03 September 2009

Tangisan Menjelang Hari Raya

Demikian  judul lakon yang dimainkan Ludruk Irama Budaya di kawasan Pulowonokromo (Joyoboyo), Surabaya, malam Minggu kemarin (5/9/2009). Para pemain ludruk, yang sebagian besar waria itu, menertawakan nasibnya yang getir menjelang Lebaran. Tanggapan sepi. 


Uang sekadar untuk membeli kue-kue dan baju baru untuk hari raya tidak ada. "Susah, Mas, nasib seniman tradisional sekarang. Kami berusaha bertahan, selalu main di Surabaya, tapi apresiasi pemerintah dan masyarakat sangat kurang. Lha, kalau uang dari tiket gak ada, kami mau makan apa," kata Zakiah, ketua Ludruk Irama Budaya, kepada saya.

Zakiah ini waria sejati, nama aslinya Sunaryo. Dia bersama teman-temannya kerja keras melestarikan ludruk di Kota Surabaya. Saat ini di Surabaya hanya tersisa satu-satunya grup ludruk yang eksis, ya Irama Budaya inilah. Padahal, orang Surabaya selalu "mengklaim" ludruk sebagai kesenian asli daerahnya.

Ibarat tikus mati di lumbung padi. Demikianlah ludruk mati, lebih tepat sekarat, di kota asalnya. Malam itu, penonton Irama Budaya tak sampai 20 orang. Mungkin karena bulan puasa, orang sibuk dengan kegiatan ibadah. Mungkin juga karena pada saat yang sama ada acara di THR yang menampilkan para pelawak pentolan Srimulat.

Bagaimana dengan hari biasa di luar Ramadan? "Sama saja, Mas. Kadang yang nonton hanya tujuh orang, 10 orang. Nelangsa banget," kata Sunaryo yang doyan merokok ini.

Sekarang orang Indonesia sedang marah karena beberapa kesenian dan kebudayaan tradisionalnya diklaim Malaysia: reog ponorogo, tari pendet, batik tulis, barongan.... Kita marah karena kita merasa memiliki. Kita punya barang kok dicolong orang? Diambil tanpa unggah-ungguh? Jelas marah dong. 

Tapi benarkah selama ini kita, orang Indonesia, sudah merawat dan menghidupi kesenian tradisional kita? "Ha... ha... ha.... I love you full," kata almarhum Mbah Surip. 

Contoh konkret, ya, kesenian ludruk di Surabaya ini. Yang nonton hanya 20 orang, padahal penduduk Surabaya sekitar enam juta orang. Ini yang namanya merawat kebudayaan? Wayang orang sudah lama mati di Surabaya. Ketoprak tidak ada. 

Seniman-seniman tradisional sangat merana. Banyak yang menjadi pengamen jalanan, itu pun sering diusir pula. Kalau perayaan ulang tahun Kota Surabaya, Wali Kota Bambang DH dan Wakil Wali Kota Arif Afandi bukannya menanggap wayang atau kesenian tradisional, tapi... band-band populer di Jakarta. Lha, pemerintahnya saja sudah tidak jelas visi kebudayaannya. 

Ada televisi swasta menyiarkan program kesenian dan kebudayaan Indonesia? Setahu saya, televisi lebih asyik dengan kebudayaan Barat, band-band populer, gosip artis kawin-cerai, dan acara-acara yang jauh dari visi kebudayaan. Saya tidak pernah melihat tari pendet, reog, tari likurai, musik gondang batak di RCTI, SCTV, TPI (yang katanya televisi pendidikan), atau Trans TV.

Maka, sebetulnya aneh juga kalau kita marah-marah ketika Malaysia mengklaim dan berusaha menghidupkan kesenian kita yang nyata-nyata sekarat dan telantar. Pemerintah macam Menteri Jero Wacik juga ikutan marah seakan-akan selama ini sudah kerja keras untuk membina kesenian dan kebudayaan nasional. Masih lumayan belum lama ini, 7 Agustus 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nanggap wayang kulit di Istana o Asmoro, lakon Sesaji Raja Suya. 

Kalau mau jujur, sebetulnya bukan hanya Malaysia yang mengalami krisis budaya. Kita juga tak kalah parahnya. Bedanya, Malaysia berusaha mengatasi serangan globalisasi kebudayaan Barat dengan "memulung" kebudayaan Nusantara, kita di Indonesia belum melakukan apa-apa.

Kita hanya bisa reaktif, marah-marah, ramai sebentar, setelah itu kembali menjadi konsumen kebudayaan Barat dan menelantarkan kebudayaan sendiri.

2 comments:

  1. ya ya... kalo gak ati2 ntar ludruk n ketoprak juga diklaim sama malaysia....

    ReplyDelete
  2. pokoke cak, pemda harus punya program pelestarian kebudayaan daerah. kalo pemdanya aja gak minat, gimana mau maksa anak2 muda. iya kan bung???

    ReplyDelete