02 September 2009

Malaysia Bukan Bangsa Serumpun




Police officers inspect damage at the All Saints Church in Taiping of Perak state, Malaysia, Sunday, Jan. 10, 2010. Firebombs were thrown at two more churches in Malaysia early Sunday, the latest in a series of assaults on Christian houses of worship following a court decision that allows non-Muslims to use 'Allah' to refer to God. (AP Photo)


Bangsa serumpun!  

Ungkapan ini selalu disebut oleh orang Malaysia baik pejabat maupun rakyat biasa. Di acara hiburan TVRI tempo dulu, TITIAN MUHIBAH SENADA SEIRAMA, "bangsa serumpun", "saudara serumpun" selalu didengung-dengungkan oleh pihak Malaysia. Kita, karena itu, sering terlena oleh rayuan manis orang-orang Melayu di Semenanjung Malaysia itu.

"Tak usah marah lah, kite kan bangsa serumpun," begitu kira-kira rayuan encik-encik di Malaysia ketika orang Indonesia protes klaim seni budaya atau pulau-pulau kecil di perbatasan. Atau tenaga kerja Indonesia (TKI) yang disiksa di luar batas perikemanusiaan.

"Tak apalah TKI didera, toh kita saudara serumpun?" Gila!!!

Saya sudah lama, sejak mahasiswa, menolak klaim BANGSA SERUMPUN ini. Apanya yang serumpun? Orang Malaysia rupanya banyak yang tidak tahu bahwa bangsa Indonesia yang 220 juta lebih ini terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya, dan kekhasan lain. Indonesia begitu luas.

Benar, bahasa Indonesia diadopsi dari bahasa Melayu, tapi orang Indonesia bukan hanya Melayu. Melayu hanyalah salah satu etnis dari sekian ribu etnis yang hidup di Indonesia. Orang Jawa memang mayoritas dan punya peran paling menonjol di Indonesia. Tapi salah kalau dikatakan bangsa Indonesia itu = Jawa. 

Orang Jawa berbeda dengan orang Melayu, Sunda, Madura, Dayak, Bali, Timor, Flores, Papua, Makassar, Maluku, dan sebagainya. Kalau dibilang orang Melayu Malaysia itu serumpun dengan suku Melayu di Sumatera, Indonesia, 100 persen benar. Tapi, kalau bangsa Indonesia bangsa serumpun dengan Malaysia, jelas keliru. Sekali lagi, Malaysia dan Indonesia bukan bangsa serumpun!

Jauh sebelum merdeka, 17 Agustus 1945, Indonesia sudah menjalani proses pembentukan bangsa, nation building. Dan proses ini terus berlangsung sampai kapan pun. Para pendiri negara sepakat bahwa Indonesia itu bhinneka tunggal ika, berbeda-beda etnis, ras, agama, bahasa, budaya, dan sebagainya, tetapi satu. Presiden Soekarno dan para bapak bangsa berjasa besar dalam proses pembentukan bangsa ini.

Malaysia tentu saja punya sejarah yang berbeda. Dan itu kita hargai. Politik Malaysia menempatkan etnis Melayu sebagai penguasa. Punya supremasi politik atas etnis India dan Tionghoa. Padahal, setahu saya etnis Melayu tak sampai 70 persen. Melayu di atas segalanya di Malaysia. India dan Tionghoa jadi warga negara kelas dua atau kelas delapan? Hmmm... begitulah konsekuensi politik ketika politik perkauman menjadi platform negara tetangga itu.

Apakah etnis India dan Tionghoa (China) di Malaysia juga dianggap "bangsa serumpun"? Kan sama-sama rakyat Malaysia? Naga-naganya, saudara-saudara kita yang Melayu merasa punya "jarak" yang politik dan budaya yang jauh dengan Tionghoa dan India. Belum lagi perbedaan agama. Maka, encik-encik Melayu ini berpaling ke Indonesia untuk mencari teman. 

"Bangsa Indonesia saudara serumpun," kata orang Malaysia yang Melayu berbusa-busa. Kita sering terlena oleh pernyataan "bangsa serumpun" yang salah kaprah itu. 

Dalam sebuah dialog di televisi, ANTV, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Yusron Ihza Mahendra, yang mengaku keturunan Johor, Malaysia, mengingatkan bahwa konsep supremasi Melayu di Malaysia sejatinya satu paket dengan agama Islam. MELAYU dan ISLAM! Keduanya tak bisa dipisahkan dari perpolitikan di negara tetangga itu.

Jikapun Anda beragama Islam, tapi bukan Melayu, silakan minggir. Muslim Tionghoa atau orang India yang muslim, meskipun warga negara Malaysia, sudah turun-temurun tinggal di Malaysia, ya, no way! Karena itu, sangat lucu ketika orang Malaysia mengklaim tari pendet asal Bali, Indonesia, yang terkait erat dengan agama Hindu.

"Logikanya di mana? Saya tidak paham," kata Yusron.

