17 October 2009

Hwie Tiauw Ka di Surabaya



Di kawasan Surabaya Utara terdapat sebuah rumah milik Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya. Meski usianya hampir 190 tahun, sampai kini masih berdiri kokoh.

Oleh LAININ NADZIROH
nin1512@yahoo.com

Melintas di kawasan Pecinan, tepatnya daerah Jl Slompretan yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian di Surabaya Utara, keberadaan gedung perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya memang langsung terlihat beda. Warna merah dan kuning keemasan yang mendominasi bangunan ini membuat banyak orang menyangka bahwa bangunan tersebut merupakan sebuah kelenteng.

''Memang banyak yang menyangka seperti itu. Tetapi sebenarnya ini merupakan Perkumpulan Suku Hakka," terang Ketua Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya Dr Suwondo.

Bangunan yang dibangun pada 1820 dan berada di sisi timur Jl Slompretan ini sudah mengalami pergantian hingga empat generasi. Namun, keberadaannya masih terus dilestarikan sebagai wadah untuk terus menjalin komunikasi Suku Hakka di Surabaya. Tak hanya kalangan senior, generasi muda pun dilibatkan untuk menjaga keberadaan gedung ini.

Dengan semangat merawat tradisi dan menghormati leluhur, maka perkumpulan ini akhirnya masih bisa bertahan hingga sekarang. Begitu masuk ke bangunan ini, di ruang tamu langsung disergap dengan kehadiran foto-foto pengurus dan anggota Hwie Tiauw Ka Surabaya.

Hanya, sebagian besar mereka adalah pengurus yang belum terlalu lama menjabat. Sebab, dokumentasi Hwie Tiauw Ka ini belum lengkap karena kegiatannya sebagian besar bersifat sosial. Apalagi, saat Orde Baru (1966-1998), banyak dokumentasi serta aktivitas Suku Hakka yang nyaris tak dilakukan.

''Selama Orde Baru itu, hanya aktivitas sembahyang untuk leluhur saja yang diperbolehkan. Kalau atraksi barongsai dan kegiatan lain tidak diizinkan," tambah mantan pengurus Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya, Amin K, yang mendampingi Dr Suwondo.

Yang tak kalah menarik adalah ketika kita memasuki ruang sembahyang untuk leluhur, di sisi kiri dan kanan, terlihat prasasti bertuliskan huruf Tionghoa tentang pendirian gedung ini. Dalam prasasti tersebut diceritakan, bahwa gedung ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat Suku Hakka yang tinggal di Surabaya. Mereka berasal dari berbagai daerah, lantas membuat wadah sosial untuk membantu anggota sukunya yang kekurangan.

Karena bersifat sosial, maka anggota suku Hakka urunan untuk membangun gedung ini. Ada yang iuran 1 gulden hingga 65 gulden. Jumlah dana yang bisa dikumpulkan pun tentu saja tak bisa langsung banyak. Karena itu, untuk bisa membangun gedung Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya ini membutuhkan waktu 43 tahun.

Kebersamaan nenek moyang suku Hakka di Surabaya selama empat generasi silam, ternyata sangat membekas bagi generasi berikutnya. Karena itu, mereka bertekad untuk melestarikan keberadaan budaya dan bangunan perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya. Apalagi, saat ini perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan suku tertua se-Asia Tenggara, yang masih bertahan hingga sekarang.

Asas menjunjung kehormatan untuk leluhur, merupakan sebuah kewajiban bagi perkumpulan Hwie Tiauw Ka. Dan sebagai pengingat, di depan pintu masuk gedung perkumpulan Hwie Tiauw Ka yang dibangun secara gotong-royong tersebut, ditulis pesan kepada anak cucu agar mengajarkan berbuat baik dalam huruf Tionghoa.

Sebab dengan cara seperti itu, maka nama orang yang berbuat baik tersebut, akan terus dikenang hingga anak cucu. ''Karena itulah, kita diajak untuk banyak beramal," kata Dr Suwondo. Gedung ini pertama kali dibangun atas prakarsa banyak orang.

Karena bersifat sosial, maka anggota suku Hakka akhirnya melakukan iuran untuk membangun gedung ini. Ada yang sebesar 1-65 gulden. Karena tak banyak, maka membangun gedung Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya ini, membutuhkan waktu 43 tahun.

Ini menunjukkan bahwa saat itu perekonomian masyarakat suku Hakka masih lemah. ''Dananya kan tidak bisa langsung terkumpul banyak. Makanya ya harus nunggu cukup lama untuk menyelesaikan bangunan ini," tutur Suwondo.

