23 September 2009

Eko Tralala alias Eko Srimulat


Oleh NOFILAWATI ANISA

nofilawatianisa[at]yahoo.co.id



Sudah sejak kecil Eko Untoro Kurniawan tergila-gila pada Srimulat. Ia sangat ingat, dulu, kalau ada pentas Srimulat, maka Eko kecil bakalan merengek pada bapaknya, Sugiyanto, untuk diantar melihat. “Saking cintanya, sampai latihan pun ya saya tungguin,” katanya.

Ternyata, rasa cinta itu berlanjut hingga ia dewasa. Tahun 1980-an, Eko pun memberanikan diri melamar menjadi anggota Srimulat. Saat itu Srimulat sudah mulai disebut-sebut sebagai grup lawak paling jos, namun masih terbatas pentas di Surabaya dan Jatim saja. Belum melebarkan sayapnya ke Solo, Semarang, maupun Jakarta.

Sayang, Teguh, istri Ny Srimulat (pendiri Srimulat), menolaknya dengan halus. Alasan penolakan, menurut Eko, sangat tidak masuk akal. “Karena saya dianggap terlalu ganteng. Karena pelawak Srimulat masa itu wajahnya jelek-jelek semua,” kata Eko dengan mimik muka serius.

Jika dibandingkan pelawak di zamannya, wajah Eko memang lumayan ganteng. Wajahnya lonjong, hidung bangir, rambut sedikit kemerahan, dan bola mata agak cokelat.

Meski asli arek Suroboyo, Eko memang punya darah Belanda. Ibunya, Andreana Helena Kohen, adalah nonik Belanda, putri seorang tentara kolonial yang bertugas di Surabaya. Saking cantiknya, Sugiyanto, yang juga seorang prajurit, kepincut menikahi Andreana. “Tapi kakek saya dari ibu nggak setuju anaknya kawin dengan orang pribumi. Akhirnya, ibu dibuang dan kakek sekeluarga balik ke Belanda,” jelasnya.

Eko melanjutkan ceritanya. Karena tak diterima ‘menejemen’ Srimulat, dia pun sakit hati. Betapa tidak. Untuk bisa gabung dengan grup lawak paling elit (saat itu), dia sudah mengantungi beragam ilmu melawak, main ludruk, nyanyi maupun seni peran lainnya.

Eko sudah pernah ikut main ludruk bersama Jalal (pelawak, almarhum, Red), juga dengan Cak Tohir membentuk Ludruk Gelora 10 November. “Kalau dipikir kurang apa saya ini. Ngelawak bisa, main ludruk apalagi. Kok masih tega-teganya ditolak,” tegasnya.

Tapi saking nafsunya gabung Srimulat, Eko tak kekurangan akal. Ia terus main ludruk dari satu pentas ke pentas lain. Secara pribadi kelucuannya juga sering ditanggap, mulai acara Agustusan di kampung-kampung hingga ke restoran mewah maupun hotel atas inisiatif pengusaha maupun pejabat.

Di situlah nama Eko mulai dikenal. Dia pun sedikit memberi embel-embel namanya dengan sebutan Eko Handai Taulan Hawai Five O John Aloha. “Julukan itu muncul begitu saja. Khusus yang Aloha, karena saya sering diminta pentas di Restoran Aloha,” kelakarnya.

Namun, lagi-lagi pria yang kini suka pakai udheng itu belum puas, meski sudah mulai dikenal. Ia tetap ingin gabung dengan Srimulat. Dia pun terus belajar dan mepet para anggota Srimulat, sampai pada akhirnya pada 1984 ia diterima.

“Wuih, rasanya bangga sekali. Di zaman itu, Srimulat adalah grup lawak paling jos se-Indonesia. Apalagi mulai ada nama-nama beken yang dilahirkan, seperti Asmuni, Tarzan, Tessy, Kadir, Mamiek, Polo dan lain-lain,” jelas ayah enam anak (satu meninggal) dan kakek empat cucu tersebut.

Begitu gabung, permintaan pentas pun terus mengalir bak air bah. Nyaris tak ada hari tanpa ada orang atau instansi yang nanggap. Karena mulai kebanjiran order, Srimulat pun menggagas ekspansi gedung ke Solo, Semarang, dan Jakarta. “Akhirnya, saya juga ikutan ke Jakarta. Siapa sih yang nggak pingin hidup di ibukota,” ungkap Eko.

