09 August 2009

TVOne vs Metro TV Memburu Noordin M. Top

Menyaksikan siaran langsung penyerangan yang dilakukan polisi terhadap rumah yang dihuni buron teroris kakap Noordin M. Top di Desa Beji, Temanggung, Jumat sore sampai Sabtu siang kemarin, perasaan saya campur aduk: mula-mula tegang, lalu menjengkelkan, berkembang ke rasa bangga, dan berakhir agak kecewa.

Oleh DAHLAN ISKAN

Sumber: Jawa Pos Minggu, 09 Agustus 2009

Mula-mula, Jumat sore, saya pindah-pindah saluran antara TV One dan Metro TV. Agak malam, saya terus-menerus melihat Metro TV. Terasa sekali, dua stasiun TV itu bersaing dalam menyajikan peliputan terbaik. Dan Metro TV saya nilai menang tipis malam itu. Hanya sesekali saya mengecek ke saluran TV One, terutama kalau di Metro TV lagi siaran iklan.

Mengingat sampai pukul 00.00 belum ada tanda-tanda akan ada penyelesaian, saya memutuskan untuk tidur. Hari itu (7/8), saya baru memperingati tepat dua tahun menjalani transplantasi hati. Masih harus menjaga diri agar jangan tidak tidur semalam suntuk. Saya menduga, penyerangan finalnya baru dilakukan pukul 03.00 atau 04.00. Sebagai orang yang pernah lama jadi wartawan, saya hafal: polisi sering melakukan penyergapan penting pada dini hari.

Tapi, saya tidak bisa tidur nyenyak. Pesawat TV memang tidak saya matikan. Mata saya menutup, tapi telinga membuka. Pukul 04.00 kurang, mata saya kalah dengan telinga. Saya ingin segera tahu apa hasil penyerangan final yang saya perkirakan sudah selesai dilakukan. Saya lirikkan mata yang masih mengantuk itu ke layar TV. Ternyata masih sama dengan sebelum saya tidur.

Metro TV hanya menampilkan wawancara kurang menarik dengan pengamat intelijen. Mata sudah telanjur melek. Iseng-iseng saya coba pindah ke TV One. Terbelalak. TV One menyajikan gambar dari jarak dekat. Bahkan, tak lama kemudian, TV One mereportasekan adanya robot yang disuruh keluar-masuk ke rumah persembunyian Noordin M. Top itu.

Kian jelas TV One mulai menang terhadap Metro TV. Bahkan, menang telak. Sesekali saya pindah ke Metro TV, masih meneruskan wawancara kurang menarik itu. Saya kian tidak mau lagi pindah dari TV One. Saya sangat memuji kegigihan TV One dalam ''membalas" kekalahan tipisnya menjadi kemenangan telak itu. Penjelasan mengenai dilibatkannya robot dalam operasi tersebut sangat menarik. Meski saat itu gambar robotnya belum terlihat, penyebutan dikerahkannya robot dalam operasi tersebut sangat membangunkan saya.

Terus terang, saya belum pernah melihat robot polisi atau polisi robot yang disebut-sebut oleh penyiar TV One itu. Apalagi penyiar TV One tidak pernah mendeskripsikan seperti apa bentuk robot polisi tersebut. Sambil memperhatikan gambar di layar, saya terus membayangkan dengan imajinasi saya sendiri mengenai bentuk robot yang dimaksud. Yakni, sebuah robot seperti boneka kecil yang matanya adalah kamera. Lama sekali saya membayangkan robot seperti itu karena di layar memang belum pernah terlihat bentuk robot yang dimaksud.

Baru pada pukul 05.30 tepat, terlihatlah robot yang dimaksud di layar TV One. Ternyata seperti tank dalam bentuk lebih kecil. Yakni, berukuran panjang sekitar satu meter. Tangan-tangannya berada di atas kendaraan kecil itu. Tangan itulah yang membawa kamera dan benda-benda yang diperlukan untuk diletakkan di tempat sasaran.

Dari sinilah saya lantas menarik kesimpulan: rupanya, penyerangan tidak dilakukan dini hari tersebut karena masih menunggu datangnya robot dari Jakarta. Kehadiran robot tersebut amat penting sebagai langkah hati-hati. Jangan sampai ada petugas yang jadi korban. Sebab, berbagai pertanyaan mengenai apa saja yang ada di dalam rumah di sebelah bukit itu memang masih belum terjawab. Misalnya, berapa orang sebenarnya yang ada di dalam rumah itu. Ada berapa senjata dan jenis apa saja. Adakah bom tersimpan di sana dan seberapa besar.

