05 October 2009

Murphy Sembiring aktivis LSM peduli AIDS



Di sela kesibukannya sebagai dosen beberapa perguruan tinggi swasta di Surabaya, Murphy Josua Sembiring bergelut intensif dengan HIV/AIDS. Pria 47 tahun ini tercatat sebagai direktur Yayasan Program Sosial Pencegahan AIDS dan Narkoba (Prospana). Aktivitas di lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini bahkan sudah ditekuninya selama 16 tahun.

"Banyak orang tidak tahu kalau saya ini dosen. Di mana-mana saya dikenal sebagai orang LSM yang mengurus HIV/AIDS," ujar Murphy Sembiring yang ditemui Radar Surabaya di ruang kerjanya di kawasan Jl Arief Rachman Hakim 103 Surabaya, Jumat (2/10). Berikut petikan wawancara dengan peraih penghargaan Satria Bhakti Husada dari Menteri Kesehatan RI itu.


Oleh LAMBERTUS L HUREK
Sumber: Radar Surabaya, Minggu 4 Oktober 2009


Sejak kapan Anda berkecimpung di LSM peduli HIV/AIDS?

Sudah lama sekali, sejak 1993. Waktu itu isu HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome) masih relatif baru, sehingga masyarakat umumnya belum tahu banyak tentang HIV/AIDS. Saya bersama teman-teman turun langsung ke lapangan untuk menemui kalangan yang berisiko tinggi.

Waktu itu kabarnya banyak orang bikin LSM karena ada kucuran dana dari luar?

Memang, ada orang yang melihat LSM sebagai peluang untuk mencari nafkah atau sekadar coba-coba. Lama-kelamaan terjadi seleksi alam. Mereka yang benar-benar komit dengan persoalan HIV/AIDS, serius, yang bisa bertahan. Apalagi, lembaga-lembaga donor di luar negeri sangat ketat dalam mengaudit bantuan keuangan. Kalau dianggap tidak accountable, ya, selesai. Akuntabilitas itu nomor satu.

Donor asing itu sangat selektif dalam memberikan bantuan. Awalnya, dia ngasih sedikiiiit... semacam uji coba. Kalau dianggap bagus, ya, bantuan akan ditambah. Prospana dulu juga begitu. Saya mulai dari nol besar. Tapi, syukurlah, sampai sekarang masih bertahan meskipun pola operasional dan pendekatannya sudah berbeda. Situasinya sudah lain.

Sekarang berapa LSM yang bertahan di bidang HIV/AIDS di Surabaya?

Saya tidak punya data pasti. Tapi, yang jelas, kurang dari 20. Selain karena seleksi alam, sekarang ini sudah mulai banyak instansi yang secara konkret menyediakan layanan untuk ODHA (orang dalam HIV/AIDS, Red). RSU dr Soetomo Surabaya, misalnya, punya bagian khusus yang menangani ODHA. Situasinya sudah jauh lebih bagus ketimbang tahun 1980-an dan 1990-an. Waktu itu isu HIV/AIDS sepertinya hanya disuarakan oleh kalangan LSM. Dulu, masyarakat juga belum begitu yakin kalau HIV/AIDS itu ada di Indonesia.

Sekarang HIV/AIDS sudah benar-benar nyata di sekitar kita?

Memang. HIV/AIDS sudah menjadi hal yang biasa karena penderitanya memang semakin bertambah. Ada yang dari kalangan berisiko tinggi seperti PSK, pemakai narkoba, tapi juga masyarakat umum. Bahkan, anak-anak dan bayip pun bisa terkena. Penggunaan jarum suntik narkoba itu justru sangat rawan HIV/AIDS. Dari waktu ke waktu kita juga membaca berita tentang orang yang meninggal dunia karena HIV/AIDS.

Masyarakat kita sudah bisa menerima ODHA?

Nah, belum lama ini ada dua kejadian sekaligus di Rungkut, Surabaya. Warga setempat geger begitu mengetahui ada perempuan terkena HIV/AIDS. Mereka ramai-ramai mengusir perempuan itu karena takut ketularan. Di sinilah belum adanya pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS.