Yah, memang tidak logis. Logikanya tidak jalan. Sama dengan ketika Malaysia mengklaim reog ponorogo yang sangat kental dengan budaya Jawa pra-Islam di Jawa Timur. Logika "bangsa serumpun" sehingga seni budayanya tumpah tindih menjadi sangat absurd. Jadi bahan tertawaan orang.

Logika "bangsa serumpun" akan jalan manakala Malaysia mengklaim kebudayaan Melayu di Riau, Sumatera Barat, atau Aceh. Kok tidak mengklaim budaya Asmat di Papua? Hahaha....

Kita perlu berhati-hati dengan klaim "bangsa serumpun" dan klaim-klaim lain yang niscaya akan terus dilakukan Malaysia yang sedang dilanda krisis kebudayaan yang luar biasa. Itu bisa dibaca sebagai siasat Melayu Malaysia untuk memecah bangsa Indonesia yang berbineka tunggal ika. 

17 comments:

  1. bagaimana kalo melayu tapi bukan islam???

    ReplyDelete
  2. "Malaysia Bukan Bangsa Serumpun" tapi negara penjiplak....

    http://home-febri.blogspot.com/

    ReplyDelete
  3. malaysia itu bangsa yg suka bertingkah krn sukses secara ekonomi. kita gak bisa marah2 saja, tapi harus kerja keras agar bisa maju pula. pelan2 kita harus menghentikan pengiriman kuli dan babu ke malaysia. selama TKI yg kerja di malaysia berpendidikan rendah, pekerjaan kasar... kita selamanya akan dihina oleh orang Malaysia.

    antonius, kupang

    ReplyDelete
  4. Janganlah kerana budaya tarian hindu yang ternyata kesilapan pihak ketiga menyebabkan saudara terlalu emosi untuk menyalahkan Malaysia sehingga mempersoalkan polisi polisi Malaysia yang ternyata amat sesuai untuk Malaysia. Lebih baik saudara tumpukan sepenuh tenaga dan daya pemikiran saudara yang diberi tuhan untuk membangunkan negara saudara yang ternyata tertinggal terlalu jauh dibandingkan bangsa bangsa lain didunia...tiada apa yang boleh dibanggakan

    ReplyDelete
  5. Malaysia mengirim Noordin M. Top dan Dr. Azhari ke Indonesia untuk menyebarkan terorisme berbaju Islam. Jahat banget!!! Malaysia tidak akan sudi melihat Indonesia maju. Hati-hati! Setelah Noordin dan Azhari tewas, boleh jadi Malaysia mengirim teroris-teroris baru ke sini.

    ReplyDelete
  6. Saudara,

    Saya fikir saudara tidak minat Sejarah(History).

    Saudara juga kelihatan seperti orang yang tidak membaca dan mengkaji sejarah Austronesia atau Malayo-Polinesia.

    Oleh itu, saya sarankan saudara meminati Sejarah dan belajarlah sejarah rumpun anda (Austronesia a.k.a. Malayo-Polinesia) ini.

    Janganlah jadi seorang yang bongkak atau sombong (arrogant) kerana saudara tentulah seorang yang rugi dan pembunuh rumpun anda sendiri.

    Semoga Tuhan rahmati saudara!
    (May God bless you!)

    ReplyDelete
  7. Serumpun atau tidak serumpun tidak relevan lagi dibicarakan. Faktanya: Malaysia dan Indonesia adalah dua negara yang berbeda. Dan kemajuannya pun berbeda. Indonesia tidak tertinggal terlalu jauh, sehingga terpaksa jadi pembantu dan kuli di Malaysia. Yang penting, kita di Indonesia harus kerja keras agar bisa maju.

    Tak usah pusing dengan Malaysia!!!

    Freddy di Ambon

    ReplyDelete
  8. Yang membunuh bangsa serumpun itu Noordin Mohamad Top dan Dr. Azahari dari Malaysia. Dua teroris Melayu ini benar-benar sudah merusak Indonesia selama 10 tahun terakhir. Alhamdulillah, teroris Melayu, Noordin dan Azahari, sudah tewas.

    prabu

    ReplyDelete
  9. Saya hormat pendapat saudara. Tetapi saudara perlukan pemahaman yang lebih tuntas mengenai konsep rumpun yang diamalkan di Malaysia. Bukan hanya mengeluarkan pendapat mengikut firasat diri semata-mata. Terus-terang saya katakan, banyak lagi perkara yang saudara tidak tahu mengenai konsep permuafakatan etnik di Malaysia.

    Mengenai Nordin Mat Top & Dr Azhari, kami di Malaysia mengutuk tindakan mereka. Mereka adalah extremist yang membangkang kerajaan Malaysia dan tidak ada logiknya kerajaan Malaysia sekarang mendalangi kegiatan mereka.

    Semoga Tuhan merahmati saudara.