Pengintaian yang terbaik dan paling tidak membawa risiko adalah pengintaian cara modern dengan robot. Tapi, saya tidak pernah menduga bahwa Densus 88 dilengkapi robot! Mendengar digunakannya robot tersebut dan kemudian melihat di layar kaca mengenai bentuknya, saya benar-benar bangga kepada polisi Indonesia. Tidak sejelek yang banyak dikatakan orang.

Dengan melihat robot itu, kejengkelan saya mengenai lamanya proses pengepungan tersebut hilang sama sekali. Semula saya bertanya-tanya mengapa proses itu begitu lama? Sebegitu kuatkah Noordin M. Top? Kurang merasa kuatkah Densus 88? Tapi dengan munculnya robot di pagi buta itu, saya mengakui bahwa polisi memang perlu menggunakan adagium ''lebih cepat lebih baik".

Menunggu datangnya robot bisa dibilang ''lambat tapi tepat". Untuk apa juga cepat-cepat tapi ceroboh. Toh, sang buron tidak akan bisa lolos lagi. Pengepungan sudah dilakukan secara tepung-gelang. Posisi rumah ''itu" juga sangat ''enak" untuk dikepung. Bahkan, banyak wartawan saya yang dengan guyon mengatakan ''lebih baik pengepungan dilakukan satu minggu". Lebih dramatik.

Menjelang fajar itu, perkembangan memang sangat dramatis. Untuk memasukkan robot, pintu depan harus diledakkan dulu agar terbuka. Lalu, robot masuk. Wartawan TV One, kelihatannya, berhasil mengambil posisi bersama polisi yang membaca layar monitor hasil kerja kamera yang dipasang di robot. Karena itu, wartawan TV One bisa melaporkan mengenai keadaan di bagian depan rumah tersebut: tidak ada orang sama sekali di situ. ''Mata" robot lantas bisa melihat ada pintu tertutup yang menghubungkan bagian depan dan bagian belakang rumah itu. Maka, robot ditarik kembali ke luar.

Tugas robot rupanya masih panjang. Dia harus masuk lagi ke rumah tersebut dengan membawa bahan peledak. Yakni, untuk ditempatkan di dekat pintu tertutup itu. Asumsinya, para teroris sudah pindah ke bagian belakang rumah. Mungkin, sejak diledakkannya pintu depan. Bukankah sebelum itu masih ada perlawanan dari dalam rumah bagian depan? Yakni, berupa tembakan beberapa kali, terutama antara pukul 21.00 sampai 01.00?

Tugas meletakkan bom kecil di dekat pintu tertutup tersebut, rupanya, berhasil dilakukan robot dalam waktu cepat. Robot lantas ditarik keluar. Tak lama kemudian: blaaar! Ledakan berskala sedang terdengar. Jendela-jendela tergetar dan mengeluarkan percikan debu serta pecahan kaca. Itu pertanda pintu yang dimaksud mestinya sudah terbuka. Sang robot kembali ditugaskan melakukan pengintaian. Masuk ke bagian belakang rumah tersebut. ''Mata" robot melihat ke sana kemari, tapi tidak ada apa-apa. Kecuali barang yang berantakan. Berarti, tidak ada kemungkinan lain kecuali satu ini: sang buron menyingkir ke kamar mandi. Apalagi, jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Saatnya semua orang menunaikan hajat....

Apakah robot ditugaskan kembali untuk meledakkan pintu kamar mandi? Ataukah ditugaskan kembali membuka pintu belakang rumah itu? Ternyata tidak. Hasil perhitungan polisi tentu sudah final: Noordin M. Top terpojok. Lebih gampang menyergapnya.

Tugas membuka pintu belakang, rupanya, diserahkan kepada juru tembak yang ada di bukit di belakang rumah tersebut. Puluhan polisi memang sudah bertengger di bukit yang hanya sedikit lebih tinggi daripada atap rumah itu. Serentetan tembakan diarahkan tepat mengenai tembok di sekitar kusen pintu belakang tersebut. Rentetan tembakan itu begitu akurat sehingga seluruh dinding di sekitar kusen menganga. Pintu pun roboh beserta kusennya. Karena itulah, meski tidak terlihat di layar TV, saat itu debu tembok bergumpal-gumpal seperti awan di bagian belakang rumah tersebut.

Selanjutnya, penyerbuan dilakukan dari banyak arah. Pemirsa TV One mengharapkan terjadinya klimaks yang dramatik. Pemirsa, seperti saya, berharap inilah untuk kali pertama dalam sejarah liputan langsung peristiwa seperti itu bisa ditonton secara live! Saya membayangkan seperti saat saya berada di AS dulu, yakni TV sedang melakukan siaran langsung pengejaran buron O.J. Simpson yang melarikan mobilnya di sepanjang jalan bebas hambatan No. 5. California. Klimaks pengejaran berjam-jam itu hebat sekali. Kita bisa melihat bagaimana polisi menaklukkan mobil O.J. Simpson, bintang American football yang legendaris itu.

