08 September 2009

Hmm... Ramuan dan Sate Kobra


Ular kobra?


Mendengar namanya saja, banyak orang bergidik. Maklum, kobra merupakan jenis ular berbisa. Racunnya sangat mematikan kalau tidak segera ditangani. Namun, di Surabaya ada kafe khusus yang menyediakan menu ular kobra. Café Jungle di atas jembatan Jalan Sumatra. Tak jauh dari Hotel Sahid.

"Rasanya enak, hangat, gurih, gak anyir," kata Hendro, konsumen kobra asal Blitar, usai minum ramuan kobra. Penikmat kobra lainnya pun rata-rata sangat menikmati ramuan binatang melata itu.

Adalah Agus Brewok, pecinta ular, yang membuka Cafe Jungle ini. Ular-ular berbisa yang diambil dari Gresik, Lamongan, Mojokerto, Kediri, sampai Bojonegoro itu disimpan di karung beras, kemudian dikeluarkan saat azan magrib. Para pelanggan pun mulai berdatangan. Ular sepanjang 90-an sentimeter itu diambil darah, empedu, dan sumsumnya.

Bumbu-bumbu: madu, akar gingseng, rempah-rempah, arak, tangkur buaya, tangkur kobra, embrio rusa, dan ular weling. Ramuan favorit ini dijual Rp 50 ribu per gelas.

"Manfaatnya untuk menetralkan toksin, melancarkan aliran darah, menyembuhkan diabetes, asam urat, dan rematik," begitu klaim Pak Brewok yang lahir pada 1966 ini. "Banyak langganan saya dari kalangan pejabat, artis, sampai orang biasa."

Sate kobra juga banyak dipesan. Bumbunya tidak berbeda dengan sate biasa. Sate kobra dilumuri kecap sebelum dibakar. Setelah agak kering dan bumbu kecap meresap, baru diberi bumbu kacang dengan irisan bawang merah sebagai penyedap. Asap yang mengepul membuat warga penasaran ingin menjajal sate aneh itu.

Harga satu tusuk Rp 2.500. "Rasanya enak dan unik," kata seorang karyawan perusahaan swasta di Jalan pemuda.

"Sate kobra memang paling banyak dipesan. Dalam sehari bisa habis 10 kobra berukuran besar dengan panjang satu sampai 1,5 meter," ujar Riko Fery Anggriawan, penjaga warung. Selain menjual menu kobra, kafe ini juga menjajakan menu makanan eksotik dari tokek dan biawak.

Agus Brewok mendapat hasil bersih hingga Rp 3 juta per bulan. Bukan itu saja. Kulit kobra dapat diolah lagi menjadi ikat pinggang, dompet, tas, atau sepatu. Sedangkan kepala kobra bisa dibuat gantungan kunci. "Dompet dan ikat pinggang saya dibuat dari kulit kobra," uja Brewok yang tinggal di Surabaya sejak 1983.

4 comments:

  1. Hiiiii... Dibayarpun saya tidak mau mencoba! Hehe. Dari dulu saya paling anti dengan reptil dan serangga ;)
    Bang Bernie sudah coba?

    Apa kabar bang? Saya sekeluarga baik2 saja, semoga demikian jg degan abang. Salam dari kota singa ;)

    ReplyDelete
  2. Hmm makanan yang pakai daging ular sudah ada dari saya kecil, tapi dulu dapetinnya harus di luar kota. Ini menarik juga nih kalo ada di sby. jadi bisa coba hehe.

    ReplyDelete
  3. Hehehe... Mbak Dyah di kota singa.
    Saya ini aslinya paling takut ular. Lihat ular, bahkan membayangkan saja, badan saya pasti merinding gak karuan. Termasuk ular jinak yang sering jadi bahan tontonan di pasar malam atau acara2 di kampung.

    Saya juga gak bisa makan makanan yang disebut "eksotik" dan aneh-aneh. Jangankan ular, tokek, biawak, daging biasa pun saya gak suka bagian yang "aneh-aneh" kayak jerohan, darah, dan sebagainya. Kira-kira begitu.

    Jadi, dibayar berapa pun saya tidak mau makan sate kobra atau minum ramuan kobra. Selamat kerja buat Mbah Dyah dan keluarga di Xinjiapo.

    ReplyDelete
  4. masih ada skrg?aq mau beli empedunya saja boleh gak?soalx utk obt

    ReplyDelete