Sebelum ekspansi mengisi acara di televisi swasta, sebelum 1989 Eko lebih banyak melawak lewat TVRI. Karena nama julukannya terlalu panjang, orang TVRI pun meberinya julukan baru: Eko Tralala. “Ya sampai sekarang, nama itulah (Eko Tralala) yang saya pakai,” pungkasnya. (*)


Sudah menjadi rahasia umum jika Srimulat Surabaya telah kehilangan kedigdayaannya. Sempat menggelar Srimulat Keliling bersama Jawa Pos selama lima bulan, sekarang para pelawak anggota Srimulat pun kembali nganggur. Satu-satunya yang masih dikerjakan adalah pentas rutin sekali sebulan di Gedung Srimulat Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR).

Koordinator pementasan Srimulat, Eko Untoro Kurniawan alias Eko Tralala, bercerita tentang sulitnya membangkitkan kembali ‘nyawa’ Srimulat yang Senin-Kamis.




Selamat, pentas Srimulat Agustus lalu sudah berjalan lancar!

Oh iya, terima kasih. Secara lakon, teman-teman memang sudah sukses memerankan perannya masing-masing. Tapi kalau dilihat sound system-nya, justru nggak sukses karena agak-agak nggak nyambung dengan ucapan-ucapan kita. Tapi, nggak apa-apa memang setiap pentas selalu ada kelebihan dan kekurangannya.

Yang penting, penonton puas, meskipun yang datang nggak terlalu banyak. Sedikit atau banyak nggak begitu penting, yang utama adalah bahwa kita masih bisa pentas bulan depan.

(Pada 28 Agustus, Srimulat menggelar pentas rutin di THR dengan judul Srikandi Perbatasan. Meskipun kapasitas gedung mencapai 1.000 kursi, jumlah penonton tak sampai 100 orang. Padahal, pentas itu gratis.)

Lho, memang Srimulat mau buyar ya?

Kita memang sudah menggagas ke arah itu (buyar). Bahkan, awalnya Srikandi Pementasan itu pentas terakhir kita. Makanya, kita garap dengan sangat baik. Teman-teman juga sudah kita kumpulkan semua. Ternyata ada keajaiban.

Keajaiban apa?

Dua minggu sebelum pentas saya menggagas untuk ketemu Pak Gubernur. Saya mau cerita bagaimana kondisi Srimulat yang sebenar-benarnya. Semua mau tak njlentrehkan ke Pakde Karwo (Gubernur Soekarwo, Red).

Mengapa harus ke gubernur?

Lho, Pakde Karwo itu kan orang nomor satu di Jawa Timur. Jadi, dia harus tahu kondisi seniman yang jadi rakyatnya, termasuk seniman-seniman Srimulat. Waktu Pakde Karwo masih macung (mencalonkan diri) jadi gubernur, dia bilang akan memperhatikan seniman. Karena misi visinya bagus, kita pun milih Pakde. Begitu juga ketika milih SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai presiden, kita lakukan karena visi misi berkesenian maupun budayanya juga bagus. Nah, kita harus dukung pemimpin-pemimpin yang seperti itu.

Sudah ketemu gubernur?

Belum sih. Karena ternyata sulitnya minta ampun. Saya sudah dua kali berusaha. Saya datangi kantornya, tapi juga belum dapat kesempatan untuk ketemu langsung. Tapi saya sudah ketemu ajudannya. Surat-surat juga sudah saya serahkan. Ada angin segar, karena saya dijanjikan bisa ketemu beliau.

Memangnya kalau ketemu ngapain?
Saya mau minta surat sakti.

Surat sakti apa?
Maksud saya, kalau Gubernur merasa tak rela jika Srimulat bubar, beliau harus bikin tindakan. Lha, tindakan itu bentuknya berupa surat. Garis besarnya, surat itu isinya mengimbau para calon donatur untuk mau menyumbangkan sebagian uangnya ke kas Srimulat. Nah, kalau surat itu benar-benar dibuat gubernur, maka kami akan membawanya ke para calon donatur. Bisa perorangan atau lembaga bahkan perusahaan.