Saya juga bisa berharap mengulangi menyaksikan siaran langsung pembajakan bus sekolah di Florida beberapa tahun kemudian. Berjam-jam kita bisa mengikuti perjalanan bus sekolah yang dibajak itu ke mana-mana sampai pada klimaksnya.

Dalam hal penyerangan rumah teroris di Temanggung kemarin itu, pemirsa tidak mendapatkan klimaks yang diharapkan tersebut. Ketika reporter TV One melaporkan pandangan mata mengenai klimaks itu, yang muncul di layar adalah gambar-gambar yang diambil sebelumnya yang diulang-ulang. Yakni, gambar beberapa polisi memasukkan pipa paralon yang ujungnya diberi pengait itu. Akibatnya, imajinasi pemirsa tidak nyambung.

Klimaks peristiwa itu seperti laporan pandangan mata dari radio. Reporter memberitahukan dengan baik bahwa polisi yang baru saja masuk rumah tersebut sudah kembali keluar lagi dengan memeragakan toast kepada polisi yang lain. Ini pertanda penyerangan telah selesai dan polisi meraih sukses. Klimaks seperti itu bahkan lebih jelak daripada siaran radio.

Di radio, pendengar bisa berimajinasi secara penuh. Di layar TV One kemarin, imajinasi pemirsa terganggu oleh tayangan gambar di layar. Di suara sudah menyebutkan selesainya penyerangan itu, tapi di layar masih menggambarkan upaya keras para polisi memasukkan pipa paralon. Gambar itu "merusak" imajinasi karena pemirsa terpengaruh oleh tulisan "langsung" di layar. Padahal, yang dimaksud "langsung" adalah suaranya. Bukan gambarnya.

Apa pun, TV One harus diacungi jempol. Begitu telaknya kemenangan TV One sampai-sampai reporter Metro TV perlu menyampaikan kepada permirsa bahwa Metro TV hanya bisa mengambil gambar dari jarak jauh karena ingin mematuhi etika peliputan. Maksudnya: TV One telah melakukan pelanggaran.

Saya tidak mengomentari itu pelanggaran atau bukan. Yang jelas, TV One berhasil membina hubungan yang demikian hebat dengan pihak kepolisian sehingga bisa menitipkan juru wartanya bersama tim inti penyerangan yang bersejarah itu.

Dalam posisi Indonesia yang seperti sekarang, saya menilai siaran langsung kemarin membawa dampak yang amat baik. Terutama bagi tumbuhnya kepercayaan diri bahwa bangsa ini selalu mampu keluar dari kesulitan. Asal kita memang sungguh-sungguh. Dunia harus melihat itu. Sedangkan kita harus bertekad untuk lebih sering sungguh-sungguh.

Saya teringat akan kata-kata mantan Dandensus 88 Brigjen Surya Dharma, juga di TV One. "Berilah waktu. Adik-adik saya pasti mampu membongkar ini. Mereka itu hebat-hebat," katanya.

Saya pernah bepergian jauh selama empat hari bersama Brigjen Surya Dharma. Saya tahu kehebatannya. Saya juga tahu komitmennya yang benar-benar I love you full soal pemberantasan terorisme. Termasuk perhatiannya kepada orang-orang yang pernah terlibat terorisme. Waktu itu saya mendoakan agar dia tidak dipensiun. Saya kaget ketika tahu bahwa masa dinasnya ternyata tidak diperpanjang. Lebih menyesal lagi ketika tak lama kemudian terjadi peledakan bom di Marriott dan Ritz- Carlton. Saya agak ragu apakah "adik-adik saya" sebaik dia.

Ternyata dia benar. "Adik-adik saya" itu sangat membanggakan bangsa Indonesia.

3 comments:

  1. Bang Bernie,

    Waaah...seru sekali membaca tulisan pak Dahlan dan membayangkan beliau seru klak klik saluran Tv :D

    Saya cuma dapat beritanya dari CNN dan CNA dan TVRI dan MNC...diulang ulang...diulang ulang terus gambarnya...hehehe

    ReplyDelete
  2. Hmmm Densus 88 memang hebat....
    Goe juga turuk hala ama nonton siaran langsung TV rua pe..... tpi sekarang goe kecewa ternyata bukan Noordin yang mati..... tapi goe tetap salut buat Densus 88.....

    ReplyDelete