dua tahun lalu tentu baru bisa bermimpi. Nepal masih penuh dengan persoalan. Mereka masih kisruh dalam merumuskan UUD setelah raja terakhir Nepal menyerahkan kerajaan kepada rakyat. Negara yang hanya berpenduduk 7 juta ini (sebesar Surabaya + Sidoarjo), masih berantem untuk mencari bentuk negara: kesatuan atau federasi.

Setelah disepakati berbentuk federasi, mereka masih berantem lagi. Negara kecil itu akan terbagi dalam berapa negara bagian. Ada yang menginginkan 15 negara bagian ada yang minta 17 negara bagian. Maksudnya, agar satu suku kecil pun punya satu negara bagian sendiri. Lalu mereka juga masih berantem karena para pejuang komunis yang selama ini menuntut kemerdekaan dari kerajaan minta otomatis jadi tentara. Mirip sekali dengan apa yang dialami di Indonesia di awal kemerdekaan dulu. Tentara tidak mau menerima mereka karena ada sekitar 32.000 pejuang bersenjata yang kalau diterima, berarti komunis akan menguasai kemiliteran.

Negara-negara di sekitar Tiongkok masih seperti itu. Afghanistan masih ribut antarsuku yang saling berebut kekuasaan: Pastun, Tajik, dan Hazara. Padahal, mereka punya musuh bersama: Taliban. "Tapi, Afghanistan sekarang sudah lebih damai lho. Kabul sudah lebih aman daripada Islamabad, ibu kota Pakistan," ujar Kazim al Gulzari, pemilik harian Daily Outlook yang sukunya Hazara. "Datanglah ke Kabul," ujarnya kepada saya. "Memang kalau malam masih belum berani keluar, tapi sebenarnya aman," tambahnya. Saya pun berjanji ke Afghanistan dalam waktu dekat karena dia juga berjanji ke Indonesia akhir bulan ini: untuk membeli kertas koran.

Para pimpinan media dari Afrika yang umumnya baru sekali ini melihat Tiongkok, tidak habis keheranannya melihat Tiongkok sekarang. "Makanya Tiongkok agresif sekali masuk pasar Afrika," ujar salah satu dari mereka. Tiongkok kini memang memasuki Afrika secara besar-besaran, sampai-sampai membuat heran negara Barat. Kok mau Tiongkok masuk negara yang penuh dengan pergolakan. Perminyakan, telekomunikasi, infrasruktur di negara-negara Afrika kini memang dikuasai Tiongkok. Afrika memang penuh risiko, tapi rupanya justru itulah yang dilihat Tiongkok sebagai peluang. Sebagaimana mi Sedaap dari Surabaya yang berani masuk Nigeria 10 tahun lalu dan kini sudah berhasil menguasai pasar mi di sana. Tentu dengan risiko ada pegawainya yang dirampok dan bahkan dibunuh.

Demikian juga delegasi dari Brazil, Argentina, Chili, Meksiko, Kolombia, dan seterusnya. Umumnya baru sekali ini ke Tiongkok. Mereka tidak menyangka bahwa Tiongkok sudah mencapai tahapan sekarang ini. "Bagaimana keadaan semaju ini masih dikatakan negara berkembang. Shanghai ini sudah melebihi New York," ujar pemimpin media dari Kolombia. Sekali lagi, pejabat-pejabat tinggi Tiongkok merendah. "Kami masih punya banyak persoalan," katanya.

Tentu tidak hanya pagi ini perayaan kemerdekaan dilakukan secara spektakuler. Masih diteruskan lagi nanti malam. Pergelaran kesenian diadakan besar-besaran di lapangan Tian An Men yang letaknya di depan Istana Kota Terlarang itu. Kembang api yang akan dipergunakan untuk menghiasi langit Beijing nanti malam, misalnya, dua kali lipat dari yang digunakan saat pembukaan Olimpiade yang sudah mengagumkan dunia itu.

Dan saya juga berada di situ nanti malam... (*)

*****


KETIKA bangun pagi kemarin, yang pertama saya perhatikan adalah langit. Benarkah cuaca bu­ruk yang sudah melanda Beijing lima hari ter­akhir bisa dibuat cerah untuk perayaan Hari Ke­merdekaan Ke-60 Tiongkok? Langit masih ge­lap. Baru pukul 4 pagi.