Misalnya, kalau perusahaan A mau nyumbang, ya monggo silahkan. Nanti produk mereka bisa kita taruh di Gedung Srimulat. Lha, pas pentas, penonton kan akhirnya tahu produk A itu, lalu tertarik dan beli. Ya semacam itulah. Saya kurang bisa menjelaskan secara gamblang, karena saya ini bukan ahli yang begitu-begituan. Kalau suratnya itu yang bikin Pak Gubernur, pasti dudug oleh mereka to. Kalau cuma saya yang minta, yo gak direken. Bahkan, kalau nggak bisa ketemu di kantornya, saya berencana untuk nekat.

Nekat seperti apa?

Pakde Karwo mau saya tungguin di rumahnya. Pokoknya kalau perlu dari pagi sampai paginya lagi saya akan tunggu di rumahnya. Wong saya tahu kediamannya kok. Masak sih kalau sudah digituin tetap nggak mau nemuin kita. Karena kalau bukan Pak Gubernur lagi, siapa yang bisa digugu rakyat Jawa Timur.

Kenapa sih ngotot sekali agar Srimulat Surabaya tidak buyar?

Gimana sih Anda ini? Sebagai masyarakak Jawa Timur kita harus bangga pernah melahirkan Srimulat. Srimulat itu grup lawak yang sangat besar lho. Tahun 1980-an, siapa yang tak kenal Srimulat. Semua rakyat Jawa Timur pasti tahu itu. Dan saya juga yakin, nggak ada seorang pun warga Jawa Timur yang ingin Srimulat bubar.

Mereka justru ingin Srimulat bisa berjaya lagi. Tapi dalam kondisi persaingan industri entertainment seperti sekarang ini, yo abot (berat). Selain itu, secara pribadi saya ingin Srimulat bisa dikenal anak cucu maupun keturunan saya. Kalau dikenal, berarti Srimulatnya kan masih hidup. Lha, kalau dikenang saja, yo eman-eman karena berarti Srimulat sudah mati.

Kenapa berat?

Acara di televisi itu sangat beragam, televisi swasta juga sangat banyak, puluhan. Belum yang swasta lokal, juga tak kalah banyaknya. Nah, untuk bersaing dengan acara-acara itu kan butuh amunisi. Lha kita, amunisinya wis entek (sudah habis). Karena tak bisa berkompetisi itu, teman-teman sudah banyak yang kehilangan job.

Mereka yang cuma mengandalkan dapat uang pentas dari Srimulat, yo megap-megap kalau nggak ada tanggapan. Contohnya, ya Didik Mangkuprojo itu. Dia kan pernah menyandang nama besar saat Srimulat masih berjaya. Karena sekarang kita nggak seperti dulu lagi, ya Pak Didik kena imbasnya juga. Nasibnya Pak Didik itu kasihan sekali lho. Padahal, dulu dia itu pelawak top.

Bagaimana dengan nasib anggota Srimulat yang lain?

Kalau mereka punya pekerjaan tetap sih nggak masalah. Misalnya, Baslan Cukup atau Sokle. Dia kan masih dinas di Marinir Jl Opak, jadi ya lumayan gak megap-megap. Lha, kalau pekerjaan satu-satunya hanya di Srimulat seperti saya atau Pak Didik, jika nggak ada tanggapan yo wis wassalam.

Anda yakin gubernur mau mengabulkan permintaan itu?

Saya sangat yakin. Mungkin bentuk bantuannya beda, tidak seperti yang kita mau. Tapi terserah. Yang penting, Srimulat masih bisa hidup. Nyawanya tidak hanya Senin-Kamis, tapi dari Senin sampai Senin lagi.

Sudah menggagas untuk September atau Oktober?

O, belum. Kita masih mikir dulu bagaimana caranya dapat uang untuk biaya pentas, mbayari pemain dan sewa sound system. Kalau soal cerita, itu gampang. Wong teman-teman itu sudah terbiasa dengan dialog tiba-tiba kok.


Kalau pentas sebelumnya, siapa yang memmbiayai?

Setahun lalu kita disokong wali kota (Bambang Dwi Hartono). Selama setahun kita bisa membiayai operasional saban bulan pentas. Sebenarnya Pak Bambang cuma ngasih biaya operasional enam bulan saja. Tapi teman-teman sepakat untuk menggunakan uang itu selama satu tahun. Nah, setelah itu kan kita ada Srimulat Keliling dengan Jawa Pos. Wah, itu menolong sekali lho. Selama lima bulan, dari Maret hingga Juli kita bisa pentas seminggu sekali keliling Surabaya dan sekitarnya.