    ReplyDelete
  10. ada benarnya juga kalau org malaysia bilang kita ini bangsa serumpun. buktinya, bahasa kita sama, bahasa indonesia kan berasal dari bahasa melayu. tipe org malaysia dengan indonesia juga sama kecuali dengan orang papua, maluku, atau flores.
    tapi memang sekarang kita perlu kerja keras biar gak ketinggalan sama malaysia. selama kita di indonesia masih miskin, maka jutaan orang indonesia terpaksa bekerja sebagai pembantu di malaysia.

    Antony, Yogya

    ReplyDelete
  11. orang malingsia ibarat 'manusia Gua' atau katak dalam tempurung selama ini selalu menganggap dirinya paling pintar....tapi kenyataannya???
    dari dulu gak pernah tuh menang olimpiade ilmu..
    menganggap seolah2 sudah paling kaya di ASEAN??? padahal kita selama ini hanya dilenakan oleh gambaran malingsia yang hanya diseputaran Kuala lumpur saja...coba deh ke kelantan...serawak...sabah...trengganu...negeri sembilan dan di pelosok kampung... ternyata keadaan mereka gak jauh beda tuh dengan orang kampung yang ada di indonesia....
    identitas kemelayuan yang ada di malingsia adalah identitas yang dipaksakan....karena orang2 malingsia yang sekarang ini dikatan melayu tak lain adalah dahulunya adalah keturunan orang2 dari Indonesia yang bermacam2 wilayah.... so, apanya yang melayu??? kalau orang riau dikata melayu wajar....sebab mereka memang keturunan asli dari asalnya melayu.... kalau malingsia??? liat Najib rajak (bugis) dan Mahatir (india)

    ReplyDelete
  12. kita sebagai orang indonesia harus berhati2 terhadap komentar2 yang seakan2 berbahasa indonesia tapi bernada merendahkan indonesia....
    karena kemungkinan itu adalah tulisan orang/mahasiswa malaysia yang ada di indonesia....beberapa tulisan diatas saya perkirakan adalah tulisan orang malaysia yang sedang mencoba menggunakan bahasa indonesia...tetapi dari bahasa dan penekanannya telah terlihat jelas tidak bisa dibohongi itu bukan orang indonesia....sudah sering saya menemukan hal ini di berbagai forum...

    ReplyDelete
  13. Orang Melayu Malaysia makin ganas dan ngawur saja. Rupanya pikiran2 picik dan radikal dari Noordin Top dan Azahari mulai menyebar di Malaysia dengan merusak gereja-gereja hanya karena kata Allah. Macam mana ini negara serumpun itu?

    ReplyDelete
  14. bangsa malaysia harus belajar untuk menghargai ras dan agama lain.

    ReplyDelete
  15. saya warga malaysia ,bapa saya jawa dan ibu saya banjar,tetapi saya menganggap diri saya orang melayu.mengapa begitu,kerana umat islam di malaysia suatu ketika cuma 50persen dari jumlah penduduk tidak seperti indonesia 90persen.Kesatuan perpaduan amat penting bagi kami,cuba bayangkan jawa,minang ,banjar membawa haluan masing masing nescaya semuanya akan hancur.Mungkin juga saudara bukannya muslim ,sebab itu saudara berkata demikian.Semuanya ada kelemahan dan juga kelebihannya,kenyataan saudara seperti mengapi-apikan suasana.Tahukah saudara hampir tiap 2 hari rompakan ,kes rogol,ragut dan pendatang tanpa izin orang indonesia ,pernah kah kami bising 2 atau pun ribut 2 macam dunia mau kiamat.Dimalaysia pembantu rumah indonesia kalau kerja di rumah orang melayu dilayan seperti keluarga ,makan bersama majikan ,diberikan baju cantik 2 mahal 2 oleh majikan termasuk cuti luar negeri di bawa majikan.Adakah majikan di indonesia sebaik itu,jauh sekali.Saudara cuma melihat keburukan nya sahaja ,seperti saya katakan setiapnya ada keburukan dan kabaikan nya dan kamu sentiasa prejudis untuk melihat keburukannya sahaja....FIKIR_FIKIRKANLAH>>>

    ReplyDelete
  16. Saya melihat komen 2 saudara terlalu beremosi,seolah olah malaysia itu terlalu jahat menuduh yang bukan 2.Pernahkah saudara membandingkan thailand ,filipina dan singapura.Setiap bangsa yang majoriti pasti nya dominan keatas negara itu,seperti filipina tentu sekali mereka mengutamakan golongan kristian atas segala hal dan banyak hal golongan kristian di malaysia maupun di indonesia sendiri jauh lebih baik ,lebih beruntung berbanding golongan muslim di filipina .PERNAHKAH KAMU FIKIR <<<

    ReplyDelete
  17. malaysia itu OKB, orang kaya baru, yg sering berbuat aneh2 dengan menindas TKI yg kebetulan berpendidikan sangat rendah dan rendah skill. Salah kita sendiri karena tidak mampu memberikan pekerjaan kepada bangsa Indonesia, sehingga TKI begitu banyak kerja di Malaysia.

    Saya bermimpin, suatu ketika tak ada lagi orang Indonesia yg jadi pekerja kasar di Malaysia.

    ReplyDelete