05 September 2009

Tanda Tangan Orang Indonesia


ARTIS 80-AN: Corak tanda tangan Lydia Natalia sederhana, jelas terbaca namanya. Tidak ruwet. 


Sejak SD di kampung, pelosok Flores Timur, yang tidak punya jaringan listrik PLN itu, saya selalu memperhatikan tanda tangan orang-orang tua. Saya perhatikan betul corak tanda tangan lima guru SD di kampung saya. Kemudian saya berusaha meniru tanda tangan mereka.

Dulu, 1980-an, di kampung itu ada dua macam tanda tangan. Satu, paraf alias tanda tangan sederhana untuk mengisi daftar hadir atau bukti penerimaan uang atau barang. Kedua, tanda tangan utuh (lengkap) untuk dokumen resmi. Kepala sekolah yang menandatangani ijazah harus pakai tanda tangan lengkap, bukan paraf. Sampai sekarang pun saya masih ingat dan bisa meniru tanda tangan lima guru SD itu.

Di SMP, SMA, universitas... pun saya masih memperhatikan tanda tangan guru, dosen, kepala dinas, pejabat. Saya hafal betul tanda tangan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Daoed Joesoef, Menteri P dan K Fuad Hasan, Menteri P dan K Nugroho Notosusanto... dan banyak lagi.

Saat sekolah di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, karena berteman akrab dengan anak Tionghoa, bos toko kaset, saya lebih memperhatikan tanda tangan artis penyanyi. Kebetulan saat itu artis-artis JK Records sangat populer di Flores. Saya pun hafal tanda tangan Meriam Bellina, Ria Angelina, Lydia Natalia, Obbie Messakh, Deddy Dores... hingga Dian Piesesha. Maklum, di sampul artis-artis ini selalu ada tanda tangannya.

Sampai sekarang pun kalau ada kesempatan bertemu artis, saya selalu minta tanda tangan. Lebih senang lagi kalau ada kaset/CD yang ditandatangani si artis. Maka, saya pernah punya tanda tangan Yana Julio, Wayan Balawan, Achmad Albar, Ian Antono, Ermy Kullit, dan beberapa lagi. Saya juga minta tanda tangan penulis buku atau cendekiawan macam Romo Mangunwijaya atau Romo Frans-Magnis Suseno SJ.

Baru-baru ini ketika ada acara bersama Andrea Hirata di Surabaya, saya membawa buku LASKAR PELANGI. Saya kagum dengan karya-karya Andrea Hirata. Sebetulnya saya ingin Andrea menandatangani buku LASKAR PELANGI, SANG PEMIMPI, EDENSOR, MARYAMAH KARPOV yang saya simpan di tas. Tapi saya malu dan tak jadi minta tanda tangan.

Kenapa? Empat buku Andrea yang saya beli di Jalan Semarang, pusat buku bekas Surabaya, itu ternyata bajakan. Bisa ketahuan belangku sebagai penadah buku bajakan. Hehehehe.....

Hari ini, saya masih memperhatikan tanda tangan artis yang dimuat di koran KOMPAS (5/9/2009) halaman 29. Iklan Klinik Mata Nusantara dengan bintang Lola Amaria. Tanda tangan Lola Amaria khas orang Barat, khususnya Amerika Serikat (USA): terbaca dengan jelas namanya, Lola Amaria.

Berdasarkan pengamatan saya selama 20 tahunan, ternyata sebagian besar tanda tangan orang Indonesia tidak seperti Lola Amaria atau Lydia Natalia yang jelas dan nyaman dibaca. Rata-rata tanda tangan rakyat Indonesia ruwet kayak cakar ayam. "Semakin ruwet semakin baik karena sulit ditiru," begitu "ajaran" sering saya dengar di mana-mana.

Karena "ajaran" yang tak jelas asal-usulnya itulah, tanda tangan lima guru SD saya di kampung ruwet bukan main. Coret kanan, kiri, atas bawah, dan bikin pusing. Tak ada satu pun yang teridentifikasi namanya.

