01 November 2009

PMS bahas Barenboim



Musik bisa menjembatani perbedaan. Palestina dan Israel yang dilanda konflik berkepanjangan pun ternyata bisa berkolaborasi dalam musik. Itulah yang terungkap dalam Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di Wisma Musik Melodia, Jl Ngagel Jaya 12-14 Surabaya, kemarin.

PMS ini dipandu Slamet Abdul Sjukur, pianis sekaligus guru musik senior yang punya reputasi internasional. "Ini bukan teori, melainkan kenyataan. Bahwa ternyata musik berhasil mengatasi permusuhan yang tidak dapat diselesaikan dengan politik maupun senjata," ujar Slamet di hadapan sekitar 20 pianis dan guru musik di Surabaya dan sekitarnya.

Pertemuan ini fokus pada pribadi Barenboim, pianis kawakan yang juga konduktor orkes simfoni. Bersama pemain cello Yo-Yo-Ma dan sastrawan Palestina, Edward Said, Barenboim mengumpulkan para pemuda Yahudi dan Arab. Dua ras yang selama ini bermusuhan bak anjing dan kucing. Mereka menjalani latihan intensif untuk mempergelarkan konser.

Orkes ini diberi nama West-Eastern Divan Orchestra atau Orkes Divan Timur-Barat. Nama orkes ini dipetik dari sajak Goethe, Divan Timur-Barat, yang terinspirasi dari Jalaluddin Rumi. Slamet yang asli Keputran, Surabaya, kemudian mengupas puisi penyair Jerman itu tentang 'kerendahhatian'.

"Kerendahhatian itu berbeda dengan keakuan. Kerendahhatian adalah guru dari semua guru, di mana seluruh hati adalah muridnya," papar Slamet.

Usai menyampaikan pengantar singkat, peserta PMS diajak Slamet Abdul Sjukur menyaksikan rekaman persiapan dan konser orkes simfoni gabungan Arab-Palestina itu. Konser digelar empat kali di kota Weimar, Sevilla (Spanyol), Ramallah (Tepi Barat, Palestina), dan Berlin (Jerman).

"Mereka ini sebenarnya pemuda-pemuda ingusan. Tapi berkat bimbingan dan latihan dari Barenboim, yang memang seorang maestro, orkes mereka sangat menarik," ujar Slamet.

Ivonne Maria, pianis dan guru piano, mengapresiasi orkes simfoni gabungan Arab-Yahudi tersebut. Ini menunjukkan bahwa musik itu universal, bisa dimainkan dan dinikmati siapa saja tanpa memandang bangsa, ras, warna kulit, pilihan politik, dan sebagainya.

"Orang Arab dan Yahudi saja bisa menyatu dalam musik, apalagi kita di Indonesia," tukas Ivonne. (rek)

1 comment:

  1. Betul Bung, musik bisa mengatasi sekat-sekat perbedaan. Karena musik bersifat universal. Beethoven sendiri dalam Simponi Nomor 9 "Ode of Joy" mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia itu bersaudara.

    ReplyDelete