Selama di Beijing delegasi media dari lebih 100 ne­­gara ini memang selalu kesulitan memotret. Ka­­but membuat jarak pandang sangat pendek. Se­tiap mengambil foto, latar belakangnya selalu ha­nya kabut. Bangunan berjarak 200 meter pun ti­dak tampak. Tak ayal bila kemarin pagi para war­­tawan pun mempertanyakan keberhasilan renc­a­na pemerin­tah Tiongkok dalam membersihkan langit Beijing dengan cara mengerahkan pe­sawat pembersih cuaca.

Terjadi! Ketika fajar mulai menyingsing, terlihat­lah langit yang sudah lima hari raib. Kian siang kian cerah warna biru di angkasa. Dan, ketika upa­cara kenegaraan dimulai, langit begitu bersih­nya.

Bahkan, terlalu bersih sehingga sinar matahari awal musim gugur itu terasa agak terlalu terik untuk acara yang dimulai pukul 10.00 tersebut.

Saya memang selalu senang melihat acara kemiliteran. Mungkin karena saya tidak gagah sehingga ada sedikit mimpi alangkah bahagianya orang yang begitu gagah, tegap, disiplin, dan heroik itu. Maka, saya juga ingin memperhatikan tata cara upacara militer di Tiongkok, apakah ada yang berbeda.

Terutama, saya ingin tahu bagaimana cara komandan upacara yang tempatnya berjarak sekitar 1 km dari inspektur upacara itu memberikan laporan. Apalagi, inspektur upacaranya (Presiden Hu Jintao) berada di ketinggian sekitar 15 meter. Yakni, berdiri di atas gerbang Istana Kota Terlarang, tepat di atas foto Mao Zedong yang terkenal itu. Sedang­kan komandan upa­caranya tidak terlihat dari situ karena berada di tengah jalan arah kiri jauh di depan Beijing Hotel sana.

Ternyata, ketika waktunya tiba, inspektur upacara turun dari atas gerbang Istana Kota Terlarang itu untuk naik mobil sedan panjang yang bagian te­ngah atapnya berlubang. Presiden Hu naik mobil itu dengan posisi bagian atas badannya terlihat menjulang tinggi. Di depannya, di atap sedan itu, terlihat ada empat mikrofon.

Bersamaan dengan itu komandan upacara juga naik mobil yang jenisnya sama dengan posisi yang sama meninggalkan kawasan Beijing Hotel menuju arah depan Istana Kota Terlarang. Ketika mobil inspektur upacara sudah membelok dari gerbang Istana Kota Terlarang menuju Jalan Chang An Jie di depan lapa­ngan Tian An Men, mobil komandan upacara juga sudah hampir tiba di tempat yang sama.

Ketika jarak sudah tinggal 15 meter, kedua mobil itu pun berhenti. Posisi berhentinya mobil komandan upacara dan inspektur upacara itu ternyata tidak langsung berhadapan. Selisih satu jalur. Bukan karena takut bertabrakan, tapi ada maksud lain. Di situlah ternyata, sama-sama dalam posisi di atas mobil, laporan komandan upacara kepada inspektur upacara dilakukan.

Lalu mobil presiden bergerak maju menuju arah pasukan yang ada di sekitar 1 km di arah timur sana. Itulah gunanya mengapa mobil komandan upacara tidak berhenti tepat di depan mobil inspektur upacara. Saat mobil presiden sudah melintas, barulah mobil komandan upacara memutar balik mengikuti mobil presiden dari belakang. Dimulailah inspeksi pasukan.

Pada upacara militer yang biasa saya lihat, acara meninjau pasukan seperti ini tidak disertai kata-kata apa pun. Pasukan membisu dan inspektur upacara juga hanya menyambut hormat dengan tangan hormat militer. Di Tiongkok agak khas. Setiap pasukan yang dilewati inspektur upacara selalu serentak berteriak memberi hormat. Sesaat kemudian, presiden menyambut dengan ucapan lantang: tong shi men hao! (Apa kabar, kawan-kawan!). Pasukan membalas dengan teriakan serempak: shou zhang hao! (baik, komandan!).

