05 September 2009

Pemkot Surabaya Blokir Facebook

Mulai Jumat (5/9/2009) Pemerintah Kota Surabaya memblokir Facebook dan Yahoo Messenger. Semua pegawai pemkot tidak boleh lagi ber-Facebook ria selama jam kerja. Tentu saja, blokir ini hanya efektif untuk jaringan internet milik pemkot. 

"Selama ini koneksi internet di pemkot lamban karena ternyata banyak pegawai main Facebook atau chatting," ujar Chalid Buchori, kepala dinas informatika Kota Surabaya. Karena lamban alias lelet alias lemot, situas lelang milik pemkot sulit diakses oleh para pengusaha. 

"Selain mengganggu kinerja, Facebook juga sudah masuk ke wilayah rumah tangga. Ada PNS (di lingkungan pemkot) yang ketahuan selingkuh akibat Facebook," kata Mbak Yayuk, kepala badan keegawaian. Hehehe....

Bagaimana kalau si PNS bermain Facebook atau YM menggunakan laptop atau HP-nya sendiri? Tentu saja, masih bisa. Tapi paling tidak, para pegawai di Taman Surya sana tidak bisa seenaknya lagi memanfaatkan internet untuk kepentingan pribadi, ngobrol sama teman-temannya di berbagai penjuru dunia, atau mencari teman curhat plus selingkuh. 

Pegawai diharapkan fokus pada pekerjaan sebagai "abdi negara" mengingat dia digaji dengan uang rakyat. Sudah menjadi rahasia umum, para PNS di mana pun cenderung bekerja santai, tanpa target. Masuk kantor, isi buku absen, ngopi, lantas baca koran yang disediakan kantor. Intensitas kerja sangat kurang. 

Nah, mesin ketik manual diganti komputer, internet masuk kantor, akses ke laman apa saja sangat mudah, PNS pun menemukan mainan baru yang asyik. Ritual ngopi masih jalan plus berselancar di dunia maya. Facebook pun ibarat menjadi obat penyakit "lesu darah" yang selama bertahun-tahun diidap para PNS. Berkat Facebook, pegawai lebih betah di kantor. Duduk manis di meja kerjanya, tapi yang "dikerjakan" adalah menyapa teman sebanyak-banyaknya di dunia maya.

Bagaimana dengan kualitas kerja setelah sistem online diterapkan di Surabaya? Belum ada penelitian untuk itu. Tapi, berdasarkan penjelasan Pak Chalid dan Mbak Yayuk, kinerja PNS di Surabaya justru merosot gara-gara Facebook dan YM itu tadi. Para PNS rupanya tak bisa mengendalikan diri sehingga, apa boleh buat, pemkot perlu memblokade situs-situs pertemanan.

Apakah kebijakan memblokir Facebook dan YM yang dilakukan Pemkot Surabaya ini berlebihan? Rasanya tidak juga. Pekan lalu, pemerintah kota di Portsmouth, Inggris, juga menerapkan kebijakan serupa. Alasannya bukan selingkuh, tapi produktivitas kerja yang sangat menurun. 

Para pegawai dewan kota itu korupsi waktu. Waktu untuk kerja terbagi untuk berceloteh dengan mitra Facebook di seberang sana. Konsentrasi terpecah antara menggarap tugas rutin dengan menikmati keasyikan bersama teman kencan di dunia maya. 

Jauh sebelum Pemkot Surabaya, beberapa kantor pemerintah dan swasta di Surabaya sudah lebih dulu memblokir situs Facebook, YM, Friendster, dan sejenisnya. Juga akses ke situs-situs porno. Tapi, namanya juga sudah kecanduan, para penggemar Facebook selalu menemukan celah agar bisa tetap 'keep in touch' di Facebook. 

"Saya lebih baik tidak makan, tidak merokok, ketimbang gak fesbukan," kata seorang kenalan saya, 30-an tahun, di Sidoarjo. "Facebook membuat hidup saya lebih berwarna, lebih semangat. Saya menemukan teman-teman lama, nostalgia indah, pokoknya enak banget deh," tambahnya.

Persoalannya, si kenalan ini menggunakan fasilitas internet di kantor yang "gratisan" (dibayar kantor) pada jam kerja. Mana ada pegawai masuk kantor di luar jam kerja, bukan? "Setiap kali menyalakan komputer, yang pertama saya lakukan adalah membuka Facebook. Saya kan perlu merespons teman-teman," katanya.

Lain lagi dengan Wanto [nama samaran] di Pondok Mutiara Sidoarjo. Ketika saya temui pekan lalu, dia mengaku sudah menutup akun Facebook-nya. "Aku sudah keluar dari Facebook. Saiki gak ono fesbuk-fesbukan maneh," katanya.

Lha, Anda dulu kan paling semangat cerita Facebook? 

"Sudahlah, sekarang sudah lain. Aku ingat istri sama anakku yang masih SD. Keluarga bisa berantakan kalau permainan ini tidak saya stop. Facebook itu pada dasarnya bagus, tapi kalau kebablasan, ya, celaka. Itu yang saya alami," akunya terus terang.

Berkat Facebook, Wanto berkenalan dengan rondo teles (janda kaya), punya mobil, usaha bagus, tapi jiwa merana. Hampir tiap hari mereka berceloteh di Facebook layaknya remaja berpacaran. Adegan selanjutnya, bisa ditebak, mereka sering makan bareng, jalan bareng, dan... tidur bareng. 

"Sekarang aku taubat. Itu masa lalu yang gak perlu dibahas lagi," katanya. 

Hahaha.... Facebook, I love you full!

No comments:

Post a Comment