Di Sidoarjo, dari 45 anggota DPRD periode kemarin (2004-2009), hanya sekitar lima anggota dewan yang tanda tangannya "bisa dibaca". Yang lain serba ruwet dan hancur-hancuran. Mereka ternyata menganut "ajaran" lama yang dulu saya dengan di Flores: "Buatlah tanda tangan sesulit mungkin agar tidak mudah ditiru orang lain!"

Menurut Dr Rhenald Kasali, pakar marketing dan konsultan bisnis dari Universitas Indonesia, tanda tangan yang ruwet ala Indonesia ini memang tak lepas dari karakter masyarakat Indonesia yang tidak mudah percaya pada orang lain. Kita, orang Indonesia, cenderung mencurigai sesama, bahkan tetangga dekat. "Kita itu low trust society," kata Pak Rhenald.

Kita curiga orang lain meniru tanda tangan, kemudian menyalahgunakannya. Memalsukan tanda tangan untuk urusan-urusan tertentu. Jadi, sejak kecil anak-anak Indonesia sudah "dikondisikan" untuk tidak percaya orang lain.

"Tanda tanganmu kurang sulit. Ganti! Bikin yang sulit, yang sulit ditiru," begitu nasihat kakak kelas saya di SMP ketika melihat tanda tangan saya yang hanya menulis nama. Bukan dengan corat-coret ruwet ala guru-guru saya di kampung.

Ternyata, menurut Pak Rhenald, sejumlah orang Indonesia bermasalah dengan perbankan atau lembaga keuangan di USA hanya karena tanda tangan yang ruwet. "Lha, kok nama dengan tanda tangan Anda berbeda jauh? Bagaimana kami bisa percaya bahwa Anda pemegang kartu kredit ini kalau tanda tangan Anda macam ini?" kata Pak Rhenald mengutip omongan orang USA.

Memang, kalau kita perhatikan, tanda tangan orang USA selalu jelas, bahkan sangat jelas. Pasti ada kaitan erat dengan namanya. Tanpa menulis nama pun orang langsung tahu bahwa ini tanda tangannya Bill Clinton, itu tanda tangan George Bush, tanda tangan Barack Obama, dan seterusnya. Mengapa begitu? Berdasar kategori sosiolog kondang Francis Yokohama, USA tergolong high trust society.

Masyarakat USA (Barat umumnya) punya tingkat kepercayaan kepada sesamanya sangat tinggi. Orang USA tidak khawatir tanda tangan bakal ditiru atau dipalsu orang lain. Supremasi hukum terjamin sehingga setiap ada pelanggaran hukum, misal pemalsuan dokumen, bisa dilacak dengan mudah.

Poin yang saya tangkap dari Dr Rhenald Kasali sederhana saja:

"Buatlah tanda tangan yang sederhana! Namamu harus terbaca dari tanda tanganmu! Jangan lagi bikin tanda tangan yang ruwet, cakar ayam!"

Bukankah Bung Karno, sang proklamator, sudah memberikan teladan yang bagus? Tanda tangan Presiden Soekarno sangat jelas terbaca: nama SOEKARNO dengan tulisan tali miring. Semua orang Indonesia, saya yakin, sangat hafal tanda tangan Bung Karno yang khas itu. Mengapa kita membuat tanda tangan yang ruwet, yang hanya menyulitkan urusan kita di luar negara?

Syukurlah, akhir-akhir ini saya menemukan gejala yang menggembirakan. Corak tanda tangan artis-artis kita seperti Lola Amaria atau Sandra Dewi sudah terang benderang. Bisa dilacak namanya dengan jelas. Semoga ini pertanda bahwa Indonesia pelan-pelan mulai meninggalkan era low trust society.

2 comments:

  1. Kalo cuma bisa cap jempol gimana?

    ReplyDelete
  2. tanda tangn mencerminkan sebuah kepribadian pemilik

    ReplyDelete