Kebetulan saya kenal dengan ketua RW. Saya diberi kesempatan untuk ceramah di depan warga. Saya sampaikan bahwa penularan HIV/AIDS itu tidak sama dengan penyakit biasa. Saya perlihatkan gambar dan foto ketika saya bersalaman dengan pasien HIV/AIDS. Baru setelah itu mereka bisa paham bagaimana seharusnya memperlakukan ODHA.

Yang kedua masih di Rungkut, perempuan juga, pun kasusnya sama. Begitu ketahuan menderita HIV/AIDS, warga bereaksi keras. Beberapa saat kemudian keduanya meninggal dunia. Nggak ada yang memandikan, nggak dikasih kain kafan, dan sebagainya. Ini semua karena masyarakat belum mendapat informasi yang benar tentang HIV/AIDS.

Artinya, peran LSM masih dibutuhkan?

Menurut saya, perlu. Kalau semua mau diserahkan kepada pemerintah, instansi lintas sektoral, tidak akan bisa jalan. Sebab, kasus HIV/AIDS ini perlu pendekatan dari hati ke hati. Langsung menyentuh ODHA. Dan itu biasanya lebih mudah dilakukan relawan-relawan LSM yang memang sudah biasa turun ke lapangan. Kalau sudah biasa pendekatan, maka ada trust, kepercayaan. Ingat, HIV/AIDS ini bukan penyakit biasa. Ada privasi yang harus dijaga. Ada rahasia-rahasia yang jangan sampai bocor ke mana-mana.

Saya pernah diminta sebuah lembaga asing bikin woro-woro di radio tentang tes HIV/AIDS gratis. Siapa yang merasa berisiko, silakan datang ke tempat tertentu. Kita kasih alamat lengkap, nomor telepon, petugas, dokter. Ternyata, tidak ada yang mau memeriksakan diri. Kenapa? Warga ragu-ragu apakah privasinya dilindungi. Nah, kalau LSM yang bergerak, hasilnya akan lain. Karena sudah saling mengenal, trust antara LSM dan ODHA itu lebih mudah terbangun.

Anda sudah pernah studi banding ke Thailand. Bagaimana penanganan HIV/AIDS di sana?

Wah, kalau Thailand memang jauh lebih bagus. Bahkan, selama ini dijadikan rujukan hampir semua negara di dunia. Thailand termasuk negara yang kasus HIV/AIDS-nya sangat banyak, sehingga menjadi concern utama pemerintah. Mereka kerja habis-habisan untuk menekan penyebaran HIV/AIDS. Dan itu dilakukan lintas sektoral. Pemerintah, masyarakat, tokoh agama, rumah sakit... semuanya bahu-membahu.

Bagaimana dengan LSM di Thailand?

Sangat profesional. Mereka yang mengelola dan aktif di LSM itu bukan orang-orang yang kurang kerjaan, penganggur, tapi punya pengetahuan dan skill luar biasa. Mereka belajar banyak, termasuk sekolah di luar negeri.

Saya terkesan dengan seorang tokoh LSM di Thailand. Ternyata, dia itu doktor, S-3, lulusan Inggris. Karena itu, omongannya selalu didengarkan oleh pemerintah dan masyarakat. Dia bisa bicara dengan enak di depan gubernur, bupati, pejabat tentang berbagai hal seputar HIV/AIDS. Tidak hanya bicara, tapi juga menunjukkan bukti konkret program-program yang sudah dilakukan LSM-nya.

