25 September 2009

WIB, Singapura, dan Malaysia




Jika Anda sudah pernah ke Malaysia atau Singapura, apalagi tinggal di kedua negara itu, Anda akan heran dengan sistem waktu di sana. Waktunya berbeda satu jam dengan Jakarta atau Surabaya yang WIB (waktu Indonesia Barat). Padahal, bujur timurnya sama.


WIB berpedoman GMT + 7, sedangkan Malaysia dan Singapura GMT + 8.

Karena itu, suatu ketika, saya terkejut karena dibangunkan "terlalu pagi" di Kuala Lumpur. Masih gelap banget kok sudah sarapan? Jam berapa? Akhirnya, saya sadar bahwa jamnya Malaysia memang beda dengan Surabaya. Sama-sama pukul 05.00, Surabaya sudah terang, Kuala Lumpur masih agak gelap. Samalah dengan di Singapura.

Kenapa Malaysia dan Singapura tidak ikut buku teks? Dulu, ketika masih sekolah, ada pelajaran IPBA (Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa). Intinya, setiap 15 derajat bujur, ada selisih waku empat menit. Karena itu, selisih waktu Jakarta/Surabaya (WIB) dengan Greenwich (GMT) pasti tujuh jam. Makassar delapan Jam. Papua sembilan jam. Jadilah tiga zona waktu di Indonesia seperti kita kenal sekarang.

Mengapa Malaysia dan Singapura tidak ikut buku teks?

Setelah saya merenung-renung, dua negara ini jelas lebih fleksibel dan cerdas. Zona waktu tidak harus GMT + 7 meskipun menurut teori harus demikian. Dengan GMT + 8, penduduk Malaysia dan Singapura lebih diuntungkan. Masuk kantor pukul 09.00 masih segar, belum panas. Pulang kerja pukul 17.00 masih terang. Listrik bisa dihemat lebih banyak.

"Sekarang katanya jam 19.00 kok masih terang?" kata saya saat berada di sebuah kedai di Malaysia. Di Surabaya, jam 19.00 atau jam tujuh malam sudah gelap gulita. Banyak memang keuntungan dengan sistem waktu ala Malaysia dan Singapura ini.

Sudah lama saya menganggap jam kerja di Surabaya, 09.00 sampai 17.00, tidak lagi memadai. Masuk jam sembilan rasanya sudah "terlalu siang". Suasana pagi nyaris tak terasa. Berada di Bandara Juanda jam enam pagi pun rasanya seperti bukan pagi lagi. Bandingkan bila Anda berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada jam enam pagi. Suasana segar banget.

Apakah pemerintah mau menambah satu jam untuk Waktu Indonesia Barat?

Singapura dan Malaysia sudah lama melakukannya dan terbukti efektif. Manfaatnya banyak sekali. Dulu, Bali pun masuk WIB, kemudian dipindahkan ke Witeng (Waktu Indonesia Tengah) alias disamakan dengan Malaysia/Singapura: GMT + 8.

Jam di Singapura/Malaysia sama persis dengan Pulau Bali. Maka, wisatawan atau pebisnis yang mau terbang ke Denpasar akan sangat mudah mencocokkan waktunya.

Saya sadar bahwa pemerintah kita sulit mengubah zona waktu yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tapi sebenarnya pemerintah daerah bisa melakukan improvisasi. Seandainya saya wali kota Surabaya, jam kerja yang "9 to 5" akan saya ubah menjadi "8 to 4".

Hehehehe..... 

4 comments:

  1. Yaa memang sih Pak. Asalkan istirahat kantornya jam 1 - jam 2, bukan jam 12 - jam 1. Bayangkan adzan dzuhur saja di Malaysia jam 1.25, artinya sudah di luar jam istirahat. dan repotnya adalah ketika hari Jumat, dimana para muslim wajib melaksanakan shalat Jumat tetapi waktu yg disediakan utk istirahat sudah habis. artinya, dia harus membuat pilihan pilih solat / pilih kerja.

    ReplyDelete
  2. waktu rehat di Malaysia adalah jam 1.00 hingga 2.00 petang..zuhur 1.30..sempatlah solat ...

    manakal hari jumaat, kantor pemerintah akan rehat dari jam 12.15 hingga 2.45 petang....d cukup jam untuk rehat dan solat jumaat...

    ReplyDelete
  3. wacana itu sdh lama tapi belum ada eksekusi dr pemerintah krn ada pro kontra.

    ReplyDelete
  4. Maju banget ya pemikirannya :D
    keren !!

    ReplyDelete