12 September 2009

Peck Dijono, Wartawan Mesin Ketik

Makin banyak saja wartawan senior yang meninggalkan kita untuk selamanya. Kamis, 10 September 2009, Bapak Peck Dijono meninggal dalam usia 73 tahun. Mantan pemimpin redaksi SUARA INDONESIA (Malang, kemudian pindah ke Surabaya) ini dimakamkan di Sukolilo Surabaya. 

Kita, khususnya wartawan muda, kehilangan almarhum yang selalu ramah, ngemong, banyak memberikan nasihat di bidang jurnalisme. Meskipun sudah lama pensiun dari SI, Pak Peck tetap aktif sebagai wartawan sampai akhir hayatnya. 

Dia menulis dan terus menulis. "Orang kalau sudah terjun di pers itu, sulit meninggalkan dunia surat kabar. Jiwa saya itu wartawan," ujar Pak Peck keada saya dalam beberapa kesempatan.

Sebelum Pak Peck, kita di Surabaya juga kehilangan wartawan senior macam Bapak H. Agil Haji Ali (MEMORANDUM), Bapak Dharma Dewangga, dan beberapa nama lagi. Mereka-mereka mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk media massa. Tubuh mereka memang ringkih dimakan usia, dan penyakit, tapi semangat dalam mengembangkan jurnalisme tak usah diragukan lagi.

Kita, pekerja media sekarang, mungkin sulit membayangkan suasana kerja Pak Peck dan kawan-kawan yang dirintis sejak 1960-an dan 1970-an. Komputer belum ada. Produksi koran, sistem cetak, semuanya serba manual. Maka, saya sering menyebut Pak Peck dan kawan-kawan sebagai wartawan "generasi mesin ketik". 

Tak, tik, tuk, tak, tuk!!! 

Kantor redaksi koran tentu saja sangat ramai dengan suara mesin ketik. Mereka harus disiplin mengelola pikiran, menyusun kalimat, agar tidak banyak salah ketik. Sebab, sekali engkau salah mengetik, sulit untuk dikoreksi. Bandingkan dengan sistem komputer yang sangat mudah penyuntingannya.

Proses cetak pun tak kalah ruwet. Huruf-huruf harus ditata satu per satu. Dan harus dibaca terbalik. "Kalian, wartawan-wartawan sekarang, memang sulit membayangkan," ujar Pak Peck, yang secara legal-formal pernah menjadi pemimpin redaksi saya di SUARA INDONESIA alias SI. Koran SI kemudian berganti nama menjadi RADAR SURABAYA.

"Apa tidak repot harus mengetik pakai mesin ketik biasa, nyetor naskah ke redaktur, diedit secara manusal, nyetor ke percetakan, kemudian distribusi menggunakan armada yang terbatas? Internet juga belum ada? Faksimili tidak ada? Jaringan telepon masih minim?" tanya saya suatu ketika.

Pak Peck tersenyum. "Kalau dilihat dari kacamata sekarang memang kayaknya repot. Tapi kami sih jalan seperti biasa. Dan, buktinya koran bisa terbit setiap hari," ujar bapak yang selalu bersedia berdialog dengan wartawan "generasi internet dan blog" ini. 

Setiap zaman punya tantangan yang berbeda. Selain teknologi yang sederhana, kerja jadi sangat lama, berjam-jam kerja di ruang redaksi (newsroom), Pak Peck dan wartawan senior tempo doeloe harus berhadapan dengan rezim otoriter Orde Baru. Semua media harus punya SIUPP: surat izin usaha penerbitan pers. Pers tidak bebas. Banyak sekali rambu-rambu yang menjebak pers.

Tapi Pak Peck dkk bisa melalui semua jebakan itu. Wartawan-wartawan lama -- yang tidak kenal komputer, internet, telepon genggam, laptop -- bisa bekerja dengan baik. Bahkan, sangat baik. Idealisme tinggi. [Kalau tidak idealis, mana ada yang mau jadi wartawan atau pemimpin redaksi macam Pak Peck, bukan?] 

Mereka-mereka sering menghasilkan liputan-liputan investigatif, bermutu, dan eksklusif. Gaya tulisan mereka pun sangat "mempribadi". Begitu kita baca sebuah berita atau ficer tanpa nama atau inisial wartawan pun, kita sudah tahu penulisnya. Oh, itu tulisan Pak Peck Dijono! Oh, itu tulisan Pak Agil! Oh, itu tulisan Pak Basuki! Oh, itu tulisan Pak Rosihan! Oh, itu Muchtar Lubis. 

Karena belum ada komputer, belum ada internet, tidak ada e-mail, tidak ada wartawan yang main CP: copy-paste. Atau mencuri berita dari internet. Reporter masa lalu harus turun ke lapangan, mandi keringat, agar bisa mendapat berita dan foto. Tempaan itulah yang membuat mereka tetap tegar sebagai "kuli tinta" sejati.

"Tapi kami asyik saja berada di lapangan selama berhari-hari. Sangat nikmat," kata Pak Wahid, juga mantan wartawan senior SI, anak buah almarhum Pak Peck Dijono.  

Pak Peck selalu berpesan agar wartawan muda menulis secara akurat, berimbang, dan bijak. Tetap kritis, tapi santun dalam memilih kata-kata. "Yang menulis berita ANU itu siapa ya? Sudah bagus, tapi kurang ini. Harus dikembangkan lagi dari sudut (angle) ini," kata Pak Peck suatu ketika.

Pak Peck, wartawan senior, yang tetap berusaha mendorong anak-anak muda yang sudah telanjur terjun ke pers. Kata-katanya selalu halus, santun, tidak memaksa. Dia tidak ingin wartawan tidak bisa mengontrol emosi sehingga mengobral kata-kata kasar dalam beritanya. 

Kini, Peck Dijono, ayah empat anak itu, telah dipanggil pulang ke haribaan Gusti Allah. Satu lagi wartawan "generasi mesin ketik" mengakhiri tugasnya. Selamat jalan Bapak Peck Dijono!  

No comments:

Post a Comment