10 October 2009

Fungsi dan Sikap Bahasa



MASIH TANGGUNG: Mengapa SURABAYA BARAT tidak diganti dengan WEST SURABAYA? Jangan tanggung-tanggung dong!!!!

"Ketika berjalan-jalan di Samarinda, penulis terkejut karena mengira Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa resmi di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Betapa tidak? Di jalan-jalan kota itu terpampang tanda-tanda bertulisan KEEP YOUR CITY CLEAN."

Ini kalimat pembuka artikel karangan Harimurti Kridalaksana, pakar Bahasa Indonesia, bertanggal 11 Oktober 1973. Waktu itu Harimurti masih doktorandus, belum profesor doktor. Pak Harimurti lulusan University of Pittsburgh, Amerika Serikat, pernah mengajar di University of Michigan, juga Amerika Serikat, pernah mengajar di Johann Wolfgang Goethe Universitat di Frankfurt, Jerman.

Sudah pasti kemampuan berbahasa Inggris Prof. Harimurti tak diragukan lagi. Beliau juga ahli Bahasa Jawa, termasuk Jawa Kuna yang sudah nyaris tidak dipakai lagi saat ini.

"Kalau kita sampai di lapangan terbang Pangkalpinang, Bangka, akan tampak papan bertulisan besar-besar WELCOME, seolah-olah kita tiba di negeri Inggris atau Amerika saja."

Bukan hanya itu. "Di Stasiun Gambir Jakarta tampak pada kita huruf besar-besar STASIUN KERETA API dan di bawahnya tertulis RAILWAY STATION, juga terdapat tanda-tanda lain dengan dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Seakan-akan negara Republik Indonesia adalah negara yang dwibahasa (bilingual)."

Saya baru saja "menemukan" buku FUNGSI BAHASA DAN SIKAP BAHASA karya Harimurti Kridalaksana, Penerbit Nusa Indah, Ende Flores, 1974, 161 halaman, di kios buku bekas, Jalan Semarang Surabaya, Oktober 2009. Saya membaca dengan penuh minat 21 artikel yang ditulis Harimurti Kridalaksana, lahir di Ungaran pada 1939.

Beliau salah satu pakar bahasa yang saya panuti sejak saya masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP) di Larantuka, Flores Timur. Dulu, saya membeli buku karyanya, KAMUS SINONIM BAHASA INDONESIA, untuk keperluan mengisi teka-teki silang di koran dan majalah. Hasilnya memang bagus. Kamus sinonim itu kemudian terbukti memperkaya kosa kata saya yang dulu memang sangat terbatas.

Tak terasa kegundahan Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana ini sudah berlangsung 36 tahun. Tiga puluh enam tahun! Tapi rasanya masih aktual, relevan, sampai hari ini di tahun 2009. Ketika melintas di jalan layang Wonokromo, Surabaya, kita akan menemukan tulisan besar-besar KEEP YOUR CITY CLEAN. Sama persis dengan yang dilihat Pak Harimurti pada 1973 di Samarinda. Yang di Surabaya ini tidak ada terjemahan Bahasa Indonesia.

Kondisi kebahasaan di Surabaya -- dan Indonesia umumnya -- memang makin "maju dan Inggris". Simak tulisan di pusat-pusat belanja. Wow, penuh dengan kata-kata Inggris. Nama-nama perumahan juga begitu. Nama-nama acara di stasiun Metro TV juga beringgris ria meskipun isinya berbahasa Indonesia. Spanduk-spanduk di jalan raya, reklame, iklan-iklan... tak lengkap kalau tidak mencomot kata, frase, atau kalimat Inggris.

Bahkan, beberapa warung sederhana di Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, dekat tempat tinggal saya pun jor-joran Inggris. Sayang, ejaannya kurang tepat karena si tukang warung rupanya tidak sempat membuka kamus. Tulisan di warung itu: SEDIA CHAINESE FOOD! Wong Jowo sing kemelondo, tapi kebacut! Juancuuuk! Hehehehe.....

Bahasa Inggris, harus diakui, memang makin digdaya, makin mendunia. Menjadi bahasa pergaulan internasional. Tapi haruskah kita menghancurkan bahasa kita sendiri dengan sikap "kemelondo" macam begini?

