29 September 2009

A. Malik Bz. Komposer Musik Melayu



Insaflah, wahai manusia
Jika dirimu bernoda
Dunia hanya naungan
'tuk makhluk ciptaan Tuhan....



Nama Abdul Malik Buzaid, yang lebih populer dengan A Malik Bz, tak bisa lepas dari orkes dan musik melayu di tanah air. Ayah sembilan anak ini merupakan salah satu dari sedikit pemusik tempo doeloe yang terus berkarya sampai sekarang. Salah satu lagunya, Keagungan Tuhan, yang diciptakan pada 1964, masih diperdengarkan sampai hari ini dalam berbagai versi.

Setiap bulan Ramadan, lagu religi ini hampir selalu dirilis ulang oleh penyanyi atau grup band anak muda. Belum lama ini, Keagungan Tuhan dibawakan penyanyi remaja Vidi Aldiano dalam versi R&B. Sebelumnya, lagu yang awalnya dipopulerkan Ida Laila bersama Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala pada 1965 ini dibawakan GIGI dalam versi rock. Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan A Malik Bz seputar lagu abadi, Keagungan Tuhan, serta perkembangan musik melayu hingga dangdut.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Lagu Keagungan Tuhan ini sudah dibuat berapa versi, selain dibawakan OM Sinar Kemala sendiri?

Kalau tidak salah, sudah lebih dari 40 versi. Ada yang penyanyi solo, band, dan sebagainya. Mulai Ida Laila, Syam D'Lloyd, Titiek Sandhora, Hetty Koes Endang, Rita Effendy, GIGI, sampai Vidi Aldiano. Mereka membawakan lagu saya itu sesuai karakter mereka. Ada yang pop, melayu, dangdut, koplo, gambus, kasidah, shalawatan, rock, soul, R&B, sampai sound track sinetron dan film, kemudian jingle iklan. Hehehe.... Alhamdulillah, Keagungan Tuhan ini sudah menjadi lagu abadi, dibawakan orang dari masa ke masa.

Semua produser minta izin dulu dari Anda sebagai pencipta lagu?

Ada yang izin, ada yang tidak izin. Ada yang ketahuan dulu baru izin. Maklum, budaya kita di Indonesia kan masih seperti itu. Belum menghormati hak cipta dan hak seorang pencipta lagu. Di TVRI lagu Keagungan Tuhan dirilis orang lain dan ditulis penciptanya orang lain. Itu sampai bertahun-tahun sampai saya komplain. Begitulah nasib pencipta lagu di Indonesia.

Artinya, Anda terus menerima royalti dari lagu itu?

Alhamdulillah. Royalti itu termasuk barang baru di Indonesia. Kalau yang tidak izin, ya, saya tidak dapat apa-apa. Pencipta lagu tidak dihargai. Kalau yang izin, ya, adalah meskipun tidak besar. Royalti baru jalan setelah ada KCI (Yayasan Karyacipta Indonesia). Selama ini royalti dari GIGI yang paling tinggi. Sebab, penjualan album dan RBT-nya paling bagus.

Terakhir, lagu Keagungan Tuhan di-recycle oleh Vidi Aldiano.

Saya puas karena ternyata suaranya Vidi ini bagus. Improvisasinya bagus, penjiwaannya bagus. Saya nggak menyangka karena sebenarnya saya belum tahu ketika bapaknya Vidi, Pak Hari dan produser, minta izin memakai lagu Keagungan Tuhan. Saya oke-oke saja karena saya kenal baik neneknya Vidi yang bernama Darsih. Ibu Darsih itu seorang penyanyi keroncong yang bagus.

Bagi pencipta lagu seperti saya, nomor satu itu bukan bayaran, tapi kepuasan batin. Kalau asal dibayar, tapi lagu kita jadi rusak, buat apa? Lebih parah lagi, lagu kita dirusak, sementara kita juga tidak dapat bayaran.