Ke depan, saya kira, program penanggulangan HIV/AIDS ini akan lebih sukses jika ditangani oleh para ODHA sendiri. Mereka-mereka ini tentu lebih mudah melakukan pendekatan dengan komunitasnya. Thailand sekarang sudah begitu. Program-program di bidang HIV/AIDS sangat efektif karena ODHA-ODHA itu menjadi ujung tombak di lapangan. (*)


MURPHY JOSUA SEMBIRING

Lahir : Binjai, Sumatera Utara, 4 Februari 1962
Istri : Reni Rahayu
Anak : Geovani Carolina Sembiring, Gita Malinda Sembiring, Gareth Pindota Sembiring
Hobi :Tenis dan catur

PENDIDIKAN
SD Pancurbatu, Medan
SMP Kabanjahe, Sumatera Utara
SMAN Bandung
FE Universitas Cenderawasih, Papua
Pascasarjana Universitas Airlangga
Doktoral Universitas Airlangga (sedang berlangsung)

KARIR/ORGANISASI
- Dosen FE Unitomo Surabaya
- Direktur LSM Prospana Surabaya
- Koordinator Dosen Kopertis VII
- Staf Koalisi Jatim Sehat
- Majelis GKI Manyar Surabaya

Penghargaan :
Satria Bhakti Husada dari Menteri Kesehatan RI

Diprotes Narapidana

SELAIN kalangan pekerja seks, tukang pijat, dan pengguna narkoba, sejak 1990-an Yayasan Prospana aktif melakukan penyuluhan mengenai bahaya HIV/AIDS di penjara maupun rumah tahanan (rutan). Penjara-penjara besar seperti Rutan Medaeng atau LP Delta Sidoarjo pun didatangi Murphy Josua Sembiring bersama tim Prospana.

Menurut Murphy, direktur Yayasan Prospana, di dunia internasional para penghuni penjara (narapidana dan tahanan) dianggap sebagai kalangan berisiko tinggi terkena HIV/AIDS. Ini bisa dimaklumi karena para napi itu umumnya berlatar belakang 'gelap' alias orang-orang bermasalah.

Nah, di dalam penjara mereka bertemu dengan napi (eks) pengguna atau pengedar narkoba. Perilaku seks napi pun dianggap rawan HIV/AIDS. "Sudah menjadi rahasia umum kalau napi-napi itu suka bikin tato di tubuh dengan peralatan yang tidak steril. Tukang tato, ya, temannya sendiri juga,'' kata Murphy Sembiring, yang juga dosen Unitomo Surabaya itu.

''Tato sendiri sih sebenarnya nggak apa-apa asalkan cara pembuatannya steril. Kalau alatnya tidak steril, dipakai untuk orang banyak, sangat rawan,'' dia menambahkan.

Ketika memberikan penyuluhan di LP Delta Sidoarjo, ada napi yang protes. Alasannya, di dalam penjara mereka tidak mungkin berhubungan seks dengan pekerja seks. Bagaimana mungkin terkena HIV/AIDS? Murphy Sembiring merespons, yang namanya HIV/AIDS itu tidak hanya akibat hubungan seks antara pria dan wanita (heteroseksual), tapi juga sesama jenis.

Malah, belakangan ini pengidap HIV/AIDS itu banyak dari kalangan homoseksual. ''Kalau Anda melakukan sodomi, ya, risiko kena HIV/AIDS juga tinggi,'' Murphy menegaskan.

Berdasar data yang dihimpun LSM internasional, menurut ayah tiga anak ini, kasus HIV/AIDS dalam tahun-tahun terakhir kebanyakan berasal dari pengguna narkoba melalui injeksi alias jarum suntik. Karena itu, dia menekankan agar para napi tidak memakai silet, pisau cukur, sikat gigi, apalagi jarum suntik, secara gotong-royong. Barang-barang pribadi seharusnya tidak dipakai orang lain.

Akhir-akhir ini Murphy mengaku kecewa berat membaca berita tentang keberadaan narkoba di penjara atau rutan. Dia tak habis pikir mengapa sistem pengamanan yang berlapis-lapis di pejara bisa ditembus oleh mafia narkoba.

"Kalau faktanya seperti itu, kita mau bilang apa lagi? Pemerintah dan pihak-pihak terkait harus sangat serius memerangi narkoba. Sebab, narkoba dan HIV/AIDS punya kaitan sangat erat," katanya. (*)

No comments:

Post a Comment