"Ini terjadi karena PROSES KOMUNIKASI SOSIAL TIDAK DIPAHAMI dan karena NILAI-NILAI KEBUDAYAAN BANGSA SENDIRI TIDAK DIHARGAI," tulis Prof. Harimurti Kridalaksana.

"Jangan salah, Bung! Turis asing, ekspatriat, makin banyak yang datang ke negara kita. Wajarlah kalau kita menggunakan Bahasa Inggris yang dipahami mereka? Bukankah kita sudah jadi warga dunia?" sergah seorang teman di Surabaya yang kalimat-kalimat lisannya selalu bercampur Inggris.

Jangan salah! Turis-turis atau orang asing itu juga pasti sedikit-sedikit sudah (dan sedang) belajar Bahasa Indonesia karena dia berada di Indonesia. Bumi dipijak langit dijunjung, bukan? Mengapa bukan si turis itu yang belajar bahasa kita? Mengapa kita yang terlalu "mengalah" dengan mendahulukan "bahasa turis" yang belum tentu sehari-hari berbahasa Inggris?

Ingat, turis yang ke sini itu banyak juga yang dari Tiongkok, Taiwan, Korea, Spanyol, Portugis, Amerika Latin, Timur Tengah, yang tidak berbahasa Inggris. Mengapa tidak sekalian menulis juga pesan-pesan dalam bahasa asing selain Inggris?

"Kalau di Swiss, semua pesan di ruang publik ditulis dalam tiga bahasa: Prancis, Jerman, Italia. Sebab, masyarakat Swiss memang menggunakan tiga bahasa itu," ujar teman saya, Nasrullah, yang bermukim di Jenewa, Swiss.

Orang Swiss, meski negaranya menjadi pusat sejumlah lembaga internasional, ternyata tidak sok Inggris seperti orang Indonesia. Nasrullah "dipaksa" berbahasa Prancis meskipun kemampuan berbahasa Inggris orang Swiss rata-rata lebih bagus daripada orang Indonesia. Di Taiwan atau Hongkong, para pekerja asal Indonesia pun "dipaksa" berbahasa Putonghua (Mandarin). Hasilnya: kurang dari enam bulan pekerja-pekerja Indonesia alias TKI itu bisa berkomunikasi dalam bahasa Mandarin.

"Awalnya terasa sulit sekali karena ucapan Mandarin itu membedakan arti. Tapi, alhamdulillah, dalam waktu singkat aku bisa memahami. Wong tiap hari majikan aku bicara Mandarin," ujar Siti Mualimah, bekas TKI di Taiwan, yang pernah mengajar saya Bahasa Mandarin.

Kembali ke Prof. Harimurti Kridalaksana. Tokoh yang ikut menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang menguasai banyak bahasa asing ini, menilai penggunaan Bahasa Inggris untuk papan-papan nama, reklame, dan lain-lain ini tidak menolong orang asing untuk belajar Bahasa Indonesia.

"Sekarang ini tidak sedikit orang di luar negeri yang berusaha belajar Bahasa Indonesia dengan harapan supaya bahasa itu dapat dipergunakan bila mereka datang di Indonesia. Usaha itu pasti dirasakan sia-sia karena ternyata mereka tidak usah mempergunakan Bahasa Indonesia di Indonesia," tulis Prof. Harimurti Kridalaksana.

3 comments:

  1. hahaha podo2 wong jowo tho... mas melu kene wae www.kumpuljowo.blogspot.com ono bisnise meneh kanggo tambah2 duit sangu mass... gabung nggeh

    ReplyDelete
  2. Johannes Masduki9:52 AM, April 21, 2010

    Halo Pak Lambertus! Saya dapat page ini karena saya ingin mengetahui lebih banyak tentang Prof. Harimurti Kridalaksana - yg. saya baru dapatkan nama beliuau karena ia menuliskan proloog buku "Pantun" yg, diterbitkan oleh Kompas. Bila Pak Lambertus acc, saya ingin berkenalan dg.Bpk. Trims.
    Johannesw Masduki - Pulo Wonokromo 71.
    jj_masduki@hotmail.com. Tilp. 8292123

    ReplyDelete
  3. Silakan kontak melalui Unika Atma Jaya Jakarta.

    ReplyDelete