Dari Vidi itu, kemudian dijadikan jingle iklan oleh sebuah perusahaan seluler?

Benar. Setelah membuat kaset dan CD, kemudian produser membuat RBT dengan mendaftar ke perusahaan seluler. Rupanya, XL tertarik karena lagunya bernuansa Ramadan dan anak muda. Saya dihubungi, dimintai izin, ya nggak apa-apa. Yang penting, mengikuti prosedur yang berlaku. Tadinya saya minta agar syair Keagungan Tuhan tidak diubah. Tapi, namanya juga iklan, ya liriknya dibuat sesuai kepentingan mereka.

Apa kekuatan lagu Keagungan Tuhan, sehingga bisa bertahan selama 40 tahun lebih?

Nomor saya, menurut saya, syair, kemudian baru melodinya. Saya yakin itu merupakan inspirasi dan pemberian dari Tuhan Yang Mahakuasa. Lagunya benar-benar murni, tidak ada unsur plagiat atau mencontoh lagu lain. Saya sendiri kaget kok bisa dikasih lagu seperti ini oleh Tuhan ya? Seperti suara gaib saja. Itu yang membuat Keagungan Tuhan bertahan, sampai dibuat film segala.

Bagaimana proses penciptaan lagu itu?

Ceritanya, tahun 1964, ketika masih muda, saya bersama teman-teman jalan-jalan ke kawasan lampu merah di Kremil, Surabaya. Saya duduk-duduk main gitar. Saya perhatikan suasana di sana. Ada orang mabuk, ngomong nggak karuan, ada yang kelonan, ngobrol... macam-macamlah. Kepala saya langsung pusing. Saya minta kertas dan potlot kepada seorang perempuan.

Saya kemudian menulis syair, notasi, bahkan intronya. Komplet. Cepat sekali prosesnya. Pulang ke rumahnya Pak Kadir, pimpinan OM Sinar Kemala, ada piano. Saya coba memainkan lagu itu. Kok enak rasanya. Pak Kadir juga senang. Sorenya saya benahi lagi, tambah bagus.

Dua hari kemudian Pak Urip Santoso datang ke rumah Pak Kadir untuk latihan bersama Sinar Kemala. Pak Urip ini pakar musik yang juga guru sekali di bidang aransemen. Dia bilang, lagumu itu bagus. Lalu, sejak itu kami mainkan bersama teman-teman OM Sinar Kemala. Penyanyinya Ida Laila, dengan nada dasar Bes.

Rekamannya di mana?

Kalau tidak salah di RRI Surabaya. Piringan hitamnya (PH) kemudian diproduksi di Lokananta, Solo, dan disebarkan ke radio-radio di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, lagu saya pun jadi populer. Keagungan Tuhan benar-benar dahsyat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan bisa seperti ini. Radio Australia, BBC London, Suara Amerika (VOA), mutar lagu Keagungan Tuhan pada acara Pilihan Pendengar.

Selain Keagungan Tuhan, Anda telah menciptakan ratusan lagu untuk OM Sinar Kemala dan penyanyi lain. Siapa yang mendorong Anda menjadi song writer?

Saya diprovokasi oleh kakak saya, Abdullah, mantan TNI. Dia bilang kalau orang lain bisa membuat lagu mestinya kamu juga bisa. Jangan menjiplak lagu-lagu India, mengubah syair, kemudian mengklaim sebagai ciptaan sendiri. Maka, saya belajar musik ke beberapa pemusik terkenal. Guru saya antara lain Pak Urip Santoso dan Pak Abubakar. Saya sampai mondok di rumahnya Pak Abubakar untuk belajar akordeon. Saya juga belajar biola sama pemusik-pemusik keroncong.