Ada seorang bernama Cu Kim Soen yang menyumbang 65 gulden. Arsitektur beraliran oriental Tiongkok, sangat menonjol. Selain joglo yang didominasi warna kuning dan merah, kayu yang dipakai untuk tiang utama terbuat dari kayu nanmuk, jenis kayu yang lebih bagus dari kayu jati.

Kayu ini, sejak pertama dipakai hingga sekarang belum diganti. Seandainya ada perubahan, hanya dalam pengecatan warna. Begitu pula dengan pintu yang dibuat berbeda dengan zaman sekarang yang ada engselnya. di gedung perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya ini, sebagai pengganti engsel pintu, diletakkan lubang di atas pintu untuk mengaitkan tiang penyangga pintu.

''Beda sekali dengan engsel zaman sekarang," kata Suwondo sambil menunjuk ke arah engsel pintu di depan joglo.

Begitu juga dengan suasana ruang pertemuan yang tak berbeda dengan saat pertama dibangun. Yang membedakan hanya penambahan keramik atau pengecatan tembok yang mulai usang dimakan waktu. Sedangkan untuk joglo, prasasti, tidak diutak-atik sama sekali.


Seiring dengan perkembangan waktu, keberadaan gedung Hwie Tiauw Ka Surabaya, kini terasa makin sesak. Karena itu kini dilakukan berbagai langkah untuk terus mewadahi berbagai aktivitas bdan melestarikan budaya dari nenek moyang.

Tak mengherankan memang keberadaan gedung Hwie Tiauw Ka Surabaya, di Jl Slompretan kini terasa sempit. Sebab, keberadaannya sendiri sudah melewati empat generasi. Bisa dibayangkan, jumlah anggotanya membengkak luar biasa jika dibandingkan saat pertama kali didirikan.

Saat ini jumlah anggota tercatat seribu orang. Jika ada acara bersamaan, maka gedung yang ada saat ini, jelas tak mampu memuat orang sebanyak itu. Karena itu, kini pihak perkumpulan membeli dua ruko baru untuk menampung berbagai kegiatan muda-mudi Hwie Tiauw Ka.

''Kalau kegiatannya di Jl Slompretan ini jelas sudah nggak bisa menampung. Makanya kita membeli tempat baru," terang Dr Suwondo.

Aktivitas muda-mudi Hwie Tiauw Ka Surabaya sangat beragam. Mulai dari kegiatan seni tari, karaoke, duet bersama, dan lain-lain. Sedangkan di Jl Slompretan, digunakan untuk acara sembahyang, rapat pengurus, dan lain-lain. Saat ini, jika siang hari, biasanya terlihat beberapa anggota Hwie Tiauw Ka hadir hanya sekadar untuk sharing atau pun bermain catur Tiongkok.

"Seperti saya ini, karena sudah tua ya main ke sini saja," kata Amin K, mantan pengurus Hwie Tiauw Ka Surabaya.

Tak hanya soal tempat saja yang kini terus dibenahi oleh perkumpulan Hwie Tiauw Ka. Untuk struktur pengurus pun, kini dibuat aturan baru. Misalnya, untuk jabatan ketua perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya, kini tidak boleh menjabat lebih dua periode.

Tiap periode, ketua menjabat selama tiga tahun. Ini diperlukan agar regenerasi bisa berjalan dengan baik. Jika tidak ada regenerasi, maka dikhawatirkan organisasi perkumpulan ini akan stagnan, atau lebih parah bisa tak ada penerusnya. ''Peraturan ketua tidak boleh lebih dari dua periode ini diberlakukan sejak ketuanya saya," terang Suwondo.

Sementara saat disinggung resep jitu agar perkumpulan ini bertahan hingga ratusan tahun, Suwondo menjelaskan bahwa harus ada kesadaran dari semua pihak. Artinya, jika memang saat berdiri tujuan perkumpulan ini untuk kegiatan sosial, maka bagi generasi penerusnya, juga harus melakukan hal yang sama.

Bantuan-bantuan juga harus diberikan kepada orang yang tepat. Dengan cara seperti itu, maka organisasi perkumpulan akan bisa bertahan. ''Pesan dari leluhur kita untuk terus menjaga kebersamaan serta berbuat kebajikan harus dilanjutkan. Jika itu dilakukan, hasilnya pasti akan baik," pungkas Suwondo. (*)

1 comment:

  1. Soerabaia, memang paling berwarna di saat sebelon merdeka, paling anget apalagi soal soerat kabar tida koerang dari belasan soerat kabar lahir di sana

    ReplyDelete