09 October 2009

Solomon Tong terbitkan memoar



Pada 20 Oktober mendatang, Solomon Tong genap berusia 70 tahun. Momen istimewa ini ditandai pemimpin Surabaya Symphony Orchestra (SSO) itu dengan penerbitan memoar.

Solomon menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku dari Tiongkok, hijrah ke Surabaya, masa kecil, hingga pahit getirnya hidup bersama mama tercinta, mendiang Tan Tjien Nio.

"Saya lahir pada tanggal 29 bulan ke-10 kalender tani (Imlek) tahun 1939. Namun, sewaktu mendarat di Surabaya dari Tiongkok pada Juli 1949, di kantor Imigrasi tertera tanggal 20 Oktober 1939. Maka, sejak itulah tanggal kelahiranku menjadi 20 Oktober 1939," ujar Solomon Tong.

Menurut rencana, memoar Solomon Tong itu akan diterbitkan JP Books, penerbit buku milik Grup Jawa Pos. Setelah melalui proses penyuntingan, naskah karya Solomon Tong ini sedang dalam proses pencetakan. "Insyaallah, dalam waktu dekat sudah terbit, sebagai hadiah ulang tahun untuk Bapak Solomon Tong," kata Djoko Pitono, editor JP Books, Sabtu (10/10/2009).

Tong Tjong An, nama asli Solomon Tong, dilahirkan di di Gu Lang Yu, Xiamen, Provinsi Fujian, Republik Rakyat Tiongkok. Saat itu awal Perang Dunia II di mana Tiongkok memobilisasi dan merekrut para pemuda untuk ikut berperang menghadapi tentara Jepang. Ayah Solomon, Tong Pai Hu, akhirnya pindah ke Pulau Gu Lang Yu.

"Nah, pada saat pengungsian itulah, aku lahir di sebuah rumah bersalin swasta yang kecil. Setelah keadaan memungkinkan, baru saya dibawa kembali ke Xiamen," kenang Solomon Tong.

Sebetulnya, enam tahun lalu Solomon sudah berencana menulis buku memoar atau otobiografi. Namun, karena bahannya belum siap, ditambah kesibukan Tong mengurus SSO, rencana itu tertunda. Di sela kesibukannya, Tong melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk menelusuri sejarah marga Tong. Dia sempat mendapatkan sejarah marga Tong dalam tulisan Mandarin kuno.

"Banyak karakternya yang sudah kabur dan sulit dimengerti. Saya berusaha menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin biasa. Usaha ini tidak maksimal, sampai Januari 2009 yang lalu, saya menghadiri pemakaman kakakku tertua di Hongkong. Nah, saya berhasil mendapatkan cetakan yang jelas. Itu yang saya pakai sebagai pelengkap memoar saya," paparnya.

Sejak usia 13 tahun Solomon menekuni musik klasik. Awalnya, dia ikut paduan suara gereja, paduan suara sekolah, ikut konser, hingga mendirikan berbagai paduan suara dan SSO. Artinya, selama 56 tahun Solomon konsisten memilih musik sebagai ladang pengabdiannya.

"Namun, saya tidak merasa lelah atau patah semangat. Sebab, Tuhan yang mahapengasih telah menghidupkan aku dan keluargaku melalui anugerah dan mujizat-Nya sampai hari ini," tegasnya. (rek)

No comments:

Post a Comment