Setelah menguasai banyak instrumen, saya akhirnya bisa menulis lagu. Tapi semua itu, berdasarkan pengalaman saya, harus ada ilham dari Tuhan. Kalau nabi mendapat wahyu, seniman mendapat ilham. Tanpa ilham, sulit menghasilkan lagu yang baik. Saya dulu sering 'dipaksa' oleh produser untuk membuat lagu di studio. Ini yang saya tidak pernah bisa. Musik dangdut itu terpuruk antara lain karena suka menjiplak melodi lagu-lagu India. Kalau orientasinya hanya komersial, ya, nggak akan awet.

Ngomong-ngomong, apakah musik bisa menjadi sandaran hidup?

Di Indonesia sulit. Peneliti musik dangdut dari Amerika, Prof Andrew Weintraub, heran ketika masuk ke rumah saya ini. Kok rumah saya kecil, sederhana? Padahal, karya saya begitu banyak. Sejak dulu pun saya sudah dinasihatkan oleh senior saya bahwa kita sulit hidup dari musik. Harus ada usaha atau pekerjaan lain.

Nasihat ini juga saya sampaikan kepada anak-anak saya. Mereka memang saya ajari musik, belajar not balok, not angka, alat-alat musik, tapi jangan sampai mengandalkan hidup dari musik. Lain sekali kondisinya dengan pemusik di negara maju yang bisa hidup makmur dari karya musiknya. (*)

Orkes Arek Kampung Arab


Popularitas lagu Keagungan Tuhan tak lepas dari jasa Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala. Orkes asal Kampung Ampel, Surabaya, yang dipimpin A. Kadir (almarhum) ini pada 1960-an dikenal sebagai salah satu OM terkenal di tanah air. OM Sinar Kemala bahkan kondang hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

"Kalau di Medan ada OM Bukit Siguntang, OM Sinar Medan, dan OM Kenangan, kita di Jawa Timur punya OM Sinar Kemala. Saking populernya, kami selalu menerima tanggapan dari berbagai daerah," jelas Abdul Malik Buzaid, pemain akordeon sekaligus pencipta lagu untuk OM Sinar Kemala.

Menurut A Malik Bz, sapaan akrab pria asal Kampung Ampel, Surabaya, ini, kehabatan OM Sinar Kemala tidak lepas dari peran Abdul Kadir sebagai pemimpin orkes. Selain santun dan berwibawa, pemusik keturunan Arab itu sangat menonjol secara musikal. Kadir mahir menguasai banyak instrumen musik, vokalnya bagus, dan punya jiwa kepemimpinan tinggi.

"Pak Kadir itu disiplin, keras, dan cenderung otoriter. Tapi justru itu yang membuat OM Sinar Kemala bisa eksis dan dikenal publik," kata Malik Bz.

Berbeda dengan OM-OM papan atas seperti Bukit Siguntang atau Kenangan, OM Sinar Kemala banyak merilis lagu-lagu bernuansa Arabia. Ini tak lepas dari latar belakang A. Kadir sebagai mantan pemusik gambus di Kampung Arab pada 1950-an.

"OM Sinar Kemala itu tadinya Orkes Gambus Alfan. Saya belum ikut. Nah, karena pemasaran musik gambus surut, sementara musik melayu naik daun, maka Kadir beralih ke OM Sinar Kemala," kenang Malik.

Kalau orkes dangdut sekarang hanya beranggotakan tujuh hingga 10 orang, menurut Malik, orkes melayu selalu diperkuat belasan, bahkan 20-an orang. Pemain biola Sinar Kemala saja 12 orang. Belum lagi pemain alat musik tiup yang juga banyak. "Jadi, kami harus membaca partitur kalau main musik. Nggak pakai hafalan thok," katanya.

