01 October 2009

Jerman Larang Bahasa Inggris

Orang Indonesia saat ini makin NGINGGRIS. Sok mencampuradukkan kalimatnya dengan kata-kata Inggris meskipun ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Perhatikan gaya bicara artis, selebritas, pejabat, mahasiswa, anak muda... di televisi.

Wuih, nginggrisnya luar biasa!

Remy Sylado, budayawan, musikus, dan munsyi, yang menguasai belasan bahasa asing, tentu saja termasuk bahasa Inggris, menyebut nginggris ini sebagai gejala orang sakit jiwa dan kekanak-kanakan. Orang kita sok berbahasa Inggris hanya agar kelihatan keren, maju, modern.

Nama-nama program televisi swasta kita dominan Inggris. Padahal, isinya ya bahasa Indonesia, bahasa Jakarta, dan bahasa gado-gado. Nama-nama toko, mal, plaza, pusat belanja sedapat mungkin berbahasa Inggris. Perumahan CITRARAYA di Surabaya belum lama ini berganti nama menjadi CITRALAND. Yang berbau Inggris dianggap lebih menjual.

Saya selalu kagum dengan gaya bahasa Prof. Dr. Josef Glinka SVD, antropolog dan pastor asal Polandia di Surabaya, yang kalimat-kalimat bahasa Indonesianya begitu bagus dan baku. Romo Glinka poliglot, menguasai sekitar 10 bahasa dunia dengan fasih. Tapi, ketika omong bahasa Indonesia, beliau menggunakan kalimat-kalimat yang "sangat Indonesia".

Nah, malam ini saya terharu membaca berita yang dikutip Reuters. Politikus Jerman dengan tegas melarang wartawan yang mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris. "Ini Jerman, bukan Inggris!" Orang Jerman ini bisa dipastikan fasih berbahasa Inggris. Tapi dia ingin agar orang menghormati bahasa Jerman, bahasa nasional di negaranya Jurgen Klinsmann itu.

Kapan ya kita, orang Indonesia, khususnya pejabat dan orang berpengaruh, punya sikap macam itu?




REUTERS, Rabu, 30 September 2009


Guido Westerwelle, calon menteri luar negeri Jerman di pemerintahan mendatang, menegur seorang wartawan yang mengajukan pertanyaan berbahasa Inggris. "Kita sekarang ada di Jerman," kata Westerwelle menegur wartawan itu.

Pemimpin Partai Demokrat Liberal (FDP) ini menyampaikan jumpa pers pertamanya pada Senin waktu setempat, setelah partainya dipastikan masuk dalam koalisi pemerintahan bersama Kanselir Angela Merkel.

Ketika jumpa pers itu, seorang wartawan BBC bertanya apakah dia bersedia menjawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris. "Tolong Anda mengerti, ini adalah konferensi pers di Jerman," tegas Westerwelle dalam bahasa Jerman Rabu (30/9/2009).

"Di Inggris Raya, orang-orang diharapkan berbicara Inggris. Hal itu sama di Jerman, orang-orang diminta berbicara Bahasa Jerman."

Dengan menggunakan penerjemah, wartawan dari media Inggris itu pun bertanya mengenai bagaimana perubahan kebijakan luar negeri dengan Westerwelle sebagai menterinya. Namun, Westerwelle menghindari pertanyaan itu.

"Sudah jelas saya senang bertemu Anda untuk minum teh di luar konferensi pers, lalu kita bisa berbicara hanya dengan Bahasa Inggris. Tapi di sini kita ada di Jerman."

2 comments:

  1. Saya setuju dengan posting ini. Kita yang hidup di Indonesia, kurang menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa Pemersatu sekaligus bahasa Nasional. Bayangkan apabila bahasa Indonesia tidak dikukuhkan sebagai bahasa persatuan sejak Oktober 1928, masing-masing suku saling merasa bahasa daerahnya sebagai yang terbaik, terbanyak (penuturnya) dan sebagainya.


    Sayangnya kita sendiri kurang menghargai bahasa Indonesia.

    ReplyDelete
  2. Ave Bung Hurek, Nginggris kenyataannya memang telah menjadi Trend Dunia. Apa boleh buat ! Hanya saja nginggris di Indonesia memang terlalu kebablasan, tercermin sifat sok-aksi.
    Belasan tahun silam, saya masih berani berbahasa Inggris di Tiongkok, ketika saya tidak tahu caranya berexpressi dalam bahasa Mandarin. Padahal kemampuan bahasa Inggris saya, seratus persen, hanyalah hasil ajaran Ibu-dan Bapak-guru di Indonesia selama SMP dan SMA. Achir2 ini saya tidak berani lagi sok-aksi berbahasa Inggris di China, sebab anak2 muda China sekarang sudah pandai berbahasa Inggris. Bulan lalu di Information desk bandara internasional Beijing saya bicara Inggris dengan pelayan disana, Masya Allah, dijawab dengan bahasa Inggris yang fasih dan lancar oleh Xiao-jie itu. Bojoku ngguyu cekikikan; Kapok lu sekarang, ujarnya. Wis lu saja yang tanya, lu khan lulusan Widyamandala jurusan Inggis, kataku.
    Sepuluh tahun lalu, saya memohon rijbewijs-China,
    SIM. Polisi-nya godek2, karena semua surat2 resmi saya pakai nama Indonesia. Polisi-nya bilang: nama-mu koq pakai bahasa Inggris. Bagi orang China huruf Latin disebut huruf Inggris.
    Nama-mu kepanjangan, SIM China hanya menyediakan 4 Cm ruangan untuk nama. Kamu tidak punya nama Cina ? Punya jawabku, bahkan lebih dahulu daripada anda ! Kutulislah nama Cina-ku diatas secarik kertas. Pak polisi tersenyum dan berkata:
    Nah, ini baru benar !
    Benar endas-mu, pikirku. Rebewes-China-ku jadi aspal (asli-palsu), sebab manusia dengan nama cina yang tercantum direbewes itu sudah lenyap secara yuridis dari atas bumi, sejak tahun 1966.
    Yo wis karep mu kono, aku ora gelem ribet karo polisi !

    ReplyDelete