Wuih, nginggrisnya luar biasa!
Remy Sylado, budayawan, musikus, dan munsyi, yang menguasai belasan bahasa asing, tentu saja termasuk bahasa Inggris, menyebut nginggris ini sebagai gejala orang sakit jiwa dan kekanak-kanakan. Orang kita sok berbahasa Inggris hanya agar kelihatan keren, maju, modern.
Nama-nama program televisi swasta kita dominan Inggris. Padahal, isinya ya bahasa Indonesia, bahasa Jakarta, dan bahasa gado-gado. Nama-nama toko, mal, plaza, pusat belanja sedapat mungkin berbahasa Inggris. Perumahan CITRARAYA di Surabaya belum lama ini berganti nama menjadi CITRALAND. Yang berbau Inggris dianggap lebih menjual.
Saya selalu kagum dengan gaya bahasa Prof. Dr. Josef Glinka SVD, antropolog dan pastor asal Polandia di Surabaya, yang kalimat-kalimat bahasa Indonesianya begitu bagus dan baku. Romo Glinka poliglot, menguasai sekitar 10 bahasa dunia dengan fasih. Tapi, ketika omong bahasa Indonesia, beliau menggunakan kalimat-kalimat yang "sangat Indonesia".
Nah, malam ini saya terharu membaca berita yang dikutip Reuters. Politikus Jerman dengan tegas melarang wartawan yang mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris. "Ini Jerman, bukan Inggris!" Orang Jerman ini bisa dipastikan fasih berbahasa Inggris. Tapi dia ingin agar orang menghormati bahasa Jerman, bahasa nasional di negaranya Jurgen Klinsmann itu.
Kapan ya kita, orang Indonesia, khususnya pejabat dan orang berpengaruh, punya sikap macam itu?

REUTERS, Rabu, 30 September 2009
Guido Westerwelle, calon menteri luar negeri Jerman di pemerintahan mendatang, menegur seorang wartawan yang mengajukan pertanyaan berbahasa Inggris. "Kita sekarang ada di Jerman," kata Westerwelle menegur wartawan itu.
Pemimpin Partai Demokrat Liberal (FDP) ini menyampaikan jumpa pers pertamanya pada Senin waktu setempat, setelah partainya dipastikan masuk dalam koalisi pemerintahan bersama Kanselir Angela Merkel.
Ketika jumpa pers itu, seorang wartawan BBC bertanya apakah dia bersedia menjawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris. "Tolong Anda mengerti, ini adalah konferensi pers di Jerman," tegas Westerwelle dalam bahasa Jerman Rabu (30/9/2009).
"Di Inggris Raya, orang-orang diharapkan berbicara Inggris. Hal itu sama di Jerman, orang-orang diminta berbicara Bahasa Jerman."
Dengan menggunakan penerjemah, wartawan dari media Inggris itu pun bertanya mengenai bagaimana perubahan kebijakan luar negeri dengan Westerwelle sebagai menterinya. Namun, Westerwelle menghindari pertanyaan itu.
"Sudah jelas saya senang bertemu Anda untuk minum teh di luar konferensi pers, lalu kita bisa berbicara hanya dengan Bahasa Inggris. Tapi di sini kita ada di Jerman."

Saya setuju dengan posting ini. Kita yang hidup di Indonesia, kurang menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa Pemersatu sekaligus bahasa Nasional. Bayangkan apabila bahasa Indonesia tidak dikukuhkan sebagai bahasa persatuan sejak Oktober 1928, masing-masing suku saling merasa bahasa daerahnya sebagai yang terbaik, terbanyak (penuturnya) dan sebagainya.
ReplyDeleteSayangnya kita sendiri kurang menghargai bahasa Indonesia.