Di depan pasukan yang lain, inspektur upacara berteriak lantang: tong shi men xin ku le! (kawan-kawan ini sudah bersusah payah, ya!). Lalu dijawab serentak oleh pasukan: wei ren min fu wu! (demi mengabdi kepada rakyat!). Begitulah, setiap melintasi suatu pasukan presiden mengucapkan kalimat tersebut secara bergantian dan disambut dengan jawaban yang standar itu.

Semua itu bisa diikuti oleh ratusan ribu hadirin di lapangan Tian An Men karena sistem suara yang serbanirkabel (wireless), rupanya, bekerja tanpa cacat. Demikian juga layar lebar videotron ada di mana-mana sehingga semua sudut acara bisa diikuti dari arah mana pun.

Berbeda dengan acara yang sama 30 tahun lalu (saat Tiongkok belum membuka diri), warna militer di perayaan sekarang ini sudah jauh berkurang. Warna militer hanya terlihat saat penaikan bende­ra (dilakukan oleh militer) dan ketika terjadi parade lu hai gong (AD, AL, AU) berikut persenjataannya yang mutakhir. Selebihnya sudah menunjukkan citra baru modernisasi Tiongkok.

Manusia yang dihadirkan untuk memenuhi lapa­ngan Tian An Men, misalnya, sudah tidak kelihatan manusia lagi. Tapi, sudah menjadi bunga berwarna-warni. Kemarin seluruh lapangan Tian An Men se­perti kebun bunga yang luas yang setiap saat berubah warnanya. Ini karena semua orang yang dihadirkan di situ membawa rumbai-rumbai beberapa warna. Setiap saat ada kode tertentu agar mereka menaikkan rumbai-rumbai dengan warna tertentu untuk membentuk "kebun bunga" yang luas dan indah.

Demikian juga peserta parade. Setiap kelompok parade yang melintas di depan gerbang Istana Kota Terlarang menunjukkan kebolehan aksesori dan dekorasi yang jauh dari kesan "masih komunis". Karena itu, parade ini sangat menarik. Bukan saja hiasan yang mereka bawa, tapi juga jumlah orangnya. Setiap kelompok parade setidaknya terdiri atas 3.000 orang. Padahal, ada 41 kelompok. Bayangkan ba­nyaknya manusia yang dikerahkan. Serbakolosal.

Tentu saya lebih banyak memperhatikan yang terjadi di balik itu. Yakni, bagaimana cara mengelola acara begitu besar dengan menghadirkan orang begitu banyak dan berlangsung dalam ketepatan waktu sampai ke menit-menitnya. Kunci utamanya ternyata memang penutupan Kota Beijing dari lalu lintas umum. Kemarin, di luar kawasan Tian An Men, Beijing seperti kota mati. Karena itu, pergerakan peserta upacara ini bisa dilakukan dengan tepat.

Pemeriksaan keamanan, misalnya, tidak dilakukan di lokasi upacara. Setiap kelompok undangan dikumpulkan di berbagai wilayah sesuai kelompoknya. Tiap kelompok bisa mencapai 300 orang. Pemeriksaan keamanan dilakukan di sini. Lalu mereka diangkut dengan konvoi bus khusus yang sudah steril menuju Tian An Men.

Padahal, malamnya masih ada acara besar (banyak teman di Indonesia yang mengikiutinya secara langsung lewat CCTV 4) yang juga memerlukan pengorganisasian yang rumit. Maka memperhatikan manajemen acaranya saja sudah sangat berharga.

Acara-acara besar ternyata juga bisa meningkatkan kemampuan manajemen banyak orang. Saya bayangkan, berapa puluh ribu orang yang harus belajar manajemen dari acara ini saja. Tanpa manajemen yang prima, mustahil acara yang menge­rahkan ratusan ribu orang dengan dihadiri VVIP bisa berlangsung begitu mulusnya. (*

Sumber: Jawa Pos, 1-2 Oktober 2009

1 comment:

  1. Hi Lambertus,
    I happen to come across your blog while searching for Ervinna, 'Golden Hits Of 20th Century.' And it's fabulous. Could I have your permission to reproduce the interview with Ervinna on my blog.

    I shall certainly visit it time and again because it's informative and current.

    Please write to me soon.
    Cheers,

    ReplyDelete