13 October 2009

90 Tahun Hong San Ko Tee



Perayaan 90 tahun Klenteng Hong San Ko Tee di Jl Cokroaminoto 12 Surabaya, Minggu (11/10/2009), berlangsung meriah.


Didahului sembahyang bersama jemaat Tri Dharma dari berbagai klenteng di Jawa Timur, perayaan dilanjutkan dengan Kim Sin atau arak-arakan dewa di jalan raya.

Start dari depan klenteng, rombongan melintasi Jl Raya Darmo, Pandegiling, Imam Bonjol, Kartini, KH Misbach, dan balik ke Cokroaminoto 12.

"Kita hanya ingin bersyukur kepada Tuhan karena klenteng ini bisa bertahan selama 90 tahun. Sekalian kita juga berdoa agar bangsa Indonesia diberi keselamatan, kedamaian, dan rezeki," ujar Juliani Pudjiastuti, pengurus Hong San Ko Tee.

Arak-arakan dewa-dewi ini terbilang peristiwa langka di Surabaya. Selama 32 tahun Orde Baru, warga Tionghoa memang dilarang menggelar upacara adat Tionghoa di tempat terbuka. Tak heran, perarakan di sejumlah ruas jalan protokol kemarin menjadi tontotan warga sekitar.

Apalagi, grup reog dari Bendul Merisi ikut berkolaborasi dengan Lang Liong Hong San Ko Tee. Ada tiga dewa yang mengikuti Kim Sin. Paling depan Kwan Kong (Dewa Perang), disusul Kwam Im (Dewi Kasih), dan Fu Tek Cen Sen (Dewa Bumi).

Rupanya, karena tidak pernah dikeluarkan selama bertahun-tahun, tiga dewa-dewi ini 'mengamuk' di sepanjang pejalanan. Para penandu yang terdiri dari 10-12 orang tampak terhuyung-huyung seperti menahan beban berat. Di depan Hotel Santika, Jl Pandegiling, rombongan penandu nyaris jatuh.

Tentu saja ratusan penonton terheran-heran melihat adegan yang tak lazim ini. "Kesurupan! Kesurupan!" teriak anak-anak.

Menurut Juliani, dewa-dewi yang mendiami klenteng memang memiliki kekuatan spiritual yang sangat besar. Karena itu, wajar saja bila jemaat yang mengusung tandu sering kewalahan.

"Jemaat yakin bakal mendapat rezeki kalau ikut memberikan penghormatan kepada para dewa," tutur Juliani yang memimpin Klenteng Cokro, nama populer Klenteng Hong San Ko Tee, sejak 2000.

Didirikan Jap Liang Sing pada 24 September 1919, Klenteng Hong San Ko Tee menjadi saksi sejarah keberadaan warga Tionghoa di Kota Surabaya. Perjalanan panjang selama 90 tahun, menurut Juliani, pun tidak mudah.

Pihak klenteng mengalami tantangan sejak zaman Belanda, Jepang, awal kemerdekaan, revolusi, Orde Lama, Orde Baru, dan akhirnya bernapas lega sejak reformasi. "Dulu kita nggak mungkin bikin arak-arakan seperti ini," kata Juliani. (lambertus hurek)

Radar Surabaya, 12 Oktober 2009

1 comment:

  1. selamat HUT ke-90, semoga klenteng cokro tetap jaya dan membawa pencerahan bagi jemaatnya. dan moga2 Ibu Juli tetap sehat walafiat.

    irin

    ReplyDelete