Soal cerita, siapa yang sekarang aktif bikin skenarionya?

Hahahaha.... Anda harus tahu bahwa sebenarnya Srimulat itu punya 3.000 cerita. Kalau cerita itu sudah dipentaskan 3.000 kali, maka cerita akan kembali ke awal. Begitu seterusnya. Lha, yang nonton kan nggak tahu kalau sebenarnya ceritanya berulang lagi. Kadang penonton malah lupa kalau lawakan yang ia lihat sudah pernah ditonton sebelumnya. Wong yang nonton beda-beda usia kok.

Yakin Srimulat masih bisa berjaya lagi?

Saya sulit menjawabnya. Kalau ada bantuan Pakde Karwo atau dari siapa pun, saya yakin Srimulat masih bisa eksis. Tapi kalau sudah nggak ada yang peduli lagi, apalagi kalau orang-orang Srimulat seperti Tarzan, Nunung, Didik Mangkuprojo, atau saya sendiri sudah mati, sepertinya Srimulat ya bakalan ikut mati.

Terlepas dari minimnya dana, bagaimana dengan regenerasi Srimulat?

Nggak ada sama sekali regenerasi Srimulat. Kita sudah cari. Tidak hanya sekali, tapi bolak-balik. Mulai dari cari-cari sendiri sampai pakai audisi seperti di tivi-tivi, tapi ya tetap saja nggak ada hasilnya sama sekali.

Anak-anak muda nggak minat gabung Srimulat ya?

Kalau minat sih pasti ada. Nggak mungkin tidak ada. Tapi yang harus Anda tahu, Srimulat sekarang ini dikuasai Bu Djujuk (istri Teguh Srimulat). Lha, dia itu SMS ke saya yang isinya, melarang penggunaan nama Srimulat tanpa seizin Bu Djujuk. Termasuk Srimulat Surabaya.

Lha, saya ini ingin tahu, apa benar Bu Djujuk bikin aturan seperti itu. Tapi sampai sekarang yang belum bisa ketemu tuh. Maksud saya, kalau memang aturan itu ada, ya harusnya Bu Djujuk ngopeni teman-teman Srimulat Surabaya. Jangan dibiarkan begitu saja dong. Lha, kalau memang nggak mau ngopeni teman-teman, ya biarkan saja ia menghidupi dirinya dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Siapa-siapa saja bintang lawak yang sudah dilahirkan Srimulat Surabaya?

Saya nggak hafal semuanya. Yang saya ingat ada Didik Mangkuprojo, Bambang Gentholet, Paimo, Abimanyu, Bandempo, Limbanpo, Edi Geol, Vera, Miarsih. (*)



EKO UNTORO KURNIAWAN



Nama Beken : Eko Tralala
Lahir : Surabaya, 24 Agustus 1957
Alamat : Jl Raya Medokan Asri Barat RL-VL No. 2, Rungkut,
Surabaya
Pekerjaan : Pelawak (Gabung di Srimulat sejak 1984)
Istri : Setiani

Putra-Putri :

1. Elok Febriani Setiawati (30)

2. Koko Mahardika Kurniawan (27)

3. Febri Andriana Kirantini (25)
4. Eva Rosdiana Dewi (meninggal usia 1,1 tahun)
5. Erika Ayu Puspitasari (19)
6. Herlina Puspitasari (16)

Ayah : Sugiyanto (Almarhum)

Ibu : Andreana Helena Kohen (Almarhum)
Pendidikan : SDN Kedurus
SMP Joyoboyo (Siang)
SMA Taman Siswa (kelas 1)
SMA Sejahtera (kelas II hingga lulus)

Pengalaman:

1. Gabung Gambus Nisri Dharma Wisata (1974-1975)
2. Karyawan Pabrik Rokok Banjarmati, Kalimantan (1977)
3. Gabung Ludruk Cendekia (1978-1979)
4. Masuk Srimulat 1984
5. Gabung Ludruk Gelora 10 November (dengan Cak Tohir)
6. Mendirikan lawak Gembrot Group bersama Purbowati
7. Gabung Sumirat Group bersama Mamiek, Ogon, Eko, dan Aming

1 comment:

  1. sebuah tulisan yang bagus

    seingat saya nama perkumpulan Jalal setelah keluar dari Surya Group adlah ludra cendaki

    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1979/09/22/HB/mbm.19790922.HB56470.id.html

    salam

    ReplyDelete