20 October 2009

Didiek SSS di Klab Jazz



Jazz tak dapat tempat di stasiun televisi kita. Yang disiarkan band-band pop industri, gosip artis, dan cerita remeh-temeh tentang selebritas. Televisi kita tak mau repot dengan apresiasi.

Urusannya cuma tiga: uang, uang, dan uang! Maka, Senin (19/10/2009) tengah malam saya senang menyaksikan KLAB JAZZ di TVRI. Acara yang sangka di televisi di negara yang namanya Indonesia.

Kali ini televisi negara itu menampilkan Didiek SSS dan kawan-kawan. Didiek SSS Project, begitu nama band-nya. Saya sudah cukup mengenal gaya permainan Didiek SSS, pemusik tiup yang adik kandung almarhum Embong Rahardjo ini. Dia beberapa kali diundang pihak gereja di Surabaya untuk membantu penggalangan dana. Hebatnya, dana yang terkumpul selalu banyak.

Malam itu Didiek SSS ditemani beberapa pemusik senior macam Uce Haryono dan Morgan Sigarlaki. Pada 1980-an dan 1990-an nama mereka sangat terkenal sebagai pemain band fussion. Didiek SSS sendiri bisa main musik apa saja. Termasuk memimpin orkes keroncong.

Di mana dia tampil, saya lihat Didiek ini sangat dominan. Dia fokus di saksofon dan flute. Berbeda dengan kakaknya Embong, Didiek ini suka bergaya. Aneh-aneh dan rada norak. Tidak bisa diam. Namanya juga aktor, Didiek SSS membuat dirinya menjadi perhatian penonton. Karena itu, meskipun tidak menyanyi, dan saya yakin suaranya tidak bagus, orang senang menikmati sajian musik Didiek SSS.

Seperti siaran KLAB JAZZ sebelumnya, pembawa acara sempat bertanya jawab dengan Didiek dan dua penyanyi muda. Intinya memberi sedikit gambaran tentang jazz. Mengapa jazz kurang populer? Jazz kok hanya digemari kalangan tertentu? Mengapa anak-anak muda kurang tertarik dengan jazz? Dan sebagainya.

"Anak-anak muda kita sebenarnya hebat-hebat. Pemain musik jazz sebenarnya banyak. Cuma tidak dikasih kesempatan," kata Didiek SSS.

Bukti kehebatan itu, menurut dia, bisa dilihat ketika pemusik Indonesia ber-jam session dengan pemusik mancanegara. Kita bisa mengimbangi mereka yang berlatar belakang Eropa atau Amerika, benua yang punya dasar dan tradisi jazz yang kuat. "Kita nggak kalah kok," kata Didiek SSS yang berpengalaman main di banyak negara.

Didiek SSS juga mengingatkan bahwa bermain musik apa pun, lebih-lebih jazz, harus dilakukan dengan HATI. Tidak sekadar membunyikan nada-nada atau sekadar bergaya. Kalau main pakai HATI, jiwanya dapat, maka musik yang dihasilkan bisa diterima orang banyak. Audiens niscaya dengan mudah bisa membedakan mana pemusik atau penyanyi yang bermain dengan hati dan bermain seadanya.

Saya terkejut juga ketika Didiek SSS mengaku bahwa saat ini dia punya ratusan siswa di Jakarta. Anak-anak muda ini tak hanya belajar satu dua macam alat musik seperti saksofon, flute, klarinet, melainkan banyak instrumen. "Saya memperkenalkan orkestra kepada anak-anak muda. Semua alat musik saya ajarkan," kata pria asal Jogjakarta ini.

Setelah menjawab pertanyaan pembawa acara di TVRI, Didiek SSS tampak sibuk meniup saksofon. Pelan, halus, dia membuat introduksi lagu Over The Rainbow. Dan dua anak muda itu pun bernyanyi:

Somewhere over the rainbow
Skies are blue....

No comments:

Post a Comment