Malik masih ingat nama-nama pemain OM Sinar Kemala seperti Ida Laila alias Murah Ati (vokal), Nur Kumala (vokal), Khadam (trombone), Ellya Khadam (vokal), S Achmady (vokal), A. Kadir (suling, tabla), Yohana Satar (penyanyi), A. Rafiq (vokal), Wakhid (gitar), Saleh (trumpet, klarinet), Abubakar (biola, arranger), Muhammad Degel (kendang), A. Karim (tamborin), Umar (penyanyi), Said Efendi (vokal), Fuad (marakas), Husein (akordeon).

"Banyak yang sudah almarhum. Pak Kadir sendiri meninggal pada tahun 1985 di Ampel Cempaka," papar Malik. "Pak Kadir sempat bilang sebelum dia meninggal, OM Sinar Kemala tidak akan mati."

Ketika film India booming pada 1960-an dan 1970-an, masyarakat Indonesia pun tergila-gila dengan musik Hindustan. Orkes-orkes di tanah air pun harus menyesuaikan diri seperti musik di film Awara. Maka, lagu-lagu bercorak Melayu menjadi andalan orkes-orkes.

"Pak Kadir sendiri kemudian mengubah penampilan ala India. Penyanyi Sinar Kemala seperti A Rafiq dan Ellya Khadam bergaya ala India. Dan itu sangat disukai masyarakat," katanya.

Ketika OM Sinar Kemala di puncak kejayaan, terjadi konflik antara Remaco (Jakarta) dan Golden Hand (Surabaya). Kedua perusahaan rekaman ini memperebutkan artis-artis OM Sinar Kemala. Maka, OM Sinar Kemala pun pecah.

Sejumlah personel kunci keluar dan bikin orkes baru. Orkes pecahan Sinar Kemala antara lain OM Sinar Mutiara (pimpinan Fouzi), OM Awara (S Achmady], OM Permata (Mono Sanjaya).

"A Rafiq cabut ke Jakarta dan mendirikan A Rafiq Group. Orang ini dulu suaranya cempreng, nggak punya power. Setelah digembleng di Sinar Kemala, A Rafiq maju pesat," tuturnya.

Malik Bz, penulis lagu plus pemain akordeon dan piano juga diajak bergabung dengan orkes lain. Bahkan, diminta membuat orkes baru untuk rekaman. "Tapi saya tidak mau. Saya tetap bertahan bersama OM Sinar Kemala," tegas Malik.

OM-OM pecahan Sinar Kemala ini dalam waktu singkat meraih popularitas. OM Awara dengan duet Ida Laila dan S Achmady mencetak puluhan album dan laku keras. A Rafiq, dengan celana dan goyangan yang khas, pun kian kondang setelah hijrah ke Jakarta. Malik sendiri tetap menulis lagu untuk dinyanyikan penyanyi-penyanyi rekaman sambil memberi les musik dari rumah ke rumah.

"Dunia rekaman kita nggak karuan karena dikuasai orang-orang yang mata duitan. Bikin lagu bukan untuk seni, tapi semata-mata uang. Seniman karbitan merajalela. Saya dipaksa ikut arus industri, tapi nggak mau," tegas Malik Bz. (rek)



ABDUL MALIK BUZAID

Nama populer: A. Malik Bz.
Lahir : Surabaya, 31 Desember 1944
Istri : Aisyah
Anak : 9 orang. Dua dari istri pertama, tujuh dari istri kedua.
Nama anak: Zed (alm), Rifki. Sofyan (alm), Yasir, Anas, Miqdah, Azhar, Mus'ab, Amru.

Alamat: Jalan Flamboyan II/21 Kureksari, Waru, Sidoarjo.

ORGANISASI
- Persatuan Artis Melayu Dangdut Indonesia (PAMMI) Jawa Timur
- Dewan Kesenian Sidoarjo


PENGHARGAAN
- Anugerah Bakti Musik Indonesia, 2005
- Gubernur Jatim Imam Utomo, 2004
- Menteri Kebudayaan Belia dan Sukan Brunei Darussalam, 1994

Sumber: Radar Surabaya edisi 27 September 2009.

No comments:

Post a Comment