25 October 2009

Pamrih Terima Kasih



Hampir tiap hari ada ratusan orang yang nyasar ke blog ini. Mereka umumnya mencari informasi via Google, kemudian diantar ke Wong Kam Pung. Jadi, kesannya seakan-akan blog ini punya ratusan pembaca setia.

Dan tiap hari ada saja orang yang mengirim surat elektronik, minta alamat ini, nomor telepon si anu, data tentang si fulan, hingga partitur paduan suara atau lagu seriosa.

Kalau ada waktu luang, saya berusaha menjawab. Saya usahakan agar informasi tersebut padat, berisi, dan bisa dimanfaatkan. Tapi saya pun sangat selektif memberikan nomor telepon seluler (HP) seseorang.

HP itu barang pribadi. Tidak semua orang boleh mengakses. Apalagi orang-orang penting macam pejabat, artis, dan sebagainya. Bagaimana kalau nomor itu jatuh ke tangan penjahat atau orang-orang berbahaya?

Setelah memberikan informasi kepada teman pembaca, diam-diam, saya selalu berharap datang ucapan TERIMA KASIH. Mau bilang THANK YOU, THANKS, MATUR NUWUN, SUWUN, XIEXIE... atau ungkapan lain yang sejenis, silakan.

Yang jelas, saya sangat berharap ada TERIMA KASIH. Kerja keras saya mencari data, bongkar dokumen, rasanya terbayar dengan dua kata pendek dan klise itu: TERIMA KASIH.

Sayang sekali, berdasar pengalaman, selama ini tak sampai 10 persen orang yang mengirim ucapan TERIMA KASIH kepada saya. Setelah dikasih informasi, bahan-bahan yang dibutuhkan, selesai. Tak ada kabar berita. Nol besar.

Apa sih sulitnya menulis e-mail atau komentar singkat di blog dengan pesan singkat, TERIMA KASIH? Padahal, sebelumnya mereka-mereka ini begitu ngoyo meminta informasi ini itu. Bahkan, terkesan mendesak-desak.

Saya pun merenung sendirian. Begitu sulitkan orang-orang kita, Indonesia, bilang TERIMA KASIH? Jangan-jangan benar kata orang Belanda tempo doeloe bahwa orang Indonesia itu pada dasarnya "kurang tahu ber-TERIMA KASIH"?

Oh, ya, kalau yang minta informasi itu orang Barat (Eropa, Amerika), ucapan TERIMA KASIH pasti segera datang. Begitu juga orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri selalu bilang TERIMA KASIH. Tapi kalau orang-orang kita di Indonesia Raya yang gak maju-maju itu, wah... TERIMA KASIH ternyata sangat mahal. Padahal, TERIMA KASIH itu bukan uang, bukan barang berharga. Cukup diucapkan atau dituliskan saja.

Karena sering tidak dapat ucapan TERIMA KASIH, padahal diam-diam saya harapkan, saya pernah berpikir untuk tidak lagi melayani permintaan pembaca blog. Capek-capek menulis, gali data, bongkar dokumen, paling juga dianggap angin lalu. Saya ibarat orang goblog saja. Maka, cukup lama saya mendiamkan saja permintaan orang.

Sampai suatu ketika saya mendengar khotbah di gereja tentang 10 orang kusta. Sepuluh orang kusta ini dikucilkan masyarakat. Mereka kemudian disembuhkan oleh Yesus Kristus. Apa yang terjadi? Mereka sangat gembira. Bahagia. Meloncat kegirangan.

Sayang sekali, dari 10 orang ini hanya SATU yang datang kembali kepada Yesus untuk bilang TERIMA KASIH. Dan satu orang ini pun orang Samaria yang dianggap rendah martabatnya ketimbang Yahudi. Adapun sembilan bekas penderita kusta lupa ber-TERIMA KASIH. Tidak tahu TERIMA KASIH.

Orang-orang Yahudi memang brengsek sejak zaman dulu!

Marahkan Yesus hanya karena hanya satu orang yang ber-TERIMA KASIH? Tidak. Apakah gara-gara kasus ini Yesus berhenti berbuat baik kepada sesama? Tidak. "Sebab, Yesus menyembuhkan 10 orang kusta itu tanpa pamrih apa pun," kata sang pastor dalam khotbah di gereja yang saya ikuti.

Khotbah ini membuat pikiran saya melayang ke blog. Yang bilang TERIMA KASIH kepada saya, setelah saya bantu memberikan informasi, tak sampai 90 persen. Jauh lebih banyak yang tidak pernah bilang TERIMA KASIH. Jauh lebih banyak yang hanya bisa minta, minta, minta, minta... dan alpa ber-TERIMA KASIH.

Pekan lalu, saya memberikan hadiah 20 kilogram beras kepada seorang seniman senior yang hidup serbakurang di Sidoarjo. Dia kerap SMS saya, bagi pengalaman, minta koran, dan sebagainya.

Saya berharap, setelah menitipkan beras di rumahnya, karena keluarga seniman itu tidak berada di rumah, beliau mengirim SMS berisi ucapan TERIMA KASIH. Tapi sampai sekarang belum ada pesan pendek, tapi penting itu. Saya pun merenung lagi.

"Kalau berbuat baik, jangan minta PAMRIH apa pun," begitu kata-kata pastor yang sering saya dengar. Termasuk pamrih TERIMA KASIH.

Yesus Kristus dalam Injil Matius Matius 6:3 mengatakan:

"Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu."

Tuhan, jadikan aku orang yang suka bersyukur!
Jadikan aku orang yang pandai berterima kasih!

7 comments:

  1. hi, blog walking, salam kenal ya

    ReplyDelete
  2. ucaplah syukur senantiasa...

    ReplyDelete
  3. Terima kasih, Bung Hurek, karena sudah menulis banyak cerita dan artikel menarik, yang mengobati rindu terhadap kampung halaman.

    ReplyDelete
  4. terima kasih bung, saya suka blog anda ...

    ReplyDelete
  5. WOW... INI JUGA SAYA ALAMI...
    Terima kasih mas Bertus, saya lupa, bahkan Tuhan Yesus sendiri sudah mengajarkan untuk memberi tanpa pamrih.
    Saya seringkali juga 'nggondhok' karena sudah memberi sesuatu yang merek harapkan, jangankan terima kasih, eee.. malah ngata-ngatain yang gak bener... hihih... salib kita memang berat kang !!

    ReplyDelete
  6. Terima kasih banyak atas tanggapan kawan-kawan. Salam damai!

    ReplyDelete
  7. Abang Hurek.. beto e sering kita lupa kata itu.

    mungkin juga karena koda terima kasih ne lamaholot nae di take. atau abang mo moiro. tite lebih ke amet marin wekik.

    misalnya tite balik lewo ata genato kenato, terus tite soron... ra oneka senan, huda tobo lango onen, kirinet. terus tite balik ra amet tite karena kenato raen bisa hewo lango turun tite tete beto.......terima kasih kah tuh abang..

    sosinus- samarinda

    ReplyDelete